• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah varietas unggul hasil litbang perikanan budidaya yang diusulkan untuk dirilis

INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE

IKU 8 Jumlah varietas unggul hasil litbang perikanan budidaya yang diusulkan untuk dirilis

IKU ini didefinisikan sebagai Peningkatan keunggulan setiap generasi (cepat tumbuh/ tahan penyakit dalam hal warna, kelangsungan hidup). Teknik menghitungnya yaitu jumlah varietas yang diusulkan untuk rilis.

39

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) T.A. 2016

Tabel 3.28. Capaian Jumlah Varietas Unggul yang Diusulkan untuk Rilis Tahun 2015-2016

Indikator Kinerja Utama

(IKU) 2015 2016

Jumlah varietas unggul hasil litbang perikanan budidaya yang diusulkan untuk dirilis

- Target 1 1

- Realisasi 1 1

- Prosentase (%) 100 100

Sampai pada Triwulan IV, kegiatan Litbang dengan output rilis sudah selesai dilakukan dan dokumen rilis sudah dipresentasikan di Jakarta dan dokumen revisi telah dikirimkan ke Puslitbangkan. Sehingga capaian fisik kegiatan ini telah mencapai 100 % (tabel 3.26). Tindak lanjutnya dalah mengajukan produk rilis untuk mendapatkan SK Menteri KP.

Tabel 3.29. Capaian fisik rilis varietas unggul budidaya laut Indikator Target

Tahunan Judul Kegiatan yang Menunjang

Capaian Fisik (%) Target Realisasi

Rilis Varietas

Unggul 1 Performansi Biologi Induk Bandeng (Chanos-chanos Forskall) Hasil Seleksi 100 100

Tabel 3.30. Capaian output rilis varietas unggul per Triwulan IV Judul Litbang Indikator Kinerja/

Target Output Capaian Output

Performansi Biologi Induk Bandeng (Chanos-chanos Forskall) Hasil Seleksi

Rilis varietas unggul : Kualitas telur dan Benih. Produksi telur dan benih bandeng tumbuh cepat

Rilis induk bandeng domestikasi. Dokumen rilis sudah selesai, hanya menununggu SK Menteri.

Tabel 3.31. Perbandingan Capaian Jumlah Varietas Unggul yang Diusulkan untuk Rilis pada TA. 2014-2016 IKU Realisasi 2014 Realiasi 2015 2016 T R %

Jumlah varietas unggul yang di usulkan untuk rilis 0 1 1 1 100 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa realisasi fisik kegiatan pada tahun 2016 telah tercapai sebesar 100%, sama halnya dengan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa BBPPBL telah memenuhi target output yang tercantum dalam proposal kegiatan tahun 2016. Realisasi ini didukung oleh pengalaman tahun sebelumnya dimana usulan rilis komoditas disertai dengan data-data dasar. Oleh karena itu, penelitian-penelitian dasar yang belum ada/dilengkapi, dilakukan di awal tahun sehingga penelitian dapat dilakukan beberapa tahap sampai diperoleh data yang lengkap untuk rilis komoditas. Hingga Triwulan IV kegiatan pada IKU ini telah selesai dan terealisasi sebesar 100%.

40

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) T.A. 2016 IKU 9: Jumlah Komponen Teknologi IPTEK Perikanan Budidaya

Tabel 3.32. Capaian Jumlah Komponen Teknologi IPTEK Perikanan Budidaya

Indikator Kinerja Utama

(IKU) 2015 2016

Jumlah Komponen Teknologi IPTEK Perikanan Budidaya

- Target 5 4

- Realisasi 5 4

- Prosentase (%) 100 100

IKU ini didefinisikan sebagai kegiatan penelitian yang menghasilkan output komponen teknologi litbang budidaya laut yang aplikatif. Komponen tersebut memiliki kebaruan sebagian atau seluruhnya yang akan dipergunakan dalam mengembangkan budidaya laut. Teknik menghitungnya yaitu jumlah komponen teknologi yang dihasilkan dan disampaikan oleh Kepala Balai BBPPBL ke Kepala Puslitbangkan.

Tabel 3.33. Perbandingan Jumlah Komponen Teknologi IPTEK Perikanan Budidaya IKU Realisasi 2014 Realiasi 2015 2016 T R %

Jumlah Komponen Teknologi IPTEK Perikanan

Budidaya 4 5 4 4 100

Kegiatan Litbang dengan output komponen teknologi telah selesai melakukan kegiatan dengan capaian fisik seperti yang tertera dalam tabel:

Tabel 3.34. Capaian fisik komponen teknologi litbang budidaya laut

Indikator Tahunan Target Judul Kegiatan yang Menunjang Target Capaian Fisik (%) Realisasi

Komponen

Teknologi 4

Performansi pemijahan induk ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang dipelihara di karamba jaring apung (KJA)

100 100

Pembenihan, Pendederan dan Pembesaran Benih

Teripang Pasir, Holothuria scabra 100 100

Formulasi pakan terbaik untuk pendederan lobster pasir 100 100 Penurunan kematian larva sunu (Plectropomus leopardus)

pada stadia awal perkembangan melalui manajemen pemeliharaan berbeda

100 100

Tabel 3.35. Capaian output Komponen Teknologi Judul Litbang Indikator Kinerja/ Target

Output Capaian Output

Performansi pemijahan induk ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang dipelihara di karamba jaring apung (KJA)

Komponen Teknologi : Kualitas dan kuantitas telur (jumlah telur yang dihasilkan, frekuensi pemijahan, daya tetas telur, diameter telur, diameter gelembung minyak) dari hasil pemijahan induk ikan tuna sirip kuning yang dipelihara di karamba jaring

Hasil mikrosatelit menunjukkan bahwa pada F3 membawa lokus tumbuh cepat batch 1 sebesar 55% teramati membawa lokus tumbuh cepat dan 45% tidak membawa lokus tumbuh cepat. Pada F3 tidak membawa lokus tumbuh cepat batch 1 sebesar 40% teramati membawa lokus tumbuh cepat dan 60% tidak membawa lokus tumbuh cepat. Pada F3 membawa lokus tumbuh cepat batch 2 sebesar 85% teramati membawa lokus tumbuh

41

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) T.A. 2016

apung cepat dan 15% tidak membawa lokus tumbuh cepat. Pada F3 tidak membawa lokus tumbuh cepat batch 2 sebesar 25% teramati membawa lokus tumbuh cepat dan 75% tidak membawa lokus tumbuh cepat.

Pembenihan, Pendederan dan Pembesaran Benih Teripang Pasir, Holothuria scabra

Komponen Teknologi : Jenis pakan yang mendukung proses rematurasi induk dan pertumbuhan benih teripang pasir yang berkualitas baik

Hasil pembacaan respons imun terhadap benih kerapu yang divaksinasi dengan vaksin bakteri Vibrio polivalen menggunakan metode Elisa menunjukkan bahwa ratio/perbandingan terbaik antara Vibrio harveyi : Vibrio

alginolyticus : Photobacterium leiognathi = 1 : 1 : 2.

Formulasi pakan terbaik untuk pendederan lobster pasir

Komponen Teknologi : Formulasi pakan yang tepat untuk mendukung sintasan dan produksi benih lobster (bobot 10 gram)

Pakan PEL A, B, C, D tidak berpengaruh nyata pada bobot akhir, pertambahan bobot dan kelulushidupan tetapi berpengaruh nyata terhadap pertambahan panjang karapas dan panjang total. Pakan PEL A dan B menghasilkan pertumbuhan panjang karapas dan panjang total yang berbeda nyata dengan PEL D namun tidak beda nyata dengan PEL C. formulasi pakan A dengan kombinasi masing masing ikan layang dan udang sebesar 15% menghasilkan pertumbuhan panjang total dan panjang karapas yang lebih cepat sebesar 5.01 ± 0.36 cm dan 2.71 ± 0.30 cm. Formulasi pakan A menghasilkan frekuensi molting lebih banyak dari pada perlakuan lain yaitu sebanyak 58.2 kali. Benih lobster lebih baik dalam memanfaatkan pakan formulasi A daripada pakan formulasi yang lain. Pendederan pada bak fiber kapasitas 300L dengan shelter buatan menghasilkan tingkat kelulushidupan yang rendah. Pendederan benih dengan menggunakan jarring dan bak beton menjadi alternatif dalam pengembangannya dan penggunaan pakan formulasi A.

Penurunan kematian larva sunu (Plectropomus leopardus) pada stadia awal perkembangan melalui manajemen pemeliharaan berbeda

Komponen Teknologi : Menurunkan tingkat mortalitas larva stadia dan meningkatkan sintasan

Pada lobster yang diuji dengan pemberian probiotik tunggal setelah uji tantang dg V.harveyi menunjukkan kelipatan imun terekspresi pada target gen ALF-1, ALF-4 dan ProPO yaitu dengan kelipatan sebesar 2,5 – 8 kali. Pada lobster dg pemberian kombinasi probiotik menunjukkan ekspresi imun 3-29 kali (uji tantang

V.harveyi) dan 5-90 kali setelah uji tantang MHD.

SS 4: Terwujudnya peningkatan kapasitas dan kapabilitas sumberdaya Litbang dan layanan