• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaminan Sosial

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH SRI RAHAYU (Halaman 36-45)

TINJAUAN PUSTAKA

4. Standar Pekerjaan

2.3 Jaminan Sosial

2.3.1 Pengertian Jaminan Sosial

Menurut Undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang sistem Jaminan Sosial Nasional, dalam Pasal 1 angka 1 menyatakan bahwa jaminan sosial adalah :

“suatu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.”

Menurut Sentanoe Kertonegoro didalam buku Asyahadi (2017), jaminan sosial dikelompokkan dalam empat kegiatan usaha utama.

1. Usaha-usaha yang berupa pencegahan dan pengembangan, yaitu usaha-usaha di bidang kesehatan, keagamaan, keluarga berencana, pendidikan, bantuan hukum, dan lain-lain yang dapat dikelompokkan dalam Pelayanan Sosial (Social Service)

2. Usaha-usaha yang berupa pemulihan dan penyembuhan, seperti bantuan untuk bencana alam, lanjut usia, yatim piatu, penderita cacat, dan berbagai ketunaan yang dapat disebut sebagai Bantuan Sosial (Sosial Assistance) 3. Usaha-usaha yang berupa pembinaan, dalam bentuk perbaikan gizi,

perumahan, transmigrasi, koperasi, dan lain-lain yang dapat dikategorikan sebagai Sarana Sosial (Social Infra Structure)

4. Usaha-usaha di bidang perlindungan ketenagakerjaan yang khusus ditujukan untuk masyarakat tenaga kerja yang merupakan inti tenaga pembangunan dan selalu menghadapi resiko-resiko sosial ekonomis, digolongkan dalam Asuransi Sosial (Sosial Insurance).

Menurut Soepomo (1983) yang merumuskan bahwa : ”Jaminan sosial adalah pembayaran yang diterima pihak buruh dalam hal di luar kesalahannya tidak melakukan pekerjaannya, jadi menjamin kepastian pendapatan (income security) dalam hal buruh kehilangan upahnya karena alasan di luar kehendaknya.”

Selanjutnya, dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Nomor 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, pengertian jaminan sosial tenaga kerja dirumuskan sebagai berikut : “Jaminan sosial tenaga kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dalam pelayanan sebagai akibat peristiwa yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia.”

Kesimpulan yang dapat ditarik dari beberapa definisi tersebut adalah bahwa jaminan sosial merupakan jaminan perlindungan yang diberikan perusahaan terhadap hilangnya penghasilan karyawan seperti dalam pemberhentian kerja, karyawan sakit, mengalami kecelakaan, tunjangan kematian dan lain sebagainya.

2.3.2 Tujuan Pemberian Jaminan Sosial

Pada umumnya perusahaan yang mengadakan atau memberikan jaminan sosial mempunyai tujuan tertentu. Tujuan dari pemberian jaminan sosial adalah : 1. Perusahaan menginginkan karyawan dapat bekerja lebih baik.

2. Untuk memenuhi kebutuhan karyawan agar dapat tercapai tingkat produktivitas yang tinggi.

3. Untuk menambah kegairahan kerja dan semangat kerja yang tinggi dari karyawan

4. Karyawan betah bekerja sehingga turn over karyawan menjadi lebih rendah.

2.3.3 Bentuk Jaminan Sosial

Dengan diberlakukannya ketentuan Undang-undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja dinyatakan di dalam Pasal 4 ayat (1) : Program jaminan sosial tenaga kerja wajib dilakukan oleh setiap perusahaan bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini.

Ruang lingkup dari program jaminan sosial tenaga kerja, seperti diatur di dalam Pasal 6 ayat (1) meliputi :

1. Jaminan Kecelakaan Kerja;

2. Jaminan Kematian;

3. Jaminan Hari Tua;

4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

2.3.4 Syarat Kepesertaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Perusahaan/Pengusaha diwajibkan untuk mengikut sertakan tenaga kerjanya yang meliputi program jaminan sosial tenaga kerja yang meliputi jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Bagi pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 10 (sepuluh) orang atau lebih, atau

2. Bagi pengusaha yang membayar upah paling sedikit Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah) sebulan,

3. Bagi Pengusaha yang telah menyelenggarakan sendiri program pemeliharaan kesehatan bagi tenagakerjanya dengan manfaat yang lebih baik dari Paket

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dasar menurut ketentuan yang berlaku, tidak wajib ikut dalam Jaminan Pemeliharaan Kesehatan yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara.

4. Pengusaha dan tenaga kerja yang telah ikut program asuransi sosial tenaga kerja sebelumnya, tetap melanjutkan kepesertaannya dalam program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana yang telah berlaku.

2.3.5 Manfaat Jaminan Sosial

Manfaat program Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang diberikan kepada tenaga kerja sebagaimana diatur dalam (Peraturan Pemerintah No. 14 , 1993) tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja beserta peraturan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) terdiri dari :

a. Biaya pengangkutan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja ke rumah sakit dan atau ke rumahnya termasuk biaya pertolongan pertama pada kecelakaan;

b. Penggantian upah sementara tidak mampu bekerja (STMB)

c. Biaya pemeriksaaan, pengobatan, dan atau perawatan selama di rumah sakit, termasuk rawat jalan.

d. Santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya;

e. Santunan cacat total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental f. Santunan kematian dan uang kubur

g. Santunan berkala bagi yang meninggal dunia dan cacat total tetap h. Biaya rehabilitasi berupa alat bantu (orthose) dan atau alat ganti

(prothese) bagi tenaga kerja yang anggota badannya hilang atau tidak berfungsi akibat kecelakaan kerja.

Berdasarkan surat keterangan dari dokter pemeriksa dan atau dokter penasehat PT Jamsostek (persero) menetapkan dan membayar semua biaya dan santunan paling lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya pengajuan pembayaran jaminan. Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia pembayaran santunan kematian dibayarkan kepada ahli warisnya.

2. Jaminan Kematian (JK) terdiri dari : a. Jaminan Kematian

b. Biaya Pemakaman c. Santunan berkala

3. Jaminan Hari Tua (JHT) terdiri dari keseluruhan iuran yang telah disetor, beserta hasil pengembangannya.

4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK), terdiri dari :

a. Rawat jalan tingkat pertama meliputi pemeriksaan dan pengobatan dokter umum dan dokter gigi, pemeriksaan diberikan tindakan medis sederhana;

b. Rawat jalan tingkat lanjutan berupa pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis;

c. Rawat inap;

d. Pertolongan persalinan;

e. Penunjang diagnostik berupa pemeriksaan laboratorium, radiologi, EEG dsb;

f. Pelayanan khusus berupa penggantian biaya protese, orthose dan kacamata;

g. Pelayanan gawat darurat.

2.3.6 Indikator Jaminan Sosial

Indikator-indikator Jaminan sosial menurut Setiadi (2009) antara lain sebagai berikut:

1. Tanggapan karyawan terhadap Jaminan Hari Tua 2. Tanggapan karyawan terhadap Jaminan Kesehatan 3. Rasa nyaman dalam bekerja

2.4 Kinerja

2.4.1 Pengertian Kinerja

Kinerja merupakan gambaranmengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi Moeheriono (2009).

Menurut Sutrisno (2011:67)kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang di capai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang di berikan kepadanya. Mathis &

Jackson (2002:78) juga berpendapat bahwa kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi yang antara lain : kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tempat kerja dan sikap kooperatif.

Dari beberapa pendapat ahli, dapat di simpulkan bahwa kinerja karyawan adalah hasil kerja yang di lakukan oleh seseorang dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan yang di inginkan suatu organisasi dan meminimalisir kerugian.

2.4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan

Menurut Handoko (1994:193) yaitu faktor-faktor kinerja juga dipengaruhi oleh motivasi, kepuasan kerja, tingkat stres, kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, desain pekerjaan, komitmen terhadap organisasi dan aspek-aspek ekonomis, teknis, serta keperilakuan lainnya.

Menurut Tiffin dan Mc. Cormick dalam As„ad (2001:49) ada dua macam faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yaitu:

1. Faktor individual

Yaitu faktor-faktor yang meliputi sikap, sifat kepribadian, sifat fisik, minat dan motivasi, pengalaman, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta faktor individual lainnya.

2. Faktor Situasional

a. Faktor fisik pekerjaan-pekerjaan, meliputi: metodekerja kondisi dan desain perlengkapan kerja, penentuan ruang, dan lingkungan fisik (penyinaran, temperatur dan ventilasi)

b. Faktor sosial dan organisasi, meliputi peraturan organisasi, jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan sosial.

Pendapat lain tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, antara lain di kemukakan Amstrong dan Baron dalam (Wibowo, 2007, hal. 100)sebagai berikut:

1. Personal Factor, ditunjukkan oleh tingkat keterampilan, kompetensi yang dimiliki, motivasi, dan komitmen individu.

2. Leadership factor, ditentikan oleh kualiras dorongan, bimbingan, dan hubungan yang dilakukan menejemen dan team leader

3. Team faktor, ditunjukkan oleh kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan sekerja

4. System factor, ditunjukkan oleh adanya sistem kerja dan fasilitas kerja yang diberikan organisasi

5. Contextual/situational factor, ditunjukkan oleh tingginya tingkat tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal.

2.4.3 Dimensi Kinerja Karyawan Adapun dimensi dari kinerja yaitu:

1. Kuantitas kerja adalah volume kerja yang dihasilkan. Kuantitas juga menunjukkan banyak jenis pekerjaan yang dilakukan dalamsatu waktu sehingga efektivitas kinerja dapat terlaksana sesuai dengan tujuan perusahaan.

Indikatornya adalah:

a. Target kerja

b. Pengetahuan/ skill pekerja

2. Kualitas kerja adalah ketelitian, kerapian, dan keterikatan hasil kerja yang dilakukan dengan baik agar dapat menghindari kesalahan didalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Indikatornya adalah:

a. Pelaksanaan pekerjaan tepat b. Mengikuti prosedur perusahaan

c. Minimalisasi tingkat kesalahan dalam kerja

3. Pemanfaatan waktu adalah penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan kebijakan perusahaan agar pekerjaan selesai tepat waktu pada waktu yang ditetapkan. Indikatornya adalah:

a. Ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan b. Inisiatif pekerja

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH SRI RAHAYU (Halaman 36-45)

Dokumen terkait