BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Plastik
2.2.4 Jenis-Jenis Kantong Plastik
Kantong Plastik (Poly bag) tersedia dalam komposisi bahan baku, yaitu sebagai berikut :
1. Kantong Plastik PP (Polypropylene)
Merupakan plastik yang paling umum digunakan masyarakat. Kantong plastik PP berwarna jernih (Clear/Transparant) dan banyak digunakan untuk
17
mengemas produk barang konsumsi (consumer goods) yang hendak ditampilkan warna atau bentuk, seperti makanan ringan, pakaian, alas kaki, dan lain-lain.
Gambar 2.1 Jenis Kantong Plastik PP (Polypropylene) 2. LLDPE (Low Linear Density Poly Ethylene)
- Kantong Plastik PE dengan struktur kimiawi LDPE (Low Density Poly Ethylene) merupakan pilihan utama para pelaku industri yang membutuhkan kemasan yang memiliki daya tahan tinggi dan elastisitas yang kuat.
- Struktur kepekatan yang rendah (Low Density) pada bahan PE ini menyebabkan plastik memiliki daya lentur yang kuat sehingga dapat menerima daya tarik atau regang besar saat digunakan, sehingga cocok untuk kemasan industri alat-alat berat (seperti komponen suku cadang, otomotif, elektronik, mebel) maupun industri yang menggunakan cairan (misalnya bahan kimia, perikanan dan lain lain).
- Tipe plastik ini umumnya tersedia di pasaran dalam beragam ukuran dengan menggunakan bahan Low-Linear Density PolyEthylene (LLDPE), di mana
18
tampilan fisik sedikit kurang jernih atau mengkilap dibandingkan kualitas LDPE yang sesungguhnya.
- Bahan LLDPE ini pada umumnya dipilih produsen kantung plastik atas dasar pertimbangan harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat namun dengan kualitas daya tahan yang tetap terjaga.
Gambar 2.2 Jenis Kantong Plastik LLDPE (Low Linear Density PolyEthylene) 3. HDPE (High Density Poly Ethylene)
Kantong Plastik HD yang memiliki struktur kimiawi HDPE (High Density Poly Ethylene) merupakan jenis kantong plastik yang memiliki daya tahan terhadap panas tinggi. Kemampuan ini disebabkan karena struktur kepekatan (high density) pada molekul polimer plastik tersebut.
Kantong Plastik HD umumnya terbagi tiga kategori, yakni : a. Kantong HD Polos (Polybag)
Kantong Plastik HD polos (polybag) lazimnya aman digunakan sebagai kemasan untuk makanan (food grade). Kemasan ini juga dapat digunakan sebagai wadah menampung kuah panas dan dikenal dengan nama Plastik
19
HD Anti Panas. Kantong Plastik HD juga tersedia untuk buah dengan motif bintik-bintik (perforated HD bags) yang dapat berfungsi sebagai kemasan buah. Plastik ini juga sering digunakan untuk wadah penyimpanan hasil fotokopi.
Gambar 2.3 Jenis Kantong Plastik HD Polos (Polybag) b. Kantong HD kresek (shopping bag)
Kantong kresek umumnya memiliki ketebalan 0.04 mm dengan tiga varian model, di antaranya yaitu :
1) Model Singlet
Ada dua kategori dalam varian ini, yakni :
Transparan / Polos
Gambar 2.4 Jenis Kantong Plastik HD Kresek Model Singlet Transparan
20
Berwarna (Hitam, Merah, Putih)
Gambar 2.5 Jenis Kantong Plastik HD Kresek Model Singlet Berwarna 2) Model Soft Handle
Gambar 2.6 Jenis Kantong Plastik HD Kresek Model Soft Handle 3) Model Pond Oval
Gambar 2.7 Jenis Kantong Plastik HD Kresek Model Pond Oval
21
c. Kantong HD Sampah (Disposal Bag)
Pada umumnya, kantong Plastik HD Hitam ini diperuntukkan sebagai wadah penampungan sampah dan memiliki ketebalan mulai 0.05 mm hingga 0.08 mm.
Gambar 2.8 Jenis Kantong Plastik HD Sampah 4. OPP (Over Heated Poly Propylene)
-
Kantong Plastik OPP dikenal sebagai plastik kaca karena kejernihannya yang seperti kaca.-
Berguna untuk mengemas produk-produk yang hendak ditampilkan bentuk dan warnanya sehingga menarik.-
Kemasan ini sering dijumpai dalam wadah pembungkus roti, pakaian kemeja, kartu undangan, boneka, piringan cakram (CD), alat tulis, dan produk-produk barang jadi yang hendak ditampilkan lebih menawan.22
Gambar 2.8 Jenis Kantong Plastik OPP (Over Heated Poly Propylene) 2.2.5 Sifat Thermal Bahan Plastik
Pengetahuan sifat thermal dari berbagai jenis plastik sangat penting dalam proses pembuatan dan daur ulang plastik. Sifat-sifat thermal, yaitu :
1. Titik lebur (Tm)
Temperatur lebur adalah temperatur di mana plastik mulai melunak dan berubah menjadi cair.
2. Temperatur transisi (Tg)
Temperatur transisi adalah temperatur dimana plastik mengalami perengganan struktur sehingga terjadi perubahan dari kondisi kaku menjadi lebih fleksibel.
Di atas titik lebur, plastik mengalami pembesaran volume sehingga molekul bergerak lebih bebas yang ditandai dengan peningkatan kelenturannya.
3. Temperatur dekomposisi
Temperatur dekomposisi merupakan batasan dari proses pencairan. Jika suhu dinaikkan di atas temperatur lebur, plastik akan mudah mengalir dan struktur akan mengalami dekomposisi. Dekomposisi terjadi karena energi thermal melampaui energi yang mengikat rantai molekul. Secara umum, polimer akan mengalami dekomposisi pada suhu di atas 1,5 kali dari temperatur transisinya (Budiyantoro, 2010).
23
Data sifat thermal yang penting pada proses daur ulang plastik bisa dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.2 Data Temperatur Transisi dan Temperatur Lebur Plastik
Jenis Bahan Tm (ºC) Tg (˚C) Temperatur Kerja Maks (ºC)
2.2.6 Plastik sebagai Kemasan
Menurut Syarief yang dikutip oleh Hesty Herlina (2009), bahan pembuat plastik dari minyak dan gas sebagai sumber alami, dalam perkembangannya digantikan oleh bahan-bahan sintetis sehingga dapat diperoleh sifat-sifat plastik yang diinginkan dengan cara kapolimerisasi, laminasi, dan ekstruksi. Komponen utama plastik sebelum membentuk polimer adalah monomer, yakni rantai yang paling pendek. Polimer merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk rantai yang sangat panjang. Bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama dalam suatu pola acak, menyerupai tumpukan jerami maka disebut amorp, jika teratur hampir sejajar disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar.
24
Menurut Nurminah dan Julianti (2006), klasifikasi plastik menurut struktur kimianya terbagi atas dua macam yaitu :
1. Linear, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus (linear) maka akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya dapat balik (reversible) kepada sifatnya, yakni kembali mengeras bila didinginkan.
2. Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, maka akan terbentuk plastik thermosetting dengan sifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversible). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali.
Proses polimerisasi yang menghasilkan polimer berantai lurus mempunyai tingkat polimerisasi yang rendah dan kerangka dasar yang mengikat antar atom karbon dan ikatan antar rantai lebih besar daripada rantai hidrogen. Bahan yang dihasilkan dengan tingkat polimerisasi rendah bersifat kaku dan keras. Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebabkan oleh polimerisasi dengan menggunakan bahan mentah monomer yang tersusun sambung-menyambung menjadi satu dalam bentuk polimer.
Kemasan plastik saat ini mendominasi industri makanan di Indonesia, menggeser penggunaan kemasan logam dan gelas. Hal ini disebabkan karena kelebihan dari kemasan plastik yaitu ringan, fleksibel, multiguna, kuat, tidak bereaksi, tidak karatan dan bersifat thermoplastic (heat seal), dapat diberi warna, dan harganya yang murah. Kelemahan dari plastik karena adanya zat monomer
25
dan molekul kecil dari plastik yang mungkin dapat bermigrasi ke dalam bahan pangan yang dikemas (Nurminah dan Julianti, 2006).
Menurut Crompton yang dikutip oleh HH Ompusunggu (2010), plastik yang berisi beberapa aditif diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat fisiko kimia plastik itu sendiri. Bahan aditif yang sengaja ditambahkan itu disebut komponen non plastik, di antaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap cahaya ultraviolet, penstabil panas, penurun viskositas, penyerap asam, pengurai peroksida, pelumas, dan peliat.
Plastik masih sering sulit dibedakan dengan resin karena perbedaannya tidak terlalu jelas. Secara alami, resin dapat berasal dari tanaman, misalnya balsam, damar, terpentin, oleoresin, dan sebagainya. Pada saat ini, resin tiruan sudah dapat diproduksi dan dikenal sebagi resin sintetik, contohnya Selofan, Akrilik Seluloid, Formika, Nylon, Fenol Formaldehida dan sebagainya (Winarno, 1994).
Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebut polimerisasi dengan menggunakan bahan mentah monomer, yang tersusun sambung-menyambung menjadi satu dalam bentuk polimer. Pada plastik juga terkandung beberapa bahan aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat fisika kimia plastik. Bahan aditif yang ditambahkan tersebut disebut komponen nonplastik yang berupa senyawa anorganik atau organik yang memiliki berat molekul rendah. Bahan aditif dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan,
26
penyerap sinar UV(Ultra Violet), anti lekat, dan masih banyak lagi (Winarno, 1994).
2.2.7 Cara Mengenal Jenis Plastik pada Kemasan
1. Periksa nomor kode daur ulang, biasanya diletakkan pada bagian bawah botol, dalam tutup, atau dicetak pada label untuk kemasan fleksibel
2. Periksa keras atau lunak: PP ditekan akan balik kebentuk semula; HDPE ditekan tidak kembali; LDPE lebih lunak dari HDPE; PET keras; PC lebih keras; PVC kurang keras
3. Periksa Permukaaan mengkilap atau tidak: PC, PET dan PVC mengkilat;
PP mengkilat tapi tidak keras; HDPE dan LDPE tidak mengkilat
4. Tes bakar : HDPE dan LDPE akan berbau wax; PC berbau phenol; PVC berbau chlorine; PET berbau buah (Federasi Pengemasan Indonesia, 2010).
2.2.8 Dampak Penggunaan Plastik a. Dampak terhadap Kesehatan
Menurut Koswara (2006), zat-zat penyusun plastik yang berbahaya bagi kesehatan, yaitu:
1. Monomer Vinil Klorida
Monomer ini bereaksi dengan guanin dan sitosin pada DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) dan mengalami metabolisme dalam tubuh, sehingga memiliki potensi yang cukup tinggi untuk menimbulkan tumor dan kanker pada manusia, terutama kanker hati.
27
2. Monomer Vinil Sianida (Akrilonitril)
Monomer ini bereaksi dengan adenin pada DNA dan memiliki potensi yang cukup tinggi untuk menimbulkan penyakit kanker. Dampak akrilonitril sudah terbukti pada hewan percobaan, yaitu menimbulkan cacat lahir pada tikus yang memakan sampah plastik tersebut.
3. Monomer Vinil Asetat
Monomer ini telah terbukti menimbulkan kanker tiroid, uterus, dan hati (liver) pada hewan.
4. Monomer lainnya
Yaitu seperti akrilat, stirena, metakriat, dan senyawa turunannya seperti vinil asetat, polivinil klorida, kaprolaktam, formaldehida, kresol, isosianat organik, heksa metilandiamin, melamin, epodilokkloridin, bispenol dan akrilonitril yang dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan terutama mulut, tenggorokan, dan lambung.
Selain monomer, zat aditif yang berbahaya bagi kesehatan di antaranya adalah :
1. Dibutil ptalat (DBP) dan Dioktil ptalat (DOP)
Merupakan zat aditif yang popular digunakan dalam proses plastisasi, namun dibalik kepopularan itu ternyata DBP dan DOP menyimpan suatu zat kimia yaitu zat benzen. Benzen termasuk larutan kimia yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan. Benzen juga tidak dapat dikeluarkan melalui feses atau urin. Akibatnya, zat ini semakin lama semakin
28
menumpuk dan berbalut lemak. Hal tersebut dapat memicu kanker pada darah atau leukemia (Koswara, 2006).
2. Timbal (Pb)
Merupakan racun bagi ginjal dan kadmium (Cd) yang merupakan pemicu kanker dan racun bagi ginjal dimana keduanya merupakan bahan aditif untuk mencegah kerusakan pada plastik.
3. Senyawa nitrosamine
Senyawa yang timbul akibat reaksi antara komponen dalam plastik yang bersifat karsinogenik (Winarno, 1994).
4. Ester ptalat
Yaitu digunakan untuk melenturkan, dapat menggangu sistem endokrin.
5. Bisphenol A (BPA) yang terdapat pada plastik polikarbonat (PC)
Merupakan zat aditif yang dapat merangsang pertumbuhan sel kanker dan memperbesar risiko pada kehamilan.
6. Bahan aditif senyawa Polychlorinated Biphenyl (PCB) yang ditambahkan sebagai bahan untuk membuat plastik tahan panas.
PCB berfungsi sebagai satic agent dan menentukan kualitas plastik. Plastik tahan panas sangat dimungkinkan mengandung PCB lebih banyak. Tanda dan gejala keracunan PCB ini berupa pigmentasi pada kulit dan benjolan-benjolan, gangguan pencernaan, serta tangan, dan kaki lemas.
Pada wanita hamil, PCB dapat mengakibatkan kematian bayi dalam kandungan serta bayi lahir cacat. Pada keracunan menahun, PCB dapat menyebabkan kematian jaringan hati dan kanker hati.
29
7. Pigmen warna
Pigmen warna pada kantong plastik kresek yang dapat bermigrasi ke dalam makanan. Pada kantong plastik yang berwarna-warni sering tidak diketahui bahan pewarna yang digunakan. Begitu juga dengan plastik yang tidak berwarna, perlu waspada terhadap penggunaannya. Semakin jernih, bening, dan bersih plastik tersebut, maka semakin banyak terdapat kandungan zat kimia yang berbahaya dan tidak aman bagi kesehatan manusia (Koswara, 2006).
8. Bahan pelembut lain adalah DEHA (Diethylhydroxylamine)
DEHA mempunyai aktivitas yang mirip dengan hormon estrogen (hormon kewanitaan pada manusia). Berdasarkan hasil uji pada hewan, DEHA dapat merusak sistem peranakan dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanker hati. Untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi jika setiap hari kita terkontaminasi oleh DEHA, maka sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut (Koswara, 2006).
b. Dampak terhadap Lingkungan
Beberapa dampak plastik terhadap lingkungan adalah (Chandra, 2009) : 1. Sampah kantong plastik yang menumpuk dapat mengganggu estetika 2. Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah 3. Menjadi sarang vektor seperti kecoak di tempat pembuangan
4. Tercemarnya tanah, air tanah, dan makhluk yang hidup di bawah tanah
30
5. Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan mudah diterbangkan angin hingga ke laut
6. Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing
7. Polychlorinated Biphenyl (PCB) yang tidak dapat terurai termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan
8. Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu menyuburkan tanah
9. Kantong plastik juga menyebabkan banjir karena menyumbat saluran air dan merusak turbin waduk sebagai pengendali badan air
10. Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik
Menurut Chandra (2009), sampah plastik yang dibuang ke lingkungan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai oleh mikroorganisme sehingga akan menumpuk dan menjadi sarang penyakit dan mengganggu ekosistem sekitar. Sifat plastik yang sulit diurai menjadikan sampah plastik sering dibakar. Pembakaran sampah yang tidak menggunakan teknologi tinggi dapat berakibat pada pencemaran lingkungan. Hal ini dapat menghasilkan senyawa kimia berbahaya dan beracun yang dikenal dengan nama dioksin.
Jika dioksin berada di udara, maka akan terhirup oleh manusia dan masuk ke dalam sistem pernafasan. Risiko bagi manusia yang paling besar adalah dioksin akan mengendap dalam tubuh manusia walaupun dalam satuan takaran kecil.
31
Dioksin menimbulkan kanker, bertindak sebagai pengacau hormon, dan jika dalam keadaan menyusui maka akan diteruskan dari ibu ke bayi selama menyusui dan mempengaruhi sistem reproduksi. Selain mengakibatkan penyakit tersebut, dioksin juga mempengaruhi kemampuan belajar anak yang sangat peka terhadap pencemaran udara (Chandra, 2009).
2.2.9 Daur Ulang Sampah Plastik
Daur ulang merupakan proses pengolahan kembali barang-barang yang dianggap sudah tidak mempunyai nilai ekonomis lagi, baik melalui proses fisik maupun kimiawi atau kedua-duanya sehingga diperoleh produk yang dapat dimanfaatkan atau diperjualbelikan lagi.
Daur ulang (recycle) sampah plastik dapat dibedakan menjadi 4 cara, yaitu :
1. Daur ulang primer
Yaitu daur ulang limbah plastik menjadi produk yang memiliki kualitas yang hampir setara dengan produk aslinya. Daur ulang cara ini dapat dilakukan pada sampah plastik yang bersih, tidak terkontaminasi dengan material lain, dan terdiri dari satu jenis plastik saja.
2. Daur ulang sekunder
Daur ulang sekunder adalah daur ulang yang menghasilkan produk yang sejenis dengan produk aslinya tetapi dengan kualitas di bawahnya.
3. Daur ulang tersier
Daur ulang tersier adalah daur ulang sampah plastik menjadi bahan kimia atau menjadi bahan bakar.
32
4. Daur ulang quarter
Proses untuk mendapatkan energi yang terkandung di dalam sampah plastik (Kumar dkk., 2011).
2.2.10 Tips dalam Penggunaan Plastik
Tips dalam penggunaan plastik, yaitu sebagai berikut :
1. Gunakan microwave safe plastics, apabila memanaskan makanan pada microwave oven
2. Bungkus terlebih dahulu makanan dengan daun pisang atau kertas sebelum dikemas dengan plastik ketika akan dipanaskan di microwave oven
3. Cegah menggunakan kemasan plastik untuk mengemas makanan berminyak atau berlemak.
4. Hindari penggunaan piring dan alat makan berbahan plastik untuk masakan.
Gunakan alat makan berbahan stainless steel, kaca, keramik, dan kayu.
2.3 Plastik Berbayar
2.3.1 Kebijakan mengenai Plastik Berbayar
Beberapa kota di Indonesia menerapkan program plastik belanja berbayar sejak 21 Februari 2016. Kebijakan itu dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar pada ritel-ritel modern. Di dalam aturan itu, disepakati bahwa kantong plastik berbayar seharga Rp 200,- sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kebijakan plastik berbayar ini masih melalui tahap sosialisasi di 23 kabupaten kota dan berlaku hingga 31 Mei 2016 (Forum Kompas, 2016).
33
Pada Surat Edaran Nomor 1230/2016, menyebutkan bahwa ketentuan plastik berbayar ini menindaklanjuti hasil pertemuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Asosiasi Pengusaha Ritel Seluruh Indonesia (APRINDO). Beberapa ketentuan dalam SE 1230/2016 antara lain :
1. Pengusaha ritel tidak lagi menyediakan kantong plastik secara gratis kepada konsumen. Apabila konsumen masih membutuhkan kantong plastik, maka konsumen diwajibkan membeli kantong plastik dari gerai ritel.;
2. Pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO menyepakati harga jual kantong plastik selama uji coba penerapan kantong plastik berbayar sebesar Rp per lembar sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN);
3. Harga kantong plastik akan dievaluasi oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah bersama APRINDO setelah uji coba berjalan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan;
4. Jenis kantong plastik yang disediakan oleh pengusaha ritel, pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO menyepakati agar spesifikasi kantong plastik dipilih yang menimbulkan dampak lingkungan paling minimal dan harus memenuhi standar nasional yang dikeluarkan oleh pemerintah atau lembaga independen yang ditugaskan untuk itu;
5. APRINDO menyepakati bahwa mereka berkomitmen mendukung kegiatan pemberian insentif kepada konsumen, pengelolaan sampah, dan pengelolaan
34
lingkungan hidup melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan mekanisme yang akan diatur oleh masing-masing pengusaha ritel.
6. Ketentuan ini juga berlaku untuk usaha ritel modern yang bukan anggota APRINDO.
Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan surat edaran kedua mengenai kebijakan plastik berbayar, yaitu SE.6/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 yang terbit pada 8 Juni 2016. Dalam surat edaran kedua, kebijakan plastik berbayar akan tetap dilanjutkan sampai akhir tahun 2016 serta diterapkan di seluruh wilayah Indonesia (Hukum Online, 2016).
2.3.2 Upaya Pengurangan Sampah dengan Plastik Berbayar
Kebijakan kantong plastik berbayar pada dasarnya sebagai upaya untuk mengurangi dan membatasi timbulan sampah, terutama sampah plastik. Upaya pengurangan sampah plastik dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Penjelasan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pembatasan timbulan sampah adalah upaya meminimalisasi timbulan sampah yang dilakukan sejak sebelum dihasilkannya suatu produk dan/atau kemasan produk sampai dengan saat berakhirnya kegunaan produk dan/atau kemasan produk. Salah satu contoh
35
implementasi pembatasan timbulan adalah dengan membatasi penggunaan kantongplastik.
2.4 Ritel
Kata ritel berasal dari bahasa Perancis, ritellier, yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis.
Ritel juga merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga (Utami, 2006).
2.4.1 Pengertian Ritel
Ritel adalah satu rangkaian aktivitas bisnis untuk menambah nilai guna barang dan jasa yang dijual kepada konsumen untuk konsumsi pribadi atau rumah tangga. Jadi konsumen yang menjadi sasaran dari retailing adalah konsumen akhir yang membeli produk untuk dikonsumsi sendiri (Levy dan Weitz, 2004).
Menurut Berman dan Evans (2006), ritel merupakan suatu usaha bisnis yang berusaha memasarkan barang dan jasa kepada konsumen akhir yang menggunakannnya untuk keperluan pribadi dan rumah tangga. Produk yang dijual dalam usaha ritel adalah barang, jasa, maupun gabungan dari keduanya.
Menurut Kotler yang dikutip oleh Isnanudin (2014), ritel merupakan penjualan eceran yang meliputi semua aktivitas yang melibatkan penjualan barang
36
atau jasa pada konsumen akhir untuk dipergunakan yang bersifat pribadi, bukan bisnis.
Berdasarkan definisi-definisi mengenai ritel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ritel adalah segala sesuatu yang mencakup kegiatan penjualan barang dan atau jasa kepada konsumen akhir untuk penggunaan yang sifatnya kebutuhan pribadi, keluarga, atau rumah tangga, bukan untuk bisnis.
2.4.2 Pengertian Ritel Modern dan Ritel Tradisional
Menurut Perpres Nomor 112 Tahun 2007 pasal 1 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, ritel modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket atau grosir yang berbentuk perkulakan. Sedangkan ritel tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, termasuk kerja sama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat, atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil, dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.
2.4.3 Perbedaan Karakteristik Ritel Tradisional dan Ritel Modern
Perlu diketahui, perbedaan karakteristik antara ritel tradisional dan ritel modern. Perbedaan karakteristik tersebut dapat dilihat pada tabel 2.3 di bawah ini.
37
Tabel 2.3 Perbedaan Karakteristik Ritel Tradisional dan Ritel Modern
(Sumber: CESS, 1998)
No. Aspek Ritel Tradisional Ritel Modern
1 Histori Evolusi panjang Fenomena baru
2 Fisik Kurang baik, sebagian baik Baik dan mewah 3 Pemilikan/
bawah Umumnya golongan
menengah ke atas 6 Metode
Pembayaran Ciri dilayani, tawar
menawar Ada ciri swalayan,
dengan harga pas 7 Status tanah Tanah negara, sedikit
dengan harga pas 7 Status tanah Tanah negara, sedikit