KAJIAN PUSTAKA
A. Harapan Orang Tua terhadap Anak
Orang tua adalah ayah ibu kandung, orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli), orang yang dihormati dan disegani di kampung (KBBI, 2007:802). Orang tua atau ibu dan ayah memegang peran yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula menjadi temannya dan yang mula-mula dipercayainya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimaafkannya, kecuali apabila ia ditinggalkan. Dengan memahami segala sesuatu yang terkandung di dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai agak besar, disertai kasih sayang, dapatlah ibu mengambil hati anaknya selama-lamanya.
Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Di mata anaknya ia seorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai di antara orang-orang yang dikenalnya. Cara ayah itu melakukan pekerjaannya sehari-hari berpengaruh pada cara pekerjaan anaknya.
ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang agak besar, baik laki-laki maupun perempuan, bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya (Daradjat, 2011:35).
Orang tua atau keluarga adalah lembaga yang pertama dan utama yang dikenal oleh anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah orang yang pertama dikenal dan diterimanya pendidikan, bimbingan, perhatian, dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius diri anak didik (Ahid, 2010:61). Sehingga orang tua mempunyai peran penting dalam pendidikan yang didapatkan anak di luar sekolah, dikarenakan orang tua memiliki kewajiban dalam melindungi keluarganya dari api neraka, yang Allah berfirman dalam Al-Quran surat at tahriim ayat ke 6 yaitu:
ٌظ َلَِغ ٌةَكِئَهَم بَهْيَهَع ُةَزبَجِحناَو ُ بَّىنابهُدىُقَو اَزبَو ْ ُكيِهْهَأَو ْ ُكَسُفْوَأاىُقاىُىَماَا َهيِرَّنابَهُيَأَي
َنوُسَمْؤُي بَم َنىُهَعْفَيَو ْ ُهَسَمَأبَم َالله َنىُصْعَي َلاٌداَدِش
{
٦
}
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim (66) 6).
Ayat di atas menjelaskan bahwa baik dirinya sendiri, maupun keluarganya harus dijaga dari api neraka. Dalam menjaga keluarganya, terutama anaknya dari api neraka, yaitu dengan memberikan pendidikan yang baik untuk anak,
selain sekolah anak juga membutuhkan pendidikan dari orang tua, karena sekolah sifatnya hanya membantu dalam mendidik anak. Karena kunci pendidikan terletak pada pendidikan agama di sekolah, dan kunci pendidikan agama di sekolah terletak pada pendidikan agama dalam rumah tangga. Kunci pendidikan agama dalam rumah tangga itu ialah mendidik anak menghormati Allah Swt, orang tua, dan guru. Sehingga faktor utama dalam mencetak generasi muda yang baik yaitu pada tangan orang tua (Tafsir, 2014:187)
Kasih sayang identik dengan orang tua, sehingga Sadulloh dalam bukunya Pedagogik (Ilmu Mendidk) menyatakan bahwa dalam hal pendidikan, kasih sayang harus mendasari semua upaya dalam membawa anak menuju tujuannya, yaitu kedewasaan. Orang tua sudah seharusnya menumpahkan kasih sayang terhadap anaknya selama mereka membimbingnya sampai mencapai dewasa (Sadulloh, 2014:156). Akan tetapi dalam kasih sayang juga menjaga jangan sampai dirasakan tidak adil oleh anak-anaknya. Pilih kasih orang tua akan berdampak tidak baik terhadap perkembangan kejiwaan anak. Anak yang merasa dikesampingkan akan merasa sakit hati, benci bahkan akan menaruh dendam bukan saja kepada saudaranya yang di anak emaskan tetapi juga kepada orang tuanya sendiri. Dan kalau sudah mencapai keadaan seperti ini mau tidak mau juga orang tua yang direpotkan.
Hasyim mempertegas bahwa pilih kasih orang tua akan menumbuhkan ketidakpuasan, putus asa, ngambek, pertengkaran, intrik dan fitnah, perpecahan bahkan sampai kepada durhaka atau melawan orang tuanya, juga bisa menyebabkan timbul dendam dan permusuhan antara anak yang satu dengan yang lain.
Dari uraian diatas dapat di ambil garis besarnya, bahwa Islam memandang semua anak laki-laki dan perempuan adalah sama, oleh sebab itu tidak dibenarkan adanya pilih kasih terhadap sebagian di antara mereka (Ahid, 2010: 118).
Harapan yang dari orang tua yaitu agar terlindung dari api neraka yang telah difirmankan oleh Allah Swt, yaitu dengan mendidik anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, agama, dan Negara sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang akan bermanfaat bagi sesama manusia. Dengan demikian dalam surat at tahriim tersebut, adalah harapan orang tua yang harus di upayakan agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga akan mencapai tujuan pendidikan, salah satunya adalah tujuan pendidikan yang di sampaikan oleh Ibn Khaldun yang membagikan tujuan-tujuan pendidikan itu kepada :
1. Mempersiapkan seseorang dari segi keagamaan yaitu mengajarkan syiar-syiar agama menurut al-Quran dan sunnah, sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat, sebagaimana halnya dengan potensi-potensi lain yang telah mendarah daging maka ia seakan-akan menjadi fithrah (Khaldun, 1962 : 1239-1240).
2. Menyiapkan seseorang dari segi akhlak (Khaldun, 1962 : 539).
3. Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial (Khaldun, 1962 : 422)
4. Menyiapkan seseorang dari segi vokasial atau pekerjaan. Dikatakannya bahwa mencari dan menegakkan hidupnya mencari pekerjaan, sebagaimana ditegaskannya pentingnya pekerjaan sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan dianggapnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu (Khaldun, 1962 :928)
5. Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran, sebab dengan pemikiran seseorang itu dapat memegang berbagai pekerjaan pertukangan atau ketrampilan tertentu seperti telah diterangkan di atas (Khaldun, 1962 : 972).
Sehingga jika melihat tujuan yang di sampaikan Ibn Khaldun dapat diambil pengertian bahwa pendidikan akan membantuk pribadi khalifah yang baik (Langgung, 2004:55). Dari tujuan diatas dapat diperkuat dengan firman Allah Swt, dalam Surat Ali-Imran ayat ke-35, termasuk dalam harapan orang tua terhadap anaknya, yaitu :
َكَّوِإ يِّىِم ْمَّ َ َحَف اًزَّسَحُم يِىْطَب يِفبَم َكَن ُتْزَرَو يِّوِإ ِّةَز َناَسْمِع ُتَأَسْما ِثَنبَق ْذِإ
ُ يِهَعْنا ُييِمَّسنا َثوَأ
{
٣٥
}
“(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata:"Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (Ali „Imran : 35)
B. Upaya Orang Tua dalam Mewujudkan Harapan
Harapan orang tua yang baik, yaitu sesuai dengan apa yang telah di firmankan oleh Allah Swt dalam Al-Quran surat at tahriim ayat ke- 6. Dengan menhindarkan dirinya dan keluarganya dari api neraka, harapan yang begitu mulia dari orang tua yang tidak menginginkan anaknya susah di dunia maupun di akhirat. Sehingga dengan harapan tersebut akan muncul gagasan untuk mengupayakan agar menjadi kenyataan.
Orang tua yang sebagai pemimpin dalam keluarganya harus bertanggung jawab dalam kepemimpinannya. Dikarenakan setiap manusia adalah makhluk yang mempunyai tanggung jawab dan kewibawaan. Setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap yang lain, terutama terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya (Sadulloh, 2014:175). Dengan demikian orang tua bertanggung jawab atas kehidupan anaknya, yaitu bahagia dunia dan akhirat. Rasa tanggung jawab orang tua pada anak dengan memberikan ilmu pendidikan yang baik, sehingga anak akan memiliki bekal untuk menjadi generasi penerus bangsa yang baik.
Pendidikan anak adalah salah satu upaya yang akan mewujudkan harapan tersebut. Dengan pendidikan anak akan memahami dan mengetahui baik dan buruk, sehingga dapat menjalankan perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk.
Hal tersebut sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan untuk selalu taat pada apa yang sudah diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang sudah dilarang oleh Allah. Sehingga orang tua memberikan kesempatan bagi anaknya untuk mengenyam pendidikan.
Pendidikan adalah seluruh kegiatan yang direncanakan, dengan materi terorganisasi, dilaksanakan secara terjadwal dalam sistem pengawasan, dan diberikan evaluasi berdasar pada tujuan yang telah ditentukan. Dengan pendidikan secara terjadwal itulah pemerintah membantu masyarakan Indonesia untuk mendidik anaknya dangan mendirikan sekolah-sekolah di berbagai wilayah. Keterbatasan kemampuan (intelektual, biaya, waktu) orang tua menyebabkan ia mengirim anaknya ke sekolah. orang tua meminta tolong agar sekolah membantunya mendidik (mendewasakan) anaknya. inilah dasar kerjasama antara orang tua dan sekolah dalam pendidikan (Tafsir, 2003:128).
Sekolah adalah lingkungan kedua bagi anak, disana memiliki guru sebagai orang tua kedua yang akan mendidik anak menjadi baik. Mendidik adalah tugas yang amat luas. Mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, sebagian dalam bentuk memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan, dan lain sebagainya (Tafsir, 2014:78).
Harapan pendidikan anak akan sukses juga tergantung pada peran dan pengaruh guru yang amat besar. Untuk itu guru umumnya menggunakan alat-alat pendidikan.
Di sini guru membentuk suatu lingkungan yang bersuasana tenang menggairahkan sehingga memungkinkan keterbukaan hati anak untuk menerima pengaruh didikan (Daradjat, 2011:64). Setelah hal tersebut dapat dilakukan oleh guru, kemudian memberikan anak sesuai dengan konsep dari Ki Hajar Dewantara yaitu “Tut wuri handayani”. Tut wuri handayani merupakan bagian dari konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang secara keseluruhan berbunyi sebagai berikut.
Ing ngarso sung tulodo Ing madyo mangun karso Tut wuri handayani
Ing ngarso sung tulodo artinya jika pendidik sedang berada di “depan” maka hendaklah memberikan contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya. Ing ngarso yaitu di depan; sung yaitu memberi; tulodo yaitu contoh atau teladan. Ing madyo mangun karso berarti jika pendidik
sedang berada di “tengah-tengah” anak didiknya, hendaklah ia dapat
mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Ing madyo yaitu di tengah;
mangun yaitu membangun, menimbulkan dorongan; karso yaitu kehendak
atau kemauan. Ditambah dengan tut wuri handayani yang telah diuraikan terdahulu, maka ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang utuh (Purwanto, 2007:63). Akan tetapi dengan batasan waktu belajar dalam sekolah, pendidikan anak di kembalikan lagi pada orang tua.
Orang tua tidak hanya menyerahkan begitu saja pendidikan anaknya pada gruru, harus ada kerjasama diantara keduanya sehingga akan maksimal dalam pendidikan anknya. Anak atau siswa pastilah memiliki rasa bosan dan malas dalam belajar, disitulah tugas orang tua dalam membangunkan motivasi anak dengan mengkomunikasikan secara baik. Dikarenakan komunikasi yang tidak baik akan membuat anak sulit untuk mengenali dirinya sendiri dan orang lain. kemudian akan muncul pertanyaan dari anak “ apasih sebenarnya maunya ayah dan ibu?”, kebingungan ini mengakibatkan tidak tumbuhnya motivasi dalam diri anak (Musbikin, 2009:122). Dari sinilah orang tua harus pandai-pandai dalam berkomunikasi dengan anak.
Motivasi dari orang tua adalah salah satu upaya dalam orang tua mewujudkan harapannya, karena motivasi adalah suatu kegiatan memberikan dorongan agar anak bersedia dan mau mengerjakan kegiatan atau perilaku yang diinginkan orang tua (Prayitno, 2004:484). Sehingga akan mempermudah terwujudnya harapan tersebut. Selain memberikan motivasi untuk belajar di sekolah, orang tua juga memberikan bimbingan ke arah kehidupan yang baik, yaitu antara lain :
a. Bimbingan ke arah kehidupan mandiri. Hal ini sesuai dengan anjuran Nabi, agar kehidupan seseorang tidak menjadi beban bagi orang lain, demikian pula tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah.
b. Berkemauan keras untuk bekerja. Hidup dan kehidupan berdimensi kenikmatan sekaligus perjuangan. Kenikmatan tidak mungkin dicapai tanpa melalui perjuangan yang tentu saja membutuhkan kesungguhan dan penuh rintangan.
اًسْسُي ِسْسُعْنا َ َم َنِإ
{
٦
}
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Al
-Quran, Asy-Syarkh/94:6)
c. Menjauhi sikap serakah yang berlebihan sehingga melampui batas yang telah ditentukan oleh agama.
d. Menumbuhkan sikap selalu ingin maju dalam proses kehidupan. Islam adalah agama yang dinamis yang menghendaki agar penganutnya selalu maju dan berkembang. e. Mengutamakan kualitas daripada kuantitas.
Dari keterangan tersebut diatas, dapat kita ambil pengertian bahwa pada dasarnya keluarga (orang tua) berkewajiban memberi pengarahan dan bimbingan kepada anak-anaknya untuk hidup mandiri, menumbuhkan sikap yang kreatif dan dinamis, berkemauan keras untuk bekerja, merealisasikan nilai-nilai
spiritual dan material, serta nilai-nilai individual dan sosial (Ahid, 2010:150).
C. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak 1. Pengertian pola asuh orang tua
Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik, dan akhlak yang terpuji. Orang tua adalah sebagai pembentuk pribadi yang pertama dan utama dalam kehidupan anak, dan harus menjadi suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya. Pola asuh pada dasarnya merupakan parental control, yakni bagaimana orang tua mengontrol, membimbing, dan mendampingi anak-anaknya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannya menuju pada proses pendewasaan.
Dalam mendidik anak, orang tua memiliki berbagai macam bentuk pola asuh yang bisa dipilih dan digunakan. Tapi sebelum membahas tentang macam-macam pola asuh orang tua. terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian pola asuh itu sendiri.
Menurut Khon pola asuh merupakan cara orang tua berinteraksi dengan anak yang meliputi pemberian aturan, hadiah, hukuman, pemberian perhatian, serta tanggapan orang tua terhadap setiap perilaku anak. Menurut, Shanti pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai, memberikan perhatian dan kasih sayang, serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, sehingga dijadikan contoh atau panutan bagi anak (Mualifah, 2009: 42-43).
Dari pengertian diatas dapat diambil pengertian tentang pola asuh, jadi pola asuh adalah suatau keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak dimana orang tua bermaksud mengadakan interaksi yang baik dengan anaknya agar dapat menjadi anak yang mandiri, tumbuh dan berkembang dengan sehat dan optimal serta berakhlakkul karimah (Mansur, 2005:51). 2. Macam-macam pola asuh orang tua
Berbagai macam pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya. Dalam pola asuh terdapat dua perspektif, yaitu Islam dan para ahli, hal itu akan dipaparkan sebagai berikut :
a. Pola asuh anak dalam perspektif Islam
Dalam syariat Islam sudah diajarkan kewajiban bagi seorang muslim karena anak merupakan amanat yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang tua, hal ini dipertegas dalam firman Allah Swt.:
ٌةَكِئَهَم بَهْيَهَع ُةَزبَجِحناَو ُ بَّىنابهُدىُقَو اَزبَو ْ ُكيِهْهَأَو ْ ُكَسُفْوَأاىُقاىُىَماَا َهيِرَّنابَهُيَأَي
َنوُسَمْؤُي بَم َنىُهَعْفَيَو ْ ُهَسَمَأبَم َالله َنىُصْعَي َلاٌداَدِش ٌظ َلَِغ
{
٦
}
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim (66) 6).
Maksud dari ayat tersebut orang tua wajib menjaga keluarganya dari api neraka dengan cara mengarahkan, mendidik, dan mengajarkan anak agar terhindar dari siksa api neraka.
Hal ini juga memberikan arahan bagaimana orang tua harus mampu menerapkan pendidikan yang bisa membuat anak mempunyai prinsip untuk menjalankan ajaran Islam dengan benar, sehingga mempu membentuk mereka menjadi anak yang mempunyai akhlak yang baik, dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat.
b. Pola asuh dalam perspektif para ahli 1) Pola asuh menurut Papalia dan Olds
a) Pola asuh yang bersifat mendorong dan menghambat b) Pola asuh yang bersifat mendorong (enabling)
c) Pola asuh yang bersifat menghambat ( Mualifah, 2009:54-55)
2) Pendeskripsian pola asuh menurut Nasih Ulwah a) Pola asuh yang bersifat keteladanan
b) Pola asuh yang bersifat nasihat
c) Pola asuh dengan perhatian dan pengawasan.
3) Menurut Hurlock yang dikutip oleh Chabib Toha ada 3 macam pola asuh yaitu:
a) Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-anaknya dengan aturan-aturan yang ketat.
b) Pola asuh demokratis
Pola asuh yang ditandai dengan pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak-anaknya dan kemudian diberi kesempatan untuk tidak selalu bergantung kepada orang tua.
c) Pola asuh laisses fire
Pola asuh ini dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, bebas melakukan apa saja yang dikehendakinya (Mansur, 2005: 354-356).
4) Dariyo mengemukakan pendapat Bumrind, ahli psikologi perkembangan membagi pola ashu menjadi 3, tatapi Dariyo menambah satu lagi menjadi 4 yaitu:
a) Pola asuh otoriter
Pola asuh ini menekankan segala aturan orang tua harus ditaati
b) Pola asuh permisif
Pola asuh ini yakni segala aturan dan ketetapan keluarga ditangan anak. Apa yang dilakukan anak diperbolehkan orang tua.
c) Pola asuh demokratis
Pola asuh ini dimana kedudukan antara orang tua anak sejajar. Suatu keputussan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak.
d) Pola asuh situasional
Pola asuh ini tidak berdasarkan pola asuh tertentu, tetapi semua tipe tersebut diterapkan secara luwes atau secara fleksibel sesuai keadaan atau kondisi.
Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan diatas. Penulis hanya akan mengemukakan tiga macam pola asuh saja, yaitu pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pola asuh otoriter
pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa memperhatikan keinginan dan pendapat serta melihat keadaan anak. Orang tua yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak, dan anak hanya sebagai objek pelaksana saja. Jika anak menentang atau membantah, maka orang tua tidak akan segan-segan memberikan hukuman. Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangatlah dibatasi. Apa saja yang dilakukan anak haruslah sesuai dengan keinginan orang tua. Cirri-ciri pola asuh otoriter yaitu: 1) Memperlakukan anak dengan tegas
2) Suka menghukum anak yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan orang tua
4) Kurang simpatik
5) Mudah menyalahkan segala aktivitas anak terutama ketika anak ingin berlaku kreatif (Mualifah, 2004: 45-46).
Setiap pola asuh orang tua pasti mempunyai dampak yang berbedabeda, baik itu positif maupun negatif. Menurut Dariyo (2004: 98) dari segi positifnya, anak yang didik dalam pola asuh otoriter ini, cenderung akan menjadi disiplin yakni menaati peraturan. Sedangkan dari sisi negatifnya anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu, karena anak hanya mau menunjukan kedisiplinan dan kepatuhan dihadapan orang tua saja. Menurut Baumrind pola asuh otoriter mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Umumnya dianut oleh kelas bawah/pekerja
b) Didominasi oleh hukuman fisik dan kata-kata kasar c) Menuntut kepatuhan semata
d) Terlalu banyak aturan
e) Sikap acceptance rendah dan kontrol tinggi
f) Orang tua bersikap mengharuskan anak melakukan sesuatu tanpa kompromi
g) Bersikap kaku dan keras
h) Cenderung emosional dan bersikap menolak.
Sedangkan kelebihan dari pola asuh otoriter adalah sebagai berikut: a) Anak menjadi disiplin dan teratur
b) Akan menguntungkan jika orang tua dan pondasi agamanya kuat (Lestari dan Ngatini, 2010: 6).
2. Pola asuh demokratis
Menurut Baumrind adalah kedudukan antara orang tua dan anak sejajar, suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak (Dariyo, 2004: 98). Jadi pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang dinginkan, tetapi dengan tidak melewati batas-batas aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. Orang tua juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Menurut Diana Baumrind pola asuh demokratis ini mempunyai beberapa cirri antara lain:
a. Umumnya memprioritaskan pengembangan IQ dan EQ
b. Identik dengan model barat tetapi masih mengindahkan nilai dan budaya ketimuran
c. Hukuman lebih condong kepada hukuman psiklogis d. Sikap acceptance dan kontrol seimbang
e. Respon terhadap anak
f. Mendorong anak untuk menanyatakan pendapatnya g. Segala sesuatu coba dijelaskan.
Kelebihan dari pola asuh demokratis adalah a. Pendapat anak menjadi tertampung b. Anak belajar menghargai perbedaan c. Pikiran anak menjadi optimal d. Pola hidup anak menjadi dinamis. Kelemahan dari pola asuh ini adalah : a. Lebih kompleks, sehingga rawan konflik
b. Jika tidak terkontrol, anak bisa menyalah artikan pola demokrasi untuk hal-hal yang destruktif (Lestari dan Ngatini, 2010: 8-9).
3. Pola asuh permisif
Menurut Diana Baumrind yakni segala aturan dan ketetapan keluarga ditangan anak, apa yang dilakukan anak diperbolehkan oleh orang tua, anak cenderung bertindak semena-mena (Dariyo,2004: 98).
Menurut Baumrind pola asuh permisif memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1) Orang tua memberikan kebebasan kepada anak seluas mungkin 2) Anak tidak dituntut untuk belajar bertanggung jawab
3) Anak diberi hak yang sama seperti orang dewasa, dan diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk mengatur diri sendiri
4) Orang tua tidak banyak mengatur dan mengontrol, sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengatur diri sendiri dan diberikan kewenangan untuk mengontrol dirinya sendiri.
Menurut Baumrind ada beberapa cap untuk orang tua, pertama, orang tua yang sangat menerima namun tidak pernah ada tuntutan terhadap anaknya, ini disebut indulgent (sangat sabar). Kedua, tipe orang tua yang sifat penerimaan dan tuntutannya sama tingginya, maka disebut orang tua otoritatif (pemberi kewenangan). Ketiga, orang tua yang sangat menuntut perilaku anaknya, ini disebut orang tua otoriter. Keempat, orang tua tidak pernah menuntut sama sekali dan tidak menerima anaknya, ini disebut tipe orang tua yang indifferent (tidak acuh/penelantar) (Mualifah, 2009: 48-49).
D. Kendala dalam Mengupayakan Harapan