BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Penentuan Kualitas Karet Remah
2.7.3. Kadar Zat Menguap ( Volatile Content )
C. Penetapan syarat uji kadar abu dimaksudkan untuk menjamin agar karet mentah tidak terlalu banyak mengandung bahan kimia seperti natrium bisulfit, natrium karbonat, tawas dan yang lain yang bisa digunakan dalam proses pengolahan.
Perhitungan :
Kadar Abu 100%
Dimana, A = bobot cawan berikut abu B = bobot kosong
C = bobot potongan uji.
2.7.3. Kadar Zat Menguap ( volatile content )
Penentuan kadar zat menguap adalah kadar air dalam karet mentah.
Kegunaannya untuk memastikan bahwa karet mentah yang dijual telah dikeringkan secara sempurna. Kadar zat yang menguap dipengaruhi oleh : kondisi pengeringan, bentuk dan ukuran bokar serta asal bokar. Jumlah kadar zat menguap didalam karet menyatakan ukuran tingkat pengeringan, oleh karena itu tergantung kepada kondisi dimana karet tersebut dikeringkan. Biasanya karet yang kurang kering akan menghasilkan zat menguap yang tinggi, tetapi terlalu kering juga mempengaruhi sifat fisik karet, maka untuk suhu pengeringannya harus disesuaikan dengan jenis bokar yang diolah, umumnya dikeringkan pada suhu 1000C – 1050C dimaksudkan untuk menjamin bahwa karet yang disajikan cukup kering.
Selain ketiga faktor diatas masih dianalisa juga kadar tembaga, mangan dan nitrogen. Pada akhirnya hasil spesifikasi teknis disimpulkan dalam suatu standart yaitu standar indonsia ruber ( SIR ).
Untuk mengamankan kualitas SIR, suatu roduk SIR harus mendapatkan pengawasan tiga laboratorium yaitu : laboratorium control, laboratorium standar, laboratorium pabrik. Semua sarana penentuan ini dimaksudkan agar SIR dapat bersaing dengan produk karet bongkah yang berasal dari negara produsen karet selain Indonesia yang memiliki standart sendiri-sendiri.
Zat menguap didalam karat sebagian besar terdiri dari uap air dan sisanya adalah zat - zat lain seperti serum yang mudah menguap pada suhu 100 ° C. Kadar zat menguap adalah bobot yang hilang dari potongan uji setelah pengeringan.
Adanya zat yang mudah menguap didalam karat, selain dapat menyebabkan bau busuk, memudahkan tumbuhnya jamur yang dapat menimbulkan kesulitan pada waktu mencampurkan bahan-bahan kimia kedalam karat pada waktu pembuatan kompon tersebut terutama untuk pencampuran karbon black pada suhu rendah.
Potongan uji untuk menetapkan kadar zat menguap ditimbang lalu ditipiskan dan digunting menjadi potongan kecil - kecil untuk memperluas permukaan guna memudahkan pengeringan pada suhu 100 ° C.
Perhitungan :
Kadar zat menguap x C
B A−
= 100%
Dimana, A = bobot cawan berikut contoh sebelum dipanaskan B = bobot cawan berikut contoh setelah dipanaskan C = bobot potongan uji
2.7.4. Plastisitas Rentention Indeks ( PRI )
Suatu bahan yang plastisitasnya tinggi mudah sekali berubah bentuk dengan kata lain mudah sekali mengalir. Plastisitas didefenisikan sebagai kepekaan terhadap deformasi, pengertian ini merupakan kebalikan dari pada ketahanan terhadap deformasi. Metode pengujian viskositas umumnya bersifat mengukur konsistensi ( ketahanan terhadap deformasi ). Plastisitas awal adalah plastisitas karet mentah yang langsung diuji tanpa memperlakukan khusus sebelumnya.
Plastisitas awal ( Po ) menggambarkan kekuatan karet. Kegagalan pemenuhan syarat Po dapat disebabkan oleh bebarapa faktor, yakni :
- Bahan baku yang telah mengalami degradasi akibat perlakuan yang tidak tepat seperti perendaman dalam air.
- Penggunaan formalin sebagai pengawet lateks kebun - Bahan olah yang terlalu lama
Nilai Po rendah juga bisa disebabkan oleh pengeringan pada suhu terlalu tinggi ( lebih dari 1300C ) dalam waktu yang lama dan pengeringan ulang karet yang kurang matang. Pemeraman dapat menyebabkan karet menjadi keras dengan disertai peningkatan nilai viskositas atau Po, serta penurunan PRI. Nilai Po crumb rubber juga dipengaruhi oleh karakter bahan baku yaitu lateks kebun. Lateks kebun dari klon yang berbeda memiliki nilai Po atau viskositas yang berbeda.
Jenis bahan penggumpal berpengaruh baik terhadap Po maupun ketahanan karet terhadap pengusangan ( PRI ). Plastisitas retensi indeks adalah cara pengujian untuk mengukur ketahanan karet terhadap degradasi oleh oksida pada suhu tinggi.
Plastisitas retensi indeks dapat ditentukan dengan Wallace Plastimer. Dengan alat
ini ditentukan ( plastisitas dari karet sebelum dipanaskan pada suhu 1400
Penjemuran dibawah sinar matahari selama 6 jam bagi lum yang masih basah tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai PRI crumb rubber yang dihasilkan.
Tapi lum yang telah kering, penjemuran dapat mengakibatkan nilai PRI menurun hingga hampir separunya. Semakin encer lateks kebun sebagai bahan olah maka semakin rendah Po maupun PRI crumb rubber yang diperoleh. Penggunaan amonia sebagai pengawet lateks kebun dengan dosis semakin tinggi mengakibatkan nilai Po semakin tinggi, namun PRI crumb rubber yang diperoleh semakin rendah. Perbaikan PRI dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia yang bersifat mencegah oksidasi selama proses pengeringan. Selain itu upaya perbaikan PRI dapat dilakukan melalui pencampuran dengan bahan olah bermutu baik. Beberapa jenis bahan olah memiliki nilai PRI yang cukup tinggi sehingga C selama 30 menit ).
PRI menggambarkan ketahanan karet terhadap proses pengusangan.
Proses penggumpalan yang tidak tapat, seperti penggunaan bahan penggumpal tawas, pupuk atau asam sulfat dapat mengakibatkan karet tidak tahan proses pengusangan karena panas dan cahaya. Koagulum yang diperoleh dari lateks encer ( KKK rendah ) cenderung menghasilkan crum rubber dengan PRI rendah, karena lateks encer menyebabkan semakin banyak bahan anti oksidan alami tercuci dan terbuang.
Hasil percobaan lain menunjukkan perlakuan penjemuran ( sinar matahari ), MKKK, dosis amonia, lama predrying, jenis koagulan, garam oksida logam dan jumlah penggilingan dengan kreper berpengaruh terhadap pengusangan ( PRI ).
bisa dicampurkan dengan bahan olah lain agar mendapatkan crumb rubber dengan PRI yang memadai.
Nilai plastisitas dari karet dapat menurun disebabkan oleh : 1. Karet dijemur dibawah sinar matahari
2. Karet dipanaskan terlalu tinggi
3. Karet terlalu banyak digiling atau direndam terlalu lama 4. Karet mengandung banyak kotoran
Penentuan Plasticity Retention Index ( PRI) adalah cara pengujian yang sederhana dan cepat untuk mengukur ketahanan karet terhadap degradasi oleh oksidasi pada suhu tinggi. Pengujian ini meiiputi pengujian plastisitas Wallace dari potongan uji sebelum dan sesudah pengusangan didalam oven dengan suhu 140 ° C.
Suhu dan waktu pengusangan diatur sedemikian rupa sehingga dapat
memberikanperbedaan yang nyata dari berbagai jenis karet mentah. Nilai PRI yang tinggi menunjukkan ketahanan yang tinggi terhadap degradasi oleh oksidasi.
Perhitungan :
Plasticity retention indeks x Po
P Pa( 30)
= 100
Dimana, Po = Plastisitas awal
Pa (P30) = Plastisitas setelah pengusangan selama 30 menit
2.8. KARAKTERISTIK VULKANISAT KARET
Vulkanisat karet tersebut diuji sifat Mekaniknya, yang meliputi: Tegangan putus, Perpanjangan putus, Kekerasan, Ketahanan sobek, Perpanjangan putus 100%, Bobot jenis, ketahanan kikis, ketahanan retak lentur. Vulkanisat yang dihasilkan dibandingkan dengan spesifikasi sol karet sepatu olah raga (SNI 06-1844-1990 Ed. 1.2)
Tabel 2.4.Spesifikasi sol karet sepatu olah raga (SNI 06-1844-1990 Ed. 1.2)
NO Jenis Uji Satuan Persyaratan
1 MEKANIKA
Tegangan putus N/mm2 Minimal 10
Perpanjangan putus,(%) - Minimal 250
Kekerasan (Shore A) Shore A 50-70
Ketahanan sobek N/mm2 Maksimal 5,8
Bobot jenis g/cm3 Maksimal 1,3
Ketahanan kikis (cc/300x) Mm/kgm Maksimal1,0 Ketahanan retak-lentur 150 kcs Kcs Minimal 250 2 ORGANOLEPTIS
Keadaan dan atau penampakan sol
- Tidak cacat dan atau rusak yang berupa sobek, lubang,
lepuh,retak,goresan dan warna (Data lengkap dilihat pada Lamp.2)
Hasil pengujian sifat Mekanika vulkanisat karet dapat dilihat pada Lampiran 4.
Sifat Mekaninika vulkanisat karet dijelaskan sebagai berikut :
2.8.1. Tegangan Putus
Tegangan putus adalah tenaga yang dibutuhkan untuk menarik contoh uji sampai putus persatuan luas penampang awal bagian.Tegangan putus merupakan pengujian mekanika karet yang terpenting dan yang paling sering dilakukan.
Pengujian ini menggambarkan kekuatan kekenyalan karet. Potongan uji berbentuk dayung ditarik pada kecepatan tetap dengan menggunakan alat Tensile. Selama
pengujian peregangan tenaga yang dihasilkan pada perpanjangan tertentu dan pada saat potongan uji putus, dicatat ( Basseri,2005)
2.8.2 Perpanjangan Putus
Perpanjangan putus adalah kemampuan contoh uji untuk meregang apabila ditarik sampai putus. Pengujian perpanjangan putus ( elongation at break ) bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat tegangan dan regangan
2.8.3 Kekerasan (Shore A)
Uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui besarnya kekerasan vulkanisat karet, dilakukan dengan kekuatan penekanan tertentu. Uji kekerasan vulkanisat karet menggunakan alat Durometer Shore. Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force) dan deformasi plastis.
Deformasi plastis sendiri suatu keadaan dari suatu material ketika material tersebut diberikan gaya maka struktur mikro dari material tersebut sudah tidak bisa kembali ke bentuk asal artinya material tersebut tidak dapat kembali ke bentuknya semula. Lebih ringkasnya kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan).
Di dalam aplikasi manufaktur, material dilakukan pengujian dengan dua pertimbangan yaitu untuk mengetahui karakteristik suatu material baru dan
melihat mutu untuk memastikan suatu material memiliki spesifikasi kualitas tertentu.
2.8.4 Ketahanan sobek (Tear Resistance)
Ketahanan yang diberikan oleh suatu bagian percobaan karet terhadap pengoyakan setelah dipotong menurut cara tertentu. Uji ini penting untuk beberapa produk, misalnya untuk tapak, pipa, sarung kabel, kaus kaki dan lain-lain. Indikasi yang paling berat dari ketahanan terhadap sobekan didapatkan oleh torehan pada bagian karet dan sobekan oleh tangan. Ketahanan sobek bergantung pada lebar dan ketebalan dari potongan uji dan hasil uji menunjukkan beban yang umum untuk menyobek sebuah specimen dengan lebar dan tebal yang standar.
2.8.5 Bobot Jenis
Bobot jenis adalah konstanta/tetapan bahan yan bergantung pada suhu untuk padat, cair, dan bentuk gas yang homogen. Didefinisikan sebagai hubungan dari massa (m) suatu bahan terhadap volumenya. Atau bobot jenis adalah suatu karakteristik bahan yang penting yang digunakan untuk pengujian identitas dan kemurnian dari bahan.
Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat pada suhu tertentu (biasanya 25o C). Rapat jenis (specific gravity) adalah perbandingan antara bobot jenis suatu zat pada suhu tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25o /25o, 25o/4o, 4o,4o). Untuk bidang farmasi biasanya 25o/25008). Nilai bobot jenis merupakan nilai penentu untuk ukuran keringanan sebuah sol karet.
2.8.6 Ketahanan Kikis
Pengujian ketahanan kikis (Aberassion resistance) bertujuan untuk mengetahui ketahanan kikis dari vulkanisat karet yang di gesekkan pada sebuah gerinda kikis dengan tingkat kekasaran tertentu. Kesanggupan karet bertahan terhadap pengikisan dengan benda lain pada pemakaiannya, disebut ketahanan kikis (Basseri 2005). Nilai ketahanan kikis merupakan sifat penting yang ahrus dimiliki oleh produk karet, jika ketahanan kikis rendah maka produk yang
dihasilkan akan mudah aus dan menyebabkan cepat terjadinya ebocoran.Semakin kecil nilai ketahanan kikis kompon karet menunjukkan bahwa kompon karet semakin elastis.
Pengujian ketahanan kikis pada sol sepatu karet digunakan untuk
menentukan seberapa kuat sol sepatu terhadap daya pengikisan. Berat jenis sangat menentukan dalam ketahanan kikis.
2.8.7 Ketahanan Retak Lentur 150 KCS
Pengujian ketahanan retak lentur vulkanisat bertujuan untuk menentukan retak dari vulkanisat apabila diberi gaya lenturan. Pada penelitian ini pengujian ketahanan retak lentur dilakukan pada 150 kcs (kilo cycyles) yang berarti vulkanisat mendapat gaya lenturan sebanyak 150.000 kali
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Desa Sungei Putih, Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang.
3.1.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilakukan mulai dari Maret 2014 sampai dengan Juni 2014
3.2 Bahan-Bahan
Tabel 3.1. Formula Kompon Karet dengan variasi bahan pengisi serbuk ban bekas untuk pembuatan vulkanisat sol sepatu
Bahan Kode Kompon
A B C
Karet Alam 100 100 100
Serbuk Ban Bekas 40 45 50
ZnO 5 5 5
Asam Stearat 2 2 2
Montaclere 1 1 1
CBS 0,75 0,75 0,75
Belerang5 2,5 2,5 2,5
Pigmen merah 2 2 2
White oil 5 5 5
3.3 Alat-Alat
Alat-alat yang digunakan dalam peneltian ini adalah:
1. Untuk uji kwalitas karet:
Analitikal balance, lab milll, saringan 325 mesh, pemanas infra red, erlenmeyer 600 ml, hot plate, penjepit, muffle furnance, cawan porselin, talam aluminium, oven, plastimeter, Wallace punch (pembolong khusus karet), viscometer wallace
2. Untuk uji mekanik karet
Alat uji kuat tarik (tensile strength), Alat uji kekerasan shore A Durometer, Alat uji kuat sobek (tensile tester), alat uji perpanjangan tetap, Alat uji bobot jenis (Densi meter), Alat uji ketahanan kikis, Ayakan, Rheo Meter, Jangka sorong, Pisau/cutter, Thicnes Tester, Gelas beker, Pinset, Neraca analitik,
3.4. Variabel dan Parameter Penelitian
3.4.1 Variabel Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi variabel tetap adalah persentase karet lembaran dengan ukuran 60 mesh, sedangkan pariabel bebas adalah komposisi bahan kimia untuk pembuatan sol sepatu olah raga.
3.4.2. Parameter Penelitian
Parameter adalah ukuran data yang akan diperoleh dari hasil penelitian.
Adapun yang menjadi parameter dalam penelitian adalah : 1. Kualitas karet remah
b. Kadar Abu
c. Kadar zat menguap
d. Plastisitas Retention Indeks
2. Uji Mekanik
a. Perpanjangan putus b. Kekerasan
c. Ketahanan sobek d. Bobot jenis e. Ketahanan kikis f. Ketahanan retak lentur
3.5 Pembuatan Sampel
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan sampel pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pembekuan Lateks
Lateks kebun cair dimasukkan dalam bak penggumpal dibubuhi dengan asam format 5% selama 24 jam
2. Peremahan.
Koagulan dari bak pembekuan dimasukkan kedalam mesin pisau berputar (rotari cutter)
3. Di Oven selama satu jam dalam suhu 100 0 ( karet Kering)
C terbentuk karet lembaran
4. Kemudian dilakukan pencampuran dengan serbuk ban bekas sesuai dengan perbandingan yang sudah ditentunkan ditambah bahan kimia untuk proses pembuatan kompon, kegiatan tersebut akan menghasilkan lembaran-lembaran karet yang kita inginkan.
5. Lakukan pengujian
6. Lembaran Karet ini kemudian divulkanisasi 7. Lakukan Pengujian
3.6.ProsedurPenelitian
3.6.1. Penyeragaman Contoh
Sebelum pengujian mutu SIR dilaksanakan, kedua belah potongan contoh karet disatukandan digiling untuk penyeragaman. Selanjutnya contoh uji diambil dari contoh karet yang telah diseragamkan ini.
a. Peralatan
1. Gilingan Laboratorlum
- Ukuran rol minimum diameter 150 mm x 300 mm panjang - Perbandingan kecepatan putaran rol depan dan rol belakang - Kecepatan berputar : 30 ± 1 rpm
- Diiengkapi sistem pendingin dengan air mengalir.
2. Neraca : Kapasitas mencapai 500 ± 1 gr 3. Saki atau lembaran plastik
4. Gunting
5. Kantong plastlik/wadah yang sesuai untuk menghidari penguapan : (Untuk contoh uji zat menguap )
2. Prosedur Kerja
1. Satukan kedua belah contoh karet tersebut dan giling 6 kali melalui gilingan laboratorium dengan celah rol : 1,65 mm. Rol gilingan dijalankan dengankecepatan 1 : 1,4 dan didinginkan dengan aliran air pada suhu kamar.
2. Setelah tiap kali penggilingan, lembaran karet digulung dan salah satu ujung gulungan dimasukkan kembali ke gilingan pada penggilingan berikutnya, letakkan baki atau lembaran plastik yang bersih dibawah rol gilingan guna menampung remahan atau kotoran karet yang jatuh selama penggilingan.
3. Remahan dan kotoran karet tersebut dikembalikan pada lembaran karet sebelum penggilingan berikutnya.
4. Pada penggilingan yang ke 6 kali, lembaran karet tidak digulung melainkan di lipat dua, lembaran karet yang telah di seragamkan tersebut di gunting menjadi contoh uji untuk:
Penetapan Kadar Kotoran : 20-25 gram
Penetapan Kadar Abu : 10-15 gram
Penetapan Kadar Zat Menguap : 20-25 gram
Penetapan PRI : 15-25 gram
Penentuan Warna : 15- 25 gram
Penetapan Kadar Nitrogen : 5-10 gram
5. Khususnya untuk penetapan kadar zat menguap contoh uji disimpan didalam kantong plastik atau wadah yang sesuai dan ditutup rapat segera setelah penyeragaman dan pengguntingan, jika hal tersebut tidak segera dilaksanakan maka karet akan lembab dan kelembaban udara akan berada dalam
keseimbangan sehingga pengujian yang dilakukan tidak akan menunjukkan hasil yang sebenarnya.
6. Untuk penetapan uji tambahan bila dikehendaki
Penetapan ASHT SIR 3 CV : 1,5 - 25 gram Penetapan Viskositas Mooney SIR 3 CV : 100 - 150 gram.
3.6.2 Pengujian Kadar Kotoran ( Dirt Content) 1. Peralatan dan Bahan.
a. Alat
- Neraca Analitis : pembacaan mencapai 0,1 mg
- Wadah : kapasitas 20 liter untuk menyimpan terpentin - Labu Erlenmeyer : 500 ml
- Pemanas Infra merah : lampu infra merah (masing-masing 250 watt) disusun menurut baris dan kolom. Jarak antara dasar labu dengan ujung lampu sekitar 10 - 20 cm.
- Sarung tangan asbes - Saringan
- Botol semprot b. Bahan
- Karet Remah - Terpentin mineral - RPA3
2. Prosedur Kerja
1. Giling contoh uji penetapan kadar kotoran sebesar 20-25 gram dua kali melalui gilingan laboratorium ( setelah penggilingan pertama, lembaran karet dilipat dua), kedua rol berputar dengan kecepatan yang sama ( 1:1 ), dan celah rol diatur 0,33 mm
2. Timbang 10 gram lembaran contoh karet dengan ketelitian 0,1 mg.
3. Kemudian digunting kecil-kecil menjadi 12-15 potongan atau ditipiskan.
4. Masukan kedalam labu Erlenmeyer 500 ml yang telah berisi terpentin mineral
5. Panaskan diatas pemanas 3 jam pada suhu 255 °C.
6. Kocok sekali - sekali untuk mempercepat pelarutan.
7. Jika karet telah larut sempurna saring dalam keadaan panas secara dekantasi melalui saringan yang bersih.
8. Saringan yang akan digunakan sebelumnya harus harus dikeringkan dalam oven selama 45 menit pada suhu 1000
9. Biarkan kotoran mengendap sebanyak mungkin didasar labu Erlenmeyer untuk pencucian selanjutnya.
C dan setelah didinginkan dalam desikator sampai suhu kamar ± 30 menit, kemudian ditimbang.
10. Cuci kotoran didalam labu dan tuangkan cucian kedalam saringan dengan memiringkan labu sehingga mulut labu mengendap kebawah, semprotkan terpentin dingin kedalamnya dengan menggunakan botol semprot
11. Usahakan agar seluruh sisa kotoran terbawa kedalam saringan.
12. Pencucian diakhiri dengan menyemprotkan terpentin panas pada sekeliling dinding bagian dalam saringan dengan hati – hati.
13. Keringkan saringan berisi kotoran didalam oven pada suhu 900C- 1000
Perhitungan
C selama satu jam, dinginkan dalam desikator selama ± 30 menit,
kemudian ditimbang dengan ketelitian mendekati 0,1 mg.
Kadar Kotoran x C
B A−
= 100% ... ( 3.1 )
Dengan A = bobot saringan berikut kotoran B = bobot saringan kosong
C = bobot potongan uji
3.6.3. Pengujian Kadar Abu
1. Peralatan dan Bahan a. Alat
- Neraca : Pembacaan mencapai 0,1 mg - Pembakar listrik/gas
- Tang : Ukuran yang sesuai untuk keamanan pekerja.
- Mufe Furnace : Lengkap dengan pirometer dan alat pengatur suhu.
- Cawan silica/porselin : Kapasitas 50 ml b. Bahan
- Karet remah
2. Prosedur Kerja
1. Potong dan timbang 10 gram contoh uji dengan ketelitian mendekati 0,1 mg 2. Bungkus potongan uji tersebut dengan kertas saring bebas abu.
3. Ditimbang cawan porselin dan dicatat beratnya.
4. Masukkan kedalam cawan kemudian diatas Hot Plate pada suhu 550 ° C selama 2 jam sampai berubah menjadi arang.
5. Masukan cawan berisi potongan uji kedalam mufle furnace dan pijarkan pada suhu 550 ° C selama 3 jam sampai abu tidak mengandung jelaga ( carbon) lagi.
6. Dinginkan didalam desikator sampai suhu kamar kemudiantimbang Perhitungan :
Kadar Abu x
C B A−
= 100% ... ( 3.2 )
A = bobot cawan berikut abu B = bobot kosong
C = bobot potongan uji.
3.6.4. Pengujian Kadar Zat Menguap
1. Peralatan dan Bahan a. Alat
- Neraca : Pembacaan mencapai 0,1 mg - Cawan porselin : Kapasitas 50-60 ml
- Tang : Panjang kira-kira 20 cm
- 0 v e n : Dapat digunakan pada suhu 100 ± 3 ° Cdilengkapi dengan alat pengontrol suhu, kipas angin (fan) dan sistem sirkulasi udara
b. Bahan - Karet remah
2. Prosedur Kerja
1. Ditimbang sampel 10 gram dengan ketelitian mendekati 0,1 mg.
2. Ditimbang cawan dan dicatat beratnya
3. Gunting lembaran tipis contoh uji tersebut menjadi potongan kecil berukuran 2,5 x 2,5mm, selanjutnya dimasukkan kedalan cawan yang telah dipanaskan kedalam oven
pada suhu 100 ° C dan telah diketahui bobotnya selama 3 jam.
4. Cawan berikut karet kemudian dipanaskan didalam oven pada suhu 100 ° C selama 3 jam ( sampai bobot tetap ). Dinginkan didalam desikator sampai suhu kamar ( ± 30 menit) kemudian ditimbang kembali.
Perhitungan :
Kadar zat menguap x C
B A−
= 100% ...(3.3 )
A = bobot cawan berikut contoh sebelum dipanaskan B = bobot cawan berikut contoh setelah dipanaskan C = bobot potongan uji
3.6.5 Pengujian Plasticity Retention Index 1. PeralatandanBahan
a. Alat
1. Wallace Punch : Alat pemotong contoh uji
2. Wallace Rapid Plastimeter : Alat uji plastisitas karat yang dilengkapi dengan alat pengukur waktu otomatis
3. Alatpengukurwaktu : Alat pengukur waktu pengusangan yang dilengkapi dengan bel.
4. Oven
5. Tatakan contoh : Untuk menempatkan potongan uji yang diusangkan.
6. Kertas sigaret.
a. Bahan Karet remah
2. Prosedur Kerja
1. Giling contoh uji seberat 15-25 gram maksimum tiga kali dengan gilingan laboratorium yang telah diatur sehingga kedua rollnya berputar tanpa fiksi.
2. Celah rol diatur sedemikian rupa sehingga lembarankaret yang dihasilkan mempunyai ketebalan antara 1,6-1,8 mm. Apabila setelah tiga kali gilingan diperoleh lembaran karet dengan ketebalan tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan, maka atur kembali celah roll dan gunakan contoh uji baru untuk digiling. Lembaran karet yang dihasilkan tidak boleh berlubang dan mempunyai ketebalan yang merata setiap bagian. Lembaran tersebut kemudian dilipat dua dan ditekan dengan telapak tangan. Selanjutnya dipotong dengan Wallace punch sebanyak enam potongan uji.
3. Potongan uji (1) untuk pengukuran plastisitas awal dan potongan uji (2) untuk pengukuran plastisitas setelah pengusangan. Potongan uji harus
mempunyai ketebalan antara 3,2-3,6 mm ( ketelitian 0,01 mm ) dengan garis tengah ± 13 mm.
4. Letakkan potongan uji untuk pengukuran plastisitas setelah pengusangan diatas tatakan contoh dan dimasukkan kedalam oven pada suhu 1400C ± 0,20
5. Keluarkan, kemudian didinginkan sampai suhu kamar.
C selama 30 menit.
6. Pada pengukuran plastisitas wallace, letakkan potongan uji diantara dua lembar kertas sigaret yang berukuran 40 mm x 35 mm diatas piringan plastisimeter, kemudian tutup piringan plastimeter tersebut. Setelah ketukan pertama piringan bawah akan bergerak keatas selama 15 detik dan menekan piringan atas, dan setelah ketukan kedua berakhir dicatat sebagai nilai pengukuran plastisitas.
7. Angka yang dicatat adalah angka yang ditunjuk oleh mikrometer/display pada waktu berhenti bergerak.
Perhitungan
Plasticity retention indeks x Po
P Pa( 30)
= 100 ...( 3.4 )
Po = Plastisitas awal
Pa (P30) = Plastisitas setelah pengusangan selama 30 menit 3.6.6. Pengujian Tegangan Putus dan Perpanjangan Putus
Peralatan : - Pisau /pons
- Alat uji kuat tarik (tensile strength)
Prosedur :
a. Buat cuplikan dengan bentuk dan ukuran seperti gambar Sumber : SNI 0778-2009
Keterangan :
a. : (75±1) mm b. : (25±1) mm c. : (3±0,1) mm d. : (25±0,5) mm e. : (50±1) mm
Tebal cuplikan : maksimum 2 mm
b. Beri tanda dua garis pada cuplikan berjarak ( 2,5 ± 0,5 ) mm, simetris dari tengah cuplikan
c. Ukur lebar dan tebal cuplikan ditempat sekitar d, hitung rata-ratanya kemudian pasang pada alat sehingga jarak antara kedua jepitan ( 50 ± 1 ) mm
d. Penarikan dikerjakan dengan kecepatan ( 250 ±10 ) mm/menit sampai cuplikan putus.
e. Lakukan minimum tiga kali pengujian, hitung rata-ratanya.
Perhitungan :
Perpanjangan Putus = 100%
0
F adalah beban yang diperlikan untuk menarik cuplikan sampai putus (N)
t adalah tebal cuplikan ( mm ) w adalah lebar cuplikan (mm)
l0
l
adalah panjang ukur cuplikan antar 2 tanda garis
1
3.6.7. Pengujian Kekerasan
adalah panjang ukur cuplikan antara 2 garis pada waktu putus
adalah panjang ukur cuplikan antara 2 garis pada waktu putus