• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

perbedaan yang signifikan antara ketiga kelompok penelitian setelah pemberian perlakuan (20 item: Sig. = 0,071; 9 item: Sig. = 0,228). Hal ini berarti bahwa pemberian perlakuan bermain aktif maupun pasif tidak efektif dalam menumbuhkan sikap sosial yang lebih positif pada anak usia sekolah. Bahkan, pada skala dengan 20 item, kelompok kontrol memperoleh skor yang secara signifikan lebih besar dari kelompok bermain pasif (Sig.a = 0,025). Selain itu, bermain aktif juga terbukti tidak lebih efektif dalam menumbuhkan sikap sosial tersebut.

Tidak terbuktinya hipotesis penelitian ini dapat disebabkan oleh beberapa ini.

hal seperti yang akan dibahas berikut

1. Kurangnya proses pembelajaran

Hasil analisis yang telah dilakukan di atas menunjukkan kesesuaian dengan hasil penelitian Lunardi (Lunardi, 2004). Lunardi meneliti pengaruh dongeng terhadap perilaku berbagi anak usia sekolah, khususnya kelas 3 SD. Hasil analisis Lunardi menunjukkan bahwa pemberian dongeng tidak memunculkan perilaku berbagi pada anak. Penelitian Lunardi ini dapat disejajarkan dengan perlakuan bermain pasif yang diberikan oleh peneliti, khususnya membaca buku. Dalam pembahasannya, Lunardi antara lain mengemukakan bahwa tidak adanya pengaruh dongeng terhadap perilaku berbagi anak mungkin disebabkan oleh tidak adanya perhatian khusus anak untuk melakukan pembelajaran sosial terhadap dongeng yang diberikan. Artinya, anak sekadar menikmati isi cerita tanpa kesadaran atau keinginan khusus untuk

mengambil pelajaran tertentu dari cerita tersebut. Peneliti sudah berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memberikan pokok-pokok pembahasan yang dapat membantu anak melakukan proses pembelajaran terhadap kegiatan yang telah mereka

n yang diharapkan terjadi kurang berjalan dengan baik.

perubahan serta ebutuhan akan kerja sama dari pihak orang tua. Manger, dkk (2003) mengungkapkan kemungkinan bahwa keterampilan sosial yang mereka teliti

lakukan. Namun, ternyata hal ini tetap tidak dapat memunculkan sikap sosial yang lebih positif pada anak. Umumnya anak lebih terfokus pada kegiatan bermain yang dilakukan dan kurang memberikan perhatian pada pembahasan yang diberikan setelah kegiatan tersebut berlangsung. Akibatnya, proses pembelajara

2. Resistensi terhadap perubahan

Hasil serupa juga ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Manger, Eikeland, dan Asbjornsen (2003). Meskipun menggunakan subjek-subjek dari rentang usia yang berbeda, hasil penelitian mereka dapat memberikan masukan yang cukup berarti bagi penelitian yang dilakukan peneliti sendiri. Manger, dkk (2003) memberikan pelatihan keterampilan sosial, yaitu khususnya di bidang kerja sama, kontrol diri, dan asertivitas, terhadap siswa-siswi usia empat belas sampai lima belas tahun. Pelatihan yang mereka laksanakan selama satu tahun itu ternyata tidak berhasil meningkatkan keterampilan sosial para subjek. Dalam pembahasan hasil penelitian, mereka mengungkapkan beberapa hal yang mungkin juga merupakan faktor yang menentukan dalam penelitian peneliti sendiri. Beberapa hal ini antara lain masalah resistensi terhadap

resisten terhadap perubahan sehingga pelatihan yang mereka berikan tidak dapat mening

hi pula oleh begitu banyak hal lain, misalnya pengalaman masa lalu dan epribadian, sehingga sulit untuk diubah, khususnya dalam waktu yang relatif

rmrod (2004) mengungkapkan bahwa

i luar diri anak.

katkan keterampilan sosial tersebut, padahal pelatihan ini sudah berusaha memberikan situasi yang spesifik.

Masalah yang diungkapkan oleh Manger, Eikeland, dan Asbjornsen (2003) di atas juga terjadi dalam penelitian ini. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan Manger, dkk di atas, yaitu dalam hal mengusahakan pembentukan aspek sosial tertentu dalam diri subjek melalui pemberian perlakuan.

Seperti halnya pada penelitian Manger, dkk (2003), penelitian ini mungkin juga menghadapi masalah resistensi, yaitu resistensi sikap sosial. Secara umum, sikap memang merupakan sesuatu yang dapat diubah, tetapi mungkin sikap sosial dipengaru

k

singkat. Secara lebih khusus, McDevitt dan O

perilaku prososial dan agresif, yaitu perilaku-perilaku yang terkait erat dengan sikap sosial, memiliki sifat bawaan, meskipun pengaruh dari lingkungan juga tetap ada. Mereka juga menyatakan bahwa kecenderungan anak untuk lebih senang berada di antara orang lain atau sendirian—sesuatu yang terkait dengan sikap sosial pula—dipengaruhi oleh temperamen anak, yaitu sesuatu yang bersifat bawaan pula. Pengaruh sifat-sifat bawaan ini membuat sikap sosial jadi relatif sulit untuk diubah atau dipengaruhi oleh faktor d

3. Kurangnya kedekatan dengan subjek

Permasalahan lain yang mungkin turut menyebabkan tidak meningkatnya sikap sosial subjek adalah kurangnya kedekatan antara peneliti dengan subjek. Peneliti termasuk orang yang asing bagi para subjek penelitian. Akibatnya, hal-hal yang ingin disampaikan peneliti kepada subjek kurang mendapat tanggapan yang berarti dari subjek. Atau, bila dikaitkan dengan salah satu permasalahan yang dikemukakan di paragraf sebelumnya, peneliti memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap subjek, lain halnya dengan pengaruh yang bisa diberikan oleh orang tua, teman, serta guru. Hal ini terlihat dari kurangnya perhatian yang dicurahkan subjek terhadap peneliti selama penelitian. Sebaliknya, anak memberikan perhatian dan tanggapan yang relatif lebih berarti terhadap guru mereka.

4. Control deficiency dan utilization deficiency

Mungkin metode pemberian perlakuan seperti dalam penelitian ini memang kurang cocok bagi subjek yang duduk di kelas 2 SD. Penggunaan pokok-pokok pembahasan (learning point) mungkin tidak terlalu sesuai bagi anak kelas 2 SD, khususnya dalam membentuk perilaku nyata mereka. Hal ini disebabkan oleh tahap perkembangan anak yang belum memadai. Anak usia sekolah sering kali masih menunjukkan control dan utilization deficiency dalam mengingat suatu hal dan mewujudkannya secara nyata (Berk, 2006).

Control deficiency berarti bahwa anak sebenarnya sudah memahami suatu hal dan bahkan sudah dapat mengembangkan suatu strategi untuk mengatasi

permasalahan tertentu, namun ia tidak selalu dapat mengontrol atau mewujudkan pemaha

bila disertai petunjuk atau tanda yang ipahaminya. Kedua hal ini menyebabkan anak kurang dapat melakukan

kan sesuatu dalam memori mereka serta kurang dapat mewujudkan apa yang telah mereka pahami secara nyata. Implikasi hal-hal di atas bagi penelitian ini adalah bahwa anak mungkin memang sudah dapat memahami pokok-pokok pembahasan yang disampaikan dengan baik, namun mereka belum dapat mewujudkannya secara optimal dalam perilaku nyata mereka. Hal ini juga tampak dalam perilaku anak selama penelitian. Secara keseluruhan, para subjek dapat memahami penjelasan peneliti serta menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dapat memahami pokok-pokok pembahasan dengan baik. Bila dilihat dari skor yang diperoleh pada skala sikap sosial, sebenarnya para subjek juga memiliki sikap sosial yang cukup baik. Hal ini terlihat dari skor subjek yang umumnya berkisar antara tujuh atau delapan, bahkan lebih (dengan rentang skor satu sampai sebelas). Namun, bila dilihat dari perilaku nyata yang dapat diamati oleh peneliti, subjek memang belum menunjukkan perbaikan dalam sikap sosial mereka. Hal ini terlihat antara lain pada sesi terakhir pemberian perlakuan, baik pada kelas bermain aktif maupun pasif. Pada kedua kelas eksperimen ini terdapat beberapa subjek yang mengeluhkan perilaku temannya, yaitu antara lain memukul, menendang (pada kelas bermain aktif), dan mengusir (kelas bermain pasif).

man dan strategi tersebut secara nyata dan konsisten. Utilization deficiency berarti bahwa anak sudah dapat menerapkan suatu pemahaman atau strategi secara konsisten, namun hanya

d

Hal-hal lain yang mempengaruhi hasil penelitian ini terkait dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. Berbagai keterbatasan ini akan dibahas dalam sub bab selanjutnya.

Dokumen terkait