BAB II GAMBARAN UMUM SENI PERTUNJUKAN DI SUMATERA
2.2 Jenis-jenis Seni Pertunjukan di Sumatera Utara
Sumatera Utara mencerminkan peradaban nusantara yang beranekaragam namun memiliki rasa integritas dan keberamaan. Ada tujuh etnis yang ada di Sumatera Utara antara lain, Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak, Nias, dan Melayu. Adapun Etnis pendatang yang masuk ke wilayah Sumatera Utara adalah Jawa Deli, China, dan Tamil. Berikut ini penulis akan membahas jenis- jenis seni pertunjukan yang mewakili dari ketujuh etnis Sumatera Utara dan etnis pendatang sebagai berikut:
2.2.1 Opera Batak
Opera Batak adalah kesenian tradisional Sumatera Utara yang memadukan drama (lakon), tarian, musik, dan vokal. Opera Batak dirintis oleh Tilhang Parhasapi, yang menjadi cikal bakal Opera Batak. Opera Batak membawakan cerita tentang sendi-sendi kehidupan masyarakat Batak, kisah kepahlawanan, legenda, atau perumpamaan terkait dengan problem sosial kehidupan sehari-hari. Gerak tari tor-tor dan tumba bersifat minimalis, namun keduanya dapat menjadi tari pembuka, tarian antara atau tari penutup. Vokal dalam Opera Batak dibedakan menjadi andung dan ende. Andung merupakan bentuk ratapan yang dilantunkan tanpa iringan musik, sedangkan ende adalah lagu yang bersifat hiburan dan mencerminkan suasana tertentu. Musik iringan dalam pertunjukan Opera Batak berupa uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional Batak, yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap, dan hesek. Pada panggung terdapat tirai penutup sebagai penghubung pergantian adegan, dan selingan lagu, tari, atau lawak. Durasi pertunjukan biasanya 6 – 8 jam.
2.2.2 Guro-Guro Aron
Guro-Guro Aron salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat Karo.
Kegiatan Guro-Guro Aron pada awalnya berkaitan dengan siklus pertanian yaitu khususnya setelah masa panen berakhir. Guro-Guro Aron merupakan sarana menyampaian berbagai hal, seperti: harapan agar pada musim tanam yang akan datang tidak terjadi kemarau; harapan agar tanaman yang akan datang tidak diganggu hama; ucapan syukur atas panen yang telah berhasil dilakukan, dan sebagainya. Perayaan pada masa akhir panen ini disebut kerja tahun (pesta
tahunan). Disamping kerja tahunan sebagai salah satu konteks pelaksanaan, Guro- Guro Aron merupakan acara yang bersifat gembira (meriah) untuk kalangan muda-mudi. Di lain hal, pelaksanaan Guro-Guro Aron dimaksudkan untuk memberi hiburan bagi peserta dan masyarakat di suatu kampung, juga merupakan wadah pertemuan muda-mudi dan kesempatan bagi mereka untuk mencari pasangan yang kemudian meningkat ke jenjang perkawinan. Guro-Guro Aron dapat diartikan sebagai suatu pesta ria muda-mudi yang dibentuk dengan menampilkan gendang Karo dan perkolong-kolong. Perkolong-kolong adalah penyanyi yang biasanya sepasang, satu pria dan satu wanita. Berbagai macam fungsi terdapat dalam Guro-Guro Aron ini, salah satunya adalah belajar etika. Dalam melaksanakan Guro-Guro-Guro-Guro Aron ini, anak perana (pemuda) dan singuda- nguda (pemudi) juga belajar etika atau tata karma pergaulan hidup dengan sesamanya. Muda-mudi belajar mengikuti adat dalam hal “ertutur” (cara menentukan hubungan kekerabatan berdasarkan marga) karena satu sama lain pada saat menari tidak boleh ada yang sumbang (sumbang landek), artinya menari tidak menurut adat dan kekerabatan. Jadi di dalam Guro-Guro Aron berlaku norma adat dan etika yang harus ditaati oleh masyarakat Karo.
2.2.3 Upacara Pesta Rondang Bintang
Pesta Rondang Bintang merupakan upacara adat dari Batak Simalungun.
Awalnya upacara ini dibuat sebagai persembahan kepada para penguasa alam yang disebut dengan Pangulu Balang. Rasa hormat itu diwujudkan dengan mempersembahkan Demban Sayur. Tetapi ini tergantung dari selera penguasa alam atau pangulu balang tersebut. Pada mulanya upacara Rondang Bintang harus
dipusatkan di kediaman raja yang dilaksanakan di depan istana raja dan diikuti oleh seluruh anggota masyarakat yang merayakannya. Tetapi pada saat sekarang ini pelaksanaan Upacara Pesta Rondang Bintang kondisinya sudah lebih besar, dan pelaksanaannya dipusatkan di salah satu kota atau daerah yang ada di Kabupaten Simalungun. Upacara Pesta Rondang Bintang ini merupakan wujud rasa terima kasih atas hasil panen yang mereka terima, dan juga merupakan doa- doa untuk panen berikutnya dapat menghasilkan yang baik, selain itu juga merupakan doa agar menambah rezeki atas pekerjaan yang dilakukan.
Pada Upacara Pesta Rondang Bintang, selain yang merupakan ritual juga ada hiburan-hiburan dari para muda-mudi seperti menari, menyanyi, berbalas pantun, dengan menggunakan pakaian adat khas Simalungun. Para muda-mudi ini juga akan dibimbing oleh orang tua bagaimana tata cara upacara ini. Jenis tari yang dipertunjukkan muda-mudi pada Pesta Rondang Bintang umumnya mempunyai makna permohonan tersendiri di antaranya adalah gual (tari) sayur matua (panjang umur), olob-olob (tetap suka ria), parahot (agar tetap utuh), sampan apuran (saling memaafkan), soroung dayung (agar tersalur rencana), boniala-boniala (saling memaafkan), dan haporas ni si longkung (jangan anggap remeh). Bagi muda-mudi yang sudah berumur tetapi belum menikah, menggelar tari khusus sebagai ucapan doa permohonan dengan harapan mendapatkan jodoh dan cepat menikah. Dalam acara ini juga melibatkan pasangan suami istri yang tidak mempunyai keturunan, panjatkan doa meminta diberkahi anak. Rangkaian acara Pesta Rondang Bintang tidak luput dari kegiatan berbalas pantun sesama muda-mudi, perkenalan pertama pada acara ini sering membuahkan kasih sayang
dan diakhiri dengan pernikahan. Kalangan pemuda selalu menyampaikan niat dengan mengucapkan pantun yang ditujukan kepada seorang gadis, mau atau menolak dipersunting.
2.2.4 Gordang Sambilan
Gordang sambilan merupakan kesenian yang berasal dari etnis Mandailing.
Gordang sambilan adalah seperangkat alat musik sakral yang terdiri dari sembilan buah gendang besar. Urutan nama gendang dari yang kecil sampai terbesar adalah enek-enek (1 buah), patolu (2 buah), padua (2 buah), hudong- hudong (2 buah), dan jangat (2 buah). Ada juga alat musik tambahan yang dipakai dalam pertunjukan gordang sambilan, seperti mongmongan, sarune, dan gong. Gordang sambilan dalam pelaksanaannya memiliki hubungan ritual, di mana ideologi gordang sambilan didasarkan pada interaksi antara masyarakat (manusia) dengan Tuhan (dewata ataupun penguasa alam) yang diaplikasikan pada bentuk gordang sambilan yang besar dari segi ukuran dan suara yang menggemuruh, kesemua hal tersebut bertujuan mendukung korelasi interaksi antara manusia dan “penguasa alam”, yang digambarkan secara umum sebagai sosok yang memiliki kelebihan dari makhluk manusiawi. Saat ini pertunjukan gordang sambilan sering diperdengarkan dalam acara pernikahan, penyambutan tamu, ataupun hari-hari besar.
2.2.5 Ende-ende Kipudung
Pada mulanya ende-ende kipudung merupakan nyanyian percintaan yang ada pada masyarakat Pakpak Bharat, yang sudah ada sejak abad ke-20. Nyanyian ini digunakan sebagai bentuk ekspresi ungkapan isi hati mereka. Pada zaman dulu
para muda-mudi di Pakpak tidak bebas untuk bertemu karena factor adat istiadat yang berpengaruh besar, sehingga banyak dari gadis-gadis di Pakpak yang menikah dengan dijodohkan atau dinikahkan berdasarkan pilihan orang tua mereka. Namun ada salah satu kegiatan di mana pemuda dan pemudi Pakpak menemukan dan menentukan pilihannya sendiri, kegiatan itu adalah kegiatan menumbuk padi (manutu page, manjabet page). Dalam kegiatan ini para gadis dan pemuda bertemu dan saling berkenalan, biasanya pada saat malam bulan purnama yang dilakukan di halaman rumah.
Dalam kegiatan ini para gadis menggunakan lesung sebagai alat untuk mrnumbuk padi, namun bagi para pemuda bunyi lesung yang dipukul oleh para gadis merupakan sebuah pertanda bagi mereka, karena setiap kali para pemuda itu mendengar suara pukulan dari lesung tersebut, mereka akan mengetahui di mana para gadis sedang berkumpul. Setelah mendengar dari mana adal suara, para pemuda akan langsung mengikutinya dan kemudain para pemuda mulai melirik untuk mencari gadis mana yang akan diajak berkenalan. Setelah para pemuda menemukan gadis mana yang ingin mereka ajak berkenalan, mereka akan mulai menanyakan tentang siapa gadis tersebut dengan memainkan lobat atau kecapi dan bernyanyi. Si gadis yang mendengar nyanyian tersebut akan membalas dengan nyanyian juga.
Pada saat ini, nyanyian ini sudah tidak dipergunakan dalam kegiatan sehari-hari lagi dikarenakan adanya perkembangan zaman. Namun kegiatan manutu page mulai diperkenalkan kembali dalam bentuk seni pertunjukan yang ditampilkan dengan konsep yang berbeda pada acara pesta budaya masyarakat
Pakpak. Artinya, sebagai seni pertunjukan kegiatan ini tidak lagi terikat pada tempat, waktu, dan situasi sebagaimana dahulu.
2.2.6 Tari Maena
Tari maena adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Nias, Sumatera Utara. Tarian ini termasuk jenis tarian rakyat yang dilakukan secara bersama-sama atau massa. Tari maena ini biasanya sering ditampilkan di berbagai acara, seperti penyambutan tamu terhormat, pernikahan, dan acara seremonial adat Nias lainnya. Bagi masyarakat suku Nias sendiri, tarian ini tentu memiliki makna khusus di dalamnya, salah satunya adalah makna persatuan dan kebersamaan. Hal ini juga terlihat dari bagaimana mereka menari dan melakukannya secara bersama-sama dengan penuh suka cita. Semakin banyak yang mengikuti, suasana acara menjadi semakin hangat dan meriah. Dalam Tari Meana bisa diikuti oleh para penari pria maupun wanita. Untuk jumlah penari dalam acara seremonial adat biasaya tidak ditentukan, sehingga bisa diikuti oleh siapa saja. Dalam pertunjukannya, biasanya diawali dengan pantun yang dibawakan oleh Sanutui maena (tetua adat/sesepuh suku). Untuk pantun yang dibawakan biasanya disesuaikan dengan tema acara. Kemudian dilanjutkan dengan syair maena (fanehe maena) yang dilantunkan semua penari sambil menari. Gerakan dalam Tari Maena ini sebenarnya cukup sederhana, sehingga tidak memerlukan latihan khusus untuk melakukannya. Gerakannya meliputi gerakan tangan dan kaki yang digerakkan seirama maju mundur, maupun ke kiri dan ke kanan. Sedangkan untuk formasi para penari bisa berbentuk melingkar atau berbaris. Formasi tersebut tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
2.2.7 Ronggeng Melayu
Ronggeng melayu merupakan sebuah pertunjukan kesenian Melayu yang melibatkan tari, sastra, dan musik. Kekayaan tradisi musikal, ungkapan-ungkapan dalam pantun, gerakan yang berkembang dalam ronggeng adalah kontribusi multikultur yang melatari perjalanan sejarah ronggeng melayu sebagai kesenian rakyat.
2.2.8 Ketoprak Dor
Ketoprak dor merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang berkembang di Sumatera Utara, khususnya Medan Deli, Deli Serdang, Binjai, Langkat, Simalungun dan Pematang Siantar. Ketoprak dor adalah seni pertunjukan rakyat dengan gaya opera. Ketoprak dor merupakan warisan tradisi hiburan orang-orang Jawa Deli di Sumatera bagian timur. Seni pertunjukan ini lahir di tengah-tengah situasi perbudakan terburuk dalam sejarah Asia Tenggara dan menjadi bagian sejarah kuli kontrak di tanah Deli. Ciri khas pertunjukan ini yaitu bahasa, lakon dan musik. Lakon-lakon yang dibawakan tidak selalu tentang kisah-kisah kepahlawanan, ksatria Jawa, tetapi hikayat dari tanah Deli dan cerita keseharian yang disampaikan lewat bahasa Melayu Indonesia. Ketoprak Dor banyak mengangkat persoalan para kuli kontrak di kawasan perkebunan. Pendekatan Ketoprak Dor tidak mengabarkan derita, melainkan dagelan (humor), sebagai semacam penawaran kerinduan pada kampung halaman.
2.2.9 Barongsai
Seni pertunjukan barongsai adalah seni tari masyarakat Tionghoa yang menggunakan pakaian/kostum yang menyerupai seekor singa. Yang dimainkan
oleh dua penari, yaitu penari depan sebagai kepala barongsai dan penari belakang sebagai penari ekor barongsai. Tarian barongsai menurut etnis Tionghoa adalah simbol dari keberanian, stabilitas, dan keunggulan. Menurut kepercayaan mereka tarian barongsai yang dilakukan dengan diiringi suara keras dapat mengusir roh- roh jahat maupun hantu. Adapun gerakan dasar dalam seni pertunjukan ini memiliki arti yang berbeda dalam setiap gerakannya. Sehingga para pemain/penari barongsai harus menjiwai setiap gerakan yang akan hendak dilakukan. Dalam sebuah pertunjukan barongsai, musik juga merupakan sesuatu hal yang sangat penting dari pertunjukan tersebut.
2.2.10 Tari Bharatanatyam
Bharatanatyam adalah salah satu tarian klasik India yang berasal dari wilayah Tamil Nadu India Selatan dan dikenal sebagai tarian keagamaan India pada abad ke -20. Tarian ini merupakan salah satu tarian klasik yang sangat tua di India, karena tarian ini dulunya diciptakan oleh Dewa Shiwa, dan hingga sekarang tarian ini menjadi popular di kalangan masyarakat Hindu Tamil di seluruh dunia, terkhusus juga di wilayah Sumatera Utara yang digunakan dalam mengisi upacara-upacara besar umat Hindu Tamil. Secara tradisionalnya, tarian ini dipersembahkan secara solo oleh seorang penari wanita. Para penarinya menggunakan gerakan-gerakan, ekspresi wajah, dan gerakan tangan untuk menyampaikan sebuah cerita kepada para penonton. Tarian ini mengkombinasikan unsure feminitas dan maskulinitas dan memiliki beberapa teknik yang digunakan secara dominan dalam tarian ini.