3.5. Parameter yang Diamati
4.1.2. Jumlah Pelepah Daun (helai)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman jumlah pelepah daun dapat dilihat pada Lampiran 7 dan 8. Berdasarkan Lampiran 7 dan 8 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P), dosis dolomit (D) dan kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan dolomit (PD) berpengaruh nyata terhadap peubah jumlah pelepah daun. Hasil uji BNJ jumlah pelepah daun dapat dilihat pada Tabel 4.63
Tabel. 4.3. Hasil uji BNJ Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Jumlah Pelepah Daun (helai).
Pupuk NPK Dolomit (D)
Rerata P
(P) D1 D2 D3
P1 3,13 ab 3,07ab 2,69a 2,96a
P2 3,03a 3,67b 3,06ab 3,25b
P3 3,18ab 3,03a 2,97ab 3,06ab
Rerata D 3,11ab 3,26b 2,90a
BNJ P 0,05 : 0,26 BNJ D 0,05 : 0,26
BNJ PD 0,05 : 0,63
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji 5% dan 1%.
Hasil uji BNJ pada Tabel 4.3. diatas menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) dimana perlakuan P1 berbeda nyata dengan perlakuan P2 dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan P3. Sedangkan perlakuan P3 berbeda tidak nyata
dengan perlakuan P1 dan P2. Hasil terbaik pada peubah jumlah pelepah daun ditunjukkan pada perlakuan P2 yaitu 3,25 helai dan hasil terendah pada perlakuan P1 yaitu 2,96 helai.
Perlakuan dosis dolomit (D) menunjukkan bahwa pada perlakuan D2 berbeda nyata dengan perlakuan D3 dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan D1. Sedangakn perlakuan D1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan D2 dan D3. Hasil terbaik pada peubah jumlah pelepah daun ditunjukkan pada perlakuan D2 yaitu 3,26 helai dan hasil terendah pada perlakuan D3 yaitu 2,90 helai.
Kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dan dolomit (PD) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan P2D2 berbeda nyata dengan perlakuan P1D3, P2D1,P3D2 dan P3D3 serta berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Hasil terbaik pada peubah jumlah pelepah daun ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P2D2 yaitu 3,67 helai dan hasil terendah pada P1D3 yaitu 2,69 helai.
4.1.3. Diameter Bol (cm)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman diamater bol dapat dilihat pada Lampiran 9 dan 10. Berdasarkan Lampiran 9 dan 10 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) berpengaruh sangat nyata terhadap peubah diameter bol. Sedangkan untuk perlakuan dosis dolomit (D) berpengaruh tidak nyata pada peubah diameter bol dan kombinasi perlakuan pupuk NPK dengan dolomit (PD) berpengaruh nyata terhadap peubah diameter bol. Hasil uji BNJ dan tabulasi diameter bol dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel. 4.4. Hasil uji BNJ dan Tabulasi Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Diameter Bol (cm).
Pupuk NPK Dolomit (D)
Rerata P
(P) D1 D2 D3
P1 0,82a 0,81a 0,89ab 0,84aA
P2 0,91ab 1,19b 0,93ab 1,01bB
P3 0,96ab 0,97ab 1,08ab 1,00bA
Rerata D 0,90 0,99 0,97
BNJ P 0,05 : 0,13 BNJ P 0,01 : 0,17
BNJ PD 0,05 : 0,31
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji 5% dan1%.
Hasil uji BNJ dan tabulasi pada Tabel 4.4. diatas menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) dimana perlakuan P1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan P2 dan P3. Hasil terbaik pada peubah diameter bol ditunjukkan pada perlakuan P2 yaitu 1,01 cm dan hasil terendah pada perlakuan P1 yaitu 0,84 cm. Sedangkan untuk perlakuan dolomit (D) hasil terbaik pada peubah diameter bol ditunjukkan pada perlakuan D2 yaitu 0,99 cm dan hasil terendah pada perlakuan D1 yaitu 0,90 cm. Kombinasi perlakuan pupuk NPK dan dolomit (PD) menunjukkan bahwa perlakuan P2D2 berbeda nyata dengan perlakuan P1D1 dan P1D2 dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Hasil terbaik pada peubah diameter bol ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P2D2 yaitu 1,19 cm dan hasil terandah pada kombinasi perlakuan P1D2 yaitu 0,81cm.
4.1.4. Luas Daun (cm²)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman luas daun dapat dilihat pada Lampiran 11 dan 12. Berdasarkan Lampiran 11 dan 12 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P), perlakuan dosis dolomit (D) dan kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan dolomit (PD) berpengaruh tidak nyata terhadap peubah luas daun. Hasil tabulasi luas daun dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel. 4.5. Hasil Tabulasi Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Luas Daun (cm²).
Faktor P Faktor D Rerata P
D1 D2 D3
P1 224,22 228,28 173,46 208,65
P2 188,46 208,33 205,73 200,84
P3 191,16 207,75 191,59 196,83
Rerata D 201,28 214,79 190,26
Hasil data tabulasi pada tabel 4.5. diatas menunjukkan hasil terbaik perlakuan dosis pupuk NPK (P) pada peubah luas ditunjukkan pada perlakuan P1 yaitu 208,65 cm² dan hasil terendah pada perlakuan P3 yaitu 196,83 cm².
Untuk perlakuan dosis dolomit (D) hasil terbaik pada peubah bobot luas daun ditunjukkan pada perlakuan D2 yaitu 214,79 cm² dan hasil terendah pada
perlakuan D3 yaitu 190,26 cm². Sedangkan untuk perlakuan kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan Dolomit (PD) hasil terbaik pada peubah bobot luas daun ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P1D2 yaitu 228,28 cm² dan hasil terendah ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P1D3 yaitu 196,83 cm².
4.1.5. Bobot Basah Bibit (g)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman bobot basah bibit dapat dilihat pada Lampiran 13 dan 14. Berdasarkan Lampiran 13 dan 14 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) berpengaruh nyata terhadap peubah bobot basah bibit dan perlakuan dosis dolomit (D) berpengaruh tidak nyata terhadap peubah bobot basah bibit. Sedangkan untuk kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dan dolomit (PD) berpengaruh sangat nyata terhadap peubah bobot basah bibit. Hasil uji BNJ dan tabulasi bobot basah bibit dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel. 4.6. Hasil uji BNJ dan Tabulasi Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Bobot Basah Bibit (g).
Pupuk NPK Dolomit (D)
Rerata P
(P) D1 D2 D3
P1 7,16aA 8,34abcA 8,50abcA 8,00a
P2 8,93abcA 10,42cB 8,71abcA 9,36b
P3 9,93bcA 7,62abA 9,44abcA 9,00ab
Rerata D 8,67 8,79 8,88
BNJ P 0,05 : 1,12
BNJ PD 0,05 : 2,68 BNJ PD 0,01 : 3,21
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji 5% dan 1%.
Hasil uji BNJ dan tabulasi pada Tabel 4.6. diatas menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) dimana perlakuan P1 berbeda nyata dengan perlakuan P2 dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan P3. Sedangkan perlakuan P3 berbeda tidak nyata dengan perlakuan P1 dan P2. Hasil terbaik pada peubah bobot basah bibit ditunjukkan pada perlakuan P2 yaitu 9,36 g dan hasil terendah pada perlakuan P1 yaitu 8 g.
Untuk perlakuan dosis dolomit (D) hasil terbaik pada peubah bobot basah bibit ditunjukkan pada perlakuan D3 yaitu 8,88 g dan hasil terendah pada perlakuan D1 yaitu 8,67 g. Kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan Dolomit (PD) menujukkan bahwa kombinasi perlakuan P2D2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Hasil terbaik pada peubah bobot basah bibit ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P2D2 yaitu 10,42 g dan hasil terendah pada kombinasi perlakuan P1D1 yaitu 7,16 g.
4.1.6. Bobot Basah Akar (g)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman bobot basah akar dapat dilihat pada Lampiran 15 dan 16. Berdasarkan Lampiran 15 dan 16 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) berpengaruh sangat nyata terhadap peubah bobot basah akar dan perlakuan dosis dolomit (D) berpengaruh tidak nyata terhadap peubah bobot basah akar. Sedangkan untuk kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan dolomit (PD) berpengaruh nyata terhadap peubah bobot basah akar. Hasil uji BNJ dan tabulasi bobot basah akar dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel. 4.7. Hasil uji BNJ dan Tabulasi Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Bobot Basah Akar (g).
Pupuk NPK Dolomit (D)
Rerata P
(P) D1 D2 D3
P1 3,49ab 2,94a 3,17a 3,20aA
P2 3,50ab 4,27b 3,66ab 3,81bB
P3 3,59ab 3,52ab 3,54ab 3,55abAB
Rerata D 3,53 3,57 3,46
BNJ P 0,05 : 0,40 BNJ P 0,01 : 0,52
BNJ PD 0,05 : 0,94
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji 5% dan1%.
Hasil uji BNJ dan tabulasi pada tabel 4.7. diatas menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) dimana perlakuan P1 berbeda sangat nyata dengan
perlakuan P2 dan berpengaruh tidak nyata dengan perlakuan P3. Sedangkan perlakuan P3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 dan P2. Hasil terbaik pada peubah bobot basah akar ditunjukkan pada perlakuan P2 yaitu 3,81 g dan hasil terendah pada perlakuan P1 yaitu 3,20 g.
Untuk perlakuan dosis dolomit (D) hasil terbaik pada peubah bobot basah akar ditunjukkan pada perlakuan D2 yaitu 3,57 g dan hasil terendah pada perlakuan D3 yaitu 3,46 g. Kombinasi dosis pupuk NPK dengan Dolomit (PD) menujukkan bahwa kombinasi perlakuan P2D2 berbeda nyata dengan perlakuan P1D2 dan P1D3 serta berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Hasil terbaik pada peubah bobot basah akar ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P2D2 yaitu 4,27 g dan hasil terendah perlakuan P1D2 yaitu 2,94 g.
4.1.7. Bobot Kering Bibit (g)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman bobot kering bibit dapat dilihat pada Lampiran 17 dan 18. Berdasarkan Lampiran 17 dan 18 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P) dan kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan dolomit (PD) berpengaruh tidak nyata terhadap peubah bobot kering bibit. Sedangkan perlakuan dosis dolomit (D) berpengaruh nyata terhadap peubah bobot kering bibit. Hasil uji BNJ dan tabulasi bobot kering bibit dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel. 4.8. Hasil uji BNJ dan Tabulasi Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Bobot Kering Bibit (g).
Pupuk NPK Dolomit (D) Rerata P (P) D1 D2 D3 P1 0,72 0,82 0,70 0,75 P2 0,64 0,80 0,79 0,74 P3 0,82 0,82 0,78 0,81
Rerata D 0,73a 0,81b 0,76ab
BNJ D 0,05 : 0,07
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji 5% dan 1%.
Hasil uji BNJ dan tabulasi pada tabel 4.8. diatas menunjukkan bahwa perlakuan dosis dolomit (D) pada perlakuan D1 berbeda nyata dengan perlakuan D2 dan berpengaruh tidak nyata dengan perlakuan D3. Sedangkan perlakuan D3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan D1 dan D2. Hasil terbaik pada peubah bobot kering bibit ditunjukkan pada perlakuan D2 yaitu 0,81 g dan hasil terendah pada D1 yaitu 0,73 g.
Untuk perlakuan dosis pupuk NPK (P) hasil terbaik pada peubah bobot kering bibit ditunjukkan pada perlakuan P3 yaitu 0,81 g dan hasil terendah pada P2 yaitu 0,74 g. Sedangkan untuk perlakuan kombinasi dosis pupuk NPK dengan Dolomit (PD) menujukkan hasil terbaik pada peubah bobot kering bibit ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P1D2, P3D1 dan P3D2 yaitu 0,82 g dan hasil terendah perlakuan P2D1 yaitu 0,64 g.
4.1.8. Bobot Kering Akar (g)
Data hasil pengamatan dan analisis keragaman bobot kering akar dapat dilihat pada Lampiran 19 dan 20. Berdasarkan Lampiran 19 dan 20 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK (P), perlakuan dosis dolomit (D) dan kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan dolomit (PD) berpengaruh tidak nyata terhadap peubah bobot kering akar. Data tabulasi bobot kering akar dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel. 4.9. Data Tabulasi Perlakuan Dosis Pupuk NPK dan Dolomit terhadap Bobot Kering Akar (g).
Pupuk NPK Dolomit (D) Rerata P (P) D1 D2 D3 P1 0,43 0,48 0,40 0,44 P2 0,39 0,51 0,53 0,48 P3 0,49 0,45 0,48 0,47 Rerata D 0,44 0,48 0,47
Hasil data tabulasi pada tabel 4.9. diatas menunjukkan hasil terbaik perlakuan dosis pupuk NPK (P) pada peubah bobot kering akar ditunjukkan pada perlakuan P2 yaitu 0,48 g dan hasil terendah pada perlakuan P1 yaitu 0,44 g.
Untuk perlakuan dosis dolomit (D) hasil terbaik pada peubah bobot kering akar ditunjukkan pada perlakuan D2 yaitu 0,48 g dan hasil terendah pada perlakuan D1 yaitu 0,44 g. Sedangkan untuk perlakuan kombinasi perlakuan dosis pupuk NPK dengan Dolomit (PD) hasil terbaik pada peubah bobot kering akar ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P2D3 yaitu 0,53 g dan hasil terendah ditunjukkan pada kombinasi perlakuan P2D1 yaitu 0,39 g.
4.2. Pembahasan