RITUAL NGABEN DAN PEMBARUAN
D. Pelaksanaan Ngaben di Krematorium
2. Posisi Adat
Keterlibatan total industri dalam ngaben krematorium ini, meluas tidak hanya pada pembelian sarana upacara tetapi lebih dari itu. Pekerjaan massa yang melibatkan orang banyak dalam gotong royong, semuanya digantikan dengan sarana modern. Aspek modernitas sangat mempengaruhi pelaksanaan ngaben krematorium tersebut. Salah satu apek modernitas yang terlihat di sini adalah individualisme
Dalam pandangan John Neisbitt dan Patricia Aburdene (Sztompka, 85), kemenangan individual dalam modernisasi itu dimaksudkan sebagai yang memegang peran sentral dalam masyarakat adalah individu, bukan lagi massa, komunitas, kelompok atau suku. Individu bebas dari posisi tergantikan, tidak terikat dari ikatan kelompok, bebas berpindah ke kelompok yang diinginkannya.
Pada ngaben konvensional, keterikatan kepada kelompok tersebut sangat kelihatan karena secara langsung penanganan terhadap upacara ngaben ini dilakukan oleh krama adat. Tetapi pada ngaben krematorium, hal itu tidak ada lagi karena keterikatan dengan adat telah tidak ada lagi. Pemilik jenazah menentukan sendiri bagaimana bentuk pelaksanaan upacara yang akan diselenggarakan. Dalam hal ini adalah tidak menginginkan adat untuk membantu penyelesaian
dan pelaksanaan upacaranya.
Pelaksanaan upacara ngaben krematorium juga mengandung aspek modernisasi yang lain, yaitu diferensiasi, yakni adanya penyempitan tenaga kerja dalam bentuk spesialisasi tenaga kerja (Sztompka, 1993:86). Ngabenkrematorium mempraktikkan hal seperti ini. Industri yang terlibat di dalamnya, tidak hanya pembakaran jenazah tetapi juga industri pembuatan upakara banten. Pembuatan banten ini tidak ditangani oleh pengelola krematorium secara langsung, tetapi dikerjakan oleh sub-industri lain. Petugas krematorium hanya menjadi penghubung untuk membeli banten di tempat lain. Cara seperti ini tidak hanya memperlihatkan pola diferensiasi tetapi juga rasionalisasi. Rasionalisasi di sini diartikan sebagai eisiensi.
Di jaman modern, defrensiasi juga bermakna sebagai pemisahan pembuatan barang produksi akan tetapi kemudian disatukan lagi menjadi produk tertentu. Ngaben krematorium memperlihatkan fenomena demikian, hampir secara total. Perusahaan jasa krematorium menjadi muara bagi berkumpulnya berbagai hasil difrensiasi tersebut untuk disatukan menjadi sarana upacara ngaben. Spesialisasi produksi tersebut akan dikumpulkan saat ngaben. Misalnya sarana banten, pendeta, sarana pengangkutan jenazah, profesional tukang bakar, pengangkutan debu jenazah akan terkumpul menjadi satu saat ngaben krematorium ini diselenggarakan.
Ngaben krematorium tidak bisa dilepaskan dari unsur-unsur ekonomi. Beberapa ciri ekonomi modern yang masuk ke dalam ngaben ini adalah terkonsentrasinya tenaga kerja di perusahaan, pentingnya peran manajer dan penggunaan tenaga tidak bernyawa untuk menggerakkan industri (Sztompka, 1993: 87). Jasa krematorium sesungguhnya adalah sebuah perusahaan. Di sini banyak terkonsentrasi tenaga kerja yang akan melayani segala kebutuhan kremasi. Dan itu diatur oleh seorang manajer. Pemimpin inilah yang mengatur bagaimana gerak-gerik anak buahnya dalam mengurus arus kepentingan saat pengabenan ini diselenggarakan. Dan penggantian tenaga bernyawa, yang paling jelas pada ngaben krematorium adalah tidak adanya penggotongan bade oleh masyarakat menuju kuburan. Pada ngabenkonvensional atau tradisional, puluhan, bahkan mungkin ratusan tenaga manusia yang akan dikerahkan untuk mengangkut bade yang akan membawa jenazah menuju kuburan. Tetapi pada
ngabenkrematorium ini, hanya diperlukan ambulans untuk membawa jenazah menuju tempat kremasi.
3.Tirtha
Tirtha, adalah air suci yang dipakai dalam upacara ngaben. Setidaknya keseluruhan jumlah tirtha yang dipakai dalam upacara ngaben, sebanyak tujuh macam, yakni tirtha pangentas, tirtha penembak, tirtha pralina, tirtha Puseh, tirtha Dalem, tirtha pura Desa, dan tirtha dari tempat persembahyangan keluarga. Pada ngaben konvensional, seluruh tirtha tersebut diambil dari pendeta dan tempat persembahyangan di tempat dari mana jenazah tersebut berasal. Akan tetapi, pada ngaben krematorium seluruh tirtha tersebut bisa dibuat oleh pendeta yang dipilih untuk memimpin upacara. Dalam pandangan Pendeta Ida Pedanda Gde Anom Jalakarana Manuaba, pendeta mempunyai hak prerogatif dalam membuat seluruh tirtha yang digunakan. Beliau mendasarkan pada lontar Sastro Dharmaning Kwikon (wawancara bulan Maret 2010).
Di Surabaya, krematorium Jala Pralaya didirikan pada tahun 2003 untuk memenuhi keperluan masyarakat Hindu di Surabaya dan kota-kota yang berdekatan seperti umat Hindu yang berasal dari Bali yang tinggal di Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan kota-kota yang dekat dengan Surabaya. Krematorium ini mendapat sumbangan dari pemerintah, dalam hal ini TNI Angkatan Laut, dengan posisi tepat di pinggir laut di Pangkalan Angkatan Laut di Juanda dengan luas sekitar satu hektare. Krematorium ini berdampingan dengan kuburan bagi masyarakat Kristen dengan luas yang sama, dan kuburan masyarakat dari golongan Islam dengan luas sekitar 2 hektare.
Seperti juga halnya masyarakat Hindu di Bali, masyarakat Hindu yang ada di Surabaya, terutama bagi mereka yang berasal dari Bali, membentuk peguyuban yang disebut dengan banjar. Setiap bulan masyarakat yang menjadi anggota peguyuban tersebut dikenai dana Rp. 5000,- (tahun 2010) untuk segala keperluan umat beragama. Ini dikoordinasikan oleh banjar yang secara struktural kemudian terbagi menjadi banjar yang lebih kecil yang ada di berbagai wilayah kota Surabaya dan sekitarnya.
Ketika misalnya ada kematian, para pengurus banjar akan memberikan uang sebanyak Rp. 5.000.000,- kepada keluarga
pihak yang mendapatkan kematian dan kemudian menanyakan bagaimana prosesi kematian yang dipilih. Masyarakat Hindu yang ada di Surabaya, dan juga di perantauan lain, masih terikat emosional dengan Bali sebagai daerah asal. Karena itu kemungkinan untuk menguburkan anggota keluarganya di Bali, masih sangat besar. Tetapi apabila kemudian pihak kematian tersebut memilih di Surabaya, maka krematorium merupakan pilihan yang dipandang paling rasional. Pada saat inilah uang sebanyak Rp. 5.000.000,- tersebut akan dimanfaaatkan untuk melaksanakan krematorium.
Dalam pandangan Ida Pendeta Gde Anom Negara Jalakarana Manuaba yang tinggal di Griya Kenjeran, uang sejumlah itu telah cukup untuk melaksanakan upacara ngaben. Beliau mengatakan bahwa minat umat Hindu, khususnya di Surabaya, melaksanakan upacara ngaben krematorium di Krematorium Jala Pralaya bisa dibedakan menjadi tiga. Yang pertama adalah jarak antara Bali dengan Surabaya terlalu jauh sehingga tidak perlu lagi melaksanakan upacara kematian di Bali, meski asal-usul mereka di Bali. Kedua, telah ada jarak sosial mereka dengan tempat asalnya di Bali. Jarak sosial ini mengandung arti bahwa mereka-mereka itu telah lama merantau sehingga tidak ikut mengemong adat yang ada di Bali. Kekhawatirannya, mereka tidak diberikan hak untuk memakai kuburan karena kuburan dimiliki oleh adat. Disamping itu, juga ada kekhawatiran tidak akan ada krama yang ikut datang menjenguk atau membantu upacara karena telah lama hilang kontak. Ketiga, alasan praktis dan rasional. Mereka- mereka yang memilih alasan terakhir ini telah memahami makna ngaben sehingga dengan cara memakai krematorium di Surabaya, tujuan untuk ngaben telah tercapai.
Prosesi pengabenan di Krematorium Jala Pralaya mempunyai ritual yang sama dengan ritual ngabenkrematorium di Bali. Jika jenazah belum dibersihkan atau dimandikan di rumahnya, maka jenazah ini akan dimandikan di krematorium. Ritual permandian ini sama dengan apa yang dilakukan pada ngaben tradisionil/konvensional di Bali maupun ngaben krematorium di Bali. Secara sederhana, upacara permandian itu adalah tiruan dari model mandi tradisionil Bali yang memakai bahan-bahan tradisionil sebagai pelengkap mandi dan berhias. Misalnya memakai telor untuk lulur, memakai minyak wangi atau bedak untuk berhias.
Setelah berhias selesai diselenggarakan upacara persembahyangan jenazah, yang maknanya berupa penghormatan dan pendoaan para sanak famili kepada jenazah ke hadapan Tuhan. Selanjutnya, diadakan upacara persembahan nasi angkeb. Upacara ini bermakna penghormatan sanak keluarga kepada anggota keluarganya yang akan pergi meninggalkan alam fana ini menuju alam baka (meninggal). Ini simbolisasi pemberian terakhir dari keluarga untuk sang anggota keluarga yang akan pergi menuju alam baka. Selanjutnya adalah upacara narpana saji. Upacara ini sesungguhnya merupakan simbolisiasi makan bersama antara anggota famili dan kerabat dengan anggota keluarga yang akan pergi meninggalkan alam fana. Maknanya adalah saling menghormati di antara anggota keluarga baik yang masih hidup di alam fana maupun yang akan segera pergi menuju alam baka. Upacara simbolisasi ini terselenggara karena dalam pandangan masyarakat Hindu Bali, anggota keluarga yang dimandikan tersebut, dipandang masih belum meninggal, masih akan berjalan menuju alam baka.
Setelah ritual tersebut diselenggarakan, ritual selanjutnya adalah mapegat. Mapegat ini berarti pemutusan hubungan (atau ucapan selamat jalan) dari pihak keluarga kepada anggota keluarganya yang akan menuju alam semesta untuk selanjutnya menuju alam pitara. Karena berupa ucapan selamat jalan dan pergi menuju alam yang lebih baik (yaitu alam baka), maka anggota keluarga menyambutnya dengan gembira. Upacara mapegat ini diakhiri dengan bersorak.
Fenomena bersorak ini diakhiri dengan langkah balik kanan dari anggota keluarga. Peristiwa balik kanan ini bisa diterjemahkan sebagai pemutusan hubungan. Ini sesungguhnya agak bertolak belakang dengan kepercayaan bahwa mereka yang dipandang meninggal itu sesungguhnya harus dilepas dengan gembira karena pergi menuju alam yang lebih baik. Karena itu, haruslah ia dilihat dan diberi selamat, tanpa harus ada upacara balik kanan seperti itu.
Ritual pembakaran jenazah dilangsungkan setelah upacara mapegat ini selesai. Inti dari upacara pembakaran jenazah itu adalah mantrapralina, yang diwujudkan di dalam api atau di dalam air suci. Sedangkan pembakaran jenazah itu lebih bermakna duniawi. Artinya secara emperik jenazah ini akan hancur dibakar api, terbawa asap menuju angkasa, menjadi abu bergabung dengan tanah, unsur
halusnya telah lenyap dan bergabung dengan air ketika abunya dihanyutkan di sungai atau laut. Padahal mantra pralina, juga bermakna seperti itu. Setelah proses inilah dalam kepercayaan Hindu Bali, manusia itu dipandang telah pralina yang kemudian disebutkan sebagai meninggal, mati.
Upacara selanjutnya setelah pembakaran ini adalah menghanyutkan abu ke sungai atau ke laut. Di Krematorium Jalapralaya, Juanda, Surabaya, penghanyutan abu jenazah ini dilakukan secara mudah karena berdampingan dengan laut. Tidak perlu lagi prosesi jauh menuju sungai seperti yang dilakukan di Bali.
Ngaben krematorium ini adalah modernisasi dari ngaben konvensional. Penggunaan tungku pembakaran (kremasi) dengan alat pembakaran yang memakai teknologi baru, merupakan unsur modern dari upacara tersebut. Pada ngaben konvensional, tidak ada tungku tempat pembakaran yang permanen. Gedung tempat pembakaran yang permanen ini juga tidak diizinkan, meski telah dipakai sarana kompor gas untuk pembakaran. Kepercayaan tradisionil membuat tungku yang sifatnya permanen tersebut, dilarang untuk didirikan secara permanen. Banyak yang berpendapat bahwa jika dibuat tungku pembakaran permanen akan merangsang munculnya kematin baru. Ini adalah kepercayaan masyarakat.
Pola manajemen pengelolaan yang dijalankan oleh perusahan adalah bentuk dari modernisasi juga. Demikian juga dengan berbagai penyederhanaan yang dibuat. Hanya saja modernisasi tersebut masih memakai kearifan lokal untuk membangunnya. Artinya segala pelaksanaan dari upacara ngaben ini bersumber pada kepercayaan lokal sehingga acara itu bisa terselenggara. Misalnya masyarakat Hindu di Bali mempunyai kearifan yang disebut dengan desa, kala, patra. Maknanya, segala upacara yang diselenggarakan bisa disesuaikan dengan keadaan tempat, waktu, dan keadaan di tempat. Upacara ngaben krematorium diselenggarakan akibat dari keadaan yang dihadapi oleh tuan rumah yang mempunyai jenazah. Karena itu, tidak keliru jika ngaben tersebut mengambil cara-cara modernisasi, terutama dengan menggunakan alat teknologi dan manajemen yang memungkinkan upacara berlangsung lebih cepat dan eisien.