Paulina Dita Prameswari
jabat yang menghancurkan harapan rakyat hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kasihan kan pak rakyat hanyadiperintah untuk memilih dengan imbalan sejumlah uang, sedangkan mereka semua tidak tahu tujuan apa yang akan diperbuat oleh pejabat itu. Jadi, ibu patut ber- syukur untung saja keluarga kita di jauhkan dari pikiran seperti itu, Pak.”
2. Pak Wanto : “Iya Bu, bapak juga turut bangga dan senang dengan terpilihnya seorang istri lurah yang cantik ini menjadi seorang bupati.”
3. Bu Kirna : “Bapak ini bisa saja, terima kasih ya Pak. Ibu akan berusaha menggunakan kesempatan men- jadi bupati ini sebaik-baiknya dengan memper- baiki dan membangun daerah ini agar lebih maju. Sudahya pak, ibu ke warung sayur Cak Husna dulu.”
4. Pak Wanto : “Iya Bu, hati-hati ya.” ***
DI WARUNG SAYUR CAK HUSNA. SUATU PAGI IBU-IBU SUDAH RAMAI BERKUMPUL MEMILIH-MILIH SAYURAN DI WARUNG SAYUR ITU.
5. Bu Susi : “Eh... eh Ibu-Ibu sudah tahu belum ada berita terbaru.” (sambil memilih-milih sayur).
6. Bu Kirjo : “Memangnya apa ta Bu Susi?”
7. Bu Susi : “Mau tau banget atau mau tau aja?” (ekspresi genit)
8. Ibu-ibu : “Mau tau banget Bu Susi.”
9. Bu Susi : “Wah… wah berani kasih apa ini ibu- ibu? Bayarin
belanjaan saya ya.”
10. Bu Yora : “Bu Susi ini bisa saja, mudahlah itu asal kau cepat beritahu apa itu beritanya.” (Bu Yora adalah seorang pengusaha yang sombong dan kaya raya)
11. Bu Rina : “Sudahlah Bu Susi cepat saja beritahu kita, kita jadi penasaran nih, Bu.”
12. Bu Susi : “Jadi, begini Ibu-Ibu ada berita tentang Bu Kirna yang melakukan….”
13. Bu Nella : “Ibu-Ibu ini tidak baik membicarakan orang lain. Tadi sepertinya Bu Susibilang kalau ada berita baru. Kalau ini namanya bukan berita tapi gosip, Bu.” (Sela Bu Nella. Bu Nella adalah seorang PNS yang terkenal bijak)
14. Bu Susi : “Ah…Bu Nella ini seperti tidak tahu kita saja.” 15. Bu Nella : “Terserah Ibu-Ibu sajalah, sudah ya saya pulang
dulu.” (sambil membayar)
16. Bu Susi : “Silahkan Bu Nella, hati-hati.” (Nada setengah tinggi)
17. Bu Kirjo : “Sudahlah bu, lanjutkan saja berita tentang Bu Kirna tadi.”
18. Bu Susi : “Oiya, jadi begini Ibu-Ibu Bu Kirnakan sudah terpilih menjadi Bupati, nah katanya karna bukan pilihan rakyat langsung tapi karna dia telah menyogok banyak orang untuk memilih- nya sebagai bupati di pilkada kemarin.” 19. Bu Yora : “Apakah benar Bu Susi?”
TIBA-TIBA BU KIRNA DATANG UNTUK MEMBELI SAYUR- AN. SONTAK SEKETIKA SUASANA MENJADI HENING DAN TAK ADA SATU PUN IBU-IBU YANG MENGELUAR- KAN SATU KATA.
20. Cak Husna: “Ada apa ini Ibu-Ibu? Tiba-tiba kok diam saja?”
(Cak Husna Bingung)
21. Bu Kirna : “Selamat pagi Ibu-Ibu dan Cak Husna.” 22. Cak Husna: “Selamat pagi Bu Kirna.”
23. Bu Kirna : “Cak Husna ada pare segar tidak, ya?” 24. Cak Husna: “Ada Bu, mau berapa buah?
25. Bu Kirna : “4 buah saja Cak Husna.”
27. Bu Kirna : “Iya, Cak Husna. Ada apa ini ibu-ibu kok diam saja? Tidak seperti biasanya.”
28. Ibu-ibu : “Tidak ada apa-apa Bu Kirna.” (sambil membuang muka dan pura-pura sibuk memilih sayur)
29. Bu Kirna : “oh ya sudah, Cak Husna bagaimana sudah ada parenya?”
30. Cak Husna: “Sudah Bu, ini ya parenya Rp 12.000,00 saja.” 31. Bu Kirna : “Oya, makasih Cak Husna.” (sambil mengambil
uang di dompet)
32. Cak Husna: “Sama-sama Bu Kirna.”
33. Bu Kirna : “Mari ibu-ibu saya pulang dulu.” (sambil ter- senyum).
*** DI RUMAH BU KIRNA.
BU KIRNA BINGUNG DAN MEMIKIRKAN ADA SESUATU YANG BERBEDA PADA IBU-IBU DI WARUNG SAYUR CAK HUSNA TADI. HAL JANGGAL TERSEBUT BU KIRNA CERITA- KAN KEPADA SUAMINYA. KETIKA SANG SUAMI SEDANG DI TERAS RUMAH SAMBIL MEMBACA KORAN.
34. Bu Kirna : “Pak, Ibu bingung.”
35. Pak Wanto : “Bingung kenapa ta, bu?” (meminum secangkir teh)
36. Bu Kirna : “Jadi seperti ini pak, ibu tadi kan pergi ke wa- rung sayur Cak Husna. Lalu Ibu-Ibu diam saja tidak seperti biasanya. Bahkan Ibu sudah me- nyapa tapi tidakada yang membalasnya. Jadi Ibu bingung dan masih penasaran ada apa de- ngan Ibu-Ibu sebenarnya.”
37. Pak Warno: “Seperti itu kok dibingungkan ta Bu. Biasa mungkin Ibu-Ibu tidak ada bahan untuk di- bicarakan dan mungkin perasaan Ibu saja. 38. Bu Kirna : ”Iya juga ya Pak, mungkin perasaan Ibu saja.
39. Pak Warno: “Iya Bu, Bapak tunggu di ruang tamu, ya.” (sam- bil membaca Koran)
40. Bu Kirna : “Iya Pak.” ***
DI DEPAN RUMAH BU KIRNA SIANG HARI SEPULANG SEKOLAH DI HALAMAN RUMAH BU KIRNA. SONY ANAK BU KIRNA DAN KEDUA TEMANNYA BERMAIN BERSAMA. 41. Sony : “Taruh tas disini saja.” (sambil menaruh tas)
42. Sania : “Mau main apa nih kita? (sambil menaruh tas)
43. Andi : “Aku punya ide. Ideku adalah sebuah tebak- tebakan lucu, dengarkan ya. Punya kawat tapi bukan jemuran, punya lubang bukan sumur di- gendong bukan bayi. Apakah itu? Ada yang bisa jawab tidak?”
44. Sania : “Kuno ah tebak -tebakannya, tidak lucu.” 45. Andi : “Yasudah sih ya kalau kamu tidak bisa jawab.
Bagaimana denganmu Sony, apakah kamu tau jawabannya?”
46. Sony : “Ee…ee.. punya kawat ya? Ada lubangnya juga dan bisa digendong? Apakah gitar jawabannya?” 47. Andi : “Iya benar son, hehehe” (meringis malu)
48. Sania : “Sudah kubilang tebak-tebakanmu itu tidak lucu, Ndi.”
49. Sony : “Sudah-sudah tak usah dimasalahkan. Sekarang kita bermain yang lain saja. Mmmm.. bagaimana kalau cublak cubak suweng. Kita lama tak me- mainkannya, kan?.”
50. Andi & Sania: “Boleh.. boleh.”
51. Sania : “Lalu siapa yang akan jadi?” 52. Andi : “Kita hompimpa saja, oke?.” 53. Sony : “Oke.”
54. Sony, Andi dan Sania : “Hom pim pa layung gambreng.” 55. Andi : “Sania jadi.”
57. Sony : “Yuk kita mulai.”
58. Sony & Andi: “Cublak cublak suweng suwenge teng gelenter mambu ketundhung gudèl tak gento lela lelo sapa ngguyu ndelek ake, sir sir pong dele bodong sir sir pong dele bodong.” 59. Andi : “Hayo dimana, San.”
60. Sania : “Sik bentar ta. Mmm.. Di tangan kanannya sony, ya?.”
61. Sony : “Salah, San.”
TIBA-TIBA BU SUSI DAN BU YORA DATANG. MEREKA TELAH MENCARI-CARI ANAKNYA KE SEKOLAH DAN TERNYATA SANIA DAN ANDI BERMAIN DI RUMAH SONY ANAK BU KIRNA TANPA SEIZIN ORANG TUANYA. TER- LEBIH BU SUSI DAN BU YORA CEMAS AKAN PERGAULAN ANAKNYA DENGAN ANAK BU KIRNA BISA-BISA ANAK MEREKA TERPENGARUH DAN TERKENA IMBAS OLEH KELAKUAN TIDAK BAIK DARI BU KIRNA. SECARA BERITA TENTANG BU KIRNA TELAH MENYEBAR.
62. Bu Susi : “Sania, ayo pulang! Kamu ini bermain dengan siapa, tidak baik kamu bermain dengan anak ini!” 63. Bu Yora : “Iya betul Andi, ayo pulang!”
SONY YANG TIDAK TAHU APA-APA HANYA BISA DIAM DAN TAKUT AKAN KEDATANG BU SUSI SERTA BU YORA YANG TIBA-TIBA BERKATA SEPERTI ITU. SONY TIDAK TAHU APA MAKSUD DARI ITU SEMUA.
SONY DAN ANDI SEGERA DITARIK MENINGGALKAN SANIA. SANIAPUN MASUK KE DALAM RUMAH. SEMEN- TARA BEBERAPA SAAT KEMUDIAN MUNCUL BEBERAPA WARGA KE TEMPAT ITU. MEREKA TIDAK BISA MENAHAN
LAGI. MEREKA PUN SEGERA MEMANGGIL PAK RT UNTUK DATANG KE TEMPAT ITU.
KARENA BANYAK WARGA TELAH MENGETAHUI DAN TIDAK TERIMA AKAN PERBUATAN BU KIRNA. PERGILAH DUA PERWAKILAN WARGA KE RUMAH PAK RT UNTUK MEMBICARAKAN HAL ITU.
64. Pak Kirjo : “Permisi Pak RT.”
65. Pak RT : “Eh Pak Kirjo dan Pak Surat. Ada perlu apa datang kemari? Silahkan duduk” (Kebetulan Pak RT sedang duduk di teras rumah)
66. Pak Surat : “Terima kasih Pak RT. Jadi begini Pak, ke- datangan saya dan Pak Kirjo kemari untuk membicarakan mengenai berita bahwa Bu Kirna menggunakan penyogokan dalam pemilihan- nya sebagai bupati. Hukum harus tetap ditegak- kan Pak. Jadi bagaimana kalau kita melapor- kannya ke polisi.”
67. Pak RT : “Weh tidak semudah itu Pak Surat karna kita perlu bukti apakah benar beliau melakukannya.” 68. Pak Kirjo : “Ooo begitu ya Pak. Yasudah bagaimana kalau kita ke rumah Bu Kirna saja untuk menanyakan hal tersebut?”
69. Pak RT : “Maaf Pak saya hari ini ada rapat besar dengan Pak Luruh. Jadi tidak bisa hari ini.”
70. Pak Surat : “Wah Pak RT ini harus segera diselidiki pak, jangan sampai hal ini terulang lagi dan merem- bet ke hal lainnya.”
71. Pak RT : “Tidak bisa Pak.”
72. Pak Surat : “Ya sudah saya dan Pak Kirjo permisi dulu Pak RT. Mari. (Sambil bersalaman)
WARGA YANG TELAH GERAM DAN TAK INGIN MENG- ULUR-ULUR LAGI. SEGERA MENGGEDOR PINTU RUMAH BU KIRNA. PAK RT TIDAK MAMPU MENCEGAHNYA. PAK RTPUN LARI MENINGGALKAN TEMPAT ITU.
73. Warga : “Bu Kirna!!!! Bu Kirna!!!”
BU KIRNA KELUAR DAN SYOK DENGAN KEDATANGAN WARGA DALAM KEADAAN MARAH.
74. Bu Kirna : “Ada apa ini Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu?” 75. Bu Susi : “Tidak usah basa-basi bawa saja Bu Kirna ke
kantor polisi, biar polisi saja yang menyelidiki.”
(Bu Kirna dipaksa dan digandeng oleh warga)
76. Warga : “Ayo!!! Ayo!!!”
WARGA MEMAKSA HENDAK MEMBAWA BU KIRNA KE KANTOR POLISI. NAMUN BURU-BURU PAK RT DATANG KE TEMPAT ITU BERSAMA POLISI. HAMPIR BERSAMAAN DATANG JUGA PAK WANTO SUAMI BU KIRNA.
77. Pak Wanto : “Ada apa ini, Bu?
78. Pak Polisi : “Jadi begini Pak diduga Istri Bapak, telah me- lakukan penyogokan dalam pemilihannya se- bagai bupati kemarin.”
79. Pak Wanto : “Lhoh.. bukan istri saya itu pak tapi saya. Eh
kelepasan. Maksud saya… (Pak Wanto memang orang yang jujur beliau tidak bisa membohongi orang ketika ditanyai)
80. Bu Kirna : “Bapak bicara apa, Ibu tidak tahu. Jadi bapaklah yang menyukseskan ibu untuk terpilih menjadi Bupati. Itu tidak mungkin Pak polisi?”
81. Pak Polisi : “Apakah benar itu, Pak?
82. Pak Wanto : “Benar Pak. Eh salah Pak.” (sambil memegangi mulutnya dan merasa cemas)
83. Pak Polisi : “Mari bapak ikut saya untuk memberi keterang- an lebih lanjut.”
MEMANG BENAR TERBUKTI SUDAH PAK WANTOLAH YANG MENYOGOK WARGA UNTUK MEMILIH ISTRINYA SEBAGAI BUPATI.
Paulina Dita Prameswari. Lahir di Yogyakarta, 25 Januari 2000 dan bertempat tinggal di Jatimulyo TR I/624A RT 22 RW 05, Yogyakarta. Alamat sekolah di SMA N 4 Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Ma- gelang Karangwaru Lor, Yogyakarta. Mempunyai hobi bernyanyi dan membaca artikel di internet. Jika ingin berkorespondensi dengan Paulina Dita Prameswari dapat menghubungi HP: 089655587832 atau di Pos-el: [email protected]
TAHUN 1940 KETIKA PENDERITAAN MASIH TERJADI DI NEGARA YANG BANYAK MEMILIKI KEKAYAAN ALAM. KEINGINAN MERDEKA PUN BERMUNCULAN HAL YANG DITANGISKAN OLEH MEREKA PARA IBU DAN ORANG TUA ADALAH MENGIKHLASKAN ANAK MEREKA UNTUK MENJADI SEORANG TENTARA PELAJAR.PARA PEMUDA DENGAN GAGAHNYA MENGORBANKAN NYAWANYA DEMI NEGERI INI.
SEBELUM MENUJU MEDAN PERANG PARA PEMUDA INI BERPAMITAN KEPADA ORANG TUA. TEPAT DI JALAN YANG SEPI, TENGAH MALAM EMPAT PARA TENTARA PELAJAR MEMINTA DOA KEPADA ORANG TUA MEREKA. SALAH SATUNYA JONI SEORANG TENTARA PELAJAR MEMBERI UCAPAN SELAMAT TINGGAL KEPADA IBUNYA. 1. Joni : ”Ibu, Joni pergi dulu Joni akan ikut berperang demi wilayah kita dan penderitaan kita!”
(dengan nada sedih)
2. Ibu : ”Anakku, Ibu hanya bisa memberi doa dari Desa, hanya itu saja. Ibu titip salam terhangat kepada kak Jovi.” (dengan sedih Ibu menjawab)
3. Joni : ”Doa Ibu akan membantu Joni dan Kak Jovi dari segala... macam.. bahaya!.”(sambil bergurau)
Dibalik Latar Kemerdekaan
Ramadhan Rachmad Prakosa
4. Ibu : ”Bisa saja kau, semoga Allah melindungi ka- lian.”
JONI DAN KE-3 TEMANNYA MENUJU MEDAN PERANG DENGAN PERASAAN YANG SANGAT GELISAH, TAKUT, DAN KHAWATIR.MEREKA DIBERI BIMBINGAN DARI KOMANDAN PASUKAN YANG SUDAH LUMAYAN TUA UNTUK DIAJARKAN BAGAIMANA BELADIRI MENGGUNA- KAN BAMBU RUNCING. PADA PAGI HARI DIBELAKANG MEDAN PERANG JONI DAN KAWAN-KAWAN BERLATIH. 5. Komandan Pasukan: ”Siapkan mental kalian..!, sekarang kalian coba gerakan bambu tersebut dengan cepat” (dengan nada keras)
6. Dion : ”Jon, Aku takut nih”
7. Joni : ”Tenang saja.kenapa takut ini belum apa-apa.” 8. Ken : ”Cuman segini Aku bisa.”(sambil menggerakan
bambu)
9. Bram : ”Aku lapar gimana?”
10. Joni : ”Ayo, kita cari makanan. Menurutku disekitar sini banyak makanan.”
11. Dion : ”Jangan, nanti kalau ketahuan bagaimana?” 12. Joni : ”Kamu mau mati kelaparan. Ayo cepat keburu
Komandan tahu.”
13. Ken : ”Tunggu, jangan tinggalkan Aku.”
KETIKA YANG LAIN SEDANG BERLATIH DENGAN KERAS JONI DAN KE-3 KAWANNYA MERASA KELAPARAN, KARENA HAL TERSEBUT JONI DKK MENINGALKAN TEM- PAT LATIHAN DAN MENCARI MAKANAN DI SEKITAR TEM- PAT TERSEBUT. SESAMPAINYA DITEMPAT DENGAN CARA SEMBUNYI-SEMBUNYI, JONI DKK TERKEJUT DENGAN YANG DILIHATNYA (WILAYAH DEPAN GARIS PERANG. 14. Dion : ”Tempat apa ini.Kenapa banyak orang sakit.”
15. Bram : ”Aku menemukan makanan enak.”
16. Joni : ”Jangan diambil ini makanan buat korban da- lam peperangan.”
17. Ken : ”Liat, ada korban datang lagi.”
TIBA-TIBA JONI TERKEJUT MELIHAT SESOSOK WANITA BERPAKAIAN SEPERTI DOKTER MENGHAMPIRI JONI DAN KAWANNYA.
18. Tiffany : ”Apa yang Kalian lakukan disini.”
19. Dion : ”Kami disini hanya mencari...”(sambil terbatah- batah)
20. Tiffany : ”Mencari informasi tentang kami!” 21. Dion : ”Bukan kami ini mencari...” 22. Ken : ”Mencari makanlah.” 23. Bram : ”Kami lapar.”
24. Joni : ”Kenapa kalian bocorkan rahasianya.”
25. Tiffany : ”Oh, jadi itu maksud kalian kesini. Kalian pasti mata-mata dari musuhkan!”
26. Dion : ”Tidak...”
27. Joni : ”Kami akan pergi sekarang.”
SAAT MEREKA SEDANG INGIN PERGI, DATANGLAH KOMANDAN PASUKAN DENGAN WAJAH YANG KESAL. 28. Komando Pasukan : ”Sedang apa kalian disini!”(dengan kesal)
29. Dion : ”Kami sedang...”(sambil terbatah-batah)
30. Ken : ”Sedang cari makan.” 31. Bram : ”Kami lapar.”
32. Joni : ”Aduh, kenapa kalian terlalu jujur.”
33. Komando Pasukan : ”Kalian tahu tidak makanan itu hanya untuk korban perang dan jangan pernah dekati seorang Dokter di sini itu adalah peraturan, kalian ini memang kurang ajar. Sekarang kalian dapat hukuman kalian diharuskan mengasah
tajam bambu itu semuanya. Kalian tahu dua hari lagi kalian sudah ikut berperang.”
34. Dion : ”Tidak...”(sambil ketakutan)
KETIKA MALAM TIBA, JONI DKK TERUS MENGASAH SENJATA TEMAN-TEMANNYA. DI DEPAN API YANG MENG- HANGATKAN MEREKA DI BELAKANG GARIS PERTEMPUR- AN. SAMBIL MENGASAH DAN KELAPARAN MEREKA MENG- INGAT SEMUA YANG MEMBUAT MEREKA TERDORONG MENJADI SEORANG TENTARA PELAJAR.
35. Ken : ”Kalian kenapa ikut ke dalam anggota pasukan tentara pelajar. Aku ingin menjadi seorang yang tanguh.”
36. Dion : ”Kalau Aku tidak ingin melihat orang lain di- sakiti dan menghilangkan rasa takutku.” 37. Bram : ”Kalau aku sih tidak ingin melihat orang lain
kelaparan.”
38. Ken : ”Tapi, kenapa kamu makan tadi makanan orang lain.”
39. Bram : ”Maaf.”
40. Ken : ”Kalau kamu, Jon.”
41. Joni : ”Aku disini untuk melindungi wilayahku, ke- luargaku dan bertemu kakakku.Kita memiliki tujuan yang samakan.”(sambil tersenyum)
42. Dion : ”Aku tidak ingin meninggalkan kalian.” DATANGLAH TIFFANY MEMBERIKAN MAKANAN KEPADA JONI DKK. MEREKA PUN TERTIDUR PULAS SETELAH MAKAN HANYA JONI SENDIRI YANG BELUM TERTIDUR. 43. Joni : ”Perkenalkan namaku Joni Prakosa ini teman-
temanku.”
44. Tiffany : ”Namaku Tiffany Stevia.”
45. Joni : ”Maafkan Aku dan temanku soal yang tadi.” 46. Tiffany : ”Aku juga minta maaf soal yang tadi.”
47. Joni : ”Kenapa kamu bisa kesini, kan tidak boleh seorang wanita pun kesini.”
48. Tiffany : ”Aku sedang dalam misi membantu mengeva- kuasi korban yang ikut berperang.”
49. Joni : ”Oh, begitu.”(sambi mengantuk menjawab) 50. Tiffany : ”Sudah dulu Joni, Aku mau pergi dulu. Ingat
cepat tidur.”
SUARA KOMANDAN PASUKAN MEMBANGUNKAN JONI DKK DARI TIDUR LELAP MEREKA KOMANDAN PUN ME- NYURUH JONI DKK BERKUMPUL PADA WAKTU MATA- HARI TERBIT.
51. Joni : ”Kenapa cuma kita berempat.” 52. Dion : ”Waduh ada apa ini.”
53. Komandan : ”Aku perintahkan kalian menuju garis depan medan perang lebih cepat. Banyak korban ber- guguran disana, Aku ingin kalian untuk ditugas- kan hanya untuk berjaga wilayah kita.” 54. Dion : ”Aku takut.”
55. Ken : ”Kita hanya ditugaskan untuk berjaga,kenapa tidak ikut berperang.”
56. Bram : ”Betul kata Ken.” 57. Joni : ”Kenapa harus kami.” 58. Bram : ”Betul kata Joni.”
59. Komandan : ”Karena mental kalian telah terbentuk, Aku men- dengar pembicaraan kalian soal mempertahan- kan wilayah kita. Kekuatan terbaik adalah dari dalam hati bukan dari otot, sekarang cepat ber- gegas bawa semua alat kalian.
60. Joni : ”Kalau itu memang keputusan Bapak, kami siap.”
MEREKA PUN AKHIRNYA MENUJU GARIS DEPAN MEDAN PERANG. DENGAN TEKAT YANG KUAT MEREKAPUN DA- TANG. DISANA MEREKA MELIHAT KORBAN DARI KE- JAHATAN MUSUH.
61. Joni : ”Kita bertugas disini.”
62. Dion : ”Banyak korban yang berguguran.”
63. Bram : ”Liat, itu Tiffany. Hai Tiffany ada makanan tidak?” 64. Ken : ”Kita dilarang untuk mendekati Dokter saat
bertugas.”
65. Tiffany : ”Kalian di tugaskan menjaga korban disini ya.” 66. Joni : ”Iya, benar.”
TIBA-TIBA DATANGLAH KETUA PASUKAN PELAJAR YANG SEDANG TERLUKA PARAH, KETIKA JONI MELIHATNYA. JONI PUN MENANGIS KARENA YANG TERLUKA PARAH ADALAH KAKANYA JOVI.
67. Joni : ”Kakak..” (sambil menangis)
68. Jovi : ”Kenapa kamu kesini, bagaimana dengan Ibu dan ayah.”
69. Joni : ”Ayah dan ibu sehat, kak”
70. Jovi : ”Syukurlah, sekarang kamu jadi seorang ten- tara juga seperti kakak.”
TIBA-TIBA MUNCUL SUARA DARI KEJAUHAN BAHWA MUSUH AKAN DATANG. JOVI PUN YANG TERLUKA PARAH MEMBERIKAN JABATAN SEMENTARA KETUA PASUKAN TENTARA PELAJAR KEPADA ADIKNYA JONI.
71. Jovi : ”Tolong kamu pimpin pasukan menuju garis depan medan perang, Aku ada janji dengan Mu- suh sebenarnya tetapi melihat kondisiku saat ini sebaiknya adikku yang mengantikan. Biar- kan Aku yang menjaga mereka.”
72. Joni : ”Ayo teman-teman kita berangkat.” 73. Bram : ”Siap.”
74. Ken : ”Tentu.” 75. Dion : ”Oke..oke”
76. Jovi : ”Jangan lupa bawa senjata kalian dan ini alat penghubung ke radio, semoga kamu bisa men- jawabnya.”