• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1 Kerangka Teori

2.1.6 Jilbab

2.1.6.1 Pengertian Jilbab

Islam melarang wanita muslimah untuk memakai pakaian yang menerawang dan tipis, ini disebabkan karena dari pakaian tersebut akan menimbulkan fitnah atau subhat, baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat sekitar. Secara terminologi, dalam kamus yang dianggap standar dalam bahasa arab ada beberapa pengertian yang bisa diambil yaitu menurut Lisanul Arab jilbab sendiri berarti selendang atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepala,dada dan bagian belakang tubuh. Menurut Mukhtar Shihah jilbab sendiri berasal dari kata Jalbu yang berarti menarik atau menghimpun, sedangkan jilbab berarti pakaian yang lebar seperi mantel yang menutupi semua bagian tubuh. Menurut rujukan kamus diatas dapat disimpulkan bahwa jilbab merupakan pakaian yang lebar, longgar, dan menutupi seluruh bagian tubuh

sebagaimana disimpulkan oleh Al Qurthuby: “jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.”

Huzaemah (2001) mengartikan busana muslim atau jilbab sebagai pakaian yang dipakai oleh wanita muslim untuk menutup aurat yang diwajibkan agama guna kebaikan wanita itu sendiri dan masyarakat yang ada diamana ia berada.

Menurut Ar Ramaadi (2007) jilbab merupakan pakaian yang memiliki fungsi sebagai penutup perhiasan atau aurat dari wanita islam yang mana pakaian ini menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyuruh wanita muslim yang beriman khususnya istri –istri dan putri beliau, mengingatkan kehormatan mereka agar dibedakan dari ciri – ciri perempuan jahiliah dan para budak.

2.1.6.2 Karakteristik Jilbab yang Syar’i

Huzaemah (2007) dalam bukunya yang berjudul Fiqih Perempuan Kontemporer menjelaskan bahwa Islam tidak menentukan model pakaian yang bisa digunakan untuk wanita. Islam sebagai salah satu agama yang sesuai dan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada kaum wanita untuk merancang model pakaian yang sesuai dengan selera masing – masing asalkan tidak melanggar dan keluar dari kriteria yang telah ada, yaitu :

a. Busana dapat menutupi dan melindungi seluruh aurat yang wajib ditutupi.

b. Busana tidak merupakan pakian yang meyolok mata baik model maupun warna yang digunakan karena menurut sabda Rasulullah SAW “ Barang siapa yang memakai busana yang menyolok (kemegahan) di dunia maka Allah akan memakaikan kehinaan di akhiran nantinya.” Imam Syaukani dalam bukunya “ Nail Al- Autar” mengutip Imam Ibnu Atsir berkata yang dikatakan dengan busana yang menyolok mata ialah pakaian yang digunakan oleh wanita muslim berbentuk aneh atau memakai warna yang menyolok dan lain dari pada orang lainnya, sehingga menarik perhatian orang lain untuk memperhatikannya yang mana ini dapat menimbulkan

rasa sombong, takjub, serta kebanggan terhadap diri sendiri secara berlebih-lebihan.

c. Busana berbahan tidak tipis dan tidak menerawang agar pemakaiannya tidak terlihat dari luar. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Di akhir masa umatku, nanti akan muncul wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang yakni wanita-wanita yang Penggunaan pakaian tipis yang menampakkan bentuk lekuk tubuhnya dan di atas kepala mereka terdapat seperti punuk unta yang maksudnya itu meninggikan rambut mereka seperti punuk unta, dan mereka itu adalah manusia-manusia yang terkutuk.”

d. Busana yang berbeda dengan pakaian khas yang dipakai oleh pemeluk agama lain, karena banyak seklai ayat Al Qur’an yang melarang kaum muslimin dan muslimat meniru pakian yang mirip dengan pakaian pemeluk agama lain. Rasulullah SAW dengan tegas mengatakan “ Jangan sekali - kali kamu memakai pakaian pendeta (Yahudi, Nasrani dan lain-lain) atau yang mirip dengan mereka, barang siapa yang memakainya berarti dia bukan umatku lagi.”

e. Busana yang longgar dan tidak terlalu sempit atau ketat agar tidak menampakkan bentuk lekuk tubuh wanita muslimah. Rasulullah SAW pernah memberikan baju dari kain linen yang sangat lunak kepada Usman bin Zaid dan Rasulullah mengetahui bahwa Usman memberikan baju tersebut kepada istrinya. Nabi berkata “ Suruhlah istrimu Penggunaan baju dalam yang tebal dibawah baju linen itu karena aku khawatir kalau baju tersebut dapat menampakkan bentuk tubuhnya.”

f. Busana yang tidak menyerupai pakaian laki-laki, karena Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki. Rasulullah mengutuk pria yang meniru-niru wanita dan wanita yang meniru pria.

g. Busana yang tidak merupakan bentuk dari perhiasan kecantikan, seperti yang tercantum dalam surat an-Nur ayat 31 yang artinya “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak.”

Kriteria jilbab yang syar‟i menurut Al-Qur’an dan As-Sunah yang dijabarkan oleh Abu Al-Ghifari (2003) diantaranya adalah sebagai berikut :

a) Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan yaitu muka dan telapak tangan.

b) Bukan berfungsi sebagai perhiasan dan tabarruj.

c) Kainnya harus tebal,tidak tipis agar tidak menerawang dan menampakkan bentuk tubuh.

d) Harus longgar dan tidak ketat, sehingga tidak menggambarkan sesuatu bentuk dari lekukan tubuhnya.

e) Tidak memakai wewangian atau parfum agar tidak menarik perhatian orang lain karena wewangian tersebut.

f) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

g) Bukan libas syuhrah (pakaian popularitas).

2.1.6.3 Tujuan dan Fungsi Jilbab

Tujuan berbusana dalam islam ada dua yaitu pertama untuk menutup aurat dan kedua untuk berhias. Allah SWT memberikan anugerah kepada manusia yaitu pakaian dan perhiasan yang telah disediakan dengan pengelolaannyaa.

Dengan demikian , pakaian memiliki empat fungsi yaitu:

1. Melindungi Aurat atau menutupi aurat.

2. Melindungi tubuh dari dingin dan panas.

3. Menjaga dan melindungi kesucian,kemuliaan dan kehormatan sebgai seorang wanita.

4. Menjaga identitas sebagai wanita muslimah yang membedakan dari wanita lainnya (Muhyidin dalam Ruliana, 2010).

Menurut Ruliana, jilbab berfungsi sebagai :

a. Pembeda , yang mana jilbab inilah yang membedakan mana seorang wanita yang memiliki kehormatan dan mana yang tidak.

b. Pembentuk perilaku, jilbab ini juga bisa mengarahkan tingkah laku seseorang yang memakainya. Karena apabila menggunakan jilbab karena kesadaran diri maka akan bisa mengontrol setiap sikap dan perilaku bahkan tindakan yang akan diperbuat.

c. Pembentuk emosi, jilbab dapat menumbuhkan rasa marah atau sayang, cinta atau benci, suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Wanita yang menggunakan jilbab sensntiasa menumbuhkan perasaan yang positif terhadap sesamanya dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan jilbab. Dengan demikian seseorang yang menggunakan jilbab akan merasakan ketenangan di dalam hatinya. Karena dia sudah menjalankan syariat Islam dan merasa man dan tentram dari gangguan orang – orang jahil yang suka memfitnah.

Dari ketiga fungsi yang dijabarkan diatas yaitu pembeda, pembentuk perilaku dan pembentuk emosi itu saling berpengaruh dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Tingkah laku yang sopan dan iman yang kuat serta dapat mengontrol emosinya perlu dimiliki oleh wanita – wanita muslimah.

Dokumen terkait