• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

3. Jeruk Desa Simpang Bage

Dari hasil pengamatan parameter pada karakter morfologi batang, daun, buah dan biji jeruk Desa Simpang Bage dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4. Karakter-karakter morfologis tanaman jeruk di Desa Simpang Bage

Sampel Pengamatan Parameter Tinggi tanaman (m) Lingkaran Batang (cm) Ukuran Daun (cm) Diameter Buah (mm) Berat Buah (gram) Tebal Kulit Buah (mm) Jumlah Juring Jumlah Biji C1 1,87 20 7,3 x 3,4 56,36 77,1 2,57 13 12 C2 1,67 18 8,2 x 3,5 57,01 79,7 2,07 14 12 C3 1,85 18,5 8,6 x 4,5 58,46 79,8 3,55 12 8 C4 2,28 21 6,0 x 2,9 59,90 90,7 2,57 12 10 C5 1,74 21,5 7,8 x 3,4 60,28 92,3 3,09 13 11 C6 1,66 24 7,0 x 3,5 57,26 81,8 3,06 13 13 C7 1,82 20,5 7,6 x 3,5 58,95 73,7 2,73 15 10 C8 2,00 23,5 8,4 x 3,5 58,18 75,8 1,91 12 8 C9 1,70 20 7,9 x 3,6 58,16 81,0 2,64 13 12 C10 1,74 16,5 7,7 x 3,9 52,89 62,9 2,71 12 12 C11 2,30 20,5 6,5 x 3,0 52,62 65,7 2,20 13 3 C12 1,80 18 7,8 x 3,6 67,39 119,9 2,82 13 15 Rata-rata 1,87 20,17 7,57 x 3,53 58,12 81,7 2,66 12,92 10,5 Standar Deviasi 0,22 2,22 0,76 x 0,4 3,78 14,74 0,46 0,90 3,09

Pada tabel 4 menunjukkan bahwa hasil penelitian jeruk di Desa Simpang Bage pada karakter morfologis batang diketahui bahwa parameter tinggi tanaman yang tertinggi yaitu pada sampel C11 yaitu sebesar 2,30 meter, sedangkan tinggi tanaman terendah yaitu pada sampel C6 yaitusebesar 1,66 meter. Pada karakter morfologis lingkar batang diketahui bahwa parameter lingkar batang yang tertinggi yaitu pada sampel C5 yaitu sebesar 21,5 cm, sedangkan lingkar batang terendah yaitu pada sampel C10 yaitusebesar 16,5 cm.Parameter ukuran daun yang terluas yaitu pada sampel C3 yaitu sebesar 8,6 cm x 4,5 cm, sedangkan ukuran daun yang paling sempit yaitu pada sampel C4yaitusebesar 6,0 cm x 2,9 cm. Parameter diameter buah yang terbesar yaitu pada sampel C12 yaitu sebesar 67,39 mm, sedangkan diameter buah yang terkecil yaitu pada sampel C11 yaitusebesar 52,62 mm. Pada karakter morfologis berat buah diketahui bahwa berat buah tertinggi yaitu pada sampel C12 yaitu sebesar 119,9 gram, sedangkan berat buah terendah yaitu pada sampel C10 yaitusebesar 62,9 gram. Pada karakter morfologis tebal kulit buah diketahui bahwa tebal kulit buah terbesar yaitu pada sampel C3

yaitu sebesar 3,55 mm, sedangkan tebal kulit buah terendah yaitu pada sampel C8 yaitusebesar 1,91 mm. Pada karakter morfologis jumlah juring diketahui bahwa jumlah juring terbanyak yaitu pada sampel C7 yaitu sebanyak 15 juring, sedangkan jumlah juring paling sedikit yaitu pada sampel C3,C4, C8 dan C10yaitusebanyak 12 juring. Parameter jumlah biji yang terbanyak yaitu pada sampel C12 yaitu sebanyak 15 biji, sedangkan jumlah biji yang paling sedikit yaitu pada sampel C11yaitusebanyak 3 biji.

Gambar beberapa karakter morfologis batang jeruk yang terdapat di Desa Simpang Bage dapat dilihat pada gambar 10 sebagai berikut.

(a) (b)

Gambar 10. Karakter morfologis batang jeruk di Desa Simpang Bage (a) Tajuk pohon jeruk berbentuk bulat membujur

(b) Keadaan batang jeruk menunjukkan cabang banyak

Gambar karakter morfologis daun jeruk yang terdapat di Desa Simpang Bage dapat dilihat pada gambar 11 sebagai berikut.

Gambar 11. Karakter morfologis daun jeruk berbentuk joromg di Desa Simpang Bage

Gambar karakter morfologis buah jeruk yang terdapat di Desa Simpang Bage dapat dilihat pada gambar 12 sebagai berikut.

(a) (b)

(b) (d)

Gambar 12. Karakter morfologis buah jeruk di Desa Simpang Bage a. Warna daging buah

b. Penampang buah jeruk secara melintang c. Warna kulit buah

d. Buah jeruk berbentuk obloid

Gambar karakter morfologis biji jeruk yang terdapat di Desa Pematang Purba dapat dilihat pada gambar 9 sebagai berikut.

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jeruk Desa Simpang Bage memiliki karakteristik tinggi tanaman 1,66-2,30 m, lingkaran batang 16,5-21,5 cm, bentuk tajuk bulat dan menjulang, warna batang coklat, bentuk daun jorong, panjang daun 6,0 - 8,6 cm, lebar daun 2,9–4,5 cm, warna daun hijau tua, tepi daun bergerigi, diameter buah52,62–67,39 mm, berat buah 62,9 – 119,9 gram, warna kulit buah Kuning Kehijauan, tebal kulit buah 1,91-3,55 mm, jumlah juring 10-13, bentuk buah obloid, jumlah biji antara 12-15 biji per buah, bentuk biji bujur telur, permukaan biji lembut dan warna biji krem.

Hasil analisis karakter fenotipe yang diukur secara kuantitatif yang dianalisis dengan perbandingan nilai keragaman dengan standar deviasi disajikan pada Tabel 5. Untuk mengetahui adanya keragaman dari suatu populasi harus dilakukan pengukuran berbagai karakter yang spesifik pada populasi dan selanjutnya dianalisis menurut kaidah statistika.

Tabel 5. Keragaman Kuantitatif Jeruk di Desa Dalig Raya

Karakter

Lokasi Penelitian

Dalig Raya Pematang Purba Simpang Bage Rataan ± Sd ��� Kriteria Rataan ±

Sd ��� Kriteria Rataan ±

Sd ��� Kriteria

Tinggi Tanaman (m)

3,46 ± 1,14 1,305 Luas 2,14±0,26 0,066 Luas 1,87±0,22 0,048 Luas Lingkaran

Batang (cm)

53,61±10,13 102,584 Luas 27,70±4,31 18,571 Luas 20,17±2,22 4,924 Luas Panjang

Daun (cm)

6,48 ± 0,75 0,559 Luas 7,72±0,74 0,552 Luas 7,57±0,76 0,581 Luas Lebar

Daun (cm)

3,22 ± 0,34 0,115 Luas 3,83±0,45 0,206 Luas 3,53±0,4 0,164 Luas Jumlah Tangkai Sari 19,62 ± 1,04 1,090 Luas - - - - - - Panjang Mahkota Bunga (mm) 11,55 ± 0,52 0,273 Luas - - - - - - Lebar Mahkota Bunga (mm) 5,06 ± 0,38 0,141 Luas - - - - - - Diameter Buah (mm)

66,57 ± 3,09 9,552 Luas 61,47±2,94 8,722 Luas 58,12±3,78 14,295 Luas Berat

Buah (gram)

129,46±18,39 338,073 Luas 98,64±12,25 150,021 Luas 81,7±14,74 217,284 Luas Tebal

Kulit Buah (mm)

2,64 ± 0,69 0,474 Luas 2,85±0,48 0,227 Luas 2,66±0,46 0,210 Luas Jumlah

Juring 11,62 ± 1,26 1,590 Luas 11,27±1,10 1,218 Luas 12,92±0,90 0,811 Luas Jumlah

Biji 15,15±3,80 14,474 Luas 11,82±2,23 4,964 Luas 10,5±3,09 9,545 Luas Dari hasil analisis keseragaman dengan perbandingan keragaman standar deviasi, terdapat kriteria variabilitas fenotipe yang disajikan pada tabel 5, yaitu terdapat variabilitas fenotipik yang luas pada karakter tinggi tanaman, lingkaran

batang, ukuran daun, jumlah tangkai sari, ukuran mahkota bunga, diameter buah, berat buah, tebal kulit buah, jumlah juring dan jumlah biji.

Uji Skoring Rasa

Berdasarkan uji Kruskal-Wallis, sampel yang diamati signifikan dimana populasi yang diamati memiliki mean yang sama. Desa Dalig Raya merupakan peringkat teratas dengan buah jeruk yang memiliki rasa manis, disusul dengan peringkat kedua oleh jeruk di Desa Pematang Purba, lalu desa Simpang Bage pada

Hubungan Kekerabatan

Berdasarkan karakter morfologis jeruk di tiga desa diperoleh nilai hubungan kekerabatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 6. Hubungan kekerabatan jeruk di tiga desa Kabupaten Simalungun dilihat dari Proximity matrix (dissimilarity matrix)

No Nilai koefisien Hubungan Kekerabatan

1 0.702 C5 B5 2 0.810 C9 C1 3 1.192 C6 C1 4 1.341 C9 C5 5 1.534 C9 B5 6 1.678 C6 C5 7 1.738 C6 C9 8 1.772 C6 B5 9 1.901 B10 B9 10 2.129 C4 B11 11 2.251 A11 A3 12 2.301 C1 C5 13 2.306 C1 B5 14 2.647 C12 B6 15 2.921 B12 B1 16 3.021 C7 C2 17 3.491 A9 A6 18 3.521 B3 B9 19 3.721 C10 B8 20 3.736 A10 A8 21 4.065 C8 C9 22 4.573 C3 B8 23 4.597 A7 A5 24 4.951 B10 B1 25 5.106 C2 C5 26 5.983 C10 C2 27 6.257 A4 B11 28 6.330 B12 B6 29 6.460 A12 A6 30 6.523 B2 A13 31 7.563 A8 A3 32 7.570 B9 C8 33 7.926 A13 C4 34 8.365 A9 A11 35 9.923 B7 C12 36 14.725 A10 A5 37 14.941 A4 B6 38 19.146 A2 A5 39 20.369 A10 C4 40 21.971 C11 B10 41 22.103 A3 A1

Dari tabel 6, berdasarkan nilai jarak koefisien diperoleh kesimpulan bahwa semakin kecil nilai koefisien antara variabel satu dengan variable lainnya maka semakin mirip hubungan kekerabatan pada kedua variabel tersebut. Sehingga diketahui bahwa tingkat kemiripan (kesamaan) tertinggi yang memiliki hubungan kekerabatan yaitu pada sampel C5 dan B5 sebesar 0,702 sedangkan tingkat kemiripan (kesamaan) terendah yang memiliki hubungan kekerabatan yaitu pada sampel A3 dan A1 sebesar 22,103.

Dari hasil penelitian jeruk di tiga desa di Kabupaten Simalungun diperoleh dendogram hubungan kekerabtan jeruk di tiga desa pada masing-masing sampel dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 14. Dendogram Hubungan Kekerabatan Jeruk di Desa Dalig Raya, Desa Pematang Purba, dan Desa Simpang Bage

Hubungan Kekerabatan Jeruk Siam (Citrus nobilis) di Beberapa Desa Kabupaten Simalungun

Berdasarkan hasil dendogram hubungan kekerabatan jeruk yang dilakukan di tiga desa di Kabupaten Simalungun (lihat gambar 14.) menunjukkan bahwa jeruk di Kabupaten Simalungun terbagi dalam 2 kelompok utama yaitu kelompok 1 terdiri dari 35 sampel yaitu B5, C5, C1, C9, C6, C2, C7, C8, B8, C10, C3, B6, C12, B1, B12, B9, B10, B3, B7, B11, C4, A4, A13, B2, C11, A5, A7, A3, A11, A8, A10, A6, A9, A12 dan A1. Kelompok 2 hanya terdiri dari 1 sampel yaitu A2. Kelompok 1 memisah dengan kelompok 2 karena adanya perbedaan karakter morfologis buah (diameter buah, berat buah, tebal kulit buah dan jumlah juring

buah) yang mencolok dibanding karakter morfologis buah sampel pada kelompok 1. Karakter-karakter tersebut yang membedakan secara nyata antara

jeruk yang terdapat pada masing-masing desa, sehingga ketiga desa ini dapat dibedakan kedalam taksa yang berbeda.

Pada kelompok 1 membentuk 2 sub kelompok besar yaitu kelompok 1a yang terdiri dari 25 sampel yaitu B5, C5, C1, C9, C6, C2, C7, C8, B8, C10, C3, B6, C12, B1, B12, B9, B10, B3, B7, B11, C5, A4, A13, B2 dan C11, sedangkan kelompok 1b terdiri dari 10 sampel yaitu A5, A7, A3, A11, A8, A10, A6, A9, A12 dan A1. Ini disebabkan karena adanya perbedaan yang jelas pada karakter seperti tinggi tanaman, lingkaran batang, ukuran daun, lebar daun, diameter bauh, berat buah, tebal kulit buah, jumlah juring dan jumlah biji, sehingga dapat menyebabkan keragaman antar tanaman dalam satu daerah yang berbeda.

Pada kelompok 1a membentuk 2 sub kelompok besar yaitu kelompok 1aa yang terdiri dari 24 sampel yaitu B5, C5, C1, C9, C6, C2, C7, C8, B8, C10, C3,

B6, C12, B1, B12, B9, B10, B3, B7, B11, C4, A4, A13 dan B2, pada kelompok ini terdapat sampel (C5 dan B5) yang memiliki nilai koefisien jarak terendah atau dengan kata lain memiliki banyak persamaan karakter diantara keduanya, persamaan tersebut antara lain warna batang, bentuk daun, warna daun, tepi daun, warna kulit buah, bentuk buah, berat buah, rasa buah, jumlah juring, permukaan biji dan warna biji, sedangkan kelompok 1ab terdiri dari 1 sampel yaitu C11.

Hubungan kekerabatan 37 sampel tanaman jeruk di tiga desa Kabupaten Simalungun dari 19 karakter morfologi berbeda yang diamati dan diukur menunjukkan bahwa dari analisis dendogram tersebut dari 37 sampel tanaman jeruk tidak membentuk satu kelompok berdasarkan daerah yang diteliti, tetapi berdasarkan atas perbedaan karakter morfologis tanaman jeruk. Perbedaan karakter morfologis tanaman jeruk dapat diakibatkan karena asal-usul bibit tanaman jeruk tersebut belum diketahui pasti darimana asalnya. Dari data kuisioner atau wawancara langsung dengan para petani jeruk di beberapa desa Kabupaten Simalungun diketahui bahwa sumber bibit tanaman jeruk berasal dari wilayah berastagi Kabupaten Karo, kecuali sumber bibit di Desa Pematang Purba memperoleh bibit dari tempat penangkaran tidak bersertifikat di Desa Bagot Raya dimana penangkarnya berasal dari daerah kabanjahe dan sumber bibitnya juga berasal dari Kabupaten Karo.

Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan jenis jeruk yang diidentifikasi merupakan daerah sentra produksi terbesar untuk pertanaman tanaman jeruk di Kabupaten Simalungun. Dari karakteristik morfologis jenis-jenis jeruk di tiga desa tersebut dapat dilakukan pengamatan secara visual. Pada

masing-masing pengamatan di setiap desa untuk parameter warna batang, warna daun, tepi daun, warna kulit buah, bentuk buah, permukaan biji dan warna biji terdapat persamaan karakteristik morfologi.

Pada pengamatan parameter tinggi tanaman jeruk di Desa Dalig Raya berkisar 2,04 - 6,42 m dengan lingkar batang 30,5 - 66,4 cm, Desa Pematang Purba berkisar 1,73 - 2,45 m dengan lingkar batang 22 - 35,5 cm dan Desa Simpang Bage berkisar 1,66 - 2,30 dengan lingkar batang 16,5 - 21,5 cm. Tinggi tanaman tidak berpengaruh terhadap umur tanaman, namun semakin tua tanaman, batang tanaman akan semakin membesar. Tanaman jeruk ini berbatang rendah dan memiliki percabangan yang banyak. Hal ini sesuai dengan penelitian Tobing (2013) yang menyatakan bahwa percabangan tanaman jeruk relative kecil dan menyebar ke segala arah dengan tidak beraturan tetapi cenderung menghadap ke atas namun mempunyai jumlah cabang-cabang yang cukup banyak.

Ukuran daun tanaman jeruk di Desa Dalig Raya memiliki panjang daun berkisar 5,3 – 8,1 cm dan lebar daun berkisar 2,6 – 3,8 cm, Desa Pematang Purba memiliki panjang daun berkisar 5,6 – 8,4 cm dan lebar daun berkisar 2,8 – 4,1 cm dan Desa Simpang Bage memiliki panjang daun berkisar 6,0 – 8,6 cm dengan lebar daun berkisar 2,9 – 4,5 cm. Hasil identifikasi jenis jeruk di Desa Dalig Raya, Desa Pematang Purba, Desa Simpang Bage menunjukkan bahwa pada karakter bentuk daun, warna daun dan tepi daun memiliki persamaan karakter yaitu berbentuk jorong, berwarna hijau tua dan tepi daun bergerigi. Dari hasil analisis diketahui bahwa terdapat variabilitas fenotipik yang luas untuk karakter panjang dan lebar daun sedangkan karakter keragaan daun tidak memperlihatkan variablitas yang luas (Tabel 5). Menurut penelitian Martasari, dkk (2004) hasil

karakterisasi secara morfologi tanaman memperlihatkan bahwa jeruk siam yang ada di Indonesia memiliki banyak kemiripan terutama pada karakter kualitatif walau nama dan asal daerahnya berbeda. Perbedaan hanya terdapat pada panjang dan lebar daun tanaman.

Dari hasil penelitian jeruk yang diadakan dari bulan Juli sampai dengan September, hanya di Desa Dalig Raya pada bulan Juli tanaman sedang berbunga. Bunga tanaman jeruk di daerah tersebut berwarna putih, kedudukan bunga berada di ketiak daun, memiliki putik dan benang sari dalam satu bunga, jumlah tangkai sari berkisar 18-21 buah, panjang mahkota bunga berkisar 10,65 – 12,12 mm dan lebar mahkota bunga berkisar 4,32 – 5,55 mm. Saat bunga mekar, aroma yang dipancarkan cukup harum. Hal ini sesuai dengan literatur Rismunandar (1986) yang menyatakan bahwa bunga tanaman jeruk kebanyakan berbentuk majemuk dalam satu tangkai dan mempunyai aroma yang harum. Bunga-bunga tersebut muncul dari ketiak daun atau pucuk ranting yang masih muda. Setelah pucuk daun tumbuh, beberapa hari kemudian akan muncul bunga.

Dari hasil pengamatan umur tanaman, tanaman jeruk yang terdapat di Kabupaten Simalungun cukup beragam. Umur tanaman yang diamati di Desa Dalig Raya sekitar 11 tahun, di Desa Pematang Purba sekitar 5 tahun dan di Desa Simpang Bage berkisar 3 tahun. Perbedaan umur tanaman ini akan mengakibatkan bulan berbunga tanaman akan berbeda. Menurut penelitian Qosim, dkk (2011), akan terjadi perbedaan laju pertumbuhan di antara jenis-jenis tanaman yang berkompetisi dalam suatu ekosistem, dalam hal ini akan terjadi juga perbedaan produktifitas pada perbedaan umur tumbuhan dari satu spesies yang sama. Berdasarkan hasil penelitian Sulistiawati, dkk (2014), pembungaan pada tanaman

jeruk di Indonesia terjadi pada musim kemarau karena adanya stress air dan munculnya bunga terjadi pada awal musim hujan. Proses pembentukan bunga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (eksogen) dan endogen tanaman. Menurut penelitian Sitanggang (2002), curah hujan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman jeruk siam. Curah hujan optimal yang dibutuhkan sekitar 1500 mm/tahun. Sedangkan berdasarkan data BPS (2014), curah hujan rata-rata Kabupaten Simalungun 314 mm/tahun, dengan curah hujan minimum 115 mm/tahun dan curah hujan maksimum 560 mm/tahun.

Dari hasil penelitian jeruk di Desa Dalig Raya, Pematang Purba dan Simpang Bage diketahui bahwa warna kulit buah kuning kehijauan, bentuk buah

obloid, jumlah juring sekitar 9 – 15 juring dan tebal kulit buah sekitar

1,90 – 4,04 mm. Menurut Keputusan Menteri Pertanian No 466/kpts/PO.210/9/2003 dalam Indrayasa (2011), jeruk siam Pontianak

memiliki kulit buah berwarna hijau kekuningan, bentuk buah bulat dengan ujung buah tumpul datar, jumlah juring 10 – 12 juring dan tebal kulit buah sekitar 1 – 1,5 mm. Menurut Bidang Pengembangan Produksi Hortikultura (2014), jeruk siam Banjar memiliki kulit berwarna orange kehijauan, bentuk buah bulat agak gepeng, jumlah juring 10 – 13 juring dan tebal kulit buah 1,3 – 1,7 mm. Dalam penelitian Tobing (2013), jeruk siam di wilayah Karo memiliki warna kuning dan kuning kehijauan. Menurut Martasari, dkk (2004), spesies jeruk mempunyai heterozigositas yang tinggi, kebanyakan sifatnya adalah poligenik yaitu dikontrol oleh banyak gen. Sifat poligenik jauh lebih reaktif terhadap lingkungan, sehingga kondisi lingkungan sangat berkontribusi terhadap fenotip dari individu tersebut.

Dari hasil penelitian jeruk di Kabupaten Simalungun, buah di Desa Dalig Raya memiliki jumlah biji antara 7 – 21, buah di Desa Pematang Raya memiliki jumlah biji antara 10 – 17, buah di Desa Simpang Bage memiliki jumlah biji antara 3 – 15. Menurut Husni (2010), jeruk siam masih mempunyai biji yang relatif banyak (14-24 biji per buah) dan mempunyai warna kulit yang belum begitu menarik sehingga kalah bersaing dengan jeruk yang diproduksi negara lain. Kebutuhan pasar dunia terhadap buah jeruk yang dikonsumsi segar saat ini perlu memenuhi kategori buah yang tidak berbiji (seedless), mudah dikupas (easy peeling), dan mempunyai tipe mandarin dengan warna yang menarik (pigmented)

Hasil analisis keseragaman dengan perbandingan keragaman standar deviasi menunjukkan bahwa terdapat variabilitas fenotipik yang luas pada karakter tinggi tanaman, lingkaran batang, ukuran daun, jumlah tangkai sari, ukuran mahkota bunga, diameter buah, berat buah, tebal kulit buah dan jumlah juring (Tabel 5.). Hal ini ditunjukkan dengan nilai varians fenotipnya yang lebih besar dari dua kali nilai standar deviasi varians fenotipnya. Variasi ini terjadi karena adanya faktor internal seperti kontrol gen dan faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan. Hal ini sesuai dengan literatur Mangendidjojo (2003) yang menyatakan bahwa terjadinya atau timbulnya variasi disebabkan oleh adanya pengaruh lingkungan dan faktor keturunan atau genetik, dimana perbedaan kondisi lingkungan memberikan kemungkinan munculnya variasi yang akan menentukan penampilan akhir dari tanaman tersebut. Bila ada variasi yang timbul atau tampak pada populasi tanaman yang ditanam pada kondisi lingkungan yang sama maka variasi tersebut merupakan variasi atau perbedaan yang berasal dari genotipe individu anggota populasi.

Variabilitas luas memiliki keragaman yang tinggi atau dengan kata lain tanaman dalam populasi tersebut tidak seragam. Hal ini diakibatkan karena sumber bibit yang digunakan petani tidak berasal dari bibit yang bersertifikasi. Menurut Martasari, dkk (2004), dalam kegiatan agribisnis pertanian, benih atau bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan peningkatan produksi. Benih atau bibit yang bersertifikat akan menjamin asal usul dan varietas yang digunakan. Menurut Sulkani (2013), tujuan sertifikasi benih adalah menjaga kemurnian varietas melalui pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan asal usul bibit, memelihara mutu benih melalui pemeriksaan kesehatan benih, memberikan jaminan kepada pengguna benih tentang kepastian mutu bibit dan varietas yang akan digunakan, memberikan legalitas kepada produsen benih, bahwa benih yang dihasilkan terjamin kemurnian dan mutunya.

Dari hasil kesimpulan uji Kruskal-Wallis, terdapat perbedaan tingkat rasa buah jeruk dari tiga desa yang diamati. Desa Dalig Raya merupakan peringkat teratas dengan buah jeruk yang memiliki rasa manis, disusul dengan peringkat kedua oleh jeruk di Desa Pematang Purba, lalu desa Simpang Bage pada peringkat terakhir. Perbedaan rasa buah dapat dikarenakan karena faktor umur tanaman dan ketinggian tempat penanaman jeruk tersebut.

Dari hubungan kekerabatan jeruk di tiga desa Kabupaten Simalungun dilihat dari dissimilarity matrix (Tabel 6) terdapat sampel C5 dan B5 yang memiliki nilai koefisien jarak terendah yaitu 0,702 dengan nilai similaritas sebesar 99,298 atau dengan kata lain memiliki banyak persamaan karakter diantara keduanya, persamaan tersebut antara lain warna batang, bentuk daun, warna daun, tepi daun, warna kulit buah, bentuk buah, berat buah, rasa buah, jumlah juring,

permukaan biji dan warna biji sedangkan sampel A3 danA1 memiliki niai koefisien jarak tertimggi yaitu 22,103 dengan nilai similaritas sebesar 77,897 atau dengan kata lain memiliki sedikit persamaan karakter. Berdasarkan hubungan kekerabatan jeruk di Kabupaten Simalungun, kelompok 2 yaitu sampel A2 memisahkan diri dari kelompok 1 karena memiliki banyak perbedaan karakter antara lain diameter buah, berat buah, tebal kulit buahdan jumlah juring buah. Hal ini sesuai dengan literatur Sokal dan Sneath (1963) dalam Fatimah (2013) yang menyatakan bahwa semakin banyak persamaan karakter yang dimiliki maka semakin besar nilai similaritasnya berarti semakin dekat hubungan kekerabatannya diantara kelompok yang diperbandingkan. Sebaliknya semakin banyak perbedaan karakter yang dimiliki maka semakin kecil nilai similaritasnya berarti semakin jauh hubungan kekerabatannya diantara kelompok yang diperbandingkan.

Dokumen terkait