BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
C. Jenis Kegiatan Yang Berhubngan dengan Pluralisme
Di Edi Mancoro ini ada beberapa kegiatan yang berbeda dengan pesantren lain:
1. Diskusi Lintas Agama
Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun yang merupakan salah satu dari program pengurus. Bias dilaksanakan dalam rangka penutupan kegiatan “Asramanisasi Ramadhan” yang diadakan di Pondok Pesantren Edi Mancoro. Dalam diskusi ini dihadiri oleh para pemuda dari berbagai agama dan mendatangkan beberapa pembicara dari tokoh-tokoh agama diantaranya tokoh agama Islam, Hindu, Budha, dan Kristen. Acara ini di dimulai sekitar pukul 16.00 dan di akhiri dengan acara buka bersama.
Pembahasan yang dilakukan dalam kegiatan ini yaitu mengkaji suatu permasalahan yang ada dilihar dari sisi pandang suatu agama, sebagai tambahan informasi dan wawasan. Diskusi ini diadakan dengan harapan adanya keterbukaan antar peserta diskusi terhadap agama lain. Sehingga kedepannya tidak menjadi hal tabu lagi jika kelak hidup berdampingan antar agama.
89 2. Dialog Antar Pemuda
Kegiatan ini sebenarnya hanyalah tukar wacana, informasi, dan pengalaman keagamaan yang di wadahi dalam Forum Lintas Iman Muda yang di fasilitasi oleh Percik dan Pondok Pesantren Edi Mancoro. Seperti yang dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2014 dengan pembahasan mengenai kebudayaan dari persepekti agama-agama.
3. Life In Pesantren
Merupakan kegiatan yang di lakukan oleh berbagai instansi yang tujuan untuk berdiskusi mengenal Islam dengan cara tinggal serta mengikuti kegiatan yang ada di Pesantren Edi Mancoro. Beberapa tamu yang pernah life in pesantren ini diantaranya yaitu:
a) Kunjungan mahasiswa teologi Universitas Satya Wacana pada tahun 2010 mengadakan diskusi dan mengenal budaya-budaya yang ada di lingkungan pesantren
b) Tahun 2010 kunjungan siswa dari Australia sebanyak 20 orang selama satu malam dengan mengadakan diskusi. c) Tahun 2013 dari Interfaith Youth of Pilgrimage (IYP)
berjumlah 30 memperoleh pengalama keagamaan yang diperoleh dengan hidup bersama pemeluk agama lain.
90
d) Tahun 2013 dari EU Visitng berjumlah sekitar 15 orang, mengadakan diskusi baik mengenai agama dan hal-hal yang sifatnya umum.
e) Tahun 2014 kunjungan dari siswa Loyola sebanyak 10 orang selama 3 hari untuk saling berdiskusi dan mengetahui kehidupan yang ada di pesantren.
f) Tahun 2014 mahasiswa asing dari Universitas Satya Wacana Salatiga sebanyak 20 oramg untuk mengetahui bagaimana kehidupan yang ada di pesantren.
g) Tahun 2014 kunjungan dari mahaisiswa teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebanyak 8 orang dilakukan selama 3 hari untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman masalah agama, serta untuk mengetahui kehidupan yang ada di pesantren.
4. Forum Gedangan (FORGED)
Kehadiran forum gedangan bermula dari sebuah acara silaturrahmi SARA (suku-agama-ras-antargolongan) di wisma santri Edi Mancoro, Salatiga.Wisma santri ini lazimnya dipandang sebagai sebuah pesantren yang menempatkan KH.Mahfud Ridwan penggagas acara ini, sebagai pengasuhnya. Pesantren Edi Mancoro terletak di Desa Gedangan, Kec. Tuntang, Kab. Semarang. Silaturrahmi digelar di tengah situasi politik dan ekonomi di Tanah Air yang tak menentu pada tahun
91
1998. Cekaman krisis ekonomi yang sangat rendah. Di penghujung acara pertemuan, rupanya bukan sekedar menorehkan silaturahmi biasa, oleh karena forum ternyata berpuncuk pada keberhasilan merumuskan pandangan dan agenda kerja bersama dalam rangka mengantisipasi perkembangan situasi sosial, politik, ekonomi di tanah air yang semakin memburuk pada waktu.
Pada acara yang dihadiri puluhan aktivis dan pentolan dialog lintas iman di wilayah Salatiga dan sekitarnya itu juga dihadiri pengusaha Etnis Tionghoa, Tjandra Prasadja dan aktivis NGO Dr. Pradjarta dan pendeta Dr. Th. Sumarta (alm).
Nama lembaga ini diambil dari tempat diman forum ini di gelar: Forum Gedangan (ForGed). Dalam pertemua awal itu juga sekalian diidentifikasi seluruh segi krisis yang terjadi secara global, nasional, bahkan lokal dan bagaimana menentukan pijakan perencanaan aksi (Action Planning) bersama. Dalam pertemuan selanjutnya yang diadakan pada 27 Februari 1998, forum gedangan kemudian merumuskan agenda kerjanya secara tersetruktur. Forged juga memutuskan penjelasan misi dan posisi, dengan memperjelas jati dirinya sebagai ornop.
Untuk menangani program jangka panjang dan pendek, ForGed membentuk kepanitiaan yang sifatnya ad hoc, di
92
samping tetap sebagai pengawal berbagai ornap, pemda, dan
stiekeholders lainnya. Pertemuan itu juga memperjelas mitra
jaringan dan prioritas program menuju civilsociety.
Ada tiga program yang akan dilakukan yakni, menggerakkan aksi solidaritas dalam rangka mengatasi Kesulitan ekonomi bagi masyarakat marjinal, menggerakkan aksi solidaritas dalam rangka memperkuat rasa kebangsaan yang setara (baik antar suku, agama, atau golongan) dan dalam rangka otonomi daerah, dalam pemberdayaan masyarakat. (http://www.mocinpak.blogspot.com/2008/10/forum-gedangan- forged.html diakses pada tanggal 15 November 2015 pada pukul 09.37 wib)
D. Temuan Hasil Penelitian
1. Bentuk penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Pondok Pesantren Edi Mancoro menamkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam melalui berbagai kegiatan. Untuk mengetahui lebih jauh peneliti menanyakan bagaimana pembelajaran yang dilakukan:
“Santri diwajibkan mengikuti semua kajian yang jadwalnya
sudah dibuat oleh pengurus KDII mulai jam 18.45-20.00 wib”
93
Pembelajaran yang berlangsung formal yaitu di diadakan di KDII. Berlangsung setiap malam mulai jam 18.45 sampai 20.00 wib.setelah dirasa cukup kemudian peneliti mencari tahu mengenai materi yang diajarkan:
“Materi yang diajarkan yaitu mengenai Fiqih, Bahasa
Arab, Ilmu Alat (Nahwu Sorof), Tajwid, Akhlak, dan Tarikh
(sejarah).” W/KA/P/ 25-11-2014/21.25 WIB
Selain materi tersebut dari hasil pengamatan yang ditemukan ternyata pembelajaran yang dilakukan di pesantren ini tidak terbatas hanya pada itu. Akan tetapi ada pembelajaran bermasyarakat yang secara tidak langsung santri peroleh karena tinggal di tengah-tengah masyarakat dan seringnya bersinggungan dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan.
2. Wacana Pluralitas yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro Temuan penelitian yang ada menunjukkan adanya beberapa kegiatan yang berbentuk plurali. Banyak juga dikalangan luar jika mendengar kata Pesantren Edi Mancoro maka akan langsung tertuju dengan sikap pluralnya. Seperti yang disampaikan oleh M. Hanif.
“ pesantren itu tergantung dengan corak pemikiran dari kyainya,
ketika kyai banyak beraktivitas dengan kegiatan kemasyarakatan maka pesantren yang dipimpin pastilah akan berbaur dengan masyarakat disekitarnya, nah kebetulan bapak merupakan salah
94
seorang yang mengagas adanya Forum Gedangan, kemudian juga menjadi inisiator lintas iman sobat sehingga pesantren edi
mancoro terkenal dengan konsep pluralnya” W/MH/P/25-11- 2014/21.25 WIB
Sedangkan menurut salah seorang santri menyatakan bahwa:
“disini sering ada kunjungan berbagai lembaga yang berbeda
kepercayaan dan suku bangsa, kemudian mengadakan diskusi dengan santri, selain itu juga ada program pengurus tentang
diskusi lintas agama” W/RR/S/26-11-2014/10.15 WIB
Kegiatan yang telah didesain pengurus merupakan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan oleh seluruh santri. Rangkaian kegiatan yang telah terprogram melibatkan kepanitiaan dari santri dalam mendesain dan merancang kegiatan dengan detail. Akan tetapi ada juga kegiatan yang sifatnya insidental dimana santri hanya sebagai partisipan dalam kegiatan tersebut.
Menurut gus hanif “dalam kurikulum pembelajaran yang ada di Kddi tidak di desain mengenai sikap plural, akan tetapi memang
benar ada beberapa kegiatan dari santri dengan konsep plural”
W/KA/P/ 25-11-2014/21.25 WIB
Setelah dirasa cukup mengenai adanya kegiatan yang melibatkan agama lain maka peneliti memperdalam lagi mengenai bentuk kegiatannya apa saja:
95
“seperti ada forum gedangan, kemudian ada life in pesantren,
diskusi lintas agama, dan ada juga lintas iman sobat muda”
W/MH/P/25-11-2014/21.25 WIB
Setelah dirasa cukup peneliti memperdalam lagi mengenai kerjasama yang dilakukan pesantren:
“seperti dengan Percik, GKJ Sinode Salatiga, dan Uskup Agung
Semarang” W/MH/P/25-11-2014/21.25 WIB
Dari informasi yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa wacana pluralitas keberagamaan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro yaitu dengan diadakan berbagai kegiatan diskusi baik dari program kerja yang telah ditentukan maupun kegiatan insidental yang sifatnya hanya partisipan bagi santri.
3. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam melalui wacana pluralitas keberagamaan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Dari pengamatan yang telah dilakukan ada sesuatu yang berbeda di Pondok Pesantren Edi Mancoro di banding dengan pondok pesantren lain. Perbedaan tersebut terdapat pada sistem dan kegaitan yang diterapkan. Beberapa hal yang membedakan dengan pesantren-pesantren seperti yang disampaikan oleh salah seorang santri
“emmh kalo saya nyantri disini itu selain memperdalam agama Islam khususnya, selain itu juga belajar mengenai ilmu- ilmu umum yang berkaitan dengan realita yang ada di masyarakat
96
yang majemuk. Bagaimana berkumpul dengan orang dengan berbagai golongan terutma dengan agama lain, bagaimana bersikap dalam memahami perbedaan yang ada diantara
masyarakat” W/RR/S/27-11-2014/09.47 WIB
a. Adanya Pengakuan Keberagaman (plural)
Sebuah hal yang menarik dimana santri yang ada di pesantren ini diajarkan mengenai sebuah keberagaman. Dengan adanya berbagai kegiatan yang secara langsung melibatkan santri seperti adanya diskusi lintas agama, dan kunjungan dari berberapa pemeluk agama lain. Para santri dapat menjadi pengabdi terbaik
(fastabiqul al khairat) kepada Allah di dunia yang plural ini. Selain
itu dapat menjadi pengembangan ilmu pengetahuan dan saling memahami sesama ciptaan-Nya. Sebagai mana pendapat salah seorang santri.
b. Menghargai Kesetaraan atau Persamaan
Pesantren Edi Mancoro selain mengajarkan tentang adanya perbedaan dan keberagaman juga memberikan sebuah pemaparan akan pentingnya sebuah persamaan. Dalam persamaan inilah santri diberitahu mengenai tugasnya di pesantren ini yaitu untuk menuntut ilmu (tholabul ilmi) dan mentaati sebuah peraturan yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Selain itu fasilitas yang di berikan kepada santri sama sehingga tidak ada perbedaan antara
97
satu sama lain. karena, manusi diciptakan di dunia sama-sama sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin).
“disini semua yang nyantri diberlakukan sama baik kaya,
miskin, tua dan muda tidak ada perlakuan khusus, wong ngaji dan
tidur alasnya sama, peraturan juga berlaku sama” W/RR/S/27-11-
2014/09.47 WIB c. Toleransi
Dengan melihat realita yang ada dipesantren ini bahwa titik tekan yang ada sebagai pembeda dengan pesantren lain yaitu adanya kebebasan (toleransi) kepada semua santri untuk aktif dan kreatif dalam mengekspesikan dirinya dengan berbagai bentuk aktifitas dalam mempelajari ilmu pengetahuan baik organisasi yang ada di kampus maupun organisasi yang ada diluar kampus. Selain itu pesantren ini juga memberikan kebebasan (keterbukaan) kepada semua golongan, kelompok, dan komunitas baik dari muslim maupun non muslim untuk belajar di Pesantren Edi Mancoro meskipun hanya sesaat. Seperti halnya disampaikan oleh salah seorang santri bahwa
“disini enak kok meskipun di pondok kita masih bisa aktif
mengikuti kegiatan yang ada dikampus, soalnya diberi ijin 2 kali dalam sebulan yaitu ijin pulang dan ijin kegiatan, jadi meskipun di
pondok bisa menimba ilmu juga di kegiatan luar” W/PR/S/26-11-
98 d. Rasa Kemanusiaan
Dalam menanamkan rasa kemanusiaan pesantren ini juga memberikan pengajaran akan pentingnya ras kemanusiaan. yang mejadi titik tekan disini yaitu mencetak seorang santri yang nantinya akan menjadi pendamping umat (khadimil umat). Sehingga dapat membantu semua orang yang membutuhkan bantuan dalam menghadapi permasalaan yang dihadapi. Dengan adanya kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat seperti yang diungkapkan oleh salah seorang santri “bahwa dipesantren
ini sering mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat meskipun kegiatan-kegiatan kecil seperti membantu
masyarakat yang sedang mengadakan walimah, ta’ziyah ketika
ada yang meninggal, berjanjen, PHBI, perlombaan-perlombaan
hari kemerdekaan dan lain-lain”W/PR/26-11-2014/10.25 WIB
Dari informasi yang didapat dapat disimpulkan bahwa nilai- nilai Pendididkan Agama Islam yang berwawasan pluralisat keberagamaan di Pondok Pesantren Edi Mancoro antara lain, adanya pengakuan keberagaman (plural), sikap toleransi, rasa kemanusiaan, dan menghargai persamaan.
99 BAB IV PEMBAHASAN
A. Bentuk Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam
Dalam sebuah lembaga pendidikan sistem merupakan salah satu hal yang akan mendukung ketercapaian suatu pembelajaran. Tak kenal dimanapun lembaga pendidikan itu pastilah memiliki sistem yang telah dirancang secara matang yang akan menentukan kearah kesuksesan suatu lembaga pendidikan. Sistem yang dimiliki antara satu lembega pendidikan dengan lembaga pendidikan lain pastilah berbeda. Karena sebuah sistem diterapkan pastilah sudah mempertimbangkan segala aspek yang ada di sekitar lembaga pendidikan tersebut.
Menurut Rahardjo dalam Rahman (2011:162) menyatakan bahwa sistem pendidikan pesantren melahirkan jiwa yang menjadi karakteristik yang belum pernah dibangun oleh sistem pendidikan manapun. Setidaknya karakteristik tersebut terimplikasi dalam jiwa pesantren, yaitu : Persaudaraan, Tolong-menolong, Persatuan, Keikhlasan, Kesederhanaan , Kemandirian, Kebebasan, dan Pluralitas.
Sama juga dalam Pondok Pesantren Edi Mancoro juga ada sistem yang dilaksanakan menjadi bekal mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu dalam sebuah sistem juga digunakan untuk memberikan pengalaman dan tambahan materi sebagai pendukung dalam mencapai tujuan yang ada.
100
Sistem pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro tidaklah hanya terpaku pada pengkajian kitab-kitab kuning, akan tetapi ada juga pengajaran yang tidak hanya mengacu pada khasanah keilmuan dalam hal ini kitab dan buku semata melainkan pembelajaran yang langsung dapat dirasakan yaitu belajar bermasyarakat. Karena dalam pembelajaran bermasyarakat santri mendapatkan pembelajaran dari hasil pengamatan dari sebuah kejadian yang ada di sekitarnya yang kemudian akan disaring dan kemudian akan dijadikan sebuah teladan.
Selain itu di dalam bermasyarakat santri akan menjadi lebih peka terhadap sebuah permasalah yang ada di masyarakat. Seperti dengan banyaknya kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat dan juga melibatkan masyarakat. Dengan barlatih hidup bermasyarakat akan menjadikan santri sosok yang peduli terhadap lingkungan sekitar dan dapat menerapkannya ketika sudah kembali ke daerah masing-masing.
B. Wacana Pluralitas yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Pesantren Pesantren Edi Mancoro sejak awal berdiri sudah banyak bersinggungan dengan kegiatan-kegiatan yang berbau plural. Akan tetapi walaupun demikian lembaga pendidikan ini masih memegang sebuah prinsip metodologis yaitu memelihara tradisi-tradisi lama yang baik dan tidak meninggalkan tradisi baru yang lebih baik. Dengan prinsip yang ada santri dituntut untuk lebih berfikir kritis dan berwawasan lusa untuk dapat menjaga tradisi yang sudah ada dan mengembangkannya kearah yang lebih baik tentunya. Selain itu juga harus dapat menyikapi permasalahan-
101
permasalahan yang berkembang disekitarnya mengikuti perkembangan zaman yang terjadi sanggat pesat.
Keterbukaan Pondok Pesantren Edi Mancoro dalam menerima sebuah kenyataan bahwa banyak agama non musim yang tertarik untuk mendalami atau hanya untuk mengetahui ajaran-ajaran Islam di pondok pesantren. Hal ini memberikan gambaran bagai mana pesantren ini akan tetap memegang prinsip metodologis yang ada. Banyaknya kunjunggan dari berbagai agama dan kebudayaan ini dikarenakan terkenalnya pondok pesantren ini dengan pondok yang plural. Artinya banyak orang-orang di luar sana yang ketika mendengar nama Edi Mancoro makan akan langsung tertuju pada satu argument yaitu pondok yang mengakui adanya keanekararagaman atau plural.
Kunjungan-kunjungan yang ada tidak lepas dari adanya kerjasama yang ada di pondok ini. Seperti penuturan Gus Hanif yang menyataka bahwa di pondok ini menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga keagamaan lain seperti GKJ Sinode, Uskub Agung Semarang, dan juga kejasama dengan Percik.
Dari adanya kerjasama itu sehingga banyak kegiatan-kegiatan lintas iman ataupun lintas agama yang di bertempat di Pondok Pesantren Edi Mancoro. Meskipun santri hanya sebagai partisipan dari kegiatan diskusi yang ada akan tetapi juga ada sebuah kegiatan lintas iman yang telah di rancang dan diadakan oleh pengurus pondok. Kegiatan yang ada hubungannya dengan adanya kerjasma ini yaitu adanya diskusi yang
102
diadakan oleh teman-teman dari sobat muda, teman-teman dari berbagai lembaga, maupun teman-teman dari pengurus pondok sendiri yang mendatangkan tamu dari berbagai lintas agama.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang melibatkan santri dengan berintreaksi kepada orang yang non muslim yang berasal dari berbagai wilayah dapat lebih membuka wawasan santri agar dapat berdampingan dengan realita kemajemukan yang akan dijumpai di kehidupan yang sebenarnya.
Kegiatan-kegiatan yang pluralis yang ada di Edi Mancoro seperti adanya diskusi lintas iman, life in pesantren, dan adanya kunjungan dari berbagai lembaga agama. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan agama.
Dari realita yang ada Pondok Pesantren Edi Mancoro menerapkan konsep pembelajaran berwawasan pluralitas keberagamaan. Jika menengok kembali visi, misi dan tujuan pesantren ini didirikan yaitu:
Visi: untuk menyiapkan santri menjadi pendamping umat atau masyarakat. Misi: membentuk santri yang memiliki wawasan keagamaan mendalam, berwawasan kebangsaan, dankemasyarakatan dalam konteks ke-Indonesaan yang plural. Serta membentuk santri yang peduli dan berkemampuan melakukan pendampingan masyarakat secara luas, untuk menyiapkan santrinya menjadi pendamping masyarakat yang berwawasan kebangsaan yang plural. Tujuan: untuk membina santri memiliki keilmuan baik keagamaan maupun keilmuan kebangsaan dan kemasyarakatan.
103
Dari landasan yang ada Pondok Pesantren Edi Mancoro dijadikan sebuah pusat dalam mengeluarkan gagasan dan menentukan sebuah kebijakan dalam membantu kerja dari pemerintahan dalam menghadapi sebuah problem yang dihadapi oleh masyarakat. Sehingga banyak kegiatan-kegiatan yang diadakan di pesantren ini yang menghasilkan sebuah kesepakatan bersama antara pemeluk agama, elemen masyarakat dan lembaga Islam maupun non muslim yang bertujuan untuk kepentingan bersama dalam memecahkan problem yang terjadi dimasyarakat. Sehingga banyak komunitas yang didirikan dari pesantren ini seperti Forged, Sobat, Sobat Muda, dan KBKS. Sampai saat inipun masih banyak kunjungan- kunjungan dari berbagai lembaga untuk mengenal bagaimana kehidupan Islam di pondok pesantren.
C. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Melalui Wacana Pluralitas Ke- beragamaan Yang Ada Di Pondok Pesantren Edi Mancoro
Dari berbagai kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Edi Mancoro didesain sebagai wahana pengembangan diri para santri yang ada. Apa yang di miliki sebagai hakikat menjadi seorang santri dan juga pelajar kegiatan-kegiatan tersebut mendorong untuk berwawasan luas dan terbuka dengan berbagai gejolak yang ada di sekitarnya. Garis besar dari Nilai- Nilai Pendidikan Agama Islam ada 3 yaitu: akidah, ibadah dan akhlak.
1. Keimanan atau akidah
Aqidah adalah sebuah konsep yang mengimani manusia seluruh perbuatan dan prilakunya dan bersumber pada konsepsi
104
tersebut. Aqidah Islam dijabarkan melalui rukun iman dan berbagai cabangnya seperti tauhid ulluhiyah atau penjauhan diri dari perbuatan syirik, aqidah islam berkaitan pada keimanan. Akidah dalam syari‟at Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah, Tuhan yang wajib disembah; ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat, yaitu menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya dan perbuatan dengan amal shaleh. Akidah demikian itu mengandung arti bahwa dari orang yang beriman tidak ada dalam hati atau ucapan di mulut dan perbuatan, melainkan secara keseluruhan menggambarkan iman kepada Allah. Yakni tidak ada niat, ucapan dan perbuatan yang dikemukakan oleh orang yang beriman kecuali yang sejalan dengan kehendak dan perintah Allah serta atas dasar kepatuhan kepada-Nya (Syafa‟at 2008: 53). Penanaman keyakinan terhadap akidah agama Islam terhadap ini tidak hanya menjadi pengetahuan semata, akan tetapi nilai-nilai akidah tersebut dapat diimplementasikan dalam kehidupan seehari-hari. Maka ketika dihadapkan dengan realita plural yang ada atupun ketika bersama dengan pemeluk agama lain hendaknya berpegang teguh kepada akidah yang dipercayai. Seperti dalam surat Ali-Imran ayat 19:
ُملاْسلإا َِّللَّا َدْنِع َنيِّدلا َّنِإ
105
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…”
2. Ibadah
Ibadah merupakan suatu wujud perbuatan yang dilandasi oleh rasa pengabdian kepada Allah Swt. Keimanan merupakan pundamen, sedangkan ibadah merupakan manisfestasi dari keimanan tersebut (Aswil, 1999:18). Jadi dapat dipahami bahwa ibadah merupakan ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan, karena ibadah merupakan bentuk perwujudan dari keimanan. Dengan demikian kuat atau lemahnya ibadah seseorang ditentukan oleh kualitas keimannya. Semakin tinggi nilai ibadah yang dimiliki seseorang maka akan semangkin tinggi pula keimanan seseorang. Jadi ibadah adalah cermin atau bukti nyata dari aqidah. Dalam pembinaan ibadah ini, firman Allah Swt dalam surat Taha ayat 132:
ْرُمْأَو
ىَوْقَّ تلِل ُةَبِقاَعْلاَو َكُقُزْرَ ن ُنَْنَ اًقْزِر َكُلَأْسَن لا اَهْ يَلَع ِْبَِطْصاَو ِةلاَّصلاِب َكَلْىَأ
“Dan perintah kanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberikan rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertaqwa”
3. Akhlak
Pendidikan Akhlak adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama, karena yang baik menurut akhlak, baik pula menurut agama, dan yang buruk menurut ajaran
106
agama buruk juga menurut akhlak. Akhlak merupakan realisasi dari keimanan yang dimiliki oleh seseorang.
Akhlak berasal dari bahasa arab jama‟ dari khuluqun, yang secara bahasa berarti: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Hamzah, 1996:11). Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa akhlak sangat berhubungan dengan aktivitas manusia baik dalam hubungannya dengan dirinya, orang lain serta lingkungan sekitarnya. Ahmad Amin merumuskan “akhlak ialah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat (Hamzah, 1996: 11).