• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

E. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian sehingga hipotesis penelitian tidak terbukti. Keterbatasan-keterbatasan tersebut akan dibahas satu per satu di bawah ini.

1. Skala kurang memadai

Skala sikap sosial yang digunakan dalam penelitian ini sebenarnya kurang memadai. Hal ini terlihat dalam beberapa hal. Pertama, ternyata peneliti melakukan suatu kesalahan dalam menyusun skala sikap sosial yang digunakan dalam penelitian ini. Ketika melakukan seleksi item, peneliti seharusnya melakukannya berdasarkan nilai korelasi item-meannya, sebab skor subjek dalam skala ini dilihat dari nilai meannya. Namun, ketika menyusun skala, peneliti justru menyeleksi item berdasarkan nilai korelasi item-totalnya. Kesalahan ini menyebabkan item-item skala memiliki validitas yang rendah. Kemudian, dengan mengesampingkan kesalahan dalam menyusun skala, skala yang digunakan dalam penelitian ini memiliki validitas yang kurang baik. Hal ini terlihat baik dari validitas isi maupun validitas logis. Artinya, skala ini mungkin tidak tepat dalam mengukur sikap sosial anak. Selain itu, angka reliabilitas yang tidak terlalu tinggi

juga dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan skala ini kurang memadai untuk

penelitian ini kurang tepat untuk engukur sikap sosial anak.

2. Keti

lakuan ini mungkin menyebabkan tidak adanya perubahan yang signifikan pada sikap sosial subjek yang terukur melalui skala.

digunakan sebagai alat ukur. Item-item dalam skala ini juga memiliki tingkat social desirability yang relatif tinggi sehingga para subjek mungkin menjawab item-item ini berdasarkan apa yang dianggap baik, bukan berdasarkan keadaan mereka yang sebenarnya. Hal ini terlihat secara nyata ketika seorang subjek bertanya pada peneliti tentang jawaban mana yang baik. Tampaknya mereka ingin dianggap baik ketika mengisi skala ini, namun tidak demikian dalam perilaku mereka yang sebenarnya. Maksudnya, peneliti mengamati bahwa beberapa subjek berusaha memberikan jawaban yang baik pada skala, namun tidak berusaha terlihat baik pula dalam perilaku nyata mereka. Dari sini juga dapat terlihat bahwa skala yang digunakan dalam

m

daksesuaian item skala dengan pokok bahasan dalam eksperimen

Permasalahan selanjutnya terkait dengan skala yang digunakan. Meskipun peneliti sudah berusaha menyesuaikan item-item skala dengan pemberian perlakuan, tidak semua permasalahan yang muncul dalam item-item skala dapat terwakili dalam learning point yang diberikan selama pemberian perlakuan sehingga tidak semua permasalahan tersebut dapat dibahas. Ketidaksesuaian antara item-item skala dan per

3. Penggunaan skala kurang sesuai untuk anak

konkret, bukan abstrak. Anak belum mampu berpikir secara

iswanya memiliki latar belakang yang kurang lebih sama, perbedaan antarkelas l dengan randomisasi ini dapat mempe

Terlepas dari ketidaksesuaian antara skala dan perlakuan, mungkin pemberian skala juga kurang sesuai untuk para subjek yang duduk di kelas 2 SD ini. Hal ini terkait dengan perkembangan anak kelas 2 SD yang baru mencapai tahap operasional konkret. Artinya, anak dapat memahami sesuatu dengan baik, tetapi hanya dalam konteks

abstrak dengan baik, sedangkan skala cenderung bersifat abstrak, bukan konkret. Dalam mengisi skala, anak perlu berpikir secara abstrak dan membayangkan situasi yang digambarkan dalam item-item skala. Karena sifatnya yang abstrak inilah, pemberian skala mungkin memang tidak sesuai untuk mengukur sikap sosial pada anak kelas 2 SD.

4. Permasalahan randomisasi

Metode penelitian yang kurang tepat juga dapat mempengaruhi hasil penelitian ini. Penelitian ini tidak menggunakan sistem randomisasi dalam mengelompokkan subjek ke dalam kelompok-kelompok eksperimen. Meskipun peneliti sudah berusaha mengatasinya dengan mencari sekolah yang siswa-s

mungkin masih ada. Perbedaan yang tidak dikontro ngaruhi hasil penelitian.

5. Kurangnya partisipasi orang tua

Penelitian Manger, dkk (2003) mengungkapkan bahwa kesamaan nilai atau pandangan dan dukungan orang tua terhadap tujuan pelatihan dapat mempengaruhi hasil yang dicapai subjek. Kurangnya partisipasi orang tua dalam penelitian yang mereka lakukan dinilai dapat memperlambat peningkatan

eterampilan sosial subjek.

Manger, dkk (2003) di atas, penelitian ini juga tidak m

ek dalam waktu yang relatif pendek.

n prinsip belajar sosial

k

Serupa dengan penelitian

elibatkan partisipasi orang tua sehingga dukungan orang tua yang dibutuhkan dalam membentuk sikap sosial anak tidak diperoleh. Sebagai hasilnya, perlakuan yang diberikan peneliti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap sosial para subjek. Bagaimanapun, orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri anak (Meyerhoff, 1994), termasuk dalam pembentukan sikap sosial mereka. Meyerhoff (1994) menilai bahwa pengaruh orang tua dan pengalaman di rumahlah yang memberikan pengaruh paling besar dalam pembentukan keterampilan sosial anak. Sekadar perlakuan dari peneliti rupanya memang tidak cukup memadai untuk membentuk sikap sosial yang lebih positif pada subj

6. Kurangnya penerapa

Hal lain yang mempengaruhi tidak terbuktinya hipotesis adalah bahwa peneliti kurang menerapkan cara-cara pembentukan sikap dalam memberikan perlakuan. Peneliti kurang menerapkan prinsip classical conditioning maupun instrumental conditioning baik di kelas bermain aktif maupun pasif. Peneliti

memang sudah berusaha menerapkan proses modeling dalam membentuk sikap sosial subjek, namun hal ini dilakukan khususnya di kelas bermain pasif, dan kurang dilakukan di kelas bermain aktif. Kurangnya penerapan prinsip-prinsip pembentukan sikap yang telah disebutkan di atas mungkin menyebabkan sikap sosial subjek kurang dapat terbentuk secara efektif.

7. Kurangnya situasi konkret

Jenis-jenis bermain yang digunakan dalam penelitian ini mungkin memang tidak sesuai untuk menumbuhkan sikap sosial pada anak, khususnya pada

elompok bermain aktif. Jenis-jenis permainan yang digunakan dalam kelompok in bersifat terlalu abstrak bagi anak. Artinya, permainan-permai

n sehingga ukuran kelas i cukup besar, yaitu sekitar tiga puluhan subjek per kelas. Hal ini menyebabkan peneliti kurang dapat memperhaitkan dan mengontrol perilaku tiap subjek. k

bermain aktif mungk

nan yang digunakan kurang dapat menghadirkan atau menggambarkan situasi sosial yang nyata dan konkret bagi anak. Akibatnya, anak kurang dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkannya ke dalam kehidupan nyata. Bermain aktif yang mungkin lebih efektif bagi anak adalah bermain peran, sebab bermain peran dapat menghadirkan situasi yang lebih konkret pada anak (Jordan, 1994).

8. Ukuran kelas besar

Ketika memberikan perlakuan, baik itu bermain aktif maupun pasif, tiap kelas digabung dan mendapat perlakuan secara bersamaa

Ukuran kelas yang cukup besar ini menyebabkan para subjek cenderung kurang fokus

ingga peneliti kurang dapat mengendalikan atau mengatur para subjek ketika mereka saling melempar, mendorong, atau menendang. Perilaku-perilaku tersebut ternyata memang dikeluhkan oleh cukup banyak subjek. Beberapa kejadian semacam ini bertentangan dengan tujuan penelitian dan dapat mempengaruhi penelitian sehingga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

pada kegiatan yang sedang dilakukan. Hal ini terlihat baik pada kelas bermain aktif maupun pasif. Para subjek sering kali berbicara dengan temannya dan kurang memperhatikan peneliti. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, kurangnya perhatian subjek terhadap peneliti mungkin juga disebabkan oleh kurangnya kedekatan antara subjek dan peneliti sehingga peneliti kurang memiliki pengaruh terhadap subjek. Kurangnya perhatian subjek pada kegiatan yang sedang berlangsung ini menyebabkan perlakuan kurang mengenai sasaran sehingga tujuannya pun tidak tercapai.

9. Kejadian khusus

Selama penelitian berlangsung, terdapat beberapa kejadian khusus yang tidak dapat dikontrol oleh peneliti. Salah satunya adalah ketika sesi menonton The Tigger movie bagian II. Pada sesi ini seorang subjek menangis karena perlakuan salah seorang temannya. Contoh lain adalah ketika sesi bermain Selamatkan Raja dan Ratu. Sesi ini berjalan dengan kacau seh

10. Kurangnya per

Dalam penelitian ini, tiap kelom ok eksperimen diberi empat perlakuan yang dilakukan selama satu minggu. Jum ah perlakuan ini mungkin terlalu sedikit

alam jangka waktu yang terlalu singkat sehingga kurang emberikan efek bagi sikap sosial subjek. Perubahan sikap sosial ini mungkin membu

apat memunculkan perubahan perilaku atau keteram

reka saat pre-test sehingg

lakuan dan singkatnya waktu penelitian

p l dan dilakukan d

m

tuhkan lebih banyak waktu dan perlakuan, apalagi, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, sikap sosial ini mungkin merupakan suatu unsur dalam diri individu yang cenderung sulit diubah. Bahkan, beberapa penelitian yang dilaksanakan dalam jangka waktu yang lebih lama pun, yaitu antara enam minggu sampai satu tahun, tidak d

pilan sosial yang signifikan secara statistik pada diri seseorang (Manger, Eikeland, & Asbjornsen, 2003, Johnson, 2000). Pemberian pre-test dan post-test yang hanya berselang satu minggu juga mungkin menjadi faktor yang menyebabkan tidak adanya perubahan pada sikap sosial para subjek di kelompok eksperimen. Para subjek mungkin masih mengingat jawaban me

Dokumen terkait