Penggunaan es oleh para nelayan hanya terbatas pada pengawet hasil tangkapan. Es tetap memiliki peranan penting dalam operasi penangkapan baik yang bersifat one day fishing maupun yang tidak di masing-masing pelabuhan perikanan. Pelabuhan perikanan biasanya menyediakan es dalam bentuk balok sedangkan es yang biasa yang digunakan oleh nelayan Kabupaten Subang biasanya adalah es curah. sehingga oleh para nelayan, es tersebut akan diubah terlebih dahulu menjadi es curah menggunakan mesin; sebelum dibawa melaut.
Kabupaten Subang yang memiliki tujuh unit pelabuhan perikanan hanya memiliki satu unit pabrik es yaitu Perseroan Terbatas (PT) Tirta Ratna di PPP Blanakan. Perusahaan PT. Tirta Ratna, yang berdiri sejak tanggal 8 September tahun 2000 bekerja sama dengan KUD Mina Fajar Sidik, mampu memproduksi sekitar 300 balok es per hari. Pihak KUD Mina Fajar Sidik menjual es balok kepada nelayan seharga Rp11.000,00/balok (Kurniawan, 2009).
Tabel 24 Pendapatan hasil usaha unit penjualan es di KUD Mandiri Mina Fajar Sidik PPP Blanakan periode tahun 2005-2009
Tahun
Pendapatan Hasil Usaha (PHU) Pertumbuhan (%)
2005 21.423.238,36 - 2006 31.474.615,00 46,9 2007 25.575.286,00 -18,7 2008 44.387.688,00 73,6 2009 25.700.250,00 -42,1 Rataan (%) - 14,1 Kisaran (%) - -42,1 – 73,6
Sumber: Laporan Tahunan ( Keuangan KUD Mandiri Mina Fajar Sidik Periode tahun 2005-2008 yang diolah kembali); Anonymous, 2010
Periode tahun 2005 sampai 2009 pendapatan hasil usaha pabrik es mengalami fluktuasi. Secara umum pendapatan hasil usaha pabrik es PT Tirta Ratna mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14,1% setiap tahunnya selama periode 2005-2009 atau dengan kisaran -42,1% – 73,6%. Jumlah pendapatan hasil usaha pabrik es yang terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp
80
44.387.688,00 dengan pertumbuhan sebesar 73,6%. Jumlah pendapatan hasil usaha pabrik es terkecil terjadi pada tahun 2005 sebesar Rp 21. 423.238,36 (Tabel 24)
Gambar 13 Histogram jumlah pendapatan hasil usaha pabrik es PT Tirta Ratna di PPP Blanakan periode tahun 2005-2009
Peningkatan pendapatan tertinggi diduga terjadi karena ikan hasil tangkapan yang didaratkan sangat banyak. Selain itu faktor seringnya nelayan melaut juga dapat meningkatkan penjualan es. Terjadinya penurunan pendapatan hasil usaha pabrik es tersebut diduga karena ikan hasil tangkapan yang didaratkan sangat sedikit akibat terjadinya kelangkaan BBM. Kelangkaan ini membuat nelayan tidak melakukan kegiatan usaha penangkapan sehingga aktivitas penjualan hasil tangkapan yang didaratkan berkurang.
Hasil wawancara dengan Kepala Bagian Penangkapan DKP Subang memperlihatkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan es, para nelayan biasanya membeli es di pabrik yang berada di luar pelabuhan, yaitu di daerah yang terdapat tiga unit pabrik es yang berdiri di sekitar daerah Pamanukan dan Eretan. Menurut Christanti (2005) pihak pelabuhan yang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan es sehingga harus mendatangkan es dari luar pelabuhan sehingga hal ini menunjukkan bahwa semakin tingginya aktifitas pendaratan ikan di pelabuhan tersebut. Menurut (Novianti, 2008) ketiadaan pabrik es/depot menjadi kendala utama bagi para nelayan. Kebutuhan es yang harus dipesan dari luar pelabuhan membuat nelayan. Kesulitan mendapatkan es ketika dibutuhkan kedatangan
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 2005 2006 2007 2008 2009 Pendapa tan H as il U sa ha (J uta r upiah) TAHUN
81
pesanan es yang terbatas tersebut mengakibatkan aktivitas penanganan kurang optimal.
Fasilitas penyediaan es di suatu pelabuhan perikanana dilakukan oleh pabrik es. Pabrik es merupakan bagian dari fasilitas fungsional dari suatu pelabuhan perikanan, dimana fasilitas tersebut memproduksi dan menyuplai es untuk kegiatan perikanan. Namun tidak semua unit pelabuhan perikanan mampu untuk membangun pabrik es di wilayahnya. Hal ini dapat disebabkan oleh hasil tangkapan yang didaratkan sangat sedikit dan hasilnya tidak menentu. Oleh karena itu kondisi tersebut dapat disiasati dengan pembangunan depot-depot penyediaan es. Pelabuhan Perikanan Pantai Muara Ciasem memiliki dua unit depot es yang mampu menampung 120 es balok per hari yang diperuntukan bagi nelayan untuk memenuhi kebutuhan melaut. Depot es ini memperoleh pasokan esnya dari PT. Tirta Ratna yang berada di PPP Blanakan.
Tabel 25 Profil output seluruh pelabuhan perikanan di Kabupaten Subang tahun 2009 Pelabuhan Perikanan Output Volume Produksi (ton) Nilai Produksi (Rp 1000) Rasio NP/P (Rp/kg) Air bersih (liter) BBM (liter) Es (balok/ hari) PPI Rawameneng 95,9 763.828 7.960 5.000 - - - - - - PPI Patimban 152,1 710.906 4.671 - - - 10.000 - - - PPI Mayangan 20,3 110.183 5.422 - - - 16.000 - - - PPP Blanakan 2.882,9 16.653.019 5.777 10.000 5.333 300 PPP Muara Ciasem 916,5 6.415.743 7.000 10.000 10.000 120 PPI Cilamaya Girang 31,8 421.626 13.241 5.000 - - - - - -
PPI Cirewang 14,3 98.526 6.879 - - - - - - - - -
Sumber: Anonymous, 2010b data diolah kembali - - - = Data tidak tersedia
Secara umum seluruh pelabuhan perikanan yang ada di Kabupaten Subang didirikan dengan tujuan untuk mempermudah aktivitas nelayan. Kegiataan ini dapat dilakukan melalui penyediaan aktivitas pemenuhan kebutuhan melaut, pemasaran hasil tangkapan, dan pengolahan hasil tangkapan di pelabuhan perikanan. Ketiga nilai atau hasil kegiatan tersebut di setiap pelabuhan perikanan dapat digolongkan sebagai output pelabuhan perikanan. Pelabuhan perikanan yang ada di Kabupaten Subang belum sepenuhnya mampu mempermudah nelayan dalam melakukan aktivitasnya. Masih banyak terdapat unit pelabuhan yang belum
82
memiliki fasilitas yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan melaut seperti fasilitas pabrik es, tangki BBM, dan instalasi air bersih.
Kategori output yang disajikan merupakan output dari aktivitas produksi perikanan dan output dari aktivitas pemenuhan kebutuhan melaut. Apabila ditinjau dari aktivitas produksi perikanan yang dihasilkannya, PPP Blanakan merupakan pelabuhan yang memiliki volume produksi dan nilai produksi yang tertinggi dengan nilai berturut-turut adalah 2.882,9 ton dan Rp 16.653.019.000,00 Namun pelabuhan ini hanya memperoleh nilai rasio NP/P sebesar Rp 5.777,00 per kg. Keadaan ini bertolak belakang dengan PPI Cilamaya Girang yang memperoleh nilai rasio NP/P tertinggi yaitu sebesar Rp 13.241,00 per kg. Pangkalan pendaratan ikan Cilamaya Girang sendiri hanya memiliki volume produksi dan nilai produksi sebesar 31,8 ton dan Rp 421.626.000,00 (Tabel 25).
Selanjutnya apabila ditinjau dari aktivitas pemenuhan kebutuhan melautnya PPP Blanakan sebagai satu-satunya pelabuhan yang mampu menyediakan fasilitas pemenuhan kebutuhan melaut bagi nelayannya. Kondisi ini berbeda sekali dengan keenam unit pelabuhan lainnya. Fasilitas air bersih hanya dimiliki oleh tiga unit pelabuhan saja yaitu PPI Rawameneng, PPP Blanakan, dan PPI Cilamaya Girang. Selanjutnya fasilitas BBM juga hanya dimiliki oleh tiga unit pelabuhan saja yaitu PPI Patimban, PPI Mayangan, dan PPP Blanakan. Fasilitas pabrik es di Kabupaten Subang hanya dimiliki di PPP Blanakan sedangkan yang ada di PPP Muara Ciasem merupakan depot es yang pasokan esnya diperoleh dari pabrik es yang berada di PPP Blanakan.
Pengembangan unit pelabuhan perikanan yang ada dapat dilakukan dengan memperhatikan output. Variabel yang digunakan dalam penghitungan teknik skoring faktor output adalah variabel volume produksi, nilai produksi, rasio nilai produksi per produksi (NP/P), ketersediaan air bersih, BBM dan es di masing-masing pelabuhan perikanan Kabupaten Subang. Masing-masing-masing variabel yang ada memiliki bobot yang berbeda bergantung dari tingkat kepentingan yang dibutuhkan peneliti. Selanjutnya dari masing-masing variabel yang ada akan dibuat selang kelas untuk menentukan skor dari variabel tersebut. Penentuan selang kelas dibuat berdasarkan banyaknya data yang diperoleh sehingga dapat mewakili seluruh data variabel yang diperoleh. Skor yang dibuat akan berbeda
83
antara masing-masing variabel yang diamati. Hal ini disesuaikan dengan banyaknya data variabel yang diamati. Skor untuk variabel aktivitas produksi seperti volume produksi, nilai produksi, dan rasio NP/P dan variabel aktivitas penyediaan kebutuhan melaut seperti air bersih, BBM dan es memiliki angka tertinggi 7 dan terendah 1.
Kurangnya sumberdaya manusia baik jumlah maupun kualitas, menjadikan pelabuhan perikanan yang ada menjadi tidak berkembang. Hal ini juga berpengaruh pada proses pendataan, dimana dalam pendataan tidak adanya pembukuan atau pencatatan oleh pihak pelabuhan perikanan sehingga banyak menghasilkan data yang kosong. Akibatnya ketika dilakukan proses penghitungan terdapat nilai nol (0) bagi sebagian pelabuhan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kerugian bagi pelabuhan perikanan tersebut yaitu PPI Patimban, PPI Mayangan, PPP Muara Ciasem, PPI Cilamaya Girang, PPI Cirewang dan PPI Rawameneng.
Kategori yang digunakan terbagi menjadi empat yaitu kategori pelabuhan perikanan baik sekali, baik, cukup dan buruk. Nilai untuk kategori pelabuhan perikanan baik sekali dihitung dengan cara mengalikan nilai maksimal yang diperoleh dengan persentase nilai yang digunakan. Selang nilai yang digunakan yaitu 76 - 100% dikalikan nilai maksimal yaitu 63,8 - 84. Nilai untuk kategori pelabuhan perikanan baik adalah 51 - 75% dikalikan nilai maksimal yaitu antara 42,8 – 63. Nilai untuk kategori pelabuhan perikanan cukup adalah 26 – 50% dikalikan dengan nilai maksimal yaitu 21,8 – 42. Nilai untuk kategori pelabuhan perikanan buruk adalah 0 – 25% dikalikan dengan nilai maksimal yaitu 0 – 21.
Teknik penghitungan skoring yang dilakukan memperlihatkan bahwa PPP Blanakan merupakan pelabuhan terbaik yang menghasilkan output dari semua pelabuhan perikanan yang ada di Kabupaten Subang (Tabel 26). Walaupun PPP Blanakan memperlihatkan sebagai pelabuhan terbaik dari sisi output dibanding pelabuhan perikanan lainnya di Kabupaten Subang, akan tetapi PPP Blanakan sesungguhnya berada pada kategori output pelabuhan cukup, belum berupa kategori baik. Tidak satu pun pelabuhan perikanan di Kabupaten Subang yang memiliki kategori output yang baik.
84
Tabel 26 Kategori pelabuhan perikanan untuk kelompok output di Kabupaten Subang berdasarkan penghitungan dengan teknik skoring
Pelabuhan Perikanan Jumlah Nilai Kategori Output
1. PPI Rawameneng 12 Buruk
2. PPI Patimban 18 Buruk
3. PPI Mayangan 25 Cukup
4. PPP Blanakan 57 Baik
5. PPP Muara Ciasem 37 Cukup
6. PPI Cilamaya Girang 16 Buruk
7. PPI Cirewang 8 Buruk
Perhitungan nilai diperoleh dari penjumlahan nilai antara masing-masing
output (Lampiran 3). Keseluruhan nilai yang disajikan pada Tabel 26 memperlihatkan bahwa PPP Blanakan merupakan pelabuhan terbaik pertama di Kabupaten Subang berdasarkan dari output aktivitas produksi perikanan dan
output aktivitas pemenuhan kebutuhan melaut. Ditinjau dari output aktivitas produksi perikanannya, volume produksi dan nilai produksi perikanan yang dihasilkan PPP Blanakan merupakan yang tertinggi di Kabupaten Subang yaitu sebesar 2.882,9 dan Rp 16.653.019.000,00. Selanjutnya adalah PPP Muara Ciasem dengan volume produksi dan nilai produksi yang dihasilkan berturut-turut adalah 916,5 ton dan Rp 6.415.743.000,00
Output aktivitas pemenuhan kebutuhan melaut menunjukkan PPP Blanakan sebagai pelabuhan yang terbaik. Pemenuhan kebutuhan akan air bersih, BBM, dan es telah dilaksanakan di Kabupaten ini. Penilaian pelabuhan perikanan terbaik berdasarkan output ini hanya menjadi milik PPP Blanakan dikarenakan di keenam pelabuhan lainnya keberadaan fasilitas yang menunjang pemenuhan kebutuhan melaut nelayan belum terpenuhi. Kondisi ini tentunya menimbulkan kerugian bagi nelayan.