Bidang studi AI Qur’an Hadist di tingkat Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan dan menggemari AI Qur’an dan Hadist serta menanamkan pengertian , pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat - ayat AI -Qur’an - Hadist untuk membina dan membimbing akhlaq dan perilaku peserta didik agar berpedoman kepada isi kandungan ayat - ayat AI- Qur’an dan Hadist.13 14
Dari tujuan di atas dapat diketahui bahwa sama halnya dengan pendidikan yang lain, pendidikan agama juga menyangkut tiga aspek , yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.15 Dari sini guru bukan hanya menyampaikan materi pengetahuan tentang keagamaan, tetapi harus membiasakan anak patuh dan mau menjalankan ibadah serta bertingkah laku yang sesuai norma yang diajarkan dalam agamanya.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka guru harus mampu menyajikan materi pelajaran dengan baik sehingga dapat mencapai hasil yang efektif dan efisien.
Secara garis besar Basyiruddin Usman mengklasifikasikan metode mengajar menjadi dua macam, yaitu metode konvensional dan 13 Slameto, Belajar dan Faktor - faklor yang mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 1991, him. 94
14 Departemen Agama Rl, Ibid, him..4
15 Ngalim purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Remaja Rosdakarya, Bandung , 1995, him. 158.
inkonvensional. Metode mengajar konvensional adalah metode yang lazim dipakai oleh gum atau sering disebut metode tradisional dan metode mengajar inkonvensioncil yaitu suatu teknik mengajar yang bam berkembang dan belum lazim digunakan secara umum, yang bam dikembangkan dan diterapkan di sekolah tertentu yang memiliki alat, media serta guru yang ahli menanganinya.16
Berikut ini beberapa metode mengajar konvensional yang mempakan indikator dari variabel tentang variasi metode mengajar Al- Qur’an Hadist yang dilaksanakan di MI Tajuk Kecamatan Getasan Tahun 2008.
a. Metode Ceramah / metode bercerita
Metode ceramah adalah penuturan atau penjelasan guru secara lisan, dimana dalam pelaksanannya guru dapat menggunakan alat bantu mengajar untuk memperjelas uraian yang disampaikan kepada murid-muridnya.17
Metode ceramah adalah metode mengajar yang umurnya paling tua yang banyak dipergunakan oleh para Rosul.18
Seperti difirmankan dalam surat A1 A’raf ayat 35
16 M. Basyiruddin Usman., op. cit , him.33
17 Sriyono,dkk, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA, Rineka Cipta, Jakarta, 1992, him. 99
•y
- ' ' l i ' ■, s ' ' * \ * t , s '* '.} ' * \ ' '\*
^-$-3 Oj ^ ^ j j*3\_x_5 j J ^ ^ I—I
CES Oy'y£-~ y-* *^3 *-i^s ' ‘—^y*- Ij (^3' Hai anak-anak Adam, jika dalang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang mencerilakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakon perbaikan, lidaklah ado kekhawatiran (erhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih had.19
Metode bercerita atau ceramah ini oleh Rosulullah dipergunakan untuk menyampaikan perintah-perintah Allah SWT yang menimbulkan proses belajar berupa meningkatnya ketaqwaan dan dilakukannya perbaikan sikap, cara berpikir dan bertingkah laku karena telah memiliki dan memahami isi firman yang diceritakan.
b. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan - pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siawa diberi kesempatan bertanya dan guru yang menjawabnya..20
Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berdasarkan materi- materi tertentu yang sebelumnya telah ditugaskan untuk dipelajari oleh siswa. Pertanyaan-pertanyaan yang baik akan sangat bermanfaat dan menguntungkan para siswa. Dengan metode tanya jawab dimaksudkan
19 Departemen Agama Rl, Op. Oil, him. 207-208 20 M. Basyiruddin Usman, Op. Oil, him. 43
agar para siswa mencapai hakekat kebenaran sesuatu, dan membiasakan mereka senang membaca dan menelaah sesuatu.21
Agar tanya jawab berjalan efektif maka guru harus mempersiapkan dan memperhatikan tujuan, alasan memilih metode tanya jawab, menetapkan kemungkinan pertanyaan dan jawaban agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan. Selain itu guru harus
membuka peluang bagi siswa untuk bertanya. c. Metode Diskusi
Metode diskusi ialah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan obyektif.22
Allah memerintahkan menggunakan metode ini dalam surat Asy- Syura ayat 38 :
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang umsan mereka (diputuskan) dengan mnsyawarat antara mereka; dan merekc: menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.23
Dari segi pendidikan, metode diskusi untuk melatih siswa berpikir kritis dan mengemukakan pendapatnya. serta menghormati 21 Sriyono,dkk, Op.Cit, him. 102
22 M. Basyiruddin Usman, Op. Cit, him. 36 23 Departemen Agama RI, Op. Cit, him. 699
agar para siswa mencapai hakekat kebenaran sesuatu, dan membiasakan mereka senang membaca dan menelaah sesuatu.21
Agar tanya jawab berjalan efektif maka guru harus mempersiapkan dan memperhatikan tujuan, alasan memilih metode tanya jawab, menetapkan kemungkinan pertanyaan dan jawaban agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan. Selain itu guru harus membuka peluang bagi siswa untuk bertanya.
c. Metode Diskusi
Metode diskusi ialah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan obyektif.22
Allah memerintahkan menggunakan metode ini dalam surat Asy- Syuraayat38:
lik
r£J
'JH OiAJ'j— " * * , * dl ' Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang unison mereka (dipuluskan) dengan musyaM'arat antara mereka; aan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.23
Dari segi pendidikan, metode diskusi untuk melatih siswa berpikir kritis dan mengemukakan pendapatnya, serta menghormati * 22 23 Sriyono,dkk, Op.Cit, him. 102
22 M. Basyiruddin Usman, Op. Cit, him. 36 23 Departemen Agama RI, Op. Cit, him. 699
pendapat orang lain dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap suatu permasalahan,
d. Metode Drill ( latihan siap )
Drill adalah latihan dengan gerak praktek yang dilakukan berulang kali dan kontinyu / untuk mendapatkan ketrampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari.24
Dalam mated pelajaran bidang studi Al- Qur’an Hadist tepat digunakan untuk memperoleh kecakapan motorik, seperti mengulas dan menghafal.25 Sebagai contoh materi yang perlu dikuasai secara praktis adalah membaca Al - Qur’an dan menghafal ayat - ayat Al - Qur’an dan Hadist.
Di dalam Al- Qur’an Allah SWT selalu mengulang- ulang firman-Nya agar selau diingat , akhirnya dihayati dan diamalkan. Hal ini seperti dijelaskan dalam surat Al Hijr ayat 87 :
(f AV )) » 1 l ( J 1 f j- 2 J 1J j j j 1 £ jA cLLuO J t f. JlSJj
Dan Sesungguhnya kami Telah berikan kepadamu lujiih ayat yang dibaca beridang-ulang dan A l Quran yang agung.26
24 Sriyono,dkk, Op. Cit, him. 112
25 M. Basyiruddin Usman, Op. Cit, him.56 26 Departemen Agama Rl, Op. Cit, him. 361-362
e. Metode Resitasi ( Pemberian Tugas )
Pemberian tugas ini pada hakikatnya adalah nienyuruh murid melakukan suatu pekerjaan yang baik dan berguna bagi dirinya, untuk memperluas dan memperdalam pengertian dan peningkatan iman melalui bidang studi Again Islam yang sedang dipelajarinya.27
Resitasi lebih luas dari pemberian pekerjaan rumah. Dengan resitasi atau pemberian tugas merupakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuatu secara langsung di luar kelas maupun di luar rumah . Karena siswa dapat belajar dari semua tempat yang sesuai dengan materi yang dipelajari. Misalnya : perpustakaan, laboratorium, masjid,dan tempat - rcmpat lain.
Metode ini cocok digunakan untuk mendapatkan ketrampilan khusus dalam mengerjakan sesuatu dan untuk memantapkan pengetahuan yang telah diterima.28 Sebagai contoh adalah setelah siswa menerima penjelasan hadist tentang sholat berjamaah maka siswa dapat mengerjakannya di rumah atau masjid.
27 Hadari Nawawi, Op. Cit, him. 279 28 M. Basyiruddin Usman, Op. Cit, hlm.48
Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 105
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikemhalikan kepada (Allah) yang mengelahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu di hen takan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu
kerjakan.29
Dari ayat di atas dijelaskan tiga fase yang dilalui dalam metode Resitasi, yaitu : pemberian tugas, belajar dan resitasi atau pengulanagn.
Hal yang harus diperhatikan bahwa setiap tugas yang diberikan harus ditagih dan ditanyakan.
f. Menghafal
Menghafal adalah menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan kembali secara harfiah sesuai dengan materi yang asli.30
Metode menghafal jarang dibahas dalam buku-buku metode mengajar. Namun menghafal memiliki peranan dalam bidang studi A1 Qur’an Hadits, karena merupakan ruang lingkup dalam bidang studi tersebut, yaitu menghafal surat-surat pendek dan Hadits.31
Dalam proses menghafal, orang menghadapi materi yang biasanya dalam bentuk verbal ( bahasa ), entah dengan membaca atau mendengar..
90Departemen Agama Rl, Op. Cit, him. 273
30 W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1996, him. 237
31 Khaerudin,dkk, Kurikulum Tingkal Saeuan Pendidikan Konsep dan implementasinya Di Madrasah, Pilar Media, Jogjakarta,2007, him.. 179
Dalam menyampaikan materi A1 Qur’an Hadits dengan metode menghafal, syarat yang harus dipenuhi adalah mengulang-ulang kembali materi hafalan sampai lertanam sungguh-sungguh dalam ingatan ( over learning ), terutama pada materi yang tidak mengandung struktur yang jelas.32
Sulit untuk mengklasifikasikan manakah salah satu metode yang paling baik. Karena semuanya memiliki manfaat dan kekurangan. Tidak ada sebuah metode apa pun yang dipandang paling efektif tanpa dikaitkan dengan kemampuan pendidikan dalam penerapannya. Menurut Winarno Surakhmad hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menggunakan metode mengajar, misalnya :
1. Murid, pelajar yang berbeda tingkat kematangannya. 2. Tujuan yang akan dicapai dari setiap pembelajaran 3. Situasi dan kondisi yang dihadapi.
4. Fasilitas yang jumlah dan jenisnya bermacam - macam. 5. Pengajar yang kemampuannya berbeda - beda.33
Dengan memahami faktor- faktor tersebut, guru diharapkan mampu mengurangi kelemahan dalam menggunakan suatu metode, sehingga
32 W.S. Winkel, Ibid, him. 238
semakin tinggi efisiensi dan efektifitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
B. Motivasi Keagamaan