• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Sumber Data

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

KERANGKA PEMIKIRAN

4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara wawancara dengan peternak, ahli pakan ternak dan ahli limbah peternakan. Data primer meliputi data produksi ayam broiler serta komponen biaya investasi dan operasional serta harga input dan output.

Data sekunder diperoleh dari Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian dan literatur yang relevan dengan penelitian. Data sekunder meliputi aspek budidaya jagung, ekspor impor daging ayam serta data lainnya yang terkait. 4.3 Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif dan analisis kelayakan finansial. Metode deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran

proses produksi jagung, pengolahan pakan ternak, budidaya ayam broiler serta pengolahan pupuk organik. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis biaya dan manfaat kombinasi usaha yang dijalankan melalui kriteria kelayakan investasi dan analisis switching value.

Tiga model kombinasi usaha yang akan diterapkan dengan dua simulasi : Model 1. Peternakan ayam broiler (tidak terpadu)

Model ini hanya berupa kegiatan peternakan ayam broiler. Pakan yang merupakan komponen terbesar biaya produksi berasal dari PT. Charoen Pokphand terdiri dari pakan starter dengan kandungan protein 21 – 23 persen dan pakan finisher dengan protein 19 – 21 persen dan Energi Metabolis 3000 – 3200 kkal. Setiap tahun mulai tahun pertama terdapat enam siklus produksi ayam broiler. Model 2. Kombinasi pabrik pakan dan peternakan ayam broiler.

Pada model ini kegiatan peternakan dikombinasikan dengan pabrik pakan. Pabrik pakan mengolah bahan baku menjadi pakan ayam broiler dengan kandungan protein 21 persen dan Energi Metabolis 3100 kkal. Bahan baku yang dipakai untuk membuat pakan ayam broiler termasuk jagung dibeli dari PT. Eka Matra. Pada tahun pertama, pabrik pakan sudah beroperasi mulai bulan pertama karena jagung dibeli dari luar sehingga tidak harus menunggu waktu panen. Pakan yang dihasilkan di pabrik langsung dikirim ke peternakan sebagai pakan ayam.

Model 3. Kombinasi peternakan ayam broiler dengan pabrik pakan dan budidaya jagung.

Model ini merupakan kegiatan yang terintegrasi antara budidaya jagung, pabrik pakan dan peternakan ayam broiler. Pada kegiatan budidaya jagung akan dihasilkan jagung pipilan kering yang akan diolah di pabrik pakan sebagai salah

satu bahan baku pakan ayam broiler. Pakan yang dihasilkan di pabrik langsung digunakan sebagai pakan ayam. Produk sampingan dari ayam berupa kotoran dipakai sebagai pupuk pada tanaman jagung. Pada tahun pertama, pabrik mulai beroperasi pada bulan ke empat, karena jagung baru dapat dipanen setelah umur tiga bulan.

Simulasi pertama dengan kapasitas 10.000 ekor ayam broiler. Simulasi kedua dengan kapasitas 25.000 ekor ayam broiler. Kapasitas 10.000 dan 25.000 ekor ini merupakan populasi ayam broiler yang banyak dipelihara peternak mandiri. Program komputer yang digunakan untuk mengolah data adalah Microsoft Excel.

4.3.1 Analisis Kelayakan Finansial

Kriteria yang digunakan dalam melakukan kelayakan investasi adalah : a. Net Present Value (NPV)

NPVmerupakan selisih antara nilai sekarang dari manfaat dan biaya. Rumus dari NPV adalah :

t n t i Ct Bt NPV ) 1 ( 0 + − =

=

Sumber : Kadariah dan Clive (1999) Keterangan :

Bt = penerimaan tahun ke-t Ct = biaya tahun ke t i = discounted factor t = tahun

n = umur proyek

b. Internal Rate of Return (IRR)

Nilai IRR ditentukan dengan mencari nilaidiscounted factor yang membuat nilai NPV sama dengan nol. Untuk menentukan berapa tepatnya tingkat bunga tersebut adalah dengan menggunakan metoda interpolasi, yakni dengan menyisipkan tingkat bunga diantara bunga yang menghasilkan NPV positif dan tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif. Metoda tersebut diformulasikan dengan rumus berikut :

(2 1) ) 2 1 ( 1 1 X i i NPV NPV NPV i IRR − − + =

Sumber : Kadariah dan Clive (1999) Keterangan :

i1 = discounted factor yang menghasilkan NPV positif i2 = discounted factor yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV yang bernilai positif

NPV2 = NPV yang bernilai negatif

Proyek/investasi layak dilakukan jika IRR lebih tinggi dari suku bunga yang berlaku.

c. Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara jumlah manfaat nilai sekarang yang bernilai positif dengan jumlah manfaat sekarang yang bernilai negatif. Net B/C digunakan untuk melihat berapa besar manfaat bersih yang dapat diterima suatu proyek untuk setiap satu rupiah yang dikeluarkan. Untuk menghitung Net B/C dihitung terlebih

dahulu benefit bersih yang telah di discount factor untuk setiap tahun. Rumusnya adalah sebagai berikut

PVNegatif Positif PV i Ct Bt i Ct Bt C NetB n t t n t t = < + − > + − =

= = 0 ) 1 ( 0 ) 1 ( / 0 0

Sumber : Kadariah dan Clive (1999)

Keterangan :

Bt = penerimaan tahun ke-t Ct = biaya tahun ke t i = discounted factor t = tahun

n = umur proyek

Proyek/investasi layak dilakukan jika Net B/C lebih dari satu d. Payback Period

Payback period adalah waktu minimum untuk mengembalikan investasi awal dalam bentuk aliran kas yang didasarkan atas total penerimaan dikurangi semua biaya. Semakin pendek payback period, menunjukkan bahwa investasi yang dikeluarkan dalam proyek tersebut semakin cepat kembali. Untuk menghitung payback period mula-mula dihitung arus penerimaan kas, kemudian manfaat bersih dikumulatifkan dari tahun ke tahun dan dihitung rata – ratanya. Nilai Payback period dapat dihitung dari pembagian investasi dengan net benefit rata-rata. Periode pengembalian dirumuskan sebagai berikut :

Sumber : Pudjosumarto (1991)

Payback period tidak dipakai untuk menilai layak tidaknya suatu proyek tetapi melihat berapa lama proyek dapat mengembalikan biaya investasinya. Perhitungan payback period belum memperhitungkan nilai waktu akan uang. 4.3.2 Analisis Switching value

Harga DOC dan ayam broiler hidup di pasaran berfluktuasi. Fluktuasi harganya cukup tinggi dan tidak bisa diprediksi secara tepat. Penyebab harga DOC berfluktuasi karena kapasitas produksi yang dihasilkan perusahaan pembibitan tidak sesuai dengan daya serap DOC di peternakan. Pada saat tertentu terjadi kelebihan permintaan DOC, pada saat lain terjadi kelebihan penawaran DOC. Keadaan ini menunjukkan bahwa perencaanaan skala dan struktur populasi di pembibitan tidak berjalan optimal.

Pada harga ayam broiler hidup, apabila terjadi penurunan harga daging ayam akan ditransmisikan dengan cepat ke usaha budidaya tetapi bila terjadi kenaikan harga daging ayam akan ditransmisikan secara lambat. Hal inilah penyebab salah satu mengapa harga ayam hidup di tingkat peternak berfluktuasi (Saragih, 2001).

Variabel yang menjadi parameter dalam analisis switching value pada penelitian ini adalah :

• Penurunan harga jual ayam broiler dengan asumsi faktor lain tetap (ceteris paribus)

• Kenaikan harga beli DOC dengan asumsi faktor lain tetap (ceteris paribus) 4.4 Asumsi Dasar

Dalam penelitian kelayakan peternakan ayam broiler terpadu menggunakan beberapa asumsi dasar.

Asumsi untuk seluruh model :

1. Umur proyek adalah sepuluh tahun. Umur proyek berdasarkan umur ekonomis bangunan kandang.

2. Tingkat suku bunga yang dipakai adalah tingkat suku bunga pinjaman Bank Rakyat Indonesia (BRI) tahun 2007 sebesar 17 persen.

3. Produk utama yang dihasilkan adalah ayam hidup dengan bobot panen 1,7 kg dan tingkat kematian empat persen.

4. Harga ayam hidup selama sepuluh tahun diasumsikan tetap. Harga ayam hidup sebesar Rp 12.500 per kg. Harga tersebut merupakan harga yang ada di pasar pada saat penelitian berlangsung.

5. Strain ayam broiler yang dipakai adalah Hubbard dengan FCR (Feed Conversi) = 1,7 yang artinya untuk mendapatkan ayam dengan bobot hidup 1 kg diperlukan pakan sebanyak 1,7 kg.

6. Dalam satu tahun terdapat enam kali siklus produksi. Satu siklus produksi masa pemeliharaan selama 35 hari.

7. Selama masa pemeliharaan, satu ekor ayam broiler menghabiskan pakan sebesar 2,89 kg.

8. Harga untuk seluruh input yang digunakan dalam analisis ini adalah konstan. Harga input yang digunakan adalah harga yang berlaku pada saat penelitian.

9. Besarnya pajak ditentukan berdasarkan Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000 yaitu :

• Penghasilan sampai dengan Rp 50.000.000 maka tarif pajak sebesar 10 persen

• Di atas Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 100.000.000 maka tarif pajak (10% x Rp 50.000.000) + (15% x (penghasilan – Rp 50.000.000))

• Di atas Rp 100.000.000 maka tarif pajak (10% x Rp 50.000.000) + (15% x Rp 50.000.000) + (30% x (penghasilan – Rp 100.000.000))

Asumsi untuk model satu dan dua :

1. Lahan utnuk mendirikan peternakan ayam broiler dan pabrik pakan dibeli dengan harga Rp 100.000 per m2.

2. Hasil sampingan berupa kotoran ayam. Harga jual kotoran ayam tanpa karung sebesar 1.500 per karung. Dalam satu karung berisi kotoran sebanyak 30 kg.

Asumsi untuk model dua dan tiga :

1. Untuk memenuhi 10.000 ekor ayam broiler, pabrik pakan berkapasitas 600 kg per hari sedangkan untuk 25.000 ekor, kapasitas pabrik sebesar 1600 kg per hari. Satu hari kerja lamanya delapan jam dan satu minggu enam hari kerja.

2. Pada kapasitas 25.000 ekor ayam broiler, ada kelebihan pakan jadi dari pabrik pakan dan dijual seharga Rp 3.500 per kg.

Asumsi untuk model dua :

Jagung yang merupakan bahan baku utama pakan ayam broiler diperoleh dari PT. Eka Matra dengan harga Rp 3.000 per kg untuk kapasitas 10.000 ekor dan Rp 2.700 untuk kapasitas 25.000 ekor.

Asumsi untuk model tiga :

2. Varietas jagung yang digunakan adalah hibrida BISI 16 dengan produktivitas 8 ton per hektar (Wiratmoko, 2008). Kadar air jagung pipilan untuk pakan sebesar 12 persen (NRC, 1994). Benih jagung diproduksi oleh PT. Bisi Internasional dengan distributornya PT. Tanindo Subur Prima.

3. Dalam satu tahun dilakukan tiga kali musim tanam jagung. Satu kali masa tanam selama tiga bulan.

4. Lahan jagung untuk kapasitas 10.000 ekor ayam terbagi menjadi dua, dengan luasan masing-masing 2 hektar. Jarak waktu tanam antara lahan satu dan dua adalah dua bulan, sehingga panen dilakukan dua bulan sekali. Lahan untuk kapasitas 25.000 ekor ayam terbagi menjadi empat dengan luasan masing-masing 2,5 hektar. Jarak waktu tanam antara lahan satu dengan yang lain selama satu bulan, sehingga panen dilakukan setiap bulan.

5. Jarak tanam jagung hibrida BISI 16 adalah 65 x 15 cm.

6. Selain pakan, pada kapasitas ayam broiler 25.000 ekor dihasilkan jagung pipilan kering yang dapat dijual seharga Rp 2.500.

Dokumen terkait