• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH E-MONEY TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TESIS. Oleh PRETTY NAOMI SITOMPUL /IE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PENGARUH E-MONEY TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TESIS. Oleh PRETTY NAOMI SITOMPUL /IE"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH E-MONEY TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

TESIS

Oleh

PRETTY NAOMI SITOMPUL 187018023/IE

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)

ANALISIS PENGARUH E-MONEY TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains Dalam Program Studi Ilmu Ekonomi

Pada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

Oleh

PRETTY NAOMI SITOMPUL 187018023/IE

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)
(4)

Telah diuji pada Tanggal: 08 Juli 2020

DEWAN PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Murni Daulay, SE, M.Si Anggota : 1. Dr. Rujiman, MA

2. Irsad, SE, M.Soc.Sc, PhD

3. Dr. Ahmad Albar Tanjung, M.Si 4. Dr. M. Syafii, SE, M.Si

(5)

.

(6)

RIWAYAT HIDUP

1. Nama Lengkap : Pretty Naomi Sitompul Tempat/Tanggal Lahir : Medan/11 September 1990

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Pembangunan I No. 14/17 Glugur Darat II

Status : Menikah

Agama : Kristen Protestan

Kebangsaan/Suku : Indonesia/Batak Toba Nomor Handphone : 081283994092

2. Nama Orang Tua a. Ayah

Nama : Ir. Robert Sitompul

Alamat : Jl. Pembangunan I No. 14/17 Glugur Darat II

Pekerjaan : Wirausaha

b. Ibu

Nama : Rostiawan Simorangkir

Alamat : Jl. Pembangunan I No. 14/17 Glugur Darat II

Pekerjaan : PNS

c. Riwayat Pendidikan

a. SD Methodist 8 Medan : 1996-2002

b. SMP Katolik Budi Murni 1 Medan : 2002-2005

c. SMA Katolik Budi Murni 1 Medan : 2005-2008

d. S-1 UNSRI Studi Jurusan Ekonomi Pembangunan : 2008-2012 e. S-2 USU Studi Jurusan Magister Ilmu Ekonomi : 2018-2020

d. Riwayat Pekerjaan

a. Purchasing Assistant PT. VVF Indonesia : 2013-2015 b. Junior Buyer PT. Sanghiang Perkasa (Kalbe Nutritionals) : 2015-2017

(7)

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Irsyad, SE., M.Soc.Sc., Ph.D selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Murni Daulay, SE, M.Si selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

5. Bapak Dr. Rujiman, MA selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

6. Bapak Irsyad, SE., M. Soc.Sc., Ph.D selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

7. Bapak Dr. Ahmad Albar Tanjung, M.Si selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

(8)
(9)

ANALISIS PENGARUH E-MONEY TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh variabel e-money, jumlah uang beredar, inflasi, dan nilai tukar (kurs) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data runtun waktu bulanan dari bulan Januari 2009 hingga bulan Desember 2018 dengan jumlah sampel sebanyak 120 bulan. Model yang digunakan adalah Vector Error Correction Model (VECM) dengan menggunakan software EViews 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang terdapat hubungan antara variabel e-money, jumlah uang beredar, dan kurs terhadap pertumbuhan ekonomi.

E-money dan jumlah uang beredar berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemudian Inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan kurs memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan uji Kausalitas Granger tidak ada hubungan dua arah pada setiap variabel penelitian.

Kata Kunci : PDB, E-money, JUB, Inflasi, Kurs, VECM, EViews.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 9

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Landasan Teori ... 11

2.1.1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi ... 11

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi ... 11

2.1.2.1. Teori Ekonomi Klasik ... 11

2.1.2.2. Teori Harrod-Dommar ... 12

2.1.2.3. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik ... 14

2.1.3. Konsep Pertumbuhan Ekonomi ... 17

2.2. Sistem Pembayaran ... 18

2.3. Electronic Money (E-money) ... 21

2.4. Jumlah Uang Beredar ... 25

2.4.1. Teori Kuantitas Uang (Quantity Teory of Money) ... 29

2.4.1.1. Teori David Ricardo ... 29

2.4.1.2. Teori Irving Fisher ... 30

2.4.2. Teori Cambridge (Marshall-Pigou) ... 30

2.4.3. Teori Keynes ... 31

2.5. Teori Inflasi ... 33

2.5.1. Teori Kuantitas Uang ... 33

2.5.2. Inflasi Menurut Kaum Monetarist ... 34

2.5.3. Inflasi Menurut Keynes ... 36

2.6. Nilai Tukar (Kurs) ... 37

2.7. Penelitian Terdahulu ... 42

2.8. Kerangka Pemikiran ... 46

2.9. Hipotesis Penelitian ... 47

(12)

BAB III METODE PENELITIAN ... 49

3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 49

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 49

3.3. Model Analisis ... 49

3.3.1. Uji Akar - akar Unit (Unit Roots Test) ... 51

3.3.2. Uji Stabilitas Model VAR ... 52

3.3.3. Penentuan Lag Optimal ... 53

3.3.4. Uji Kointegrasi (Johansen Cointegration) ... 53

3.3.5. Estimasi Vector Error Correction Model (VECM) ... 55

3.3.6. Uji Kausalitas Granger (Granger Causality) ... 55

3.3.7. Impulse Response Function (IRF) ... 55

3.3.6. Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) ... 56

3.4. Definisi Operasional Variabel ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 58

4.1. Hasil Penelitian ... 58

4.1.1. Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia ... 58

4.1.2. Perkembangan E-money di Indonesia ... 59

4.1.3. Perkembangan Jumlah Uang Beredar di Indonesia ... 60

4.1.4. Perkembangan Inflasi di Indonesia ... 62

4.1.5. Perkembangan Nilai Tukar (Kurs) di Indonesia ... 64

4.1.6. Hasil Uji Akar-akar Unit (Unit Roots Test) ... 66

4.1.7. Hasil Uji Stabilitas Model VAR ... 68

4.1.8. Uji Lag Optimal (Lag Length Criteria) ... 68

4.1.9. Uji Kointegrasi (Cointegration Test) ... 69

4.1.10. Hasil Estimasi Vector Error Correction Model (VECM) ... 71

4.1.11. Hasil Uji Kausalitas Granger (Granger Causality) .... 73

4.1.12. Hasil Uji Impulse Response Function (IRF) ... 77

4.1.13. Hasil Uji Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) ... 81

4.2. Pembahasan ... 82

4.2.1. Pengaruh E-money terhadap PDB ... 83

4.2.2. Pengaruh JUB terhadap PDB ... 85

4.2.3. Pengaruh Inflasi terhadap PDB ... 86

4.2.4. Pengaruh Kurs terhadap PDB ... 87

BAB V KESIMPULANDAN SARAN ... 89

5.1. Kesimpulan ... 89

5.2. Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91

LAMPIRAN ... 96

(13)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1.1. Transaksi E-money ... 5

2.1. Penelitian Terdahulu ... 42

4.1. Hasil Uji Akar-akar Unit (Unit Roots Test) Dengan Pendekatan Augmented Dickey-Fuller Test (ADF) ... 67

4.2. Hasil Uji Stabilitas Model VAR ... 68

4.3. Hasil Uji Panjang Lag (Lag Length Criteria) ... 69

4.4. Hasil Uji Kointegrasi Johansen (Johansen Cointegration) ... 70

4.5. Hasil Pemodelan VECM Jangka Pendek ... 71

4.6. Hasil Pemodelan VECM Jangka Panjang ... 72

4.7. Hasil Uji Kausalitas Granger (Granger Causality) ... 74

4.8. Hasil Uji Impulse Response Function of PDB ... 78

4.9. Hasil Forecast Error Variance Decomposition of PDB ... 81

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1.1.Jumlah Kartu Debet/ATM, Kartu Kredit, dan E-money Beredar

Tahun 2009- 2018 di Indonesia ... 3

2.1. Inflasi akibat Peningkatan Money Supply ... 35

2.2. Kerangka Pemikiran ... 47

4.1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2009 – 2019 ... 58

4.2. Volume Transaksi E-money Indonesia Tahun 2009 – 2018 ... 60

4.3. Jumlah Uang Beredar Luas (M2) Indonesia Tahun 2009 – 2018 ... 61

4.4. Inflasi Indonesia Tahun 2009 – 2018 ... 63

4.5. Nilai Tukar/ Kurs Indonesia Terhadap Dollar AS Tahun 2009 – 2018 ... 64

4.6. Hasil Uji Impulse Response Function (IRF) E-money Terhadap PDB ... 78

4.7. Hasil Uji Impulse Response Function (IRF) JUB Terhadap PDB ... 79

4.8. Hasil Uji Impulse Response Function (IRF) INF Terhadap PDB .... 80

4.9. Hasil Uji Impulse Response Function (IRF) Kurs Terhadap PDB .. 80

4.10. Transaksi E-money di Indonesia Tahun 2009 – 2018 ... 84

(15)

DAFTAR SINGKATAN

ADF : Augmented Dickey-Fuller E-money : Electronic Money

FEVD : Forecast Error Variance Decomposition HPM : High-Powered Money

INF : Inflasi

IRF : Impulse Response Function JUB : Jumlah Uang Beredar PDB : Product Domestic Bruto VAR : Vector Autoregressive

VECM : Vector Error Correction Model

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Data Penelitian ... 96

2. Hasil Uji Akar Unit (Unit Roots Test) Menggunakan Augmented Dickey-Fuller test ... 100

3. Uji Stabilitas Model VAR ... 115

4. Uji Panjang Lag (Lag Length Criteria) ... 116

5. Uji Kointegrasi (Johansen Cointegration) ... 117

6. Hasil Estimasi Vector Error Correction Model (VECM) ... 120

7. Uji Kausalitas Granger (Granger Causality) ... 122

8. Uji Impulse Response Function (IRF) ... 123

9. Hasil Uji Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) ... 128

(17)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Fungsi uang dapat dilihat dalam transaksi ekonomi yaitu sebagai sistem pembayaran dan juga sebagai alat pembayaran. Sehingga dalam perekonomian suatu negara, uang merupakan indikator yang sangat penting. Hal ini dikarenakan uang sangat berkaitan dengan semua kegiatan ekonomi seperti, produksi, distribusi dan konsumsi. Pemerintah yaitu Bank sentral selaku otoritas moneter dalam melakukan kebijakan ekonomi, menggunakan instrumen uang khususnya di bidang keuangan dan perbankan (Istanto S & Fauzie, 2014).

Tiga pilar tugas utama Bank Indonesia selaku Bank Sentral berdasarkan UU No. 3 Tahun 2004 pasal 8, yaitu; 1) menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter; 2) mengatur dan menjaga sistem pembayaran; 3) mengatur dan mengawasi bank. Tugas khusus Bank Indonesia dalam mengatur dan menjaga sistem pembayaran, yaitu menerbitkan uang sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia melalui kegiatan mencetak uang, mengedarkan uang serta mengatur jumlah uang beredar.

Sistem pembayaran sangat berperan penting dalam memperlancar aktivitas perekonomian masyarakat dan berbagai bidang usaha. Peran sistem pembayaran sebagai infrastruktur sistem keuangan adalah faktor terpenting dalam mendukung stabilitas keuangan dan moneter. Base money (M0), narrow money (M1), dan broad money (M2) merupakan pembagian jenis uang di Indonesia.

(18)

Pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini, mengakibatkan pola dan sistem pembayaran dalam transaksi ekonomi mengalami perubahan secara signifikan. Kemajuan teknologi dalam sistem pembayaran ini mampu menggeser peranan uang tunai (currency) sebagai alat pembayaran ke dalam bentuk pembayaran non tunai yang yang lebih praktis, efisien dan ekonomis. Adanya dorongan dan perkembangan teknologi inilah yang dapat menghadirkan inovasi- inovasi serta pembayaran non tunai berbasis elektronik (e-payment) seperti kartu debit, kartu kredit dan e-money (Pramono, Yanuarti, Purusitawati, & Emmy, 2006).

Penelitian yang dilakukan oleh (Costa & De Grauwe, 2001) mengemukakan bahwa penggunaan alat pembayaran non tunai secara luas implikasinya dapat dilihat dari permintaan uang yang semakin berkurang terhadap uang yang diterbitkan oleh bank sentral (base money) sehingga akan memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan tugas bank sentral dalam melaksanakan kebijakan moneter, secara khusus dalam mengendalikan besaran moneter. Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh (Friedman, 1999), akibat dari perkembangan teknologi informasi dampaknya dapat terlihat dari berkurangnya peran base money dalam transaksi pembayaran.

Menurut (Mallat, 2006) instrumen pembayaran baru dapat meningkatkan kenyamanan dalam melakukan pembayaran dan akan menurunkan biaya transaksi.

Jika dibandingkan manfaat yang diperoleh dari pembayaran non tunai dengan instrumen pembayaran tradisional, dapat dilihat dari kemampuan dalam menghemat waktu dan kemampuan pembayaran non tunai di mana saja.

Pembayaran non tunai juga diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan

(19)

konsumen dengan mengurangi permintaan uang kertas dan uang logam dalam transaksi kecil.

Di bawah ini adalah data jumlah kartu debet/ATM, kartu kredit, dan e- money beredar tahun 2009-2018 di Indonesia:

Sumber : Bank Indonesia (data diolah)

Gambar 1.1

Jumlah Kartu Debet/ATM, Kartu Kredit, dan E-money Beredar Tahun 2009-2018 di Indonesia

Jika dilihat dari jumlah kartu debet/ATM, kartu kredit, dan e-money yang beredar, e-money terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pertumbuhan tersebut jauh meningkat apabila dibandingkan pertumbuhan kartu debet/ATM dan kartu kredit yang pertumbuhannya cenderung stagnan. Sebagai catatan, jumlah kartu debet/ATM di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 8,8 juta kartu dan jumlah kartu kredit di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 17,2 juta kartu.

Sementara jumlah e-money di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 167,2 juta kartu.

-50,000,000 0 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Jumlah Kartu Debet/ATM, Kartu Kredit, dan E-money Beredar

Kartu Debet/ ATM Kartu Kredit

E-Money Linear (E-Money)

(20)

Produk pembayaran elektronis atau yang sering disebut dengan e-money perkembangannya sangat pesat di beberapa negara, seperti Singapore pada tahun 2010 volume transaksi e-money mencapai 2,5 miliar transaksi dan meningkat menjadi 3,1 miliar transaksi pada tahun 2014, Malaysia pada tahun 2010 volume transaksi e-money mencapai 699 juta transaksi dan meningkat menjadi 1,1 miliar transaksi pada tahun 2014, Philippine pada 2010 volume transaksi e-money mencapai 138 juta transaksi dan meningkat menjadi 248 milliar transaksi pada 2014, dan Thailand pada tahun 2010 volume transaksi e-money mencapai 221 juta transaksi dan meningkat menjadi 787 juta transaksi pada 2014 (Kartika &

Nugroho, 2015). Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/12/PBI/2009 tentang e-money yang kini sudah diperbarui menjadi PBI Nomor: 18/

17/PBI/2016, e-money didefinisikan sebagai alat pembayaran dalam bentuk elektronik dimana nilai uangnya disimpan dalam media elektronik tertentu. Para pengguna terlebih dahulu menyetorkan uang ke penerbit kemudian akan tersimpan di dalam media elektronik untuk melakukan kegiatan bertransaksi. Nilai uang elektronik yang tersimpan dalam media elektronik akan berkurang sebesar nilai transaksi dan setelahnya dapat mengisi kembali (top-up). Penggunaan uang elektronik ini sebagai alat pembayaran yang inovatif dan praktis diharapkan dapat membantu kelancaran pembayaran kegiatan ekonomi yang bersifat massal, cepat dan mikro, sehingga perkembangannya dapat membantu kelancaran transaksi di berbagai bidang.

Salah satu laporan yang diterbitkan oleh Bank for International Settlement atau BIS (Bank Indonesia, 2006), e-money didefinisikan sebagai produk stored-value atau prepaid dimana sejumlah nilai uang (monetary value)

(21)

disimpan secara elektronis dalam suatu peralatan elektronis yang dimiliki seseorang. Seseorang dapat memperoleh „nilai elektronis‟ ini dengan cara menukarkan sejumlah uang tunai atau dengan pendebitan rekeningnya di bank yang kemudian disimpan dalam peralatan elektronis miliknya. Dengan peralatan tersebut, pemiliknya dapat melakukan pembayaran atau menerima pembayaran, dimana nilainya akan berkurang pada saat digunakan untuk melakukan pembayaran atau bertambah jika menerima pembayaran atau pada saat pengisian kembali. E-money dapat digunakan untuk berbagai keperluan pembayaran (multi purpose), berbeda dengan kebanyakan single-prepaid card yang hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu seperti kartu telepon.

E-money adalah salah satu alternatif yang sangat potensial dalam mendorong peningkatan inklusi keuangan. Data Bank Indonesia mencatat, jumlah e-money yang beredar pada 2018 sebanyak 167,2 juta kartu. Sementara, volume transaksi melalui e-money mencapai 2,9 miliar kali dengan nilai Rp. 47,1 triliun.

Berdasarkan data di bawah ini dapat dilihat bahwa penggunaan e-money berkembang sangat pesat.

Tabel 1.1

Transaksi E-money Tahun 2009-2018 di Indonesia

Tahun E-money Beredar

Volume Transaksi

E-money

Nominal Transaksi

E-money (Juta Rupiah)

Uang Beredar

Luas (M2) (Milliar Rupiah)

Persentase Nominal Transaksi

E-money (%) 2009 3.016.272 17.436.631 519.213 2.141.384 0,02 2010 7.914.018 26.541.982 628.827 2.471.206 0,03 2011 14.299.726 41.060.149 981.297 2.877.220 0,03 2012 21.869.946 100.623.916 1.971.550 3.307.508 0,06 2013 36.225.373 137.900.779 2.907.432 3.730.409 0,08 2014 35.738.233 203.369.990 3.319.556 4.173.327 0,08

(22)

2015 34.314.795 535.579.528 5.283.018 4.548.800 0,12 2016 51.204.580 683.133.352 7.063.689 5.004.977 0,14 2017 90.003.848 943.319.933 12.375.469 5.419.165 0,23 2018 167.205.578 2.922.698.905 47.198.616 5.760.046 0,82

Sumber : Bank Indonesia (data diolah)

Data Bank Indonesia juga mencatat bahwa pada tahun 2009 persentase nominal transaksi e-money adalah sebesar 0,02 persen dari uang beredar luas (M2). Sementara pada tahun 2018 persentase nominal transaksi e-money adalah sebesar 0,82 persen dari uang beredar luas (M2). Berdasarkan data di atas, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan e-money dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup pesat. Beberapa perusahaan telekomunikasi dan perbankan terlah mengeluarkan layanan dan produk e-money, seperti BNI Tapcash, Mandiri e-money, BCA Flazz, BRI Brizzi, dan T-cash. Hal ini juga dapat dilihat melalui pelaku bisnis startup yaitu di bidang fintech yang skalanya lebih kecil namun pergerakannya juga melakukan hal yang sama, seperti Tokocash oleh Tokopedia, Bukadompet oleh Bukalapak dan Gopay oleh Gojek, dan masih banyak lagi.

Indonesia sebagai negara perekonomian terbuka kecil, peningkatan penggunaan alat pembayaran e-money akan berdampak terhadap penurunan permintaan uang di masyarakat. Secara teoritis, penurunan permintaan uang ini akan menyebabkan penurunan tingkat suku bunga di pasar uang karena masyarakat akan lebih memilih menggunakan alat pembayaran non tunai yang dalam waktu bersamaan dapat menyimpan uang di bank yang bersangkutan (Mankiw, 2009). Hal ini membuat biaya pinjaman lebih kompetitif, sehingga tingkat konsumsi dan investasi akan meningkat, yang dampaknya akan terlihat

(23)

pada peningkatan output riil nasional. Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan e-money akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi.

Ada beberapa studi empiris yang meneliti pengaruh e-money terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Pembayaran elektronik seperti yang diteliti oleh (Wondwossen & Tsegai, 2005) memiliki sejumlah besar manfaat ekonomi terlepas dari kenyamanan dan keamanannya. Pada saat yang maksimal, manfaat- manfaat ini akan berpengaruh sangat besar dalam membangun ekonomi suatu negara. Pembayaran elektronik dengan demikian dapat menurunkan biaya transaksi yang dapat merangsang konsumsi dan PDB yang lebih tinggi, meningkatkan efisiensi pemerintah, meningkatkan intermediasi keuangan dan meningkatkan transparansi keuangan. Selanjutnya dalam penelitian ini dikatakan bahwa pemerintah memiliki peranan yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan di mana manfaat ini dapat dicapai dengan cara yang konsisten dengan rencana pembangunan.

Menurut (Zandi, Koropeckyj, Singh, & Matsiras, 2016), peningkatan pembayaran elektronik diperkirakan akan berdampak pada tingkat konsumsi.

Estimasi tersebut dapat dilihat dari kenaikan konsumsi terhadap output ekonomi yang diukur dengan PDB ekonomi negara itu sendiri. Kemudian (Tee & Ong, 2016) menemukan bahwa kebijakan apa pun yang terkait dengan pembayaran nontunai tidak akan secara langsung mempengaruhi perekonomian, tetapi dampak peningkatan pembayaran nontunai secara signifikan akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi kedepannya.

(24)

Pertumbuhan ekonomi dapat dijadikan salah satu indikator makro- ekonomi yang menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara. Tak terkecuali bagi negara berkembang seperti Indonesia, pertumbuhan ekonomi selalu menjadi pusat perhatian untuk melihat tingkat perekonomian negara tersebut. Untuk mencapai tingkat perekonomian yang tinggi dan stabil tidaklah mudah, harus diikuti oleh kemampuan variabel makro-ekonomi dalam mengatasi setiap permasalahan (Seprillina, 2013). Kebijakan pemerintah ditempuh untuk memulihkan kestabilan ekonomi sehingga didapatkan perkembangan nilai tukar rupiah yang menguat dan menunjukkan kestabilan dalam beberapa tahun belakangan ini. Beberapa kemajuan tersebut tidak lepas dari adanya penerapan kebijakan moneter yang didukung oleh adanya perbaikan-perbaikan di sisi mikro dan perbaikan bank dalam penyaluran kreditnya ke sektor riil, walaupun pertumbuhannya belum seperti yang diharapkan.Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan proses yang berkelanjutan merupakan suatu kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi. Hal ini bisa diperoleh melalui peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau Produk Domestik Bruto (PDB) pada setiap tahunnya. Jadi dalam pengertian makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan PDB yang berati juga pendapatan nasional (T. Tambunan, 2001).

Pemerintah juga menggunakan kebijakan moneter untuk menjaga kestabilan perekonomian. Untuk mengurangi ketidakstabilan dalam perekonomian, pemerintah melalui bank sentral akan melakukan kebijakan moneter. Menurut (Nanga, 2005), kebijakan moneter yang dilakukan pemerintah yaitu dengan cara mengendalikan tingkat bunga (interest rates) dan jumlah uang beredar (money supply). Kebijakan ini untuk mempengaruhi perkembangan uang

(25)

beredar, suku bunga, suku bunga kredit, dan nilai tukar yang merupakan variabel moneter dalam mencapai sasaran yang diinginkan, yaitu pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, stabilitas harga, dan keseimbangan neraca pembayaran (Natsir, 2011). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan menganalisis pengaruh e-money serta variabel moneter seperti jumlah uang beredar, inflasi, dan nilai tukar (kurs) dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pengaruh e-money terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

2. Bagaimana pengaruh jumlah uang beredar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

3. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

4. Bagaimana pengaruh nilai tukar (kurs) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh e-money terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

(26)

2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh jumlah uang beredar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

3. Mengetahui dan menganalisis pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

4. Mengetahui dan menganalisis pengaruh nilai tukar (kurs) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Bagi pemerintah, dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan publik yang tepat untuk menciptakan sistem pembayaran terbuka dan kompetitif guna memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

2. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai bidang ekonomi moneter khususnya yang membahas mengenai e-money dan variabel moneter seperti jumlah uang beredar, inflasi, dan nilai tukar (kurs).

3. Bagi peneliti sendiri dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat mengaplikasikan ilmu yang telah di terima dalam perkuliahan untuk masyarakat.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teoritis

2.1.1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Menurut (Sukirno, 2007), Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari perkembangan ekonomi dan tercapainya kemakmuran suatu perekonomian dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang termasuk dalam pengertian pertumbuhan ekonomi ini, yaitu proses pertumbuhan yang akan dicapai, peningkatan pendapatan perkapita, pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Produk Domestik Bruto (PDB) dicerminkan dari kinerja ekonomi, dimana semakin tinggi PDB suatu negara maka akan semakin bagus kinerja ekonomi dinegara tersebut. PDB diperoleh dari pendapatan total atau pengeluaran total atas output barang dan jasa dalam waktu tertentu. Menurut teori Keynes, faktor-faktor yang mempengaruhi PDB adalah konsumsi (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan expor netto (NX). Faktor-faktor ini juga mempengaruhi faktor lainnya seperti tingkat harga, tingkat inflasi, money supply, suku bunga, nilai tukar dan tingkat pendapatan.

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi 2.1.2.1.Teori Ekonomi Klasik

Adam Smith adalah penemu pertama yang membahas mengenai pertumbuhan ekonomi secara sistematis, yaitu dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations. Smith mengatakan bahwa

(28)

masyarakat bebas melakukan kegiatan ekonomi yang dapat mendukung dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya (Sukirno, 2007).

Menurut Smith, sistem ekonomi pasar bebas, perluasan pasar, dan spesialisasi serta kemajuan teknologi akan menghasilkan tingkat efisiensi yang mampu membawa ekonomi menjadi full employment, dan pertumbuhan ekonomi akan mengarah pada posisi stasioner (stationary state). Dikatakan stasioner jika seluruh sumber daya alam sudah dimanfaatkan. Fungsi pertumbuhan ekonomi yang digambarkan oleh teori klasik:

Q = Y = f (K, L, R, T)

Dimana:

Q = Output Y = Pendapatan K = Kapital L = Labor R = Tanah T = Teknologi

2.1.2.2.Teori Harrod-Domar

Teori ini dikemukakan oleh Harrod (1948) di Inggris dan Domar (1957) di Amerika Serikat yaitu mengenai pertumbuhan ekonomi dimana proses perhitungan yang berbeda namun hasilnya sama, sehingga teori ini dikenal dengan teori Harrod-Domar. Teori ini merupakan pelengkap dari teori Keynes, dimana pandangan Keynes dilihat dari pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek

(29)

sedangkan Harrod-Domar melihat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang (Sukirno, 2007).

Asumsi-asumsi Teori Harrod-Domar, yaitu : 1. Perekonomian bersifat tertutup

2. Hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan

3. Proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constant return to scale), serta 4. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja (n) adalah konstan dan sama dengan

tingkat pertumbuhan penduduk.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut Harrod-Domar membuat analisis dan membuat kesimpulan yaitu jika ingin mencapai pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang baik (seluruh kenaikan produksi dapat diserap oleh pasar) maka syarat-syarat keseimbangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :

g = K = n,

Dimana :

g : Growth (tingkat pertumbuhan output) K : Capital (tingkat pertumbuhan modal) n : Tingkat pertumbuhan angkatan kerja

Tabungan (S) dan investasi (I) dikatakan seimbang apabila ada kaitan yang saling menyeimbangkan, sedangkan peran k untuk menghasilkan tambahan produksi ditentukan oleh v (capital output ratio = rasio modal-output). Apabila tabungan dan investasi adalah sama (I = S), maka :

(30)

Agar pertumbuhan tersebut dikatakan baik, harus terpenuhi g = n = s/v.

Karena s, v, dan n bersifat independen maka dalam perekonomian tertutup, sulit dicapai kondisi pertumbuhan baik. Dasar teori Harrod-Domar yaitu dilihat dari mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah. Akan tetapi, hasil akhirnya pemerintah harus merencanakan investasi agar terjadi keseimbangan dalam sisi penawaran barang dan sisi permintaan barang.

2.1.2.3.Teori Pertumbuhan Neoklasik

Teori pertumbuhan neoklasik pertama sekali dikembangkan oleh Robert M.Solow dari Amerika Serikat dan T.W. Swan dari Australia. Model Solow- Swan menggunakan unsur pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi, dan besarnya output yang saling berinteraksi. Berbeda dengan model Harrod-Domar, Sollow-Swan memasukkan unsur kemajuan teknologi dalam modelnya. Selain itu, Solow-Swan menggunakan model fungsi produksi yang mengakibatkan adanya substitusi antara kapital (K) dan tenaga kerja (L). Dengan demikian, syarat-syarat pertumbuhan ekonomi yang baik dalam model Solow- Swan kurang restriktif disebabkan adanya subsitusi antara modal dan tenaga kerja.

Hal ini berarti adanya fleksibilitas dalam rasio modal-output dan rasio modal- tenaga kerja.

Teori Solow-Swan melihat bahwa dalam banyak hal mekanisme pasar dapat menciptakan keseimbangan sehingga pemerintah tidak perlu terlalu banyak mencampuri/mempengaruhi pasar. Campur tangan pemerintah hanya sebatas

K

I

= =

=

S

=

S S

K Y K K/Y V

Y S/Y

(31)

kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Hal ini membuat teori mereka dan pandangan para ahli lainnya yang sejalan dengan pemikiran mereka dinamakan teori Neoklasik.

Tingkat pertumbuhan berasal dari tiga sumber, yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja, dan peningkatan teknologi. Teknologi ini terlihat dari peningkatan skill atau kemajuan teknik sehingga produktivitas perkapita meningkat. Dalam model tersebut, masalah teknologi dianggap fungsi dari waktu. Oleh sebab itu, fungsi produksinya berbentuk :

Yi = fi (K,L,t)

Dalam kerangka ekonomi wilayah, Richardson kemudian menderivasikan rumus di atas menjadi sebagai berikut (Tarigan, 2017):

Yi = ai ki + (1-ai) ni + T

Di mana :

Yi = besarnya output

ki = tingkat pertumbuhan output ni = tingkat pertumbuhan tenaga kerja Ti = kemajuan teknologi

a = bagian yang dihasilkan oleh faktor modal

(1-a) = bagian yang dihasilkan oleh faktor di luar modal

Agar faktor produksi selalu berada pada kapasitas penuh perlu mekanisme yang menyamakan investasi dengan tabungan (dalam kondisi full employment).

Dengan demikian, pertumbuhan mantap membutuhkan syarat bahwa :

(32)

MPKi = Marginal productivity of capital

Jika p sudah tertentu dan a konstan maka Y dan K harus tumbuh dengan tingkat yang sama. Syarat keseimbangan bagi keseluruhan system adalah

Suatu daerah akan mengimpor modal jika tingkat pertumbuhan modalnya lebih kecil dari rasio tabungan domestik terhadap modal. Dalam pasar sempurna marginal productivity of labour (MPL) adalah fungsi langsung tapi bersifat terbalik dari marginal productivity of capital (MPK). Hal ini bisa dilihat dari nilai rasio modal tenaga kerja (K/L).

Apabila tiap daerah dimisalkan menghasilkan output yang homogen dan fungsi produksi yang identik maka di daerah yang K/L-nya tinggi terdapat upah riil yang tinggi dan MPK yang rendah. Adapun di daerah yang K/L-nya rendah terdapat upah riil yang rendah tetapi MPK yang tinggi. Sebagai akibatnya modal akan mengalir dari daerah yang upahnya tinggi ke daerah yang upahnya rendah karena akan memberikan balas jasa (untuk modal) yang lebih tinggi. Sebaliknya, tenaga kerja akan mengalir dari daerah upah rendah ke daerah upah tinggi.

Mekanisme di atas pada akhirnya menciptakan balas jasa faktor-faktor produksi disemua daerah sama. Dengan demikian, perekonomian regional/pendapatan per kapita regional akan mengalami proses konvergensi (makin sama).

MPKi = a Yi Ki = p

(33)

2.1.3. Konsep Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi terbentuk dari berbagai sektor ekonomi yang secara tidak langsung menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan dampak dari kebijakan pemerintah yang dilaksanakan khususnya di bidang ekonomi. Bagi daerah, indikator ini dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan dalam jangka panjang.

Pertumbuhan merupakan tolak ukur dari keberhasilan pembangunan dan hasil pertumbuhan ekonomi bisa dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat, baik dengan sendirinya maupun melalui campur tangan pemerintah. Pertumbuhan harus berjalan secara bersamaan dan terencana agar tercapai pemerataan kesempatan dan pembangunan hasil-hasil pembangunan yang lebih merata.

Dengan demikian, daerah yang miskin dan tidak produktif akan menjadi produktif, sehingga akan mempercepat pertumbuhan itu sendiri. Strategi ini dikenal dengan istilah “Redistribution With Growth”.

Pertumbuhan ekonomi yang fluktuasi secara riil dari tahun ke tahun dapat dilihat melalui penyajian PDB atas harga konsumen secara berkala, yaitu apabila pertumbuhannya positif maka terlihat adanya peningkatan perekonomian, sebaliknya apabila negatif menunjukkan terjadinya penurunan. Pertumbuhan juga biasanya disertai dengan proses sumber daya dan dana negara, serta disertai dengan terjadinya pergeseran pekerjaan dari kegiatan yang relatif rendah produktifitasnya menjadi kegiatan yang lebih tinggi. Sehingga pertumbuhan ekonomi secara potensial cenderung meningkatkan produktifitas pekerja, dan meningkatkan skala unit usaha.

(34)

Pertumbuhan ekonomi juga merupakan perubahan nilai kegiatan ekonomi dari tahun ke tahun untuk satu periode ke periode yang lain dengan mengambil rata-ratanya dalam waktu yang sama, sehingga untuk mengatakan tingkat pertumbuhan ekonomi maka harus dibandingkan dengan tingkat pendapatan nasional dari tahun ke tahun atau dapat diformulasikan sebagai berikut :

=

atau :

=

Dimana :

gt = pertumbuhan ekonomi GNP = Real Gross National Product Δ = perubahan

2.2. Sistem Pembayaran

Sistem pembayaran menurut (Pohan, 2011) adalah suatu sistem yang melakukan pengaturan kontrak, fasilitas pengoperasian dan mekanisme teknis yang digunakan untuk penyampaian, pengesahan, dan penerimaan instruksi pembayaran, serta pemenuhan kewajiban pembayaran yang dikumpulkan melalui pertukaran “nilai” antar perorangan, bank dan lembaga lainnya baik domestik maupun antarnegara (cross border).

(35)

Bank Indonesia dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999 menjelaskan sistem pembayaran adalah suatu sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga, dan mekanisme yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Sistem pembayaran telah mengalami evolusi selama beberapa abad, sejalan dengan perubahan sifat dan penggunaan uang sebagai alat pembayaran. Dalam sejarah, koin merupakan jenis uang pertama yang banyak digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat sebagai alat pembayaran. Dalam perkembangannya, peran koin sebagai alat pembayaran dilengkapi dengan kehadiran uang kertas yang dianggap lebih nyaman dan lebih memudahkan proses transaksi karena lebih ringan dengan biaya pembuatan yang lebih murah.

Perkembangan peran uang sebagai alat pembayaran terus mengalami perubahan wujud yaitu dalam suatu bentuk alat pembayaran cek atau giral yang memungkinkan pembayaran dengan cara transfer dana dari saldo rekening antar institusi keuangan, khususnya bank. Pada dasarnya kita dapat mengganggap cek atau giral sebagai jenis pertama alat pembayaran non tunai. Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai instrumen pembayaran non tunai atau elektronik mulai bermunculan dalam berbagai wujud antara lain phone banking, mobile banking, ATM, kartu debit, kartu kredit, smart card, dan sebagainya.

Dalam praktiknya sehari-hari, ada dua jenis sistem pembayaran yaitu pembayaran tunai (cash) dan pembayaran non tunai (non-cash).

(36)

1. Pembayaran Tunai (cash)

Penggunaan instrumen tunai dalam transaksi pembayaran banyak dipilih dengan alasan kemudahan. Karena dengan menggunakan uang tunai pada saat seseorang melakukan jual beli barag atau jasa maka pada saat itu juga uang tunai dapat digunakan sebagai alat pembayarannya untuk diterima. Jika semua pembelian barang atau jasa menggunakan uang tunai maka semua pelaku ekonomi akan menyimpan persediaan uang tunai dalam jumlah relatif besar untuk memenuhi semua kewajiban pembayarannya. Agar lebih efisien dan lebih aman, maka digunakan alat pembayaran non-tunai yang penggunaannya melibatkan lembaga perantara yaitu bank.

2. Pembayaran Non-Tunai (Cashless)

Pembayaran non-tunai melibatkan jasa perbankan dalam penggunaannya.

Bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat pada umumnya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran bagi nasabahnya. Jasa dalam lalu lintas pembayaran yang diberikan oleh bank tersebut antara lain melalui penelitian cek/bilyet giro untuk penarikan simpanan giro, tranfer dana dari satu rekening simpanan kepada rekening simpanan lainnya pada bank yang sama atau pada bank yang berbeda, penerbitan kartu debet, penerbitan kartu kredit, dan lain-lain.

Pembayaran antar bank dengan cek dan bilyet giro diproses melalui SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia). SKNBI adalah sistem net settlement multilateral tangguhan (deffered multilateral net settlement). Untuk instrumen pembayaran berbasis kartu (kredit dan kartu debit/ATM), penyelesaian

(37)

pada level antar bank juga dilakukan secara net multilateral melalui sistem BIRTGS (Bank Indonesia – Real Time GrossSettlement) atau bank komersial melalui rekening di bank-bank komersial yang ditunjuk sebagai bank pembayaran (Bank Indonesia, 2006).

2.3. Electronic Money (E-money)

Pengertian e-money mengacu pada definisi yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS) dalam salah satu publikasinya pada bulan Oktober 19961. Dalam publikasi tersebut e-money didefinisikan sebagai “stored-value or prepaid products in which a record of the funds or value available to a consumer is stored on an electronic device in the consumer’s possession” (produk stored- value atau prepaid dimana sejumlah nilai uang disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang) (Hidayati, Nuryanti, Firmansyah, Fadly, &

Darmawan, 2006). Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor: 16/8/PBI/2014, Electronic Money (E-money) adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: (Pramono et al., 2006)

1. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit,

2. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip,

3. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut,

(38)

4. Nilai uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan.

Menurut Bank Indonesia, e-money didefinisikan sebagai alat pembayaran dalam bentuk elektronik dimana nilai uangnya disimpan dalam media elektronik tertentu. Penggunanya harus menyetorkan uangnya terlebih dahulu kepada penerbit dan disimpan dalam media elektronik sebelum menggunakannya untuk keperluan bertransaksi. Ketika digunakan, nilai e-money yang tersimpan dalam media elektronik akan berkurang sebesar nilai transaksi dan setelahnya dapat mengisi kembali (top-up). Media elektronik untuk menyimpan nilai e-money dapat berupa chip atau server. Penggunaan e-money ini sebagai alat pembayaran yang inovatif dan praktis diharapkan dapat membantu kelancaran pembayaran kegiatan ekonomi yang bersifat massal, cepat dan mikro, sehingga perkembangannya dapat membantu kelancaran transaksi di jalan tol, di bidang transportasi seperti kereta api maupun angkutan umum lainnya atau transaksi di minimarket, food court, atau parkir.

Penggunaan e-money sebagai alat pembayaran dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Memberikan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan transaksi transaksi pembayaran tanpa perlu membawa uang tunai.

2. Tidak lagi menerima uang kembalian dalam bentuk barang (seperti permen) akibat padagang tidak mempunyai uang kembalian bernilai kecil (receh).

(39)

3. Sangat applicable untuk transaksi massal yang nilainya kecil namun frekuensinya tinggi, seperti: transportasi, parkir, tol, fast food, dll.

Selain terdapat beberapa manfaat dari e-money, terdapat risiko yang perlu disikapi dengan kehati-hatian dari para penggunanya, seperti :

1. Risiko uang elektronik hilang dan dapat digunakan oleh pihak lain, karena pada prinsipnya uang elektronik sama seperti uang tunai yang apabila hilang tidak dapat diklaim kepada penerbit.

2. Risiko karena masih kurang pahamnya pengguna dalam menggunakan uang elektronik, seperti pengguna tidak menyadari uang elektronik yang digunakan ditempelkan 2 (dua) kali pada reader untuk suatu transaksi yang sama sehingga nilai uang elektronik berkurang lebih besar dari nilai transaksi.

E-money tidak sama dengan sistem pembayaran elektronis kartu yang lain seperti kartu kredit dan kartu debet. Kartu kredit dan kartu debet “access products” bukan “prepaid products”. Secara umum perbedaan dari “prepaid product” dan “access product” adalah sebagai berikut:

1. Prepaid product (e-money)

- Stored value, yaitu dimana nilai uang sudah tercatat pada instrumen e- money,

- Dana yang tersimpan dalam e-money merupakan milik konsumen,

- Proses transaksi bisa dilakukan secara off-line yaitu dengan cara melakukan verifikasi pada level merchant (point of sale), tanpa harus on- line ke komputer issuer.

(40)

2. Access product (kartu debet dan kartu kredit)

- Proses pencatatan dana pada kartu tidak dibutuhkan, - Dana diolah sepenuhnya oleh bank,

- Instrumen kartu digunakan untuk melakukan akses secara on-line ke komputer issuer pada saat transaksi. Hal ini guna memperoleh otorisasi dalam proses pembayaran melalui rekening nasabah, baik itu rekening pinjaman (kartu kredit) maupun rekening simpanan (kartu debet). Setelah issuer melakikan otorisasi, rekening nasabah secara otomatis akan langsung terdebet.

Penelitian yang dilakukan oleh kelompok kerja BIS mengenai perkembangan e-money di berbagai negara, mengemukakan bahwa produk e- money yang berkembang pada saat ini tergolong pada kelompok card-based product. Beberapa contoh card-based product yang berkembang di negara-negara lain antara lain, Proton, Visa Cash, Octopus Card, Mondex, dan sebagainya.

Menurut (Andresen, 2013) dalam sistem saat ini dengan diciptakannya kredit uang melalui pinjaman bank, pengendalian uang, sebagaimana ditekankan dalam ekonomi monetaris dan arus utama, tidak mungkin terjadi karena kredit uang yang bertentangan dengan HPM yang tumbuh secara endogen. Monopoli Central Bank dalam proses penciptaan uang dan mengakibatkan semua uang adalah HPM, akan membuat pengendalian yang lebih layak. Dengan uang elektronik, seseorang tidak hanya dapat meningkatkan kontrol kuantitas uang tetapi juga mencapai kontrol perputaran uang, yang sampai sekarang sebagian besar diabaikan. Sementara kuantitas uang (M) tidak dapat diubah secara signifikan dalam jangka pendek melainkan dapat dilakukan dengan perputaran

(41)

uang (V). Dengan memiliki kendali atas M dan V, seseorang dapat melakukan kontrol kuat terhadap produk mereka, Y = MV. Dimana M menurun secara perlahan,V meningkat dengan kuat dan cepat. Oleh karena itu Y meningkat dengan cepat. Dan pemerintah dapat mengeksploitasi penyusutan M dengan menciptakan korespondensi aliran HPM.

Penelitian yang dilakukan (Suseco, 2016) mengatakan bahwa e-money dapat berkembang pesat di negara-negara yang berpenghasilan rendah dan negara- negara berpenghasilan menengah. E-money dapat tumbuh dengan baik seiring dengan meningkatnya perekonomian. Di sisi lain, e-money menghadapi kondisi yang suram di negara-negara berpenghasilan tinggi. Hal ini merupakan peluang bagi pemerintah di negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk meningkatkan penggunaan uang elektronik. Sementara pada saat yang sama dapat membangun infrastruktur yang lebih baik dan lebih dapat didistribusikan.

2.4. Jumlah Uang Beredar

Dari sudut pandang ekonomi, uang (money) merupakan stok aset-aset yang digunakan untuk transaksi. Uang adalah sesuatu yang diterima/dipercaya masyarakat sebagai alat pembayaran atau transaksi (Rahardja & Manurung, 2004).

Jumlah uang beredar yaitu uang yang berada di masyarakat. Dalam perekonomian modern seperti sekarang, jumlah uang beredar dikendalikan oleh Bank Sentral selaku pemegang otoritas moneter. Penciptaan jumlah uang beredar ini merupakan suatu proses hasil interaksi antara permintaan dan penawaran uang, dan bukan sekedar pencetakan uang atau suatu keputusan pemerintah belaka.

Komposisi jumlah uang beredar di masyarakat dapat kita bedakan menjadi dua

(42)

bagian. Pertama adalah uang beredar dalam pengertian sempit, yang digunakan untuk transaksi yaitu M1 (narrow money). Kedua adalah uang beredar dalam arti luas yang biasa disebut dengan M2 (broad money) (Sukirno, 2014).

Jumlah uang beredar adalah nilai keseluruhan uang yang berada di tangan masyarakat. Jumlah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) adalah jumlah uang uang beredar yang terdiri atas uang kartal dan uang giral.

Perkembangan jumlah uang beredar mencerminkan atau seiring dengan perkembangan ekonomi. Biasanya bila perekonomian bertumbuh dan berkembang, jumlah uang beredar juga bertambah, sedang komposisinya berubah (Mishkin, 2008). Cara menghitung jumlah uang beredar (M2), yaitu:

M2 = M1 + TD + SD

Di mana,

M1 = uang dalam arti sempit

TD = Time Deposits (deposito berjangka) SD = Saving Deposits (saldo tabungan)

Secara teknis, yang dihitung sebagai jumlah uang beredar adalah uang yang benar-benar berada di tangan masyarakat. Uang yang berada di tangan bank (bank umum dan bank sentral), serta uang kertas dan logam (kuartal) milik pemerintah tidak dihitung sebagai uang beredar.

Perkembangan jumlah uang beredar mencerminkan atau seiring dengan perkembangan ekonomi. Biasanya bila perekonomian tumbuh dan berkembang, jumlah uang beredar juga bertambah, sedang komposisinya berubah. Bila perekonomian makin maju, porsi penggunaan uang kartal makin sedikit,

(43)

digantikan uang giral. Biasanya juga bila perekonomian makin meningkat, komposisi M₁ dalam peredaran uang semakin kecil, sebab porsi uang kuasi makin besar (Rahardja & Manurung, 2004).

Di Amerika Serikat, terdapat empat agregat moneter utama, yaitu: uang kartal, M1, M2, M3 dan L (Dornbusch, Fischer, & Startz, 2004).

a. M1 terdiri dari aset-aset yang digunakan secara langsung, instan dan tanpa hambatan dalam melakukan pembayaran. Aset ini bersifat likuid. M1 berhubungan dengan kebanyakan definisi tradisional mengenai uang sebagai alat pembayaran.

b. M2, terdiri dari M1 ditambah aset yang tidak likuid secara instan, penarikan deposito berjangka misalnya memerlukan pemberitahuan kepada institusi penyimpanan; dana mutual pasar uang menentukan nilai minimum yang dapat diambil.

c. M3, terdiri dari M2 ditambah item yang tidak pernah dilihat kebanyakan orang, yang disebut large negotiable deposits dan repurchase agreements.

Sebagian dimiliki perusahaan, tetapi sebagian juga dimiliki individu.

d. L, terdiri dari M3 ditambah beberapa aset likuid yang bersubstitusi dekat dengan uang, namun bukan uang itu sendiri.

Dalam literatur dikenal dua jenis kebijakan moneter, yaitu kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi, yang antara lain dilakukan melalui peningkatan uang beredar. Sebaliknya, kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk

(44)

memperlambat kegiatan ekonomi, yang antara lain dilakukan melalui penurunan uang beredar.

Untuk menjaga kestabilan nilai mata uang, Bank sentral sebagai pemegang otoritas moneter diberikan beberapa wewenang dalam melakukan tugasnya.

Pertama adalah tugas dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mengendalikan uang beredar dan suku bunga dalam perekonomian agar dapat mendukung pencapaian tujuan kestabilan nilai uang. Pengendalian ini tidak boleh dilakukan secara ketat dan berlebihan karena akan mempersulit dan menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi terkendala dan lesu. Sebaliknya, pengendalian uang beredar dan suku bunga tidak boleh terlalu longgar karena akan menyebabkan tidak terpeliharanya kestabilan nilai uang yang akan mendorong merosotnya kepercayaan masyarakat dan mempersulit perencanaan bisnis para pengusaha. Hasil analisa dan pemantauan yang dilakukan oleh bank sentral kemudian akan digunakan dalam melaksanakan kebijakan moneternya, melalui pengendalian jumlah uang beredar dan suku bunga.

Pengendalian terhadap jumlah uang beredar akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Menurut (Samuelson & Nordhaus, 2001), pengurangan jumlah uang beredar akan cenderung meningkatkan tingkat suku bunga dan memperketat syarat-syarat kredit. Dengan suku bunga yang lebih tinggi dan kekayaan yang lebih rendah, maka pengeluaran yang sensitif terhadap suku bunga, khususnya investasi, akan cenderung turun. Pada akhirnya, tekanan uang ketat, dengan pengurangan permintaan agregat, akan menurunkan pendapatan, output dan kesempatan kerja. Hal ini sesuai dengan pendapat (Dornbusch et al.,

(45)

2004), bahwa permintaan keseimbangan uang riil berespon negatif terhadap tingkat suku bunga. Kenaikan suku bunga akan menurunkan permintaan uang.

Menurut (Mankiw, 2003), jumlah uang beredar tergantung pada basis moneter, rasio deposito-cadangan, dan rasio deposito-uang kartal. Kenaikan basis moneter menyebabkan kenaikan yang proporsional jumlah uang beredar.

Penurunan rasio deposito-cadangan atau rasio deposito-uang kartal meningkatkan pengganda uang dan jumlah uang beredar.

2.4.1. Teori Kuantitas Uang (Quantity Teory of Money)

Teori kuantitas uang adalah teori yang mempelajari tentang permintaan sekaligus penawaran akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah hubungan antara penawaran uang (jumlah uang beredar) dengan nilai uang (tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat konsep (teori) mereka mengenai permintaan akan uang.

Perubahan jumlah uang beredar atau penawaran uang berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan nilai uang (Boediono, 1994).

2.4.1.1.Teori David Ricardo

Teori kuantitas uang terlebih dahulu oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa semakin banyaknya jumlah uang beredar maka akan memberikan pengaruh yang signifikan pada turunnya nilai uang. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika uang yang beredar semakin banyak dan barang yang beredar jumlahnya tetap, sehingga secara otomatis akan meningkatkan permintaan terhadap barang yang akan berakibat pada kenaikan harga uang. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

(46)

M = k x P

Dimana:

M = jumlah uang beredar, k = konstanta,

P = tingkat harga barang

2.4.1.2.Teori Irving Fisher

Teori kuantitas uang yang dikemukakan oleh Irving Fisher adalah sebagai upaya untuk memperbaiki kuantitas uang yang dikemukakan terlebih dahulu oleh David Ricardo. Dalam teori kuantitas uang Irving Fisher, dikemukakan bahwa kenaikan harga barang tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah uang beredar, melainkan juga kecepatan dari peredaran uang tersebut. Sehingga ketika kecepatan uang beredar tinggi, hal tersebut akan berpengaruh pada kenaikan harga barang, sedangkan ketika kecepatan peredaran uang rendah maka yang terjadi adalah sebaliknya yaitu terjadi penurunan harga barang. Hal ini dirumuskan sebagai berikut:

M x V = P x T Dimana:

M = jumlah uang beredar, V = kecepatan peredaran uang, P = tingkat harga secara umum, T = volume perdagangan

(47)

2.4.2. Teori Cambridge (Marshall-Pigou)

Teori Cambridge, berpokok pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (mean of exchange). Karena itu, teori-teori Klasik melihat kebutuhan uang (permintaan akan uang) dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi. Teori Cambridge mengatakan bahwa kegunaan dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang adalah karena uang (berbeda dengan bentuk kekayaan lain) mempunyai sifat likuid sehingga dengan mudah bisa ditukarkan dengan barang lain. Uang dipegang atau diminta oleh seseorang karena sangat mempermudah transaksi atau kegiatan-kegiatan ekonomi lain dari orang tersebut (sering disebut sebagai faktor “convenience‟).

Teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan akan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncanakannnya. Teoritisi Cambridge mengatakan bahwa permintaan selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor-faktor kelembagaan, juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga masyarakat, dan ramalan/harapan (expectations) dari para warga masyarakat mengenai masa mendatang. Faktor-faktor lain ini mempengaruhi permintaan akan uang seseorang, dan demikian juga mempengaruhi permintaan akan uang dari masyarakat secara keseluruhan (Boediono, 1994).

2.4.3. Teori Keynes

Teori uang Keynes adalah teori yang bersumber pada teori Cambridge, tetapi Keynes memang mengemukakan sesuatu yang betul-betul berbeda dengan teori moneter tradisi Klasik. Pada hakekatnya perbedaan ini terletak pada

(48)

penekanan oleh Keynes pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of value dan bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini kemudian terkenal dengan nama teori Liquidity Preference (Boediono, 1994).

Menurut Keynes, ada tiga tujuan masyarakat memegang uang, yaitu:

1. Tujuan transaksi

Keynes tetap menerima pendapat golongan Cambridge, bahwa orang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksi- transaksi yang dilakukan, dan permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin besar tingkat pendapatan nasional smakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan uang untuk memnuhi tujuan transaksi. Demikian pula Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang untuk tujuan transaksi inipun tidak merupakan sutu proporsi yang konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga.

2. Tujuan berjaga-jaga

Keynes juga membedakan permintaan akan uang untuk tujuan melakukan pembayaran-pembayaran yang tidak reguler atau yang diluar rencana transaksi normal, misalnya untuk pembayaran keadaan- keadaan darurat seperti kecelakaan, sakit, dan pembayaran yang tak terduga lain. Permintaan uang seperti ini disebut dengan permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga (precautionary motive). Menurut Keynes permintaan akan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini

(49)

dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang utuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan tingkat bunga.

3. Tujuan spekulasi

Motif dari pemegangan uang untuk tujuan spekulasi adalah terutama bertujuan untuk memperoleh “keuntungan” yang bisa diperoleh dari seandainya si pemegang uang tersebut meramal apa yang akan terjadi dengan betul.

2.5. Teori Inflasi

2.5.1. Teori Kuantitas Uang

Dalam teori kuantitas uang disebutkan bahwa orang memegang uang untuk membeli barang dan jasa sehingga kuantitas uang dalam perekonomian sangat erat hubungannya dengan jumlah uang yang dipergunakan untuk bertransaksi. Hubungan antara transaksi dan uang ditunjukkan dalam persamaan :

M x V = P x Y

Dimana :

M = kuantitas uang

V = perputaran uang (velocity of money) P = harga

Y = output perekonomian

Dalam teori tersebut diasumsikan bahwa perputaran uang adalah stabil dan output nominal adalah proporsional terhadap persediaan uang. Karena faktor

(50)

produksi dan fungsi produksi menentukan GDP riil, maka teori kuantitas uang menunjukkan bahwa tingkat harga proporsional terhadap kuantitas uang sehingga tingkat pertumbuhan dalam kuantitas uang menentukan tingkat inflasi. Semakin banyak uang yang beredar dalam perekonomian untuk tingkat output ekonomi, maka kondisi tersebut akan menyebabkan inflasi.

Teori inflasi yang sering digunakan dan cukup terkenal adalah teori kuantitas. Dalam teori kuantitas dikatakan bahwa inflasi sangat dipengaruhi jumlah uang yang beredar. Dalam kenyataannya memang jumlah uang beredar itu sangat berpengaruh terhadap inflasi.

2.5.2. Inflasi Menurut Kaum Monetarist

Friedman menyatakan bahwa uang dan kebijakan moneter berperan penting dalam menentukan aktifitas ekonomi. Argumennya tentang pentingnya arti uang berasal dari teori uang kuantitatif (MV=PY), yang berarti bahwa jumlah uang dalam perekonomian (M) dikalikan jumlah waktu yang digunakan tiap dolar dalam satu tahun untuk membeli barang (V) harus sama dengan output ekonomi yang terjual tahun itu (PY).

Kecepatan uang ini tergantung pada faktor ekonomi seperti suku bunga dan perkiraan inflasi. Selain itu Friedman mengakui bahwa daripada membeli barang, orang lebih suka memegang uang karena alasan lain yaitu karena keamanan atau karena mereka berpikir bahwa harga persedian dan harga aset-aset yang lain mungkin akan turun. Namun studi empiris yang dilakukan Friedman menemukan bahwa faktor-faktor ekonomi ini hanya berdampak kecil pada keceptan dan dampaknya ini cenderung menurun dari waktu ke waktu. Karena

(51)

kecepatan uang relatif stabil, maka jumlah uang yang berampak pada tingkat aktivitas ekonomi.

Friedman menyatakan bahwa ketika uang berpengaruh pada aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, maka uang bisa bersifat netral dan tidak memiliki dampak ekonomis dalam jangka panjang. Ketika ahli ekonomi secara tradisional membedakan inflasi karena dorongan biaya dengan inflasi karena dorongan permintaan, Friedman justru menyatakan bahwa semua inflasi berasal dari terlalu banyaknya permintaan barang ketika uang banyak diciptakan. Oleh sebab itu, inflasi menurut Friedman adalah semata-mata fenomena moneter, satu-satunya solusi masalah inflasi adalah harus mengendalikan pertumbuhan persediaan uang.

Gambar 2.1

Inflasi akibat Peningkatan Money Supply

Hal ini dapat dilihat dari Gambar 2.1. dimana perekonomian awal berada di pont 1 ketika output berada pada tingkat alamiah (Yn) dan tingkat harga P1.

Jika supply uang meningkat terus selama tahun ini, kurva permintaan agregat akan bergeser ke kanan (AD2). Pada awalnya, untuk waktu yang sangat singkat,

1 3

3’

2’

1’

AS1 AS2 AS3 AS4

Y

AD3 AD4

AD1 AD2

4

LRAS

P3 P

P4

P2 P1

Yn Y’

2

(52)

keseimbangan ekonomi mungkin pindah ke point 1‟ (intertaksi antara kurva AD1 dan AS1), dan output meningkat di atas tingkat alamiah (Y‟) sehingga menyebabkan upah naik dan kurva penawaran agregat akan segera mulai bergeser ke kiri (AS2). Pergeseran kurva AS akan berhenti ketika mencapai AS2, pada saat perekonomian telah kembali ke tingkat output alamiah (kurva AS jangka panjang/LRAS). Pada saat itu, ekuilibrium berada pada poin 2, dan harga meningkat dari P1 ke P2.

Jika uang beredar meningkat pada tahun berikutnya, kurva AD akan bergeser ke AD3 dan kurva AS akan bergeser dari AS2 ke AS3 sehingga keseimbangan perekonomian akan bergerak dari poin 2 ke poin 3, dan harga meningkat dari P2 ke P3. Jika jumlah uang berdear akan meningkat terus, ekonomi akan terus bergerak lebih tinggi diikuti dengan kenaikan harga. Selama jumlah supply uang terus tumbuh, proses ini akan terus berlanjut, dan inflasi akan terjadi.

2.5.3. Inflasi Menurut Keynes

Dasar pemikiran model inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya, sehingga menyebabkan permintaan efektif masyarakat terhadap barang-barang (permintaan agregat) melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap. Keterbatasan jumlah persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena dalam jangka pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan permintaan agregat.

(53)

Oleh karenanya sama seperti pandangan kaum monetarist, model keynesian lebih banyak dipakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek.

Dengan keadaan daya beli antara golongan yang ada di masyarakat tidak sama (heretogen), maka selanjutnya akan terjadi realokasi barang-barang yang tersedia dari golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang relatif rendah kepada golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang lebih besar. Kejadian ini akan terus terjadi di masyarakat. Sehingga, laju inflasi akan berhenti hanya apabila salah satu golongan masyarakat tidak bisa lagi memperoleh dana (tidak lagi memiliki daya beli) untuk membiayai pembelian barang pada tingkat harga yang berlaku, sehingga permintaan efektif masyarakat secara keseluruhan tidak lagi melebihi supply barang (inflationary gap menghilang).

2.6. Nilai Tukar (Kurs)

Nilai tukar ditentukan oleh pasar valuta asing yaitu pasar dalam tempat berbagai mata uang yang berbeda yang diperdagangkan (Samuelson & Nordhaus, 2001). Kurs merupakan tingkat harga yang disepakati antara kedua Negara dalam melakukan perdagangan (Mankiw, 2003). Kurs adalah jumlah uang domestik yang dibutuhkan yaitu banyaknya rupiah yang dibutuhkan untuk meperoleh 1 unit mata uang asing. Kurs sebagai salah satu variabel penting pada perekonomian terbuka. Kurs memberi pengaruh terhadap variabel lain, seperti: tingkat harga, suku bunga, neraca pembayaran, dan transaksi berjalan. Teori Mundell Fleming menyebutkan kurs memiliki hubungan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Gambar

Gambar  4.7  di  atas  menunjukkan  respon  JUB  terhadap  shock  variabel  PDB.  PDB  mulai  merespon  shock  tersebut  dengan  trend  yang  positif  (+)  dari  periode  pertama  dan  meningkat  hingga  periode  kedua

Referensi

Dokumen terkait