KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Menghafal
3. Jurus-Jurus Menghafal Jitu
Menurut Porter De Bobby dan Hernacki Mike yang dikutip oleh Khoirotul Idawati Mahmud (2009:13) dalam buku yang berjudul
Menghafal Cepat al Asma al Husna Metode Hanifida, Kunci untuk
mendapatkan daya ingat yang istimewa adalah mengasosiasikan berbagai hal dalam memori kita. Beberapa asosiasi terjadi dengan sendirinya dan yang lainnya mungkin tidak begitu jelas sehingga kita harus berupaya lebih sungguh-sungguh.
Untuk mengingat potongan-potongan informasi kita gunakan asosiasi sederhana misalmya untuk mengingat nama dan wajah. Sedang asosiasi yang lebih kompleks untuk mengingat teori-teori yang sulit dan informasi yang mengandung banyak potongan-potongan kecil yang saling berkaitan. Di dalam menghafal efektif (effective memory) atau dalam modul KPI memakai istilah sistem mengingat Super atau SMS (Super Memory System) atau Super Genius Memory (SGM) terdapat beberapa teknik atau jurus-jurus jitu untuk menghafal cepat, antara lain:
a. Sistem Cerita
Sistem cerita merupakan sistem dasar yang harus dikuasai karena merupakan dasar untuk menerapkan sistem-sitem lainnya. Latihan awal untuk sistem ini adalah dengan teknik bayangan kita akan menggabungkan aktivitas otak kiri yang membaca urutan huruf dengan aktivitas otak kanan yang membayangkan benda-benda tersebut (Mahmud &Mahaddun, 2009:14).
Menurut Abdullah Badruzzaman (2011:17-28) sistem cerita merupakan teknik sederhana tetapi merupakan pondasi dari 7 teknik mengoptimalan fungsi otak. Sistem cerita adalah metode asosiasi (menyusun hubungan atau keterkaitan) antar objek atau kejadian menjadi sebuah rangkaian cerita, mengimajinasikan (pembayangan) dan menghadirkan visualisasinya pada mata otak, sehingga mengaktifkan kedua belahan otak (otak kiri dan tak kanan) sistem cerita harus dipahami dan dikuasai dengan baik, karena berkaitan dengan teknik lainnya. Sistem cerita ini sangat bermanfaat karena selalu dipakai baik secara mandiri maupun bersama enam teknik lain yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya.
Sitem cerita merupakan kerja sama antara otak kiri dan otak kanan. Otak kiri bekerja membuat cerita yang logis sehingga dapat dibayangkan objek serta kejadiannya secara urut (teratur), sedangkan otak kanan mengimajinasikan dan memvisualisasikan seolah-olah cerita itu terjadi dan mata otak melihat objek atau kejadian yang ada dalam
cerita tersebut layaknya sedang menonton adegan film di televise (Badruzzaman,2011:17)
Sistem cerita ini didasarkan pada prinsip asosiasi (hubungan atau alur) dan imajinasi (pembayangan). Buatlah hubungan atau alur cerita secara sederhana agar mudah diingat. Jangan membuat cerita yang rumit atau terlalu panjang. Semakin menarik, lucu, aneh, atau heboh, semakin menambah daya ingat otak. Sistem cerita sangat membantu dalam proses mengingat banyak objek yang tidak dapat dilakukan sebelumnya, seperti mengingat 30 objek dengan mudah dan tepat. Tujuan dari mempelajari sistem cerita adalah melatih kreativitas dalam menggunakan bahasa dan mengoptimalkan daya imajinasi otak kanan dalam prose mengingat (mengatur, menyimpan, dan memanggil) kembali suatu informasi (Badruzzaman,2011:19).
Cerita merupakan informasi yang relatif mudah masuk ke dalam otak karena mata otak dapat memvisualkan objek yang ada dalam cerita tersebut. Untuk itu dibutuhkan ketrampilan tambahan dalam membuat cerita agar mudah masuk dan tersimpan dalam jangka panjang di dalam otak (Badruzzaman,2011:20)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat cerita yang baik, antara lain:
(1) Cerita yang sederhana (simple), aneh, dan lucu.
(2) Memasukkan aksi (tindakan atau kejadian) dalam cerita (3) Cerita disusun secara urut
(4) Masukkan unsur-unsur keterlaluan seperti mengubah ukurannya menjadi lebih besar atau menjadi lebih kecil serta menambahkan jumlah objek.
(5) Tambahkan warna, bau, atau bunyi.
(6) Pakailah imajinasi dengan bebas, tetapi alur cerita tetap mengalir sehingga dapat dinikmati.
(7) Bayangkan atau visualisasikan bahwa cerita tersebut nyata (kalau perlu Anda bayangkan dengan memejamkan mata).
(8) Ulangi beberapa kali sampai memahami, melihat, dan mengingat dengan baik.
(9) Semakin banyak berlatih, anda akan semakin terampil membuat cerita yang bagus dan dapat dilihat oleh mata otak. Kecepatan membuat cerita perlu ditingkatkkan, jika lima menit dirasa terlalu lama persingkat lagi menjadi tiga menit atau dua menit (Badruzzaman,2011:22)
Contoh:
Ban – air – kayu – pisau – pensil – bakso – kain – akar – jet – tanah – kartu – handphone – kentang – pasir. Dengan menggunakan sitem cerita, buat, tulis, dan bayangkan cerita pendek benda-benda tersebut sesuai dengan urutannya yaitu:
Ban penuh daun yang disiram air itu ditutup dengan kayu. Kayu tersebut dibelah dengan pisau dan dibuat pensil
untuk menusuk bakso. Baksonya ditaruh diatas kain lalu diletakkan diatas akar yang mirip jet yang jatuh menghujam ke tanah. Jet tersebut hancur menjadi sebesar kartu yang dimasukkan ke dalam handphone yang berbentuk kentang lalu ditutup pasir. (Badruzzaman,2011:23)
b. Sistem Angka
Sistem angka atau “pasak nomor” adalah suatu metode untuk mengingat angka, yaitu dengan memvisualisasikan suatu angka, mengubah angka (informasi yang tidak berwujud) menjadi informasi dalam bentuk lain yang berwujud supaya bisa dikenali oleh otak. Sebelum dimasukkan kedalam otak, angka diubah menjadi suatu objek yang dikenal dan dapat dilihat secara nyata oleh mata otak. Setelah angka dirubah menjadi informasi yang berwujud, dengan menggunakan
sistem cerita, objek atau “pasak nomor” dibuat menjadi cerita yang
menarik sehingga dapat dilihat oleh mata otak (Badruzzaman,2011:29) Mempelajari sistem angka dapat meningkatkan kemampuan otak yang akan memudahkan dalam mengingat hal-hal berikut:
(1) Deret yang terdiri dari 20 angka atau lebih (2) Tanggal-tanggal penting
(3) Informasi yang diuraikan berdasarkan nomor
Tujuan mempelajari sistem angka adalah melatih dan merangsang kecerdasan (kedua belahan otak), antara lain:
(1) Melatih kreativitas (otak kanan) dalam mengubah angka (informasi tak berwujud) kedalam pasak nomornya (informasi berwujud. (2) Meningkatkan kecerdasan bahasa dengan membuat rangkaian cerita
yang berurutan dan logis (otak kiri).
(3) Mengimajinasikan dan menghadirkan visualisasi rangkaian cerita tersebut seolah-olah objek dan kejadian yang ada dalam cerita tersebut benar-benar terjadi dan mata otak menyaksikannya (Badruzzaman,2011:31)
Menurut Khoirotul Idawati Mahmud, sistem angka bisa dibagi menjadi dua yaitu sistem angka primer dan sistem angka sekunder. Angka primer yaitu deretan angka yang terdiri dari satu digit angka. Yang termasuk dalam angka primer yaitu angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.. Sedangkan angka sekunder yaitu deretan angka yang terdiri dari dua
c. Sistem Pengganti
Di dalam menghafal kata, seringkali ditemukan kata yang sulit untuk dibayangkan. Dengan sistem pengganti seseorang dapat mengganti kata tersebut dengan kata lain yang mirip bunyinya atau diplesetkan. Dengan sistem ini, seseorang dapat menghafalkan banyak informasi dan fakta dengan mudah, antusias, dan menyenangkan (Mahmud&Mahaddun, 2009:15). Saat belajar (membaca) kadang harus menghafalkan informasi atau istilah asing yang tidak dipahami karena informasi tersebut tidak terwujud (tidak pernah melihatnya) dan bahkan tidak pernah mendengarnya. Sebagai contoh adalah kata-kata dalam bahasa asing, istilah-istilah ilmiah, nama-nama sejarah, maupun benda- benda tak berwujud lainnya. Untuk mengingat dan menghafalkan informasi atau istilah asing tersebut dibutuhkan teknik khusus yang disebut dengan sistem pengganti.
Sistem pengganti bisa juga disebut “sistem pasak bunyi”, karena menukarkan kata asing dengan kata yang sudah dipahami dengan kata yang bunyinya hampir sama dengan tulisan asli kata asing tersebut. Ini bertujuan untuk mengubah informasi tidak berwujud menjadi informasi berwujud dengan mempergunakan persamaan bunyi (Badruzzaman,2011:45)
Tujuan mempelajari sistem pengganti atau sistem pasak bunyi yaitu; melatih kreativitas dalam mengubah informasi atau kata asing kedalam kata yang dipahami dan mudah diingat, mengubah informasi
atau kata asing yang tidak berwujud menjadi informasi berwujud, meningkatkan kreativitas dalam membuat suatu rangkaian cerita yang berurutan dan logis serta membayangkan dan menghadirkan visualisasi cerita tersebut pada mata otak agar mudah masuk dan tersimpan dengan baik di dalam otak (Badruzzaman,2011:45)
Langkah yang digunakan untuk mengingat arti kata asing tersebut adalah dengan memanfaatkan sistem cerita yang telah di pelajari sebelumnya yaitu dengan membuat cerita yang bagus, menarik dan dapat dilihat oleh mata otak kita sehingga mudah masuk ke dalam otak kanan dan tersimpan dalam otak kanan dan tersimpan dalam jangka panjang (Badruzzaman,2011:46).
Contoh:
(1) Phytagoras = diplesetkan menjadi pita kertas
(2) Muzukhasii = diplesetkan menjadi memusuhi kekasih itu sukar (3) Mali ibu kota Bamako = diplesetkan menjadi Pak Mali
membawa sembako
(4) Echinodermata = hewan berkulit duri = diplesetkan menjadi
E…. Chino main mata terkena duri
(5) Misbah (bahasa Arab : lampu) = diplesetkan menjadi wajahnya
misbah bersinar seperti lampu (Mahmud&Mahaddun,2009:15) d. Sitem Lokasi
Keteraturan Keteraturan yang merupakan cara kerja otak kiri digunakan untuk menunjang kinerja otak kanan (pembayangan)
perpaduan dan keseimbangan kinerja kedua belahan otak pada teknik
placement menghasilkan kemampuan yang luar biasa
(Badruzzaman,2011:57).
Tujuan mempelajari sistem lokasi adalah mengorganisasikan dan membagi ingatan seperti layaknya perpustakaan atau file computer, mengingat informasi berupa angka yang panjang dan kata secara teratur, pencarian informasi secara acak dengan kecepatan tinggi tetapi memiliki tingkat keakuratan yang baik. Orang Orang-orang Yunani dan Romawi waktu itu menggunakan metode asosiasi dan menggandengkan benda-benda atau ide dengan tempat tinggalnya (Loci). Waktu itu juru pidato harus berbicara tanpa catatan, langsung dari ingatan, maka cara memori ini digunakan (Badruzzaman,2011:57). Sistem lokasi merupakan sistem ingatan yang telah digunakan sejak 2.500 tahun yang lalu. Sistem ini sangat berguna terutama untuk membagi ingatan seperti di perpustakaan sehingga informasi yang di simpan dapat terarsip rapi tanpa ada kekacauan, teratur dan berurutan (Mahmud&Mahaddun,2009:15).
Lokasi yang digunakan, bisa lokasi badan manusia, lokasi ruangan, lokasi kendaraan, lokasi tubuh hewan, lokasi pohon, dan lain sebagainya. Contoh :
Tabel 2.1 sistem Lokasi Anggota Badan No. Lokasi Anggota Badan
2. Mata 3. Hidung 4. Mulut 5. Telinga 6. Leher 7. Tangan 8. Perut 9. Lutut 10. Kaki (Sumber: Mahmud&Mahaddun,2009:15) B. Metode Hanifida