KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Menghafal
2. Karakteristik Pondok Pesantren
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang ciri- cirinya dipengaruhi dan ditentukan oleh pribadi para pendiri dan kepemimpinannya serta cenderung untuk tidak mengikuti suatu pola jenis tertentu. Kekuatan motivasi para pendiri maupun penyelenggara pesantren bukanlah merupakan kepentingan ekonomis, tetapi lebih merupakan amanat pendidikan keagamaan yang mewajibkan setiap muslim sejak muda sampai tua untuk mencari dan mengajarkan ilmu pengetahuannya.
Dalam keputusan lokakarya intensifikasi pengembangan pondok pesantren yang diselenggarakan pada tanggal 2-6 Mei 1978 di Jakarta,
pengertian pondok pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam yang minimal terdiri dari tiga unsur yaitu;
a. Kiai/ Syeh/ Ustadz yang mendidik serta mengajar
Ciri yang paling esensial bagi suatu pesantren adalah adanya seorang kiai. Kiai pada hakikatnya adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang mempunyai ilmu dibidang agama dalam hal ini agama Islam. terlepas dari anggapan kiai sebagau gelar sacral maka sebutan kiai muncul didunia pondok pesantren. Keberadaan kiai dalam pesantren sangat sental sekali. Suatu lembaga pendidikan Islam disebut pesantren apabila memiliki tokoh sentral yang disebu kiai. Jadi, kiai di dalam dunia pesantren sebagai penggerak dalam mengemban dan mengembangkan pesantren sesuai dengan pola yang dikehendaki (http://www.kangsantri.info/2016/08/karakteristik-pondok
pesantren.html diakses 14 Agustus 2017)
Ditangan seorang kiailah pesantren itu berada. Oleh karena itu, kiai dan pesantren merupakan dua sisi yang selalu berjalan bersama. Bahkan kiai bukan hanya pimpinan pondok pesantren tetapi juga pemilik pondok pesantren. Sedangkan sekarang kiai bertindak sebagai coordinator. Dengan demikian kemajuan dan kemunduran suatu pondok pesantren benar-benar terletak pada kemampuan kiai dalam mengatur operasionalisasi/pelaksanaan pendidikan di dalam pondok pesantren, sebab kiai merupakan penguasa yang bertanggung jawab demi kemajuan pesantren
b. Santri
Istilah santri hanya terdapat di pesantren. Santri merupakan santri yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kiai yang memimpin sebuah pondok pesantren. Oleh karena itu, santri pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan kiai dan pesantren. Santri pondok pesantren ada dua macam, santri mukim dan santri kalong. Yang dimaksud dengan santri mukim yaitu santri yang dating dari jauh dan menetap dilingkungan pesantren. Santri mukim yang paling lama biasanya diberi tanggung jawab untuk menustadzahsi kepentingan pesantren dan membantu kiai untuk mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab dasar dan menengah. Sedangkan yang dimaksud dengan santri kalong adaah santri-santri yang berasal dari desa sekitar pesanten dan tidak menetap di pesantren. Mereka mengikuti pelajaran yang ada di pesantren dengan berangkat dari rumahnya dan pulang ke rumah masing-masing setelah kegiatan pondok selesai (http://www.kangsantri.info/2016/08/karakteristik-pondok-
pesantren.html diakses 14 Agustus 2017). c. Masjid atau mushola
Masjid berarti tempat untuk beribadah atau shalat berjamaah. Fungsi masjid dalam pesantren bukan hanya sebagai tempat untuk shalat saja, melainkan sebagai pusat pemikiran segala kepentingan santri termasuk pendidikan dan pengajaran. Masjid
merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri terutama dalam praktek shalat, khutbah, dan pengajaran kitab- kitab klasik (kitab kuning). Pada sebagian pesantren masjid juga
berfungsi sebagai tempat i‟tikaf, melaksanakan latihan-latihan (riyadhah) atau suluh dan dzikir maupun amalan-amalan lainnya
dalam kehidupan thariqat dan sufi
(http://www.kangsantri.info/2016/08/karakteristik-pondok- pesantren.html diakses14 Agustus 2017)
Pemikiran materialistik mengarah kepada keberadaan masjid sebagai suatu bangunan yang dapat ditangkap oleh mata. Dalam hal ini secara sederhana masjid adalah tempat sujud. Sujud adalah simbol kepatuhan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Oleh karena itu, seluruh kegiatan yang mengambil tempat dimasjid tentu memiliki nilai ibadah yang tinggi. Artinya proses kegiatan itu hanya mengharapkan keridhaan Allah yan bersifat ilahiiyah, berkaitan dengan pahala dan balasan dari Allah. Di dunia pesantren masjid dijadikan ajang atau sentral kegiatan pendidikan Islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional. Dalam konteks yang lebih jauh masjidlah yang menjadi pesantren pertama tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dapat juga dikatakan masjid identik dengan pesantren.
Seorang kiai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya pertama-tama akan mendirikan masjid di deket rumahnya. Paling tidak didirikan surau di sebelah rumah kiai yang kemudian dikembangkan menjadi masjid sebagai basis berdirinya pondok pesantren. Didalam masjid para santri dibina mental dan dipersiapkan agar manpu mandiri dibidang ilmu keagamaan. Oleh karena itu, masjid disamping rumah kiai dijadikan wadah (pusat) pelaksanaan ibadah juga sebagai tempat latihan qiro‟ dan membaca kitab klasik santri (Kitab Kunig) yang merupakan salah satu cirri pesantren. Pelaksanaan kajiannya dengan cara bandongan, sorogan, dan wetonan. Pada hakikatnya merupakan metode klasik yang dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar dengan pola kiai yaitu langsung berhadapan dengan santrinya dalam mengkaji dan
menelaah kitab-kitab tersebut
(http://www.kangsantri.info/2016/08/karakteristik-pondok- pesantren.html diakses14 Agustus 2017).
d. Pondok atau asrama santri
Setiap pesantren umumnya memiliki pondokan atau asrama santri. Pondok pesantren merupakan wadah penggemblengan, pembinaan, dan pendidikan serta pengajaran ilmu pengetahuan. Kedudukan pondok bagi para santri sangatlah esensial sebab di dalamnya santri tinggal belajar dan di tempa diri pribadinya dengan control seorang ketua asrama atau kiai yang memimpin pesantren
itu. Dengan santri tinggal di asrama berarti dengan mudah kiai mendidik dan mengajarkan segala bentuk jenis ilmu yang telah ditetapkan sebagai kurikulumnya. Begitu pula melalui pondok pesantren santri dapat melatih dir dengan ilmu-ilmu praktis seperti kepandaian berbahasa Arab dan Inggris juga mampu menghafal Al-
Qur‟an begitu pula keterampilan yang lain. Sebab di pondok
pesantren santri saling kenal-mengenal dan terbina kesatuan mereka untuk saling isi-mengisi dan melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan. Pondok sebagai wadah pendidikan manusia seutuhnya sebagai operasionalisasi dari pendidikan yakni mendidik dan mengajar. Mendidik secara keluarga berlangsung di pondok sedangkan mengajarnya di kelas atau masjid. Hal inilah yang merupakan fase pembinaan dan peningkatan kualitas manusia sehingga ia bisa tampil sebagai kader masa depan (http://www.kangsantri.info/2016/08/karakteristik-pondok-
pesantren.html diakses14 Agustus 2017)
Dalam fase pertumbuhan pesantren telah mengalami beberapa perkembangan termasuk didalmnya ada yang memasukkan program pendidikan jalur sekolah dibawah naungan Depag dan Diknas, dan ada yang tidak memasukkan proram pendidikan jalur sekolah formal. Dari hasil penelitian LP3ES telah ditemukan lima jnis-jenis pesantren berdasarkan komponen-komponen pranata-pranatanya. Kelima jenis pesantren itu adalah sebagai berikut;
a. Jenis A
Pesantren jenis ini merupakan tingkat awal dalam mendirikan sebuah pesantren. Pesantren ini terdiri dari masjid dan rumah kiai bersifat sederhana. Oleh sebab itu kiai menggunakan masjid atau rumahnya untuk mengajar kitab Islam klasik. Dalam pesantren jenis A ini, santri hanya dating dari daerah sekitar pesantren itu sendiri (Haryanto,2012:41).
b. Jenis B
Pesantren ini terdirir dari rumah kiai, masjid dan asrama bagi para santri untuk bertempat tinggal dan sekaligus tempat belajar yang sederhana. Para santri yang belajar di pesantren jenis ini dating dari berbagai daerah (Haryanto,2012:42)
c. Jenis C
Jenis pesantren ini telah mengembangkan komponen pranatanya dan program pendidikan jalur sekolah formal seperti madrasah. Sistem pengajaran kitab-kitab Islam klasik mengunakan sistem klasikal dan jenjang tingkat kelas. Kurikulum yang digunakan ada yang berorientasi pada sekolah-sekolah pemerintah, gabungan dari kurikulum pemerintah dan pesantren dan kurikulum pesantren masing-masing. Pesantren ini terdiri dari rumah kiai, masjid, asrama santri dan gedung madrasah (sekolah) (Haryanto,2012:42)
Pesantren ini merupakan perluasan dari jenis C, karena dalam pesantren ini disamping terdapat komponan-komponan yang ada dalam pesantren jenis C juga ditambah dengan pendidikan keterampilan, tempat-tempat perbengkelan, produksi, peternakan, dan pertanian (Haryanto,2012:42)
e. Jenis E
Pesantren jenis ini disampng terdapat pengajaran kitab-kitab Islam klasik dengan sistem non-klasikal dan klasikal, juga menyelenggarakan pendidikan jalur sekolah yang mengacu pada kurikuum pemerintah mulai dari dari tingkat dasar sampai perustadzahan tinggi, akan terdapat program pendidikan keterampilan seperti misalnya koperasi, computer, perbengkelan, pertanian, dan lain-lain. Jenis pesantren ini sering mengambil prakasa program-progam yang berorientasi pada lingkungan dan bekerjasama dengan pesantren-pesanatren kecil yang ada di sekitarnya erta pesantren-pesantren yang didirikan dan sipimpin oleh para lulusannya (Haryanto,2012:42)