• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURGA YANG KUNANTIKAN Antologi Drama Ben

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SURGA YANG KUNANTIKAN Antologi Drama Ben"

Copied!
326
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BALAI BAHASA

(3)

Surga yang Aku Nantikan

Antologi Naskah Drama Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa SLTA Kota Yogyakarta

Penyunting Tirto Suwondo

Pracetak

Yohanes Adhi Satiyoko Linda Candra Ariyani Dini Citra Hayati Gregorius Junianto

Penerbit :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BALAI BAHASA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta 55224 Telepon (0274) 562070, Faksimile (0274) 580667

Katalog dalam Terbitan (KDT)

Antologi Naskah Drama Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa SLTA Kota Yogyakarta, Tirto Suwondo. Yogyakarta: Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

x +314 hlm., 14,5 x 21 cm. ISBN: 978-602-6284-39-6

Cetakan Pertama, Juni 2016

Hak cipta dilindungi undang-undang. Sebagian atau seluruh isi buku ini dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit.

(4)

Sebagai instansi pemerintah yang bertugas melaksanakan pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, baik Indonesia maupun daerah, pada tahun ini (2016) Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kembali menyusun, menerbitkan, dan memublikasikan buku-buku karya kebahasaan dan kesastraan. Buku-buku-buku yang diter-bitkan dan dipublikasikan itu tidak hanya berupa karya ilmiah hasil penelitian dan atau pengembangan, tetapi juga karya hasil pelatihan proses kreatif sebagai realisasi program pembinaan dan atau pemasyarakatan kebahasaan dan kesastraan kepada para pengguna bahasa dan apresiator sastra. Hal ini dilakukan bukan semata untuk mewujudkan visi dan misi Balai Bahasa sebagai pusat kajian, dokumentasi, dan informasi yang unggul di bidang kebahasaan dan kesastraan, melainkan juga —yang lebih penting lagi—untuk mendukung program besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang pada tahapan RPJM 2015—2019 sedang menggalakkan program literasi yang sebagian ketentuannya telah dituangkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Dukungan program literasi yang berupa penyediaan buku-buku kebahasaan dan kesastraan itu penting artinya karena me-lalui buku-buku semacam itu masyarakat (pembaca) diharapkan mampu dan terlatih untuk membangun sikap, tindakan, dan pola

PENGANTAR

KEPALA BALAI BAHASA

(5)

berpikir yang dinamis, kritis, dan kreatif. Hal ini dilandasi suatu keyakinan bahwa sejak awal mula masalah bahasa dan sastra bukan sekedar berkaitan dengan masalah komunikasi dan seni, melainkan lebih jauh dari itu, yaitu berkaitan dengan masalah mengapa dan bagaimana menyikapi hidup ini dengan cara dan logika berpikir yang jernih. Karena itu, sudah sepantasnya jika penerbitan dan pemasyarakatan buku-buku kebahasaan dan kesastraan sebagai upaya pembangunan karakter yang humanis mendapat dukungan dari semua pihak, tidak hanya oleh lem-baga yang bertugas di bidang pendidikan dan kebudayaan, tetapi juga yang lain.

Buku berjudul Surga yang Aku Nantikan ini adalah salah satu dari sekian banyak buku yang dimaksudkan sebagai pendukung program di atas. Buku ini berisi 31 naskah drama ditulis oleh 31 siswa SLTA (SMK, SMA, MA) kota Yogyakarta dalam rangka Kegiatan Pemasyarakatan Kebahasaan dan Kesastraan Indonesia untuk Remaja (Bengkel Bahasa dan Sastra). Diharapkan buku ini bermanfaat bagi siswa dan masyarakat umum untuk (a) meningkatkan apresiasi peserta terhadap karya tulis, khususnya naskah drama berbahasa Indonesia; (b) meningkatkan dan mengembangkan kreativitas siswa dalam ekspresi kepenulisan berbahasa Indonesia; (c) dan menumbuhkan kecintaan dan sikap positif terhadap fenomena kehidupan bermasyarakat, khususnya melalui naskah drama dan pemanggungannya.

Atas nama Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para penulis, pembimbing, penilai, penyunting, panitia, dan pi-hak-pihak lain yang memberikan dukungan kerja sama sehingga buku ini dapat tersaji ke hadapan pembaca. Kami yakin bahwa di balik kebermanfaatannya, buku ini masih ada kekurangannya. Oleh karena itu, buku ini terbuka bagi siapa saja untuk mem-berikan kritik dan saran.

Yogyakarta, Juni 2016

(6)

KATA PENGANTAR PANITIA

Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab melaksanakan pembinaan penggunaan bahasa dan sastra masyarakat, pada tahun 2016 kem-bali menyelenggarakan kegiatan Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia. Kegiatan yang diwujudkan dalam bentuk pelatihan penulisan artikel dan naskah drama bagi siswa SLTA (SMK, SMA, MA) Kota Yogyakarta ini merupakan salah satu wujud kepedulian Balai Bahasa DIY terhadap perkembangan kreativitas menulis bagi siswa di DIY.

Kegiatan pelatihan penulisan artikel dan naskah drama bagi siswa SLTA Kota Yogyakarta dilaksanakan dalam 10 kali per-temuan dari tanggal 3 April—5 Juni 2016 bertempat di SMA Bopkri 1, Yogyakarta. Kegiatan itu diikuti oleh 35 siswa. Para peserta dibimbing oleh narasumber yang berasal dari akademisi, peneliti, praktisi dalam bidangnya. Narasumber kelas artikel adalah Drs. Edi Setiyanto, M.Hum. dan Drs. S.T. Kartono, M.Hum. sedangkan narasumber kelas drama adalah Naomi Srikandi dan Wahyana Giri.

(7)

apre-siasi peserta terhadap karya tulis, khususnya naskah drama ber-bahasa Indonesia; (b) meningkatkan dan mengembangkan krea-tivitas siswa dalam ekspresi kepenulisan berbahasa Indonesia; (c) dan menumbuhkan kecintaan dan sikap positif terhadap fenomena kehidupan bermasyarakat, khususnya melalui naskah drama dan pemanggungannya.

Dengan diterbitkannya buku antologi ini mudah-mudahan upaya Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mening-katkan ketrampilan berbahasa dan bersastra Indonesia, khusus-nya ketrampilan menulis naskah drama bagi siswa SLTA, dapat memperkukuh tradisi literasi. Di samping itu, semoga antologi ini dapat memperkaya khazanah kebahasaan dan kesastraan Indonesia.

Buku antologi ini tentunya masih banyak kekurangan. Untuk itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk perbaikan di masa mendatang.

Yogyakarta, Juni 2016

(8)

DAFTAR ISI

PENGANTAR KEPALA BALAI BAHASA

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ... iii

KATA PENGANTAR PANITIA ... v

DAFTAR ISI ... vii

MIMPI ... 1

Adinda Dewi Anggita SMA Negeri 7 Yogyakarta TEMAN SD ... 13

Aditya Dwi Cahyo Putra SMA Negeri 6 Yogyakarta PAKAN BURUNG ... 21

Aprita Nur Rachma SMA Negeri 7 Yogyakarta GADIS TANPA NAMA ... 32

Kidung Jati SMA Negeri 9 Yogyakarta GELAP ... 41

(9)

KASIH IBU ... 49

Rofiqoh Salsabila Zein SMK Negeri 1 Yogyakarta

MAAF ... 57

Aufia Nur Adelia

SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta

XOXO HIGH SCHOOL ... 67

Bertha Kemala Dewi

SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

KISAH PELAJAR 3 SMA ... 75

Diah Qonita Pitaloka

SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

JALAN HAMPA ... 84

Dilla Ananda P.

SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

SIKAP YANG BERLEBIHAN ... 90

Eka Ramayana Br Pinem SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

SAHABAT ... 98

Fara Rizka Ramadhona SMA Negeri 7 Yogyakarta

CINTA DAN SAHABAT ... 108

Galuh Ratri Kusuma Dewi

SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta

PERSAHABATAN DARI HATI ... 114

Irma Yunita

SMK Muhamdiyah 2 Yogyakarta

LABIL ... 121

(10)

SURGA YANG AKU NANTIKAN ... 129

Luthfiana Erlistya

SMA Negeri 5 Yogyakarta

AIR MATA KESEDIHAN ... 138

Madda Asfya Putra SMA Negeri 7 Yogyakarta

CINTA ... 159

Meri Duwi Nuryanti

SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta

BUDAK RATUKU ... 166

Muhammad Rizky

SMA Negeri 7 Yogyakarta

JUJUR YANG TERDESAK ... 175

Paulina Dita Prameswari SMA Negeri 4 Yogyakarta

DIBALIK LATAR KEMERDEKAAN ... 184

Ramadhan Rachmad Prakosa SMK Negeri 3 Yogyakarta

NYASAR... 195

Ramadhani Tareq Kemal Pasha SMA Negeri 5 Yogyakarta

BUNGA... 211

Ratih Kusumaningrum SMK Negeri 1 Yogyakarta

KEJUTAN DI HARI ULANG TAHUN ... 224

Roseiana Anggun Priesca Amalia SMA Piri 1 Yogyakarta

BALADA CINTA BEDA AGAMA ... 235

(11)

JEBAKAN ... 246

Theresia Seismika Widowati SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

DIA BAPAKMU, NAK... ... 253

Vidi Mila Sukmawati SMA Negeri 4 Yogyakarta

NESTAPA ENAM EMPAT LIMA ... 268

Yoga Harvananda

SMK Negeri 3 Yogyakarta

SEKOLAH BAPAK ... 275

Yonatan Adhie Narendra SMA BOPKRI 1 Yogyakarta

DUNIA BUKAN CUMA RUMAH INI ... 284

Yosephine Audriana SMA Negeri 3 Yogyakarta

SEBUAH PERSAHABATAN ... 289

Zhafirah Salma Nur Waizhah SMA Negeri 7 Yogyakarta

MATERI PENULISAN NASKAH DRAMA

PADA MULANYA ADALAH CERITA ... 299

Wahyana Giri MC

BIODATA PANITIA

BENGKEL BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

(12)

PEMAIN:

1. Bu Sandra : Umur 30 tahun, bijaksana, senang memotivasi guru dari murid-murid.

2. Tika : Mudah putus asa, tidak suka belajar giat, dur-haka.

3. Della : Paling bijaksana diantara teman-temannya, pro-tagonis, mampu melerai pertikaian antara te-man-temannya. Della dewasa menjadi seorang dokter.

4. Ninda : Protagonis, paling lembut kalau bicara. 5. Fia : Sedikit tomboi, protagonist. Fia dewasa

men-jadi seorang arsitektur. 6. Dina : Jahat, suka menghina Tika.

7. Alif : Protagonis, suka membantu teman. 8. Rizky : Suka bercanda, protanogis.

9. Ibu Tika : Umur 45 tahun, sabar, sangat sayang dengan Tika.

10. Bapak Tika: Umur 50 tahun, tempramental.

ADEGAN 1

DI RUANG TAMU SEBUAH RUMAH SEDERHANA, TAMPAK BU SANDRA, DELLA, NINDA, DINA, FIA, ALIF, RIZKY, DAN

Mimpi

Adinda Dewi Anggita

(13)

TIKA SEDANG TERLIBAT DALAM SEBUAH PERBINCANGAN. 1. Bu Sandra : “Bagaimana dengan hasil Ujian Nasional

ka-lian?”

2. Della : “Saya belum puas, Bu dengan hasilnya?” 3. Ninda : “Kalau saya sudah puas dengan hasil saya,

walaupun jumlahnya masih lebih rendah dari Della.”

4. Dina : “Iya, saya juga sudah bersyukur dengan hasil-nya walaupun bukan yang terbaik di kelas.” 5. Fia : “Alhamdulillah Bu, meskipun saya juga belum

tahu mau melanjutkan sekolah dimana.” 6. Alif : “Saya sudah bangga dengan hasilnya. Tapi

karena nilai Dina lebih tinggi jadi peringkat aku turun deh di kelas.”

7. Bu Sandra : “Yang penting harus bersyukur karena semua sudah berlalu dan jangan lupa berdoa agar di-beri kemudahan oleh Tuhan untuk melanjut-kan sekolah. Kalau Rizky dan Tika bagaimana hasilnya?”

8. Rizky : “Saya kurang puas, Bu dan tidak tahu masuk sekolah negeri atau tidak.”(Muka pasrah) 9. Alif : “Pasti masuk Riz, kamu harus optimis dong

jangan terus menyerah begitu.”

10. Rizky : “Iya, Lif. Terima kasih.” (kembali tersenyum). 11. Bu Sandra : “Terus mau melanjutkan sekolah dimana

kalian?”

12. Della : “Pasti sekolah favorit Bu karena itu cita-cita saya.”

13. Dina : “Saya juga.”

14. Ninda : “Kalau saya di sekolah favorit yang sudah saya inginkan sejak kelas 5 dulu.”

(14)

16. Alif : ”Amin.”

17. Bu Sandra : ”Oh iya Tika kamu belun jawab pertanyaan Ibu tentang hasil nilai Ujian

Nasional kamu. Dan mau melanjutkan sekolah dimana kamu?”

18. Tika : ”Tidak tahu Bu.”

19. Bu Sandra : ”Loh bagaimana bisa kamu menjawab tidak tahu. Kalian itu seharusnya sudah harus punya tujuan yang jelas dari sekarang untuk me-wujudkan mimpi kalian kelak.”

20. Tika : ”Saya juga ingin mewujudkan mimpi itu Bu tetapi nilai saya tidak bisa untuk masuk di se-kolah negeri yang saya inginkan untuk meraih mimpi itu.”

21. Bu Sandra : ”Itu bukan alasan yang tepat Tika, jika kamu benar-benar ingin memperbaiki semuanya maka masuk di sekolah yang tidak negeri itu tidak masalah asalkan kalian lebih giat lagi dalam belajar untuk mengejar semuanya yang telah tertinggal. Mengerti semuanya?”

22. Semua : ”Mengerti Bu.”

23. Bu Sandra : ”Bagaimana kalau Ibu membuat kesepakatan untuk bertemu 10 tahun mendatang di tempat ini? Agar kalian dapat membuktikan bahwa kalian mampu meraih mimpi kalian. Setuju?” 24. Semua : ”Setuju.”

25. Della : ”Kalau begitu kami pamit pulang sekarang saja ya Bu karena sudah semakin sore juga.” 26. Bu Sandra : ”Ya sudah. Hati-hati di jalan ya semua, jangan

(15)

MEREKA MENINGGALKAN TEMPAT ITU. SEJENAK KEMU-DIAN DI PANGGUNG ITU HANYA TINGGAL IBU SE-ORANG DIRI. PEREMPUAN ITU MENATAP KEPERGIAN ANAK-ANAK. DAN PANGGUNGPUN MENJADI GELAP.

ADEGAN 2

KETIKA LAMPU PANGGUNG ITU MENYALA, PANGGUNG SUDAH BERUBAH MENJADI SEBUAH RUANG YANG MENGGAMBARKAN SEBUAH DAPUR YANG SUDAH TIDAK LAYAK DIPAKAI. TAMPAK IBU TIKA SEDANG MEM-BUAT TEH DI SALAH SATU MEJA DAPUR ITU.

29. Tika : ”Bu, Tika ingin ngomong sesuatu ke Ibu.” 30. Ibu Tika : ”Apa Nduk? Kalau ada masalah cerita saja.” 31. Tika : ”Sebenarnya Tika ingin berhenti sekolah, Bu.

Tika ingin bekerja saja untuk membantu pereko-nomian keluarga ini dan biaya hidup Tika sen-diri.”

32. Ibu Tika : ”Kamu ini ngomong apa? Lulusan SD seperti kamu ini bisa apa diterima bekerja? Sudahlah kamu giatkan belajarmu saja. Tamatkan kolahmu, biar ijasahmu tidak hanya ijasah se-kolah dasar. Supaya kamu bisa dapat pekerjaan yang lebih mapan!”

33. Tika : ”Pokoknya aku sudah tidak mau sekolah Bu! lagi pula nilai ku selalu jelek di sekolah. Aku sudah tidak tahan melanjutkan sekolah. Aku ingin bekerja saja. Dan Ibu tidak punya hak melarangku karena Ibu pun tidak mampu me-menuhi kebutuhan Tika!”

(16)

34. Bapak Tika: ”Ada apa ini? Kenapa kalian berdua ribut-ribut? Bikin malu saja kalau didengar tetangga.” 35. Ibu Tika : “Itu anakmu, Pak, dia bilang sudah tidak mau

lagi untuk melanjutkan sekolah dia malah me-milih untuk bekerja saja.”

36. Bapak Tika: ”Apakah benar begitu, Tika?”

37. Tika : ”Kalau memang iya kenapa? Bapak itu sama saja seperti Ibu, tidak penah bisa mencukupi kebutuhanku tapi selalu melarangku untuk mencari uang sendiri.”

38. Bapak Tika: ”Astagfirullah.... Apakah kamu tidak bersyukur selama ini bisa makan dengan kenyang Tika?” 39. Tika : ”Makan dan minum dengan kenyang tidaklah

cukup untuk hidup di zaman modern ini.” 40. Bapak Tika: ”Sudah cukup!! Sekarang juga kamu minggat

dari rumah ini dan jangan pernah kembali!!!!” 41. Ibu : ”Sudah Pak.... cukup Pak...”

IBU TIKA TAK KUASA MENAHAN KESEDIHANNYA. HATINYA PERIH. IAPUN MENANGIS TERSEDU-SEDU. 42. Tika : ”Baiklah! Baik kalau itu memang menjadi

ke-inginan Bapak.”

TIKA PUN MENINGGALKAN TEMPAT ITU. SEMENTARA BAPAK MEMANDANGINYA DENGAN RASA GERAM DAN IBUNYA MASIH SAJA TERISAK-ISAK DI SALAH SATU SUDUT DI TEMPAT ITU. PANGGUNG PUN MENJADI GELAP.

ADEGAN 3

(17)

TERMASUK BEBERAPA PENGEMIS YANG DUDUK BERSILA DI LANTAI TROTOAR ITU SAMBIL MENJULURKAN TANGANNYA KE SETIAP ORANG YANG LEWAT DI DEPANNYA.

TIBA-TIBA DARI BEBERAPA SISI PANGGUNG ITU MUNCUL DINA, FIA, DELLA, RIZKY, ALIF, NINDA (MEREKA ADALAH TEMAN SATU KELOMPOK DI SEKOLAHNYA DULU). MEREKA SECARA KEBETULAN BERTEMU DI TEMPAT ITU. 43. Dina : ”Sudah lama sekali tidak bertemu. Bagaimana

kabar kalian masing-masing?”

44. Fia : ”Baik selama ini, walaupun sempat mengalami keputus asaan karena revisi skripsi berulang kali. Ha ha ha…”

45. Della : ”Ya benar juga itu katamu Fi.”

46. Rizky : ”Jadi seorang lulusan Sarjana Kedokteran UGM ini sempat mengalami putus asa ya? Ha ha ha…” 47. Alif : ”Tidak usah mengejek seorang dokter, karena selama ini kamu tidak merasakan praktikum tiga kali seminggu dan membuat laporan tebal ditulis tangan karena pekerjaanmu selama ini hanya menggambar di komputer saja.”

48. Rizky : ”Huh… jangan begitu dong Lif. Begini juga aku kan juga telah memenangkan lomba desain ani-masi kartun nasional.”

49. Ninda : ”Sudahlah kalian jangan bertengkar saja. Kita mulai menuju ke rumah Bu Sandra saja yuk.” 50. Fia : ”Tunggu dulu. Sepertinya ada yang belum

da-tang Nin.” 51. Ninda : ”Siapa?”

52. Fia : ”Tunggu dulu biar aku ingat namanya.” 53. Dina : ”Tika.”

(18)

55. Alif : ”Sejak dulu itu yang hilang kontak dengan kita kan hanya dia sendiri.”

56. Rizky : ”Iya. Aku sudah pernah mengirim pesan kepada-nya beberapa kali untuk mengingatkan tentang perjanjian sepuluh tahun kemudian, tetapi sama sekali tidak ada yang dibalas.”

57. Della : ”Kalau begitu kita berangkat ke rumah Bu Sandra sekarang saja.”

58. Semua : ”Baiklah.” (sambil mulai berjalan lewat trotoar).

MEREKA BERSIAP UNTUK MENINGGALKAN TROTOAR ITU. TAPI KETIKA MEREKA HENDAK MELANGKAHKAN KAKI-NYA, TIBA-TIBA MATA NINDA MELIHAT SALAH SATU PE-NGEMIS PEREMPUAN YANG TENGAH MEPE-NGEMIS SAMBIL MENGGENDONG BAYI. NINDA BENAR-BENAR MENJADI IBA.

59. Ninda : ”Kasihan sekali ya mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja mereka tidak mam-pu.”

60. Dina : ”Kenapa harus merasa kasihan, itukan salah me-reka. Mereka sendiri yang memilih jalan hidup seperti itu padahal masih banyak pilihan lain yang lebih baik dari pekerjaan itu.”

61. Fia : ”Iya benar juga loh kata Dina.”

62. Della : ”Sudah-sudah. Daripada kita mempeributkan itu lebih baik kita menolong orang yang mem-bawa bayi disana.” (sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang menggendong anaknya).

(19)

MEREKAPUN SEGERA MENDEKATI PENGEMIS ITU SAMBIL MEMBERIKAN SEDEKAH. NAMUN DINA TETAP SAJA BER-ADA DI TEMPAT ITU. DIA TIDAK MAU MENDEKATI PE-NGEMIS ITU.

65. Dina : ”Nin bisa membantuku tidak memberikan uang ini ke pengemis itu, aku tidak mau mendekati-nya karena pasti sangat bau dia.” (Sambil berbisik kepada Ninda).

66. Della : ”Jangan asal bicara Din nanti bisa menyinggung perasaannya. Sini biar aku saja yang memberi-kannya.” (Memberikan uang lagi kepada orang itu).

67. Della : ”Anaknya lucu sekali, Bu.”

PENGEMIS PEREMPUAN ITU DIAM SAJA. HANYA ANG-GUKAN KEPALANYA SAJA YANG BEREAKSI, SEMENTARA MATANYA TIDAK BERANI MENATAPNYA.

68. Dina : ”Della apa-apaan sih. Anak kumal seperti itu dibilang lucu. Ayo mending kita pergi sekarang saja”

69. Rizky : ”Sudah diam saja kamu.”

70. Della : ”Boleh saya menggendongnya?” 71. Pengemis :(Menganggukkan kepala).

72. Alif : ”Cantik sekali anak ini. Andai saja dia dapat hidup yang mapan, pasti saat besar nanti akan banyak pria yang memperebutkannya.”

(20)

DINA YANG BERADA JAUH DI SUDUT JALAN ITU, YANG SEJAK TADI MELIHAT WAJAH PENGEMIS ITU MENUN-DUK, PERSIS KETIKA PENGEMIS ITU MENDONGAKKAN WAJAHNYA SAAT ITU JUGA IA TERKEJUT SETENGAH MATI. WAJAH PENGEMIS ITU TAK ASING BAGINYA. TANPA SADAR MULUTNYA PUN MENYEBUT SEBUAH NAMA. 73. Dina : ”Tika...”

74. Semua : (Menoleh ke arah Dina).

75. Dina : ”Lihatlah wajah pengemis itu seperti adalah teman kita.... Dia seperti Tika....”

FIA PUN SEGERA MENDEKATI PENGEMIS PEREMPUAN ITU. IA SEGERA JONGKOK PERSIS DI DEPAN PENGEMIS ITU. 76. Fia : ”Apakah benar kamu Tika.”

77. Tika : (Tika diam. Ia hanya menundukkan kepala dan tidak berani bicara).

78. Della : ”Apa yang terjadi Tik hingga kamu memilih jalan yang salah seperti ini?”

79. Tika : ”Maaf... Maafkan aku semua. Dari dulu aku hanya membuat malu dan tidak pernah mem-banggakan kalian.”

TIKA MULAI BERANI BERBICARA. MATANYA BASAH KARENA TANGISNYA. SEMENTARA FIA JUGA MULAI MENANGIS.

(21)

murid-murid yang ia didik mampu mewujud-kan mimpinya Tik. Dan apa yang kamu tunjuk-kan ini sangat menyakittunjuk-kan bagi Bu Sandra Tik. Apakah kamu sadar?”

TANGIS TIKA MAKIN MENJADI. SEMENTARA TEMAN-TEMANNYA TAK KALAH SEDIHNYA.

81. Ninda : ”Jika kamu mau kita bisa membantumu menjadi lebih baik Tik. Kami pasti akan selalu bersedia. Dan kita juga akan membantu untuk merawat anakmu ini....”

82. Dina : ”Jangan memberi tawaran yang enak begitu Nin kepada orang yang tidak berusaha. Kita sendiri kan juga berusaha untuk menjadi seperti ini. Sedangkan dia tidak ada usaha sama sekali. Masa dengan tiba-tiba dia mau hidup enak. Tidak adil dong.”

83. Tika : ”Sudah cukup. Kalian bisa berbicara seperti itu! Kalian bisa menghina Aku seperti itu karena kalian, tidak pernah merasakan menjadi orang yang susah. Hidup miskin, untuk makan pun Ibu ku harus meminjam kemana-mana. Jika tidak mampu membayar hutang maka tempat tinggal dan nyawa juga yang menjadi taruhan-nya....”

(22)

MENJERIT SAMBIL MENCOBA MEMEGANGINYA NAMUN TERLAMBAT. SAKING KENCANGNYA LARI TIKA, IAPUN TIBA-TIBA TERTABRAK MOBIL DI JALAN RAYA ITU. TIKA MENINGGAL.

84. Fia : “Tika...”

SEMUA TEMAN TIKA NAMPAK SEDIH DAN MENANGIS SAMBIL PERLAHAN-LAHAN MELETAKKAN TUBUH TIKA DI TROTOAR ITU.

85. Rizky : “Air mata buaya. Sudah jangan pura-pura me-nangis Din ini semua juga karena ulahmu yang menghinanya. Seharusnya kita harus membantu teman yang membutuhkan bantuan kita bukan malah menambahnya menjadi putus asa dan seperti ini.”

86. Della : “Sudah jangan bertengkar lagi. Ini semua sudah terjadi.”

87. Dina : “Maafkan aku teman-teman aku merasa sangat menyesal. Aku berjanji tidak kan mengulangi-nya lagi. Tidak semestimengulangi-nya aku tadi mengucap-kan kata-kata itu....”

88. Rizky : “Sudahlah... semua sudah terjadi... sekarang kita harus segera mengurus jenasah Tika.” 89. Della : “Aku usul.... untuk mengenang persahabatan

(23)

Adinda Dewi Anggita. Adinda lahir di Yogyakarta, 4 Agustus 2000 dan saat ini bertempat tinggal di Prawirodirjan, GM II/771 Yogyakarta. Alamat sekolah di SMA N 7 Yogyakarta Jalan MT. Haryono No. 47 Yogyakarta. Adinda memiliki hobi membaca novel dan menonton film. Jika ingin berkores-pondensi dengan Adinda Dewi Anggita dapat menghubungi HP: 087738650901 atau melalui Pos-el: [email protected]

SEMUA SETUJU DENGAN USUL DELLA. LALU, MEREKA BERPELUKAN.

(24)

PEMAIN :

1. Joko : Pemuda yang penuh semangat dan ambisi, serta sangat dekat dengan Parlan.

2. Parlan : Pemuda yang pemalas, dan ringkih.

3. Margaret : Seorang perempuan yang angkuh dan som-bong, sok kelas atas serta materialistis.

ADEGAN 1

KAMAR KOS JOKO, PAGI HARI

JOKO BANGKIT DARI TEMPAT TIDURNYA DENGAN PE-NUH SEMANGAT LANTARAN DIBANGUNKAN OLEH TERIAKAN ALARM. KAMAR JOKO ADALAH KAMAR KOS KECIL SEDERHANA YANG DIPAKAI OLEH 2 ORANG. ADA KASUR DI LANTAI, KIPAS ANGIN KECIL, DAN JAM DE-RING. SAAT ITU DI SAMPINGNYA, ADA PARLAN YANG TIDURNYA TIDAK TERGANGGU OLEH SUARA ALARM. 1. Joko : (Menguap) “Wah, pagi ini hawanya, sweger!”

(lihat kalender). “Huwala! Pantesan hawanya seger. Lha wong hari ini, libur! Ngoahaha, bisa lari-lari pagi nih. Ahahay, bisa nyawang

cewek-Teman SD

Aditya Dwi Cahyo Putra

(25)

cewek cantik nih. Wahaha.... asik.... asik. Oh, kudu ngajak Parlan iki.” (berjalan ke samping parlan, lalu agak menunduk). “Woi, Parlan! Bangun Bro! Ada kebakaran! Kebakaran!”

2. Parlan : (Kaget, Bangun). “Hah? Mana? Kebakaran apa?” 3. Joko : “Ini lho. Ini, mataku kebakaran kalau lihat

ka-mu.”

4. Parlan : (Tersipu malu). “Ah, kamu ini, Jo. Bisa aja. Jadi malu aku.”

5. Joko : “Welah, kok malah malu-malu? Mbok kira aku

ngegombalikowe? Jijik!” (cairan mulut muncrat). 6. Parlan : “Eh, enggak usahpake muncrat juga, dong! Jijik,

tahu enggak?” (muncrat lagi).

7. Joko : “Eh, kok ngelawan? Rasain nih! Cuh!”

8. Parlan : “Cuh!” (Joko dan Parlan saling melempar cairan mulut sampai habis).

9. Joko : “Eh, Lan. Kok entek yo?” 10. Parlan : “Ho’o Jo. Aku barang. Asat iki.”

11. Joko : “Mending gini aja, Lan. Pagi ini kan sweger nih. Gimana kalau kita lari pagi bareng?”

12. Parlan : ”Ah enggak mau, ah. Males. Mager iki lho.” 13. Joko : ”Heh, ayo to. Kita kan juga bisa lihat-lihat

ce-wek cantik.”

14. Parlan : ”Wah, yo bener wi. Penak wi. Tapi enggak ah, mager.”

15. Joko : “Ah, ayo to… Gini aja Lan. Tak kasih dua pilih-an.”

16. Parlan : “Apa tuh Jo?”

17. Joko : ”Yang pertama, kamu ikut aku lari pagi terus lihat-lihat cewek cantik. Yang kedua, kamu aku tinggal di sini, terus kamu lihat-lihat muka ibu kos. Hayo, pilih yang mana?”

(26)

19. Joko : ”Nah gitu dong! Ya udah yuk, langsung pancal!” 20. Parlan : ”Eh, eh, eh, Jo! Kita enggak mandi dulu?” 21. Joko : ”Kan tadi kita udah mandi. Airnya aja sampe

asat. Yuk cus.”

ADEGAN 2

TAMAN KOTA, PAGI HARI

JOKO DAN PARLAN PERGI KE TAMAN UNTUK LARI PAGI. DI SANA ADA KURSI TAMAN, SENYUMAN MATAHARI, LANGIT YANG CERAH, TANAMAN, DAN TENTUNYA ORANG-ORANG SEDANG LARI PAGI.

22. Joko : ”Gimana Bro? Sweger kan Bro di sini? Enak mana sama di kos?”

23. Parlan : ”Enak di kos kalau enggak ada Ibu kos.” 24. Joko : ”Ah, kok loyo gitu sih, Lan. Ayolah mumpung

udah di luar gini. Mana semangatmu?” 25. Parlan : ”Semangatku sudah hilang sejak SD dulu.” 26. Joko : ”Owalah, yang waktu itu ya.”

27. Parlan : ”Memangnya kamu tahu?” 28. Joko : ”Tahulah. Kita kan temen SD.” 29. Parlan : ”Temen SD? Kita kan beda SD.”

30. Joko : “Iya, temen SD. Temen Salawase Dulur.”

31. Parlan : “Halah, gawe-gawe. Paling kamu enggak tahu.” 32. Joko : “Ya iyalah. Dah ah, ayo lari.” (Joko dan Parlan

lari kecil bersama).

33. Margaret :(Masuk panggung sambil lari kecil).

34. Joko : “Eh, Bro. Ada cewek cantik tuh. Kenalan yuk.” (Joko dan Parlan berlari mendekati margaret). “Cewek, sendirian aja nih? Kenalin dong, nama-ku Joko.” (mengulurkan tangan untuk berjabat tangan).

(27)

36. Joko : (Kegirangan sendiri sambil mencium-cium tangan-nya).

37. Parlan : “Hai, aku Parlan.” (mengulurkan tangan). 38. Margaret : “Hai juga, namaku Margaret.” (mengulurkan

ta-ngan untuk berjabat tangan dengan parlan, tapi Joko mengambil tangan Parlan).

39. Parlan : “Apaan sih kamu, Jo? Mau ngajak ribut?” ( me-nyenggol Joko).

40. Joko : “Apa sih? Diam aja kamu!” (menoleh ke Margaret). “Eh, Margaret, kamu lagi lari pagi ya?” 41. Margaret : “Kamu kira aku lagi ngapain? Nunggu

jemput-an? Udah jelas ‘kan kalau aku lagi lari pagi.” 42. Joko : (menoleh ke Parlan). “Wah, Lan. Kok orangnya

atos begini ya? Di luar perkiraan iki.” 43. Parlan : “Haha, mampus!”

44. Joko : “Ah, kamu ini, Lan. Dukung temen sedikit aja kok enggak mau sih? Kita ‘kan temen SD.” 45. Parlan : “Ah, temen SD apanya? Mana ada temen

salawase dulur’ yang mengganggu temannya yang lagi mendekati cewek? Palsu!”

46. Joko : (mulai bingung dan khawatir, bolak-balik berpaling

pada Parlan dan Margaret, lalu akhirnya me-noleh pada parlan). “Ah! Terserah kamu, Lan!” (menoleh ke Margaret). “Eh, Margaret, kamu lagi sendirian ‘kan? Aku temenin lari paginya ya?” 47. Margaret : “Ngapain pakai nemenin aku lari pagi segala? Mending kamu cari uang buat bayar sewa kos aja sana.”

48. Joko : (mundur sambil mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepala).

49. Parlan : “Margaret, gimana kalau aku aja yang nemenin kamu lari?”

(28)

BERGERAK KELUAR PANGGUNG, DI TENGAH JALAN JOKO DAN PARLAN MEMOTONG.

51. Joko dan Parlan: “Margaret, tunggu!”

52. Margaret : (berhenti dan menoleh ke belakang dengan marah). “Ada apa lagi sih?”

53. Joko : “Jadi begini, Margaret. Aku ini tipe cowok yang enggak bisa ninggalin cewek sendirian.” 54. Margaret : “Persetan dengan hal itu.”

55. Joko : (Mundur sambil mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepala).

56. Parlan : “Mending begini aja, Margaret. Aku bakal me-lakukan apa saja yang kamu minta. Tanpa sya-rat.”

57. Margaret : “Apa saja? Tanpa syarat? Beneran nih?” 58. Joko : (Mendekati parlan dan membisikinya). “Wah, Lan,

bau-baunya ini cewek matre deh.”

59. Parlan : “Apaan sih Jo? Udah sana pergi aja kamu. Be-neran dong, tapi cukup satu permintaan.” 60. Margaret : “Lha, kok cuma satu? Paling enggak lima lah.” 61. Parlan : “Matamu. Satu permintaan. Itu udah harga mati.” 62. Margaret : “Ah, tiga aja deh. Kalau cuma satu itu enggak

bisa buat apapun.”

63. Parlan : “Ahhhh, yaudah dua permintaan. Enggak boleh lebih. Terima atau ambil?”

64. Margaret : “Ambil dongg. Lumayan lah daripada cuma satu. Tapi ya tetep sedikit sih dua tuh.” 65. Joko : (Mendekati Parlan dan membisikinya). “Tuh, kan

Bro. Cewek mate.”

66. Parlan : “Diem aja kamu, Jo! Jadi, apa permintaan per-tamamu?”

67. Margaret : “Aku mau dibeliin soto.”

(29)

70. Parlan : “Eh, enak aja. ‘Kan aku yang ngusulin soal per-mintaan itu. Jadi biar aku aja yang beliin, terus biar aku aja yang jalan bareng Margaret.” 71. Joko : “Itu sih enak di kamu aja. Kamu jangan lupa

sama jasaku ya. Kamu bisa dapat kesempatan seperti ini, itu karena jasaku.”

72. Parlan : “Jasa apa Jo? Kamu itu memangnya habis nga-pain? Lha, aku dapat kesempatan ini karena ideku sendiri kok.”

73. Joko : “Kalau kamu enggak aku ajak buat lari pagi, mana mungkin kamu bisa seperti ini. Jadi sudah sepantasnya dong kalau aku dapet senengnya juga.”

74. Parlan : “Yang begituan enggak perlu diitung. Pokoknya ini hasilku, jadi yang menikmati ya aku. Atau mungkin kamu mau ribut?”

75. Margaret : “Eh, udah, udah! Malah pada ribut sendiri sih? Kalau kalian berantem, terus siapa yang beli soto? Mendingan kalian lomba lari buat nentuin

siapa yang bisa beli soto duluan.”

76. Joko : “Wah, ide bagus tuh. Ayo, Lan, kita tentuin siapa di antara kita yang lebih pantas untuk beli soto!” (bersiap untuk lari).

77. Parlan : “Haha, ayo aja!” (bersiap untuk lari). 78. Joko dan Parlan: (berlari keluar panggung).

79. Margaret : (melihat aksi Joko dan Parlan, lalu tertawa). “Haha, lihat mereka, bodoh sekali. Mau aja disuruh-suruh. Lanjut lari pagi aja ah.” (berlari kecil keluar panggung).

80. Joko dan Parlan: (Berlari masuk panggung lewat sisi yang berbeda dengan saat keluar, lalu di tengah jalan parlan terjatuh pingsan, Joko berhenti karena lelah). 81. Joko : “Wah, capek juga ya, Lan. Kupikir warung

(30)

diem aja Lan?” (menengok ke belakang). “Astaga, Parlan. Kamu kenapa, Lan? Lan, bangun Lan! Oi, jangan tinggalin aku sendiri, Lan!” (mulai menangis). “Lan, Parlan! Jawab aku Lan! Jangan pergi, Lan! Aku enggak kuat hidup di kos tanpa kamu, Lan! Tidaaak!!!!!” (menangis keras). 82. Parlan : (Parlan terbangun dan menampar pipi Joko).

“Be-risik woi. Kamu kira aku udah mati? Aku cuma kecapekan.”

83. Joko : “Owalah, bilang dong dari tadi. Tiwas aku udah nangis. Sini, aku bantu kamu ke warung soto.” (Joko membantu parlan berdiri, lalu berjalan beriringan). 84. Parlan : “Lah, kita enggak jadi lomba lari?”

85. Joko : “Ah, enggak penting itu. Temen SD-ku terge-letak di tanah, masa aku malah lari? Kamu ada-lah prioritasku yang paling atas, Lan.” ( meng-hadap ke parlan dan memegangnya di pundaknya). 86. Parlan : “Joko.” (berpelukan). “Aku minta maaf, Jo. Aku

sayang banget sama kamu, Jo.”

87. Joko : “Aku yang harusnya minta maaf, Lan. Padahal aku tahu kamu itu enggak suka olah raga, tapi malah aku paksa buat lari-lari. Aku juga sayang banget sama kamu, Lan.”

88. Parlan : “Itu bukan salahmu, Jo. Emang aku yang bodoh malah mau-maunya disuruh sama itu cewek buat lomba lari lawan kamu.”

89. Joko : “Jangan salahkan dirimu sendiri, Lan. Aku juga yang bodoh. Bisa-bisanya aku bermusuhan de-nganmu, cuma gara-gara cewek itu.”

(31)

91. Joko : “Iya, Lan. Ayo, aku yang traktir ini.” (mulai ber-jalan keluar panggung).

92. Parlan : “Wah, tumben mbayarin. Biasanya minta di-bayarin.” (berjalan keluar panggung).

93. Joko : “Iyalahh, namanya juga tanggal muda.” (di luar panggung).

94. Margaret : (berjalan tergesa-gesa memasuki panggung). “Aduh, kemana sih itu dua orang aneh? Disuruh beli soto kok lamanya minta ampun? Aku ‘kan belum nyebutin permintaan keduaku.”

95. Joko dan Parlan: (berjalan beriringan memasuki panggung sambil

mengobrol, membicarakan tentang margaret yang materialistis).

96. Margaret : “Lha, itu mereka.” (berjalan mendekati Joko dan Parlan). “Heh, kalian itu kemana aja sih kok lama banget? Sekarang mana sotonya?” 97. Joko dan Parlan: (Joko dan Parlan bertatapan, lalu tertawa). 98. Parlan : “Wahaha, panjang umur Jo. Ini cewek yang tadi

itu Jo. Udah Jo, kita tinggal aja si matre satu ini, takutnya nular.”

99. Joko : “Wahaha, bener banget, Lan. Dah ayo kita pulang aja.” (Joko dan Parlan berjalan beriringan keluar panggung).

100. Margaret : “Lah, kok aku ditinggal sih? Hei, tunggu! Kalian ‘kan janjiin aku dua permintaan. Tunggu!” ( ber-lari keluar panggung).

Tamat

(32)

PEMAIN :

1. Bondan : Lelaki muda (23), putra Pak Dewo, Bijaksana, dermawan, sabar, berbakti, pekerja keras 2. Pak Dewo : Ayah Bondan, Bijaksana, penasihat, penyayang 3. Bu Fatimah: Ibu Bondan, penyayang, baik hati, tidak

sabar-an

4. Ayu : Adik Bondan, pintar, tekun, giat belajar, ulet, rajin

5. Purnomo : Sahabat sekaligus partner kerja Bondan, pekerja keras, partner kerja yang baik,emosional 6. Jarwo : Karyawan Bondan & Purnomo, sayang keluarga,

penghianat 7. Pelanggan Bondan

ADEGAN 1

DI SEBUAH PASAR TRADISIONAL. PAGI HARI. BONDAN NAMPAK SEDANG ASYIK DENGAN DAGANGANNYA. NAM-PAK BEBERAPA KALI BONDAN MELAYANI PEMBELI. 1. Bondan : “Assalamu’alaikum, permisi, Bu. Mau ambil tahu

berapa?”

2. Pelanggan : “Tolong, ambilkan tiga plastik saja, Le.”

Pakan Burung

Aprita Nur Rachma

(33)

3. Bondan : “Nggih, Bu. Saya taruh di meja sini.” 4. Pelanggan : “Ya, Le. Ini uangnya, delapan belas ributo?” 5. Bondan : “Iya, Bu. Maturnuwun.”

SEJENAK KETIKA PELANGGAN MULAI SEPI, BONDAN PUN BERTERIAK MENAWARKAN DAGANGANNYA. 6. Bondan : “Tahu..tahu... Di beli, Pak, Buk tahunya. Masih

segar dan gurih.”

KESIBUKAN PASAR TRADISIONAL ITUPUN PERLAHAN MULAI SEPI BERSAMAAN DENGAN LAMPU PANGGUNG YANG PERLAHAN-LAHAN MULAI GELAP.

ADEGAN 2

KETIKA LAMPU PANGGUNG MULAI MENYALA, DI PANG-GUNG NAMPAK SEPERTI SEBUAH RUANG KELUARGA. RUMAH ITU NAMPAK SEDERHANA NAMUN TERTATA RAPI. BONDAN KELIHATAN SEDANG BERBINCANG DENGAN PAK DEWO

7. Bondan : “Pak, inisaya ada sedikit rencana.”

8. Pak Dewo : “Bagaimana, Le? Punya rencana apa lagi dirimu ini?”

9. Bondan : “Begini, Pak. Bondan pengen membuka usaha.” 10. Pak Dewo : ”Usaha? Usaha apa to, Le?”

11. Bondan : “Nggih usaha kecil-kecilan, Pak.”

12. Pak Dewo : ”Usaha kecil-kecilan seperti apa to, Le? Kalau bicara itu mbok ya yang jelas.”

(34)

14. Pak Dewo : “Nah, kalau begitu kan jelas, tidak bertele-tele. Terusmau buka di mana rencananya?”

15. Bondan : “Kalau bisa ya di depan, Pak. Diteras rumah kita, nanti tinggal meninggikan temboknya sedikit sama rolling door. Bagaimana menurut Bapak?”

16. Pak Dewo : “Bapak ini bisanya hanya mendukung, Le. Yang menjalani ya kamu, kan tugas Bapak itu sudah Bapak serahkan ke kamu to? Kalau dirimu itu semangat usaha seperti ini ya Bapak pasti men-dukung 100%. Perkara kamu mau pakai teras depan ya monggo. Tapi, Pengalamanmu itu sudah seberapa to kok kelihatannya sudah mantap?” 17. Bondan : “Alhamdulillah, kalau Bapak mendukung

Bon-dan. Kalau pengalaman belum bisa disebut cukup, tapi Bondan sudah ada gambaran bagai-mana nanti wujudnya. Bondan juga sudah sur-vei, sudah tanya-tanya sama teman-teman yang punya pengalaman banyak, Pak.”

18. Pak Dewo : “Kalau tekadmu sudah bulat seperti itu, peng-alamanmu juga sudah cukup, ya tinggal mem-persiapkan modalnya saja, to?”

19. Bondan : “Kalau masalah modal insya Allah sudah Bondan siapkan, lalu kalau Bondan mau mengajak Purnomo kerjasama bagaimana, Pak? Purnomo kan belum ada pekerjaan tetap, selain itu dulu dia juga pernah ikut orang yang punya usaha semacam ini.”

20. Pak Dewo : “Loh, lebih bagus itu, Le. Namanya setia kawan.

Apik apik, lanjutkan! Sudah aku mau ke kamar dulu.”

(35)

USULANNYA. DAN PERLAHAN PANGGUNG MENJADI GELAP.

ADEGAN 3

PANGGUNG PERLAHAN MULAI TERANG. DI SALAH SATU SISI PANGGUNG NAMPAK SEBUAH RUMAH DENGAN PINTU TERTUTUP. INI ADALAH RUMAH PURNOMO, SAHABAT BONDAN.

21. Bondan : “Assalamu’alaikum.”(Bondan mengetuk pintu itu beberapa kali)

22. Ibu Purno : “Wa’alaikumsalam (dari dalam suara itu terdengar sambil perlahan pintu mulai terbuka) Oo, Nak Bondan to rupanya. Bagaimana, Le? Mau ke-temu Purno?”

23. Bondan : “Iya Bude, Bondan pengen bertemu dengan Purno, ada sedikit urusan. Purnonya ada, Bude?” 24. Ibu Purno : “Ada... ada, sini ditunggu sambil duduk.

Se-bentar, Bude panggilkan anaknya dulu.” 25. Bondan : “Ya, Bude. Matur nuwun.”

SEMBARI MENUNGGU PURNOMO KELUAR, BONDAN DUDUK DI TERAS RUMAH PURNOMO YANG DI GENTING-NYA DIGANTUNGKAN BEBERAPA SANGKAR BURUNG YANG BERISI BERMACAM-MACAM JENIS BURUNG. 26. Bondan : “Tidak salah lagi, aku memilih orang yang tepat

untuk ku ajak bekerjasama...”

TIDAK LAMA KEMUDIAN LAKI-LAKI YANG BERNAMA PURNOMO ITUPUN KELUAR DARI DALAM RUMAHNYA. 27. Purnomo : “Woi... bagaimana kabarmu, Bro? Kok

(36)

28. Bondan : “Alhamdulillah baik, Pur. Bagaimana dengan kamu sendiri? Sudah ada yang cocokkah? Haha-haha.”

29. Purnomo : “Pilihan sih banyak, tapi ya itu masalahnya, yang cocok memang susah dicari.”

30. Bondan : “Hahaha, ah bisa aja kamu, Pur. Gini, aku pe-ngen mengajak kamu berbisnis. Baru bisnis kecil-kecilan sih, tapi kalau diusahakan insya Allah bisa meningkat kok. Bagaimana?” 31. Purnomo : “Bisinis kecil-kecilan? Memang bisnis apa sih?” 32. Bondan : “Ya, bisnis kecil-kecilan. Kalo berdasarkan peng-amatanku, kan sekarang ini banyak orang yang suka memelihara burung, bahkan tidak sedikit juga yang mengoleksi macam-macam burung sampai memenuhi teras rumahnya.”

33. Purnomo : “Tidak perlu basa-basilah, bilang saja Purnomo, begitu kan lebih jelas.”

34. Bondan : “Motong aja sih kamu. Lanjut ya, nah, dari situ aku berpikir kalau tidak ada salahnya aku meng-ajak kamu bekerjasama untuk membuka usaha pakan burung kecil-kecilan.”

35. Purnomo : “Oooo.... bisnis pakan burung. Masuk akal sih, dari dulu memang banyak penggemar burung yang tidak pernah habis dimakan waktu. Maksudku, walaupun zaman sudah modern, tetapi para penggemar burung masih tetap ada bahkan semakin banyak.”

36. Bondan : “Nah, itu paham. Jadi bagaimana? Ok dong?” 37. Purnomo : “Emmm, bagaimana ya. Kebetulan juga sih aku

baru tidak ada kerjaan. Okelah, boleh. Aku ber-sedia kerjasama sama kamu, Ndan.”

(37)

40. Bondan : “Alhamdulillah. Semoga bisnis kita kali ini sukses ya, Pur?”. Bondan sangat bersyukur atas ke-sediaan Purnomo untuk bekerjasama dengan-nya.

41. Purnomo : “Amiiiin...”

BONDAN DAN PURNOMO SEPERTINYA NAMPAK GEM-BIRA SEKALI. MEREKA MEMBAYANGKAN USAHANYA BAKAL BERJALAN SUKSES. SEJENAK PANGGUNG KE-MUDIAN MENJADI GELAP.

ADEGAN 4

LAMPU PANGGUNG PERLAHAN MENYALA. NAMPAK SEBUAH WARUNG USAHA MAKANAN BURUNG MILIK BONDAN DAN PURNOMO. NAMPAK BPNDAN DAN PURNOMO SEDANG DUDUK DI SEBUAH KURSI PANJANG DI DEKAT WARUNG ITU. NCERITA ADEGAN INI BERKISAR SEKITAR TIGA TAHUN ATAU LEBIH DARI BONDAN DAN PURNOMO MENYEPAKATI KERJASAMA USAHANYA. 42. Purnomo : “Bagaimana, Ndan? Menurut kamu apa yang

menyebabkan penurunan omset toko kita yang cukup drastis ini?”

43. Bondan : “Entah, Pur. Aku sendiri masih bertanya-tanya, padahal pemasukan dan pengeluaran toko se-lama tiga tahun ini, setiap hari selalu ku catat dan ku lihat-lihat tidak ada yang minus walau-pun memang naik turun. Tetapi, tidak pernah sampai separah ini.”

44. Purnomo : “Kalau begitu, berarti ada faktor lain yang cu-kup berpengaruh dalam masalah ini.”

45. Bondan : “Pasti, tapi apa?”

(38)

un-tuk mencari tahu apa penyebab pasti dari semua ini?”

47. Bondan : “Emmm, bagaimana kalau kita pasang CCTV saja di toko? Jadi setiap saat kita bisa mengawasi aktivitas di toko, walaupun jarak jauh.” 48. Purnomo : “Boleh juga, Ndan. Memang ide-idemu itu

selalu cemerlang.” 49. Bondan : “Bondan....”

50. Bondan & Purnomo: (tertawa bersama)

SEJENAK PANGGUNG MENJADI GELAP. DAN KETIKA PANGGUNG MENJADI TERANG KEMBALI, SUASANA PANGGUNG MASIH BERADA DI WARUNG USAHA PAKAN BURUNG MILIK BONDAN DAN PURNOMO. PURNOMO NAMPAK SEDANG ADA DI DEPAN WARUNG ITU. BEBE-RAPA SAAT KEMUDIAN PURNOMO MEMANGGIL JARWO SALAH SATU KARYAWANNYA.

51. Purnomo : “Wo, ke sini sebentar. Ada yang mau ku bicara-kan.”

52. Jarwo : “I....iya, Mas Purno. Ada apa?”

53. Purnomo : “Begini ,Wo. Mulai hari ini terpaksa kamu harus berhenti bekerja di sini.”

54. Jarwo : “Loh, memangnya ada apa to, Mas? Kok saya diberhentikan tiba-tiba begini?”

55. Purnomo : “Tanyakan saja kepada dirimu sendiri mengapa kamu diberhentikan kerja.”

56. Jarwo : “Loh, bagaimana bisa begitu, Mas. Saya ini kan sudah cukup lama bekerja di sini, kok men-dadak diberhentikan itu apa alasannya.” 57. Purnomo : “Maaf, Wo.... Kamu harus berhenti. Lebih baik

(39)

58. Jarwo : “Loh...loh..., Mas. Mas Purno.”

59. Purnomo : “Sudahlah, Wo. Saya sudah tahu semua.” 60. Jarwo : “Tahu apa to, Mas? Tahu kotak atau tahu bulat?” 61. Purnomo : “Saya ini serius, Wo. Saya sudah tahu semua kelakuanmu selama ini. Lihat di pojok sana sudah saya pasangi CCTV. Jadi kamu tidak bisa mengelak lagi, karena saya sudah melihat gerak-gerikmu setiap harinya.”

62. Jarwo : “Baiklah, kalau memang itu keputusan Mas Purno saya bisa apa. Permisi, Mas.”

TIBA-TIBA BONDAN KELUAR DARI DALAM WARUNG ITU. DIA SAEGERA MENDEKATI JARWO

63. Bondan : “Sebentar, Wo. Ini ada pesangon buatmu, jum-lahnya memang tak seberapa, tetapi semoga cukup untuk membiayai makan keluargamu sampai dapat pekerjaan baru.”

64. Jarwo : “Jadi Mas Bondan sudah tahu semuanya. Maaf, Mas. Saya terpaksa melakukan itu karena gaji saya perbulan selalu dihabiskan istri saya untuk berfoya-foya padahal kebutuhan pokok saja belum terpenuhi. Jadi, saya terpaksa mengambil uang di toko. Sekali lagi saya minta maaf ya, Mas. Saya sangat menyesal dan memang pantas jika saya harus diberhentikan.”

(40)

jika belum mendapatkan maaf dari Mas Bondan dan Mas Purno. Saya akan sangat menyesal dan kecewa kepada diri saya sendiri.”

67. Bondan : “Saya pasti memaafkanmu, karena tidak ada manusia yang tak luput dari kesalahan. Tapi saya harap semoga kejadian-kejadian semacam itu tidak kamu ulangi lagi karena selain merugi-kan orang lain, itu juga amerugi-kan merugimerugi-kan diri kamu sendiri.”

68. Jarwo : “Insya Allah, Mas. Saya berjanji tidak akan meng-ulanginya lagi. Permisi, Mas. Assalamu’alaikum.” 69. Bondan : “Wa’alaikumsalam.

BONDAN DAN PURNOMO HANYA BISA MEMANDANGI KEPERGIAN JARWO. PERSIS KETIKA JARWO MENINGGAL-KAN PANGGUNG ITU, DARI SISI PANGGUNG YANG LAIN MUNCUL SEORANG PEREMPUAN BERNAMA AYU. DIA ADALAH ADIK BONDAN. AYU SEORANG PELAJAR SMA. 70. Bondan : “Assalamu’alaiku...

71. Ayu : “Wa’alaikumsalam.... Mas Bondan tadi jadi ke sekolah ngambil hasil ujianku kan? Bagaimana, Mas hasil ujianku?”

72. Bondan : “Alhamdulillah, Dik. Nilaimu sangat memuas-kan, kamu menjadi juara sekolah dan mendapat tawaran beasiswa dari universitas terfavorit se-provinsi.”

73. Ayu : “Yang benar, Mas? Alhamdulillah, Ayu senang sekali, Mas.”

74. Bondan : “Mas bangga sama kamu, Dik.”

(41)

SEGERA MENDEKATI KEDUA ANAKNYA YANG TENGAH KEGIRANGAN.

75. Ibu Bondan: “Ada apa to ini, kok kelihatannya pada senang sekali.”

76. Bondan : “Ini, Buk, lihat hasil ujian Ayu.”

77. Ibu Bondan: “Subhanallah, ini tinggi sekali, Nduk. Hebat, Ibuk bangga sama kamu.”

78. Pak Dewo : “Hasil ujian Ayu sudah datang? Coba Bapak lihat.”

79. Ibu Bondan: “Ini, Pak. Cepat dilihat.”

80. Pak Dewo : “Ya pelan-pelan to, Buk. Ibuk ini memang tidak sabaran. Masyaallah Gusti, nilaimu nyaris sem-purna, Nduk. Tidak sia-sia tiap hari kamu pu-lang sekolah sore dan belajar sampai larut ma-lam kalau hasilmu sangat memuaskan begini.” 81. Bondan : “Ayu juga dapat tawaran beasiswa dari

uni-versitas terfavorit lho, Pak, Buk.” 82. Ibu Bondan: “Yang benar, Le?”

83. Bondan : “Benar, Buk. Mana mungkin Bondan mengada-ada.”

84. Ibu Bondan &: “Alhamdulillah...” (memeluk Ayu) 85. Pak Dewo : “Selamat ya, Nduk.”

86. Ayu : “Alhamdulillah, terima kasih, Pak, Buk.” 87. Pak Dewo : Anak-anakku.... Ini menjadi bukti.... segala

(42)

akhir-Aprita Nur Rachma. akhir-Aprita lahir di Bantul, 1 april 2000 dan saat ini beralamat di Jalan Ambarbinangun N0. 25, Sabongan RT 07, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Aprita sekolah di SMA N 7 Yogyakarta yang berlokasi di Jl. MT Haryono No. 47 Yogyakarta. Aprita mempunyai hobi membaca, menulis, dan berolahraga. Jika ingin berkorespondensi dengan Aprita Salma dapat menghubungi HP: 08983028692 atau di Pos-el: [email protected]

nya menikmati hasilnya... Baik, sepertinya kebahagiaan ini harus kita rayakan dengan ma-kan bersama.. Ayooo....

(43)

ADEGAN 1

MALAM HARI DI SEBUAH RUANG TAMU KELUARGA SEDERHANA.

KETIKA SITI SEDANG TIDUR, PINTU RUMAH ITU TIBA-TIBA TERBUKA, DAN MASUKLAH IBU SITI BERSAMA SE-ORANG PRIA. MEREKA KEMUDIAN DUDUK DI SOFA. MEREKA BERBICARA BERBISIK-BISIK NAMUN NAMPAK MESRA. SEPERTINYA TAKUT SUARANYA KEDENGARAN ORANG LAIN.

1. Pria : ”Kamu cantik sekali malam ini”. 2. Ibu Siti : ”Ah, Mas biasa saja”.

IBU SITI DAN LAKI-LAKI ITU NAMPAK MAKIN MESRA. BE-BERAPA SAAT TIBA-TIBA PINTU DIBUKA DARI LUAR DENGAN KERAS. SUARANYA SANGAT KERAS HINGGA SITI TERBANGUN DARI KAMARNYA DAN BERLARI ME-NUJU RUANG TAMU ITU. KETIKA PINTU RUMAH ITU TER-BUKA, NAMPAK AYAH SITI MASUK DENGAN SEMPOYONG-AN DSEMPOYONG-AN LSEMPOYONG-ANGSUNG MENGAMUK PADA IBU SITI.

Gadis Tanpa Nama

Kidung Panglipur Jati

(44)

3. Ayah Siti : ”Apa-apaan ini?” 4. Ibu Siti : (kaget langsung berdiri) 5. Ayah Siti : ”Bajingan!”

AYAH SITI SEGERA MENDEKATI PRIA ITU, LALU MENON-JOK MUKANYA. PRIA ITU JATUH TERDUDUK DI SOFA. BE-BERAPA SAAT TERJADI PERKELAHIAN SINGKAT, TAPI SE-GERA PULA PRIA ITU BERLARI MENINGGALKAN RUANG-AN ITU.

6. Ibu Siti : (Tiba-tiba menampar ayah siti)

7. Ayah Siti : (Kaget) “Dasar pelacur! Lihat ini anakmu! Lihat!”

(MENGHAMPIRI DAN MENARIK SITI SECARA KASAR KE-MUDIAN MENDORONGNYA HINGGA TERSUNGKUR) 8. Siti : (Menangis lalu masuk ke kamar, beberapa saat keluar

sambil membawa tas)

9. Ayah Siti : ”Mau ke mana kamu? Jawab!” (mereka saling bere-but tas itu)

10. Siti : ”Saya mau pergi”.

11. Ayah Siti : Apa?! Dasar anak tidak tahu malu! Pergi kamu dari rumah ini! Pergi! (melemparkan tas Siti)

SITI SEGERA MENINGGALKAN RUANGAN ITU. SEJENAK NAMPAK IBU SITI DAN AYAH SITI MASIH TERUS URING-URINGAN. HINGGA PANGGUNG PERLAHAN MENJADI GELAP. SUNYI.

ADEGAN 2

(45)

DARI SALAH SATU SUDUT PANGGUNG NAMPAK SITI BER-JALAN SENDIRIAN DENGAN TAS YANG DIBAWA DARI RUMAHNYA. PERSIS KETIKA SAMPAI DI TENGAH PANG-GUNG, SITI BERHENTI SEJENAK. DAN TIBA-TIBA NAM-PAK SEORANG PRIA MENGHAMPIRINYA.

12. Pria : (Mengamat-amati Siti dengan seksama)Dari mana neng? Pasti bukan dari sini ya?”

13. Siti : “Iya Mas, saya dari desa.”

14. Pria : “Oh, gitu. Kalau boleh tahu ada urusan apa ya neng kok jauh-jauh ke kota?

15. Siti : “Iya Mas, saya mau memperbaiki nasib 16. Pria : “Wah, kebetulan neng, saya lagi butuh orang

buat kerja di tempat temen saya, itu sih kalau neng mau.”

17. Siti : “Oh, beneran Mas? Wah iya mas, saya mau, saya mau.”

18. Pria : “Oke, mari ikut saya Neng.”

PRIA ITU MENGGANDENG TANGAN SITI MENUJU PINTU KARAOKE YANG ADA DI POJOK PANGGUNG ITU. SE-BELUM SEMPAT DIBAWA MASUK KE PINTU ITU, DARI DALAM PINTU ITU DIBUKA. SEORANG PEREMPUAN NAMPAK MUNCUL.

19. Pria : “Tante, ada barang baru nih, lumayan, masih

fresh.”(setengah berbisik)

20. Tante : (Melirik)Sini sayang... kenalan dulu sama tante. Namanya siapa?”

21. Siti : “Nama saya Siti Mbak.”

22. Tante : “Duh, panggil Tante aja, jangan mbak dong. Jadi, sudah ada berapa pengalaman kerja?”

(46)

24. Tante : “Oh, gitu. Ya sudah, hari ini mulai kerja ya, nih, buat kamu, pake.”

TANTE MENGAMBIL ROK MINI DAN TANKTOP DARI DALAM TAS YANG DIBAWANYA. SITI MENERIMANYA DENGAN SEDIKIT RAGU....

25. Siti : “Oh ya, maaf, Tante, kalau boleh merepotkan, saya mau minta izin menginap di sini semalam, saya baru dari desa, jadi belum dapat tempat untuk tidur.”

26. Tante : “Oh ya, nggak papa, sampai besok-besok tidur sini juga nggak papa. Tuh, di belakang ada tem-pat sama tiker. Tidur aja di sana.”

27. Siti : “Ya tante, makasih banyak tante.”

28. Tante : “Sana masuk.... cepet ganti baju terus bekerja ya.”

SITI MASUK KE PINTU RUANG KARAOKE ITU. TANTE ME-LIHATNYA SAMBIL TERSENYUM-SENYUM. SEJENAK, TANTE MEROGOH UANG DARI TASNYA DAN MEMBERI-KAN PADA PRIA TADI. PANGGUNGPUN MENJADI GELAP. KETIKA PANGGUNG MENJADI TERANG, SUASANA PANG-GUNG SUDAH BERUBAH MENJADI INTERIOR SEBUAH RUANG KARAOKE. REMANG, ROMANTIS DAN NAMPAK BEBERAPA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI RUANG ITU. SITI NAMPAK ADA DI SUDUT PANGGUNG ITU. IA NAM-PAK CANGGUNG. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN DARI LUAR PANGGUNG KELIHATAN TANTE MENGHAMPIRI SITI.

(47)

tamu-tamu ke ruangannya. Tuh, minta tunjuk jalannya sama Sari sana.”

30. Siti : “Iya tante, terima kasih. (pergi menghampiri Sari) 31. Sari : “Wih, anak baru ya? Boleh juga. Aku Sari.” 32. Siti : “Iya mbak. Siti.”

33. Sari : “Yaudah, ntar ikutin aku aja.”

MASUKLAH SEPASANG MUDA-MUDI KE TEMPAT TERSEBUT 34. Sari : “Sudah pesan, Mas? Mari saya antar(menyenggol Siti, memberi isyarat agar mengikutinya masuk)Gitu Ti, jadi kita harus nungguin di depan pintu sam-pai orangnya selesai. Nanti kalau dia butuh apa-apa kita yang menyediakan.”

35. Siti : “Oh ya mbak, nanti saya coba.”

TIBA-TIBA MASUK LAGI DUA ORANG 36. Sari : “Sana, Ti, bagianmu?”

37. Siti : (menghampiri kedua orang tersebut)Mari, Mas, Mbak, saya antarkan ke ruangannya. Nanti kalau butuh apa-apa panggil saya saja, saya di depan pintu. Mari.”

SUASANA KARAOKE MALAM ITU BENAR-BENAR DI-PENUHI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN LAMPU PANGGUNG PUN MATI.

ADEGAN 3

(48)

SEJENISNYA. PENAMPILAN SITI NAMPAK LUSUH. SEMEN-TARA DARI DALAM TERDENGAR SUARA TANTE MEM-BENTAK DAN MARAH-MARAH KEPADA SITI.

38. Siti : “Ya Tuhaaaaan... kenapa aku bisa terdampar di tempat ini....? Apa mungkin aku bisa betah bekerja di tempat seperti ini? Malam hari aku bekerja melayani tamu-tamu laki-laki.... Deng-an alasDeng-an memberi tips, lDeng-antas para lelaki itu sesukanya meremas-remas tubuh para pekerja wanita di sini...Belum usai tidur dengan nye-nyak... pagi hari sudah dibangunkan untuk mem-bereskan peralatan rumah tangga seperti ini.... Sedangkan gaji...? Ya Tuhaaaaan.... berapakan gaji yang nanti bakal aku terima kalau setiap hari aku harus menyelesaikan pekerjaan berat seperti ini.. Dan sampai hari ini... belum se-rupiahpun aku terima gaji itu... meski beban kerja sangat-sangat berat.... Aku lapaaaar ya Tuhaaaaaan...”

SAMBIL MEMBERSIHKAN PERALATAN RUMAH TANGGA ITU, SITI KELIHATAN KETAKUTAN MENDENGARKAN TERIAKAN TANTE. LALU BEBERAPA SAAT LAMPU PANG-GUNGPUN MATI.

ADEGAN 4

(49)

39. Siti : (Hendak mengantarkan tamu, lalu kaget mendengar suara sirine) Ada apa ini?” (panik, menarik tangan Sari)Mbak Sari, ini ada apa?”

40 Sari : “Lari, Ti!” (menghempaskan tangan siti lalu pergi. selendang merah milik sari terbawa oleh Siti) 41. Siti : “Mbak Sari, tunggu! Mau ke mana?” (memakai

selendang, lalu lari tertatih ke luar)

BEBERAPA ORANG POLISI MASUK DAN BERHASIL ME-NANGKAP SARI DAN TANTE. TERJADI KEGADUHAN. SITI BERHASIL LOLOS.

42. Polisi 1 : “Masuk! Masuk! Lihat ke seluruh ruangan! Jangan sampai lolos! Cepat! Cepat!”

43. Polisi 2 : “Diam!”(menangkap seorang wanita)Sini! Cepat jalan!” (menarik wanita tersebut secara paksa dan mendorongnya hingga terduduk)

44. Polisi 3 : “Sini! Nggak usah nangis! Duduk!” (menyeret tante ke tengah ruangan)Bos, ini biangnya nih.” (tante menangis terisak)

45. Polisi 1 : (Berjongkok dan menghampiri tante)Wah, wah, wah, ini rupanya. Sayang sekali wajah cantik ini harus mendekam di sel tahanan. Hahaha... Bawa mereka ke luar! Cepat! Jangan sampai ada yang lolos!”

POLISI DAN TAHANAN ITU KELUAR. LAMPU MATI.

ADEGAN 6

(50)

DALAM KEBINGUNGAN SITI MENANGIS. IA MENUNDUK DAN TERUS BERJALAN HINGGA TIDAK SADAR BAHWA ADA 5 ORANG LELAKI MENGHADANG JALANNYA. TER-GELETAK BOTOL-BOTOL MINUMAN BERALKOHOL SERTA KULIT KACANG. LELAKI-LELAKI TERSEBUT ME-MENUHI JALAN HINGGA SITI TIDAK BISA LEWAT. 46. Lelaki 1 : “Neng cantik mau ke mana? Kok buru-buru

amat sih, Neng?”

47. Lelaki 2 : “Iya nih, mending sini sama abang dulu.” 48. Lelaki 3 : “Pacarnya mana neng? Kok nggak di ajak?

Hahahaha..”

49. Siti : “Enggak mas, permisi, saya mau lewat. ( ber-usaha menghindar)

50. Lelaki 2 : (Menghadang) “Whoop. Sini dulu aja lah neng, santai aja sama kita-kita.”

51.Lelaki 4 : (Mendekati Siti)Neng, meni geulis, sini, main sama Abang.”

52. Siti : (semakin menjauh) dan (mulai menangis)

53. Lelaki 1 : “Neng, kok nangis sih, jadi tambah cantik kan kalau kayak gini.”(memegang dagu Siti)

54. Siti : “To...looooong... (setengah berteriak karena ketakutan)

55. Lelaki 4 : “Teriak aja, Neng, nggak papa, nggak bakal ada yang berani sama kita-kita.

56. Siti : “Jangan mas, saya mohon” (menangis)

57. Lelaki 5 : “Woy, aing dipanggil mas ini teh! Hahaha!” ( ber-bicara dengan keras, semua ikut tertawa)

58. Lelaki 3 : (Mencengkeram tangan Siti) “Udah, sini, lama amat.”

(51)

ADEGAN 7

PANGGUNG KOSONG. SEPI. PAGI HARI. TIBA-TIBA SE-ORANG PENGANTAR KORAN MASUK DAN MELAMBAI-LAMBAIKAN KORANNYA.

59.Penjual koran : “Koran-koran! Berita hari ini: Seorang Gadis Berselendang Merah Ditemukan Tewas Gan-tung Diri! Dibeli dibeli! Hanya 1500 perak! Koran-koran! Seorang Gadis Berselendang Merah Ditemukan Tewas Gantung Diri!”

PENJUAL KORAN KEMUDIAN MENYEBARKAN KORAN-KORAN DI LANTAI DAN MENEMPELKANNYA DI DIN-DING DINDIN-DING. LAMPU MATI. DRAMA SELESAI.

Tamat

(52)

ADEGAN 1

DI SEBUAH RUANG KELAS. PELAJARAN DIMULAI, GURU MEMASUKI KELAS. TERLIHAT BANGKU KOSONG DI POJOK RUANGAN, TEPATNYA DI BELAKANG BANGKU HANIF 1. Guru : “Selamat pagi,”

2. Siswa : “Pagi, Bu,”

3. Dimas : (Memasuki kelas) “Pagi, Bu.” (Berjalan melewati guru)

4. Guru : “Dimas, kemari.”

5. Dimas : (Berjalan mendekati guru sambil memasukkan tangan ke saku celana)

6. Guru : “Kenapa kamu terlambat?” 7. Dimas : “Kesiangan,”

8. Guru : “Selalu alasan yang sama. Ibu ini kewalahan menghadapi kamu. Apa kamu tidak ada keingin-an untuk memperbaiki diri? Lalu apa orkeingin-angtua- orangtua-mu tidak pernah mengurusorangtua-mu? Minggu lalu orangtuamu juga tidak datang memenuhi pang-gilan dari sekolah. Sekarang sudah semester akhir, kalau administrasi tidak segera dilunasi, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah. Atau

jangan-Gelap

Sania Latfia Yasmarsel

(53)

jangan surat panggilan dari sekolah belum kamu serahkan kepada orangtua?”

9. Dimas : “Sudah kok, Bu” (mengalihkan pandangan) 10. Guru : “Lalu kenapa tidak memberi kabar?”

11. Dimas : “Mana saya tahu? Itu kan bukan urusan saya.” 12. Guru : “Kamu ini!”

13. Guru : “Ya sudah, sana duduk!”

14. Dimas : (Berjalan santai menuju tempat duduk)

15. Guru : “Baik anak-anak, buka buku kalian halaman 57, kerjakan hingga halaman 60. Dikumpulkan hari ini. Jika ada soal yang dirasa sulit, silahkan tanyakan kepada ibu,”

16. Murid : “Baik Bu,”

SEMUA SISWA SIBUK MEMBOLAK-BALIK HALAMAN, KECUALI DIMAS YANG MELAMUN SAMBIL MENAIKKAN KEDUA KAKINYA KE ATAS MEJA. GURU YANG KESAL MELIHAT PERILAKU DIMAS SEGERA MENEGURNYA. 17. Guru : “Turunkan kakimu!” (menggebrak meja) 18. Dimas : (Terkejut)

19. Guru : “Mana bukumu? Bukankah tadi Ibu memberi tugas?”

20. Dimas : “Saya nggak bawa buku, Bu”

21. Guru : “Alasan lagi? Kerjakan di buku tulis dan kum-pulkan saat istirahat.”

22. Dimas : “Em.. Nggak ah Bu, lagi pula saya juga nggak

bawa buku tulis,” 23. Guru : “Tidak bawa gimana?”

24. Guru : “Kamu itu niat sekolah tidak sih, Mas?!” 25. Dimas : “Ya.. gitu deh, Bu...”

(54)

28. Guru : “Ya Tuhan, salah apa saya bisa punya murid seperti itu? Hanif, apa Dimas selalu bertingkah seperti itu di semua mata pelajaran? Atau hanya di kelas saya saja?”

29. Hanif : “Dia memang seperti itu bu, hampir di semua kelas dikeluarkan. Guru-guru yang lain juga heran kenapa dia seperti itu. Padahal, Dimas tidak pernah memiliki masalah dengan teman. Kalau menurut saya sih, keluarganya sedang ada masalah,”

30. Guru : “Begitu ya? Apa kamu pernah dengar cerita tentang keluarganya?”

31. Hanif : “Kalau setahu saya, keluarganya jarang ada di rumah. Mungkin dia merasa kesepian dan mulai mencari perhatian dengan membuat masalah, bu.”

32. Guru : “Begitu, ya? Lalu apa keluarganya termasuk ke-luarga menengah kebawah? Maksud ibu, jika memang begitu pihak sekolah dapat memberi-kan bantuan dengan meringanmemberi-kan biaya se-kolahnya. Orang tuanya tidak memenuhi pang-gilan kemarin, jadi ibu tidak dapat sembarangan memberi bantuan.”

33. Hanif : “Kalau itu, saya kurang tahu Bu.” 34. Guru : “Apa kamu tahu alamat rumahya?” 35. Hanif : “Tidak Bu.”

36. Guru : “Apa kamu mau membantu ibu mencari alamat rumah Dimas?

37. Hanif : “Eee.... Baiklah...” (ragu-ragu)

38. Guru : “Nah, bagaimana jika kamu ibu beri tugas ber-kelompok dengan Dimas? Dengan cara itu mung-kin kita akan mengetahui dimana rumahnya.” 39. Hanif : “Baiklah, Bu, nanti saya akan bicara dengan

(55)

TIBA-TIBA TERDENGAR BEL BERBUNYI. PELAJARAN USAI, GURU MENINGGALKAN KELAS. TAK LAMA KEMUDIAN, DIMAS MASUK KELAS. HANIF LANGSUNG MENGHAM-PIRINYA.

40. Hanif : “Dim, Bu guru tadi memberi tugas kelompok. Kita kerjakan di rumahmu, ya? Besok pagi sudah harus dikumpul,”

41. Dimas : “Tugas? Kenapa rumahku? Di rumahmu saja kenapa?”

42. Hanif : “Dirumahku sedang ada acara,” 43. Dimas : “Okelah....”

ADEGAN 2

RUANG TAMU SEBUAH RUMAH MEWAH. HANIF DAN DIMAS BERADA DI RUANG ITU. FOTO-FOTO DAN LUKIS-AN TERPAJLUKIS-ANG RAPIH DI DINDING. HLUKIS-ANIF BERJALLUKIS-AN MENDEKATI FOTO DI DINDING.

44. Dimas : “Nggak usah lihat-lihat,” 45. Hanif : “Itu kamu, ya?”

46. Dimas : “Tugasnya yang mana?”

47. Hanif : “Soal UTS di belakang sendiri. Lukisannya bagus ya?”

48. Dimas : “Yang ini?” (mengangkat bukunya)

49. Hanif : “Iya. Tapi, kok nggak ada foto keluarga sih?” 50. Dimas : “Mau lu apa sih?! Bilangnya mau kerjain tugas

ya kerjain aja, nggak usah banyak tanya!” 51. Hanif : “Iya, maaf.”

52. Hanif : “Dim, rumah sebesar ini kok sunyi sih? Yang tinggal disini sedikit, ya?”

53. Dimas : “Iya,”

54. Hanif : “Siapa aja sih?” (hati-hati)

(56)

56. Hanif : “Loh, Ibumu tidak tinggal disini?” 57. Dimas : “Mama selalu pulang malam,” 58. Hanif : “Wah pasti sibuk banget ya?” 59. Dimas : “Hahaha...” (tertawa sinis)

60. Hanif : “Memangnya ibumu kerja dimana?”

61. Dimas : “Ibuku diberi pekerjaan oleh seorang mucikari di sudut kota.”

62. Hanif : “Mucikari?”

63. Dimas : “Ya, katanya itu pekerjaan yang paling pantas untuk ibu.”

64. Hanif : “Kanapa ibumu mau menerima pekerjaan kotor itu?”

65. Dimas : “Pekerjaan kotor. Memang itu yang ibu ingin-kan.”

66. Hanif : “Pekerjaan yang ibumu inginkan? Dim, diluar sana masih banyak pekerjaan pantas yang bisa ibumu dapatkan. Dimana ayahmu? Kenapa ayahmu tidak melarang?

67. Dimas : “Ayah?”

68. Hanif : “Iya, dimana Ayahmu? Apa ia tidak bekerja? Apa ia sakit sampai Ibumu mau menerima pe-kerjaan itu?”

69. Dimas : (Terdiam, air mata terlihat di ujung matanya) 70. Hanif : “Dim, ada apa?”

71. Dimas : “Ayahku pergi dari rumah.” 72. Hanif : “Pergi dari rumah?”

73. Dimas : “Iya. Kata Ibu, Ayah pergi dari rumah sehari setelah aku dilahirkan.”

74. Hanif : “Ya Tuhan...”

(57)

mau dengar. Sebab itu aku meluangkan banyak waktu untuk mencari ayah, terjaga semalam suntuk, sering absen, dan terlambat masuk se-kolah, itu semua hanyauntuk mencari ayah. Karena aku pikir cuma ayah yang bisa menye-lamatkan ibu, cuma ayah yang bisa menyelamat-kan keluarga ini, cuma ayah harapanku,” 76. Hanif : “Maafkan aku... Aku tidak bermaksud

mem-buatmu begini,”

77. Dimas : “Tidak apa. Toh aku merasa bebanku sedikit berkurang,”

78. Hanif : “Syukurlah. Lalu apa ada informasi yang sudah kamu dapat?”

79. Dimas : “Ya, aku punya foto ayah. Dan akhir-akhir ini aku mengetahui kantor tempat ia bekerja,” 80. Hanif : “Apa kamu sudah mencoba menemuinya?” 81. Dimas : “Tidak,”

82. Hanif : “Kenapa?”

83. Dimas : “Aku takut ayah menolakku....”

84. Hanif : “Itu tidak mungkin. Tidak ada Ayah yang me-nolak anaknya. Dimana kantor Ayahmu?” 85. Dimas : “Ayah bekerja di Hotel Chamomile, Jalan

Bunga.”

86. Hanif : “Hotel Chamomile? Jalan Bunga? Ayahku be-kerja disana. Ayo berangkat, ayahku pasti bisa membantu.”

87. Dimas : “Apa kamu yakin?”

ADEGAN 3

(58)

LAIN DI SEBERANG JALAN. HANIF DAN DIMAS SEDANG MENGHADAP AYAH.

88. Hanif : “Ayah...”

89. Ayah : “Hanif? Loh, kamu sudah pulang?”

90. Hanif : “Iya ayah. Hanif mengajak teman yah, namanya Dimas”

91. Dimas : “Bapak Kevin Marthas?” 92. Ayah : “Teman sekelas Hanif, ya?” 93. Dimas : “A...ayah?”

94. Ayah : “Ayah?”

95. Dimas : “Anda Bapak Kevin Marthas kan? Anda suami Sonya Sovyani? Anda ayah saya kan? Iya, pasti anda ayah saya!”

96. Ayah : “Sonya Sovyani? Ya Tuhan, kamu anak Sonya? Sudah besar ya....”

97. Dimas : “Apa maksudnya anak Sonya? Aku anak ayah, anak ayah!”

98. Hanif : “Ayah? Apa maksudnya ini?”

99. Ayah : “Tidak, Hanif. Dimas, saya bukan ayahmu, biar bapak jelaskan. Sonya dulu teman baik bapak. Suatu hari, Sonya datang kepada saya sambil menangis. Ia hamil, karena perbuatan temannya dan ia terus memohon bantuan saya. Saya tidak punya pilihan selain membantunya. Akhirnya, kami membuat perjanjian. Saya akan tinggal di-rumah Sonya sampai bayi yang dikandungnya lahir, setelah itu saya akan pergi tanpa memiliki tanggung jawab apapun kepada bayi itu. Dan bayi itu adalah kamu.”

100. Dimas : “Jadi.. anda bukan Ayah saya?” 101. Ayah : “Bukan, Nak...”

(59)

104. Dimas : “Nggak, aku mau ayahku! Apa gunanya selama ini kalau aku nggak bisa menemukan Ayahku! Dasar bodoh!”

105. Hanif : “Dimas, tenangkan dirimu. Setelah ini kita cari Ayahmu bersama-sama, ya?”

106. Dimas : “Aku mau Ayahku! Nggak berguna!”

DIMAS BERLARI KE BALKON YANG ADA DI SALAH SATU SISI PANGGUNG

107. Hanif : “Dimas! Kemari cepat!” (berlari menyusul Dimas) 108. Ayah : “Nak Dimas! Sadarkan dirimu!”

109. Dimas : “Ya Tuhan! Kenapa semua terjadi kepadaku! Aku nggak bisa terima semua ini! Engkau kejam! Ayah! Aku mau ayah!”

110. Hanif : “Dimas!” (menegang tangan Dimas) “Sadar, Dim. Sadar!”

111. Ayah : “Menjauhlah dari situ, nak. Nanti kau terjatuh!” 112. Dimas : “Lepas! Nggak ada gunanya aku hidup! Aku

cu-ma anak haram!” 113. Hanif : “Dimaaas....!!!!!”

DIMAS MEMEJAMKAN MATANYA. IA MELEPASKAN GENG-GAMAN TANGAN HANIF DAN MELOMPAT DARI BALKON.

Sania Latfia Yamarsel. Lahir di Yogyakarta, 15 November 2000. Saat ini beralamat di Ringroad Selatan, Ngumbul RT 1 No. 1 Tamanan. Sania sekolah di SMA N 7 Yogyakarta yang berlokasi di Jalan MT Haryono No. 47 Yogyakarta. Sania mempunyai hobi membaca buku, dan menulis cerita fantasi. Jika ingin berkorespondensi dengan Sania Latfia Yamarsel dapat menghubungi HP: 082221919362 atau di Pos-el: [email protected]

(60)

ADEGAN 1

ICHA DAN AUFA SEDANG ASYIK BERMAIN DI TAMAN. AUFA HANYA MENGIKUTI LANGKAH KAKI ICHA DENG-AN KEDUA TELAPAK TDENG-ANGDENG-ANNNYA MASUK KE DALAM SAKU CELANANYA. ICHA TERLIHAT SENANG MELIHAT BUNGA-BUNGA BERMEKARAN BAHKAN ICHA SUKA BAU DARI BUNGA-BUNGA ITU. DI TAMAN ADA PEPOHONAN DAN BANYAK BUNGA MAWAR. DI TENGA TAMAN TERDAPAT SEBUAH KURSI TAMAN PANJANG.

1. Icha : ”Cantiknyaaaa…. Hmm… baunya Icha suka, Kak...”

ICHA MEMEGANGI BUNGA ITU. IA NAMPAK GEMBIRA SEKALI SAMBIL SESEKALI MELIHAT KE WAJAH AUFA 2. Icha : ”Eh, lihat, Kak, di sana ada mawar biru! Suka,

deh!”

3. Aufa : ”Kamu ini, seperti Ibu, Cha. Ibu juga suka bunga mawar yang berwarna biru.”

ICHA MENGHAMPIRI BUNGA MAWAR BIRU ITU. NAMUN, RAUT MUKANYA BERBEDA, BERUBAH MENJADI MURUNG

Kasih Ibu

Rofiqoh Salsabila Zein

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun banyak hambatan untuk bisa menjadi seorang wirausahawan, dan dengan berbagai resiko yang ada, namun masih banyak orang yang mau dan ingin memilih jalan untuk menjadi

Rivalitas itu bahkan datang dari mereka yang masih yunior atau kapasitas yang biasa, sehingga sulit dicapai konsensus untuk memilih tokoh dari antara para elit Islam sendiri..

Walaupun banyak hambatan untuk bisa menjadi seorang wirausahawan, dan dengan berbagai resiko yang ada, namun masih banyak orang yang mau dan ingin memilih jalan untuk menjadi

Menurut Suheriyanto (2008) , belalang merupakan jenis serangga yang hidup sendiri, tetapi pada saat jumlahnya sangat banyak mereka hidup berkelompok dan dapat

Untuk masalah permodalan, komunitas pengrajin kain tenun ikat masih banyak yang kesulitan dalam hal itu sebab mereka mencari modal sendiri, tenaga kerja atau karyawan lebih

Selain itu, pekerjaan sebagai nelayan kompressor yang membutuhkan tenaga yang banyak membuat mereka lebih memilih beristirahat ketika tidak melaut dibandingkan bekerja lagi di

Keberadaan pemulung sendiri masih banyak dari kehidupan mereka yang secara utuh belum tereskpose, sehingga peneliti mencoba mengetahui lebih jauh tentang profil

Masuknya kebudayaan Barat berpengaruh banyak pada warga Tionghoa waktu itu, sebab mereka sendiri tidak menguasai budaya Jawa dan seni.. Di samping itu, sistem