BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
G. Teknik Analisis Data
1. Judul
2) Judul harus proaktif, artinya judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi karangan.
3) Judul harus singkat, artinya judul harus berbentuk rangkaian kata yang singkat.
b. Isi atau gagasan
Menurut Widyamartaya (1990: 9 dan 31) gagasan adalah pesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Gagasan dapat berupa pengetahuan, pengamatan, pendapat, renungan, keinginan, perasaan, dan emosi. Isi atau gagasan perlu dituangkan secara tertulis sehingga dapat dipahami dan dipetik manfaatnya bagi orang lain karena bagian isi karangan merupakan inti suatu karangan.
Isi atau gagasan karangan narasi mengisahkan suatu kejadian atau pe-ristiwa yang secara runtut dalam suatu kesatuan waktu. Isi karangan meliputi komponen-komponen pembentuk suatu karangan narasi, yaitu perbuatan, peno-kohan, latar, sudut pandang, dan alur.
c. Organisasi Karangan
Menurut The Liang Gie (1992: 21) sebuah karangan terdiri dari beberapa paragraf. Paragraf yang baik menerapkan azas-azas yang berkenaan dengan gagasan. Azas-azas itu adalah sebagai berikut.
1) Kejelasan, sebuah karangan dapat dipahami sehingga tidak disalah-tafsirkan pembaca. Menurut Keraf (2004: 139), kejelasan sebuah karangan dapat dilihat dari gagasan-gagasan yang disampaikan kepada pembaca. Karangan di-jelaskan dalam kalimat yang jelas.
2) Keringkasan, karangan harus singkat atau pendek, tidak mengulang-ulang kalimat dalam menyampaikan gagasan.
3) Ketepatan, karangan mengandung penataan terhadap berbagai aturan ketata-bahasaan, ejaan, tanda baca, dan kelaziman bahasa tulis yang ada.
4) Kesatupaduan, sesuatu yang disajikan dalam karangan harus berkisar pada satu gagasan pokok atau tema karangan. Menurut Keraf (2004: 139), kesatuan gagasan menjadi landasan seluruh karangan. Ada tulisan yang tidak mem-perlihatkan kesatuan, yaitu tidak mengungkapkan dengan tegas apa yang dimaksud dalam karangan sehingga pembaca tidak memahami apa yang dibacanya.
5) Pertautan, suatu karangan harus saling terkait antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, alinea yang satu dengan alinea yang lain.
6) Pengharkatan, bahwa butir-butir ide diungkapkan dengan penekanan atau pe-nonjolan tertentu sehingga mengesan bagi pembaca.
Selain itu, karangan narasi yang baik harus memiliki hubungan antarkata, kalimat, dan paragraf. Setiap kata, kalimat, paragraf harus saling berhubungan satu sama lain, sehingga mengetahui maksud dan tujuan suatu karangan. Pe-nulisan paragraf yang benar dalam suatu karangan harus sesuai dengan aturan, yakni menjorok ke dalam. Organisasi karangan terdiri atas (1) pendahuluan, (2) isi, (3) penutup. Berikut ini akan dijelaskan ketiga organisasi karangan secara terperinci.
1) Pendahuluan
Pendahuluan adalah pembukaan atau kata pengantar dari sebuah karangan. Pendahuluan karangan dapat diuraikan yang isinya mengantarkan kepada pembaca untuk mengetahui pokok masalah.
2) Isi Karangan
Isi karangan biasanya berupa pernyataan, data, fakta, contoh yang diambil dari pendapat umum, pendapat para ahli, hasil penelitian, kesimpulan-kesimpulan yang dapat mengukuhkan jawaban rumusan masalah. Penyusunan isi karangan harus kritis dan logis sehingga isi karangan meyakinkan dan benar (Keraf, 1982: 104-107).
3) Penutup
Penutup karangan merupakan konklusi atau kesimpulan yang harus tetap dijaga agar kesimpulan tersebut tetap memelihara tujuan dan menyegarkan kembali ingatan pembaca.
d. Tata Bahasa
Tata bahasa suatu karangan narasi adalah susunan bahasa yang dapat dipahami pembaca. Susunan bahasa yang baik akan membentuk suatu kalimat yang baik atau kalimat yang efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
1) Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan penulis.
2) Sanggup menimbulkan gagasan yang tepat dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh penulis.
Kalimat yang efektif membentuk sebuah paragaf, dari paragraf-paragraf akan membentuk sebuah karangan. Paragraf yang baik harus mengandung beberapa azas yang berkenaaan dengan gagasan. Azas-azas itu adalah kejelasan, keringkasan, ketepatan, kesatupaduan dan pertautan. Suatu karangan harus menggunakan bahasa baku, sesuai dengan tata bahasa Indonesia baku.
e. Diksi/Pilihan Kata
Suatu karangan narasi harus memilih kata yang tepat. Pilihan kata yang digunakan apakah merusak karangan. Oleh karena itu, suatu karangan harus menggunakan pengulangan kata (afiksasi) yang tepat. Karangan harus menggunakan kata penghubung yang tepat.
Menurut The Liang Gie (1992: 17) unsur karangan meliputi empat hal sebagai berikut.
1) Gagasan (idea), merupakan tema yang diungkapkan secara tertulis dalam suatu karangan.
2) Tuturan (discourse), merupakan bentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca. Tuturan karangan dapat dibedakan menjadi empat bentuk sebagai berikut.
a) Penceritaan adalah bentuk pengungkapan yang menyampaikan sesuatu peristiwa/pengalaman dalam kerangka urutan waktu kepada pembaca dengan maksud untuk meninggalkan kesan tentang perubahan atau gerak sesuatu dari pangkal awal sampai titik akhir.
b) Pelukisan adalah bentuk pengungkapan yang menggambarkan berbagai serapan pengarang dengan segenap inderanya yang bermaksud me-nimbulkan citra yang sama dalam diri pembaca.
c) Pemaparan adalah bentuk pengungkapan yang menyajikan fakta-fakta secara teratur, logis, dan terpadu untuk memberikan penjelasan kepada pembaca mengenai suatu ide, persoalan, proses, atau peralatan.
d) Perbincangan adalah bentuk pengungkapan dengan maksud meyakinkan pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai yang diharapkan oleh pengarang.
3) Tatanan (organization) adalah tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai azas, aturan, dan teknik sampai meren-canakan rangka dan langkah.
4) Wahana (medium) adalah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang menyangkut kosakata, gramatika, dan retorika (seni memakai bahasa secara efektif).
f. Ejaan
Ejaan adalah perlambangan fonem dengan huruf. Selain perlambangan fonem dengan huruf, ejaan juga mengatur: (1) ketepatan menuliskan satuan-satuan morfologi misalnya kata sambung, kata dasar, kata ulang, kata majemuk, kata berimbuhan, dan partikel-partikel (2) ketepatan menuliskan kalimat dan bagian-bagian kalimat dengan pemakaian tanda baca seperti titik, tanda kurung, koma, dan sebagainya (Badudu, 1985: 17).
Menurut Parera (1984: 38) pemakaian ejaan meliputi penggunaan huruf, penulisan huruf kapital, penulisan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca yang tepat, sedangkan menurut Pedoman Umum EYD (2001: 9), pemakaian ejaan meliputi pemakaian huruf kapital, penulisan kata, penulisan unsur separan, dan pemakain tanda baca.
Karangan yang baik harus memperhatikan pemakaian ejaan yang berlaku. Ejaan meliputi pemakaian huruf, pemakaian huruf kapital dan huruf miring, penulisan unsur serapan, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Ejaan benar harus disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.
g. Kebersihan dan Kerapian
Menurut Keraf (1984: 250) karangan dikatakan bersih dan rapi apabila tidak ada coteran, penulisan antara kata yang satu dengan kata yang lain tidak
kerapian merupakan salah satu faktor yang dinilai dalam karangan. Karangan yang bersih dan rapi dapat membantu pembaca untuk memahami apa yang ingin dikatakan penulis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas penulis cenderung setuju dengan pendapat Keraf karena gagasan-gagasan yang diberikan jelas dan mudah dipahami. Keraf menegaskan bahwa karangan narasi adalah serangkaian cerita yang bersifat fiksi dan nonfiksi. Serangkaian cerita yang bersifat fiksi dan nonfiksi menunjukkan bahwa daya imajinasi dan fakta (pengalaman hidup sehari-hari) yang didukung dengan media gambar seri dapat menjadi daya bagi siswa untuk menuangkan gagasan atau ide dalam karangan narasi. Selain itu, siswa dapat merangkaikan ide cerita berdasarkan azas dan aspek kejelasan, keringkasan, ketepatan, keterpautan, kesatupaduan, pengharkatan, judul karangan, isi atau gagasan, organisasi, tata bahasa, ejaan, diksi, kebersihan dan kerapian.
D. Media Gambar Seri
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 726) media adalah alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster dan spanduk. Pendapat yang sama diungkapkan Soeparna (1998: 1) bahwa media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan pesan atau informasi dari sumber kepada penerimanya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 1049) menuliskan gambar seri berarti gambar cerita yang berturut-turut, sedangkan menurut Sastradiradja (1971:66) Gambar seri untuk menerangkan suatu rangkaian perkembangan,
mi-salnya sebuah cerita anak-anak, cerita sejarah, dan dapat dibuatkan rangkaian gambar-gambar. Fungsi penggunaan gambar seri adalah sebagai berikut.
1. Memberikan bayangan yang nyata kepada siswa tentang apa yang sedang diceritakan.
2. Perhatian siswa dipusatkan pada satu objek, yakni apa yang digambarkan. Berdasarkan pengertian dan fungsi di atas dapat disimpulkan media gambar seri adalah alat komunikasi berbentuk gambar cerita yang berturut-turut atau gambar tentang situasi cerita bersambung yang dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan informasi kepada orang lain.
E. Mengarang Narasi Berdasarkan KTSP
Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanankan di masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum tingkat satuan pendidikan terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang men-yelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, materi
pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar (Puji Purnomo, 2007: 9).
Kurikulum tingkat satuan pendidikan bahasa Indonesia sekolah dasar memiliki standar isi yang mencakup dua hal, yakni tujuan dan ruang lingkup. Mata pelajaran bahasa Indonesia di SD bertujuan agar peserta didik memiliki enam kemampuan yakni:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan.
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia.
Selanjutnya, ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meluputi empat aspek, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. (Widharyanto, tanpa tahun: 2).
Berikut ini disajikan tabel mengenai kemampuan menulis siswa kelas V semester I.
Tabel 1
Kemampuan Menulis Kelas V Semester I Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Menulis
4 Mengungkapkan pikiran, pera-saan, informasi dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis.
4.1 Menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat diuraikan bahwa kegiatan menulis karangan narasi harus diajarkan di sekolah dasar. Kegiatan menulis karangan merupakan salah satu kegiatan yang mendukung tercapainya keenam tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia di atas dan merealisasikan salah satu komponen atau aspek ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia, yakni menulis.
Kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa, yaitu menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri. Lewat karangan siswa dapat menuliskan atau menuangkan berbagai perasaan, pengalaman hidup, dan menyampaikan ide atau pendapat dengan bantuan media gambar seri. Media gambar seri merupakan salah satu media visual. Media gambar seri dapat memudahkan siswa menulis karangan
narasi karena memberikan gambaran visual yang konkrit mengenai suatu hal atau peristiwa.
F. Kerangka Berpikir
Kemampuan mengarang berarti kesanggupan dan kecakapan seseorang untuk mengungkapkan buah pikirannya. Buah pikiran itu dapat berupa informasi, pengetahuan, pengalaman, pendapat, keinginan dan perasaan yang dapat diungkapkan melalui bahasa tulis sehingga dapat dibaca dan dipahami orang lain.
Kemampuan menulis atau mengarang merupakan kecakapan berbahasa tulis yang harus dimiliki siswa. Kemampuan menulis karangan menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan. Penguasaan unsur kebahasaan men-yangkut pilihan kata dan penyusunannya sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa agar tulisan mudah dipahami orang lain.
Kemampuan menulis karangan siswa dapat dibantu dengan menggunakan media gambar seri. Media gambar seri merupakan alat visual yang penting dan mudah didapat. Penting sebabnya dapat memberikan gambaran visual yang konkrit tentang masalah yang digambarkan. Media gambar seri adalah pesan atau informasi yang disampaikan lewat gambar-gambar yang saling berkaitan. Oleh karena itu, media gambar seri dapat membantu siswa untuk memudahkan menuangkan gagasannya.
Beberapa fungsi media gambar seri yaitu: (1) melatih dan mempertajam daya imajinasi siswa, (2) siswa belajar berpikir logis mengenai hubungan sebab akibat serta kaitan gambar yang satu dengan gambar yang lain, (3) memusatkan perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan, (4) memberikan bayangan yang
nyata kepada siswa tentang apa yang diceritakan, (5) perhatian siswa dipusatkan pada satu objek, yakni apa yang digambarkan.
Dengan pertimbangan di atas peneliti menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa. Dalam penelitian ini, media gambar seri yang dipakai sesuai dengan pengalaman siswa.
G. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini sebagai berikut.
1. Kemampuan menulis karangan narasi sebelum menggunakan media gambar seri pada siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta berkategori cukup. 2. Kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar
seri pada siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta sesudah siklus I berkategori lebih dari cukup.
3. Kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri pada siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta sesudah siklus II berkategori baik.
4. Ada perbedaan antara kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri sesudah siklus I dan siklus II pada siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini, peneliti akan menguraikan tujuh hal yaitu: (1) jenis penelitian, (2) populasi dan sampel, (3) model penelitian, (4) pelaksanaan penelitian, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, (7) teknik analisis data, dan (8) indikator Keberhasilan. Kedelapan hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan guru. Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu upaya guru memperbaiki keadaan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Singkatnya penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kawasan kelas dan bertujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran yang ada.
Selain itu, penelitian ini juga termasuk penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kemampuan menulis karangan narasi sebelum menggunakan gambar seri pada kondisi awal, (2) kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri sesudah siklus I, (3) kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri sesudah siklus II, (4) ada perbedaan antara kemampuan menulis karangan narasi menggunakan media gambar seri sesudah siklus I dan kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri sesudah siklus II.
B. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta yang berjumlah 32 orang. Mereka terdiri atas 19 laki-laki dan 13 perempuan. Menurut Arikunto (1986: 107), apabila jumlah populasi kurang dari 100, semua dijadikan sebagai sampel penelitian. Jadi jumlah sampel penelitian ini berjumalah 32 orang.
C. Model Penelitian
Model penelitian yang akan digunakan peneliti adalah model Kemiss dan Mc. Targgart. Adapun model penelitian tersebut dapat dilaksanakan melalui empat langkah utama, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat langkah utama pelaksanaan penelitian tindakan akan dapat digambarkan seperti di halaman berikut ini.
Refleksi Perencanaan SIKLUS I Pengamatan Perencanaan SIKLUS II Pelaksanaan Pelaksanaan Refleksi
D. Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan dua siklus. Setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Setiap akhir siklus diadakan tes untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis karangan narasi. Pelaksanaan kedua siklus dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Pelaksanaan Siklus I
Pelaksanaan siklus pertama diadakan satu kali pertemuan. Siklus pertama dilaksanakan tanggal 29 Maret 2010 dengan jumlah siswa 32 orang. Pemberian tindakan disesuaikan dengan rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya yaitu: (1) tahap persiapan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan atau observasi, dan (4) refleksi. Keempat hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dilakukan dengan menentukan materi dan media yang digunakan dalam pelaksanaan siklus pertama. Materi dan media yang dipilih akan dituangkan dalam silabus, RPP, dan LKS. Materi yang ditentukan pada tahap persiapan adalah menulis karangan narasi mata pelajaran bahasa Indonesia kelas V sedangkan media yang digunakan adalah gambar seri yang masih acak.
Kompetensi dasar yang dicapai dalam pembelajaran ini adalah menulis karangan narasi berdasarkan media gambar seri. Siswa harus memperhatikan judul, isi karangan, organisasi, tata bahasa, diksi, ejaan, kebersihan dan kerapian. Pada siklus pertama, peneliti menyampaikan materi sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
b. Pelaksanaan Tindakan
Sebelum pelaksanaan siklus pertama peneliti mengadakan tes awal, hal ini dilaksanakan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan mengarang siswa. Tes awal dilaksanakan pada hari Senin tanggal 8 Februari 2010 selama 2 jam pelajaran (2 x 40 menit) dengan subjek siswa kelas V berjumlah 32 orang. Mereka terdiri dari 19 laki-laki dan 13 perempuan. Pada pelaksanaan tindakan ini peneliti bertindak sebagai guru.
Pelaksanaan tindakan diawali dengan kegiatan apersepsi oleh peneliti. Kegiatan apersepsi yang dilakukan adalah menyapa siswa, menanyakan siswa yang tidak masuk, dan menyampaikan materi yang akan dicapai. Peneliti mengaitkan materi pembelajaran dengan kegiatan anak di sekolah.
Selanjutnya peneliti menjelaskan pengertian karangan dan jenis-jenis karangan. Peneliti lebih memfokuskan jenis karangan narasi. Selain itu, peneliti menjelaskan cara menulis karangan dengan memperhatikan huruf besar pada awal kalimat, penulisan paragrapf menjorok 1cm dari garis tepi, dan memperhatikan penggunaan EYD.
Setelah peneliti menjelaskan penulisan karangan, kemudian peneliti membagikan lembar kerja siswa. Peneliti membacakan petunjuk menulis kara-ngan di depan kelas. Setelah itu, siswa menyusun empat gambar seri yang acak menjadi gambar seri yang runtut. Selanjutnya, siswa menentukan judul karangan. Siswa menjabarkan judul karangan menjadi empat paragrapf sesuai dengan gambar seri. Setiap paragrapf minimal empat kalimat. Selain itu, siswa menulis
Selanjutnya siswa mengumpulkan hasil karangan kepada peneliti. Peneliti memeriksa hasil karangan siswa untuk dianalisis sehingga mengetahui ke-mampuan menulis karangan narasi.
c. Pengamatan atau Observasi
Selama pelaksanaan tindakan peneliti sekaligus mengadakan pengamatan. Pengamatan yang dilakukan adalah mengamati kelebihan maupun kekurangan selama proses pembelajaran. Pengamatan ini dilakukan sebagai bahan refleksi dalam pelaksanaan selanjutnya.
Kelebihan selama pengamatan pertama adalah siswa antusias bertanya saat peneliti menjelaskan materi yang diajarkan. Kedua adalah siswa aktif menulis karangan dan hanya ada beberapa siswa yang bertanya tentang kalimat apa yang harus ditulis. Ketiga adalah siswa terbantu menulis karangan dengan meng-gunakan gambar seri. Peneliti membantu beberapa siswa yang bertanya tentang judul apa yang harus ditulis.
Sedangkan kekurangan selama peneliti mengadakan pengamatan adalah peneliti melaksanakan pembelajaran melebihi waktu yang telah ditentukan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP. Selain itu, media yang digunakan peneliti belum efektif dan kurang menarik.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan melihat hasil tes sesudah siklus pertama, peneliti menyimpulkan bahwa ada peningkatan prestasi. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata kondisi awal dan skor rata-rata tes sesudah siklus pertama, ada
peningkatan 9.46%. Skor tertinggi yang dicapai siswa sesudah siklus pertama adalah 80 dan skor terendah 52.
Adapun yang terjadi pada siklus pertama, yang menyebabkan pem-belajaran kurang berhasil secara maksimal adalah gambar seri tidak berwarna sehingga kurang menarik bagi siswa. Selain itu, masih dijumpai siswa belum maksimal mengerjakan LKS, artinya masih ada siswa tidak memberi tanda titik pada akhir kalimat. Beberapa siswa tidak memberi tanda penghubung pada pemenggalan kata.
Oleh karena itu, peneliti merencanakan kegiatan pada siklus kedua, membuat gambar seri yang berwarna, agar siswa tertarik dan semangat menulis karangan. Selain itu, peneiti memberikan penjelasan ulang kepada siswa yang belum paham tentang menulis karangan.
2. Pelaksanaan Siklus II
Pelaksanaan siklus kedua diadakan satu kali pertemuan. Siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 29 April 2010 dengan jumlah siswa 32 orang. Pemberian tindakan disesuaikan dengan rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya yaitu (1) tahap persiapan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan atau observasi, dan (4) refleksi. Keempat hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan siklus kedua mengacu pada siklus pertama. Peneliti mempersiapan siklus kedua dengan merancang pembelajaran. Materi yang
diajarkan menulis karangan narasi, pada tahap ini juga digunakan media gambar seri berwarna. Selain itu, peneliti menyiapkan Silabus, RPP, dan LKS.
b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus kedua dilaksanakan pada hari Rabu 29 April 2010 menggunakan waktu 2 x 40 menit atau 2 jam pelajaran. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan peneliti memberikan apersepsi yaitu menyapa anak-anak, menanyakan siswa yang tidak masuk dan menyampaikan materi yang akan dicapai pada pertemuan itu yaitu menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri. Peneliti mengaitkan menulis karangan narasi dengan kegiatan anak di sekolah, seperti kegiatan pramuka, dan kebersihan lingkungan sekolah.
Kompetensi dasar yang dicapai pada siklus kedua sama dengan siklus pertama yaitu menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri. Peneliti menjelaskan kembali tentang menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri. Peneliti memberikan gambar seri yang acak, siswa maju ke depan kelas untuk mengurutkan gambar seri di papan tulis, sehingga menunjukkan gambar seri yang runtut.
Selain itu, peneliti menunjuk beberapa siswa untuk mengutarakan