• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR LAHIRNYA KETENTUAN TENTANG

A. Sejarah Lahirnya Perserikatan Perdata

2. Jenis-Jenis Perserikatan Perdata

1) Perserikatan Perdata Umum (Pasal 1622 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) Perserikatan Perdata umum meliputi apa saja yang akan diperoleh para sekutu sebagai hasil usaha mereka selama perserikatan berdiri. Perserikatan jenis ini usahanya bisa bermacam-macam (tidak terbatas) yang penting inbrengnya ditentukan secara jelas/terperinci.

2) Perserikatan Perdata Khusus (Pasal 1623 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) Perserikatan Perdata khusus (bijzondere maatschap) adalah perserikatan yang gerak usahanya ditentukan secara khusus, bisa hanya mengenai barang-barang tertentu saja, atau pemakaiannya, atau hasil yang akan didapat dari barang-barang itu, atau mengenai suatu usaha tertentu atau penyelenggaraan suatu perusahaan atau pekerjaan tetap. Jadi, penentuannya ditekankan pada jenis usaha yang dikelola oleh perserikatan baik dalam bentuk umum ataupun khusus, bukan pada inbrengnya.

Mengenaiinbreng, baik pada perserikatan umum maupun perserikatan khusus harus ditentukan secara jelas/terperinci. Kedua perserikatan ini dibolehkan. Yang tidak dibolehkan adalah perserikatan yang sangat umum yang inbrengnya tidak diatur secara terperinci seperti yang disinggung oleh Pasal 1621 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Perserikatan termasuk salah satu jenis permitraan (partnership) yang dikenal dalam hukum Perusahaan di Indonesia disamping bentuk lainnya seperti

Perserikatan merupakan bentuk usaha yang biasa dipergunakan oleh para Konsultan, Ahli Hukum, Dokter, Arsitek dan profesi-profesi sejenis lainnya.

Perserikatan perdata merupakan bentuk permitraan yang paling sederhana karena:36

a. Dalam hal modal, tidak ada ketentuan tentang besarnya modal, seperti yang berlaku dalam Perseroan Terbatas (PT) yang menetapkan besar modal minimal ;

b. Dalam rangka memasukkan sesuatu dalam persekutuan atau maatschap, selain berbentuk uang atau barang, boleh menyumbangkan tenaga saja;

c. Lapangan kerjanya tidak dibatasi, juga bisa dalam bidang perdagangan;

d. Tidak ada pengumuman kepada pihak ketiga seperti yang dilakukan dalam Firma

B. Perserikatan Perdata sebagai Hal Baru dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

1. Perserikatan Perdata Notaris

Setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang diundangkan pada tanggal 6 Oktober 2004, kebijakan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia di bidang kenotariatan mengalami perubahan. Kebijakan kenotariatan yang sebelumnya didasarkan pada Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M-01.HT.03.01 Tahun 2003 tentang Kenotarisan, telah diubah dan disempurnakan dengan Peraturan Menteri Hukum dan

Hak Asasi Manusia Nomor M.01.HT.03.01 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan dan Pemberhentian Notaris.

Salah satu kebijakan yang baru dikeluarkan bagi Notaris adalah sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 20 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang menetapkan bahwa Notaris dapat menjalankan jabatannya dalam bentuk perserikatan perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian dan ketidakberpihakan dalam menjalankan jabatannya. Selanjutnya disebutkan bahwa bentuk perserikatan perdata yang akan digunakan diatur oleh para Notaris berdasarkan peraturan perundang-undangan, sedangkan ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dalam menjalankan jabatan Notaris diatur dalam Peraturan Menteri.

Sebelum ada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004, Notaris tunduk pada Stbl.Nomor 3 Tahun 1860 tentang Peraturan Jabatan Notaris. Pada Pasal 12 Peraturan Jabatan Notaris terdapat larangan bagi notaris untuk mengadakan perserikatan. Adapun pertimbangan untuk tidak memperkenankan para notaris untuk mengadakan perserikatan adalah karena perserikatan tidak menguntungkan bagi masyarakat umum. Dikatakan tidak menguntungkan karena perserikatan akan mengurangi persaingan dan pilihan masyarakat terhadap notaris yang dikehendakinya. Selain itu dikhawatirkan perserikatan semacam ini akan menyebabkan kurang terjaminnya kewajiban merahasiakan yang dibebankan kepada para notaris.37

Saat ini jumlah notaris sangatlah banyak (sampai dengan akhir Juni 2011 jumlah notaris di Indonesia tercatat sudah mencapai angka 12.350 orang)38, sehingga diperlukan pemikiran baru untuk mengatasi membludaknya jumlah notaris yang ada.

Berdasarkan perintah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tersebut, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berperan sebagai regulator merancang Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tentang Persyaratan Menjalankan Jabatan Notaris dalam Bentuk Perserikatan Perdata.

Rancangan Peraturan Menteri tersebut disusun oleh suatu tim yang terdiri dari unsur dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang terdiri dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum dan Direktorat Jenderal Peraturan Perundang- undangan, unsur ahli/akademisi, organisasi Notaris, dan Majelis Pengawas Notaris. Saat ini Tim tersebut sudah menyelesaikan Peraturan Menteri tentang Persyaratan Menjalankan Jabatan Notaris dalam Bentuk Perserikatan Perdata dan Peraturan Menteri ini sudah disyahkan oleh Patrialis Akbar yang pada saat itu menjabat selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Peraturan Menteri tentang Persyaratan Menjalankan Jabatan Notaris dalam Bentuk Perserikatan Perdata tersebut diundangkan di Jakarta, tepatnya pada tanggal 08 Pebruari 2010 (selanjutnya akan disebut “Peraturan Menteri”) memuat ketentuan sebagai berikut :

38

Abdul Bari Azed, “Kebijakan Pemerintah di Bidang Kenotariatan”,

Pengertian-pengertian atau definisi-definisi yang terdapat pada ketentuan umum Peraturan Menteri tersebut ialah;

Menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri, Perserikatan Perdata Notaris adalah: “Perjanjian kerjasama para Notaris dalam menjalankan jabatan masing-masing sebagai Notaris dengan memasukkan semua keperluan untuk mendirikan dan mengurus serta bergabung dalam satu kantor bersama.

Menurut ketentuan Pasal 2 Peraturan Menteri Tujuan Perserikatan meliputi : a. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di bidang kenotariatan ;

b. meningkatkan pengetahuan dan keahlian teman serikat ; dan c. efisiensi biaya pengurusan kantor.

Dalam hal yang menjadi tujuan dalam pasal 2 huruf b pendirian perserikatan perdata tersebut, yakni ” meningkatkan pengetahuan dan keahlian teman serikat ” dikaji berdasarkan prinsip kemandirian maka hal tersebut bertolak belakang dengan apa yang sudah menjadi kewajiban seorang notaris, terlebih-lebih calon notaris tersebut telah sudah melewati masa magang selama 1 tahun, seharusnya calon notaris harus sudah memiliki bekal yang cukup dan telah matang dalam pengetahuan yang seharusnya sudah dimilikinya pada saat proses perkuliahan Magister Kenotariatan dan masa magang selama 1 tahun, bukan meningkatkan pengetahuan dan keahlian pada saat telah berserikat, tujuan tersebut seolah-olah mengizinkan calon notaris yang belum matang dalam berkarir untuk menjadi seorang notaris dan melayani masyarakat, hal tersebut berindikasi terhadap kesalahan-kesalahan yang mungkin akan dibuat dalam aktanya dan minimnya pengetahuan untuk memberikan sosialisasi

hukum kepada masyarakat sehingga akan membuat citra buruk bagi dunia kenotariatan.

Menurut Pasal 1633 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, cara membagi keuntungan dan kerugian itu sebaiknya diatur dalam perjanjian mendirikan perserikatan perdata, dengan cara tidak boleh memberikan seluruh keuntungan kepada seorang sekutu saja (Pasal 1635 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), sebab ini melanggar “mengejar keuntungan bersama”. Tetapi sebaliknya undang- undang memperbolehkan pembebanan seluruh kerugian kepada seorang sekutu saja (Pasal 1635 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Kalau dalam perjanjian tidak ada aturan tentang cara membagi keuntungan dan kerugian, maka berlakulah Pasal 1633 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menetapkan bahwa pembagian itu harus dilakukan menurut asas “keseimbangan pemasukan”, dengan pengertian bahwa pemasukan yang berupa tenaga kerja hanya dipersamakan dengan pemasukan uang atau benda yang terkecil (Pasal 1633 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Sementara dalam dunia kenotariatan, tidak mengenal cara pembagian keuntungan menurut ketentuan sebagaimana termaktub diatas. Sebab, dikarenakan Jabatan Notaris merupakan Profesi Luhur yang mempunyai kewenangan yang sama, sehingga menempatkan para notaris dalam posisi sederajat. Tentunya para notaris akan mendapatkan Honorarium langsung dari kliennya masing-masing. Dengan demikian, penerapan perserikatan perdata Notaris tidak lebih kepada kantor bersama.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal suatu Undang-Undang, yaitu:

1. Tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. 2. Tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh.

3. Tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh.

4. Tidak mengulangi uraian kata, istilah, atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum.

Akan tetapi, pembentuk Undang-Undang Jabatan Notaris telah membuat suatu aturan yang bertentangan antara batang tubuh dan penjelasan. Dimana dalam batang tubuh Pasal 20 ayat (1) menyatakan perserikatan perdata, yang semestinya harus mengikuti aturan yang ada dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, tapi dalam penjelasannya mengatakan maksud dari perserikatan perdata tersebut hanya berupa kantor bersama. Tentunya juga telah terjadi penambahan norma baru yang dimana antara batang tubuh dan penjelasan mempunyai konsep hukum yang berbeda.

Dengan demikian, penjelasan semestinya sebagai sarana untuk memperjelas norma batang tubuh, tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan.

Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah melalui pengurus pusatnya Maferdy Yulius, sebagai ketua tim revisi Undang-Undang Jabatan Notaris dan sekretarisnya Otty Hari Chandra Ubayani menyatakan bahwa kami ingin agar Undang-Undang Jabatan Notaris bisa mencegah monopoli notaris agar tercipta keadilan dan

pemerataan rezeki. Coba lihat pasal 20 yang membolehkan notaris membuat perserikatan perdata sehingga bisa melakukan semacam monopoli terhadap klien. Notaris-notaris yang sudah pensiun bisa saja tetap menguasai klien-kilennya melalui perserikatan perdata. Mereka yang sudah pensiun itu akan mewariskan kliennya kepada orang-orangnya atau keluarganya, sehingga nanti terjadi semacam "dinasti notaris". Akibatnya notaris yang lain tidak kebagian rezeki. Pasal 20 Undang- Undang Jabatan Notaris antara lain menyatakan bahwa notaris dalam menjalankan jabatannya (dalam bekerja) boleh membuat perserikatan perdata atau perkumpulan. Pasal 20 ini telah diusulkan Ikatan Notaris Indonesia untuk dikuatkan di dalam Rancangan perubahan Undang-Undang Jabatan Notaris. Kami tidak setuju karena akan merugikan notaris lain. Misalnya ada notaris yang sudah masuk waktu pensiun dan ingin tetap menguasai "ladang rezeki"nya, maka ia akan membuat perkumpulan itu dengan notaris lain yang belum pensiun. Bisa saja Ia membuat perkumpulan notaris dengan anaknya, istrinya, keponakannya atau mantan assistennya. Dengan demikian, boleh dibilang, pasal ini akan membuat notaris yang seperti ini berkuasa sampai akhir hayatnya dengan menciptakan oligarki kepemimpinan. Sementara itu notaris lainnya gigit jari. Masalah-masalah inilah yang mestinya jadi fokus perhatian dalam revisi Undang-Undang Jabatan Notaris. Di dalam agenda Rancangan perubahan Undang-Undang Jabatan Notaris yang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat dan usulan-usulan Ikatan Notaris Indonesia, kami tidak melihat perhatian terhadap masalah kelangsungan hajat hidup para notaris yang seharusnya dilindungi. Kami tidak melihat ada upaya melindungi notaris dari

monopoli atau oligarki notaris yang ingin menguasai sendiri "ladang pekerjaan" yang seharusnya untuk orang banyak sebagaimana yang diakomodir pada pasal 20 Undang-Undang Jabatan Notaris.39

Dalam hal lain yang menjadi tujuan Perserikatan tersebut sedikit menimbulkan polemik tersendiri, sebagaimana yang diungkapkan Herlin Budiono40: “Bahwa kehadiran asosiasi notaris di Indonesia adalah suatu dilema, disatu pihak ia ingin meningkatkan kualitas pelayanan notaris yang lebih baik, namun di segi lain kita belum siap dengan disiplin, nilai moral dan etika profesi yang tinggi dikhawatirkan jangan-jangan asosiasi notaris berubah menjadi perusahaan akta notaris”.

Adapun pendapat lain mengatakan seperti yang dikemukakan Menurut G.H.S.Lumban Tobing41:

Bahwa persekutuan sedemikian tidak menguntungkan bagi masyarakat umum, oleh karena hal itu berarti mengurangi persaingan dan pilihan masyarakat tentang notaris yang dikehendakinya, lebih-lebih di tempat-tempat dimana hanya ada beberapa notaris. Selain dari itu adanya persekutuan diantara para notaris akan menyebabkan kurang terjaminnya kewajiban merahasiakan yang dibebankan kepada para notaris.

Menurut G.H.S.Lumban Tobing, adanya persyaratan untuk terlebih dahulu menjalani suatu masa magang sebelum seseorang diangkat sebagai notaris adalah penting karena selama masa magang itulah sebenarnya seorang notaris dapat

39Maferdy Yulius dan Otty Hari Chandra Ubayani,Revisi Undang-Undang Jabatan Notaris

Utamakan Pemerataan Rezeki,

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:zns4RiIgYyIJ:medianotaris.com/revisi_uujn_ utamakan_pemerataan_rezeki_berita111.html%3Flang%3Den+perserikatan+perdata+notaris&cd=30& hl=id&ct=clnk&gl=id,diakses pada tanggal 15 Mei 2012.

40 Burhanuddin Hussaini,Loc Cit,Hal. 71.

memperoleh keterampilan dan pengetahuan praktis yang sangat dibutuhkannya kelak didalam menjalankan jabatannya sebagai notaris42. Sehingga yang menjadi tujuan dari perserikatan yang termaktub pada pasal poin (b) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor : M.HH.01.AH.02.12. Tahun 2010 tentang persyaratan menjalankan jabatan notaris dalam bentuk perserikatan perdata juga dinilai tidak sesuai, dikarenakan profesi seorang notaris harus telah mandiri saat ia mengucapkan sumpah pengangkatannya, notaris tersebut harus sudah dibekali pengetahuan dan keahlian yang cukup yang telah didapatnya dari perkuliahan dan pada saat masa magang yang merupakan suatu syarat untuk diangkatnya menjadi seorang notaris, sehingga notaris tersebut sudah harus siap dan telah harus dibekali dengan pengetahuan dan keahlian yang baik untuk menjadi notaris, bukan meningkatkan pengetahuan dan keahlian setelah menjadi seorang notaris, hal tersebut dikhawatirkan bukanlah menciptakan kepastian hukum bagi klien yang datang kepadanya kelak, sehingga akan diragukan produk yang akan dikeluarkan oleh notaris yang berserikat tersebut dan dapat membuat citra yang buruk dimasyarakat kelak.

2. Kewenangan dan Tanggung Jawab Notaris

Pada umumnya masyarakat telah mengetahui tugas dan wewenang notaris. Notaris itu diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah c.q. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia selaku pembantu presiden (pasal 17 Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945)

Notaris dalam menjalankan jabatannya itu, tentu saja ia harus mengindahkan berbagai perundangan (peraturan hukum) yang berlaku. Meskipun dalam melaksanakan jabatannya diatur dalam peraturan khusus (Undang-Undang Jabatan Notaris), pengangkatan dan pemberhentiannya dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, diambil sumpah dan lain sebagainya, ia tidak mendapat gaji dan / atau uang pensiun dari pemerintah, ia mendapat honorarium dari para langganannya sebagai imbalan jasa-jasanya sesuai dengan peraturan yang bersangkutan.

Notaris yang diangkat oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mempunyai tugas dan wewenang membuat akta otentik. Akta otentik adalah akta yang mempunyai kepastian isi, kepastian tanggal dan kepastian orangnya sehingga dapat menjadi alat bukti sempurna.

Kepastian isi akta notaris berarti memang demikian yang dikehendaki oleh para pihak, dan juga isi akta itu telah disaring oleh notaris, tidak melanggar hukum sebab notaris sesuai dengan sumpahnya, akan menepati dengan seteliti-telitinya semua atau segala peraturan bagi Jabatan notaris yang sedang berlaku atau kepastian orangnya, memang orangnya, bukan orang lain dan bukan ditanda tangani orang lain. Sebab setiap orang yang hendak membuat akta harus terlebih dahulu dikenal oleh notaris yang membuatnya. Apabila notaris tidak mengenal orang tersebut, maka orang itu tidak dapat membuat akta notaris. Tidak dikenal oleh notaris, bisa membuat akta tetapi harus diperkenalkan oleh dua orang saksi yang dikenal oleh notaris.

Dalam hal perserikatan perdata sedikit menutup kemungkinan untuk memberikan kesempatan masyarakat untuk memilih sendiri notaris yang dipercayainya.

Dalam Peraturan Menteri tersebut dikatakan bahwa para notaris dapat membuat perjanjian khusus dalam rangka menunjuk salah seorang diantara mereka atau orang ketiga sebagai pengurus Perserikatan (gerant mandataire). Menurut Pasal 1637 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, pengurus yang ditunjuk itu berhak melakukan semua tindakan kepengurusan yang ia anggap perlu, walaupun tidak disetujui oleh beberapa sekutu, asalkan dilakukan dengan itikad baik. Jadi pengurus dapat bertindak atas nama perserikatan dan mengikat para sekutu tersebut terhadap pihak ketiga dan sebaliknya pihak ketiga terhadap para mitra selama masa penunjukkan (kuasa) itu berlaku. Para sekutu tentu saja masih bebas untuk menggeser atau mengganti pengurus dengan mandat tersebut.

Selama pengurus yang ditunjuk itu ada, maka para sekutu yang bukan pengurus tidak mempunyai kewenangan untuk bertindak atas nama perserikatan dan tidak bisa mengikat para sekutu lainnya dengan pihak ketiga.

Bila tidak ada penunjukan secara khusus mengenai pengurus, Pasal 1639 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menetapkan bahwa setiap sekutu dianggap secara timbal balik telah memberi kuasa, supaya yang satu melakukan pengurusan terhadap yang lain, bertindak atas nama perserikatan dan atas nama mereka. Jadi, berkenaan dengan tanggungjawab intern antara sekutu yang berserikat tersebut, kecuali dibatasi secara tegas dalam perjanjian pendirian perserikatan, setiap sekutu

berhak bertindak atas nama perserikatan dan mengikat para sekutu terhadap pihak ketiga dan pihak ketiga terhadap para sekutu tersebut akan tetapi hal ini tidak dapat dijalankan dikarenakan jabatan notaris tidak menjalankan profesinya dengan membawa nama perserikatan atau lain sebagainya, walaupun mereka berserikat tetapi mereka tetap mengejerjakan tugas mereka masing-masing dengan membawa nama mereka sendiri-sendiri, hal yang menjadi jaminan atas kepastian hukum sebagaimana dimaksud diatas juga tidak lagi dapat dijalankan apabila para notaris berserikat, karena bila ada penunjukan pengurus pada perserikatan perdata notaris, maka si penguruslah yang berhak mengikat para notaris terhadap klien yang datang.

Pasal 20 Undang-Undang Jabatan notaris adalah hal yang baru dikalangan notaris, sehingga masih banyak keraguan dari para senior notaris ataupun calon notaris untuk menjalankannya, beberapa aspek yang dapat dilihat ialah kekhawatiran dalam hal pengurusan dan pembagian keuntungan serta ketidakpastian akan menjamin kemandirian dan kerahasiaan serta kepastian hukum yang ada pada perserikatan tersebut, hal ini didasari oleh kurangnya sosialisasi mengenai perserikatan tersebut sehingga belum ada notaris yang berani mencoba menjalankan jabatannya dalam bentuk perserikatan perdata, tetapi jika peraturan tersebut hanya dijalankan dalam bentuk kantor bersama notaris tanpa adanya persinggungan pengaturan dan pengurusan, maka hal tersebutlah yang sangat tepat untuk diterapkan, karena tidak ada benturan-benturan serta ketimpangan-ketimpangan hukum di dalamnya, hal ini diketahui karena sudah banyak notaris di Indonesia yang melaksanakan kantor bersama notaris tersebut.

BAB III

KEMANDIRIAN DAN ASAS MENJAGA KERAHASIAAN DALAM KAITANNYA DENGAN PEMBENTUKAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR :

M.HH.01.AH.02.12 TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN

MENJALANKAN JABATAN NOTARIS DALAM BENTUK PERSERIKATAN PERDATA

Notaris43adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya,44sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam menjalankan jabatannya, Notaris mempunyai tempat kedudukan dan wilayah kerja yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan, yaitu berkedudukan di daerah kabupaten atau kota, dan memiliki kewenangan wilayah jabatan di seluruh wilayah propinsi dari tempat kedudukannya.45Penempatan Notaris di suatu daerah didasarkan pada Formasi Notaris, yaitu penentuan jumlah Notaris yang dibutuhkan pada suatu wilayah jabatan

43Menurut Abdul Ghofur Abshori, Notaris merupakan suatu profesi mulia (officium nobile), karena

sangat erat hubungannya dengan kemanusiaan. Akta yang dibuat oleh Notaris menjadi alas hukum atas status harta benda, hak, dan kewajiban seseorang. Kekeliruan atas akta Notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang atau terbebaninya seseorang atas suatu kewajiban; Abdul Ghofur Anshori. 2009. Lembaga Kenotariatan Indonesia,Perspektif Hukum dan Etika. Yogyakarta: UII Press. Hlm. 25.

44Kewenangan lain dapat diartikan sebagai kewenangan yang telah diatur oleh peraturan perundang-

undangan lainnya atau peraturan yang akan ditentukan kemudian berdasarkan aturan hukum lain yang akan datang kemudian (ius constituendum); Habib Adjie. 2008.Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik Terhadap UU No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. Bandung: PT.Refika Aditama. Hlm. 83

45 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Bab IV. Pasal 18. Tentang

Notaris, yang ditentukan berdasarkan kegiatan dunia usaha, jumlah penduduk, dan/atau rata-rata jumlah akta yang dibuat oleh dan/atau dihadapan Notaris setiap bulannya.46

Timbul permasalahan berkaitan dengan kebijakan formasi notaris. formasi notaris tidak merata, para notaris saling berebut untuk membuka kantornya di kota- kota besar, konon asumsi banyak Notaris, lahan rezekinya juga besar. Sehingga Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia memandang perlu untuk menutup formasi notaris baru di beberapa daerah tertentu. Kebijakan ini telah menutup harapan para calon Notaris untuk dapat ditempatkan pada daerah-daerah yang telah tertutup tersebut.

Apakah kebijakan tentang penutupan formasi notaris terhadap daerah-daerah tertentu tersebut sudah tepat, Karena walaupun Notaris adalah pejabat umum (openbaar ambtenaar), yang diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, serta diberi wewenang dan kewajiban untuk melayani publik dalam hal-hal tertentu, dan ikut dalam melaksanakan kewibawaan (gezag) dari pemerintah,47Notaris adalah pejabat umum yang bukan Pejabat Tata Usaha Negara, serta tidak mendapatkan gaji dan pensiun dari pemerintah.

Apabila memerhatikan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, pada Pasal 20 ayat 1 dapat menjadi alternatif solusi untuk menjawab permasalahan. Pasal ini mengatur Notaris untuk dapat menjalankan jabatannya dalam

46Ibid. Pasal 22 ayat 1.

bentuk perserikatan perdata dengan tetap memerhatikan kemandirian dan ketidakberpihakan dalam menjalankan jabatannya.

Akan tetapi dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor : M.HH.01.AH.02.12. Tahun 2010 tentang persyaratan menjalankan jabatan notaris dalam bentuk perserikatan perdata sebagai peraturan organik dari