• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Seni Rupa Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Perkembangan Seni Rupa Islam"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

I. P

ENDAHULUAN

Tinjauan Sosial Budaya

Masyarakat Indonesia

pada Awal Kedatangan

Islam

P

ENDAHULUAN

Penduduk Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam sukubangsa mempunyai struktur pemerintahan yang bersifat khusus kedaerahan, struktur ekonomi, dan sosial budaya yang berbeda-beda.

Sukubangsa yang hidup dan bertempat tinggal di pedalaman memiliki budaya yang masih murni dan belum banyak mengalami percampuran budaya dari luar jika dibandingkan dengan sukubangsa yang bermukim di daerah pesisir pantai, terutama yang dekat dengan kota pelabuhan. Mereka yang berdiam di wilayah pesisir pantai cenderung menunjukkan ciri-ciri kehiduapan sosial budaya yang majemuk karena adanya percampuran dengan budaya dari luar.

Pada masa awal kedatangan dan tersebarnya agama Islam di tanah air, khususnya di wilayah Indonesia Barat terdapat kerajaan-kerajaan yang bercorak Indonesia-Hindu. Di Sumatera pada waktu itu terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu, di pulau Jawa terdapat kerajaan Majapahit dan Sunda, di Bali terdapat kerajaan bercorak Hindu. Sementara di wilayah Indonesia Timur seperti Kalimantan terdapat kerajaan Negara, Daha, dan Kutai. Sedangkan pada Sulawesi Selatan terdapat kerajaan Gowa-Tallo, Wajo, dan Bone. Kerajaan-kerajaan ini tidak banyak mendapat pengaruh Hindu tatapi masih memiliki kepercayaan lama (asli) yang mengacu pada adat-istiadat leluhur, yakni dengan menyembah berhala. Bahkan sampai

(2)

sekarang kepercayaan seperti itu pada beberapa wilayah pedalaman masih tampak.

Menurut catatan pengembaraan Tome Pires (seorang penulis asing Portugis) dalam kunjungannya ke Indonesia pada sekitar tahun 1512-1515 menyebutkan bahwa di Sulawesi pada waktu itu terdapat kurang lebih 50 buah kerajaan yang menyembah berhala.1

Salah satu kepercayaan lama yang dimaksud tampak dalam tata cara penguburan yang masih mengikuti tradisi masa prasejarah. Pada masyarakat Gowa misalnya jenasah dikubur dengan arah hadap timur-barat dan pada makamnya disertakan sejumlah bekal kubur bagi jenazah bangsawan atau orang-orang terkemuka.

Pada abad-abad awal kedatangan dan penyebaran Islam di daerah Maluku dan Kalimantan masih terdapat beberapa kelompok masyarakat yang membuat patung dari kayu atau batu untuk menghormati arwah nenek moyang.

Pada masa pra-Hindu di Indonesia terdapat kepercayaann berupa pemujaan kepada arwah nenek moyang yang biasanya diwujudkan dalam bentuk patung yang diukir yang ditempatkan di atas punden berundak. Tradisi seperti ini sampai sekarang masih ditemukan di Nias dan Flores.

Tome Pires ketika mengunjungi kepulauan Maluku (sekitar abad ke-16) melaporkan bahwa di kepulauan Maluku masih ditemukan beberapa masyarakat non-Islam serta beberapa diantaranya tidak mendapat pengaruh Hindu.

Salah satu bukti kedatangan Islam di Indonesia dapat ditunjukkan dengan ditemukannya batu nisan pada makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 425 H/1082 Masehi.2

Pengaruh India dan Islam di Indo-Malaysia (hlm. 202)

(3)

Gejala Indianisasi dan Islamisasi di Asia Tenggara telah lama menjadi kajian utama di bidang sejarah. Ini dibuktikan dengan penemuan benda-benda arkeologis, yakni berupa tembikar India di Sembiran, Bali, tembikar Cina, serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman sesudahnya yang ditemukan di Sumatera bagian selatan dan di Jawa bagian timur.

Pengaruh India dan Islam di Indo-Malaysia, terutama di kawasan barat dan timur selama 1500 sampai 2000 tahun yang lalu. Para ahli sejarah berpendapat bahwa proses Indianisasi dalam bidang agama dan politik di lingkungan istana telah berkembang beberapa abad setelah masa perdagangan awal antara India dan Indonesia.3 Bukti-bukti tertua yang menunjukkan bahwa para penguasa pribumi dari negara-negara perdagangan di Indo-Malaysia mulai meniru raja-raja Pallawa dari Tamil Nadu dan raja-raja sejaman muncul sekitar abad ke-5 ketika prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta yang ditulis dengan aksara Pallawa mencatat nama raja-raja yang menggunakan nama gelar dengan akhiran nama Sansekerta, yaitu: warman, seperti Mulawarman, Purnawarman, dll. Warman, artinya yang dilindungi oleh. Menjelang abad ke-7, sumber pengaruh India Utara dan kerajaan Pala dari Bengal, dan saat itulah untuk pertama kalinya kerajaan-kerajaan yang jelas telah dipengaruhi budaya India. Ini dibuktikan dengan monumen-monumen bercorak Hindu dan Budha mulai bermunculan di kepulauan Indonesia.4

Negara perdagangan Sriwijaya yang beragama Budha di Sumatera yang didirikan sekitar tahun 670, mungkin merupakan pusat dari suatu kelompok kota dagang yang saling berhubungan di Sumatera bagian timur (khususnya di Palembang) dan Semenanjung Malaka. Meskipun Sriwijaya tidak mempunyai tinggalan arkeologis,

3 Peter Bellwood, 2000: 203.

(4)

namun terdapat penemuan baru, berupa keramik yang bertarikh antara abad ke-8 dan ke-13 dari Palembang.5

Kerajaan-kerajaan agraris Jawa terkenal dengan monumen-monumen yang megah, seperti stupa besar Borobudur yang dibangun oleh Dinasti Sailendra pada abad ke-8 atau awal abad ke-9, sedangkan candi-candi bercorak Hindu dibangun tidak lama setelah itu di daerah Prambanan. Setelah 930 M, pusat pemerintahan kerajaan Jawa begeser ke Jawa Timur dan mencapai puncaknya dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14 yang akhirnya mundur di bawah tekanan agama Islam.

Peran para Brahmana dalam proses Indianisasi

Peran para Brahmana dalam proses Indianisasi, penting sekali dan jauh melebihi peran para pedagang. Karena itu, agama Hindu dan Budha yang menjadi dasar kerajaan-kerajaan di Nusantara hampir dipastikan dibawa masuk ke kepulauan Nusantara oleh para Brahmana Hindu dan pemeluk Budha terpelajar untuk memperkuat kekuasaan mereka. Lalu didirikanlah bangunan berarsitektur peradaban Hindu-Budha.6

Secara geografis, dampak pengaruh India di kepulauan Indonesia terpusat pada negeri-negeri sekitar Selat Malaka dan Laut Jawa. Karena itu, pengaruh India yang paling kuat ada di Sumatera bagian timur, Semenanjung Malaka bagian barat (kecuali Nias dan Mentawai), Jawa, dan Bali, serta sedikit di Kalimantan bagian Timur melalui kerajaan Kutai. Sulawesi, Sunda Kecil, dan Maluku tidak secara mendalam terpengaruh oleh peradaban India.7

5

Peter Bellwood, 2000: 203.

6 Boash 1961 dalam Peter Bellwood, 2000: 204.

(5)

Pengaruh kebudayaan India yang sesungguhnya sepanjang kurun waktu tersebut terlihat jelas pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno (Jawa kuno), serta pada desain bangunan berteras Borobudur, atapun dalam konsep-konsep kosmologi tertentu. Kini satu-satunya kelompok etnis di Asia Tenggara yang masih mempertahankan tradisi Hindu meskipun dengan perubahan-perubahan adalah masyarakat Bali.

Pengaruh Islam di Indo-Malaysia

Selain agama Hindu dan Budha, agama lain yang berpengaruh kuat di Nusantara pada zaman sebelum kedatangan bangsa Eropa adalah Islam. Kesultanan-kesultanan besar terjadi sekitar seabad sebelum kedatangan bangsa Portugis menjelang abad ke-8, komunitas-komunitas Arab dan Persia Muslim sudah menetap sebagai pedagang di Guang Zhou (Kanton) dan kota-kota Cina sebelah selatan. Penyebaran Islam ke Indonesia terjadi beberapa abad kemudian. Bukti linguistik menunjukkan bahwa kosakata pinjaman dari bahasa Arab dan Persia dalam bahasa-bahasa Austronesia sebagian besar datang langsung dari India.8 Menjelang akhir abad ke-13, pengaruh Islam sudah cukup kuat di Sumatera Utara. Sebuah batu nisan yang ditemukan di pantai barat laut pulau tersebut diyakini bertarikh 1206 memperkuat sejarah masuknya Islam di Nusantara ini.9

Selama abad ke-14, sejumlah kesultanan Islam berkembang di Nusantara, dan pada tahun 1400 sampai dengan tumbuhnya kekuasaan Portugis pada awal abad ke-16 penyebaran Islam terjadi dengan sangat cepat, terutama di Semenanjung Malaka, pantai utara Jawa, Banjarmasin di Kalimantan, dan pulau-pulau Ternate dan Tidore. Pada abad ke-17 adalah di Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan.

8 Hall 1977 dalam Wood, 2000: 206.

(6)
(7)

PERKEMBANGAN SENI RUPA ISLAM DI

INDONESIA

Keragaman kebudayaan Nusantara yang ada dan proses akulturasi yang wajar menumbuhkan budaya Islam Nusantara yang beragam, kaya dan mempesona. Keragaman tersebut antara lain dapat dilihat dalam berbagai cabang kesenian (sastra, musik, tari, seni rupa, arsitektur, film, dsb). Dalam suplemen ini, keragaman budaya Islam Nusantara secara khusus dibatasi pada bidang seni rupa, khususnya seni bangunan yang bercorak Islam.

A. Awal Kesenian dan Kebudayaan Islam di Indonesia

Membicarakan awal masuknya kesenian dan kebudayaan Islam di Indonesia tidak bisa lepas dari pembicaraan mengenai awal masuk dan berkembangnya agama Islam itu sendiri. Emile Durkhaim mengemukakan bahwa agama dan budaya merupakan dua produk sosial dari masyarakat yang menyatu dan tak dapat dipisahkan.10

Mengenai awal pertumbuhan Islam di Indonesia, sulit dipastikan karena masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia di sekitar abad ke-13 Masehi tidak ditandai dengan penaklukan suatu kerajaan atau peristiwa besar lainnya. Islam menyebar di Indonesia melalui para pedagang Gujarat yang berlayar dari India. Karena itu hampir tidak ada dokumen atau catatan kuat yang menandai peristiwa besar tersebut yang bisa dijadikan patokan untuk menandai awal penyebaran kebudayaan Islam di Indonesia. Namun demikian, Islam telah mewarnai proses pembentukan kebudayaan dan kesenaian Indonesia. Saudagar-saudagar asing dapat dikatakan sangat berperan dalam proses pembentukan kebudayaan bangsa Indonesia. Para saudagar Arab

(8)

ternyata tidak hanya menularkan sistem norma dan etika religius belaka, tetapi juga mengenalkan corak kebudayaan, termasuk kesenian yang telah mentradisi dalam kehidupan mereka.

Dalam kaitannya dengan proses islamisasi, telah berkembang berbagai pemikiran tentang Islam di Nusantara. Ada yang menduga bahwa Islam telah mulai menyebar di Nusantara pada abad I Hijriah dengan alasan bahwa pada waktu itu para pedagang Arab juga telah aktif dalam perdagangan jarak jauh, yang melintasi perairan di kepulauan Indonesia. Hanya saja, bukti-bukti yang sahih memang belum didapatkan. Semuanya hanya bersifat dugaan (inferensi) saja. Batu-batu nisan dari abad ke-11 di Jawa Timur memberikan kesaksian bahwa pada waktu itu telah ada pemukiman komunitas yang beragama Islam. Namun tak ada jaminan bahwa ketika itulah agama Islam telah berkembang karena pada waktu yang sama, bahkan lebih awal lagi, batu nisan orang-orang Muslim, juga didapatkan di Canton (Cina Selatan), tetapi Islam malah berkembang di Cina Timur. Kita baru merasa pasti bahwa Islam tak hanya datang dan membentuk komunitas (sebagai diisyaratkan oleh batu nisan tersebut), tetapi juga berkembang dan menyebar setelah pusat kekuasaan Islam berdiri.

(9)

Namun demikian, Islam telah mewarnai proses pembentukan kebudayaan dan kesenaian Indonesia. Saudagar-saudagar asing dapat dikatakan sangat berperan dalam proses pembentukan kebudayaan bangsa Indonesia. Para saudagar Arab ternyata tidak hanya menularkan sistem norma dan etika religius belaka, tetapi juga mengenalkan corak kebudayaan, termasuk kesenian yang telah mentradisi dalam kehidupan mereka.

Dalam kaitannya dengan proses islamisasi, telah berkembang berbagai pemikiran tentang Islam di Nusantara. Ada yang menduga bahwa Islam telah mulai menyebar di Nusantara pada abad I Hijriah dengan alasan bahwa pada waktu itu para pedagang Arab juga telah aktif dalam perdagangan jarak jauh, yang melintasi perairan di kepulauan Indonesia. Hanya saja, bukti-bukti yang sahih memang belum didapatkan. Semuanya hanya bersifat dugaan (inferensi) saja. Batu-batu nisan dari abad ke-11 di Jawa Timur memberikan kesaksian bahwa pada waktu itu telah ada pemukiman komunitas yang beragama Islam. Namun tak ada jaminan bahwa ketika itulah agama Islam telah berkembang karena pada waktu yang sama, bahkan lebih awal lagi, batu nisan orang-orang Muslim, juga didapatkan di Canton (Cina Selatan), tetapi Islam malah berkembang di Cina Timur. Kita baru merasa pasti bahwa Islam tak hanya datang dan membentuk komunitas (sebagai diisyaratkan oleh batu nisan tersebut), tetapi juga berkembang dan menyebar setelah pusat kekuasaan Islam berdiri.

(10)

Prasejarah

Islam

Moderen

Hindu-Buda

(Klasik)

berdiri pada akhir abad ke-13 (1345 Masehi) di pulau Sumatera yang diperintah oleh seorang raja yang bernama Malikul Thahir. Pada waktu yang bersamaan, kerajaan Hindu-Budha, juga berdiri di pulau Jawa (Majapahit).

Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia tercatat pula bahwa pada awal abad ke-13 Masehi, terdapat sebuah kerajaan di Sumatera Utara yang berpusat di Pasai. Melalui bandar Samudera Pasai ini, saudagar-saudagar Gujarat masuk dengan tujuan bedagang sambil menyebarkan agama Islam. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu terdapat kerajaan di Sumatera yang diperintah oleh seorang raja beragama Islam. Dalam catatan tersebut terungkap pula bahwa tulisan Arab sudah dikenal di lingkungan terbatas sejak abad ke-13 Masehi.

Skema Perkembangan Sejarah Seni Rupa di Indonesia

(11)
(12)

Prasejarah

Islam

Moderen

Modern

SULAWESI & SEKITARNYA

Masuknya Islam di Indonesia

Animisme

Islam

Agama

Baru

Dinamis

me

Hindu &

Buda

Kepercayaan Lama

KEPERCAYAAN

MASYARAKAT

Kosmologi

(13)

Buton dan Sumbawa (1628) Kalimantan Selatan (1550)

B. Pusat-Pusat Pekembangan Kebudayaan dan Kesenian Islam di Indonesia

Pada mulanya, kebudayaan dan kesenian Islam di Indonesia berpusat di istana kerajaan atau keraton, khususnya pada wilayah kesultanan atau kerajaan penting yang pernah jaya pada zamannya.

1. Kesultanan Demak

Dalam sejarah disebutkan bahwa Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa (berdiri tahun 1550), didirikan oleh Raden Fatah 1500-1518), bangsawan kerajaan Majapahit (Ensiklopedi Islam, Seri 1, 1994:297). Peninggalan-peninggalan terpenting antara lain makam-makam keturunan Sunan Kalijaga Demak, Masjid Agung Demak (masjid tertua di Indonesia).

Wali Songo (sembilan ulama besar) yang dianggap keramat, merupakan kelompok penasihat raja Demak dalam soal-soal agama dan dalam situasi tertentu menjadi penasihat politik raja. Tradisi menyebutkan antara lain bahwa mukjizat Sunan Kalijaga dapat mengubah bongkahan batu menjadi emas. Sunan Giri dan Sunan Bonang dapat berjalan di atas air laut. Kesaktian-kesktian tersebut digunakan untuk penyebaran agama Islam, terutama untuk membuat

Luwu 1603 Tiro 1604 Gowa 1605 Soppeng 1605/1609

(14)

keheranan orang yang amsih urang percaya dan untuk menundukkan kesaktian pada musuh.

2. Kesultanan Cirebon

Dalam sejarah disebutkan bahwa raja pertama kesultanan Cirebon ialah Sunan

Gunung Jati. Sumber Portugis menyebutnya Faletehan = Fatahillah. Ia menjadi raja sejak tahun 1552-1570. Sunan Gunung Jati meninggal di Cirebon dan makamnya terletak di luar kota Cirebon, yaitu di atas bukit Gunungjati.

Di Cirebon terdapat Keraton Cirebon dan Keraton Kesepuhan. Dulu, keraton ini disebut Tamansari. Dalam sejarah disebutkan bahwa Keraton Kesepuhan Cirebon dibangun pada abad ke-16 oleh raja pertama Kesultanan Cirebon (Sunan Gunungjati). Sumber Portugis menyebutnya Faletehan = Fatahillah. Ia menjadi raja sejak tahun 1552-1570. Dalam Buku Ensiklopedi Islam, Seri 1, 1994: 273) disebutkan bahwa Keraton Kesepuhan Cirebon dibangun oleh Penembahan Girilaya (1650-1662).

Keraton ini menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Cirebon. Salah diantaranya adalah kereta kencana yang melambangkan Trisula. Trisula melambangkan cipta, rasa, dan karya. Kepala burung garuda melambangkan …..,

Badan burung garuda melambangkan ….….., dan Ekor burung garuda melambangkan ….……

(15)

(merupakan tempat untuk bersemedi) dengan lorong-lorong yang sempit. Di dalam gua ini ada patung - yang menurut mitos, tidak boleh dipegang oleh perawan. Lorong-lorong dan pintu (mulut gua yang sempit-sempit), mengandung makna yang terkait dengan etika pergaulan, yaitu agar orang-orang muda hormat kepada yang tua.

Tidak jauh dari Cirebon terdapat kota Kuningan. Di Kuningan terdapat gedung Linggarjati11, wisata alam, dan fasilitas rekreasi, seperti permandian alam, kolam renang yang di dalamnya dipelihara ikan-ikan yang dikeramatkan.12

3. Kesultanan Banten

Benteng Kesultanan Banten

4. Kerajaan Mataram, 1575-1601 M

Kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Penembahan Senapati (raja pertama kerajaan Mataram Islam, 1575-1601 M). Kerajaan ini berkembang dengan sangat cepat hingga menguasai hampir seluruh pulau Jawa,

11Dahulu, gedung Linggarjati digunakan sebagai tempat

perundingan Linggarjati antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda untuk memutuskan suatu kedaulatan rakyat setelah kemerdekaan.

(16)

dan. memasuki masa kejayaannya saat dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo (raja yang sangat disegani oleh penjajah Belanda atas keberaniannya). Ada mitos yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan khusus antara raja yang memimpin dengan sosok penguasa gaib Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul dipandang sebagai pelindung gaib kerajaan Mataram. Bahkan hubungan ini hingga sekarang masih tetap terjaga.

Kerajaan Mataram Islam berdiri sejak runtuhnya Kesultanan Pajang pada tahun 1982. Riwayatnya menjadi salah satu episode penting dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusanara karena peranan penting yang dimainkannya sejak abad ke-16 sampai datangnya penetrasi Barat di Jawa Tengah. Hal ini terlihat dari semangat raja-rajanya untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan penduduk pada wilayah yang dikuasainya, serta keterlibatan para pemuka agama dalam pengembangan kebudayaan yang bercorak Islam.

Menurut sebagian ahli sejarah bahwa sebelum kerajaan Islam terbentuk di daerah Kali Progo telah ada peradaban yang bercorak Hindu-Buda. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya reruntuhan candi Siwa dan Buda di sekitar daerah Kedu dan Yogyakarta. Dalam cerita-cerita babad disebutkan betapa Sultan Agung telah berhasil membangun ibukota Mataram dan mendirikan kraton Plered yang seringkali dikaitkan dengan lahirnya peradaban Jawa. Salah satu peninggalan yang lagendaris ialah dalam usaha menyelaraskan kalender Jawa yang menggunakan tahun saka dengan kalender Islam yang menggunakan sistem bulan (hijriah) sebagai kalender resmi Mataram.13

(17)

5. Daerah Istimewa Yogyakarta

Mengapa disebut daerah istimewa?

Karena Yogyakarta memiliki sejumlah potensi alam dan budaya sehingga membuat Yogya dipandang

sebagai daerah

istimewa. Di wilayah ini pernah berdiri kerajaan Mataram Hindu yang Berjaya pada sekitar abad ke-7 Masehi. Kerajaan ini dipandang sebagai cikal-bakal dari kerajaan-kerajaan besar yang ada di Nusantara. Salah satu peninggalan terbesar pada masa lalu ialah candi Borobudur dan candi Prambanan.

6. Kerajaan Singasari (1222-1292)

Kertanegara memerintah sejak tahun 1268-1292).

7. Kerajaan Majapahit

(18)

8. Kerajaan Sriwjaya

9. Istana Kesultanan Bima

Istana Kesultanan Bima (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994:252).

Pintu Gerbang Kesultanan Bima

( Ensiklopedi Islam Seri 1,

1994:251).

10. Istana Kesultanan Ternate

Istana Kesultanan Ternate, Ambon.

Keraton Buton memiliki tg +12 meter, memiliki 12 buah pintu gerbang (lawa).

Menurut sejarahnya, kraton Buton dibangun kurang lebih 7 tahun dengan mengerahkan laki-laki selama pembangunannya.14

11. Kerajaan Gowa-Tallo

Dalam sejarah disebutkan bahwa Kerajaan Gowa berdiri sejak awal abad ke-13 hingga rajanya yang terakhir pada tahun 1947. Kerajaan Gowa tercatat sebagai kerajaan tertua di samping Luwu dan Bone. Kerajaan Gowa terletak di wilayah pesisir selatan Makassar, sedangkan Kerajaan Tallo terletak di wilayah pesisir utara Makassar.

C.

P

ENINGGALAN

S

ENI

R

UPA

I

SLAM

(19)

Bukti-bukti arkeologi Islam di Indonesia banyak dijumpai di seluruh Nusantara, terutama pada wilayah-wilayah persebaran kebudayaan Islam pada masa-masa awal islamisasi. Artifak tersebut menjadi saksi sejarah bahwa kebudayaan Islam sejak lama ada, tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Peninggalan kerajaan Islam yang paling tua ditemukan di Sumatera (bekas kerajaan Pasai), di Palembang, dan di Jawa. Peninggalan itu berupa batu nisan pada kuburan Islam yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 Masehi. Batu-batu nisan berukir ini terbuat dari batu pualam bertuliskan huruf Arab dengan hiasan yang sangat kaya. Di Jawa, batu nisan yang menyerupai nisan di Pasai terdapat pada makam Maulana malik Ibrahim di Gersik yang wafat dan dimakamkan pada tahun 1419 Masehi. Namun diketahui bahwa batu-batu nisan tersebut tidak dibuat di Indonesia, tetapi didatangkan dari Gujarat, India.

Perlu ditambahkan di sini bahwa tidak berkembangnya seni dekoratif Islam seperti yang berkembang di Persia dan India karena berhadapan dengan kekayaan seni dekoratif Indonesia pra-Islam. Seni dekoratif Islam di Indonesia didominasi oleh stilisasi flora dan fauna dipadukan dengan bntuk-bentuk geometris. Ornamen semacam ini juga banyak dijumpai pada dekorasi interioior bangunan istana kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, pada benda-benda pusaka kerajaan, seperti senjata, alat-alat musik, busana kerajaan, dan sebagainya.

(20)

Islam mempunyai alur yang sama dengan perkembangan

kesenian tersebut.

ARSITEKTUR ISLAM DI INDONESIA

Jika kita ingin mengetahui sejarah perkembangan Islam di Indonesia, salah satunya adalah dengan melihat bangunan utama umat Islam, yaitu masjid. Dari bangunan sebuah masjid terseut, lalu kita dapat mengetahui budaya masyarakat setempat, dan dari proses pembangunannya, kita dapat mengetahui sejarah perkembangan Islam di daerah itu.

Dari segi fisik, bangunan masjid yang ada di Indonesia memperlihatkan adanya akulturasi budaya masyarakat setempat dan budaya Islam yang datang dari luar.

Berdasarkan sejarahnya, masjid tidak saja sebagai tempat beribadah, tetapi juga dijadikan sebagai tempat musyawarah, melakukan syiar Islam, sebagai sarana pendidikan, sebagai benteng pertahanan umat Islam, dan sebagainya.

a. Struktur, Bentuk, dan Corak Masjid di Indonesia

Istilah masjid berasal dari kata sajada, yasjudu, yang berarti bersujud atau menyembah.15 Masjid merupakan salah satu karya budaya umat Islam dalam bidang teknologi konstruksi yang telah dirintis sejak masa permulaannya dan menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam. Masjid juga merupakan salah satu corak dan perwujudan perkembangan kesenian Islam yang dipandang sebagai salah satu kebudayaan Islam terpenting. Bahkan dapat dipandang sebagai lambang dan kecintaan umat Islam kepada Tuhannya - sekaligus sebagai bukti tingkat perkembangan peradaban Islam.

(21)

Sejarah perkembangan bangunan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota-kota baru. Pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, dan ketika umat Islam menetap di suatu daerah baru, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang mereka buat adalah masjid.

Sisa-sisa peninggalan arkeologis Islam tersebar luas di Nusantara dalam bentuk bangunan sakral maupun profan. Diantara yang sakral adalah masjid-masjid kuno. Dilihat dari bentuk arsitekturnya, menunjukkan ciri arsitektur sesuai zaman ketika didirikan dengan arti perlambangannya masing-masing. Meskipun demikian, terdapat kesan adanya elemen-elemen arsitektural dan ornamental, yang telah dipadukan antara yang satu dengan yang lain.

Secara teoritis, munculnya arsitektur masjid di Indonesia, sangat erat hubungannya dengan kehadiran masyarakat Muslim. Kedatangan Islam di Indonesia menurut versi pertama adalah sekitar abad ke-7 atau ke-8. Versi lain mengatakan baru pada abad ke-13 Masehi. Jika pendapat ini benar, maka seharusnya pada masa tersebut sudah ada bangunan masjid yang didirikan. Namun sampai sekarang, belum ditemukan sisa-sisa peninggalan bangunan masjid dari masa itu sehingga arsitekturnyapun tidak bisa dibicarakan secara lebih jauh. Namun jika mengacu pada peninggalan masjid terkuno di Indonesia, terutama dilihat dari segi arsitekturnya, menunjukkan ciri-ciri abad ke-16, 17, dan 18 Masehi.

(22)

Sumatera. Kubah itu sendiri tidak memiliki sejarah masa lalu di Indonesia, khsusnya di Jawa.

Dilihat dari segi bentuknya, maka corak atau gaya, dan komponen-komponen masjid di Indonesia ada yang dipengaruhi oleh (1) gaya seni bangunan Indonesia-Hindu dan Jawa, dan (2) gaya bangunan Timur Tengah, Persia, India dan Eropa. Pengaruh seni bangunan Indonesia-Hindu dan Jawa tampak pada bentuk dan konstruksi masjid-masjid tua, seperti pada masjid Menara Kudus, masjid Agung Demak, masjid Agung Banten, masjid Agung Yogyakarta. Sedangkan pengaruh gaya seni bangunan masjid Timur Tengah, Persia, India, dan Eropa, seperti terlihat pada masjid-masjid tua yang telah direhabilitasi dengan mengganti atau menambahkan unsur-unsur bangunan tertentu, dan atau pada masjid-masjid yang didirikan kemudian, seperti tampak pada masjid-masjid modern.

Ciri khas bangunan masjid-masjid tua di Indonesia pada umumnya memiliki ruangan bujur sangkar atau persegi panjang menyerupai bangunan joglo (arsitektur Jawa), atap bentuk limas tunggal atau bersusun dalam bilangan ganjil, memiliki empat buah tiang induk (tiang sokoguru) di tengah-tengah ruangan yang menopang atap limas (brunjung), pekarangan berdinding, menara yang terpisah dari bangunan induk.16 Barisan tiang sekeliling sokoguru menopang atap tumpang yang menutup ruangan selasar (serambi). Masjid-masjid tua yang dibangun pada zaman kesultanan pada umumnya terbuat dari konstruksi kayu.

Mengenai asal mula bentuk atau corak masjid kuno di Indonesia, ada yang menghubungkan dengan bentuk Meru dari zaman Majapahit yang dibangun sebelum penyebaran Islam di Indonesia. Arsitektur masjid-masjid kuno yang didirikan pada sekitar abad ke-16, 17, dan 18 Masehi mempunyai arti penting dan mendalam. Bukan

(23)

hanya sebagai ciri khas dari segi arsitektur tetapi juga sebagai salah satu daya tarik dalam proses dakwah Islamiah, yaitu untuk menarik orang-orang yang belum memeluk Islam supaya berangsur-angsur masuk Islam. Masjid berbentuk atap Meru dianggap sebagai salah satu daya tarik yang secara psiologis-religius seakan-akan mereka yang baru masuk Islam belum diputuskan aktivitasnya dengan alam pikiran kepada Meru. Namun kemudian pola pikir masyarakat muslim secara berangsur-ansur berubah sejalan dengan perkembangan zaman. Demikian pula halnya dengan corak dan bentuk bangunan masjid-masjid di Indonesia juga mengalami perkembangan dan perubahan, baik terhadap masjid-masjid tua maupun masjid-masjid yang didirikan kemudian, kecuali masjid-masjid yang didirikan oleh Yayasan Muslim Pancasila yang pada umumnya menyerupai bangunan joglo.

Nama atau julukan dan profil beberapa masjid di Indonesia antara lain adalah masjid jami’, masjid raya, dan masjid agung. Masjid jami’ dan masjid raya berarti masjid yang terpenting dalam suatu wilayah. Sedangkan masjid Agung biasanya memiliki kaitan dengan suatu kesultanan atau kerajaan Islam dan terletak di kompleks istana atau kraton.

Komponen Masjid

Masjid-masjid di Indonesia memiliki unsur-unsur bangunan, seperti menara, kubah, mihrab, mimbar, dan beduk yang beradaannya memiliki fungsi yang berbeda.

Kubah

(24)

Bagian-bagian masjid: mihrab, kubah, menara, pintu masuk, dan teras.

Bentuk atap masjid tua di Indonesia.

Menara

Menara adalah bangunan yang bentuknya tinggi ramping (lebih kecil) jika dibandingkan dengan bangunan lain yang juga merupakan bagian dari bangunan tersebut.17 Menara masjid adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan azan yang mungkin bisa disamakan dengan pembunyian lonceng pada gereja.

Kubah

Kubah adalah komponen bangunan masjid yang ditempatkan pada bagian puncak atap bangunan yang berfungsi sebagai penutup atap sekaligus sebagai penanda bangunan masjid.

Bentuk-bentuk kubah di Indonesia bervariasi. Ada yang berbentuk setengan lingkaran seperti tempurung kelapa, ada yang berbentuk bawang, dan sebagainya.

17 Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, 1995, hlm. 434.

(25)

Berdasarkan bentuknya, ada yang membedakan menjadi 3 tipe, yakni: tipe bentuk umbi, tipe bentuk bawang, dan tipe bentuk piramid (tipe bentuk runcing). Pada masa kini, kubah menjadi paradigma baru bagi masjid di Indonesia, padahal konstruksi kubah di Indonesia tidak punya sejarah masa lalu. Akhirnya kubah menjadi sekedar tanda.

Beduk

Beduk, ialah sejenis gendang besar dan panjang, berbentuk silinder atau cembung simetris, terbuat dari pohon kayu pilihan dengan ukuran panjang kurang lebih 2 meter atau lebih, mulutnya ada yang ditutupi selembar membran pada satu sisi atau kedua sisinya dengan lembaran kulit kerbau.

Beduk pada masjid merupakan ciri khas masjid-masjid tua di Indonesia. Fungsinya adalah merupakan pasangan dari menara masjid. Jika beduk ditabuh untuk memberi tahu tentang masuknya waktu shalat. Selanjutnya akan dikumandangkan suara azan. Beduk terbesar sekarang adalah beduk yang terdapat di masjid Istiqlal Jakarta.18

Beduk

Beduk, ialah sejenis gendang besar dan panjang, berbentuk silinder atau cembung simetris, terbuat dari pohon kayu pilihan dengan ukuran panjang kurang lebih 2 meter atau lebih, mulutnya ada yang ditutupi selembar membran pada satu sisi atau kedua sisinya dengan lembaran kulit kerbau.

Beduk pada masjid merupakan ciri khas masjid-masjid tua di Indonesia. Fungsinya adalah merupakan pasangan dari menara masjid. Jika beduk ditabuh untuk memberi tahu tentang masuknya waktu shalat. Selanjutnya akan dikumandangkan suara azan. Beduk

(26)

terbesar sekarang adalah beduk yang terdapat di masjid Istiqlal Jakarta.19

Kiri: Beduk pada masjid Istiqlal Jakarta.

Kanan: Beduk dan kentongan bersejarah peninggalan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.20

Berikut ini disajikan masjid-masjid bersejarah dii Nusantara.

1) Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak terletak di alun-alun kota Demak (22 kilometer di sebelah timur laut Semarang, Jawa Tengah).21 Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia dan paling dihormati di pulau Jawa. Negara-negara Islam yang bergabung dalam

19

Ensiklopedi Islam Seri 3, 1994, hlm. 175.

20 Ensiklopedi Islam, Seri 2, 1994, hlm. 248.

(27)

Organisasi Komferensi Islam (OKI) menetapkan Masjid Agung Demak sebagai peninggalan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Menurut lagenda, masjid ini didirikan oleh Walisongo secara bersama-sama dalam tempo satu malam. Dalam Babak Demak diceritakan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 (1477) yang ditandai oleh candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”. Pada mimbar masjid terdapat lambang tahun saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri pada tahun 1479. Masjid ini dengan konstruksi kayu jati berukuran 31X31 meter, bagian serambi berukuran 31X15 meter, atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang utama (sokoguru) yang dibuat oleh empat Walisongo, diantaranya ialah Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.22 Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, saka sebelah barat daya adalah buatan Sunan Gunungjati, saka sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedangkan saka sebelah timur laut yang disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adi Pati Yunus (Pati Unus atau Pangerag Sabrang Lor), Sultan Demak II (1518-1521), pada tahun 1520.

Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. Wali inilah yang berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga memperoleh wasiat antarkusuma, yaitu sebuah bungkusan yang berisi baju. Konon “hadiah dari Nabi Muhammad Saw yang jatuh dari langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid waktu itu.

(28)

Bangunan masjid Demak mempunyai unsur kebudayaan Hindu Jawa - dimana bentuk bangunannya menyerupai atau mirip bangunan candi yang runcing ke atas. Motif-motif hiasan yang terdapat di dalamnya tampaknya punya hubungan dengan zaman kerajaan Majapahit. Dilihat dari segi bentuknya, Masjid Agung Demak mirip dengan bentuk bangunan Masjid Kraton Yogyakarta. Ciri lain yang tampak dari bangunan masjid ini ialah corak masjid “kuburan” yang diliputi oleh suasana mistik. Atapnya yang bersusun tiga tingkat (melambangkan Islam, iman, dan ihsan). Jumlah pintunya sebanyak lima buah (melambangkan rukun Islam), sedangkan jendelanya berjumlah enam buah (melambangkan rukun iman).

Pada awalnya, masjid Agung Demak merupakan pusat kegiatan kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah. Bangunan ini juga dijadikan markas para wali untuk bermusyawarah dalam rangka proses islamisasi, termasuk upacara sekaten. Pada upacara sekaten ini dibunyikanlah gamelan dan rebana di depan serambi sehingga masyarakat datang berduyun-duyun memenuhi depan gapura. Para wali lalu mengadakan tablik, dan rakyatpun seraya sukarela dituntun megucapkan dua kalimat syahadat.

2) Masjid Agung Banten

Arsitektur Masjid Agung Banten memperlihatkan morfologi asalnya, yaitu menyerupai bentuk pura Hindu-Budha. Ciri lainnya adalah atapnya bersusun lima, yang semakin ke atas semakin mengecil, sedangkan menaranya berbentuk seperti mercusuar.23

(29)

3)

Masjid Kraton Yogyakarta (1773)

Masjid Kraton

Yogyakarta24 terletak di sebelah barat kompleks Alun-Alun Utara. Masjid Kraton Yogyakarta disebut juga masjid Gedhe Kauman, di sisi sebelah dalam bagian barat terdapat mimbar bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, mihrab, dan sebuah bangunan mirip dengan sangkar yang disebut maksura.

4) Masjid Jami’ Sumenep

Masjid Jami’ Sumenep, Jawa Timur didirikan pada akhir abad ke-18 yang diparakarsai oleh Adipati Sumenep. Arsitekturnya merupakan kombinasi dari tiga citra estetik, yakni kebudayaan Sumenep yang berakar pada kebudayaan Jawa, budaya Eropa diwakili Belanda dan Portugis, serta budaya Cina peranakan. Arsiteknya

(30)

sendiri adalah seorang peranakan Cina.25

5) Masjid Ngampel Surabaya

Konstruksi rangka kayu yang menjadi ciri utama arsitektur Nusantara menampilkan kesan yang ringan, namun rumit seperti terlihat pada interior masjid Ngampel, Surabaya.

Masjid Agung Surabaya

6) Masjid Cheng Hoo, Jawa Timur

Masjid Cheng Hoo menampilkan gaya arsitektur Tiongkok, ornamennya bergaya Tionghoa. Interior bangunan ini dicat dominan warna merah, hijau, dan kuning keemasan. Menurut masyarakat Tionghoa dulu bahwa warna kuning keemasan adalah warna ekslusif yang hanya boleh digunakan oleh raja.

Arsitekturnya sangat simpel dengan pertimbangan keterbatasan lahan. Terbatasnya lahan, maka masjid ini

(31)

dibangun berlantai dua. Luas bangunan adalah 21 X 11 meter untuk ruang utama, 11 X 9 meter untuk ruang teras. Bangunan utama dan struktur atapnya berbentuk segi delapan. Menurut falsafah orang Cina bahwa delapan sisi maksudnya agar kita selalu mengingat arah mata angin.

Masjid ini dibangun oleh Cheng Hoo untuk mengenang warga Tionghoa yang ikut berjuang di Jawa Timur 100 tahun yang lalu.26 Jemaah masjid ini juga kebanyakan dari warga Tionghoa. Karena keunikan arsitekturnya sehingga masjid ini banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

7) Masjid Agung Yogyakarta

Masjid Agung

Yogyakarta di kompleks keraton (berdiri 1773). Masjid ini memiliki peran penting dalam syiar Islam di Pulau Jawa.

Masjid Agung Yogyakarta

(Ensiklopedi Islam Seri 2, 1994:250). 8) Masjid Agung Surakarta

(32)

Masjid Agung Surakarta memperlihatkan perwujudan bangunan masjid Indonesia yang luwes dan memiliki berbagai langgam sekaligus. Gerbang di latar depan memperlihatkan ciri-ciri arsitektur kolonial, menaranya bergaya Timur Tengah, sementara masjidnya sendiri beratap tumpang tradisional.27

9) Masjid Agung Purworejo

Masjid Agung Purwerejo dibangun oleh Bupati Purwerejo yang pertama, yaitu R.T. Cokronegoro I pada tahun 1823. Masjid ini selain usianya yang sudah sangat tua, juga terdapat beduk raksasa yang dikeramatkan. Konon merupakan beduk terbesar di Indonesia, yaitu memiliki ukuran panjang sekitar 2,92 meter dan diameternya mencapai 1,94 meter. Rangka beduk ini terbuat dari bahan kayu jati pandawa yang telah berusia ratusan tahun.28

10) Masjid Al-Iman Loano

Selain masjid Agung Purworejo, juga ada Masjid Al-Iman Loano, di Desa Loano, Kecamatan Loano, Purworejo yang konon diyakini sebagai masjit tertua di Pulau Jawa. Masjid ini diduga dibangun sebelum berdirinya masjid Agung Demak. Dalam sejarahnya, masjid ini dibangun oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Gesang. Ada satu hal yang menjadikan masjid ini berbeda dengan masjid tua lainnnya. Seperti pada umumnya masjid-masjid berarsitektur Jawa, masjid Loano juga memiliki mustaka di puncak atapnya. Hanya saja, pada ujung mustaka di masjid ini bisa berubah-ubah arah sekalipun dipasang menancap sangat kuat dan tidak mudah digerakkan. Bagi masyarakat setempat, hal ini diyakini sebagai petunjuk mengenai berbagai peristiwa penting (musibah) yang. Kemana arah mustika itu menghadap menunjukkan arah

27

Nafas Islam Kebudayaan Indonesia, 1991:66.

(33)

terjadinya musibah, dan sejauh ini selalu terbukti. Misalnya saja peristiwa terjadinya gempa di Yogya baru-baru ini, beberapa hari sebelumnya arah mustaka berubah ke timur.29

11) Masjid Al-Manar Menara Kudus, Jateng (1600 M).

Masjid Al-Manar atau lazim disebut Masjid Menara Kudus yang terletak di pantai utara Jawa Tengah (kurang lebih 51 kilometer di sebelah

utara kota

Semarang)

merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 956 H/1549 M (pada masa pemerintahan Kesultanan Demak).30

Dalam sejarah disebutkan bahwa masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus (Jafar Sadiq) salah seorang dari sembilan Wali Songo. Masjid ini telah berulang kali mengalami perubahan/perbaikan sehingga bentuk aslinya sudah tidak jelas lagi. Kubah masjid merupakan perluasan terakhir dan menampilkan gaya arsitektur Moghul. Keunikan masjid ini ialah di sampingnya terdapat menara yang dikenal dengan menara kudus tempat menaruh beduk. Bangunan menaranya menyerupai candi jago yang didirikan pada tahun 1685. Menara masjid ini adalah sisa sebuah kompleks percandian Hindu-Buda sebelum penduduknya beralih menjadi pemeluk Islam pada awal abad ke-16.

29 (Sumber: Majalah Liberty, Desember 2007, hlm. 24).

(34)

Bangunan penting lainnya yang tedapat di sini ialah makam Sunan Kudus, gapura, dan tajuk. Makam Sunan Kudus terletak di sebelah barat masjid dikelilingi oleh makam-makam para wali, istri Sunan Kudus dan para pangeran/ahli waris Sunan Kudus.

12) Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal terletak di Taman Wijayakusumah Jakarta Pusat adalah masjid terbesar di Asia tenggara. Masjid ini dibangun oleh Presiden pertama RI (Soekarno), dan menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta. Masjid Istiqlal Jakarta memiliki sejarah yang berhubungan dengan peristiwa kemerdekaan RI. Istiqlal artinya “kemenangan”. Masjid ini dibangun di atas areal seluas 1 ha. Bangunan ini berlantai 5, arsitekturnya mengacu pada gaya arsitektur modern dengan konstruksi beton bertulang. Lantai dan dinding berlapis marmar, memiliki 7 buah pintu masuk. Pada pintu utama (depan) terdapat 13 anak tangga. Kubah berbentuk setengah bola dengan garis tengah 45 meter yang ditopang oleh 17 buah tiang. Jumlah tiang seluruhnya adalah 5000 buah. Pada masjid ini juga ada beduk besar (berat 2,3 ton, panjang 3 meter, diameter pada sisi depan 2 meter, sisi belakang 1,7 meter,).

13) Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung didirikan pada tahun 1812 adalah salah satu masjid megah - sebagai Pusat Da’wa Islamiah (PUSDAI) kebanggaan masyarakat Sunda, Bandung, Jawa Barat.

(35)

gaya arsitektur masjid Nabawi di Madinah. Untuk keserasian bangunan, lalu kemudian di atasnya ditambahkan dua buah kubah lebih kecil dari kubah induk. Kubah induk berbentuk setengah bola bergaris tengah 30 meter yang ditopang oleh tiang-tiang kokoh. Pada puncak kubah terdapat ornament struktural seperti yang terdapat pada puncak atap gedung Sate Bandung.

Pada bangunan lama sengaja dibuat banyak tiangunan mengelilingi bangunuk menopang beban kubah di atasnya, juga dibuat balok yang dikonstruksi menyerupai kotak-kotak melalui konstruksi squinches (struktur penopang yang dibangun membentang sudut-sudut diantara dinding-dinding atau tiang-tiang untuk menyangga suatu supra struktur yang berada di atasnya). Lantai dan dinding berlapis marmar. Masjid ini memiliki 5 buah pintu masuk pada bagian depan dengan gaya lengkung kubah. Pada pintu utama (depan) diberi ornamen kaca patri bermotif bunga dan motif geometri menghiasi jendela-jendela. Di atas pintu masuk diberi hiasan kaligrafi Arab terbuat dari kayu ukiran Jepara. Pada dinding bagian atas diberi ornamen yang terbuat dari susunan batu/tegel berwarna-warni membentuk hiasan geometri dan kaligrafi gaya Kufi.

14) Masjid Salman ITB, Bandung

(36)

Pada halaman depan bangunan berdiri menara setinggi kurang lebih 70 meter. Masjid ini selalu ramai ditempati shalat berjamaah oleh warga kampus.

Kiri: Menara Masjid Salman, ITB, Bandung.

15) Masjid Agung At-Tin, TMII

Masjid Agung At-Tin, TMII

16) Masjid Raya Baiturrahman, 1991:52-53).

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (salah satu masjid terindah di Nusantara yang dibangun pada masa Kesultanan Aceh, dan diresmikan pada tahun 1881.31 Masjid ini didirikan sebagai pengganti masjid lama yang telah dibumihanguskan oleh penjajah semasa perang Aceh.

17) Masjid Agung Bengkulu

(37)

Masjid Agung Bengkulu32 dengan kubah kecil mengapit pintu masuk bagian muka masjid.

Masjid Agung Bengkulu (Ensiklopedi Islam Seri 3, 1994:172). 18) Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan dibangun pada puncak kejayaan Kesultanan Deli Serdang (awal abad ke-20). Dalam Buku Ensiklopedi Islam Seri 1 (1994 : 170) disebutkan bahwa Masjid Raya Medan dibangun oleh Sultan Makmur ar-Rasyid Perkasa Alam sekitar tahun 1873-1924. Di depan masjid terdapat kompleks pemakaman raja. Masjid Raya Medan menggunakan selasar terbuka yang dibatasi rangkaian lengkung berasal dari arsitektur wangsa Abbasyiah di Spanyol serta panil-panil kaca timah dari budaya Eropa.

Konstruksi kubah dan dinding pemikul seperti pada masjid Raya Medan memperlihatkan kesan kokoh dan kelegaan pandangan (Nafas Islam, 1991:71). Pengaruh kolonial mencapai puncaknya pada awal abad ini.

(38)

Pengaruhnya terlihat pula pada masjid-masjid zaman tersebut.

Masjid Raya Medan dengan kubah khas (Nafas Islam, 1991 : 58-60).

Masjid Raya Medan dan Makam Raja-Raja.

19) Masjid Azizi Tanjungpura, Medan

Menara masjid Azizi Tanjung Pura, Medan (Nafas Islam, 1991:80).

(39)

21) Masjid Al-Markas AL-Islami Makassar

22) Masjid Raya Bandung didirikan pada tahun 1812 adalah salah satu masjid megah - sebagai Pusat Da’wa Islamiah (PUSDAI) kebanggaan masyarakat Sunda, Bandung, Jawa Barat.

Masjid Tua di Sulawesi Selatan Masjid Tua Katangka

(40)

Masjid Al-Markas

Bentuk atap masjid Al-Markas mengacu dari bentuk atap masjid Al Hilal-Katangka, Gowa.

Masjid Tua Palopo

Masjid Jami’ Palopo didirikan pada abad ke-17 (pada masa pemerintahan Sultan Abdullah). Struktur dan bentuk asli tampak pada konstruksi atap yang tidak menyerupai masjid-masjid di Arab atau Persia. Atap asli menyerupai bentuk tumpang. Masjid ini memiliki satu sokoguru sebagai ciri khasnya, terletak di tengah-tengah bangunan menopang puncak atap tumpang.33

Masjid Jami’ Palopo.

Masjid Agung Al-Humaerah, Benteng, Selayar

Kiri: Kubah masjid Selayar; Kanan: Menara masjid Selayar setelah rampung pebangunannya

(Dokumentasi A. Muliati, 2009).

Kiri: Menara masjid Selayar (sementara dalam proses pembanunannya); Kanan: Menara masjid lama dan menara baru (Dokumentasi Yabu M.,

2008).

Masjid Raya, Soppeng

(41)

Menara masjid

12. Peninggalan-Peninggalan Penting Lainnya

Peninggalan-peninggalan bersejarah yang cukup penting artinya dalam sejarah seni rupa Islam yang penting diketahui antara lain adalah istana raja atau keraton (Inggris: Palace; Royal palace) serta benda-benda kerajaan yang tersimpan di dalamnya; pintu gerbang; dan bangunan benteng pertahanan. Artifak-artifak tersebut tidak hanya memiliki peranan penting dalam kehidupan diistana tetapi juga menyimpan nilai-nilai sejarah, khususnya tentang sejarah seni rupa Islam di Indonesia.

a. Keraton Cirebon dan Keraton Kesepuhan

(42)

Keraton ini menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Cirebon. Salah diantaranya adalah kereta kencana yang melambangkan Trisula. Trisula melambangkan cipta, rasa, dan karya. Kepala burung garuda melambangkan ….., badan burung garuda melambangkan ….….., dan ekor burung garuda melambangkan ….……

Dinding kraton dihiasi keramik-keramik dari Belanda berwarna kebiruan. Di keraton ini terdapat gua (merupakan tempat untuk bersemedi) dengan lorong-lorong yang sempit. Di dalam gua ini ada patung - yang menurut mitos, tidak boleh dipegang oleh perawan. Lorong-lorong dan pintu (mulut gua yang sempit-sempit), mengandung makna yang terkait dengan etika pergaulan, yaitu agar orang-orang muda hormat kepada yang tua.

Tidak jauh dari Cirebon terdapat kota Kuningan. Di Kuningan terdapat gedung Linggarjati34, wisata alam, dan fasilitas rekreasi, seperti permandian alam, kolam renang yang di dalamnya dipelihara ikan-ikan yang dikeramatkan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat bahwa ikan-ikan di dalam kolam tersebut tidak boleh dimakan oleh orang Kuningan. Konon, siapa yang memakan ikan tersebut akan meninggal dunia (Siaran RCTV, 6 Agustus 2006).

1. Keraton …

2. Keraton ….

a. Masjid Agung Bengkulu

(43)

Masjid Agung Bengkulu dengan kubah kecil mengapit pintu masuk bagian muka masjid.

Masjid Agung Bengkul

(44)

I. PINTU GERBANG

Pintu Gerbang masjid Menara Kudus.

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan seni bangunan Indonesia asli, Hindu, dan Islam (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994, hlm. 172).

Pintu Gerbang Kompleks Makam Masjid Kuno Sendangduwur

Gerbang ke kompleks makam masjid makam kuno Sendang Duwur di Jawa Timur tampak jelas masih memanfaatkan idiom lama untuk menunjuang fungsi baru sebagai cikal bakal kreativitas yang diilhami nafas Islam pada abad ke-15 (Nafas Islam Kebudayaan Indonesia, 1991:65).

Pintu Gerbang masjid Agung Kesepuhan

Gerbang sebagai pintu masuk ke masjid dipercaya sezaman dengan masjid Agung Demak. Gerbang ini dimahkotai motif sayap yang juga terlihat pada gerbang kompleks Sendangduwur. Arsitekturnya memanfaatkan bahan bata yang berasal dari zaman sebelum Islam (Nafas Islam Kebudayaan Indonesia, 1991, hlm.46).

(45)

Pintu Gerbang Kesultanan Bima (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994:251).

J. Pintu Gerbang

a. Pintu Gerbang masjid Menara Kudus.

b. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan seni bangunan Indonesia asli, Hindu, dan Islam (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994, hlm. 172).

c. Pintu Gerbang Kompleks Makam Masjid Kuno Sendangduwur

Gerbang ke kompleks makam masjid makam kuno Sendang Duwur di Jawa Timur tampak jelas masih memanfaatkan idiom lama untuk menunjuang fungsi baru sebagai cikal bakal kreativitas yang diilhami nafas Islam pada abad ke-15 (Nafas Islam Kebudayaan Indonesia, 1991:65).

d. Gerbang masjid Agung Kesepuhan

(46)

e. Pintu Gerbang Kesultanan Bima (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994:251).

Pengertin Benteng

Benteng diartikan sebagai kubu pertahanan.35 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Benteng diartikan sebagai bangunan atau dinding yang berbentuk tembok dari batu, tanah dan sebagainya sebagai perlindungan atau pertahanan dari serangan musuh.36

C. PENINGGALAN SENI RUPA ISLAM DI PURWOREJO

Purworejo adalah kota tertua di Pulau Jawa. Berbagai tempat keramat banyak ditemukan di kota tua ini sebagai tempat-tempat wisata spiritual. Sejarah Purworejo, Jawa

35 R. Muhammad Ali (1963: 131).

(47)

Tengah tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Loano -dimana sebelum Kabupaten Purworejo didirikan pada sekitar tahun 1828, kerajaan Loano telah berkembang (awalnya didirikan oleh salah seorang anggota kerajaan Pajajaran yang bernama Haryo Bangah). Artifak sejarah yang penting di Purworejo antara lain adalah alun-alun, masjid tua, makam para tokoh bersejarah, tembok istana, dan gua. Secara historis tempat-tempat tersebut sejak dulu hingga sekarang kerap dijadikan sebagai tempat ritual. Alun-alun Purworejo dengan luas tanah sekitar 6 ha dikenal sebagai alun-alun terlua diantara alun-alun yang ada di Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia. Areal ini sangat favorit bagi warga kota yang ada di pesisir selatan pulau Jawa. Berdasarkan data yang ditemukan pada sebuah prasasti (Prasasti Kayu Ara Hiwang) tercatat tanggal 5 Oktober 901, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Purworejo. Sebagai kota/kabupaten tertua, sudah barang tentu menyimpan banyak sejarah dan potensi budaya dan sejarah tersendiri. Ada banyak tempat-tempat bersejarah yang hingga kini banyak didatangi warga yang ingin bernostalgia sembari melakukan olah spiritual di sana. Sisa-sisa artifak dari kadipaten ini adalah tembok berukuran besar. Tembok ini diduga sebagai pagar benteng yang mengelilingi istana adipati.37

Masjid Agung dan Beduk Raksasa

Peninggalan-peninggalan sejarah terpenting lainnya ialah masjid Agung Purwerejo yang dibangun oleh Bupati Purwerejo yang pertama, yaitu R.T. Cokronegoro I pada tahun 1823. Masjid ini selain usianya yang sudah sangat tua, juga terdapat beduk raksasa yang dikeramatkan. Konon merupakan beduk terbesar di Indonesia, yaitu memiliki ukuran panjang sekitar 2,92 meter dan diameternya mencapai 1,94 meter. Rangka beduk ini

(48)

terbuat dari bahan kayu jati pandawa yang telah berusia ratusan tahun.38

Selain masjid Agung Purworejo, juga ada Masjid Al-Iman Loano, di Desa Loano, Kecamatan Loano, Purworejo yang konon diyakini sebagai masjit tertua di Pulau Jawa. Masjid ini diduga dibangun sebelum berdirinya masjid Agung Demak. Dalam sejarahnya, masjid ini dibangun oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Gesang. Ada satu hal yang menjadikan masjid ini berbeda dengan masjid tua lainnnya. Seperti pada umumnya masjid-masjid berarsitektur Jawa, masjid Loano juga memiliki mustaka di puncak atapnya. Hanya saja, pada ujung mustaka di masjid ini bisa berubah-ubah arah sekalipun dipasang menancap sangat kuat dan tidak mudah digerakkan. Bagi masyarakat setempat, hal ini diyakini sebagai petunjuk mengenai berbagai peristiwa penting (musibah) yang. Kemana arah mustika itu menghadap menunjukkan arah terjadinya musibah, dan sejauh ini selalu terbukti. Misalnya saja peristiwa terjadinya gempa di Yogya baru-baru ini, beberapa hari sebelumnya arah mustaka berubah ke timur.39

Makam Gagak Handoko

Makam Gagak Handoko terletak di atas bukit sebuah bukit kecil d Loano. Gagak Handoko, selain dikenal ikut berjuang bersama Pangerang Diponegoro, beliau juga dikenal sebagai peletak dasar ilmu silat dari Perguruan Betako Merpati Putih. Tidak heran jika sampai sekarang makamnya sering digunakan sebagai tempat ritual bagi para murid dari Perguruan Betako Merpati Putih, terutama bagi mereka yang ingin menyempurnakan kemampuan tenaga dalamnya.40

D. Bangunan Makam Peninggalan Kerajaan Islam di Sulawesi Selatan

(49)

1. Makam Raja-Raja Gowa

a. Kompleks Makam Masjid Tua Katangka

Istana (keraton), masjid dan makam adalah unsur-unsur utama peninggalan sejarah masa Islam di Indonesia. Ketiga unsur tersebut di Indonesia umumnya terletak dalam satu lingkungan yang antara satu dan lainnya tidak berjauhan. Hal ini dapat disaksikan di berbagai kota bekas kerajaan Islam. Di Kabupaten Gowa sebagai bekas kerajaan Islam, makam raja beserta kerabatnya tidak jauh dari pusat istana raja Gowa. Kompleks makam kuno raja-raja Gowa bersatu dengan masjid tua Al-Hilal Katangka sehingga lebih dikenal dengan nama Kompleks Makam Masjid Tua Katangka. Kompleks ini dahulu merupakan kompleks benteng pertahanan kerajaan Gowa, kemudian pindah ke Sombaopu, dekat pantai sekitar tahun 1620-1660.41

Seperti halnya di Jawa, umumnya makam tokoh raja/tokah agama dipisahkan dari makam-makam lainnya. Khusus di Gowa, makam tokoh raja/tokoh agama ditempatkan dalam sebuah bangunan cungkup. Cungkup, yang oleh orang Makassar disebut kubah atau kobbang. Luas bangunan cungkup kurang lebih 4X4 meter, atau di dalamnya memuat 4 - 8 buah makam. Tinggi bangunan kurang lebih 6 meter. Sedangkan fungsi utamanya merupakan pelindung makam yang ada di dalamnya. Konstruksi makam umumnya terbuat dari material kayu (jenis kayu ulin) sekalipun ada beberapa makam yang terbuat dari marmar. Jenis ornamen yang dominan ialah hiasan tumbuhan sulur, hiasan geometri, dan hiasan kaligrafi Arab. Khusus hiasan kaligrafi Arab, selain diadopsi dari

(50)

teks ayat-ayat suci Al-quran, juga banyak dituliskan dalam aksara Arab-Serang.42

b. Kompleks Makam Raja-raja Tallo

Makam raja-raja Tallo di Ujung Tanah adalah sebuah kompleks makan kuno (sejak abad XVII sampai abad XIX Masehi), letaknya di RK 04 Lingkungaan Tallo, Kecamatan Tallo, Kodya Makassar. Lokasi makam terletak di pinggir barat muara sungai Tallo (pada sudut timur laut dalam wilayah benteng Tallo). Berdasarkan hasil penggalian (excavation) yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (1976-1982) ditemukan gejala bahwa kompleks makam berstruktur tumpang tindih. Sejumlah makam terletak di atas pondasi bangunan, dan kadang-kadang ditemukan fondasi di atas bangunan makam.

Kompleks makam raja-raja Tallo sebagian ditempatkan di dalam bangunan kubah, jirat semu dan sebagian tanpa bangunan pelindung. Jirat semu dibuat dari balok–balok batu pasir. Bangunan kubah yang berasal dari kurun waktu yang lebih kemudian dibuat dari batu bata. Penempatan balok batu pasir itu semula tanpa mempergunakan perekat. Tipe makam di kompleks ini pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe. Pertama, tipe susun timbun, yakni bangunan makam yang dibuat melalui teknik susun timbun, terdiri dari balok–balok batu padas persegi disusun dari bawah ke atas. Bangunan makam mirip konstruksi bangunan candi yang terdiri atas tiga bagian (kaki, tubuh, dan atap). Pada bagian atap tertanam dua buah nisan (utara dan selatan). Umumnya, berbentuk setengah lingkaran memanjang. Pola hias makam yang dipahatkan pada batu nisan antara lain pola hias tumbuh-tumbuhan

(51)

(bunga teratai dan sulur), pola hias geometris, dan hiasan kaligrafi Arab yang bertuliskan kalimat “Allah”, dan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”.

2. Makam Raja-Raja Binamu

Kompleks pemakaman raja-raja Binamu tersebar di beberapa lokasi, meliputi kompleks makam Bataliung di Bontoramba, kompleks makam I-Maddi Daeng Rimakka di Tonrokassi, kompleks makam ManjangloE, kompleks makam Karaeng Bibang di Sapanang, kompleks makam Fatimah Daeng Ti’no’ di Tanjongala’.

a. Kompleks Makam Bontoramba

Kompleks makam

Bataliung terletak di Bontoramba.

Kecamatan Bontoramba43

Kabupaten. Jeneponto.

Kompleks makam

Bataliung di

Bontoramba (dahulu Kecamatan

Tamalatea).

merupakan pusat

pemakaman

sebahagian raja-raja Binamu dari abad XVII-XIX. Dari sejumlah makam yang diperkirakan sebanyak kurang lebih 600 buah yang terletak di atas areal seluas 19,457 m2, hanya beberapa saja yang diketahui identitasnya. Berdasarkan data epigrafi yang tertera pada nisan, dapat diketahui beberapa tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut, diantaranya adalah Karaeng Palangkei Daeng Lagu,

(52)

Karaeng Gosseya Bombang, Daeng Dande (bergelar karaeng painung ballo’ sarroa), Karaeng Cambanga ri Allu’ (bergelar karaeng painung kopi sarroka), Lasona Eja I Mallete, berserta para kerabatnya.

Di kompleks makam Bontoramba terdapat beberapa model tipe nisan. Namun yang paling dominan ialah nisan bentuk gadah dalam berbagai variasinya. Di kompleks ini juga ditemukan tipe makam yang memperlihatkan ciri bangunan prasejarah, yakni bentuk punden berundak melalui sistem papan batu (bersususn bertingkat-tingkat). Selain itu, juga ditemukan bangunan makam yang memiliki nisan arca manusia yang ditampilkan secara ikonoklastik. Berdasarkan tipologinya, bangunan makam di kompleks ini dapat diklasifikasikan, yakni makam berundak yang disusun dari papan batu bentuk ramping dengan gunungan tanpa sayap, bentuk lebar-tambung dengan jirat gunungan yang bersayap, bentuk papan batu yang tertanam langsung ke dalam tanah, dan bentuk persegi empat panjang (monolith) membujur utara-selatan. Di kompleks makam ini, juga ditemukan tipe makam yang memperlihatkan ciri bangunan prasejarah, yaitu bentuk punden berundak melalui sistem papan batu (bersusun bertingkat–tingkat). Material bangunan, semuanya terbuat dari batu padas (jenis tuff dan batu sedimen muda).

(53)

Kompleks Makam I-Maddi Daeng Rimakka terletak di Kampung Ci’nong Desa Tonrokassi Kecamatan Tamalatea Kabupaten. Jeneponto (+300 meter dari jalan raya ke arah selatan menuju pantai Permandian Birtaria Kassi).

Raja-raja yang

dimakamkan di kompleks ini antara lain I Maddi Daeng Rimakka,44 I-Mulli Daeng Nisayang (Istri I-Maddi Daeng Rimakka), Karaeng Dongoloka, Karaeng Sioro’, dan lain-lain. Berdasarkan tipologinya, makam di kompleks ini memiliki prototipe yang sama dengan makam raja-raja Binamu di tempat lainnya, yakni tipe makam berundak, terbuat dari batu padas melalui sistem papan batu.

c. Kompleks Makam Jera’ LompoE, Kabupaten Soppeng

Kompleks makam kuno Raja-raja Soppeng yang lebih dikenal dengan nama Jera’ LompoE terletak di Desa Bila, Kecamatan Lalabata. Jumlah makam di kompleks ini diperkirakan sebanyak kurang lebih 30 buah. Sebagian besar diantaranya tidak diketahui pemiliknya. Kecuali itu, ada informasi dari masyarakat setempat mengenai tokoh yang dimakamkan di kompleks ini, antara lain Datu Soppeng dan Datu Luwu beserta para kerabatnya.

Secara tipologis, variasi bentuk makam di kompleks makam Jera’ LompoE pada umumnya memiliki variasi yang beragam, yakni makam berundak satu, berundak

(54)

dua, dan berundak tiga (makam berundak satu dan makam berundak dua tidak selalu dilengkapi dengan gunungan). Dalam perwujudannya, selain mempunyai ciri umum, juga memiliki karakteristik sebagai ciri khasnya yang jarang ditemukan persamaannya di tempat lain, yaitu dengan ditemukannya nisan bentuk hulu keris dan bentuk mata tombak. Kecuali itu, nisan bentuk hulu keris juga ditemukan di makam kuno Kaballangan, Kabupaten Pinrang dan pada makam kuno di Polewaliwali Mandar, Sulawesi Barat.

Pada beberapa kasus, terutama dilihat dari dimensi transenden, terdapat sejumlah simbolisme. Nisan-nisan di Jera’ Lompoe, seperti juga di tempat lainnya terdapat kecenderungan untuk menampilkan atribut-atribut pada bentuk nisan tersebut untuk membedakan status sosial, yakni makam dibuat berundak dan pada beberapa batu nisan diberi hiasan mahkota.

(55)
(56)

Cuplikan salah satu kitab bertuliskan huruf Arab dalam dialek Makassar

(57)

Daftar Pustaka

Al-Faruqi, Ismail Raji, 1999. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, Cetakan I, Yogyakarta: Bentang. Ave, Joop, 1991. Nafas Islam: Kebudayaan Indonesia, Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.

Ensiklopedi Islam Seri 1, 2, 3,4,5 1994. Ensiklopedi Keluarga, 1995.

Dim, Herry (Editor), 1996. Seni Rupa Kontemporer Istiqlal, Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.

Zein, Abdul Baqir, 1999. Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta; Gema Insani.

Sumber; R. Sukarsono, Artikel dalam Majalah Liberty, Desember 2007, hlm. 24).

M Irfan Mahmud, 2003 Kora Kuno Palopol Dimensi Sifisik, sisoal, dan kosmologi

Sarita Pawiloy, 2002. Ringkasan Sejarah Luwu, Proyek Plestarian Budaya dan Sejarah Luwu Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu. Penerbit. CV Telaga Zamzam.

Skema watampare di kota Palopo masa kerajaan (sejak 1620). (Sarita Pawiloym 2002:75).

Wiyoso Yudodeseputro, dkk., 1991 Kaligrafi, Seni Rupa, dan Kesenian dalam buku “Nafas Islam: Kebudayaan Indonesia”, Festival Istiqlal Jakarta, hlm.94-96.

Wiyoso Yudoseputro, 1986. Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia, Bandung: Angkasa, hlm. 3.

Subarna, 1986, Pengantar Sejarah Seni Rupa Islam: Kaligrafi Islam di Indonesia, Seri 3, Penerbit ITB Bandung. hlm. 1-14; Lihat juga Seri 5 Ragam Hias Islam, hlm. 28-35.

Panitia Pameran KIAS, 1990/1991. Perjalanan Seni Rupa Indonesia Dari Zaman Prasejarah hingga Masa Kini (Streams of Indonesian Art from Pre-Historic to Contemporary), Penerbit Panitia Pameran KIAS, hlm. 33.

(58)

Ambary, Hasan Muarif, 1987. Pengamatan Beberapa Konsepsi Estetis dan Simbolis pada Bangunan Sakral dan Sekuler Masa Islam Di Indonesia: Estetika dalam ArkeologiIndonesia, Jakarta; Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hlm. 104.

Batu nisan di Tallo, Makassar

Hiasan Bangunan

waruga

Dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, waruga diartikan sebagai badan, tubuh, atau wujud tubuh.45

Gong Nekara

Bangunan Makam

Bangunan makam Sultan Iskandar Muda, Sultan Aceh ke-12 (1607-1636) (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994, hlm. 52).

Kuburan keluarga raja-raja Tuggurt yang berbentuk kubah, terletak di kota Oase Tuggurt (Tonggourt) (Ensiklopedi Islam Seri 1, 1994, hlm. 123).

Hiasan Bangunan

Penampakan hiasan pada bangunan istana raja, merupakan suatu keterampilan tersendiri dalam seni dekoratif. Dalam konteks ini, pemberian dan penempatan hiasan disesuaikan dengan tempat atau fungsi masing-masing.dalam perhitungan estetika yang cermat. Motip hias sangat bervariasi dan umumnya mengadopsi dari tradisi lama, namun dalam hal-hal tetentu unsur-unsur lokal ikut berbaur di dalamnya. Dengan variasi yang diadopsi dari unsur-unsur lokal tersebut, maka lahirlah gaya atau

(59)

langgam/corak daerah. Misalnya ragam hias gaya Cirebon, Mataram, Yoyakarta, Jepara, dsb.

Keragaman kebudayaan Nusantara yang ada dan proses akulturasi yang wajar menumbuhkan budaya Islam Nusantara yang beragam, kaya dan mempesona. Keragaman tersebut antara lain dapat dilihat dalam berbagai cabang kesenian (sastra, musik, tari, seni rupa , arsitektur, film, dsb).

Hiasan Makam

Prasasti angka tahun

Nisan bertuliskan ayat suci Al-Qur’’an terletak dibagian ……. Makam …….

1. Hiasan makam

Hiasan makam dalam arti seni pahat dapat mencakup dua hal yaitu bentuk keseluruhan makam, jirat, dan nisannya serta jenis pahatan yang menghiasai bangunan makam, jirat dan nisannya. Yang akan dibahas dalam tulisan ini hanya hiasan pada jirat dan nisannnya sakja.

Nisan kubur pada makam ………bertuliskan kaligrafi arab yang mengutip ayat-ayat alquran, diantaranya ialah 1. sUrat al Baqarah ayat 255;2 s. ali imran ayat 185;3 s. arrahma ayat 26-27;4 surat taubah ayat 21-22 dan 5 s. diktum (pernyataan ) tentang hari tangagagk, bulan dan tahun wafatnya sultan arauja…… serta gelar –gelarnya. Secara beruurutan terjenaahan aayat –ayat alqura tersebut dia ata demikain: 40-41. ;

Referensi

Dokumen terkait