• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ASURANSI SYARIAH

E. PRINSIP ASURANSI SYARIAH

Asuransi Syariah merupakan salah satu produk hukum Islam yang semakin hari semakin mengalami dinamisasi. Tentunya, asuransi syariah memiliki karakter khas dari yang lain, yakni mengandung nilai-nilai ilahiyah dan ibadah dalam teknisnya. Pada hakikatnya, dalam tataran asas dan prinsip, tidak jauh berbeda dengan asas asuransi konvensional. Adapun diantaranya adalah sebagai berikut:65

1. Prinsip Kepentingan

Prinsip ini adalah satu hal krusial yang sangat menentukan kepastian hukum mengenai asuransi syariah. Yang dimaksud dengan prinsip kepentingan adalah bagi orang yang berasuransi harus memiliki kepentingan terhadap objek yang diasuransikan. Hal penting yang perlu diingat jikalau membahas kepetingan ini adalah jika kelangsungan atau adanya objek tersebut membawa maslahat, dan ketiadaannya menimbulkan kerugian.

2. Prinsip Utmoust Good Faith

Adanya kepercayaan antara kedua belah pihak akan sangat menentukan keberlangsungan asuransi. Hal ini dapat diimplementasikan pada pertukaran informasi antara keduanya yang terjadi secara transparan tanpa ada yang disembunyikan. 3. Prinsip Indemnitas

Kompensasi keuangan yang cukup untuk mengembalikan tertanggung pada posisi sesaat sebelum mengalami kerugian. Prinsip ini tidak berlaku pada asuransi jiwa karenaa hany berlaku pada kerugian yang dapat ditaksir dengan nominal. 4. Prinsip Proximate Cause

Prinsip ini merupakan sebab aktif dan efisien yang mengakibatkan kejadian secara berantai dan intervensi kekuatan lain, diawali dengan bekerja dengan aktif dari suatu sumber independen. Misalnya, ada suatu perkelahian di bahu jalan hingga salah satunya dipukul hinggajatuh di jalan. Disaat bersamaan, ada kendaraan yang lewat dan menabraknya. 65 Nurul Huda dan Mohammad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan

43 Akibatnya, orang itu terluka parah di bagian kepala dan akhirnya meninggal saat perjalanan ke rumah sakit. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Proximate Cause kematiannya adalah tertabrak motor.

Tujuan prinsip ini adalah untuk memberikan kerangka kerja dimana semua pihak yang terlibat dalam satu transaksi mendapat perlakuan yang adil.

5. Prinsip Subrogation

Prinsip ini adalah prinsip terusan dari prinsip ganti rugi, yakni hak penanggung yang telah memberikan ganti rugi kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami peristiwa kerugian.

6. Prinsip Contribution

Prinsip ini jika didasarkan pada sudut pandang penanggung, prinsip ini merupakan hak penanggung untuk melibatkan para penanggung lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk menanggung ganti rugi kepada tertanggung, meskipun jumlah masing-masing penanggung berbeda. Sementara itu, jika ditinjaau dari sudut pandang tertanggung, maka kerjasama mutual antar tertanggung untuk menyuplai dana kepada perussahaan dimana pihak tertanggung akan mendapat kompensasi atas kontribusinya berdasarkan premi masing-masing.

Prinsip-prinsip yang telah tersebutkan diatas adalah prinsip yang sama-sama dimiliki oleh Asuransi konvensional maupun asuransi syariah. Berikut ini prinsip yang dipegang erat sehingga menjadi karakter asuransi syariah:66

1. Tauhid

Sebagaimana telah disinggung dalam pengantar, karakter khas asuransi syariah adalah sarat akan nilai ilahiyahnya. Allah adalah pemilik mutlak atau pemilik sebenarnya seluruh harta kekayaan yang ada di seluruh alam semesta ini. Maka hak Allah pula untuk memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya atau mengambilnya dari siapa saja yang di kendaki-Nya.

66 H. A. Dzajuli dan Yadi Jazwari, Lembaga-lembaga Perekonomian Umat (Sebuah Pengenalan), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), 131.

44

Asas asuransi syariah bukan semata-mata meraih keuntungan, atau menangkap peluang pasar yang sedang cenderung pada syariah. Namun berawal dari niat untuk mewujudkan nilai-nilai syariah dalam dunia asuransi. Sedangkan bagi pihak nasabah, tujuan melakukan asuransi syariah adalah untuk bertransaksi dalam bentuk tolong menolong yang berlandaskan asas syariah, dan bukan semata-mata mencari “perlindungan” apabila terjadi musibah. Dengan demikian, maka nilai tauhid terimplementasikan pada industri asuransi syariah. Allah SWT berfirman :

ِنوُدُبْعَيِل ُتْقَلَخ اَم َو َّن ِجْلا

َسْنِلْْا َو َّلِّإ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51 : 56)

2. Keadilan

Keadilan dalam konsep ini dipahami sebagai upaya dalam menempatkan hak dan kewajiban antara nasabah dan perusahaan asuransi sebagaimana mestinya. Sikap adil dalam asuransi syariah harus benar-benar dilaksanakan, khususnya dalam membangun hubungan antara sesama nasabah, maupun antara nasabah dengan perusahaan asuransi syariah terkait dengan hak dan kewajiban masing-masing. Asuransi syariah tidak boleh ada pihak yang mendzalimi nasabah dengan hal-hal yang akan menyulitkan atau merugikan nasabah.

Prinsip keadilan pada asuransi syariah tersurat didalam firman Allah SWT : اَهُّيَأاَي َنيِذَّلا اوُنَماَء اوُنوُك َني ِما َّوَق َِّ ِلِل َءاَدَهُش ِطْسِقْلاِب َلّ َو ْمُكَّنَم ِرْجَي ُنآَنَش م ْوَق ىَلَع َّلَّأ اوُلِدْعَت اوُلِدْعا َوُه ُب َرْقَأ ى َوْقَّتلِل اوُقَّتا َو ََّاللّ َّنِإ ََّاللّ ريِبَخ اَمِب َنوُلَمْعَت

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah/ 5 : 08)

3. Tolong–menolong

Semangat tolong menolong harus menjadi dasar para pihak dalam beransuransi. Sejak awal seseorang yang masuk

45 asuransi, harus memiliki niat dan motivasi untuk membantu dan meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah atau kerugian. Peran perusahaan asuransi syariah hanya sebagai pengelola saja. Konsekwensinya, perusahaan tidak berhak mengklaim atau mengambil dana tabarru’ nasabah. Perusahaan hanya mendapatkan dari ujrah (fee) atas pengelolaan dana tabarru’ tersebut, yang dibayarkan oleh nasabah bersamaan dengan pembayaran kontribusi (premi). Perusahaan asuransi syariah mengelola dana tabarru’ tersebut, untuk diinvestasikan secara syariah untuk selanjutnya dialokasikan pada nasabah lainnya yang tertimpa musibah. Pada konsep ini, sesama nasabah telah melaksanakan prinsip saling tolong menolong, meskipun tidak saling mengenal ataupuan bertatap muka. Allah SWT berfirman :

ا ْوُن َواَعَت َو ىَلَع ِرِبْلا ى َوْقَّتلا َو َلّ َو ا ْوُن َواَعَت ىَلَع ِمْثِلْْا ِنا َوْدُعْلا َو

Dan bertolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. (QS. Al-Maidah : 2)

4. Kerjasama

Kerjasama dalam asuransi dapat berbentuk akad yang dijadikan acuan antara para pihak yang terlibat yaitu antara anggota (nasabah) dan perusahaan asuransi. Selanjutnya akad digunakan dalam konsep mudharabah dan musyarakah. Dua konsep ini merupakan konsep dasar dalam kajian ekonomika islami.

5. Amanah

Prinsip amanah harus menjadi dasar bagi semua nasabah asuransi. Amanah berarti nasabah asuransi berkewajiban untuk menyampaikan informasi yang benar berkaitan dengan pembayaran dana iuran (premi) dan tidak boleh memanipulasi kerugian yang menimpa dirinya. Begitu juga organisasi perusahaan saat membuat laporan keuangan tiap periode harus mewujudkan nilai–nilai akuntabilitas (pertanggung jawaban).

Bukan hanya pihak nasabah, perusahaan asuransi juga harus amanah dalam mengelola dana premi. Perusahaan asuransi juga tidak boleh semena-mena dalam mengambil keuntungan, yang berdampak pada ruginya nasabah.Transaksi

46

yang amanah, akan membawa pelakunya mendapatkan surga. Rasulullah SAW bersabda :

ُر ِجاَّتلا َّصلا ُق ْوُد ُنْي ِمَلْْا َعَم َنْي ِيَبَّنلا َنْيِقْي ِد ِصلا َو ءاَدَهُّشلا َو ( هاور يذمرتلا )

Seorang pebisnis yang jujur lagi amanah, (kelak akan dikumpulkan di akhirat) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)

6. Kerelaan (‘An Taradhi)

Prinsip kerelaan dalam asuransi syariah diterapkan pada setiap anggota asuransi agar mempunyai motivasi dari awal dalam merelakan sejumlah dana yang disetorkan keperusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai dana sosial (tabarru’).

7. Larangan , maisir gharar, dan riba

Setiap muslim tidak dibenarkan untuk bertransaksi dengan cara yang tidak dibenarkan atau secara bathil melalui judi,riba dan kebohongan yang menimbulkan kerugian dipihak yang lain.

1. Maisir

Maisir atau perjudian berasal dari gharar yang ada di asuransi, karena untung atau rugi sangat besar bagi penanggung. Pada asuransi maisir menyerupai pengambilan risiko pada tingkat tertentu dimana tertanggung mendapat sejumlah uang tanpa belum diketahui total kerugiannya. Jenis maisir sebagai tertanggung membuat perhitungan lebih dahulu sebelum terjadinya kerugian.67

2. Gharar

Pada kontrak asuransi atau polis didalam asuransi syariah keberadaan Gharar dalam polis tersebut dilarang dan keberadaannya dapat membatalkan kontrak. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (RA) dan banyak sahabat lainnya bahwa Nabi (SAW) telah melarang perdagangan gharar Karenanya, kontrak apa pun yang mengandung unsur gharar akan melanggar hukum.

Secara harfiah gharar berarti penipuan (al-khid'a), gharar dalam transaksi sering digunakan dalam arti

67 Houston, D. B, Risk, Insurance, and Sampling, The Journal of Risk and Insurance, Vol 31, No.4, 1964, hlm 511- 538.

47 risiko, ketidakpastian, bahaya, bahaya dll. Dalam bahasa hukum, itu berarti melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa pengetahuan yang cukup atau untuk mengambil risiko diri sendiri. dalam suatu usaha yang tidak tahu persis apa hasilnya.68

Menurut Dr. Hussain Hamid Hassan gharar dapat muncul didalam polis asuransi melalui empat cara yaitu:alam empat cara;69

1. Tidak diketahui jumlah ganti rugi benda yang akan diasuransikannya.

Pemegang polis tidak mengetahui secara pasti jumlah ganti rugi maupun kompensasi terhadap peristiwa yang akan terjadi, misalnya. kematian dalam kasus asuransi jiwa dan beberapa jumlah ganti rugi atas barang yang telah diasuransikan apabila terjadi karena peristiwa kebakaran atau bahaya lain dalam kasus asuransi umum.

2. Gharar dalam jumlah premi

Pada polis asuransi, kewajiban seorang pemegang polis ialah membayar sejumlah uang yang disebut dengan premi atas keikutsertaannya didalam asuransi. Besaran premi asuransi yang harus dibayarkan, pasti ditulis dalam dokumen polis asuransi. Premi asuransi digunakan untuk membayar biaya-biaya asuransi (cost of insurance). Pada asuransi jiwa, perusahaan asuransi tidak mengetahui dengan pasti apakah perusahaan akan dapat menerima semua angsuran atau hanya beberapa angsuran sebelum kompensasi jatuh tempo.

3. Gharar dari besarnya ganti rugi

Pemegang polis tidak mengetahui besaran biaya kompensasi atau ganti rugi yang akan ia dapatkan jika terjadi kerusakan atau meninggalnya seseorang. Perhitungan kerugian perusahaan asuransi

68 Kamali, M. H, Uncertainty and Risk Taking (Gharah) in Islamic Law, IIUM Law Journal, 1999, hlm. 199- 216.

69 Ahmad, rukhsar A market study of Takaful industry, insurance journal, Vol.2, No. 1, 20014, hlm 125

48

memutuskan jumlah kompensasi yang biasanya tetap di bawah harapan tertanggung.

4. Gharar sehubungan dengan waktu pembayaran Waktu pembayaran kompensasi dalam kasus baik nyawa dan asuransi umum tidak diketahui dan tidak pasti karena tidak ada yang tahu sebelumnya bahwa ketika acara, terhadap perlindungan asuransi yang diatur, akan terjadi

3. Riba

Riba didalam polis asuransi tersebut dan hal itu dilarang didalam asuransi syariah. Riba secara harfiah berarti peningkatan, penambahan, ekspansi atau pertumbuhan. Namun, tidak setiap peningkatan atau pertumbuhan yang dilarang oleh Islam.70 Riba, didalam polis mengacu pada premi yang harus dibayar oleh peminjam kepada pemberi pinjaman bersama dengan jumlah pokok sebagai persyaratan untuk pinjaman atau untuk perpanjangan jatuh tempo.

Menurut Maududi Abul A'la yang menentang asuransi, berpendapat bahwa kontrak asuransi bertentangan dengan prinsip yang ditetapkan dalam Syariah. Pada polis asuransi terdapat dua jenis riba didalam penerapannya yaitu:71

a. Riba-al-fadl

Riba yang terjadi karena perusahaan asuransi membayar kepada tertanggung atau pemegang polis asuransi dengan jumlah yang lebih besar atau lebih kecil dari jumlah dari premi yang telah dibayar oleh pemegang polis atau tertanggung.

b. Riba-al-Nasa

Riba yang terjadi ketika perusahaan asuransi terlambat dalam membayar jumlah kompensasi ataupun ganti rugi yang telah ditentukan pada terjadinya suatu peristiwa didalam polis.

c. Riba al-Nasi'ah

70 Al Janahi, A. and Weir, D, Alternative Financial Rationalities in Managing

Corporate Failure, Managerial Finance, Vol. 31, No 4, 2005, hlm.: 34-45.

71 Maududi Abul A'la,1988.“Ma'ashiat-e-Islam”, Islamic Publications, Lahore, p.408.

49 Riba yang muncul karena aktivitas investasi perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi biasanya menginvestasikan jumlah premi pemegang polis tersebut dan apabila pemegang polis tidak terdapat suatu kejadian sampai dengan jangka waktu berakhirnya polis, maka perusahaan asuransi dalam mengembalikan nilai pertanggungan sesuai dengan pembayaran premi. Pengembalian nilai pertanggungan didalam polis asuransi didalam konsep syariah disebut dengan Riba al Nasi'ah.

F.

PERBEDAAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL