• Tidak ada hasil yang ditemukan

II LANDASAN TEORI Untuk membuat model optimasi alokasi air

3. Jaringan Distribus

Untuk mengalirkan air dari pompa perlu dibangun jaringan alir air tanah, yang terdiri atas: saluran, bangunan pengatur berupa pintu dan boks pembagi, bangunan pengatur debit, dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa.

(Deptan 2009) 2.8 Izin Pengelolaan Air Bawah Tanah

Dasar hukum izin pengeboran dan pemanfaatan/pengambilan air bawah tanah antara lain tertuang dalam:

1. Undang-Undang nomor 7 tahun 2004 tentang sumber daya air.

2. Peraturan Pemerintah nomor 43 tahun 2008 tentang air tanah.

3. Peraturan Daerah nomor 10 tahun 2001 tentang izin retribusi pengeboran dan pemanfaatan air bawah tanah.

Izin pengeboran air bawah tanah, yang disingkat dengan IP, adalah izin pengeboran, penurapan mata air dan penggalian air bawah tanah. Sedangkan izin pengambilan air bawah tanah (IPA) adalah izin pengambilan dan atau penggunaan air bawah tanah yang berasal dari sumur bor, sumur pasak, sumur gali serta mata air.

Tujuan pembuatan izin pengeboran dan pemanfaatan air bawah tanah adalah sebagai berikut:

1. mewujudkan kepastian hukum dalam penyelenggaraan pengelolaan dan pemanfaatan air bawah tanah yang dilakukan agar sesuai dengan ketersediaannya dan tidak mengganggu

keseimbangan air tanah dan kelestarian lingkungan sekitarnya,

2. memperoleh dan menggunakan air untuk keperluan:

 Air minum dalam kemasan (AMDK)

 Air curah

 Air produksi, dan

 MCK (mandi, cuci, dan kakus) yang ada

di perusahaan.

Sasaran dan objek yang akan dikenai biaya izin tersebut antara lain:

1. Setiap badan usaha atau badan hukum yang akan melakukan pengeboran dan pemanfaatan air bawah tanah.

2. Setiap orang pribadi atau badan usaha atau badan hukum yang melakukan

pengeboran, penurapan mata air, dan penggalian air bawah tanah.

3. Pengambilan air bawah tanah yang berasal dari:

a. mata air, b. sumur bor, c. sumur pasak, atau d. sumur gali.

4. Setiap kegiatan pengambilan air bawah tanah yang dilakukan dengan cara penggalian, pengeboran, atau dengan cara membuat bangunan penurap lainnya, untuk dimanfaatkan airnya dan atau untuk tujuan komersial.

Biaya izin pengeboran dan pemanfaatan air bawah tanah disebut sebagai biaya retribusi, yang besarnya ditetapkan sebagai berikut: Tabel 1 Struktur dan besarnya tarif retribusi izin pengeboran (IP) air bawah tanah

Izin Pengeboran Sumur ke-1 Sumur ke-2 Sumur ke-3

Penurapan mata air 1 × 106 2 × 106 2.5 × 106

Sumur bor 1 × 106 1.5 × 106 2 × 106

Sumur pasak 400 500 600

Sumur gali 200 250 300

Tabel 2 Struktur dan besarnya tarif retribusi izin pengambilan (IPA) air bawah tanah Izin Pengambilan Sumur ke-1 Sumur ke-2 Sumur ke-3

Penurapan mata air 2 × 106 2.5 × 106 3 × 106

Sumur bor 1.5 × 106 2 × 106 2.5 × 106

Sumur pasak 500 600 700

Sumur gali 250 300 500

Besarnya tarif daftar ulang sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif retribusi izin baru.

Masa berlaku izin pengeboran dan pengambilan/pemanfaatan air bawah tanah adalah sebagai berikut:

1. Izin pengeboran (IP)/izin penggalian/izin penurapan mata air masa berlaku enam bulan dan dapat diperpanjang selama memenuhi syarat yang diperlukan.

2. Izin pengambilan air bawah tanah (IPA) berlaku selama sepuluh tahun dan wajib daftar ulang setiap dua tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi syarat yang diperlukan.

(Karyono & Ginoga 2006)

2.9 Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah (ABT)

Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah adalah pungutan daerah atas pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah.

Kelompok Niaga Sebagai Objek Pajak Air Berdasarkan Perda Jabar No. 6 tahun 2001 tentang Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah (ABT) dan Air Permukaan (AP), maka setiap niaga/perdagangan/jasa yang menggunakan/memanfaatkan air bawah tanah dan air permukaan dikenakan pajak baik niaga kecil, sedang dan niaga besar. Kelompok niaga kecil, sedang dan besar sebagai objek pajak air seperti yang disajikan pada tabel di bawah ini.

9

Tabel 3 Kelompok pengguna air bawah tanah dan air permukaan sebagai objek pajak air

Kelompok

Niaga Jenis penggunaan Dasar

Niaga Kecil

Usaha kecil yang berada dalam rumah tinggal/industri rumah tangga

Perda Jabar No.6/2001 Pasal 15 ayat (4) Losmen dan sejenisnya

Rumah sakit swasta praktek dokter/pengacara Hotel/rumah makan/pondol wisata/restoran dll. Badan usaha perorangan

Niaga Sedang

Hotel bintang 1,2,3/apartemen Perda Jabar No.6/2001

Pasal 15 ayat (4)

Stembath/salon Bank

Bar/bioskop/supermarket /usaha persewaan kantor Bengkel dan sejenisnya

Perdagangan/grosir/pertokoan

Niaga Besar

Real estate/lapangan golf/kolam renang/pusat kebugaran/sarana olahraga lainnya

Perda Jabar No.6/2001 Pasal 15 ayat (4) Hotel bintang 4 dan 5

Bangunan niaga besar lainnya yang sejenis.

Alur Proses Pemungutan Pajak Air

Sumber air yang dimanfaatkan oleh kelompok niaga kecil, niaga sedang maupun niaga besar berasal dari :

1. mata air dan sumur, 2. danau, waduk, dan sungai.

Khusus untuk perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan airnya dari mata air, maka harus ada rekomendasi nilai pajak airnya dari Dinas Pertambangan. Sedangkan AMDK yang memanfaatkan airnya dari danau, waduk, dan sungai harus ada rekomendasi dari Badan Pengelola Sumber Daya Air (BPSDA) sedangkan untuk perizinan dari Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) setempat.

(Karyono & Ginoga 2006) 2.10 Tata Cara Perhitungan Pajak

Penentuan Harga Dasar Air

Harga dasar air (HDA) untuk masing- masing kelompok pengambilan dapat dihitung dengan cara mengalikan faktor nilai air (FNA) dengan harga air baku (HAB). Dapat dinyatakan dengan

HAB untuk air sumur dalam adalah seharga Rp500/ m3 dan Rp400/m3 untuk air sumur dangkal.

Besar kecilnya FNA dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. lokasi/zona air bawah tanah. 2. kualitas air bawah tanah. 3. sumber alternatif. 4. jenis sumber. 5. volume pengambilan. Penentuan Nilai Perolehan Air

Nilai perolehan air (NPA) adalah nilai air yang dinyatakan dalam satuan rupiah yang dihitung berdasarkan faktor sumber daya alam dan pemanfaatannya.

NPA dihitung berdasarkan perkalian antara HDA dengan volume pengambilan (volume progresif). Dan NPA dapat dinyatakan dengan

Perhitungan Pajak

Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah adalah perkalian antara nilai perolehan pajak dengan tarif

Besarnya persentase tarif ditetapkan oleh Dinas Pertambangan atau BPSDA daerah setempat.

(Karyono & Ginoga 2006) NPA = Volume ProgresifHDA

HDA = FNA HAB

Pajak = NPA %Tarif

III DESKRIPSI DAN FORMULASI MASALAH

Dokumen terkait