C. Bermain
5. Jenis Bermain yang Sesuai untuk Anak Usia Sekolah
Setelah mengetahui berbagai jenis bermain serta hierarki pola bermain anak, kita dapat mengetahui jenis bermain yang sesuai untuk anak usia sekolah. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, pola bermain kooperatif (cooperative play) merupakan pola bermain yang paling sesuai untuk anak usia sekolah (Santrock, 1995; Vasta, Haith, dan Miller, 1995), sebab di usia ini anak meman
ah. Selain itu, anak usia elapan sampai sembilan tahun memang menyukai permainan yang sudah
Pertimbangan bahwa cooperative play merupakan jenis bermain yang sekolah memang menunjukkan bahwa bermain aktiflah ya
ket
g mulai mengembangkan hubungan sosialnya dengan orang lain, terutama teman sebayanya (Bee, 1997; Hurlock, 1980; Hurlock, 1991; Kartono, 1982; Santrock, 1995). Bermain kooperatif merupakan pola bermain yang sudah memiliki aturan dan struktur yang cukup jelas. Permainan (games) adalah jenis bermain yang melibatkan orang lain dan memiliki aturan tertentu yang harus dipatuhi para pemainnya. Karena itu, berbagai jenis permainan yang memiliki aturan-aturan yang sederhana dan dimainkan bersama orang lain merupakan salah satu jenis bermain yang sesuai untuk anak usia sekol
d
melibatkan aturan (Vasta, Haith, Miller, 1995).
paling sesuai untuk anak usia
ng paling sesuai bagi mereka, sebab cooperative play hanya terwujud ika anak bermain aktif. Namun, sebenarnya bermain pasif juga penting bagi
ana prib (Hu satu ana atau
mengatakan bahwa di usia sekolah, perhatian anak pada televisi juga makin meningkat cuk sek pal me dan kep me satu D. Hubun 1. B
sikap sosial yang positif. Yang dimaksud dengan sikap sosial yang positif k. Seperti halnya bermain aktif, bermain pasif juga penting bagi penyesuaian
adi dan sosial anak, dan keseimbangan di antara keduanya patut dijaga rlock, 1995). Di antara berbagai jenis bermain pasif, televisi merupakan salah jenis bermain pasif yang memberikan pengaruh paling besar bagi anak, sebab k-anak sekarang menghabiskan cukup banyak waktu untuk menonton film
televisi (Hurlock, 1991; Santrock, 1995; Tedjasaputra, 2001). Bee (1997)
. Jenis bermain pasif ini telah menjadi salah satu jenis bermain yang up dominan dan penting bagi anak.
Jenis bermain pasif lainnya yang dinilai cukup penting bagi anak usia olah adalah membaca. Jenis bermain ini dinilai sebagai jenis bermain yang ing sehat secara psikologis (Hurlock, 1991; Tedjasaputra, 2001) karena miliki banyak akibat positif bagi anak, misalnya meningkatkan kreativitas anak
menyediakan tokoh cerita yang mampu diidentifikasi anak dalam membentuk ribadiannya sendiri. Anak-anak paling suka membaca buku dibanding mbaca majalah atau koran. Karena itu, membaca buku juga bisa menjadi salah
bermain pasif yang sesuai untuk anak usia sekolah.
gan antara Sikap Sosial dengan Bermain Aktif dan Pasif
ermain dan Sikap Sosial
Seperti yang telah diungkapkan di atas, salah satu tugas perkembangan anak usia sekolah, khususnya dalam aspek sosialnya, adalah mengembangkan
ialah bahwa anak memiliki pikiran, perasaan, serta perilaku yang positif terhadap orang lain dan aktivitas-aktivitas sosial. Dengan kata lain, sikap yang positif menunjukkan bahwa anak menerima kehadiran orang lain dan aktivitas-aktivitas sosialnya. Sikap ini terbentuk sejak dini dalam diri anak, dan karena pada usia sekolah anak mengembangkan interaksi sosial yang luas dengan orang lain, maka pembentukan sikap sosial yang positif selama masa sekolah
lui bermain ini dapat berupa interaksi yang positif maupun negatif. Interaksi yang menimbulkan perasaan atau reaksi negatif pada anak oleh anak tentu akan mendorong terbentuknya sikap anak yang relatif negatif pula. Sebagai contoh, anak yang selama bermain bersama temannya sering diejek atau dipukul tentu akan cenderung membentuk sikap
ini menjadi hal yang penting.
Sikap sosial terbentuk terutama melalui proses belajar sosial, dan proses ini dapat terjadi bila ada interaksi sosial antara anak dengan lingkungan di sekitarnya. Interaksi sosial ini terwujud dalam berbagai kegiatan. Pada anak usia sekolah khususnya, bermain merupakan salah satunya, sebab ketika bermain, anak dapat bertemu dan berhubungan dengan orang lain yang diajaknya bermain, apalagi bermain memang merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dan cukup dominan bagi anak. Selain itu, bermain memang merupakan kegiatan yang dapat mengajarkan pada anak bagaimana harus bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, sikap sosial, sebagai salah satu aspek sosial dalam diri anak, juga dapat ditumbuhkan melalui bermain.
yang negatif terhadap temannya tersebut. Karena itu, untuk mengantisipasi terbent
ol dan mengarahkan anak-anak da
uknya sikap sosial yang negatif ini, bimbingan dari orang yang lebih dewasa dibutuhkan ketika akan menggunakan bermain sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap sosial yang positif. Bimbingan ini akan lebih memfasilitasi terjadinya interaksi yang lebih positif sehingga mengarahkan anak untuk membentuk sikap sosial yang lebih positif pula.
Ada dua kategori luas bermain, yaitu bermain aktif dan pasif. Kedua kategori bermain ini dapat diterapkan sesuai dengan cara-cara atau faktor-faktor yang secara khusus mempengaruhi pembentukan sikap. Misalnya, menonton film (bermain pasif) dapat diterapkan mengingat bahwa sikap dapat terbentuk karena pengaruh media massa. Begitu pula dengan pola-pola bermain lainnya. Selanjutnya, dalam penelitian ini, mengingat jenis-jenis bermain yang sesuai bagi anak usia sekolah, bermain aktif akan dibatasi pada permainan (games), sedangkan bermain pasif dibatasi pada menonton film (melalui televisi) dan membaca buku. Karena penelitian akan dilakukan dalam kelompok atau klasikal, yang dimaksud membaca buku di sini adalah bahwa anak akan dibacakan buku oleh orang lain, bukan membacanya sendiri. Hal ini dimaksudkan agar peneliti lebih dapat mengontr
2. P
ng diajaknya bermain. Karena sering kali membutuhkan kerja sama dengan orang lain,
a permainan ini juga cukup intens.
ental conditi
bahwa dalam
ermainan
Permainan (games) merupakan jenis bermain yang melibatkan aturan-aturan dan terkadang kompetisi dengan orang lain. Dalam permainan ini, anak akan terlibat interaksi secara langsung dengan orang lain ya
interaksi sosial yang berlangsung selam
Interaksi yang intens ini akan memfasilitasi pembentukan sikap tertentu dalam diri anak. Anak akan belajar bahwa agar dapat diterima dalam kelompok bermain dan dapat terus ikut bermain, anak harus mematuhi aturan-aturan tertentu sesuai dengan permainan yang sedang berlangsung. Anak belajar bahwa ia tidak boleh bermain sekehendaknya tanpa mempedulikan aturan-aturan yang berlangsung. Anak juga dapat belajar mengenai sikap dan perilaku sosial mana yang ditolak dan mana yang diterima dalam kelompok. Pembelajaran ini dapat terjadi melalui classical condtioning, instrum
oning maupun modeling terhadap teman bermain dengan adanya umpan balik yang diberikan kelompok bermain terhadap anak. Dengan demikian, anak belajar untuk mengembangkan sikap dan perilaku sosial yang sesuai dengan norma kelompok bermain tersebut.
Pembelajaran yang terjadi melalui interaksi selama permainan tersebut kemudian diharapkan dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-harinya. Terkadang, sedikit bimbingan dari orang yang lebih dewasa diperlukan agar anak lebih dapat memahami hubungan antara situasi dalam permainan dengan dalam kehidupan nyata. Anak diharapkan dapat memahami
situasi sosial yang nyata, dan bukan hanya dalam permainan, anak juga perlu men
yang berlangsung ada
dapat mengajarkan sikap sosial tertentu pada anak. Dengan menyimak cerita yang disajikan, anak akan dapat memahami isi cerita dan situasi sosial yang digambarkan dalam cerita. Anak dapat belajar bahwa terdapat sikap-sikap sosial tertentu yang disukai dan diharapkan oleh orang lain. Dibantu dengan adanya bimbingan dari orang dewasa, anak kemudian diharapkan dapat melakukan modeling terhadap sikap sosial positif dan menolak sikap negatif yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh dalam cerita serta menerapkannya dalam kehidupan nyatanya.
aati “aturan-aturan” tertentu serta mengembangkan sikap-sikap sosial tertentu yang sesuai dengan norma masyarakat. Dengan demikian, anak dapat mengembangkan sikap sosial yang positif di tengah masyarakat.
3. Membaca Buku dan Menonton Film
Membaca buku dan menonton film merupakan kegiatan bermain yang dilakukan secara relatif lebih individual dibandingkan permainan. Meskipun dilakukan secara berkelompok, membaca buku dan menonton film membutuhkan perhatian khusus anak terhadap cerita yang disajikan. Dengan kata lain, membaca buku dan menonton film menyedot seluruh perhatian anak sehingga hampir tidak memungkinkan terjadinya interaksi, terutama yang intens, dengan orang lain. Dengan demikian, interaksi
lah antara anak dengan cerita, bukan anak dengan orang lain.
Interaksi yang terjadi antara anak dan cerita, terutama cerita yang memiliki pesan sosial tertentu di dalamnya,
enjelasan mengenai permainan
P serta membaca buku dan menonton film
di atas dapat memberikan asumsi bahwa di antara kedua kelompok bermain tersebut, permainan (bermain aktif) akan lebih efektif dalam menumbuhkan sikap sosial yang positif pada anak usia sekolah. Asumsi ini didasarkan pertimbangan bahwa, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bermain aktif merupakan jenis bermain yang dinilai lebih sesuai dan bagi anak usia sekolah, dan dengan demikian mungkin lebih berpengaruh dan efektif bagi anak dalam menumbuhkan sikap sosialnya. Selain itu, bermain aktif juga cenderung lebih banyak melibatkan interaksi dengan orang lain, sedangkan membaca buku dan menonton film (bermain pasif) lebih banyak bersifat individual (Hurlock, 1980). Tingkat interaksi yang lebih tinggi ini menyebabkan bermain aktif cenderung lebih efektif bagi anak usia sekolah dalam menumbuhkan sikap sosialnya.
Hubungan antara bermain aktif (permainan) dan bermain pasif (membaca buku dan menonton film) dengan pembentukan sikap sosial positif dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
ngan antara permainan serta membaca buku cerita dan menonton film dengan sikap sosial positif
Bagan 1. Hubu
Permainan (+ bimbingan)
Interaksi sosial langsung dan intens dengan teman bermain
Pembelajaran dan pemahaman terhadap
aturan bersama (melalui classical dan
instrumental condtioning maupun modeling terhadap teman bermain) Keterlibatan dan pengalaman langsung dalam lingkungan sosial nyata
Sikap sosial positif Pemahaman baik
karena adanya pengalaman langsung
Penerapan pemahaman terhadap lingkungan dan situasi
sosial
Membaca buku cerita dan menonton film
(+ bimbingan)
Pemahaman terhadap cerita dan situasi
sosial
Modeling terhadap tokoh cerita Tanpa interaksi sosial
secara intens dengan orang lain
Pemahaman terhadap situasi sosial nyata kurang baik karena tidak ada pengalaman
langsung
Sikap sosial positif (tetapi kurang positif dibandingkan dengan metode permainan) Tidak ada keterlibatan
dan pengalaman langsung dalam lingkungan sosial
E. Hipotesis
1. Bermain aktif dan pasif efektif dalam menumbuhkan sikap sosial yang positif olah.
. Bermain aktif lebih efektif dalam menumbuhkan sikap sosial yang positif pada ana
pada anak usia sek 2
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan jenis penelitian eksperimen kuasi, yaitu penelitian eksperimen yang tidak menggunakan sistem random dalam pemilihan subjeknya. Dalam penelitian eksperimen, peneliti secara sengaja melakukan manipulasi atau memberi perlakuan tertentu pada sejumlah subjek untuk mengetahui pengaruh perlakuan tersebut terhadap perilaku subjek (Latipun, 2004). Manipulasi atau perlakuan yang diberikan disebut variabel bebas, sedangkan perilaku subjek disebut variabel tergantung. Jadi, penelitian eksperimen adalah penelitian yang bertujuan mengetahui pengaruh suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung. Penelitian ini juga melakukan kontrol terhada
maupu at
terhada validitas internal
enelitian yang memadai, yaitu bahwa perubahan yang dialami variabel mang disebabkan oleh variabel bebas, bukan oleh variabel ekstra.
rtujuan mengetahui efektivitas bermain aktif dan pasif m menum ositif pada anak usia sekolah. Seperti elitian ini akan menggunakan desain n eksperimen ini tidak menggunakan sistem random p variabel-variabel ekstra, yaitu variabel-variabel di luar variabel bebas n variabel tergantung yang dap mempengaruhi hasil penelitian. Kontrol
p variabel ekstra perlu dilakukan agar diperoleh p
tergantung me
Penelitian ini be
dala buhkan sikap sosial yang p yang telah diungkapkan sebelumnya, pen eksperimen kuasi. Desai
dalam menentukan subjek yang akan masuk kelompok eksperimen ataupun elompok kontrol, namun tetap menggunakan kelompok kontrol (Latipun, 2004).
Dalam en maupun
l mengikuti e
dengan tujuan meminimalisas erlakuan yang mungkin bjek berasal dari sekolah yang sama.
rimen maupun elompok kontrol. Kemudian kedua kelompok eksperimen diberi perlakuan
h itu semua kelompok diberi po an post-test y sud dalam penelitian ini yaitu skala
-random O1 X1 O2 (kelompok eks rmain aktif)
Keterangan:
O1, O3, O5 : pre-test X1 : perlaku
2 : perlakuan (bermain pasif) 2, O4, O6 : post-test
k
penelitian ini, pemilihan subjek untuk kelompok eksperim
kelompok kontro k las-kelas yang sudah ada. Desain ini digunakan i interaksi dan imitasi p
terjadi antarkelompok, terutama karena su
Secara lebih spesifik, desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu desain eksperimen ulang non-random. Metode ini dilakukan dengan memberikan pre-test pada semua kelompok, baik kelompok ekspe
k
rangkaian aktivitas bermain aktif atau pasif. Setela st-test. Pre-test d ang dimak
sikap sosial. Desain ini
Non
dapat digambarkan sebagai berikut.
perimen A: be Non-random O
Non-random O
3 X2 O4 (kelompok eksperimen B: bermain pasif) 5 --- O6 (kelompok kontrol)
an (bermain aktif) X
B. Identifikasi Variabel
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Variabel bebas : bermain (dengan dua level perlakuan, yaitu bermain aktif dan pasif)
Var
mempe yang di
Tab Var
iabel tergantung : sikap sosial
Selain kedua variabel di atas, ada beberapa variabel ekstra yang dapat ngaruhi hasil penelitian sehingga harus dikontrol. Variabel-variabel ekstra maksud serta cara pengontrolannya adalah sebagai berikut.
el 1. Pengaruh dan pengontrolan variabel ekstra
iabel ekstra Pengaruh Cara mengontrol
Latar
subjek (budaya atau etnis,
ekonom
pembentukan sikap sosial dan memiliki siswa-siswa belakang
status sosial i)
Berpengaruh terhadap
kegiatan bermain anak.
Memilih sekolah yang
yang latar belakangnya relatif sama.
Kegiata n
aktif dan pasif anak di lua
eksperi
Mengurangi validitas internal, yaitu apabila variabel
diberikan melainkan karena
Menggunakan kontrol statistik, yaitu analisis
ain aktif
kovariabel dan sikap n bermai
r jam men
tergantung (sikap sosial) mengalami peningkatan bukan
kovarians, dengan frekuensi berm
karena perlakuan yang
banyaknya kegiatan bermain di luar jam eksperimen.
dan pasif sebagai
sosial sebagai variabel tergantung.
C.
ada
1.
s bermain aktif yang melibatkan aturan dan
hari berturut-turut didasarkan pada pertimbangan agar para subjek lebih dapat mengingat perlakuan atau materi yang telah diberikan sejak awal sampai akhir. Hal ini diharapkan dapat
Definisi Operasional
Definisi operasional dari variabel-variabel yang telah diungkapkan di atas lah sebagai berikut.
Aktivitas Bermain
a. Bermain aktif yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada permainan (games), yaitu jeni
terkadang juga kompetisi dengan orang lain. Permainan yang dimainkan adalah Kucing dan tikus, Estafet karet, Puzzle, dan Selamatkan Raja dan Ratu. Bermain aktif ini dilaksanakan di kelas IIA3 SD Tarakanita.
b. Bermain pasif meliputi membaca buku dan menonton film. Buku yang dibacakan adalah Apel-apel Mr. Peabody dan Aldo dan si penyedot debu terbang, sedangkan film yang ditonton adalah The Tigger movie. Karena durasi film yang cukup panjang, menonton The Tigger movie akan dilaksanakan dalam dua sesi. Bermain pasif dilaksanakan di kelas IIA2 SD Tarakanita.
c. Kelompok kontrol tidak diberi aktivitas bermain apa pun. Kelas IIB3 SD Tarakanita akan menjadi kelompok kontrol dalam penelitian ini.
Perlakuan pada kelas IIA3 dan IIA2 diberikan setiap hari selama 4 hari berturut-turut, dan tiap sesi berlangsung selama maksimal 60 menit. Pelaksanaan penelitian selama 4
mempermudah terbentuknya sikap sosial yang positif pada anak melalui perlakuan yang diberikan tersebut. Namun, dalam pelaksanaannya, karena ber
wab “tidak” bila merasa item ters
l ini kemudian akan dilanjutkan dengan wawancara sebagai cross-check terhadap skala tersebut.
benturan dengan jadwal mata pelajaran di sekolah serta jeda hari Minggu, tidak semua sesi perlakuan dapat diberikan tiap hari secara berturut-turut. Selanjutnya, pada kedua kelompok eksperimen, tiap sesi perlakuan berlangsung selama maksimal 60 menit agar subjek tidak menjadi bosan dengan kegiatan yang dilakukan.
2. Sikap sosial diketahui dari skor yang diperoleh subjek dalam skala sikap sosial. Skala sikap sosial ini terdiri dari 20 item dengan dua pilihan jawaban, yaitu “ya” dan “tidak”. Subjek menjawab “ya” bila merasa bahwa item yang bersangkutan mencerminkan dirinya dan menja
ebut tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Masing-masing item memiliki bobot skor yang berbeda. Anak akan memperoleh skor item tersebut bila menjawab “ya” dan mendapat skor 0 bila menjawab “tidak”. Skor total subjek kemudian akan dibagi dengan jumlah jawaban “ya” sehingga diperoleh nilai mean. Mean ini memiliki rentang nilai antara 1 sampai 11. Nilai atau skor mean inilah yang menunjukkan sikap sosial subjek. Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek, semakin positif pula sikap sosialnya. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subjek, semakin negatif pula sikap sosialnya. Skala sikap sosia
D. Subjek Penelitian
penelitian ini adalah anak-anak usia sekolah yang terdaftar di kelas 2 Seko
arena itu, ketiga kelas in emiliki kondisi yang relatif setara atau sama sehingga
enelitian ini.
Subjek unt penelitian ini dipilih uduk di kelas
SD de a si yan ada ia s
harus ditumbuhkan sedini mungkin, sebab hal ini akan mempengaruhi sikap
mereka sam asuk k-anak ya
baru saja menginjak usia sekolah, sehingga tidak terlambat bila menumbuhkan sikap sosial yang positif pada usia ini. S las 1 SD karena kelas 1 SD masih termasuk masa peralihan dari masa prasekolah ke masa sekolah. Karena itu, anak kelas 2 SD dinilai sebagai subjek yang cukup ideal untuk penelitian ini.
Subjek
lah Dasar Tarakanita, Yogyakarta. Sekolah ini dipilih karena siswa-siswinya berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang relatif sama. Sampel untuk subjek penelitian adalah anak-anak yang terdaftar di kelas IIA2, IIA3, dan IIB3. Pemilihan subjek dilakukan berdasarkan pembagian kelas yang sudah ada. Kelas-kelas tersebut dipilih oleh pihak sekolah dengan pertimbangan bahwa ketiganya lebih progresif dalam berbagai mata pelajaran. Oleh k
i dapat dianggap m
sesuai untuk dijadikan subjek dalam p
uk dari anak-anak yang d 2
ngan pertimbangan bahw kap sosial g positif p anak us ekolah
pai di kemudian hari. Anak-anak kelas 2 SD term ana ng
E. Alat Ukur
1. Isi Skala
Data-data dalam penelitian ini berupa skor yang diperoleh anak dalam skala sikap sosial anak. Skala ini diisi oleh subjek. Skala ini menggunakan format skala interval tampak setara dan terdiri dari 20 item dengan dua pilihan jawaban, yaitu “ya” dan “tidak” (penjelasan lebih lanjut mengenai cara skoring telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya mengenai definisi operasional). Adapun blue-print dari skala sikap sosial anak ini adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Blue-print skala sikap sosial
Komponen Sikap (%)
Komponen Objek Sikap Kognitif Afektif Konatif Total (%) • Keluarga Teman sebaya 5 10 20 35 • • Orang asing lainnya 10 5 10 5 25 10 45 20 Total 20 30 50 100
Proporsi ini didasarkan pada beberapa pertimbangan. Perbandingan proporsi antara keluarga, teman sebaya, dan keluarga didasarkan pertimbangan bahwa pada usia sekolah, interaksi sosial anak berkembang terutama dengan teman sebayanya (Hurlock, 1972; Hurlock, 1980; Santrock, 1995; Bee, 1997). Kemudian, meskipun mengalami penurunan dibandingkan ketika usia prasekolah, interaksi anak dengan keluarga masih memegang peranan yang penting (Santrock,
1995; Berk, 2006). Interaksi dengan orang asing lain adalah interaksi sosial yang paling jarang terjadi dibandingkan
i an one f, af kona
d ada beberapa pert an. K g
paling kecil karena anak-anak usia sekolah umumnya pu menilai s ra terlalu rinci. Biasanya me i berdasarkan apa yang ia rasakan atau apa yang dilakuka nilaian terhadap kepribadian orang lain pun hanya terbatas pada istilah-istilah yang sangat umum seperti “baik” atau “menyenangkan” (Berk, 2006). Secara afektif atau emosi
terlalu banyak emosi yang umumnya dirasaka
sekolah (Hurlock, 1980), apalagi sebenarnya hanya ada empat jenis emosi dasar, yaitu rasa senang atau bahagia, takut, amarah, dan sedih, meskipun manusia juga m acam emosi selain emosi-emosi dasar ini (Berk, 2006). Kemudian, dibandingkan komponen kognitif dan afektif, komponen konatif adalah komponen yang paling bervariasi pada anak-anak. Anak-anak engembangkan cukup banyak perilaku, baik itu perilaku sosial maupun perilaku antisosial (Hurlock, 1
interaksi-interaksi sebelumnya.
Perbandingan propors tara komp n kogniti ektif, dan tif juga idasarkan p imbang omponen ko nitif memiliki proporsi
belum mam
eseorang seca reka menila orang lain
n orang tersebut. Pe
, tidak n atau dipahami oleh anak-anak usia
engembangkan berbagai m
m
980). Karena itu, komponen konatiflah yang memiliki proporsi yang paling besar dalam pembuatan skala sikap sosial.