• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mengajukan pembahasan dari beberapa bab yang berisi keterkaitan tentang studi kasus yang penulis teliti. Penulis memberikan gambaran sebagai berikut:

BAB 1 berisi pendahuluan, yang memuat: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah dan metode penelitian. Metode penelitian berisi: pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisi data, pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II berisi tentang kajian pustaka,merupakan bagian yang menjelaskan landasan teori yang berhubungan dengan penelitian yang memuat mengenai pengertian, dasar, tujuan, metode Pendidikan Agama Islam, pengertian pluralitas keberagamaan, sejarah pluralitas, ialam dan pluralitas agama.

BAB III berisi paparan data dan temuan peneliti menjelaskan tentang gambaran umum pondok pesanteren edi mancoro (letak geograis, sejarah, profil, visi, misi, tujuan, garis perjuangan, unsur pesantren, dan model pendidikan. Serta melaporkan hasil temuan penelitian yang ada tentang

33

bentuk kegiatan plural yang ada di pesantren edi mancoro, serta nilai –nilai Pendidikan Agama Islam yang ada.

BAB IV merupakan pembahasan hasil penelitian di lapangan yang dipaparkan dalam bab III. Pembahasan dilakukan untuk menjawab masalah penelitian yang diintegrasikan ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dengan jalan menjelaskan temuan penelitian dalam konteks khasanah ilmu.

Bab V merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dari pembahasan hasil penelitian dan saran-saran dari penulis sebagai sumbangan pemikiran berdasarkan teori dan hasil penelitian yang telah diperoleh dan daftar pustaka.

34 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata pendidikan, agama dan Islam. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata didik, dengan diberi awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti proses pengubahan sikap dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Sedangkan arti mendidik itu sendiri adalah memelihara dan memberi latihan(ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan dipandang sebagai faktor penting dalam menumbuhkan kesadaran nilai-nilai kehidupan.

Kata “Islam” dalam “Pendidikan Agama Islam” menunjukkan suatu makna tersendiri yakni pendidikan yang berdasarkan dengan Agama Islam. Menurut Hasan Langgulung yang dikutip oleh Nata(2010:28) pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada anak-anak atau orang yang sedang dididik. Sedangkan Menurut pendapatnya Ahmad Tafsir deinisi pendidikan menurut Islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung dalam istilah ta’lim,

35

Menurut Abdurrahman Al-Nawawi yang dikutip Tafsir (2008:29) merumuskan definisi pendidikan justru dari kata at-tarbiyah.

Dari segi bahasa, menurut pendapatnya, kata at-tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu: pertama, kata rabba-yarbu-tarbiyatan yang berarti bertambah, bertumbuh, seperti yang terdapat didalam Al-Qur‟an Surat Ar-Rum ayat 39. Maka kata At-Tarbiyah bias berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik baik secara fisik, sosial maupun spiritual; kedua, kata rabaa-

yarbi-tarbiyatan yang berarti tambah dan menjadi besar atau dewasa.

Dengan mengacu kata yang kedua itu maka tarbiyah berarti usaha menumbuhkan dan mendewaskan peserta didik baik secara fisik, sosial, maupun spiritual; ketiga, dari kata rabba-yarubbu-tarbiyatan

yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, mememlihara. Maka kata tarbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam hidupnya.

Sedang kata at-ta’lim memiliki makna doktrinasi pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah. At-

ta’lim merupakan tranmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa ada batasan dan ketentuan tertentu. Sehingga terjadi

tazkiyah an-nafs (penyucian diri atau pembersihan diri) diri manusia

dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia itu berbeda dalam kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta

36

mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketauinya. Kata at-ta’lim dalam arti pengajaran banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat non formal. Pengertian tersebut menunjukkan at-ta’lim memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari pada kata at-tarbiyah.

Kata at-ta’dib berasal dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban

yang dapat berarti beradab, bersopan santun, tata karma, budi pekerti, adab, akhlak, moral dan etika. Melalui kata at-ta’dib menjadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama ke dalam diri manusia, serta menjadi dasar bagi terjadinya proses Islamisasi ilmu pengetahuan.

Dari pengertian tersebut sebenarnya pengertian dari pendidikan Islam sebenarnya hanya berbeda dalam penekanan atau keutamaannya saja. Kata at-tarbiyah mempunyai pengertiann pendidikan yang memberikan penekanan di masa anak-anak dan juga mencakup dalam hal pemeliharaannya, terutama pemeberian nafkah, mencukupi kebutuhan hidupnya, dan lain-lain. Artinya mensejahterakan kehidupan pada anak. Kemudian ta’lim merupakan pendidikan yang memfokuskan pada transformasi keilmuan, baik berupa sains, teknologi, ilmu-ilmu sosial, pengetahuan budaya ataupun ilmu-ilmu keagamaan. Sedangkan pembentukan prilaku seseorang lebih ditekanakan pada pengertian pendidikan yang diambil dari kata at-

37

adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif.

Sementara itu, pengertian agama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kepercayaan terhadap Tuhan (dewa dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Agama adalah aturan perilaku bagi umat manusia yang sudah ditentukan dan dikomunikasikan oleh Allah melalui orang-orang pilihannya yang dikenal sebagai utusan-utusan, rasul-rasul, atau nabi-nabi(Safaat, 2008:13). Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa agama adalah suatu peraturan yang bersumber dari Allah yang berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan pencipta maupun manusia dengan sesamanya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan mengharap keridaan dari-Nya.

Islam secara bahasa berasal dari kata aslama-yuslimu-Islaman

yang berarti damai, aman, dan sentosa. Sedangkan pengertian Islam sebagai agama adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, berpedoman pada kitab suci Al-Qur‟an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah (kamus besar bahasa Indonesia). Pengertian Islam yang demikian sesuai dengan tujuan ajaran Islam yaitu untuk mendorong manusia patuh dan tunduk kepada Tuhan, sehingga terwujud keselamatan, kedamaian, aman dan sentosa. Serta sejalan

38

pula dengan misi ajaran Islam yaitu menciptakan kedamaian di muka bumi dengan mengajak manusia untuk patuh dan tunduk kepada Tuhan (Nata, 2010:32).

Dari penjabaran yang ada diatas Darajat(1996:28) menyebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar setelah selesai dari pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life). Sedangkan menurut M. Arifin seperti yang dikutip oleh Safaat(2008:16) mendefinisikan pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia terhadap kehidupan yang lebih baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai degan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar).

Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat. Dalam Pendidikan Islam segala komponen dan aspek yang ada didasarkan pada ajaran Islam.

2. Dasar Pendidikan Agama Islam

Kata dasar dapat berarti sesuatu yang menjadi landasan, pokok, atau penting. Kosa kata dasar sering digunakan dalam berbagai

39

kegiatan baik fisik maupun non fisik, yang intinya adalah sesuatu yang berada di bawah yang selanjutnya menopang sebuah kegiatan atau pekerjaan.

Dasar ideal Pendidikan Islam adalah identik dengan ajaran Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Al- Qur‟an dan Hadis. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk :

a. Al-Qur‟an

Al-Qur‟an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai pedoman hidup manusia, bagi yang membaca merupakan suatu ibadah dan mendapat pahala.

Pengertian Al-Qur‟an dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia.

Al-Qur‟an merupakan firman Allah yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur‟an merupakan sumber pendidikan yang lengkap berupa pendidikan sosial, akhlak, akidah, ibadah dan muamalah.

Al-Qur‟an merupakan firman Allah yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu sebagai petunjuk bagi orang-orang

40

yang bertakwa. Selain itu Al-Qur‟an juga sebagai penawar atau obat dari beberapa penyakit, dan sebagai petunjuk arah ketika seorang hamba berada dalam kesesatan.

b. Sunnah (Hadits)

Dasar yang kedua selain Al-Qur‟an adalah sunnh Rasulullah. Amalan yang dikerjakan Rasulullah saw dalam proses perubahan hidup sehari-hari menjadi sumber utama pendidikan Islam karena Allah swt menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya.

Sunnah adalah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasulullah. Dimaksud dengan pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasulullah dan beliau memberikan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah berisi petunjuk untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertaqwa.

Sunnah mencerminkan prinsip manifestasi wahyu dalam segala perbuatan, perkataan, dan taqrir nabi. Konsep dasar pendidikan yang dicontohkan Nabi Muhammad saw menurut Ramayulis sebagai berikut:

1) Disampaikan sebagai rahmatan lil’alamin (Qs. Al-Anbiyak

107)

41

3) Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak (Qs. Al-Hijer 9)

4) Kehadiran nabi sebagai evaluator atau segala aktivitas pendidikan (Qs. As Syu’ara 48)

5) Perilaku nabi sebagai figur identifikasi (uswatun hasanah) Antara Al-Qur‟an dan sunah terdapat perbedaan yang cukup prinsipal meskipun keduanya adalah sama-sama sebagai sumber hukum Islam. Yaitu:

1) Al-Qur‟an nilai kebenarannya adalah mutlak sedangkan hadits adalah relatif, nisbi (zhanni) kecuali hadits-hadits mutawatir.

2) Seluruh ayat Al-Qur‟an mesti dijadikam sebagai pedoman hidup, tetapi Tidak semua hadits mesti dijadikan sebagai pedoman hidup. Sebab, hadits ada yang sahih, dhaif (lemah) dan seterusnya.

3) Al-Qur‟lan sudah pasti autentik lafal dan maknanya sedang hadits tidak demikian.

4) Apabila Al-Qur‟an bicara tentang masalah-masalah akidah atau hal-hal yang gaib, maka setiap muslim wajib mengimaninya. Tetapi tidak demikian apabila masalah- masalah tersebut diungkapkan oleh hadits (Safaat, 2008:23-25).

42

Menurut pendapat Nata(2010:99) dilihat dari sifat dan sumbernya dasar pendidikan Islam terdiri dari dasar keagamaan, filsafat dan ilmu pendidikan. Dasar keagamaan bersumber dari ajaran agama (Al-Qur‟an dan Hadits), dasar filsafat berasal dari pemikiran filsafat, dan dasar ilmu pengetahuan berasal dari hasil penelitian terhadap fenomena alam dan fenomena sosial.

Dasar keagamaan berfungsi memberian nilai keislaman dan akhlak bagi kegiatan pendidikan. Dasar filsafat memberikan dasar dalam perumusan visi, misi, tujuan, dan berbagai aspek lainnya tentang pendidikan. Adapun dasar ilmu pengetahuan memberikan masukan bagi penyusunan berbagai komponen pendidikan. Dasar ilmu penegetahuan ini terdiri dari ilmu psikologi, ilmu sosial, ilmu budaya, ilmu ekonomi, ilmu politik, dan ilmu administrasi.

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan secara umum adalah mewujudkan perubahan positif yang diharapkan ada pada peserta didik setelah menjalani proses pendidikan, baik perubahan pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun pada kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya di mana subjek didik menjalani kehidupan. Para ahli pendidikan telah memberikan definisi mengenai tujuan pendidikan Islam sebagaimana yang dikutip oleh Roqib (2009:28-29) berikut ini:

43

a. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia akhirat, persiapan untuk mencari rizki, menumbuhkan semngat ilmiah, dan menyiapkan profesionalisme subjek didik.

b. Abd At-Rahman An-Nahlawi berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku serta perasaan mereka berdasarkan Islam yang dalam proses akhirnya bertujuan untuk merealisasikan ketaatan dan kehambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat.

c. Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mewujudkan manusia yang mampu beribadah kepada Allah, baik dengan pikiran, amal, maupun perasaan.

d. Umar Muhammad At-Taumi As-Syaibani mengemukakan bahwa tujuan tertingi dari pendidikan Islam adalah persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Menrutnya, tujuan pendidikan adalah untuk memproses manusia yang siap untuk berbuat dan memakai fasilitas dunia ini guna beribadah kepada Allah, bukan manusia yang siap pakai dalam arti siap dipakai oleh lembaga, pabrik atau yang lainnya.

44

Dari penjabaran diatas bisa disimpukan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk membekali manusia sehigga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

4. Metode Pendidikan Agama Islam

Metode disini adalah cara yang digunakan oleh pendidik untuk menyampaikan materi kepada anak didik. Dalam pendidikan, semua aspek kelembagaan dan proses belajar mengajarnya harus menerapkan sistem dan metode yang tepat agar tujuan dari pendidikan dapat tercapai. Menurut Abdullah Nashih Ulwan dalam Safaat (2008:40-47) menyatakan bahwa teknik atau metode Pendidikan Agama Islam ada lima macam, yaitu:

a. Pendidikan dengan keteladanan

Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif

yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mepersiapkan dan membentuk anak di dalam moral, spiritual dan social hal ini karena pendidik adalah contoh yang paling terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru dalam tindak tanduk baik disadari atau tidak. Allah telah menunjukkan contoh keteladanan dari kehidupan nabi Muhammad mengandung nilai

pedagogis bagi manusia (para pengikutnya). Seperti dalam

Surat Al-Ahzab ayat 21:

َهللَّا وُج ْرَي َناَك ْهَمِل ٌةَنَسَح ٌة َوْسُأ ِ هللَّا ِلوُسَر يِف ْمُكَل َناَك ْدَقَل

َر ِخلآا َم ْوَيْلا َو

45

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Jelas dalam ayat ini diterangkan bahwa rasul menjadi suri tauladan atau contoh bagi para pengikutnya yang ada didunia.

b. Pendidikan dengan adat kebiasaan

Kebiasaan merupakan peran penting dalam kehidupan manusia, karena menghemat banyak kekuatan manusia. Sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dilapangan seperti untuk bekerja, memproduksi, dan mencipta.

Islam mempergunakan kebiasaa itu sebagai salah satu teknik pendidikan, dengan mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi suatu kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan baik tanpa banyak tenaga dan tanpa banyak kesulitan.

c. Pendidikan dengan nasihat

Nasihat dapat membukakan mata pada hakekat sesuatu, mendorongnya menuju situasi luar, menghiasinya dengan akhlak yang mulia, dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.

46

Dimaksud dengan pendidikan dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam hal akidah dan moral, persiapan spiritual dan sosial, disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmiahnya.

Metode pendidikan anak dengan cara memberikan perhatian kepada anak akan memberikan dampak positif, karena dengan metode ini si anak merasa dilindungi, diberi kasih sayang karena ada tempat untuk mengadu baik suka maupun duka. Sehingga anak tersebut menjadi anak yang berani untuk mengutarakan isi hatinya atau permasalahan yang hadapi kepada orang tuanya atau gurunya.

e. Pendidikan dengan memberi hukuman

Pada dasarnya, hukum-hukum syariat Islam yang lurus dan adil, prinsip-prinsipnya yang universal, berkisar di sekitar penjagaan berbagai keharuasan asasi yang tidak bisa di lepas oleh manusia. Manusia tak bisa hidup tanpa hukum. Dalam hal ini, para imam mujtahid dan ulama‟usul fiqh membatasi pada lima perkara. Mereka menamakannya sebagai al-kulliyat al-

khamsah (lima prinsip universal), yakni menjaga agma,

menjaga jiwa, menjaga kehormatan, menjaga akal, dan menjaga harta benda.

47

Janganlah menghukum atau memukul anak sampai si anak menjerit-jerit, melolong-lolong yang tentu saja amat sakit. Karena, para ahli berpendapat bahwa hukuman yang kejam akan membuat anak menjadi penakut, rendah diri, dan akibat akibat lain yang negatif seperti sempit hati pemalas, dan pembohong. Hukuman itu harus adil (sesuai dengan kesalahan) anak harus mengetahui mengapa dia di hukum selanjutnya hukuman itu harus membawa anak kepada kesadaran atas kesalahannya.hukuman jangan meninggalkan dendam pada anak.

Selain dalam Muhaimin (59-68) model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dikemukan oleh para ahli adalah sebagaai berikut:

a. Model Dikotomi

Model ini memandang kehidupan yang ada dengan sangat sederhana. Segala hal hanya dipandang dari dua sisi, seperti laki-laki dan perempuan, ada dan tidak ada, pendidikan agama dan non agama dan lain sebagainya. Model ini berkembang pada periode pertengahan dalam sejarah pendidikan Islam.

b. Model Mekanisme

Model ini memamdang kehidupan dari berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan

48

pengembangan seperangkat nilai-nilai kehidupan yang terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi dan nilai-nilai yang lain. Model tersebut dikembangkan lembaga pendidikan yang bukan berciri khas agama Islam, namun mungajarkan mata pelajaran agama Islam.

c. Model Sistemik

Dalam konteks metode ini pendidikan Islam dipandang sebagai aktifitas yang terdiri atas komponen- komponen yang hidup bersama dan bekerja sama dengan tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius. Model ini diterapkan oleh madrasah atau sekolah swasta Islam unggulan.

B. PLURALALITAS

1. Pengertian Pluralitas Keberagamaan

Pluralitas sesungguhnya merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari terlebih di Indonesia sendiri karena merupakan Negara pluralistik dimana terdapat beragam etnik, kultur dan agama yang beragam. Pluralitas juga menjadi suatu yang tidak mungkin dipungkiri, yaitu suatu hakikat perbedaan dan keragaman yang timbul semata karena memang adanya kekhususan dan karakteristik yang diciptakan Allah swt (Thoha, 2005:207). Sebagai mana dijelaskan dalam Al- Qur‟an Surat Hud ayat 118-119 yang berbunyi:

49

ُّبَر َءاَش ْوَلَو

َيِفِلَتُْمُ َنوُلاَزَ ي لاَو ًةَدِحاَو ًةَّمُأ َساَّنلا َلَعََلَ َك

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”

ْتََّتََو ْمُهَقَلَخ َكِلَذِلَو َكُّبَر َمِحَر ْنَم لاِإ

ِساَّنلاَو ِةَّنِْلَا َنِم َمَّنَهَج َّنلأْملأ َكِّبَر ُةَمِلَك

َيِعَْجَْأ

Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”

Kata pluralitas dan pluralisme sering kali digunakan bersamaan akan tetapi makna dari kata ini berbeda. Pluralitas artinya kemajemukan atau sifat kemajemukan. Kemajemukan merupakan sifat dan realitas masyarakat Indonesia yang tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan bangsa Indonesia itu sendiri, karena letak geografisnya yang berada di persimpangan jalan antara Benua Asia dan Australia dan lautan Pasifik dan lautan Hindia. Oleh karena itu, untuk hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia haruslah umat beragama bersedia menerima realitas kemajemukan tersebut. Keanekaragaman janganlah dipandang sebagai laknat, melainkan kehendak tuhan untuk menjadi berkat untuk saling kritis dan mengayakan antara satu dengan yang lain demi kebaikan bersama (Zainuddin, 2010:193).

50

Ragam agama yang ada di Indonesia telah diakui sejak dulu oleh masyarakat. Adapun agama yang diakui di Indonesia yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Akan tetapi pada masa pemerintahan presiden Gus Dur agama Kong Hucu diakui menjadi salah satu agama yang ada di Indonesia. Adanya pengakuan agama ini menjadikan masyarakat Indonesia bebas dalam menentukan agamanya masing-masing. Jaminan kebebasan untuk memeluk agama tertuang di dalam UUD pada pasal-pasal berikut. Pasal 28E Ayat (1) menegaskan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Hak kebebasan beragama juga dijamin dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Dengan adanya jaminan kebebasan beragama tersebut maka masyarakat berhak menentukan agamanya sesuai apa yang diyakini tanpa suatu paksaan.

Yuli Agung seorang pendeta membedakan antara istilah pluralism dan pluralitas. Menurutnya, pluralism agama adalah paham dimana orang menentukan sikap dalam memahami agama-agama. Bahwa agama-agama memang tumbuh dalam realitas yang berbeda. Karena itulah dengan paham pluralism, orang mengakui kebenaran dalam ajaran masing-masing agama. Sementara pluralitas adalah realitas keberagamaan itu sendiri. Realitasnya adalah bahwa keberagamaan agama itu tidak hanya diluar agama tapi juga di dalam

51

tubuh agama itu sendiri. Di sini dapat dikadakan ada pluralitas eksternal dan internal. Pluralitas eksternal adalah melihat agama- agama diluar agamanya sendiri, misalnya Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan seterusnya. Sedangkan pluralitas internal adalah realitas keberagamaan yang ada di dalam tubuh agama itu sendiri, misalnya di dalam Kristen ada banyak realitas kelompok-kelompok Kristen yang

Dokumen terkait