II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Jenis-jenis Restoran
Usaha restoran terbagi ke dalam beberapa jenis yang disesuaikan dengan target pasar sasaran, tujuan utamanya, lokasi, dekorasi tempat serta jenis menu dan makanan yang disediakan. Torsina (2000) membagi jenis restoran ke dalam sepuluh jenis restoran yang ada sekarang yaitu :
1. Family Conventional
Restoran yang ditunjukkan pada tradisi keluarga. Prioritas utama menyediakan menu makanan dan minuman yang enak, suasana yang nyaman, dan harga yang bersahabat. Restoran ini menawarkan pelayanan dan dekorasi yang sederhana.
2. Fast Food
Restoran ini lebih menekankan pada kecepatan penyajian. Makanan dan minuman yang dipesan akan segera tersedia dalam waktu yang paling singkat.
Jenis menu relatif terbatas dan harga yang ditawarkan relatif tidak mahal. Lebih mngutamakan banyak pelanggan. Dekorasi tempat dengan warna-warna utama dan terang. Restoran jenis ini erat kaitannya dengan eat-in (makan di restoran) dan take-out (dibawa keluar). Restoran jenis ini lebih mengutamakan turnover yang tinggi dari pengunjung.
3. Speciality Restaurants
Restoran ini menyajikan menu yang khas, berkualitas, dan menarik perhatian. Harga yang relatif mahal. Tempat dan lokasi biasanya jauh dari pusat keramaian yang ditunjukkan utamanya untuk wisatawan atau orang-orang yang ingin mentraktir teman bisnis, keluarga dalam suasana yang khas dan unik.
Death by Chocolate & Spageti Restaurant termasuk ke dalam restoran jenis Speciality Restaurants ini karena memiliki ciri-ciri seperti produk yang unik dengan cara penyajian yang unik (sensasi Death by Chocolate), lokasinya yang cukup jauh dari keramaian, harga yang cukup mahal karena produknya berkualitas, unik, dan bergizi, konsumennya sebagian besar remaja dan keluarga yang secara sengaja mengunjungi DBC & Spageti Restaurant tidak hanya untuk makan atau mentraktir teman, tetapi juga untuk berkumpul dan bersantai. Selain berasal dari daerah Bogor, konsumen DBC & Spageti juga banyak yang berasal dari luar daerah Bogor seperti Jakarta, Bandung, Sukabumi, dan lain-lain.
4. Kafetaria
Restoran jenis ini dapat dilihat dengan jelas dari tempatnya berada.
Biasanya terletak di perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, dan pabrik-pabrik.
Target konsumen utama sesuai dengan lingkungannya berada. Menu terbatas, harga murah dan berganti-ganti setiap hari seperti menu makanan yang ada di rumah.
5. Coffee Shop
Ciri khas dari jenis restoran ini adalah tempat duduk yang berganti-ganti dengan cepat untuk menandakan suasana tidak formal. Pelayanan pesanan makanan yang cepat, lokasi dan tempat utama berada di sekitar gedung perkantoran, pabrik-pabrik, dan pusat perbelanjaan dengan traffic pejalan yang tinggi. Menu utama ditujukan untuk coffe break.
6. Gourmet
Restoran yang memiliki suasana sangat nyaman dengan dekorasi tempat yang sangat artistik. Restoran ini yang termasuk restoran yang berkelas yang
ditunjukkan untuk konsumen yang menuntut standar penyajian yang tinggi dan bergengsi. Biasanya restoran ini membidik target pasar dengan standar prestise yang tinggi.
7. Etnik
Restoran ini dicirikan dengan menyajikan menu makanan yang berasal dari daerah tertentu yang spesifik. Pakaian seragam dari pelayannya disesuaikan dengan asal daerah makanan dan minuman. Dekorasi tempat dan ruangan menggambarkan suasana etnik tertentu.
8. Snack Bar
Restoran ini ditunjukkan untuk orang-orang yang ingin jajanan dan makanan kecil. Banyak menawarkan pesanan take-out. Dekorasi tempat sederhana serta ukuran kecil hanya untuk beberapa orang.
9. Buffet
Ciri utama buffet yaitu berlakunya satu harga untuk makanan sepuasnya apa yang disajikan pada buffet. Produk minuman berupa wine, linquor, dan bir yang dapat dipesan dengan khusus. Display makanan cukup memegang peranan penting dalam promosi.
10. Drive In Drive Thru or Parking
Restoran jenis ini melayani pembelian dengan diantar hingga ke mobil pelayan untuk eat-in (sementara parkir) atau take away dengan kemasan makanan yang dibungkus dengan praktis.
Dalam melakukan usahanya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh sebuah restoran agar usahanya dapat berhasil. Menurut Mukhtar
(2004), keberhasilan operasional restoran dapat dilihat dari lima hal yang disebut G - factors, yaitu :
1. Good Food (G-1)
Makanan yang disajikan kepada tamu dalam keadaan segar dan sistem pengelolaan yang baik, penyimpanan bahan baik, peralatan dan perlengkapan berkualitas tinggi dan higienis, cita rasa makanan baik dan sesuai dengan selera konsumen.
2. Good Location & Parking Fasilities (G-2)
Lokasi restoran harus strategis, dimana lokasi merupakan pedoman dalam mendirikan restoran. Luas tempat parkir juga menentukan kenyamanan konsumen. Oleh sebab itu restoran harus mudah terlihat, mudah dijumpai, memiliki daya tarik dengan pemilihan warna atau ornamen khusus serta letaknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.
3. Good Atmosphere (G-3)
Suasana yang nyaman dan menyenangkan perlu diciptakan melalui penampilan interior dan eksterior yang seimbang, dekorasi yang digunakan, pemilihan warna dan fasilitas yang lengkap, seperti toilet, kursi dan meja yang berkualitas baik, dan table set up yang lengkap.
4. Good Reputation (G-4)
Restoran harus memiliki reputasi yang baik yang meliputi pelayanan, pengelolaan dan prestasi yang mempengaruhi pendapat masyarakat.
5. Good Pleasant & Courteous Service (G-5)
Tata saji dilakukan dengan begitu mengesankan, menyenangkan dan memuaskan. Pramusaji harus mampu memberikan masukan bagi tamu mereka
yang kurang memahami keinginannya dan menyajikan makanan dengan tata saji yang berkualitas, sopan dan ramah.
Berdasarkan G-factors tersebut, hanya faktor good location (G-2) yang dirasa belum dapat dipenuhi oleh DBC & Spageti Restaurant. Hal ini disebabkan oleh lokasi usaha restoran yang kurang strategis, yaitu tidak mudah terlihat dan sedikit jauh dari keramaian. Hal tersebut mengakibatkan restoran ini memiliki sedikit kendala untuk mendapatkan jumlah pengunjung yang sangat banyak.
Lokasi usahanya ini tidak terletak di jalan raya yang sering dilalui oleh banyak orang dan atau banyak kendaraan. Namun demikian, restoran ini memiliki lapangan parkir yang cukup luas sehingga komponen parking facilities dapat dipenuhi oleh restoran ini.
2.3 Coklat
Coklat diperoleh dari tanaman coklat (Theobroma cocoa L) yang berasal dari Mexico. Coklat biasa digunakan sebagai bahan baku untuk membuat makanan maupun minuman dengan rasa dan aroma yang khas. Menurut Khomsan (2002) kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan coklat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528, dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. Coklat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik coklat di Massachusetts AS.
Saat ini coklat tidak hanya menjadi minuman tetapi juga menjadi snack yang disukai anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Selain rasanya enak, coklat juga ternyata berkhasiat membuat umur seseorang menjadi lebih panjang.
Suatu studi epidemiologis telah dilakukan pada mahasiswa Universitas Harvard yang terdaftar antara tahun 1916-1950. Studi ini menggunakan food frequency questionnaire dan berhasil mengumpulkan informasi tentang kebiasaan makan permen atau coklat pada mahasiswa Universitas Harvard.
Studi ini menemukan bahwa mereka yang suka makan permen/coklat umurnya lebih lama satu tahun dibandingkan bukan pemakan. Diduga antioksidan fenol yang terkandung dalam coklat adalah penyebab mengapa mereka bisa berusia lebih panjang.
Menurut kepercayaan suku Maya, coklat adalah makanan para dewa. Rasa asli biji coklat sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31 persen, karbohidrat 14 persen, dan protein 9 persen. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin. Coklat mengandung lemak yang tinggi, tetapi relatif tidak mudah tengik karena coklat juga mengandung polifenol (6 persen) yang berfungsi sebagai antioksidan pencegah ketengikan.
Coklat mengandung lemak yang disebut lemak kakao atau cocoa butter.
Jenis lemak ini berbeda dengan jenis lemak yang terkandung dalam tanaman yang lainnya seperti sawit, kedelai, biji bunga matahari, dan lain-lain. Lemak kakao tersebut akan menentukan bagaimana coklat akan meleleh begitu sampai di lidah.
Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun.
Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positif oleat bagi kesehatan jantung.
Dapat dikatakan tidak ada orang yang tidak suka coklat. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, semua makan coklat. Mulai dari yang harganya ratusan rupiah sampai belasan ribu rupiah per potong, semua memiliki pasar.
Selain itu, coklat juga merupakan bagian dari gaya hidup bagi masyarakat kelas menengah-atas.
Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving.
Rindu coklat dapat disebabkan oleh aromanya, teksturnya, rasa manis-pahitnya, dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine, yaitu suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak dan menghasilkan dopamine. Dopamine akan menimbulkan dampak perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta.
Kakao berasal dari Amerika Selatan, tetapi diproduksi menjadi coklat di Eropa dan Amerika Serikat. Saat ini, sumber kakao utama dunia menurut Departemen Pertanian (Deptan) Indonesia bukan lagi dari Amerika Selatan,
melainkan Pantai Gading dan Ghana di Afrika, serta Indonesia. Negara-negara tersebut tidak pernah dikenal sebagai penghasil coklat tetapi penghasil kakao saja.
Hal ini disebabkan oleh kakao yang dihasilkan Indonesia dan negara-negara lain dibawa ke Eropa lalu diproses menjadi coklat, dan diekspor lagi ke Indonesia. Hal ini merupakan sebuah ironi untuk Indonesia.
2.4 Spageti
Saat ini, sektor kuliner sudah sangat berkembang. Hal ini dapat dilihat dari semakin terdiferensiasinya suatu jenis produk. Mi yang dikenal saat ini sudah memiliki jenis yang banyak dan istilah atau sebutan yang beragam untuk setiap jenisnya. Spageti adalah mi Italia yang berbentuk panjang seperti lidi. Pada umumnya, spageti dimasak selama 9-12 menit di dalam air mendidih hingga al-dente. Al dente artinya tidak lengket di gigi, tidak terlalu mentah ataupun terlalu matang. Cara memakannya bervariasi tetapi yang sangat terkenal adalah Spaghetti alla Bolognese yaitu dengan saus daging cincang lalu ditaburi keju parmesan parut.
Hampir setiap orang mengira bahwa spageti adalah bakmi yang dibawa pulang oleh Marco Polo dalam perjalanannya dari Tiongkok pada tahun 1292. Tetapi setelah diselidiki oleh banyak pihak, sejak zaman dahulu Bangsa Romawi yang menang dari medan perang selalu menyantap spageti. Spageti merupakan salah satu jenis pasta yang telah dikenal oleh bangsa Italia sejak zaman manusia bercocok tanam kira-kira 10.000 tahun yang lalu. Spageti terbuat dari tepung yang dihasilkan oleh mereka pada saat itu lalu diolah dengan sedikit air dan telur menjadi sebuah adonan yang disebut pasta. Setelah itu, pasta digiling tipis
menjadi lembaran-lembaran, yang merupakan induk pasta yang dikenal sebagai Lasagna. Saat ini telah berkembang jenis-jenis pasta lainnya seperti Fusili, Penne, Tagliatelle3.