• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Berdirinya Organisasi Rumah Karya Indonesia

BAB III MANAJEMEN ORGANISASI RUMAH KARYA INDONESIA

3.1 Sejarah Berdirinya Organisasi Rumah Karya Indonesia

Rumah Karya Indonesia merupakan salah satu organisasi yang bergerak di bidang seni dan budaya dalam bentuk seni pertunjukan yang termasuk sudah tersohor di Sumatera Utara. Dengan sudah banyaknya kegiatan dan festival yang dilakukan dalam bentuk seni pertunjukan, khususnya seni tradisi di Sumatera Utara.

Seperti yang diketahui, Sumatera Utara memiliki puluhan kelompok etnis yang hidup berdampingan satu sama lain. Setiap kelompok etnis memiliki peninggalan karya seni tradisi yang bernilai tinggi. Namun sayangnya, karya- karya seni tersebut tidak dikembangkan atau dilestarikan dengan baik, bahkan cenderung dilupakan dan dianggap ketinggalan zaman. Alhasil, banyak karya seni yang punah dan tidak diketahui oleh generasi muda saat ini. Keberagaman tradisi seharusnya menjadi salah satu kekayaan yang tak ternilai, dan sayangnya tradisi itu hilang di rumah sendiri.

Rumah Karya Indonesia (RKI) lahir dari keresahan jiwa dan keprihatinan atas sekaratnya tradisi di Indonesia. Organisasi kolektif non-profit ini, lahir dan berorientasi pada wilayah seni tradisi. Fokus RKI tertuju pada produksi dan manajerial pertunjukan, riset, publikasi dan dokumentasi seni tradisi. Rumah Karya Indonesia terbentuk pada tahun 2014 di Medan, setelah terlaksananya Jong Bataks Arts Festival yang pertama. Sehingga, bisa dikatakan, Jong Bataks Arts Festival merupakan salah satu alasan yang membentuk organisasi Rumah Karya Indonesia.

Rumah Karya Indonesia juga menilai kurangnya wadah atau ruang untuk para seniman-seniman di Sumatera Utara sebagai tempat mereka berkarya dan menunjukkan bakat mereka. Sehingga Rumah Karya Indonesia juga menghadirkan ruang-ruang itu untuk membantu seniman-seniman lokal Sumatera Utara.

Rumah Karya Indonesia terbentuk dan didirikan oleh lima orang pendiri dari latar belakang yang berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama, yaitu John Robert Simanjuntak (58 tahun), Jhon Fawer Siahaan (34 tahun), Marojahan Manalu (35 tahun), Jones Gultom (39 tahun), dan Adie Damanik (32 tahun).

Berawal dari bincang-bincang mengenai perkembangan seni tradisi yang ada di Sumatera Utara, hingga membentuk satu komunitas atau organisasi yang bernama Rumah Karya Indonesia. Rumah Karya Indonesia memiliki analogi sebuah

“rumah”, yang mana terbagi atas tiga bagian yaitu teras, ruang tamu, dan dapur.

Setiap bagian tersebut diisi oleh orang-orang yang memiliki peran dalam Rumah Karya Indonesia sesuai dengan porsi mereka.

Teras menjadi bagian dari Rumah Karya Indonesia yang paling dasar, yang mana menurut data yang diterima penulis bahwa banyaknya orang-orang yang berada pada teras Rumah Karya Indonesia sebanyak 980 orang. Teras pada analoginya merupakan wadah para relasi-relasi Rumah Karya Indonesia yang hanya sekedar membantu dan mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di Rumah Karya Indonesia. Sebagai contoh, seniman-seniman yang diberi ruang pertunjukan oleh Rumah Karya Indonesia dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, sebuah instansi yang bersedia mendukung kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia dalam bentuk dana atau peralatan, media-media yang mendukung dalam bentuk meliput kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia, atau organisasi-organisasi kebudayaan yang mendukung kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia.

Ruang Tamu menjadi bagian tengah dari analogi Rumah Karya Indonesia.

Orang-orang yang mengisi ruang tamu ini merupakan orang-orang yang bersinergi dalam kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia, namun tidak memiliki tanggung jawab beban yang besar. Sebagai contoh, para volunteer yang ikut dalam kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia. Dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, biasanya Rumah Karya Indonesia akan membuat open volunteer, yang mana Rumah Karya Indonesia memberikan kesempatan kepada anak-anak muda Sumatera Utara untuk bisa ikut bersinergi bersama Rumah Karya Indonesia. Sekitar 50 orang mengisi bagian ruang tamu dari Rumah Karya Indonesia.

Dapur menjadi bagian paling inti pada analogi Rumah Karya Indonesia, Marojahan A. Manalu mengatakan bahwa dapur yang berisikan sekitar 36 orang

ini merupakan sebuah ruang peracik, yang mana orang-orang yang ada di dalamnya merupakan yang sudah bersinergi secara intim, dan mengetahui segala proses-proses kreatif dan kedalaman Rumah Karya Indonesia itu sendiri. Penulis menyimpulkan bahwa dapat dikatakan, orang-orang yang berada di dapur adalah dimulai dari pendiri, pengurus harian dan pengurus setiap kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia.

Sebuah organisasi ataupun kelompok, biasanya memiliki tujuan dalam pembentukan sebuah organisasi atau kelompok tersebut. Begitu juga dengan Rumah Karya Indonesia, mereka tidak hanya berdiri dengan hanya melaksanakan segala rangkaian kegiatan-kegiatan, namun memiliki tujuan dan harapan yang ingin dicapai. Adapun tujuan dan harapan itu dirangkum dalam visi dan misi organisasi Rumah Karya Indonesia.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan penulis kepada salah satu narasumber yang bernama Marojahan A. Manalu, yang saat ini menjabat sebagai ketua Rumah Karya Indonesia, Marojahan A. Manalu menyebutkan visi dari Rumah Karya Indonesia yaitu menjadikan seni tradisi sebagai sumber inspirasi, kreativitas dan pengetahuan untuk mencapai Indonesia yang berkepribadian.

Marojahan A. Manalu juga menjabarkan beberapa poin yang menjadi misi dari Rumah Karya Indonesia, yakni (a) menggali dan mengembangkan keragaman seni tradisi yang ada di Sumatera Utara dan Indonesia pada umumnya, (b) menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan karya seni tradisi di Sumatera Utara dan Indonesia pada umumnya, (c) merangsang minat generasi muda terhadap karya seni, (d) membangun sinergisitas diantara pekerja seni

tradisi serta lembaga yang memiliki tujuan yang sama, (e) menjadikan seni tradisi sebagai salah satu industri ekonomi kreatif, dan (f) menjadikan Rumah Karya Indonesia sebagai lembaga seni yang profesional dan independen. Hingga saat ini pun, Rumah Karya Indonesia masih konsisten dengan visi dan misi yang mereka bangun, namun seiring berjalannya waktu visi dan misi itu juga selalu mengalami penguatan.

Berdasarkan wawancara dengan Marojahan A. Manalu di sekretariat Rumah Karya Indonesia, ia mengatakan Rumah Karya Indonesia juga terbentuk atas kesadaran mereka bahwa kurangnya wadah atau ruang-ruang pertunjukan bagi pelaku kesenian di Sumatera Utara khususnya kota Medan. Rumah Karya Indonesia lebih memprioritaskan kota Medan, karena kota Medan merupakan pusat ibukota dan pusat kampus-kampus yang membidangi kesenian.

Di kota Medan sangat banyak pelaku-pelaku kesenian terutama anak muda mulai dari mahasiswa-mahasiswa kampus yang membidangi kesenian, seperti Etnomusikologi di Universitas Sumatera Utara, Seni Musik, Seni Tari, Seni Rupa, Seni Pertunjukan di Universitas Negeri Medan, Seni Musik Universitas HKBP Nomensen, dan bahkan di luar dari mahasiswa-mahasiswa juga ada, seperti yang tergabung dalam komunitas-komunitas atau kumpulan-kumpulan kesenian lainnya.

Dengan banyaknya pelaku-pelaku kesenian di kota Medan, namun tidak ada ruang-ruang yang mampu menampung karya-karya dan pertunjukan mereka, kecuali yang memang sudah dibentuk oleh pemerintah dan lembaga swasta lainnya.

Namun, tidak semua pelaku kesenian mampu mengikuti gaya ataupun

cara-cara yang dibentuk oleh pemerintah dan lembaga swasta tersebut, mereka juga perlu untuk mengekspresikan gaya-gaya mereka dengan cara mereka sendiri.

Melihat hal itu, Rumah Karya Indonesia hadir sebagai wadah atau ruang pertunjukan bagi pelaku kesenian yang tidak memiliki ruang untuk menampung karya-karya mereka. Dan hingga saat ini, sudah banyak pelaku-pelaku kesenian yang tergabung dalam ruang pertunjukan yang disajikan oleh Rumah Karya Indonesia.

Ruang-ruang pertunjukan yang dihadirkan oleh Rumah Karya Indonesia berwujud sebuah kegiatan dan beberapa merupakan festival. Sejak berdirinya Rumah Karya Indonesia tahun 2014 hingga sekarang, mereka konsisten dengan kegiatan-kegiatan mereka, terutama dalam hal penguatan nilai-nilai tradisi yang dikemas melalui seni pertunjukan. Hingga saat ini ada sekitar 8 (delapan) kegiatan yang konsisten dilaksanakan, yaitu Dokan International Arts Festival, Geobike Kaldera Toba, 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, Lake Toba Film Festival, Tao Silalahi Arts Festival, Jong Bataks Arts Festival, Horja Geopark Kaldera Toba, dan Medan Creative Hub. Selain itu, Rumah Karya Indonesia juga sering melakukan kolaborasi dengan komunitas-komunitas ataupun kelompok- kelpompok seni di Sumatera Utara untuk melaksanakan kegiatan seni pertunjukan.

Rangkaian kegiatan dan festival Rumah Karya Indonesia tidak hanya dilaksanakan di Kota Medan saja, tetapi mereka juga melaksanakannya diluar kota Medan, yaitu daerah-daerah khususnya di kawasan Danau Toba. Hasil wawancara dengan John Robert Simanjuntak yang merupakan pendiri dari Rumah

Karya Indonesia, beliau mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan Rumah Karya Indonesia dilaksanakan diberbagai daerah kawasan Danau Toba, seperti Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, dan Kabupaten Tapanuli Utara.

Tidak hanya dikawan Danau Toba, saat masa pandemi covid-19, Rumah Karya Indonesia juga melakukan kegiatan seni pertunjukan secara daring atau live streaming di Kota Tanjung Balai.