BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD
B. Jenis Pendapatan dalam APBD
Penerimaan pemerintah daerah terdiri dari: (1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), (2) Dana Perimbangan serta (3) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
Kebijakan fiskal pada pendapatan daerah difokuskan pada peningkatan pendapatan daerah dengan menggali dan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan yang sesuai dengan kewenangan daerah. Total realisasi pendapatan sesuai dalam rekapitulasi LRA APBD Aceh tahun 2018 adalah sebesar Rp38,91 triliun atau 94,08 persen dari target pendapatan, dengan rincian dan perkembangannya sesuai dalam tabel III.2.
Pada dua tahun terakhir, Dana Perimbangan masih menjadi sumber pendapatan utama dalam kerangka APBD di Aceh. Terlihat bahwa pada tahun 2018 jumlah dana perimbangan dari pemerintah pusat yang sudah ditransfer ke seluruh pemerintah daerah di Aceh adalah sebesar Rp20,96 triliun atau 53,87 persen dari total realisasi pendapatan di tahun 2018. Angka tersebut mengalami penurunan dibanding jumlah dana perimbangan yang telah direalisasikan di tahun
“Tahun 2018,baik pendapatan maupun belanja APBD sama-sama mengalami penurunan nominal realisasi dibandingkan tahun sebelumnya. ”
“Dana Perimbangan masih menjadi sumber pendapatan utama dalam kerangka APBD di Aceh. ” “Pada APBD Aceh tahun 2018, baik pendapatan maupun belanja mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. ”
komponen, yaitu Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Alokasi terbesar yaitu DAU dengan total alokasi pada tahun 2018 sebesar Rp15,27 triliun atau sebesar 68,93 persen dari total dana perimbangan 2018, dengan realisasi penyaluran sebesar 91,33 persen.
Uraian 2017 2018
Pagu Realisasi Realisasi % Pagu Realisasi Realisasi %
Pendapatan 47.071,89 44.500,54 94,54% 41.362,68 38.912,99 94,08% PAD 5.358,28 4.657,68 86,92% 5.448,86 4.580,85 84,07% Dana Perimbangan 23.122,14 21.641,47 93,60% 22.163,32 20.961,50 94,58% DBH 2.471,55 1.441,25 58,31% 1.101,20 1.760,60 159,88% DAU 14.670,58 14.670,58 100,00% 15.277,38 13.953,16 91,33% DAK 5.980,01 5.529,64 92,47% 5.784,74 5.247,74 90,72%
Dana Otsus dan Penyesuaian 8.697,96 8.697,96 100,00% 8.433,21 8.029,79 95,22% Transfer Dana Desa 4.892,57 4.886,89 99,88% 4.459,40 4.456,72 99,94% Lain-lain Pendapatan yang Sah 5.000,94 4.616,54 92,31% 857,89 884,13 103,06%
Dari komponen tersebut, DAU mengalami peningkatan dalam jumlah alokasi dari tahun sebelumnya. Sedangkan DAK dan DBH mengalami penurunan alokasi jika dibandingkan dengan tahun 2017. Secara persentase realisasi penyaluran, DBH mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2018 persentase penyaluran DBH di Aceh mencapai 159,88 persen, naik sangat signifikan dari tahun sebelumnya yang sebesar 58,31 persen.
Proporsi terbesar berikutnya yaitu Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Aceh merupakan salah satu dari 3 Provinsi di Indonesia yang menerima alokasi dana otonomi khusus, selain Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Tercatat alokasi untuk dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian untuk Provinsi Aceh pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp8,43 triliun dengan realisasi penyaluran 95,22 persen.
Ketergantungan Aceh terhadap kucuran dana transfer dari Pemerintah Pusat terhitung masih sangat tinggi. Tercatat di tahun 2018 total pendapatan transfer untuk seluruh pemerintah daerah di Aceh (Dana Perimbangan, Dana Otsus dan Penyesuaian, dan Alokasi Dana Desa) memiliki proporsi sebesar 85,96 persen. Sedangkan disisi lain, rasio proporsi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh pada APBD tahun
Sumber: BPKA, Simtrada DJPK, 2019 (diolah)
“Ketergantungan Aceh terhadap kucuran dana transfer dari Pemerintah Pusat terhitung masih sangat tinggi”
Tabel III.2
Jenis Pendapatan APBD Kab/Kota dan Provinsi di Aceh (dalam miliar rupiah)
Aceh merupakan salah satu dari 3 Provinsi di Indonesia yang menerima alokasi dana otonomi khusus “Pada tahun 2018, DAK dan DBH mengalami penurunan alokasi, tetapi DBH mengalami kenaikan persentase realisasi yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya”
2.278,82 246,27 231,89 179,45 172,00 169,64 161,03 151,96 150,50 121,34 83,42 66,84 65,60 62,06 59,56 58,62 57,40 57,13 56,82 55,76 30,04 24,03 23,92 16,73 0,00 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00 2.500,00 Provinsi Aceh Banda Aceh Aceh Utara Bireuen Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Besar Aceh Selatan Aceh Barat Langsa Aceh Barat Daya Bener Meriah Lhokseumawe Simeulue Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Sabang Aceh Jaya Aceh Timur Aceh Gayo Lues Aceh Singkil Aceh Tenggara Subulussalam PAD: 11,77% Dana Transfer: 85,96% Lain-lain Pendapatan y ang Sah: 2,27% Lain-lain PAD y ang Sah: 50,71% Pajak Daerah: 37,38% Hasil Pengelolaan Kekay aan Daerah y ang Dipisahkan:
6,00%
Retribusi Daerah: 5,91%
2018 hanya sebesar 11,77 persen dengan total realisasi sebesar Rp4,58 triliun. Rasio PAD terhadap total pendapatan daerah pada tahun 2018 sedikit mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2017. Pada tahun 2017 tercatat rasio PAD terhadap total pendapatan Aceh yaitu sebesar 10,47 persen dengan total realisasi sebesar Rp4,65 triliun.
Jika dilihat dari komposisinya, PAD Aceh pada tahun 2018 terdiri dari Pajak Daerah dengan total realisasi sebesar Rp1,71 triliun, Retribusi Daerah dengan realisasi sebesar Rp270,53 miliar, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan dengan realisasi sebesar Rp274,86 miliar, dan Lain-lain PAD yang sah menjadi kontributor terbesar yang memiliki rasio terhadap total PAD tahun 2018 sebesar 50,71% dengan nominal realisasi sebesar Rp2,32 triliun.
Apabila diuraikan per kabupaten/kota dan provinsi, terlihat bahwa realisasi terbesar yaitu pada PAD Provinsi Aceh, dengan total realisasi sebesar Rp2.278,82 miliar. Kota Banda Aceh menjadi wilayah kabupaten/kota dengan realisasi PAD tertinggi di tahun 2018 yaitu
Grafik III.1
Realisasi PAD per Kab/Kota dan Provinsi di Aceh Tahun 2018 (dalam miliar rupiah)
Sumber: BPKA, Simtrada DJPK, 2019 (diolah)
“Dalam PAD per Kabupaten/Kota di Aceh, Kota Banda Aceh menjadi daerah dengan PAD tertinggi, sementara Kota Subulussalam menjadi daerah dengan PAD
realisasi sebesar Rp231,89 miliar, dan Kabupaten Bireuen dengan jumlah realisasi sebesar Rp179,45 miliar. Realisasi PAD terkecil yaitu Kota Subulussalam dengan realisasi PAD tahun 2018 hanya sebesar Rp16,73 miliar.
Perhitungan dari kemampuan PAD terhadap belanja pemerintah daerah, menunjukkan bahwa kontribusi PAD untuk membiayai belanja daerah pada tahun 2018 hanya mencapai 11,77 persen. Rasio tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang sebesar 10,47 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian pemerintah daerah dalam membiayai daerahnya sedikit meningkat namun tidak dalam kondisi yang baik. Artinya dengan rasio yang hanya sekitar 11 persen, hal ini masih harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kinerjanya guna mendongkrak pendapatan daerah. Tingkat kemandirian daerah berdasarkan rasio PAD terhadap belanja daerah dari setiap pemerintah daerah di Aceh tergambar pada grafik III.2 berikut
Grafik III.2 diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2018 tingkat kemandirian tertinggi diperoleh Pemerintah Kota Banda Aceh dengan rasio PAD terhadap belanja daerah sebesar 20,98%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding Pemerintah Provinsi Aceh di peringkat kedua dengan rasio sebesar 18,89%, dan Pemerintah Kota Langsa dengan rasio sebesar 18,63%. Kabupaten Aceh Tenggara menjadi daerah
“Kota Banda Aceh menjadi daerah dengan rasio kemandirian tertinggi di Aceh. Sedangkan rasio kemandirian terendah yaitu Kab. Aceh Tenggara.” “Tahun 2018, rasio PAD terhadap belanja APBD di Aceh mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.”
Grafik III.2
Rasio PAD terhadap Belanja Pemerintah Daerah per Kab./Kota Tahun 2018 18 ,89 % 20 ,98 % 10 ,71 % 10 ,19 % 14 ,74 % 13 ,76 % 12 ,39 % 11 ,2 3% 12 ,58 % 18, 63% 10, 33% 7, 77% 8,46% 7, 45% 6, 27% 3, 29% 4,80 % 9, 53 % 7, 29 % 3, 76 % 3, 72 % 3, 41 % 2, 13 % 3, 55 % 0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00%
dengan kemandirian terendah dengan rasio PAD terhadap belanja APBD hanya sebesar 2,13% di tahun 2018.
Pada periode kedepan diharapkan kepada pemerintah daerah di lingkup Provinsi Aceh agar dapat terus meningkatkan rasio kemandirian daerah melalui peningkatan PAD-nya. Pengalokasian Dana Otonomi Khusus untuk Provinsi Aceh seharusnya menjadi keistimewaan tersendiri karena Aceh memiliki tambahan fiscal space yang dapat dimanfaatkan untuk program-program besar pemerintah yang mampu
mengangkat perekonomian Aceh, baik dalam pembangunan
infrastruktur guna memberikan kepercayaan untuk investor dapat berinvestasi dengan aman dan nyaman di Aceh, maupun dengan mendukung sektor unggulan dan sektor yang memiliki potensi unggulan seperti sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor pariwisata.