• Tidak ada hasil yang ditemukan

53 Jufri Tenri Bali, hasil wawancara, 31 Desember 2001.

Dalam dokumen Sejarah Perkembangan Seni Rupa Islam (Halaman 99-106)

ii Nenek Sultan Hasanuddin Beliau dinobatkan menjadi

2. Cungkup makam Sultan Abdullah Mallingkaan Daeng Nyonri’ Karaeng Katangka (Raja Tallo VI,1600-1636). Lahir 1573, wafat Rabu 10 Oktober 1636ii

3. Cungkup makam Sultan Malikussaid, I-Mannuntungi Daeng Mattola, Karaeng Ujung/Lakiung, (Raja Gowa XV, 1639- 1652), lahir 11 Desember 1605, wafat 5 November 1653.iii

4. Cungkup makam Sultan Hasanuddin, I-Mallombasi Daeng Mattawang (Raja Gowa XVI, 1652-1669), lahir 12 Juni 1629, wafat 12 Juni 1670.

5. Cungkup makam Sultan Amir Hamzah, I-Mappasomba Daeng Mangnguraga, Karaeng Lakiung Tumenanga ri Allu (Raja Gowa XVII, 1669-1674), lahir Jum’at 3 Maret 1656, wafat 1674).iv Beliau dinobatkan menjadi Raja Gowa dalam usia 13

tahun.

6. Cungkup makam Sultan Muhammad Ali, I-Mappaosong Daeng Mangewai Tumenanga ri Jakattara (Raja Gowa XVIII, 1674 -1677), lahir 20 November 1654, wafat 1680). v

7. Cungkup makam Sultan Abd. Djalil, I-Mappadulung Daeng Motting, Karaeng Sanrobone, Tumenanga ri Lakiung (Raja Gowa XIX, 1677-1709), lahir 18 Agustus 1652, wafat 18 September 1709).vi

Gambar V. 4

Konstruksi bangunan cungkup makam Sultan Hasanuddin

Makam Berundak

Tipe makam berundak (menyerupai bentuk punden) sebarannya banyak ditemukan di kompleks pemakaman kuno raja-raja Binamu di Kabupaten Jeneponto. Punden berundak merupakan ciri bangunan prasejarah, yakni tradisi bangunan megalitik. Selain itu, juga ditemukan di

iiii Paman Sultan Hasanuddin

iiiiii Ayahanda Sultan Hasanuddin Sebelum beliau

menjadi Raja Gowa, beliau pernah menduduki jabatan sebagai Pati Mataram (Raja Muda).

iviv Putra Sultan Hasanuddin

vvPutra Sultan Hasanuddin (yang ditawan oleh Belanda

di Batavia dan wafat di Jakarta).

viviPutra Sultan Hasanuddin. (Survei lapangan, 31

Desember 2001).

+ 150 cm + 200 cm

daerah lain, seperti di kompleks makam La Tenriruwa di Kabupaten Bantaeng, di kompleks makam raja-raja Mandar di Kabupaten Polmas dan Majene. Khusus di kompleks makam raja-raja Binamu, terdapat banyak makam berundak yang tingginya menghampiri dua meter. Bangunan makam tersebut tersusun terdiri dari tiga sampai empat tingkat melalui teknik pasang-sambung.

Berdasarkan pandangan masyarakat Makassar, makam berundak menunjukkan status sosial. Karena itu, semakin tinggi derajat kebangsawanan seorang raja, semakin besar pula makamnya atau dibuat berundak dua sampai tiga tingkat serta diperkaya dengan ragam hias. Fenomena ini tampak di kompleks makam raja-raja Binamu, yakni di kompleks makam Bataliung di Bontoramba, kompleks makam Joko, kompleks makam I-Maddi Daeng Rimakka di Tonrokassi, kompleks makam Karaeng Bibang di Sapanang, kompleks makam ManjangloE di Tamalatea, dan di kompleks makam Fatimah Daeng Ti’no (masing- masing dalam wilayah kerajaan Binamu Kabupaten Jeneponto).

Kompleks Makam Raja-raja Luwu, Lokkoe Sebaran bangunan kubah makam di Sulsel N

No Kompleks Makam Lokasi Kabupaten

1 .

KM Masjid Tua Katangka

Katangka Kab. Gowa KM Sultan Hasanuddin Bukit Tamalate Kab. Gowa KM Syekh Yusuf Lakiung Makassar/Gowa KM Raja-raja Tallo

KM Orang Tua Syekh Yusuf

Tallo Kodya Makassar Kampung Lappara perbatasan Kodya

Makassar-Kab. Maros (Informan: Hartawan)

KM Karaeng Sanrobone Desa Sanrobone Kab. Takalar (Informan: Irwan)

KM Raja-raja di Taenga Kampung Taenga Kab. Gowa (sumber: Sirajuddin Bantang, Januari. 02).

(Informan: Herman) KM Raja-raja Luwu (Makam

Datuk)

(Informan: Anwar Thosibo). 1. Kompleks Makam Raja

Luwu, LokkoE (Kuburan Datu).

Kawasan Lokkoe merupakan cluster tertinggi dari semua situs penting di kota kuno Palopo. Makam Lokkoe dibangun di pinggir kota Palopo pada lereng bukit sebelah Utara atau pada sudut barat laut masjid jami’ oleh Setiaraja, Petta MatinronroE ri Tompotikka. Konstruksi makam dibuat dari susunan batu bata tanpa tulang (besi), diikat dengan lapisan bahan semacam semen.

Pada setiap sudut bidang bangunan diberi tonjolan bentuk siku selebar 60 cm, masing-masing bidang berukuran 30 cm. Atap bangunan bertumpu pada dinding yang berbentuk persegi empat, bagian atas dinding diberi tonjolan berfungsi menahan air yang jatuh dari puncak. Bagian puncak bangunan terdapat kamuncak yang berfungsi sebagai pengunci.

Di dalam bangunan kubah terdapat beberapa buah makam keluarga raja. Pintu masuk dari arah selatan, bagian atas pintu bebentuk lengkung kubah. Jalan masuk menyerupai ceruk berukuran panjang 110 cm, lebar 53 cm (Irfan Mahmud, 2003:82-83).

2. Kompleks makam

Di Kompleks makam ini ada 2 buah bangunan kubah makam tetapi 1 buah sudah rusak/hancur sama sekali.

Tipe bangunan sama dengan kubah makam di Katangka Gowa (tipe piramida). Informan: Hasrianto, 4 Sept. 2006.

Datu Sulaeman di Malangke. Tipe bangunan sama dengan kubah makam di LokkoE.

Sebaran bangunan kubah makam di Timur Tengah N

o.

Kompleks Makam Lokasi 1

. Kubah batu di Yerusalem

Kubah makam di Mesir Mesir (informan: Menantunya Dg. Nassa) Sebaran bangunan cungkub kubah makam berundak di Sulsel

N o.

Komleks Makam Lokasi Kabupaten 1

. KM Sultan Hasanuddin Bukit Tamalate Kab. Gowa KM Raja-raja Tallo Tallo Kodya Makassar. KM Raja-raja Bone Kec. Lamuru Kab. Bone Tipe makam/nisan Demak (th. ) , juga ditemukan di Kab. Wajo Sulsel.

Sebaran hiasan naga di Sulsel N

o. raja BinamuKomleks Makam raja- Lokasi Kabupaten 1 . KM Kr. Bibang di Sapanang Kab. Jeneponto KM Imaddi (Mk, Gr Sioro’) Kab. Jeneponto KM Fatimah Dg Ti’no di tabjongala Kab. Jeneponto KM Joko Kab. Jeneponto

Sebaran hiasan naga di Sulsel

No. Hiasan Bangunan Lokasi Kabupaten 1. Hiasan anjong bola di

b. Kerajaan Gowa-Tallo

Dalam sejarah disebutkan bahwa Kerajaan Gowa berdiri sejak awal abad ke-13 hingga rajanya yang terakhir pada tahun 1947. Kerajaan Gowa tercatat sebagai kerajaan tertua di samping Luwu dan Bone. Kerajaan Gowa terletak di wilayah pesisir selatan Makassar, sedangkan Kerajaan Tallo terletak di wilayah pesisir utara Makassar.

Hiasan Bangunan

Penampakan hiasan pada bangunan istana raja, merupakan suatu keterampilan tersendiri dalam seni dekoratif. Dalam konteks ini, pemberian dan penempatan hiasan disesuaikan dengan tempat atau fungsi masing- masing.dalam perhitungan estetika yang cermat. Motip hias sangat bervariasi dan umumnya mengadopsi dari tradisi lama, namun dalam hal-hal tetentu unsur-unsur lokal ikut berbaur di dalamnya. Dengan variasi yang diadopsi dari unsur-unsur lokal tersebut, maka lahirlah gaya atau langgam/corak daerah. Misalnya ragam hias gaya Cirebon, Mataram, Yoyakarta, Jepara, dsb.

Keragaman kebudayaan Nusantara yang ada dan proses akulturasi yang wajar menumbuhkan budaya Islam Nusantara yang beragam, kaya dan mempesona. Keragaman tersebut antara lain dapat dilihat dalam berbagai cabang kesenian (sastra, musik, tari, seni rupa , arsitektur, film, dsb).

Hiasan Makam Prasasti angka tahun

Nisan bertuliskan ayat suci Al-Qur’’an terletak dibagian ……. Makam …….

2. Hiasan makam

Hiasan makam dalam arti seni pahat dapat mencakup dua hal yaitu bentuk keseluruhan makam, jirat, dan nisannya serta jenis pahatan yang menghiasai bangunan makam, jirat dan nisannya. Yang akan dibahas dalam tulisan ini hanya hiasan pada jirat dan nisannnya sakja.

Sekilas Lintas Masuknya Islam Di Indonesia

Islam mewarnai proses pembentukan kebudayaan bangsa Indonesia. Para saudagar Arab ternyata tidak hanya menularkan sistem norma dan etika religius belaka, tetapi juga mengenalkan corak kebudayaan, lebih khusus lagi kesenian yang telah mentradisi dalam kehidupan mereka. Emile Durkhaim mengemukakan bahwa agama dan budaya merupakan dua produk sosial dari masyarakat yang menyatu dan tak dapat dipisahkan.54

Pustaka:

Zein, Abdul Baqir, 1999. Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta; Gema Insani.

B. RAJA DAN MAKAMNYA

Para raja dimakamkan di tempat yang berbeda dengan bentuk kompleks pemakaman yang tidak sama pula bergantung kepada kemampuan pendukungnya, baik finansial maupun arsitekturalnya. Meskipun pendukungnya kaya tetapi pengetahuan arsitekturalnya kurang maka bangunan dan arsitekurnya juga akan sederhana,. Sebaliknya jika pengetahuan seni bangunannya tinggi tetapi kemampuan keuangnannya kecil maka hasilnya juga tidak kan megah walaupun bentuknya indah. Tulisan di abwah ini akan menggambarkan makam dan hiasannnya disertai riwayat hidup anggota erajanya yang diamkamkan di dalamnya. penuturannya tidak disusun secara kronologis. Artinya tidak berdasarkan urutan yang dimulai dari raja….. yang tampil paling dahulu hingga ……….paling akhir. Demikian juga riwayat hidup raja tidak akan diuraikan di sini, karena sampai saat tulisan ini dibuat penulis belum mendapatkan data yang lengkap untuk menyusun riwayat hidup tersebut.

3. Makam Sultan Hasanuddin 4. Bangunan Makam

5.

Masuknya Islam Kalimantan Selatan

Agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan sekitar tahun 1550 dan menjadi agama resmi sejak pangeran Surwaningsih memeluk agama ini. Islam bagi masyarakat BM bukan sekedar agama tetapi juga sebagai identitas dalam masyarakat BM.

Buton dan Sumbawa (1638)

Ekspresi Islami dalam seni Bangunan

Perpaduan semangat Islam dan kesenian etnik Islam Nusantara telah secara luas membentuk kekayaan khasanah seni Islam Nusantara. Semangat Islam adalah kecenderungan pada kejiwaan yang dipengaruhi nilai-nilai agama Islam. Ungkapannya dapat tampil dalam berbagai aktivitas, kata-kata, ciptaan audio- visual, musik, arsitektural, dsb.

Rangkuman

Corak dan ekspresi kesenian Islam Indonesia tidak lepas dari citra kesenian Islam yang sudah umum dikenal di dunia. Sekalipun berbeda dalam tekanan dan cara berkembangnya, kesenian Islam Indonesia dan kesenian Islam yang dikenal di dunia pada umumnya memiliki kesamaan-kesamaan idiomatik. Citra kesenian Islam yang umum dikenal berasal dari konsepsi yang disusun berdasarkan teori sejarah. Penyusunan dan deskripsinya bersumber dari peninggalan-peninggalan yang dikaitkan dengan sejarah perkembangan Islam. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa kesenian Islam muncul pada abad ke- 7 Masehi, lalu berkembang pada abad ke-8 Masehi.

Perlu dijelaskan di sini bahwa kesenian ini merupakan campuran dari sejumlah kesenian yang berkembang dari berbagai kebudayaan, dan tumbuhnya kesenian Islam merupakan bagian dari perkembangan Islam ke berbagai penjuru dunia. Dalam perkembangan ke Timur, terbentuknya kesenian Islam diwarnai oleh kebudayaan Syria, Persia, Mesir, dan India. Sedangkan perkembangan kesenian Islam ke Barat, ditandai dengan kebudayaan Byzantium, Romawi, Turki, dan Spanyol.

Daftar Pustaka

Noto Susanto, Nugroho (et al). 1992, Sejarah Nasional Indonesia 2. Jakarta: Depdikbud.

Dalam dokumen Sejarah Perkembangan Seni Rupa Islam (Halaman 99-106)

Dokumen terkait