RITUAL NGABEN DAN PEMBARUAN
A. Fenomena Ngaben di Bal
3. Jenis dan Ragam Ngaben
Sesungguhnya, dengan adanya berbagai macam lontar dan landasan sastra yang dipakai sebagai patokan upacara, ngaben di Bali mempunyai banyak ragam. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan lokal di Bali, yang biasanya disebut dengan desa, kala, patra serta adanya berbagai kebiasaan-kebiasaan lokal yang tetap dipercaya masyarakat. Ini sering disebut dengan dresta. Disamping itu juga disebabkan oleh banyaknya pengaruh Hindu yang datangnya bergelombang ke Bali sejak jaman Mpu Kuturan, sampai dengan Dang Hyang Nirartha, yang membuat penafsiran-penafsiran tersebut
beragam (Kaler, 1993:4).
Berdasarkan keadaan jenazah orang yang diaben, upacara ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu sawa wedana, asti wedana, dan swasta. Sawa wedana adalah upacara ngaben dimana yang dibakar tersebut masih ada jenazahnya. Upacara jenis ini, sangat lazim dilakukan. Begitu orang meninggal, jenazahnya tidak langsung dikubur, melainkan langsung dikremasi. Di jaman sekarang, ada kecenderungan jika orang meninggal akan langsung dibakar. Ngaben yang dilakukan di krematorium, juga termasuk golongan ini. Perkecualian dilakukan berdasarkan kepercayaan setempat, misalnya ada upacara keagamaan di tempat persembahyangan dimana jenazah tersebut berada. Berdasarkan kepercayaan dan kebiasaan setempat (dresta), hal ini pun bisa disiasati. Misalnya dengan memandang bahwa pihak yang meninggal tersebut dipandang masih belum meninggal dan dipandang masih tidur. Wujud simbolis dari hal ini dilakukan dengan cara tidak mengumumkan secara formal meninggalnya yang bersangkutan. Dalam konteks adat yang berlangsung di Bali, formalisasi ada orang meninggal adalah dengan memukul kentongan. Maka untuk menyatakan ketidakformalan tersebut, untuk menyatakan tidak adanya orang meninggal, tidak dilakukan pemukulan kentongan. Dengan demikian, dianggap orang yang bersangkutan masih hidup tetapi dalam keadaan tidur.
Asti wedana, adalah upacara ngaben dimana jenazah orang yang akan diaben, ditanam atau dikubur terlebih dahulu, sebelum kemudian tulang-belulalangnya diangkut lagi untuk diaben. Ada juga yang menyebutkan bahwa tulang-belulang tersebut tidak perlu dibongkar lagi, melainkan cukup disimboliskan saja. Dalam realitas upacara ngaben yang ada di Bali, biaya, baik ekonomi maupun sosial, selalu menjadi pertimbangan utama. Dan biaya ini cukup besar. Karena itu untuk menghindari biaya yang tinggi ini, banyak anggota masyarakat yang mengubur terlebih dahulu jenazah kerabat atau keluarganya dan akan menentukan hari ngaben beberapa waktu mendatang. Waktu ini bermacam-macam, bisa dalam hitungan bulan atau tahun. Pesan dan surat wasiat juga banyak mempengaruhi fenomena ini. Seseorang yang telah sakit keras, biasanya sering memesankan kepada sanak keluarganya untuk mengubur terlebih dahulu kepada kerabatnya dengan bermacam-macam alasan, seperti ingin mengabdi kepada
ibu pertiwi atau kasihan kepada kemampuan ekonomi anggota keluarganya.
Sedangkan swasta, adalah upacara ngaben dimana jenazah seseorang tidak ditemukan lagi (Wiana, 1998: 35). Ada lagi upacara yang diselenggarakan untuk balita, yang disebut dengan nglungah.
Penafsiran lain, berdasarkan atas obyek jenis yang dibakar, ada empat pembagian ngaben dibedakan atas empat macam, yaitu sawa prateka, sawa wedana, asti wedana, dan swasta. Sawa preteka adalah ngaben, dimana obyek yang dibakar adalah jenazah. Sawa wedana, adalah ngaben, dimana obyek yang dibakar adalah jenazah yang telah sempat ditaman atau dikubur terlebih dahulu. Tetapi jenazahnya masih utuh. Asti wedana, adalah ngaben dengan obyek yang dibakar berupa tulang-tulang. Tulang ini didapatkan dari hasil penggalian terhadap jenazah yang dikubur sebelumnya. Artinya jenazah itu telah lama dikubur sehingga hanya tulang-tulangnya saja yang didapatkan. Swasta adalah ngaben dimana jenazahnya tidak bisa ditemukan lagi (yang dibakar adalah pengawakannya yang merupakan simbol dari jenazah tersebut).
Berdasarkan kuantitas sarana upacara yang diselenggarakan, sesungguhnya ada sembilan jenis upacara ngaben, seperti juga halnya upacara-upacara agama lain di Bali, yaitu utamaning utama, madyaning utama, kanistaning utama. Pada kelompok sedang, ada tiga pembagian, yaitu utamaning madya, madyaning madya, dan kanistaning madya. Sedang dari kelompok yang sederhana juga dikenal ada tiga pembagian, yaitu utamaning kanista, madyaning kanista, dan kanistaning kanista. Ini adalah konsep kuantiikasi upacara ngaben yang sebenarnya juga berlaku untuk berbagai upacara keagamaan Hindu Bali. Akan tetapi, sampai sekarang tidak ada buku resmi dan petunjuk resmi tentang bagaimana tanda pembedaan dari masing- masing tingkatan upacara tersebut. Dalam berbagai wawancara yang dilakukan, baik dengan pendeta maupun cendekiawan Hindu di Bali, tidak ada yang mampu memberi jawaban tentang perbedaan tersebut. Karena itu, konsep tingkatan upacara-upacara di atas itu, sesungguhnya boleh dikatakan sebagai pesan bahwa upacara ngaben bisa diselenggarakan dalam situasi bagaimanapun, tidak harus bermewah-mewahan dan tidak harus menggunakan berbagai sarana upacara seperti yang terlihat di Bali sekarang.
Jika dikaitkan, tiga jenis ngaben yang didasarkan atas wujud jenasah yang diaben tersebut, pelaksanaan upacaranya bisa dilakukan dengan cara memilih salah satu dari sembilan tingkatan upacara tersebut, mulai dengan yang paling mewah (yakni utamaning utama), sampai dengan yang paling sederhana, yakni kanistaning kanista.
Meski terdapat sembilan pembagian upacara ngaben, tetapi itu hanya boleh dikatakan sebagai pembagian imanjiner yang dalam praktiknya sangat susah untuk ditemukan di Bali. Kebanyakan responden mengatakan bahwa sangat sulit untuk menemukan ukuran dari masing-masing ngaben tersebut.
Karena itu, lebih mudah untuk menyatakan pembagian ngaben itu menjadi tiga jenis, yaitu ngaben utama, ngaben madya, dan ngaben kanista. Dalam beberapa wawancara, misalnya dengan Tugusdek, yang merupakan keturunan dari Ida Anglurah Anom Mayun, bekas penguasa Puri Agung Kerambitan, ngaben pada umumnya yang dilakukan di Bali sekarang, berada pada tingkat madyaning madya. Sedangkan ngaben pada tingkat utama, ada beberapa indikator yang bisa dilihat baik secara sosial maupun tingkatan upakara yang diperlukan.
Indikator sosial maksudnya adalah petanda atau ciri-ciri yang oleh masyarakat banyak dipandang sebagai ngaben utama. Dalam hal ini, biasanya dilakukan oleh kalangan puri atau bekas kerajaan-kerajaan di masa lalu yang kini keberadaannya masih ada. Sedangkan dari sekian banyaknya puri yang ada di Bali, mempunyai kebiasaan yang berbeda- beda dalam mengartikan apa yang disebut dengan ngaben tingkat utama. Dalam pandangan Puri Kerambitan, beberapa perlengkapan ngaben yang bisa dipandang sebagai tingkat utama adalah memakai lembu berkain hitam sebagai tempat pembasmian jenazah, bade atau wadah yang membawa jenazah menuju kuburan bertumpang sembilan dengan dua bangkiang (dua tingkat), dengan dua gambar bomo (topeng raksasa) di belakang. Jenazah ditaruh di bale kembar dengan alas kepala kerbau. Semua unsur-unsur di atas bisa dilihat secara langsung oleh masyarakat pada saat prosesi upacara ngaben diselenggarakan. Dengan demikian, masyarakat yang menyaksikan prosesi itu juga akan bisa menyebutkan proses tersebut sebagai ngaben tingkat utama.
akan berbeda sesuai dengan daerah dimana puri tersebut berada dan bagaimana latar belakang sejarahnya. Di daerah Ubud, Gianyar misalnya, upacara ngaben tingkat utama itu, pada tingkat perlengkapan upacara akan ditandai dengan dipakainya naga banda dalam prosesi ritual. Hal yang sama juga diselenggarakan pada prosesi ngaben yang ada di Puri Mengwi, Badung.
Pada tingkat alat-alat upakara, di Kerambitan yang disebut dengan ngaben tingkat utama adalah apabila ngaben tersebut dilengkapi dengan kuantitas alat perlengkapan upacara yang berjumlah lebih banyak dibandingkan dengan ngaben madya. Misalnya, dalam hal Puri Kerambitan, jumlah pendeta yang memimpin upacara adalah 5 orang. Pendeta ini masing-masing akan memimpin pelaksanaan upacara prosesi tersebut sesuai dengan tahapan prosesinya. Misalnya untuk memimpin upacara memandikan jenazah pendetanya akan berbeda dengan saat membakar jenazah (wawancara dengan Tugusade, putra dari Anom Mayun, 31 Oktober 2009, 13.00 sampai 14.00).
Dengan demikian, tidak ada ukuran yang jelas dalam praktik apa yang menjadi indikator dari tingkat upacara ngaben utama tersebut. Praktik ngaben tingkat utama, memang ada di kalangan masyarakat Hindu di Bali. Akan tetapi pelaksanaannya sangat tergantung dari penafsiran masing-masing pihak. Sejauh ini, yang paling banyak melaksanakan upacara seperti ini adalah keluarga dari puri, yaitu mereka yang mempunyai keterkaitan leluhur dengan kerajaan- kerajaan Bali di masa lalu.