TINJAUAN PUSTAKA A.Prestasi Belajar
C. Kebiasaan Belajar
1. Jenis – jenis Belajar
Pada dasarnya kemampuan mempelajari sesuatu untuk setiap siswa berbeda-beda. Para ahli melihat ciri-ciri yang ada di dalamnya, mencoba
untuk membagi kedalam jenis-jenis belajar. Namun sampai saat ini belum terdapat kesepakatan untuk keseragaman dalam merumuskannya. Berikut jenis-jenis belajar menurut A. De Block, C. Van Parrenren, Robert M. Gagne dan Jhon Dewey disimpulkan Syaiful Bahri ( 2011:27-37).
a. Belajar arti kata-kata.
Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Pada mulanya suatu kata sudah dikenal, tetapi belum tahu artinya. Misalnya pada anak kecil, sudah mengenal kata mobil dan pesawat berdasarkan ciri-cirinya. Akan tetapi dia belum mengetahui fungsinya dan isi didalamnya.
Setiap siswa pasti belajar arti kata-kata tertentu yang belum diketahui. Tanpa hal ini, maka sukar menggunakannya, tak urung ditemukan kesalahan dalam menggunakan.
b. Belajar Kognitif.
Dalam belajar kognitif erat hubungannya dengan masalah mental, dimana obyek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan bersifat mental. obyek-obyek yang ditanggapi tidak hanya bersifat materiil, tetapi juga yang tidak bersifat tidak materiil.
Belajar kognitif penting untuk proses belajar. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan kognitif. Alasannya semua kegiatan belajar sangat erat dengan kegiatan mental seperti memberikan tanggapan dan menyikapi dari obyek-obyek yang diamati.
c. Belajar Menghapal.
Menghapal adalah aktivitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan kembali secara harafiah, sesuai dengan materi yang asli. Peritiwa menghapal merupakan proses mental untuk mencanamkan dan menyimpan kesan-kesan, yang nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali ke alam sadar.
Ciri khas belajar/kemampuan yang diperoleh adalah reproduksi secara harafiah dan adanya skema kognitif. Adanya skema kognitif berarti, dalam ingatan orang tersimpan secara baik semacam program informasi yang diputar kembali pada waktu dibutuhkan, seperti yang terjadi pada komputer.
d. Belajar Teoritis.
Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan probem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah. Maka,
diciptakan konsep-konsep relasi-relasi di antara konsep-konsep struktur-sruktur hubungan.
e. Belajar Konsep.
Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap obyek-obyek yang dihadapi, sehingga obyek-obyek ditempatkan dalam golongan tertentu. obyek-obyek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu suku kata (lambang bahasa).
Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan : konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada obyek-obyek dalam lingkungan fisik. Konsep ini mewakili benda tertentu, seperti meja, kursi, tumbuhan, rumah, mobil, dan sebagainya. Konsep didefinisikan dalam konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan. Hanya dirasakan adanya melalui proses mental. Misalnya, saudara sepupu, saudara kandung, paman, bibi, belajar, perkawinan, dan sebagainya.
f. Belajar Kaidah
Belajar kaidah termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual (intelectual skill), yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu kesatuan yang mempresentasikan suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata,
“besi dipanaskan memuai”. Karena seseorang telah menguasai
konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan”, dan “memuai”, dan
dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu (besi, dipanaskan, dan memuai), maka dia dengan
yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu presentasi (gambaran) mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa kaidah merupakan suatu keteraturan yang berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, belajar kaidah sangat penting bagi kehidupan seseorang sebagai salah satu upaya penguasaan ilmu selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi (universitas).
g. Belajar Berfikir
Dalam belajar ini, orang diharapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan. Masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.
Belajar berpikir sangat diperlukan selama belajar di sekolah atau perguruan tinggi. Masalah dalam belajar terkadang ada yang harus dipecahkan seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Pemecahan atas masalah itulah yang memerlukan pemikiran. Berpikir itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk meletakan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Ketika berpikir dilakukan, maka di sana terjadi suatu proses. Oleh karena itulah, John Dewey memandang berpikir sebagai proses. Dalam proses itu tekanannya terletak pada penyusunan kembali kecakapan kognitif (yang bersifat pengetahuan).
Dalam konteks ini ada istilah berpikir konvergen dan berpikir hiterogen dalah berpikir menuju satu arah yang benar atau satu jawaban yang paling tepat atau satu pemecahan dari suatu masalah.
h. Belajar Keterampilan Motorik
Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Keterampilan semacam ini
disebut “motorik”, karena otot, urat dan persendian terlibat secara langsung, sehingga keterampilan sungguh-sungguh berakar dalam kejasmanian. Ciri khas dari keterampilan motorik adalah
“otomatisme”. Yaitu rangkaian gerak-gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan supel, tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa diikuti urutan gerak geri tertentu. Misalnya, seorang supir sudah menguasai keterampilan mengendarai kendaraannya sedemikian rupa, sehingga konsentrasinya tidak seluruhnya termakan oleh penanganan peralatan lalu lintas.
i. Belajar Estetis
Bentuk belajaar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang kesenian. Belajar ini mencakup fakta, seperti nama Mozart sebagai pengubah musik klasik; konsep-konsep, seperti ritme, tema, dan komposisi; relasi-relasi, seperti hubungan antara bentuk dan sisi; stuktur-stuktur, seperti sistematika warna dan aliran-aliran dalam
seni lukis; metode-metode, seperti menilai mutu dan origanitas suatu karya seni.