TINJAUAN PUSTAKA
2. Pembayaran Non-Tunai (Cashless)
2.4. Jumlah Uang Beredar
Dari sudut pandang ekonomi, uang (money) merupakan stok aset-aset yang digunakan untuk transaksi. Uang adalah sesuatu yang diterima/dipercaya masyarakat sebagai alat pembayaran atau transaksi (Rahardja & Manurung, 2004).
Jumlah uang beredar yaitu uang yang berada di masyarakat. Dalam perekonomian modern seperti sekarang, jumlah uang beredar dikendalikan oleh Bank Sentral selaku pemegang otoritas moneter. Penciptaan jumlah uang beredar ini merupakan suatu proses hasil interaksi antara permintaan dan penawaran uang, dan bukan sekedar pencetakan uang atau suatu keputusan pemerintah belaka.
Komposisi jumlah uang beredar di masyarakat dapat kita bedakan menjadi dua
bagian. Pertama adalah uang beredar dalam pengertian sempit, yang digunakan untuk transaksi yaitu M1 (narrow money). Kedua adalah uang beredar dalam arti luas yang biasa disebut dengan M2 (broad money) (Sukirno, 2014).
Jumlah uang beredar adalah nilai keseluruhan uang yang berada di tangan masyarakat. Jumlah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) adalah jumlah uang uang beredar yang terdiri atas uang kartal dan uang giral.
Perkembangan jumlah uang beredar mencerminkan atau seiring dengan perkembangan ekonomi. Biasanya bila perekonomian bertumbuh dan berkembang, jumlah uang beredar juga bertambah, sedang komposisinya berubah (Mishkin, 2008). Cara menghitung jumlah uang beredar (M2), yaitu:
M2 = M1 + TD + SD
Di mana,
M1 = uang dalam arti sempit
TD = Time Deposits (deposito berjangka) SD = Saving Deposits (saldo tabungan)
Secara teknis, yang dihitung sebagai jumlah uang beredar adalah uang yang benar-benar berada di tangan masyarakat. Uang yang berada di tangan bank (bank umum dan bank sentral), serta uang kertas dan logam (kuartal) milik pemerintah tidak dihitung sebagai uang beredar.
Perkembangan jumlah uang beredar mencerminkan atau seiring dengan perkembangan ekonomi. Biasanya bila perekonomian tumbuh dan berkembang, jumlah uang beredar juga bertambah, sedang komposisinya berubah. Bila perekonomian makin maju, porsi penggunaan uang kartal makin sedikit,
digantikan uang giral. Biasanya juga bila perekonomian makin meningkat, komposisi M₁ dalam peredaran uang semakin kecil, sebab porsi uang kuasi makin besar (Rahardja & Manurung, 2004).
Di Amerika Serikat, terdapat empat agregat moneter utama, yaitu: uang kartal, M1, M2, M3 dan L (Dornbusch, Fischer, & Startz, 2004).
a. M1 terdiri dari aset-aset yang digunakan secara langsung, instan dan tanpa hambatan dalam melakukan pembayaran. Aset ini bersifat likuid. M1 berhubungan dengan kebanyakan definisi tradisional mengenai uang sebagai alat pembayaran.
b. M2, terdiri dari M1 ditambah aset yang tidak likuid secara instan, penarikan deposito berjangka misalnya memerlukan pemberitahuan kepada institusi penyimpanan; dana mutual pasar uang menentukan nilai minimum yang dapat diambil.
c. M3, terdiri dari M2 ditambah item yang tidak pernah dilihat kebanyakan orang, yang disebut large negotiable deposits dan repurchase agreements.
Sebagian dimiliki perusahaan, tetapi sebagian juga dimiliki individu.
d. L, terdiri dari M3 ditambah beberapa aset likuid yang bersubstitusi dekat dengan uang, namun bukan uang itu sendiri.
Dalam literatur dikenal dua jenis kebijakan moneter, yaitu kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi, yang antara lain dilakukan melalui peningkatan uang beredar. Sebaliknya, kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk
memperlambat kegiatan ekonomi, yang antara lain dilakukan melalui penurunan uang beredar.
Untuk menjaga kestabilan nilai mata uang, Bank sentral sebagai pemegang otoritas moneter diberikan beberapa wewenang dalam melakukan tugasnya.
Pertama adalah tugas dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mengendalikan uang beredar dan suku bunga dalam perekonomian agar dapat mendukung pencapaian tujuan kestabilan nilai uang. Pengendalian ini tidak boleh dilakukan secara ketat dan berlebihan karena akan mempersulit dan menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi terkendala dan lesu. Sebaliknya, pengendalian uang beredar dan suku bunga tidak boleh terlalu longgar karena akan menyebabkan tidak terpeliharanya kestabilan nilai uang yang akan mendorong merosotnya kepercayaan masyarakat dan mempersulit perencanaan bisnis para pengusaha. Hasil analisa dan pemantauan yang dilakukan oleh bank sentral kemudian akan digunakan dalam melaksanakan kebijakan moneternya, melalui pengendalian jumlah uang beredar dan suku bunga.
Pengendalian terhadap jumlah uang beredar akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Menurut (Samuelson & Nordhaus, 2001), pengurangan jumlah uang beredar akan cenderung meningkatkan tingkat suku bunga dan memperketat syarat-syarat kredit. Dengan suku bunga yang lebih tinggi dan kekayaan yang lebih rendah, maka pengeluaran yang sensitif terhadap suku bunga, khususnya investasi, akan cenderung turun. Pada akhirnya, tekanan uang ketat, dengan pengurangan permintaan agregat, akan menurunkan pendapatan, output dan kesempatan kerja. Hal ini sesuai dengan pendapat (Dornbusch et al.,
2004), bahwa permintaan keseimbangan uang riil berespon negatif terhadap tingkat suku bunga. Kenaikan suku bunga akan menurunkan permintaan uang.
Menurut (Mankiw, 2003), jumlah uang beredar tergantung pada basis moneter, rasio deposito-cadangan, dan rasio deposito-uang kartal. Kenaikan basis moneter menyebabkan kenaikan yang proporsional jumlah uang beredar.
Penurunan rasio deposito-cadangan atau rasio deposito-uang kartal meningkatkan pengganda uang dan jumlah uang beredar.
2.4.1. Teori Kuantitas Uang (Quantity Teory of Money)
Teori kuantitas uang adalah teori yang mempelajari tentang permintaan sekaligus penawaran akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah hubungan antara penawaran uang (jumlah uang beredar) dengan nilai uang (tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat konsep (teori) mereka mengenai permintaan akan uang.
Perubahan jumlah uang beredar atau penawaran uang berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan nilai uang (Boediono, 1994).
2.4.1.1.Teori David Ricardo
Teori kuantitas uang terlebih dahulu oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa semakin banyaknya jumlah uang beredar maka akan memberikan pengaruh yang signifikan pada turunnya nilai uang. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika uang yang beredar semakin banyak dan barang yang beredar jumlahnya tetap, sehingga secara otomatis akan meningkatkan permintaan terhadap barang yang akan berakibat pada kenaikan harga uang. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
M = k x P
Dimana:
M = jumlah uang beredar, k = konstanta,
P = tingkat harga barang
2.4.1.2.Teori Irving Fisher
Teori kuantitas uang yang dikemukakan oleh Irving Fisher adalah sebagai upaya untuk memperbaiki kuantitas uang yang dikemukakan terlebih dahulu oleh David Ricardo. Dalam teori kuantitas uang Irving Fisher, dikemukakan bahwa kenaikan harga barang tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah uang beredar, melainkan juga kecepatan dari peredaran uang tersebut. Sehingga ketika kecepatan uang beredar tinggi, hal tersebut akan berpengaruh pada kenaikan harga barang, sedangkan ketika kecepatan peredaran uang rendah maka yang terjadi adalah sebaliknya yaitu terjadi penurunan harga barang. Hal ini dirumuskan sebagai berikut:
M x V = P x T Dimana:
M = jumlah uang beredar, V = kecepatan peredaran uang, P = tingkat harga secara umum, T = volume perdagangan
2.4.2. Teori Cambridge (Marshall-Pigou)
Teori Cambridge, berpokok pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (mean of exchange). Karena itu, teori-teori Klasik melihat kebutuhan uang (permintaan akan uang) dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi. Teori Cambridge mengatakan bahwa kegunaan dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang adalah karena uang (berbeda dengan bentuk kekayaan lain) mempunyai sifat likuid sehingga dengan mudah bisa ditukarkan dengan barang lain. Uang dipegang atau diminta oleh seseorang karena sangat mempermudah transaksi atau kegiatan-kegiatan ekonomi lain dari orang tersebut (sering disebut sebagai faktor “convenience‟).
Teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan akan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncanakannnya. Teoritisi Cambridge mengatakan bahwa permintaan selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor-faktor kelembagaan, juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga masyarakat, dan ramalan/harapan (expectations) dari para warga masyarakat mengenai masa mendatang. Faktor-faktor lain ini mempengaruhi permintaan akan uang seseorang, dan demikian juga mempengaruhi permintaan akan uang dari masyarakat secara keseluruhan (Boediono, 1994).
2.4.3. Teori Keynes
Teori uang Keynes adalah teori yang bersumber pada teori Cambridge, tetapi Keynes memang mengemukakan sesuatu yang betul-betul berbeda dengan teori moneter tradisi Klasik. Pada hakekatnya perbedaan ini terletak pada
penekanan oleh Keynes pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of value dan bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini kemudian terkenal dengan nama teori Liquidity Preference (Boediono, 1994).
Menurut Keynes, ada tiga tujuan masyarakat memegang uang, yaitu:
1. Tujuan transaksi
Keynes tetap menerima pendapat golongan Cambridge, bahwa orang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksi-transaksi yang dilakukan, dan permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin besar tingkat pendapatan nasional smakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan uang untuk memnuhi tujuan transaksi. Demikian pula Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang untuk tujuan transaksi inipun tidak merupakan sutu proporsi yang konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga.
2. Tujuan berjaga-jaga
Keynes juga membedakan permintaan akan uang untuk tujuan melakukan pembayaran-pembayaran yang tidak reguler atau yang diluar rencana transaksi normal, misalnya untuk pembayaran keadaan-keadaan darurat seperti kecelakaan, sakit, dan pembayaran yang tak terduga lain. Permintaan uang seperti ini disebut dengan permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga (precautionary motive). Menurut Keynes permintaan akan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang utuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan tingkat bunga.
3. Tujuan spekulasi
Motif dari pemegangan uang untuk tujuan spekulasi adalah terutama bertujuan untuk memperoleh “keuntungan” yang bisa diperoleh dari seandainya si pemegang uang tersebut meramal apa yang akan terjadi dengan betul.