B. Perubahan Sosial
2. Rasionalisasi Pelaksanaan Ritual Keagamaan
Dalam pandangan Laurer, strategi perubahan sosial itu adalah upaya untuk memusatkan perhatian sebagai pusat penggerak perubahan sosial atau sektor yang dibidik dalam perubahan sosial tersebut. Dengan cara pandang demikian, strategi perubahan sosial tersebut menyangkut tiga hal, yaitu agen perubahan, yakni aktor-aktor yang menjadi pelopor dan penggerak perubahan sosial tersebut. Yang kedua adalah sasaran perubahan sosial. Ini bisa menyangkut struktur sosial, institusi, nilai dan sebagainya. Sedangkan yang terakhir adalah metode perubahan sosial. Metode ini bisa rasional-emperis, normatif edukatif dan paksaan kekuasaan.
Munculnya korporasi internasional, bagi kalangan-kalangan intelektual di Bali, dirasakan sebagai sebuah tantangan dan membuat mereka harus berpikir untuk menata ulang kebudayaan Bali. Kebudayaan yang dimaksud tidak lain dari kebudayaan yang berlandaskan Hindu. Bagi mereka, ketidakdisiplinan yang muncul dari karyawan itu, kebanyakan berasal dari mereka yang beragama Hindu. Jadi, yang seharusnya mendapat perhatian adalah penyelenggaraan upacara Hindu tersebut. Inilah titik yang harus diperbaiki. Maka
muncullah apa yang disebut dengan rasionalisasi agama. Dalam bentuk institusional, muncul kelompok persembahyangan dipelopori oleh Ashram Canti Dasa yang dipimpin oleh intelektual Hindu, Ibu Gedong Bagus Oka. Ashram ini tidak membuat upacara besar-besaran dalam melaksanakan upacara. Muncul juga gerakan masyarakat yang hendak mengunjungi tempat-tempat suci Hindu di India, yang juga diorganisir oleh biro pariwisata. Mereka mempelajari buku-buku agama yang datang dari India. Secara formal rasionalisasi ini juga memunculkan institusi perguruan tinggi yakni Institut Agama Hindu Negeri, dimana tokoh-tokoh yang menjadi penggerak institusi ini adalah tokoh agama yang pernah belajar di perguruan tinggi di India serta orang-orang yang orientasi agamanya condong pada pembaharuan.
Intelektual Ida Bagus Yudha Triguna, yang sempat menjabat Rektor Universitas Hindu Indonesia, mengatakan bahwa munculnya pembaruan-pembaruan umat Hindu tersebut sesungguhnya telah dimulai pada awal abad ke-20, terutama sekitar tahun 1925 yang menginginkan adanya kesamaan derajat antara pendeta dengan umat lain. Tetapi ini tidak bisa dilaksanakan karena munculnya kemerdekaan Indonesia dan juga peristiwa G 30 S PKI tahun 1965. Meski dalam konteks Hindu di Bali, persamaaan derajat itu tidak dimungkinkan, akan tetapi para tokoh penggerak pembaruan tersebut kemudian mendapat kesempatan untuk kembali memperlihatkan idenya sehubungan dengan adanya tekanan dari korporat internasional di berbagai sektor di Bali (wawancara dengan Yudha Triguna 2009)
Ini merupakan rasionalisasi besar dalam bidang agama. Sangat berbeda dengan apa yang terjadi di masa lalu, terutama sebelum tahun 1970. Saat itu pembelajaran agama masih berlangsung secara tradisional, seperti misalnya dari nasihat-nasihat dari dunia pewayangan atau yang ada di dalam drama tari atau melalui sloka- sloka kekawin, baik yang berorientasi India maupun bukan. Kekawin Ramayana dan Mahabharata adalah pengaruh India yang sering dilantunkan saat ada upacara kebudayaan di Bali. Di tempat-tempat seperti inilah pada masa lalu masyarakat Hindu Bali mendapatkan pembelajaran agama.
Rasionalisasi agama ini tidak hanya bisa dilihat dari pembentukan berbagai institusi dan adanya aliran-aliran tersebut, tetapi juga bisa
dilihat pada implementasi upacaranya. Masyarakat Hindu Bali dikenal menghabiskan banyak tenaga dalam melaksanakan upacara agama. Tenaga ini diperlukan untuk gotong royong dalam melaksanakan dan pembuatan sarana upacara. Kini telah muncul korporasi ke dalam pembuatan sarana upacara keagamaan tersebut yang bisa membuat sarana upacara berdasarkan pesanan dan berbagai tingkatan. Korporasi seperti itu, justru ada dan berpusat pada tokoh-tokoh pelaksana upacara agama, seperti pendeta, pamangku atau ahli pembuat banten. Dengan adanya korporasi seperti ini, keterlibatan massal dalam upacara agama tersebut menjadi jauh lebih berkurang. Ini adalah model rasionalisasi pelaksanaan upacara keagamaan pada tahap implementasi ritual. Akan tetapi, adanya korporasi yang berpusat pada pendeta atau pamangku, juga menimbulkan potensi lain yang juga tidak baik, terutama apabila ada upaya komersialisasi sarana upacara yang dilakukan oleh pendeta dan pamangku itu.
Upacara ngaben merupakan upacara yadnya paling komplit dan pasti akan dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali. Ngaben merupakan tradisi yang turun-temurun dilakukan oleh umat Hindu Bali. Pelaksanaannya merupakan legitimasi atas kepercayaan masyarakat Hindu Bali, dimana upacara itu merupakan jalan menuju ke tempat Tuhan Yang Maha Esa bagi kerabat yang telah meninggal. Tradisi demikian berfungsi melegalkan tata cara, keyakinan, aturan yang sudah dilangsungkan (Sztompka, 1993, 75). Disini pun telah ada rasionalisasi pelaksanaan dengan munculnya tiga krematorium di Bali. Bahkan satu krematorium tersebut didirikan oleh salah satu soroh dalam strata sosial masyarakat Hindu Bali, yaitu golongan Pasek. Dengan sarana krematorium ini, masyarakat tidak direpotkan oleh berbagai kesibukan dalam prosesi upacara tetapi telah ditangani oleh satu perusahaan. Melalui model pelaksanaan upacara seperti ini, bukan saja keterlibatan massa bisa dihindari tetapi juga biaya bisa ditekan dengan sangat rendah dan efektivitas dari pelaksanaan upacara bisa diciptakan.
Couteau adalah doktor yang juga menekuni bidang seni lukis. Ia adalah kurator seni lukis di Bali. Dalam pandangannya, sekarang pada bidang seni lukis orientasi lokal sudah jarang, bahkan tidak ada. Semuanya telah berorientasi global, baik pada bidang bentuk, tema
maupun isi lukisan. Dengan demikian, model-model lukisan adu ayam, tepi sawah dengan bebek atau model Ubud yang tanpa perspektif itu, kini telah mulai digerogoti oleh identitas-identitas global.
Tidak bisa dilepaskan, munculnya berbagai korporasi bertaraf internasional dalam bentuk berbagai hotel berbintang di Nusa Dua, Jimbaran, Kuta dan Sanur tersebut juga membuat adanya perubahan di bidang sarana transportasi. Tahun 1978, jalan raya jalur utama Denpasar-Gilimanuk direnovasi secara besar-besaran. Demikian juga aspal yang dipakai adalah hotmik, campuran aspal yang sebelumnya tidak pernah dipakai di Bali. Akibatnya, secara sosial bentuk moda transportasi berubah pesat. Kendaraan yang lewat kini berskala besar dengan jumlah ban sampai 12 sampai 16 dengan panjang dan daya angkut yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Mobilitas penduduk dari Jawa menuju Bali lebih lancar. Secara demograis, ini mempengaruhi komposisi penduduk di perkotaan dalam hal agama. Lalu lintas bertambah macet. Dengan adanya membuatan jalan By Pass Gatot Subroto (Denpasar) pada sekitar tahun 1990, maka jalur antara Nusa Dua, Jimbaran, Kuta, langsung tersambung dengan jalur utama Denpasar-Gilimanuk. Sebelumnya, jalur By Pass Tohpati- Nusa Dua sepanjang 35 kilometer telah selesai dibangun tahun 1982. Dengan pembukaan jalur ini ditambah dengan pelebaran jalan menuju jalur Gianyar dan Ubud, maka hotel-hotel internasional yang ada di Nusa Dua, Jimbaran, Kuta, dan Sanur langsung terhubung dengan pusat-pusat kesenian yang ada di Gianyar seperti Ubud, Tampaksiring dan sebagainya. Pembukaan jalan tersebut diikuti dengan selesainya pembangunan jalan By Pass Ida Bagus Mantra yang menghubungkan antara Padang Bai dengan Denpasar yang tersambung dengan jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai
Perbaikan sarana jalan raya tersebut, secara langsung juga membuka kran bagi migrasi besar-besaran penduduk desa yang ada di daerah Gianyar.
Ida Bagus Yuda Triguna, yang sempat menjabat Dirjen Bimas Hindu-Budha menyebutkan bahwa masyarakat Hindu di Bali kini mengalami pergeseran sosial yang cukup siginiikan. Dalam hubungan sosial-kebudayaan, hubungan tersebut terlihat sangat formal. Jika di masa lalu orang datang melayat didorong oleh faktor empati, tetapi
kini faktor yang menjadi pendorong tersebut adalah ketakutan karena hukuman sosial, seperti dibalas jika kelak mempunyai persoalan yang sama. Disini terlihat bahwa salah satu modal sosial dari masyarakat Hindu Bali telah tergeser. Padahal kapital sosial tersebut sesungguhnya menjadi modal dasar dan pondasi masyarakat Hindu di Bali. Baik dalam bertani dan melakukan ritual di tempat persembahyangan, kerjasama, dan gotong royong menjadi modal utama. Secara ilosoi juga mengalami hal demikian. Cara pandang hidup masyarakat Bali Hindu, sangat menghargai tanah dan air. Ini misalnya terlihat dari konsepsi masyarakat yang memandang tanah itu sebagai ibu pertiwi yang artinya sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat. Tetapi rusaknya subak dan banyaknya tanah dijual kepada investor, memperlihatkan bahwa masyarakat Bali sudah mulai menggeser cara pandang tersebut.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab dari berubahnya masyarakat Bali. Dalam pandangan Triguna, yang pertama adalah ketidakmampuan masyarakat Bali Hindu dalam bersaing dengan para pendatang. Ini terkait erat dengan modernisasi yang ada. Masyarakat Bali terkesan lambat dalam mengadaptasi modernisasi tersebut. Kondisi demikian kemudian membawa kepada perasaan takut kalah dan takut tersingkirkan. Dalam berbagai studi etnis (Cohen, 1974) disebutkan bahwa di berbagai komunitas, penduduk asli selalu lambat dalam bersaing dibandingkan dengan pendatang. Ini disebabkan karena penduduk asli telah merasa nyaman dengan kepemilikan yang dimilikinya sekarang. Sedangkan para pendatang selalu bergiat untuk mendapatkan hasil. Jelas penduduk asli mempunyai keunggulan, berupa tempat tinggal dan tanah. Tetapi para pendatang belum mempunyai hal itu sehingga harus bekerja keras untuk mendapatkannya.
Faktor kedua adalah pengaruh monetarisasi. Weber menyebutkan bahwa uang merupakan sarana ekonomi. Tetapi begitu ia sampai di tangan masyarakat, ia akan menjadi fenomena sosial. Pada masyarakat Bali Hindu sekarang muncul gejala monetarisasi di masyarakat. Mereka memandang uang sebagai simbol keberhasilan tanpa melihat bagaimana proses mendapatkan uang tersebut. Dengan cara pandang seperti itu, menjual tanah tidak lagi menjadi larangan tetapi justru akan bisa
menambah wibawa karena akan mendapatkan uang banyak sebagai tambahan wibawa itu. Ini dapat dipandang sebagai pandangan fatal masyarakat Bali di jaman sekarang karena justru dapat menggerogoti kepemilikannya sendiri.
Ketiga, dalam pandangan Triguna, insitusi sosial dan budaya di Bali kini tidak bisa operatif lagi secara maksimal untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Institusi tersebut cenderung menjadi dan menghidupkan keagungan masa lalu. Dalam konteks pemikiran Marshall Sahlins, institusi tersebut tidak mampu melakukan adaptive upgrading atau adaptive modiication.