• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MANAJEMEN ORGANISASI RUMAH KARYA INDONESIA

3.3 Struktur Organisasi Rumah Karya Indonesia

Sebagai sebuah organisasi yang sudah berdiri hingga tujuh tahun dan cukup tersohor di Sumatera Utara khususnya kota Medan, Rumah Karya Indonesia memiliki struktur manajemen yang baik di dalam organisasinya. Manajemen dalam organisasi sangat penting dalam mencapai tujuan yang dengan

efektif dan efisien. Efektif artinya dapat menghasilkan karya-karya seni yang berkualitas sesuai dengan keinginannya senimannya atau penonton. Sama halnya dalam Rumah Karya Indonesia yang menciptakan seni pertunjukan dalam bentuk festival, sebagai contoh Jong Bataks Arts Festival. Efisien berarti menggunakan sumber daya secara rasional dan hemat, tidak ada pemborosan atau penyimpangan.

Fungsi pengorganisasian dilakukan untuk menjamin agar kemampuan orang-orang yang ada di dalam organisasi dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini diwujudkan dalam bentuk struktur organisasi yang dilengkapi dengan uraian pekerjaan yang berisi tugas-tugas dan wewenang setiap anggota organisasi serta mekanisme kerja antar bagian organisasi.

Dalam struktur organisasi Rumah Karya Indonesia, para anggota memiliki tugas, hak dan kewajiban masing-masing dalam setiap kepengurusan. Diawali dari Pendiri sebagai jabatan paling tinggi dalam struktur organisasi Rumah Karya Indonesia. Tugas dari Pendiri adalah mengontrol seluruh rangkaian kegiatan di kepengurusan agar tetap berada di jalur pencapaian visi dan misi organisasi tersebut dan membangun hubungan kerjasama dengan organisasi-organisasi eksternal.

Adapun hak dari Pendiri adalah mendapat apresiasi dan penghargaan dari setiap agenda kerja yang dilakukan dan mengutarakan gagasan dan suara terhadap suatu kebijakan. Kemudian, yang menjadi kewajiban dari Pendiri adalah Menjaga nama baik dan menjunjung tinggi harkat martabat Rumah Karya Indonesia, melaksanakan seluruh agenda kerja yang diamanahkan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, juga membangun keharmonisan komunikasi tim kerja.

Setelah pendiri, ada konsultan yang memiliki tugas memberi masukan ide dan gagasan untuk kemajuan dan perkembangan dan perkembangan Rumah Karya Indonesia. Peran Konsultan adalah sebagai mitra sharing pengetahuan tentang bidang-bidang tertentu yang dikuasai oleh konsultan tersebut. Konsultan juga dapat menanggapi atau member masukan bila ada hal-hal yang kurang sesuai dalam pelaksanaan kegiatan Rumah Karya Indonesia. (Hasil wawancara peneliti dengan Marojahan A. Manalu, 10 Maret 2021)

Rumah Karya Indonesia dipimpin oleh seorang Direktur. Saat penulis melakukan penelitian, yang menjadi Direktur Rumah Karya Indonesia adalah Marojahan A. Manalu, yang juga merupakan pendiri dari organisasi ini. Tugas dari seorang Direktur Rumah Karya Indonesia adalah memimpin dan memberdayakan seluruh elemen di jajaran struktur organisasi untuk mencapai visi dan misi Rumah Karya Indonesia., membuat kebijakan dan keputusan dalam menetapkan dan menjalankan program-program kegiatan, memberi penghargaan kepada jajarannya yang berprestasi, dan melakukan upaya-upaya konkret untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi seluruh elemen yang ada di organisasi ini.

Kemudian yang menjadi hak dari Direktur adalah mendapat apresiasi dan penghargaan dari setiap agenda kerja yang dilakukan dan mengutarakan gagasan dan suara terhadap suatu kebijakan, dan kewajibannya adalah melaksanakan seluruh agenda kerja yang diamanahkan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi serta membangun keharmonisan komunikasi tim kerja.

Setelah Direktur, dalam struktur organisasi Rumah Karya Indonesia ada Sekretaris. Sekretaris Rumah Karya Indonesia saat penulis melakukan penelitian

adalah Jhon Fawer Siahaan, yang juga merupakan bagian dari pendiri organisasi ini. Sekretaris dalam organisasi ini memiliki tugas menyelenggarakan musyawarah dan rapat-rapat bulanan, membantu Direktur dengan gagasan- gagasan untuk membuat kebijakan dan keputusan, dan menyiapkan data administrasi untuk legalitas hukum Rumah Karya Indonesia. Sekretaris memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan Direktur.

Di dalam organisasi, selalu ada yang berurusan dengan keuangan, dan di dalam Rumah Karya Indonesia yang berurusan dengan hal itu adalah Bendahara.

Bendahara Rumah Karya Indonesia saat penulis melakukan penelitian adalah Adie Damanik, yang juga merupakan bagian dari Pendiri dari organisasi ini. Bendahara Rumah Karya Indonesia, memiliki tugas mengelola mekaniseme lalu lintas keuangan di organisasi, mengurus pengadaan rekening bank, membuat kebijakan-kebijakan berkaitan dengan transaksi keuangan organisasi, membuat pembukuan keuangan organisasi yang standart dan dapat dipertanggungjawabkan di depan publik dalam bentuk buku besar, dan member laporan keuangan setiap bulannya.

Bendahara juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan Direktur. Jabatan dari Direktur, Sekretaris dan Bendahara merupakan tiga struktur yang paling inti dalam organisasi ini. Selain dari tiga jabatan di atas, Rumah Karya Indonesia juga memiliki divisi-divisi yang mengatur beberapa bagian di organisasinya. Hasil dari wawancara dengan Marojahan A. Manalu, divisi-divisi ini tentunya sangat membantu dalam hal tugas-tugas di dalam organisasi dan lebih terkoordinasi.

Yang pertama ada Divisi Kesekretariatan yang bertugas mengelola administrasi kearsipan dan database organisasi dan membuat database Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di organisasi. Kemudian, Divisi Program yang bertugas melakukan riset, kajian dan penelitian sebelum merumuskan program, merumuskan dan mengembangkan program-program Rumah Karya Indonesia, melahirkan program-program untuk mencapai visi dan misi, menyerahkan bukti otentik dari riset yang dikerjakan ke secretariat organisasi, dan melahirkan ruang pendidikan dan kaderisasi untuk calon anggota dan pengurus organisasi.

Selanjutnya, ada Divisi Fundrising yan bertugas melahirkan inovasi-inovasi sebagai sumber pendapatan organisasi, membuat data sumber pendapatan organisasi, melakukan upaya-upaya konkret untuk mendapatkan dana menjalankan program-program yang sudah ditetapkan, dan membuat laporan pertanggungjawaban kepada bendahara. Marojahan A. Manalu juga sempat menceritakan mengenai fundraising organisasi atau tiap festival yang sangat diminati oleh konsumen. Hal itu dijelaskan Marojahan A. Manalu (dalam wawancara penulis dengan beliau di Medan, 1 Februari 2021)

Fundraising ini biasanya, kita setiap festival atau kegiatan membuat merchandise, misalnya kaos, totebag, stiker, dan pin. Dan banyak yang minat dengan merchandise kita. Kita juga menjualnya, pastinya dengan kualitas yang bagus dan kita juga menyajikan bentuk- bentuk desain yang menarik dan semua itu dikerjakan oleh orang-orang yang ada di Rumah Karya Indonesia.

Selanjutnya, ada Divisi Jaringan yang memiliki tugas membuat database komunitas yang bermitra dengan Rumah Karya Indonesia. Divisi ini sama halnya dengan hubungan masyarakat (humas). Divisi ini yang akan berurusan dengan stakeholder eksternal, seperti penyandang dana, pemerintah, perusahaan swasta,

dewan kesenian, dan lain-lain. Selain itu, ada Divisi Publikasi yang bertugas membangun sumber informasi yang berdampak kuat terhadap publik, menjalin komunikasi publik untuk memunculkan mitra positif organisasi, menyebarkan seluruh kegiatan Rumah Karya Indonesia ke khalayak ramai dan juga mengarsip media cetak ataupun online.

Masih dalam turunan divisi, Rumah Karya Indonesia juga memiliki divisi Artistik, yang bertugas membuat gagasan dan konsep artistic dari program- program yang sudahh ditetapkan, melakukan upaya eksekusi gagasan dan konsep artistik yang sudah dirumuskan, dan menginventarisir asset-aset artistik. Setelah itu, ada divisi Desain Grafis yang bertugas untuk melahirkan gagasan-gagasan yang inovatif untuk membuat desain grafis dari rumusan program, membuat desain grafis dari konsep artistic yang sudah disepakati dan ditetapkan. Kemudian, yang terakhir dalam turunan divisi ada divisi Dokumentasi, yang bertugas untuk melakukan upaya-upaya pendokumentasian foto dan video setiap kegiatan Rumah Karya Indonesia, mengelola seluruh dokumentasi kegiatan Rumah Karya Indonesia dan berkordinasi dengan divisi publikasi. Divisi-divisi di atas cukup lengkap dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam organisasi Seni Pertunjukan. Rumah Karya Indonesia cukup baik dalam mengelola struktur organisasinya sendiri.

Rumah Karya Indonesia juga melakukan kegiatan-kegiatannya di luar dari kota Medan, seperti di daerah-daerah kabupaten, biasanya di daerah yang bersinggungan dengan Danau Toba. Dengan hal tersebut, dalam struktur organisasinya, Rumah Karya Indonesia juga membuat Koordinator Wilayah Kerja

Rumah Karya Indonesia, yang bertugas memelihara dan menjaga wilayah kerja organisasi ini agar tetap kondusif memunculkan daya tarik kearifan lokalnya.

Kemudian dilanjutkan dengan Anggota Biasa yang bertugas mengeksekusi seluruh kegiatan program Rumah Karya Indonesia yang sudah ditetapkan, Voluntir yang bertugas berpartisipasi aktif melaksanakan rangkaian kegiatan Rumah Karya Indonesia yang sudah terjalin kesepakatan aturan dan tata kerjanya, dan terakhir Simpatisan sebagai pendukung pelaksanaan program.

Menurut data penelitian penulis, semua yang masuk dalam struktur organisasi Rumah Karya Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama, yaitu berhak menjaga nama baik dan menjunjung tinggi harkat martabat Rumah Karya Indonesia, melaksanakan seluruh agenda kerja yang diamanahkan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, dan membangun keharmonisan komunikasi tim kerja, kemudian berkewajiban mendapat apresiasi dan penghargaan dari setiap agenda kerja yang dilakukan.

Dengan penjelasan di atas, struktur organisasi Rumah Karya Indonesia dapat digambarkan seperti pada bagan berikut ini:

Bagan 3.1: Struktur Organisasi Rumah Karya Indonesia