• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

C. Karangan

2. Karangan Narasi

Karangan adalah hasil perwujudan gagasan dan pengalaman seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca.

3. Narasi

Narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang terjadi. Narasi mencakup dua unsur dasar yaitu perbuatan dan tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu.

4. Media

Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari sumber kepada penerimanya. 5. Media gambar

Media gambar adalah suatu alat berupa gambar yang digunakan untuk menyampaikan pesan agar siswa dapat menangkap informasi yang terkandung dalam gambar tersebut.

6. Gambar seri (berhubungan)

Gambar seri merupakan suatu rangkaian gambar yang saling berhubungan antara gambar yang satu dengan gambar yang lain, misalnya sebuah cerita anak-anak, cerita sejarah.

G. Sistematika Penyajian

Penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat Penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian.

Bab II membahas landasan teori. Landasan teori ini menjelaskan tentang penelitian-penelitian sejenis dan teori yang relevan, kerangka teori meliputi kemampuan menulis, pengertian karangan, karangan narasi, media gambar seri, dan mengarang narasi berdasarkan KTSP, kerangka berpikir dan hipotesis.

Bab III berisi tentang metodologi penelitian. Hal yang akan diuraikan dalam bab III adalah jenis penelitian, populasi dan sampel, model penelitian, pelaksanaan penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan indikator keberhasilan.

Bab IV berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan. Hal yang akan diuraikan dalam bab IV adalah deskripsi data penelitian, hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian. Bab V merupakan penutup. Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan, implikasi, dan saran. Daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian yang Relevan

Terdapat tiga penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Penelitan yang satu oleh Kusriniati (2005), penelitian kedua oleh Praharani (2006), dan penelitian ketiga oleh Prihastuti (2007). Ketiganya akan diuraikan satu persatu sebagai berikut.

Kusriniati (2005) melakukan penelitian dengan judul Kemampaun Mengarang Narasi Siswa Kelas IV SD Kanisius II Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta dengan jumlah populasi 44 siswa yang terdiri dari dua kelas, yaitu kelas IVA berjumlah 21 siswa dan kelas IV B berjumlah 23 siswa dengan sampel seluruh jumlah populasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan mengarang narasi dapat dikategorikan cukup.

Praharani (2006) melakukan penelitian dengan judul Problematik Pembelajaran Mengarang dengan Menggunakan Gambar Seri dan Cara Meng-atasinya (Studi Kasus pada Guru Bahasa Indonesia dan Siswa Kelas V). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan mengarang dengan menggunakan gambar seri, selain itu peneliti menemukan dalam pembelajaran mengarang dengan menggunakan gambar seri pada siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta menghadapi problematik. Problematik mengarang dengan menggunakan gambar seri muncul karena cara mengajar guru. Pada saat mengajar guru kurang persiapan dan menggunakan metode mengajar yang dominan sehingga terkesan monoton (2006; 85-85), hal ini menyebabkan

siswa mengalami problematik dalam mengarang dengan menggunakan gambar seri.

Maria Purwani (2004) melakukan penelitian dengan judul Kemampuan Menulis Narasi Siswa SD Kelas VI (Studi Kasus pada Tiga SD Pelaksana KBK di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang Tahun Ajaran 2003/2004). Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VI pelaksana KBK yaitu SDN III Kradenan, SDN 1 Srumbung, dan SD Kanisius Mandungan, tahun ajaran 2003/2004 yang masing–masing terdiri dari satu kelas. Jumlah siswa kelas VI yang berada di tiga SD tersebut adalah 51 anak, 29 anak, 22 anak. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskriptif.

Hasil penelitian yang didapat adalah kemampuan menulis narasi siswa kelas VI SDN III Kradenan, SDN I Srumbung, dan SD Kanisius Mandungan berada pada taraf cukup. Dari hasil penelitian itu peneliti mengajukan saran-saran yang dapat mengoptimalkan pengajaran bahasa Indonesia, khususnya untuk menulis karangan narasi. Saran-saran penulis adalah kemampuan menulis karangan narasi pada siswa perlu ditingkatkan, untuk mencapai hasil yang maksimal perlu dilakukan pelatihan menulis secara intensif untuk siswa, penambahan buku bacaan khususnya buku tentang menulis narasi dan sastra di perpustakaan sekolah.

Berdasarkan tinjauan pustaka yang peneliti lakukan, menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri masih relevan untuk diteliti. Pada penelitian ini ditemukan ada peningkatan kemampuan menulis karangan dengan

karangan narasi menggunakan media gambar seri sesudah siklus I dan kemampuan menulis karangan narasi menggunakan gambar seri sesudah siklus II.

Selain itu, hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah pertama, penelitian-penelitian ini berupa penelitian-penelitian tindakan kelas (PTK) dengan peningkatan kemampaun menulis karangan narasi siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010. Penelitian tentang peningkatan kemampaun menulis karangan narasi siswa kelas V dengan menggunakan gambar seri belum pernah dilakukan. Maka penelitian ini masih relevan untuk diteliti. Selain itu, penulis ingin meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010 dengan menggunakan media gambar seri.

B. Kemampuan Menulis

Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2002: 623) kemampuan berarti ke-sanggupan, kecakapan, sedangkan menulis (KBBI, 2002: 1219) berarti mela-hirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang). Jadi, kemampuan menulis memiliki pengertian kesanggupan dan kecakapan seseorang melahirkan pikiran atau perasaan dalam bentuk karangan atau tulisan.

Kartono mengungkapkan (2009: 17) bahwa menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengurutkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan men-yampaikannya kepada khalayak. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada orang lain agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”.

Selain itu, menurut Kartono (2009: 32-33) menulis membutuhkan tiga hal yang saling terkait, yaitu: mau (kemauan), tahu (pengetahuan), dan terampil (keterampilan).

1. Kemauan adalah dorongan dari dalam yang menggerakkan untuk bertindak. Kemauan atau keinginan untuk menulis dapat disebabkan oleh hal-hal yang berasal dari luar diri, karena ditugasi atau diwajibkan. Kemauan dari dalam diri dapat berupa keinginan untuk mengaktualisasikan diri. Ketika keinginan telah kuat, seseorang dapat dikatakan memiliki modal besar untuk menulis. 2. Pengetahuan adalah kekayaan mengenai teknik menulis dan isi tulisan.

Pengetahuan menulis seseorang dapat diciptakan dengan banyak membaca, berdiskusi, melihat, mengamati, dan mendengarkan.

3. Keterampilan menulis adalah penggabungan yang harmonis antara daya otak, dan daya tangan. Dengan membiasakan diri untuk terus menulis, dengan sendirinya kemampuan menulis akan terasah dengan baik. Keterampilan menulis merupakan aksi nyata seseorang untuk menuangkan gagasannya kepada orang lain.

Oleh karena itu, kemampuan menulis merupakan kesanggupan atau ke-cakapan seseorang menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada orang lain. Kemampuan menulis juga berarti suatu upaya untuk mengungkapkan pokok pikiran secara teratur dan jelas sehingga orang lain memahami makna tulisan yang disampaikan. Seseorang memiliki gagasan yang sungguh baik, tetapi tidak memiliki kemauan, pengetahuan, dan keterampilan atau kemampuan menuangkan

Hayon mengatakan (2007: 89-90) bahwa ada empat prinsip yang men-dukung seseorang untuk terampil dalam menulis. Keempat prinsip tersebut adalah: aktif berpikir, keterampilan membaca, meniru, dan latihan menulis.

1. Aktif berpikir merupakan suatu kegiatan yang jauh lebih aktif daripada “membaca”. Seorang penulis selalu aktif berpikir tentang materi yang ingin disampaikan dan kemudian secara aktif juga menyatakannya dengan bahasa yang sesuai agar mudah dipahami orang lain.

2. Keterampilan membaca menjadikan seseorang dapat menulis dengan baik. Atau secara negatif dikatakan bahwa jika tidak memiliki keterampilan membaca seseorang akan mengalami kesulitan dalam membuat sebuah tulisan. 3. Meniru adalah kegiatan melihat sambil mendengarkan petunjuk yang

diberikan oleh orang-orang yang telah terampil. Seseorang dapat terampil menulis dengan meniru cara menulis orang lain. Mereka secara tidak langsung, dilatih dengan keterlibatannya dalam kegiatan itu. Mereka akan melihat sambil mendengarkan petunjuk yang diberikan oleh orang-orang yang terampil.

4. Latihan menulis adalah kegiatan yang dilakukan secara teratur dan terus menerus jika seseorang mau memiliki keterampil menulis.

Berdasarkan keempat prinsip di atas disimpulkan bahwa keterampilan menulis dapat dimiliki jika seseorang berusaha atau berkemauan melibatkan nalarnya dengan gagasan yang disampaikan kepada orang lain, berusaha dan berkemauan meningkatkan keterampilan membaca secara terus menerus. Selain

itu, ia harus belajar dan berlatih secara langsung maupun tidak langsung dengan orang yang kompeten dalam menulis.

C. Karangan

1. Pengertian Karangan

Menurut The Liang Gie (1992: 17) karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Dari pengertian ini, dapat dikemukakan bahwa suatu karangan harus memiliki ide/gagasan, tuturan/wacana, tatanan/organisasi, dan wahana/medium.

Karangan yang memiliki ide/gagasan merupakan karangan yang ingin menyampaikan sesuatu kepada pembaca. Karangan yang memiliki tuturan/wa-cana adalah bentuk karangan yang mengungkapkan gagasan secara naratif, deskriptif, ekspositoris, atau argumentatif. Karangan yang memiliki tatanan/ organisasi, berarti penataan gagasan dalam karangan secara logis, sedangkan karangan yang memiliki wahana/medium berarti karangan yang menyampaikan ide berkaitan dengan pilihan kata, gramatika, retorika. Keempat unsur karangan tersebut menentukan kualitas suatu karangan sehingga karangan tersebut dapat dimengerti oleh pembaca.

Pendapat yang lain diungkapkan oleh Widyamartaya (1978: 9) meng-arang adalah suatu proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan kandungan jiwanya kepada orang lain atau kepada diri sendiri dalam bentuk tulisan. Mengarang merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan pemikiran untuk menuangkan gagasan yang dituangkan lewat tulisan.

Menurut S. Takala dalam Achmadi (1988: 22) menjelaskan bahwa mengarang adalah suatu proses penyusunan, mencatat, dan mengkomunikasikan makna dalam tataran ganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan sistem tanda konvensional yang dapat dilihat. Mengarang membutuhkan suatu pencatatan dan mengkomunikasikannya lewat tulisan.

Menurut Hakim (1971: 5) mengarang adalah mengungkapkan buah pikiran melalui tulisan. Itu berarti mengarang bukan asal menulis, tetapi sipenulis harus dapat menuangkan ide atau gagasan dalam rangkaian kalimat yang jelas sehingga dapat ditangkap oleh pembaca.

Keraf (1984: 18) juga mengatakan bahwa karangan harus memuat aspek-aspek tertentu selain mencakup azas-azas di atas. Aspek-aspek-aspek karangan tersebut mencakup judul karangan, isi atau gagasan, organisasi karangan, tata bahasa, ejaan, diksi atau pilihan kata, kebersihan dan kerapian.

Kesimpulan dari pengertian-pengertian di atas adalah mengarang sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada pembaca. Jadi, mengarang tidak hanya sekedar menulis. Mengarang harus memperhatikan cara penulisan karangan yang sesuai dengan aturan dan azas-azas seperti yang diuraikan di atas sehingga pembaca dapat memahami isi karangan.

2. Karangan Narasi

Menurut The Liang Gie (2002: 4) karangan merupakan ungkapan isi hati, dan pikiran yang dituangkan lewat tulisan yang disampaikan kepada pembaca.

Berdasarkan bentuknya karangan dapat digolongkan dalam karangan narasi, argumentasi, deskripsi, dan eksposisi. Karangan narasi merupakan bentuk pengungkapan yang menyampaikan suatu peristiwa atau pengalaman dalam rangka urutan waktu kepada pembaca dengan maksud untuk meninggalkan kesan tentang perubahan dari pangkal awal sampai titik akhir.

Nurgiyantoro berpendapat (1995: 331) narasi merupakan cerita yang mengisahkan secara langsung, pengungkapkan secara langsung. Pencerita memilih peristiwa dan tindakan, atau hal-hal yang menarik untuk diceritakan. Karangan narasi berupa pelukisan tentang latar, tokoh, hubungan antartokoh, peristiwa, dan kejadian yang lain.

Vivin via Achmadi (1988: 113) juga menuliskan bahwa karangan narasi menuturkan cerita, yang berhubungan erat dengan waktu dan tingkah laku atau perbuatan manusia. Secara singkat narasi adalah suatu bentuk wacana yang menceritakan serangkaian peristiwa diatur sedemikian rupa untuk meng-embangkan maknanya. Tujuan utama karangan narasi adalah menguraikan suatu peristiwa yang saling berhubungan sedemikian rupa sehingga maknanya muncul dan berkembang.

Keraf (2007: 136) mengatakan narasi adalah bentuk suatu wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkai menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Unsur utama karangan narasi adalah unsur perbuatan atau tindakan yang terjadi dalam suatu peristiwa. Melalui karangan narasi penulis menceritakan peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan

waktu tertentu. Semua tindakan yang diceritakan harus jelas sehingga pembaca seolah-olah mengalami peristiwa itu sendiri.

Lebih lanjut lagi Keraf (2007: 121-146;239) berpendapat bahwa karangan yang baik harus mencakup aspek judul karangan, isi atau gagasan, organisasi, tata bahasa, diksi atau pilihan kata, ejaan, kebersihan dan kerapian. Aspek-aspek ini pun harus dimiliki karangan narasi. Aspek-aspek karangan narasi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Judul Karangan

Judul karangan harus menarik dan sesuai dengan tema karangan. Judul karangan yang menarik harus dapat merangsang perhatian dan keingintahuan pembaca. Judul yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1) Judul harus relevan, artinya judul mempunyai pertalian dengan tema.

2) Judul harus proaktif, artinya judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi karangan.

3) Judul harus singkat, artinya judul harus berbentuk rangkaian kata yang singkat.

b. Isi atau gagasan

Menurut Widyamartaya (1990: 9 dan 31) gagasan adalah pesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Gagasan dapat berupa pengetahuan, pengamatan, pendapat, renungan, keinginan, perasaan, dan emosi. Isi atau gagasan perlu dituangkan secara tertulis sehingga dapat dipahami dan dipetik manfaatnya bagi orang lain karena bagian isi karangan merupakan inti suatu karangan.

Isi atau gagasan karangan narasi mengisahkan suatu kejadian atau pe-ristiwa yang secara runtut dalam suatu kesatuan waktu. Isi karangan meliputi komponen-komponen pembentuk suatu karangan narasi, yaitu perbuatan, peno-kohan, latar, sudut pandang, dan alur.

c. Organisasi Karangan

Menurut The Liang Gie (1992: 21) sebuah karangan terdiri dari beberapa paragraf. Paragraf yang baik menerapkan azas-azas yang berkenaan dengan gagasan. Azas-azas itu adalah sebagai berikut.

1) Kejelasan, sebuah karangan dapat dipahami sehingga tidak disalah-tafsirkan pembaca. Menurut Keraf (2004: 139), kejelasan sebuah karangan dapat dilihat dari gagasan-gagasan yang disampaikan kepada pembaca. Karangan di-jelaskan dalam kalimat yang jelas.

2) Keringkasan, karangan harus singkat atau pendek, tidak mengulang-ulang kalimat dalam menyampaikan gagasan.

3) Ketepatan, karangan mengandung penataan terhadap berbagai aturan ketata-bahasaan, ejaan, tanda baca, dan kelaziman bahasa tulis yang ada.

4) Kesatupaduan, sesuatu yang disajikan dalam karangan harus berkisar pada satu gagasan pokok atau tema karangan. Menurut Keraf (2004: 139), kesatuan gagasan menjadi landasan seluruh karangan. Ada tulisan yang tidak mem-perlihatkan kesatuan, yaitu tidak mengungkapkan dengan tegas apa yang dimaksud dalam karangan sehingga pembaca tidak memahami apa yang dibacanya.

5) Pertautan, suatu karangan harus saling terkait antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, alinea yang satu dengan alinea yang lain.

6) Pengharkatan, bahwa butir-butir ide diungkapkan dengan penekanan atau pe-nonjolan tertentu sehingga mengesan bagi pembaca.

Selain itu, karangan narasi yang baik harus memiliki hubungan antarkata, kalimat, dan paragraf. Setiap kata, kalimat, paragraf harus saling berhubungan satu sama lain, sehingga mengetahui maksud dan tujuan suatu karangan. Pe-nulisan paragraf yang benar dalam suatu karangan harus sesuai dengan aturan, yakni menjorok ke dalam. Organisasi karangan terdiri atas (1) pendahuluan, (2) isi, (3) penutup. Berikut ini akan dijelaskan ketiga organisasi karangan secara terperinci.

1) Pendahuluan

Pendahuluan adalah pembukaan atau kata pengantar dari sebuah karangan. Pendahuluan karangan dapat diuraikan yang isinya mengantarkan kepada pembaca untuk mengetahui pokok masalah.

2) Isi Karangan

Isi karangan biasanya berupa pernyataan, data, fakta, contoh yang diambil dari pendapat umum, pendapat para ahli, hasil penelitian, kesimpulan-kesimpulan yang dapat mengukuhkan jawaban rumusan masalah. Penyusunan isi karangan harus kritis dan logis sehingga isi karangan meyakinkan dan benar (Keraf, 1982: 104-107).

3) Penutup

Penutup karangan merupakan konklusi atau kesimpulan yang harus tetap dijaga agar kesimpulan tersebut tetap memelihara tujuan dan menyegarkan kembali ingatan pembaca.

d. Tata Bahasa

Tata bahasa suatu karangan narasi adalah susunan bahasa yang dapat dipahami pembaca. Susunan bahasa yang baik akan membentuk suatu kalimat yang baik atau kalimat yang efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.

1) Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan penulis.

2) Sanggup menimbulkan gagasan yang tepat dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh penulis.

Kalimat yang efektif membentuk sebuah paragaf, dari paragraf-paragraf akan membentuk sebuah karangan. Paragraf yang baik harus mengandung beberapa azas yang berkenaaan dengan gagasan. Azas-azas itu adalah kejelasan, keringkasan, ketepatan, kesatupaduan dan pertautan. Suatu karangan harus menggunakan bahasa baku, sesuai dengan tata bahasa Indonesia baku.

e. Diksi/Pilihan Kata

Suatu karangan narasi harus memilih kata yang tepat. Pilihan kata yang digunakan apakah merusak karangan. Oleh karena itu, suatu karangan harus menggunakan pengulangan kata (afiksasi) yang tepat. Karangan harus menggunakan kata penghubung yang tepat.

Menurut The Liang Gie (1992: 17) unsur karangan meliputi empat hal sebagai berikut.

1) Gagasan (idea), merupakan tema yang diungkapkan secara tertulis dalam suatu karangan.

2) Tuturan (discourse), merupakan bentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca. Tuturan karangan dapat dibedakan menjadi empat bentuk sebagai berikut.

a) Penceritaan adalah bentuk pengungkapan yang menyampaikan sesuatu peristiwa/pengalaman dalam kerangka urutan waktu kepada pembaca dengan maksud untuk meninggalkan kesan tentang perubahan atau gerak sesuatu dari pangkal awal sampai titik akhir.

b) Pelukisan adalah bentuk pengungkapan yang menggambarkan berbagai serapan pengarang dengan segenap inderanya yang bermaksud me-nimbulkan citra yang sama dalam diri pembaca.

c) Pemaparan adalah bentuk pengungkapan yang menyajikan fakta-fakta secara teratur, logis, dan terpadu untuk memberikan penjelasan kepada pembaca mengenai suatu ide, persoalan, proses, atau peralatan.

d) Perbincangan adalah bentuk pengungkapan dengan maksud meyakinkan pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai yang diharapkan oleh pengarang.

3) Tatanan (organization) adalah tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai azas, aturan, dan teknik sampai meren-canakan rangka dan langkah.

4) Wahana (medium) adalah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang menyangkut kosakata, gramatika, dan retorika (seni memakai bahasa secara efektif).

f. Ejaan

Ejaan adalah perlambangan fonem dengan huruf. Selain perlambangan fonem dengan huruf, ejaan juga mengatur: (1) ketepatan menuliskan satuan-satuan morfologi misalnya kata sambung, kata dasar, kata ulang, kata majemuk, kata berimbuhan, dan partikel-partikel (2) ketepatan menuliskan kalimat dan bagian-bagian kalimat dengan pemakaian tanda baca seperti titik, tanda kurung, koma, dan sebagainya (Badudu, 1985: 17).

Menurut Parera (1984: 38) pemakaian ejaan meliputi penggunaan huruf, penulisan huruf kapital, penulisan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca yang tepat, sedangkan menurut Pedoman Umum EYD (2001: 9), pemakaian ejaan meliputi pemakaian huruf kapital, penulisan kata, penulisan unsur separan, dan pemakain tanda baca.

Karangan yang baik harus memperhatikan pemakaian ejaan yang berlaku. Ejaan meliputi pemakaian huruf, pemakaian huruf kapital dan huruf miring, penulisan unsur serapan, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Ejaan benar harus disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

g. Kebersihan dan Kerapian

Menurut Keraf (1984: 250) karangan dikatakan bersih dan rapi apabila tidak ada coteran, penulisan antara kata yang satu dengan kata yang lain tidak

kerapian merupakan salah satu faktor yang dinilai dalam karangan. Karangan yang bersih dan rapi dapat membantu pembaca untuk memahami apa yang ingin dikatakan penulis.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas penulis cenderung setuju dengan pendapat Keraf karena gagasan-gagasan yang diberikan jelas dan mudah dipahami. Keraf menegaskan bahwa karangan narasi adalah serangkaian cerita yang bersifat fiksi dan nonfiksi. Serangkaian cerita yang bersifat fiksi dan nonfiksi menunjukkan bahwa daya imajinasi dan fakta (pengalaman hidup sehari-hari) yang didukung dengan media gambar seri dapat menjadi daya bagi siswa untuk menuangkan gagasan atau ide dalam karangan narasi. Selain itu, siswa dapat merangkaikan ide cerita berdasarkan azas dan aspek kejelasan, keringkasan, ketepatan, keterpautan, kesatupaduan, pengharkatan, judul karangan, isi atau gagasan, organisasi, tata bahasa, ejaan, diksi, kebersihan dan kerapian.

Dokumen terkait