POLA ASUH DAN EKSPEKTASI BURUH PABRIK TERHADAP
PENDIDIKAN ANAK (Studi Kasus pada Siswa Kelas XI di SMA
Islam Sudirman Ambarawa Tahun Pelajaran 2016/2017)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam
Oleh : Shepta Adi Nugraha
NIM : 111-13-150
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MOTTO
بَىَعَم َالله َّنِإ ْنَزْحَجَلا
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirobbil’alamin dengan rahmat dan hidayah Allah SWT
skripsi ini telah selesai. Skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Bapak Puji Santoso dan Ibu Nanik Agustina yang senantiasa memberikan nasehat, kasih sayang dan jerih payahnya mendidik dari kecil sampai di bangku kuliah S1 di IAIN Salatiga ini, serta tidak lelah mendo‟akan yang terbaik tanpa henti untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sesama dan kebahagian anak-anaknya.
2. Enjang Mia Afiati, Oki Surya Danu Arta, dan Melisa Aulia Sari yang telah memberikan semangat untuk menjalani perkuliahan dengan baik.
3. Keluarga besar Bapak Puji Santoso yang ada di Bawen, dan keluarga besar Ibu Nanik Agustina yang ada di Klaten, Wonosobo dan Sidoharjo, yang banyak memberikan limpahan motivasi dan do‟a.
4. Dosen Pembimbing Skripsiku, Ibu Dr.Lilik Sriyanti, M.Si yang selalu memberikan pengarahan serta bimbingan dengan penuh kesabaran selama proses skripsi ini.
5. Keluarga besar PPL SMK Saraswati ( Abidin, Mubin, Masrurah, Kharis, Puji,
Annisa, Nisa‟, Fitri) dan KKN Posko 25 di Desa Bade, Dusun Wates Barat
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, meskipun dalam wujud yang sederhana. Salam sejahtera semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menuntun umatnya dari zaman kejahilan menuju zaman keislman.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih dengan ketulusan hati, khususnya kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga. 2. Bapak Suwardi, S.Pd, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan.
3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. Ibu Dr. Hj. Lilik Sriyanti, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan segala tenaga, pikiran dan bimbingannya dengan penuh kesabaran sehingga skripsi ini dapat terselesiakan.
5. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah membekali berbagai ilmu Pengetahuan, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
ABSTRAK
Nugraha, Shepta Adi. 2017. Pola Asuh dan Ekspektasi Buruh Pabrik Terhadap Pendidikan Anak (Studi Kasus pada Siswa Kelas XI di SMA Islam Sudirman
Ambarawa Tahun Pelajaran 2016/2017. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama
Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing. Dr. Lilik Sriyanti, M.Si
Kata Kunci: Harapan, Upaya, Pola Asuh, Kendala, Respon Anak.
Tujuan penelitian skripsi ini ada lima hal yaitu : (1) Harapan orang tua buruh pabrik terhadap anaknya, (2) Upaya yang dilakukan orang tua dalam mewujudkan harapan, (3) Pola asuh yang diterapkan dalam keluarga buruh pabrik, (4) Kendala orang tua dalam mengupayakan harapannya, (5) Respon anak dalam upaya orang tuanya mewujudkan harapan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN BERLOGO ... ii
HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v
MOTTO... vi
PERSEMBAHAN ... vii
KATAPENGANTAR ... viii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang………..1
B. Fokus Penelitian………9
C. Tujuan Penelitian………..10
D. Kegunaan Penelitian……….10
E. Penegasan Istilah………..12
F. Metode Penelitian……….22
G. Sistematika Penulisan………...28
BAB II KAJIAN PUSTAKA………...30
A. Harapan Orang Tua terhadap Anak…………...………...30
B. Upaya Orang Tua dalam Mewujudkan Harapan………..35
C. Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak………...40
D. Kendala dalam Mengupayakan Harapan………..48
E. Respon Anak……….51
A. Profil SMA Islam Sudirman Ambarawa………....53
B. Profil Subjek………...61
C. Temuan Penelitian………..70
1. Harapan Orang Tua terhadap Anak………..70
2. Upaya Orang Tua dalam Mewujudkan Harapan………..80
3. Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak………...84
4. Kendala dalam Mengupayakan Harapan………..88
5. Respon Anak……….92
BAB IV PEMBAHASAN………..100
A. Harapan Orang Tua terhadap Anak………100
B. Upaya Orang Tua dalam Mewujudkan Harapan………106
C. Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak……….110
D. Kendala dalam Mengupayakan Harapan………113
E. Respon Anak………...117
BAB V PENUTUP………..120
A. Kesimpulan………..120
B. Saran………....123 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Profil SMA Islam Sudirman Ambarawa………54
Tabel 3.2 Jumlah peserta didik, program dan jurusan………55
Table 3.3 Jumlah guru atau kariyawa..………...58
Table 3.4 kondisi orang tua………59
Table 3.5 penghasilan orang tua……….60
DAFTAR LAMPIRAN
1. Nota Pembimbing Skripsi
2. Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian 3. Surat Keterangan Melakukan Penelitian 4. Lembar Konsultasi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah Swt menciptakan manusia dengan keadaan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, sehingga manusia dijadikan di muka bumi ini sebagai kholifah, yaitu sebagai penjaga dan pemelihara bumi. Dengan demikian manusia memiliki tanggung jawab yang besar dalam melestarikan bumi ini. Apa yang dibutuhkan oleh manusia di muka bumi ini sudah di berikan dan ditundukkan makhluk dibumi ini untuk manusia, agar manusia bersyukur dan mengemban tanggung jawab dengan baik.
Hal ini di abadikan dalam Al-Quran surat al-baqarah ayat ke 30 yang berbunyi
بَهيِف ُدِسْفُي هَم بَهيِف ُمَعْجَجَأاىُنبَق ،ًةَفيِهَخ ِضْزَلأا ىِف ٌمِع بَج يِوِإ ِةَكِئَهَمْهِن َكُّبَز َلبَق ْذِإَو
َنىُمَهْعَج َلا بَم ُ َهْعَأ ىِّوِإ َلبَق ،َكَن ُ ِدَ ُوَو َ ِدْمَحِب ُ ِّ َسُو ُهْحَوَو َابَم ِّدنا ُكِفْسَيَو
.
{
٣٠
}
Artinya : ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “ Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Mereka berkata: “ Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
Ayat diatas menunjukkan bahwa apa yang sudah menjadi kehendak Allah adalah tidak dapat dirubah oleh siapapun, dan Allah Swt maha mengetahui dibandingkan dengan makhluk yang diciptakan-Nya. Dengan demikian manusia haruslah menjaga kepercayaan Allah yang diberikan padanya, untuk menjadi khalifah di bumi ini dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi manusia yang diciptakan dari sari pati tanah, dengan diciptakan paling sempurna dari makhluk lainnya, tidak langsung menjadi insan yang sempurna, melainkan manusia juga butuh belajar, sehingga akan menjadi manusia yang sempurna dan yang diharapkan oleh Allah Swt, yaitu menjadi khalifah di muka bumi ini dengan baik dan adil.
Awal manusia dilahirkan dari kandungan bunda, dengan keadaan lemah, dan hanya bisa menangis, organ-organ dalam tubuhnya belum berfungsi sepenuhnya sehingga belum bisa melakukan apa-apa. Dengan hal itu bayi tersebut membutuhkan kasih sayang orang tua. Rasa kasih sayang dari orang tua itu bisa didapat dalam sebuah keluarga.
Orang tua secara kodrati langsung memikul tenaga sebagai tenaga pendidik, baik bersifat sebagai pemelihara, sebagai pengasuh, sebagai pembimbing, sebagai Pembina maupun sebagai guru dan pemimpin terhadap anak-anaknya (Sadullah, 2014:188). Dengan demikian orang tua yang dapat menjadikan anaknya sebagai insan yang sempurna, sehingga akan menjadi khalifah di muka bumi ini dengan tanggung jawab yang baik.
Peran orang tua yang sangat berpengaruh ini, terkadang tidak dimengerti oleh mereka, bahkan tidak sedikit orang tua yang menyepelekan tanggung jawab ini, dengan mentelantarkan anaknya. Faktor yang mempengaruhi orang tua tidak sepenuhnya mendidik anaknya dengan baik adalah terutama pada profesi orang tua. Orang tua yang bekerja dengan keras dengan harapan agar anaknya dapat tercukupi segala apa yang dibutuhkan, salah satunya adalah orang tua yang berprofesi sebagai buruh pabrik.
Dengan demikian jika waktu pengiriman terlambat hanya satu menit saja maka pengiriman itu dianggap gagal, dan mengakibatkan kerugian bagi pabrik, oleh karena itu banyak buruh pabrik yang diminta oleh atasannya untuk mengambil jam lembur guna mencapai target yang diinginkan oleh pabrik. Bahkan tidak sedikit buruh pabrik bekerja sampai sehari penuh, yaitu berangkat dari jam enam pagi pulang juga jam enam pagi. Akan tetapi berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan, terkadang anak dititipkan pada kakek dan neneknya, atau tetangganya, dan bahkan diserahkan pada pengasuh anak. Hal ini tidaklah baik bagi anak, dikarenakan dalam perkembangan anak sosok orang tua diharapkan akan menjadi figur bagi anak tersebut. Jika dalam perkembangan anak tidak didampingi oleh orang tua maka tidak akan bisa terkontrol dengan baik.
Faktor lainnya adalah belum mengerti akan pendidikan yang dibutuhkan oleh anak mendatang, terkadang orang tua bingung dengan apa yang ingin diberikan pada anaknya. Padahal orang tua adalah dalam keluarga sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun keluarga yang baik, seperti pernyataan dari Ahmadi dan Nuruhbiyati (2001:177) yaitu bahwa orang tua adalah pemimpin keluarga, maka orang tua bertugas sebagai pendidik, pemelihara, pengasuh, pembimbing, Pembina, maupun guru bagi anaknya. Sehingga perlu adanya wawasan yang luas dari orang tua untuk mendidik anak menjadi insan yang sempurna.
Ketidaktahuan orang tua metode dalam mendidik anak juga menjadikan anak berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan orang tua. Orang tua yang mendidik anaknya dalam nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, keberanian, kerja keras, kebersihan dan lain sebagainya, hanya diajarkan di mulut saja. Sementara nilai-nilai tersebut dalam dunia nyata kurang diperhatiakan. Sehingga anak akan merasa bahwa orang tuanya saja tidak bertindak seperti apa yang diajarkan padanya, jadi dia juga tidak mau menjalankan pendidikan akhlak tersebut.
demikian membutuhkan pembimbing, dan guru untuk mengarahkan anak tersebut untuk menuju insan yang sempurna. Orang tuanyalah yang selalu dekat, dan selalu berada di sisinya, yang dapat mendidik anaknya tersebut, akan tetapi dari faktor diatas menjadi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya. Dengan demikian pemerintah Indonesia mendirikan sekolah-sekolah yang terdapat di wilayah seluruh Indonesia. Yang berguna untuk membantu orang tua dalam mendidik anak, dan menjadikan anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa yang dapat dibanggakan.
Pendidikan di bangku sekolah adalah sarana untuk anak mencari pengetahuan baru dan pembentukan akhlak yang baik, karena dalam pendidikan di sekolah mengajarkan ilmu yang belum mereka ketahui, padahal tidak hanya memberi pengetahuan baru, melainkan mendidik untuk membentuk akhlak anak dengan baik.
Langevedl dalam buku Hasbullah menyatakan : “pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak, tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya” (Hasbullah, 2009: 2).
Pendidikan nasional mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab (UU RI No. 20, 2005. 108).
Sekolah adalah tempat anak belajar (Darajat, 2011: 72) yang dapat diartikan bahwa sekolah adalah lingkungan formal yang mana terdapat interaksi antara guru dengan siswa untuk menyalurkan sebuah ilmu pengetahuan, dan juga pembentukan akhlak anak yang baik. Di sekolah inilah anak akan dibina dan dididik menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bahkan bangsa. Sehingga anak akan terus di pantau perkembangan, dan akan terus dijaga motivasinya untuk terus mengikuti pembelajaran.
Lingkungan sekolah inilah peran guru sebagai orang tua kedua dari anak didik harus memiliki metode dalam menumbuh kembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik tersebut. Barizi (2010:142) berpendapat bahwa guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau di dalam kelas.
Kendala dari sekolah adalah jam belajar yang terbatas yaitu anak belajar di sekolah hanya beberapa jam saja, yang selebihnya sekitar sepertiga hari mereka dihabiskan di lingkungan dan keluarga. Sehingga akan kesulitan bagi guru untuk mengawasi dan mendidik anak secara utuh. Diperlukan kerja sama antara guru dan orang tua murid agar dapat senantiasa mengoptimalkan pendidikan yang didapat di sekolah.
Berangkat dari latar belakang di atas, penulis berusaha menelaah pendidikan yang didapat anak untuk memenuhi kriteria insan yang sempurna. Dengan harapan mampu menjawab permasalahan kekinian terkait dengan pendidikan anak yang kurang maksimal sehingga menghasilkan generasi yang degradasi moral. Karenanya penulis tertarik untuk mengangkat sebuah fokus pembahasan mengenai pendidikan anak
dengan judul “ Pola Asuh dan Ekspektasi Buruh Pabrik Terhadap
Pendidikan Anak (Studi Kasus pada Siswa Kelas XI di SMA Islam
Sudirman Ambarawa Tahun Ajaran 2016/2017)”. B. Fokus Penelitian
Berdasarkan judul penelitian diatas, maka ada beberapa hal yang akan diungkapkan oleh penulis, yaitu :
1. Apa harapan orang tua yang berprofesi sebagai buruh pabrik terhadap pendidikan anak?
3. Bagaimana pola asuh orang tua dalam pendidikan anak?
4. Kendala apa yang dihadapi orang tua yang berprofesi sebagai buruh pabrik dalam mewujudkan harapan tersebut?
5. Bagaimana respon anak sebagai terhadap tindakan orang tua dalam mengupayakan harapannya?
C. Tujuan Penelitian
Agar memberikan gambaran konkrit serta alasan yang jelas dalam pelaksanaan penelitian ini maka perlu dirumuskan tujuan yang ingin dicapai, untuk mengetahui :
1. Harapan orang tua yang berprofesi sebagai buruh pabrik sebagai orang tua terhadap pendidikan anak.
2. Upaya yang dilakukan orang tua yang berprofesi sebagai buruh pabrik dalam mewujudkan harapan tersebut.
3. Pola asuh orang tua dalam pendidikan anak.
4. Kendala yang dihadapi orang tua yang berprofesi sebagai buruh pabrik dalam mewujudkan harapan tersebut.
5. Respon anak terhadap tindakan orang tua dalam mengupayakan harapannya.
D. Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoretis
dengan demikian akan menjadi generasi penerus yang membanggakan keluarga dan negara.
b. Tulisan ini memberikan gambaran akan pentingnya pendidikan untuk mencetak generasi penerus bangsa yang baik.
2. Secara Praksis
a. Bagi Lembaga Pendidikan
Sebagai referensi sekolah dalam menjalin hubungan dengan orang tua, guna memberikan pendidikan yang terbaik untuk siswa, dan juga sebagai kerangka acuan untuk memberikan yang terbaik dalam memberikan pendidikan bagi anak, dan untuk menerapkan pendidikan yang inklusi.
b. Bagi Orang tua
Manfaat penelitian ini dapat dipakai oleh orang tua diantaranya sebagai berikut :
1) Menjadi pedoman teoretis bagi orang tua untuk menangani permasalahan pendidikan dari orang tua pada anak.
2) Menjadi pedoman metode orang tua dalam mendidik anak. c. Bagi Siswa atau Anak
E. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalah pahamaan dalam penafsiran judul di atas, maka perlu adanya pembatasan permasalahan yang akan penulis teliti. Sehingga tidak terjadi pembiasan dalam permasalahan. Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu diketahui dari istilah dalam judul diatas yaitu: a. Ekspektasi Buruh Pabrik
Ekspektasi adalah harapan besar yang di bebankan pada sesuaatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik (KBBIOnline.com, 2017, Ekspektasi, Http://Kbbi.web.id/ekspektasi.). Harapan yang dibebankan pada
penelitian ini adalah siswa atau anak yang orang tuanya sebagai buruh pabrik.
Buruh pabrik adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga seperti pabrik guna mendapatkan gaji yang berupa uang dengan batasan waktu yang ditentukan oleh pabrik. Dalam Undang-Undang Rebublik Indonesia nomor 13 tahun 2003 yang menjelaskan tentang ketenagakerjaan dalam bab I, pasal 1 yaitu:
Dalam undang undang ini yang dimaksud dengan :
3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
4. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 5. Pengusaha adalah :
a. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;
b. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
c. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
6. Perusahaan adalah :
b. Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
7. Perencanaan tenaga kerja adalah proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis yang dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan.
8. Informasi ketenagakerjaan adalah gabungan, rangkaian, dan analisis data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti, nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan.
9. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan.
10.Kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.
berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.
12.Pelayanan penempatan tenaga kerja adalah kegiatan untuk mempertemukan tenaga kerja dengan pemberi kerja, sehingga tenaga kerja dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, dan pemberi kerja dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.
13.Tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia.
14.Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak.
15.Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.
17.Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan,
membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya. 18.Lembaga kerja sama bipartit adalah forum komunikasi dan
konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/ serikat buruh yang sudah tercatat instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh.
19.Lembaga kerja sama tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah.
20.Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat syarat kerja dan tata tertib perusahaan.
atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah pihak. 22.Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang
mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, dan perselisihan pemutusan hubungan kerja serta perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan.
23.Mogok kerja adalah tindakan pekerja/buruh yang direncanakan dan dilaksanakan secara bersama-sama dan/atau oleh serikat pekerja/serikat buruh untuk menghentikan atau memperlambat pekerjaan.
24.Penutupan perusahaan (lock out) adalah tindakan pengusaha untuk menolak pekerja/buruh seluruhnya atau sebagian untuk menjalankan pekerjaan.
25.Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja/buruh dan pengusaha.
26.Anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun.
28. 1 (satu) hari adalah waktu selama 24 (dua puluh empat) jam. 29.Seminggu adalah waktu selama 7 (tujuh) hari.
30.Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.
31. Kesejahteraan pekerja/buruh adalah suatu pemenuhan kebutuhan dan/atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat.
32.Pengawasan ketenagakerjaan adalah kegiatan mengawasi dan menegakkan pelaksanaan peraturan perundang undangan di bidang ketenagakerjaan.
jika kinerja bagus dan dinamis maka buruh pabrik tersebut akan di perpanjang kontraknya, dan pada akhirnya akan diangkat menjadi buruh pabrik tetap. Dalam sistem kerjanya, buruh pabrik melakukan pekerjaan selama delapan jam, itu belum termasuk dalam jam lembur, jika barang yang akan di kirim belum selesai dalam memproduksinya maka pabrik memberi perintah untuk kerja lembur, bahkan ada sebagian buruh pabrik yang dari jam enam pagi sampai jam enam pagi lagi masih di pabrik untuk bekerja (UU No.13, Thn 2003).
Dunia pabrik sangat menuntut kecepatan, ketrampilan dan kerja yang sempurna, juga menuntut untuk disiplin, terutama disiplin waktu. Karena dunia pabrik mengibaratkan waktu adalah uang. Jika produksi barang yang akan dikirim kurang dari satu menit saja maka barang tersebut tidak akan diterima, dan akan mengakibatkan kerugian bagi pabrik.
Jadi ekspektasi buruh pabrik dapat disimpulkan bahwa harapan yang dimiliki oleh orang tua yang profesinya sebagai buruh pabrik, harapan itu ditujukan pada anaknya. Harapan orang tua pada anaknya pasti mengharapkan anaknya tidak seperti orang tuannya yang bekerja keras demi mencukupi hidupnya, dan berharap anaknya akan menjadi generasi penerus bangsa, yang menjunjung tinggi martabat orang tua, Negara, bahkan agama.
b. Pendidikan anak
Dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup, yaitu dari manusia lahir sampai tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan diri.
Pendidikan anak, tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan pemerintah adalah semaksimal mungkin untuk menciptakan pendidikan yang baik untuk anak. Dengan hal itu maka pendidikan merupakan keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang (Sadulloh, 2014 : 3).
Anak atau siswa merupakan seseorang yang sedang berkembang, memiliki potensi tertentu, dan dengan bantuan pendidik ia mengembangkan potensinya tersebut secara optimal (Sadulloh, 2014:135).
Jadi pendidikan anak adalah upaya manusia dalam mengupayakan hidup sejahtera, dengan mengenyam pendidikan pada masa perkembangan seseorang, yaitu pada masa anak-anak, tanpa memandang status ekonomi dan fisik seseorang., mereka berhak untuk mendapatkan pendidikan baik yang normal dan yang berkebutuhan khusus.
F. Metode Penelitian
Metode merupakan cara dalam melakukan penelitian. Metode juga bisa dikatakan sebagai alat untuk mengungkap permasalahan yang ada dalam ruang lingkup penelitian. Metode penelitian memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih (Maslikhah, 2013:66). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis metode kualitatif maka mencakup beberapa hal di antaranya:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan dan jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif menurut Kirk dan Milner adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergabung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan perselisihannya (Moleong, 2008:4).
Jadi penelitian ini berbentuk deskripsi atau gambaran pola asuh dan harapan orang tua sebagai buruh pabrik untuk mengupayakan anaknya dalam pendidikan, dengan mengenyam pendidikan di sekolah SMA Islam Sudirman Ambarawa.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti bertindak sebagai pengumpul data sehingga peneliti secara langsung datang dalam objek penelitian, agar peneliti mendapatkan data secara langsung oleh narasumber dalam objek yang diteliti, dengan demikian keterlibatan peneliti dalam mencari data secara langsung dan aktif adalah hal yang mutlak dalam mencapai keberhasilan dalam penelitian.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di SMA Islam Sudirman Ambarawa Kab. Semarang provinsi Jawa Tengah. Adapun geografisnya di jalan Jendral Sudirman no. 2A. Alasan penulis memilih lokasi SMA Islam Sudirman Ambarawa karena rata-rata yang bersekolah di SMA Islam Sudirman Ambarawa orang tuanya berprofesi sebagai buruh pabrik, sehingga terdapat hal yang menarik untuk diteliti tentang penyebab anak dapat semangat dalam belajar di sekolah tersebut.
4. Sumber Data
a. Data primer
Data primer yaitu data yang diperoleh dari lapangan secara langsung. Kata-kata dan tindakan merupakan data asli dari lapangan dengan wawancara secara mendalam. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi langsung tentang pola asuh dan ekspektasi buruh pabrik terhadap pendidikan anak (studi kasus pada siswa kelas XI di SMA Islam Sudirman Ambarawa). Adapun sumber data langsung penulis didapat dari orang tua dan anak atau siswa SMA Islam Sudirman Ambarawa kelas XI.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang sudah tersusun dan sudah dijadikan dalam bentuk dokumen-dokumen. Yaitu sumber bacaan yang berupa majalah, hasil studi, studi psikologi, dan sebagainya. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan orang tua dan anak atau siswa SMA Islam Sudirman Ambarawa.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Maka penulis menggunakan beberapa langkah yang berkualitas dengan metode penelitian tersebut.
a. Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam dua orang atau lebih berhadapan secara fisik yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar telinga sendiri dari suaranya (Sukkandarrumidi, 2004:88). Dengan kata lain bahwa wawancara adalah proses mencari data dari informan secara tatap muka, sehingga melihat dan dengar dengan mata dan telinganya sendiri.
Adapun teknik ini penulis gunakan untuk mencari data tentang ekspektasi buruh pabrik terhadap generasi penerus bangsa, upaya untuk mewujudkan harapan tersebut, kendala yang dihadapi dalam mewujudkan harapan tersebut, dan respon anak terhadap upaya orang tua dalam mewujudkan harapannya. Dalam teknik ini penulis mendapatkan informasi dari wali kelas, wali murid, siswa. b. Dokumentasi
mengumpulkan data berupa catatan tertulis dari wali kelas SMA Islam Sudirman Ambarawa dan rumah dari keluarga anak.
6. Analisis Data
Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif (moloeng, 2008:10). Artinya dalam pengolahan data dilakukan secara rasional dengan metode berfikir yang bertolak dari fenomena yang khusus, konkrit kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan berupa angka (Moleong, 2008:11). Prosedur penelitian yang menghasilkan data yang deskriptif yang bertujuan menggambarkan data yang diperoleh dari objek penelitian, yang kemudian dilakukan analisis dengan cara:
a. Mendeskripsikan data dari informan.
b. Memilah-milah data yang sesuai dengan analisis penelitian kemudian dianalisis oleh penulis.
c. Disimpulkan untuk menjawab tujuan penelitian. 7. Pengecekan Keabsahan Data
Validitas data merupakan faktor yang penting karena data haruslah sama dengan apa yang diungkapkan oleh informan,
Teknik pengujian validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan perpanjang pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, dan memberchek.
a. Meningkatkan ketekunan
Yaitu dalam melakukan pengamatan dilakukan lebih cermat dan berkesinambungan.
b. Triangulasi
Yaitu mengumpulkan data yang sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda, dan juga menggali data yang sama dengan metode yang berbeda.
c. Memberchek
Proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data.
8. Tahap-Tahap Penelitian a. Tahap sebelum kelapangan
b. Tahap pekerjaan lapangan
Tahap ini peneliti mengumpulkan data bahan dari lapangan, kemudian membuat catatan lapangan yang akan dianalisis pada data pola asuh dan harapan orang tua terhadap pendidikam anak atau siswa SMA Islam Sudirman Ambarawa.
c. Tahap analisis data
Analisis data digunakan untuk memperoleh tema dan pola-pola yang dideskripsikan, yang data tersebut berasal dari wawancara, catatan lapangan, observasi, dan dokumentasi dengan anak dan orang tua.
d. Tahap penulisan laporan
Tahap ini meliputi: kegiatan penyusunan data yang sudah diperoleh dari rangkaian kegiatan pengumpulan data. Setelah itu konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan dan saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti dengan menulis skipsi yang sempurna. Langkah terakhir melakukan penyusunan kelengkapan persyaratan untuk ujian skripsi.
G. Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan. Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian, sistematika penulisan.
BAB II : Kajian Pustaka. Pada bab ini berisi tentang upaya orang tua sebagai buruh pabrik untuk mewujudkan harapan menjadikan anaknya sebagai generasi penerus bangsa yang baik.
BAB III : Hasil Penelitian. Pada bab ini berisi tentang gambaran umum SMA Islam Sudirman Ambarawa dan hasil penelitian tentang pola asuh dan harapan orang tua terhadap pendidikan anak (studi kasus pada SMA Islam Sudirman Ambarawa).
BAB IV : Pembahasan. Pada bab ini berisi tentang bahasan hasil penelitian mengenai upaya yang dilakukan orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai generasi penerus bangsa yang baik, didapatkan dari pengumpulan data di lapangan dengan landasan teori yang ada.
BAB V : Penutup. Dalam bab terakhir ini adalah membahas
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Harapan Orang Tua terhadap Anak
Orang tua adalah ayah ibu kandung, orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli), orang yang dihormati dan disegani di kampung (KBBI, 2007:802). Orang tua atau ibu dan ayah memegang peran yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula menjadi temannya dan yang mula-mula dipercayainya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimaafkannya, kecuali apabila ia ditinggalkan. Dengan memahami segala sesuatu yang terkandung di dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai agak besar, disertai kasih sayang, dapatlah ibu mengambil hati anaknya selama-lamanya.
ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang agak besar, baik laki-laki maupun perempuan, bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya (Daradjat, 2011:35).
Orang tua atau keluarga adalah lembaga yang pertama dan utama yang dikenal oleh anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah orang yang pertama dikenal dan diterimanya pendidikan, bimbingan, perhatian, dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius diri anak didik (Ahid, 2010:61). Sehingga orang tua mempunyai peran penting dalam pendidikan yang didapatkan anak di luar sekolah, dikarenakan orang tua memiliki kewajiban dalam melindungi keluarganya dari api neraka, yang Allah berfirman dalam Al-Quran surat at tahriim ayat ke 6 yaitu:
ٌظ َلَِغ ٌةَكِئَهَم بَهْيَهَع ُةَزبَجِحناَو ُ بَّىنابهُدىُقَو اَزبَو ْ ُكيِهْهَأَو ْ ُكَسُفْوَأاىُقاىُىَماَا َهيِرَّنابَهُيَأَي
َنوُسَمْؤُي بَم َنىُهَعْفَيَو ْ ُهَسَمَأبَم َالله َنىُصْعَي َلاٌداَدِش
{
٦
}
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim (66) 6).
selain sekolah anak juga membutuhkan pendidikan dari orang tua, karena sekolah sifatnya hanya membantu dalam mendidik anak. Karena kunci pendidikan terletak pada pendidikan agama di sekolah, dan kunci pendidikan agama di sekolah terletak pada pendidikan agama dalam rumah tangga. Kunci pendidikan agama dalam rumah tangga itu ialah mendidik anak menghormati Allah Swt, orang tua, dan guru. Sehingga faktor utama dalam mencetak generasi muda yang baik yaitu pada tangan orang tua (Tafsir, 2014:187)
Hasyim mempertegas bahwa pilih kasih orang tua akan menumbuhkan ketidakpuasan, putus asa, ngambek, pertengkaran, intrik dan fitnah, perpecahan bahkan sampai kepada durhaka atau melawan orang tuanya, juga bisa menyebabkan timbul dendam dan permusuhan antara anak yang satu dengan yang lain.
Dari uraian diatas dapat di ambil garis besarnya, bahwa Islam memandang semua anak laki-laki dan perempuan adalah sama, oleh sebab itu tidak dibenarkan adanya pilih kasih terhadap sebagian di antara mereka (Ahid, 2010: 118).
Harapan yang dari orang tua yaitu agar terlindung dari api neraka yang telah difirmankan oleh Allah Swt, yaitu dengan mendidik anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, agama, dan Negara sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang akan bermanfaat bagi sesama manusia. Dengan demikian dalam surat at tahriim tersebut, adalah harapan orang tua yang harus di upayakan agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga akan mencapai tujuan pendidikan, salah satunya adalah tujuan pendidikan yang di sampaikan oleh Ibn Khaldun yang membagikan tujuan-tujuan pendidikan itu kepada :
2. Menyiapkan seseorang dari segi akhlak (Khaldun, 1962 : 539).
3. Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial (Khaldun, 1962 : 422)
4. Menyiapkan seseorang dari segi vokasial atau pekerjaan. Dikatakannya bahwa mencari dan menegakkan hidupnya mencari pekerjaan, sebagaimana ditegaskannya pentingnya pekerjaan sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan dianggapnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu (Khaldun, 1962 :928)
5. Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran, sebab dengan pemikiran seseorang itu dapat memegang berbagai pekerjaan pertukangan atau ketrampilan tertentu seperti telah diterangkan di atas (Khaldun, 1962 : 972).
Sehingga jika melihat tujuan yang di sampaikan Ibn Khaldun dapat diambil pengertian bahwa pendidikan akan membantuk pribadi khalifah yang baik (Langgung, 2004:55). Dari tujuan diatas dapat diperkuat dengan firman Allah Swt, dalam Surat Ali-Imran ayat ke-35, termasuk dalam harapan orang tua terhadap anaknya, yaitu :
َكَّوِإ يِّىِم ْمَّ َ َحَف اًزَّسَحُم يِىْطَب يِفبَم َكَن ُتْزَرَو يِّوِإ ِّةَز َناَسْمِع ُتَأَسْما ِثَنبَق ْذِإ
ُ يِهَعْنا ُييِمَّسنا َثوَأ
{
٣٥
}
B. Upaya Orang Tua dalam Mewujudkan Harapan
Harapan orang tua yang baik, yaitu sesuai dengan apa yang telah di firmankan oleh Allah Swt dalam Al-Quran surat at tahriim ayat ke- 6. Dengan menhindarkan dirinya dan keluarganya dari api neraka, harapan yang begitu mulia dari orang tua yang tidak menginginkan anaknya susah di dunia maupun di akhirat. Sehingga dengan harapan tersebut akan muncul gagasan untuk mengupayakan agar menjadi kenyataan.
Orang tua yang sebagai pemimpin dalam keluarganya harus bertanggung jawab dalam kepemimpinannya. Dikarenakan setiap manusia adalah makhluk yang mempunyai tanggung jawab dan kewibawaan. Setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap yang lain, terutama terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya (Sadulloh, 2014:175). Dengan demikian orang tua bertanggung jawab atas kehidupan anaknya, yaitu bahagia dunia dan akhirat. Rasa tanggung jawab orang tua pada anak dengan memberikan ilmu pendidikan yang baik, sehingga anak akan memiliki bekal untuk menjadi generasi penerus bangsa yang baik.
Pendidikan anak adalah salah satu upaya yang akan mewujudkan harapan tersebut. Dengan pendidikan anak akan memahami dan mengetahui baik dan buruk, sehingga dapat menjalankan perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk.
Hal tersebut sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan untuk selalu taat pada apa yang sudah diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang sudah dilarang oleh Allah. Sehingga orang tua memberikan kesempatan bagi anaknya untuk mengenyam pendidikan.
Pendidikan adalah seluruh kegiatan yang direncanakan, dengan materi terorganisasi, dilaksanakan secara terjadwal dalam sistem pengawasan, dan diberikan evaluasi berdasar pada tujuan yang telah ditentukan. Dengan pendidikan secara terjadwal itulah pemerintah membantu masyarakan Indonesia untuk mendidik anaknya dangan mendirikan sekolah-sekolah di berbagai wilayah. Keterbatasan kemampuan (intelektual, biaya, waktu) orang tua menyebabkan ia mengirim anaknya ke sekolah. orang tua meminta tolong agar sekolah membantunya mendidik (mendewasakan) anaknya. inilah dasar kerjasama antara orang tua dan sekolah dalam pendidikan (Tafsir, 2003:128).
Sekolah adalah lingkungan kedua bagi anak, disana memiliki guru sebagai orang tua kedua yang akan mendidik anak menjadi baik. Mendidik adalah tugas yang amat luas. Mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, sebagian dalam bentuk memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan, dan lain sebagainya (Tafsir, 2014:78).
Di sini guru membentuk suatu lingkungan yang bersuasana tenang menggairahkan sehingga memungkinkan keterbukaan hati anak untuk menerima pengaruh didikan (Daradjat, 2011:64). Setelah hal tersebut dapat dilakukan oleh guru, kemudian memberikan anak sesuai dengan konsep dari Ki Hajar Dewantara yaitu “Tut wuri handayani”. Tut wuri handayani merupakan bagian dari konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang secara keseluruhan berbunyi sebagai berikut.
Ing ngarso sung tulodo
Ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani
Ing ngarso sung tulodo artinya jika pendidik sedang berada di
“depan” maka hendaklah memberikan contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya. Ing ngarso yaitu di depan; sung yaitu memberi; tulodo yaitu contoh atau teladan. Ing madyo mangun karso berarti jika pendidik
sedang berada di “tengah-tengah” anak didiknya, hendaklah ia dapat
mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Ing madyo yaitu di tengah;
mangun yaitu membangun, menimbulkan dorongan; karso yaitu kehendak
Orang tua tidak hanya menyerahkan begitu saja pendidikan anaknya pada gruru, harus ada kerjasama diantara keduanya sehingga akan maksimal dalam pendidikan anknya. Anak atau siswa pastilah memiliki rasa bosan dan malas dalam belajar, disitulah tugas orang tua dalam membangunkan motivasi anak dengan mengkomunikasikan secara baik. Dikarenakan komunikasi yang tidak baik akan membuat anak sulit untuk mengenali dirinya sendiri dan orang lain. kemudian akan muncul pertanyaan dari anak “ apasih sebenarnya maunya ayah dan ibu?”, kebingungan ini mengakibatkan tidak tumbuhnya motivasi dalam diri anak (Musbikin, 2009:122). Dari sinilah orang tua harus pandai-pandai dalam berkomunikasi dengan anak.
Motivasi dari orang tua adalah salah satu upaya dalam orang tua mewujudkan harapannya, karena motivasi adalah suatu kegiatan memberikan dorongan agar anak bersedia dan mau mengerjakan kegiatan atau perilaku yang diinginkan orang tua (Prayitno, 2004:484). Sehingga akan mempermudah terwujudnya harapan tersebut. Selain memberikan motivasi untuk belajar di sekolah, orang tua juga memberikan bimbingan ke arah kehidupan yang baik, yaitu antara lain :
b. Berkemauan keras untuk bekerja. Hidup dan kehidupan berdimensi kenikmatan sekaligus perjuangan. Kenikmatan tidak mungkin dicapai tanpa melalui perjuangan yang tentu saja membutuhkan kesungguhan dan penuh rintangan.
اًسْسُي ِسْسُعْنا َ َم َنِإ
{
٦
}
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Al
-Quran, Asy-Syarkh/94:6)
c. Menjauhi sikap serakah yang berlebihan sehingga melampui batas yang telah ditentukan oleh agama.
d. Menumbuhkan sikap selalu ingin maju dalam proses kehidupan. Islam adalah agama yang dinamis yang menghendaki agar penganutnya selalu maju dan berkembang. e. Mengutamakan kualitas daripada kuantitas.
Dari keterangan tersebut diatas, dapat kita ambil pengertian bahwa pada dasarnya keluarga (orang tua) berkewajiban memberi pengarahan dan bimbingan kepada anak-anaknya untuk hidup mandiri, menumbuhkan sikap yang kreatif dan dinamis, berkemauan keras untuk bekerja, merealisasikan nilai-nilai
C. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak
1. Pengertian pola asuh orang tua
Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik, dan akhlak yang terpuji. Orang tua adalah sebagai pembentuk pribadi yang pertama dan utama dalam kehidupan anak, dan harus menjadi suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya. Pola asuh pada dasarnya merupakan parental control, yakni bagaimana orang tua mengontrol, membimbing, dan mendampingi anak-anaknya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannya menuju pada proses pendewasaan.
Dalam mendidik anak, orang tua memiliki berbagai macam bentuk pola asuh yang bisa dipilih dan digunakan. Tapi sebelum membahas tentang macam-macam pola asuh orang tua. terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian pola asuh itu sendiri.
Dari pengertian diatas dapat diambil pengertian tentang pola asuh, jadi pola asuh adalah suatau keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak dimana orang tua bermaksud mengadakan interaksi yang baik dengan anaknya agar dapat menjadi anak yang mandiri, tumbuh dan berkembang dengan sehat dan optimal serta berakhlakkul karimah (Mansur, 2005:51). 2. Macam-macam pola asuh orang tua
Berbagai macam pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya. Dalam pola asuh terdapat dua perspektif, yaitu Islam dan para ahli, hal itu akan dipaparkan sebagai berikut :
a. Pola asuh anak dalam perspektif Islam
Dalam syariat Islam sudah diajarkan kewajiban bagi seorang muslim karena anak merupakan amanat yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang tua, hal ini dipertegas dalam firman Allah Swt.:
ٌةَكِئَهَم بَهْيَهَع ُةَزبَجِحناَو ُ بَّىنابهُدىُقَو اَزبَو ْ ُكيِهْهَأَو ْ ُكَسُفْوَأاىُقاىُىَماَا َهيِرَّنابَهُيَأَي
َنوُسَمْؤُي بَم َنىُهَعْفَيَو ْ ُهَسَمَأبَم َالله َنىُصْعَي َلاٌداَدِش ٌظ َلَِغ
{
٦
}
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim (66) 6).
Hal ini juga memberikan arahan bagaimana orang tua harus mampu menerapkan pendidikan yang bisa membuat anak mempunyai prinsip untuk menjalankan ajaran Islam dengan benar, sehingga mempu membentuk mereka menjadi anak yang mempunyai akhlak yang baik, dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat.
b. Pola asuh dalam perspektif para ahli 1) Pola asuh menurut Papalia dan Olds
a) Pola asuh yang bersifat mendorong dan menghambat b) Pola asuh yang bersifat mendorong (enabling)
c) Pola asuh yang bersifat menghambat ( Mualifah, 2009:54-55)
2) Pendeskripsian pola asuh menurut Nasih Ulwah a) Pola asuh yang bersifat keteladanan
b) Pola asuh yang bersifat nasihat
c) Pola asuh dengan perhatian dan pengawasan.
3) Menurut Hurlock yang dikutip oleh Chabib Toha ada 3 macam pola asuh yaitu:
a) Pola asuh otoriter
b) Pola asuh demokratis
Pola asuh yang ditandai dengan pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak-anaknya dan kemudian diberi kesempatan untuk tidak selalu bergantung kepada orang tua.
c) Pola asuh laisses fire
Pola asuh ini dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, bebas melakukan apa saja yang dikehendakinya (Mansur, 2005: 354-356).
4) Dariyo mengemukakan pendapat Bumrind, ahli psikologi perkembangan membagi pola ashu menjadi 3, tatapi Dariyo menambah satu lagi menjadi 4 yaitu:
a) Pola asuh otoriter
Pola asuh ini menekankan segala aturan orang tua harus ditaati
b) Pola asuh permisif
Pola asuh ini yakni segala aturan dan ketetapan keluarga ditangan anak. Apa yang dilakukan anak diperbolehkan orang tua.
c) Pola asuh demokratis
d) Pola asuh situasional
Pola asuh ini tidak berdasarkan pola asuh tertentu, tetapi semua tipe tersebut diterapkan secara luwes atau secara fleksibel sesuai keadaan atau kondisi.
Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan diatas. Penulis hanya akan mengemukakan tiga macam pola asuh saja, yaitu pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pola asuh otoriter
pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa memperhatikan keinginan dan pendapat serta melihat keadaan anak. Orang tua yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak, dan anak hanya sebagai objek pelaksana saja. Jika anak menentang atau membantah, maka orang tua tidak akan segan-segan memberikan hukuman. Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangatlah dibatasi. Apa saja yang dilakukan anak haruslah sesuai dengan keinginan orang tua. Cirri-ciri pola asuh otoriter yaitu: 1) Memperlakukan anak dengan tegas
2) Suka menghukum anak yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan orang tua
4) Kurang simpatik
5) Mudah menyalahkan segala aktivitas anak terutama ketika anak ingin berlaku kreatif (Mualifah, 2004: 45-46).
Setiap pola asuh orang tua pasti mempunyai dampak yang berbedabeda, baik itu positif maupun negatif. Menurut Dariyo (2004: 98) dari segi positifnya, anak yang didik dalam pola asuh otoriter ini, cenderung akan menjadi disiplin yakni menaati peraturan. Sedangkan dari sisi negatifnya anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu, karena anak hanya mau menunjukan kedisiplinan dan kepatuhan dihadapan orang tua saja. Menurut Baumrind pola asuh otoriter mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Umumnya dianut oleh kelas bawah/pekerja
b) Didominasi oleh hukuman fisik dan kata-kata kasar c) Menuntut kepatuhan semata
d) Terlalu banyak aturan
e) Sikap acceptance rendah dan kontrol tinggi
f) Orang tua bersikap mengharuskan anak melakukan sesuatu tanpa kompromi
g) Bersikap kaku dan keras
h) Cenderung emosional dan bersikap menolak.
b) Akan menguntungkan jika orang tua dan pondasi agamanya kuat (Lestari dan Ngatini, 2010: 6).
2. Pola asuh demokratis
Menurut Baumrind adalah kedudukan antara orang tua dan anak sejajar, suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak (Dariyo, 2004: 98). Jadi pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang dinginkan, tetapi dengan tidak melewati batas-batas aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. Orang tua juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Menurut Diana Baumrind pola asuh demokratis ini mempunyai beberapa cirri antara lain:
a. Umumnya memprioritaskan pengembangan IQ dan EQ
b. Identik dengan model barat tetapi masih mengindahkan nilai dan budaya ketimuran
c. Hukuman lebih condong kepada hukuman psiklogis d. Sikap acceptance dan kontrol seimbang
e. Respon terhadap anak
Kelebihan dari pola asuh demokratis adalah a. Pendapat anak menjadi tertampung b. Anak belajar menghargai perbedaan c. Pikiran anak menjadi optimal d. Pola hidup anak menjadi dinamis. Kelemahan dari pola asuh ini adalah : a. Lebih kompleks, sehingga rawan konflik
b. Jika tidak terkontrol, anak bisa menyalah artikan pola demokrasi untuk hal-hal yang destruktif (Lestari dan Ngatini, 2010: 8-9).
3. Pola asuh permisif
Menurut Diana Baumrind yakni segala aturan dan ketetapan keluarga ditangan anak, apa yang dilakukan anak diperbolehkan oleh orang tua, anak cenderung bertindak semena-mena (Dariyo,2004: 98).
Menurut Baumrind pola asuh permisif memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1) Orang tua memberikan kebebasan kepada anak seluas mungkin 2) Anak tidak dituntut untuk belajar bertanggung jawab
4) Orang tua tidak banyak mengatur dan mengontrol, sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengatur diri sendiri dan diberikan kewenangan untuk mengontrol dirinya sendiri.
Menurut Baumrind ada beberapa cap untuk orang tua, pertama, orang tua yang sangat menerima namun tidak pernah ada tuntutan terhadap anaknya, ini disebut indulgent (sangat sabar). Kedua, tipe orang tua yang sifat penerimaan dan tuntutannya sama tingginya, maka disebut orang tua otoritatif (pemberi kewenangan). Ketiga, orang tua yang sangat menuntut perilaku anaknya, ini disebut orang tua otoriter. Keempat, orang tua tidak pernah menuntut sama sekali dan tidak menerima anaknya, ini disebut tipe orang tua yang indifferent (tidak acuh/penelantar) (Mualifah, 2009: 48-49).
D. Kendala dalam Mengupayakan Harapan
Dimulai dari finansial yang tidak selamanya akan stabil, sehingga dalam hal ini akan membuat anaknya merasa berat dalam berangkat sekolah, yaitu misalkan pembayaran bulanan sekolah sering terlambat, sehingga kartu untuk ujian belum diberikan terlebih dahulu, sehingga anak akan merasa berat, dan selalu merasa malu jika kartunya sendiri yang belum diberikan. Dengan hal itu dapat mengurangi motivasi belajar siswa. Jika hasrat dalam batin siswa tidak dapat diberi kepuasan, tidak dapat terpenuhi karena suatu rintangan, dan kita merasa sangat kecewa karenanya, maka hal itu dapat dinamakan frustasi (Purwanto, 2007:112). Hal tersebut akan merusak harapan orang tua dalam menjadikan anaknya sebagai generasi penerus yang membanggakan.
Orang tua cenderung memberikan sepenuhnya tanggung jawab dalam mendidik anak kepada sekolah, padahal sekolah sifatnya hanya membantu orang tua dalam mendidik anak. Dikarenaka orang tua yang terlalu menghabiskan waktu untuk bekerja, sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak. Dengan demikian harapan yang pasti dimiliki orang tua pada anaknya tidak diupayakan dengan maksimal. Faktor pekerjaan yang mengikat itulah yang menjadikan kendala dalam upaya orang tua mewujudkan harapannya.
Anak pada zaman sekarang tidak ada yang tidak mengenal televisi, tayangan televisi terkadang membuat anak cenderung malas untuk membuka buku. Kendala ini tidaklah baik karena tayangan televisi sekarang bersifat komersil dan tidak mendidik seperti itulah yang dikatakan Musbikin (2009:69) dalam hasil survenya.
Masalah yang terjadi dari dalam diri anak biasanya berkaitan dengan kondisi anak saat itu yang dijadikan alasan anak untuk tidak belajar dan hal tersebut menjadi kendala orang tua dalam mewujudkan harapannya. Dengan tayangan televisi itu juga membuat anak sering melamun dalam sekolahan sehingga tidak memperhatikan guru saat memberi pelajaran. Mengantuk dalam kelas juga akibat dari terlalu lama anak menonton televisi, sehingga akan ketinggalan pelajaran sekolah.
sehingga salah persepsi dan akan menimbulkan kerugian pada orang lain (Daradjat, 2011:70).
E. Respon anak
Pada dasarnya anak mempunyai respon sebagai tanda bahwa ia telah menangkap suatu atau tindakan yang dilakukan orang tua, baik itu respon yang baik atau respon yang menolak. Jika membicarakan respon tidak terlepas dari emosi anak itu sendiri. ketika anak mendapatkan perintah untuk belajar akan terdapat dua respon yaitu respon menerima atau menolak belajar.
Jika anak menolak dalam belajar jangan langsung memarahi dan membentak, karena pengalaman emosional saat kecil akan memberikan warna terhadap perkembangan anak berikutnya (Sriyanti, 2003:50). Jika orang tua bereaksi berlebihan terhadap keberhasilan dan kegagalan anak, maka anak akan merasakan tekanan yang berat untuk berhasil, putus asa dan takut menghadapi kegagalan.
Tanggapan atau respon anak akan perintah pada anak memiliki kesiapan untuk melaksanakannya. Seperti kutipan yang diambil Sriyanti (2003:61), yang ditulis oleh Thorndike mengenai hukum kesiapan sebagai berikut :
1. Jika seseorang cenderung melakukan tindakan atau bertindak, ternyata menimbulkan kepuasan, maka ia tidak melakukan tindakan lain.
3. Ada kecenderungan tidak bertindak, namun dipaksa bertindak, maka menimbulkan ketidak puasan.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Profil SMA Islam Sudirman Ambarawa
Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Islam Sudirman Ambarawa, letaknya Jl. Jendral Sudirman No. 2A Ambarawa 50612 Kab. Semarang Jawa Tengah, Indonesia. Adapun dipilihnya SMA Islam Sudirman Ambarawa sebagai obyek penelitian adalah karena SMA ini merupakan satu-satunya SMA di bawah naungan Yayasan Pusat Pendidikan Islam (YAPPIS) di Ambarawa. Selain itu letak yang strtegis di jalan Raya Semarang-Jogjakarta, membuat orang tua memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.
SMA Islam Sudirman Ambarawa merupakan lembaga pendidikan tingkat menengah ke atas dengan cirri khusus Islam, yang didirikan pada 1 Desember 1977 oleh Yayasan Islamic Centre Sudirman GUPPI sebagai yayasan penyelenggara dengan Izin Operesional Kanwil Depdikbud tanggal 1 april 1978, Nomor 154/II/S.A/1978, yang kemudian yayasan tersebut pada tanggal 12 februari 2008 berubah nama menjadi Yayasan Pusat Pendidikan Islam Sudirman (YAPPIS) Ambarawa dengan nomor data sekolah 154/II/S.A/1978. SMA Islam
Sudirman Ambarawa sudah terakreditasi “A”. Adapun profil SMA Islam
Tabel 1
Profil SMA Islam Sudirman Ambarawa
1. Kabupaten : semarang
Jalan Jendral Sudirman No. 2A Ambarawa
11 Standart Sekolah : Sekolah Kategori Mandiri (SKM)
a. Visi
b. Misi
: Terwujudnya Pribadi Islami yang Berjiwa Pancasila, Cerdas, Mandiri dan Berwawasan Global.
1. Membekali peserta didik yang ketrampilan, kewirausahaan dam kultur ilmiah.
2. Membina peserta didik agar memanfaatkan potensi diri baik ilmu pengetahuan, teknologi, senibudaya maupun iman dan taqwa dalam persaingan internasional.
3. Mewujudkan peserta didik yang Islami yang berjiwa Pancasila dan mampu berpikir kritis dan kreatif. :
13. Jumlah Peserta Didik, Program dan Jurusan : Tabel 2
No Kelas L P Jumlah Keterangan
2 X MIPA 2 14 24 38
3 X MIPA 3 13 25 38
JML MIPA 39 75 114 3
4 X BHS 1 13 25 38
5 X BHS 2 11 27 38
JMlBHS 24 52 76 2
6 X IPS 1 14 26 40
7 X IPS 2 14 26 40
8 X IPS 3 12 27 39
9 X IPS 4 14 26 40
JML IPS 54 105 159 4
JumlahKelas X 117 232 349 9
No Kelas L P Jumlah Keterangan
10 XI MIA 1 13 20 33
11 XI MIA 2 14 20 34
12 XI MIA 3 12 21 33
13 XI MIA 4 12 22 34
Jumlah MIPA 51 83 134 4
14 XI IPS 1 14 18 32
15 XI IPS 2 15 16 31
16 XI IPS 3 15 16 31
17 XI IPS 4 14 17 31
Jumlah IPS 58 67 125 4
18 XI BHS 1 6 22 28
19 XI BHS 2 6 24 30
Jumlah BHS 16 43 59 2
20 XII MIPA 1 12 20 32
21 XII MIPA 2 12 19 31
22 XII MIPA 3 12 20 32
23 XII MIPA 4 12 18 30
Jumlah MIPA 48 77 125 4
24 XII IPS 1 10 20 30
25 XII IPS 2 12 18 30
26 XII IPS 3 12 17 29
27 XII IPS 4 12 18 30
Jumlah IPS 46 73 119 4
28 XII BHS 1 6 22 28
29 XII BHS 2 9 21 30
Jumlah BHS 15 43 58 2
Jumlahkelas XII 109 193 302 10
Jumlah Total 347 621 968 29
14.Jumlah Guru/ Karyawan
Tabel 3
No Mapel GT GTT Jumlah Ket.
1 PAI 3 - 3
2 PPKn 2 - 2
3 Bahasa & Sastra Ind 3 1 4
4 Bahasa Inggris 2 2 4
5 Penjas Orkes 1 2 3
6 Matematika 2 2 4
No Mapel GT GTT Jumlah Ket.
8 Biologi 2 - 2
9 Kimia 2 - 2
10 Ekonomi 3 - 3
11 Geografi - 2 2
12 Sejarah 2 - 2
13 SeniBudaya 1 - 1
14 Bahasa Jepang 1 1 2
15 Bahasa Jawa - 1 1
16 Sosiologi 1 1 2
17 PrakaryadanKewirausahaan 2 - 2
18 BK - 1 1
19 FiqihIbadah 1 - 1
Jumlah 28 15 43
15. Kondisi Orang tua
Table 4
Pekerjaan Jml (%)
Pegawai Negeri 9 TNI/ Polri 8 Karyawan swasta 33
Petani 21
Pedagang swasta 16
Nelayan 7
a. Penghasilan Orang Tua
Tabel 5
Penghasilan per bulan (Rp) Jumlah (%)
> 201.000-400.000 5 > 401.000-600.000 10 > 601000-1000000 20
1.000.000 18
2.000.000 37
b. Pendidikan Orang tua
Tabel 6
Tingkat pendidikan Jumlah (%)
SD 14
SLTP 49
SLTA 31
PT 6
16.Potensi di lingkungan sekolah yang diharapkan mendukung program sekolah Peningkatan mutu akademik dan non akademik meliputi:
1) Menambah satu Laboratorium Keagamaan (PAI) dalam upaya peningkatan proses pengembangan diri peserta didik;
2) Menambah satu Ruang Kelas Baru dalam upaya peningkatan kegiatan pembelajaran;
3) Menambah luas gedung aula untuk peningkatan kegiatan olahraga dan kesenian;
4) Menambah luas gedung perpustakaan untuk penyesuaian rasio jumlah peserta didik dan buku;
5) Menambah satu sistem sanitasi dan pengairan yang memadai;
6) Rehabilitasi dan renovasi tempat ibadah sekolah untuk penyesuaian rasio jumlah peserta didik dalam upaya penigkatan IMTAQ;
7) Menambah luas area parkir sekolah yang aman, nyaman, dan memadai;
8) Membangun kantin sekolah yang memadai dalam upaya pelayan makanan sehat bagi peserta didik;
C.Dorongan kepada peserta didik agar mau mengikuti seleksi PT Negeri (SNMPTN, SBMPTN,UMPN, SPAN-PTKIN, PMDK PN, Seleksi Mandiri PTS)
D.Mengaktifkan kegiatan Pengembangan diri Ekstra Kurikuler Olahraga, Seni, Marching Band, Pramuka, Pendalaman Agama, Baca Tulis
Al-qur‟an, dan Karya Ilmiah Remaja.
F.Peningkatan pengelolaan dalam upaya mewujudkan Wawasan Wiyata Mandala.
B. Profil Subjek
Dalam profil sabjek ini penulis memaparkan biodata dari subjek yang digunakan dalam penelitian, sehingga akan dapat mengetahui dari biodata tersebut profesi dari orang tua sebagai buruh pabrik yang anaknya sekolah di SMA Islam Sudirman Ambarawa, yaitu sebagai berikut :
SMA Islam Sudirman Ambarawa yang memiliki siswa dengan jumlah keseluruhan adalah 968 siswa ini, penulis mengambil sampel pada kelas XI dan pada kelas XI MIPA 1, yang dikarenakan rata-rata siswa yang orang tuanya berprofesi sebagai buruh pabrik terdapat dikelas tersebut, dengan demikian penulis mengambil 10 siswa sebagai sampel dalam penelitian kali ini, biodata dari siswa tersebut sebagai berikut :
ibu yang sederhana, saudaranya bernama Dimas Andrian Saputra, ia juga masih sekolah, Dimas sekolah di SMP 1 Bawen, sekarang kelas VII. Bapaknya bernama Yuri Yanto, beliau bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ibunya yang bernama Sri Hartatik beliau bekerja sebagai buruh pabrik juga. Alina memiliki rumah yang tidak dekat dengan rumah kakek dan neneknya, sehingga Alina dan saudaranya belajar untuk mandiri ketika ditinggal bapak dan ibunya bekerja. Di sekolah, Alina mengikuti ekstrakulikuler yaitu karate, dalam prestasi baik akademik dan non akademik Alina belum mendapatkan.
2. Dwika Dewi Pramesti yang beralamat rumah di Katang, Tambakboyo, RT 02/RW 07 ini bersekolah di SMA Islam Sudirman Ambarawa. Jarak antara rumah dwika dengan sekolahan berjarak sekitar 1 kilo meter, dengan demikian Dwika berangkat sekolah dengan jalan kaki. Dwika belajar di SMA Islam Sudirman Ambarawa. Selama Dwika belajar di sekolah ini belum mendapatkan prestasi, baik akademik maupun non akademik. Dwika sekarang sudah kelas XI, di kelas XI MIPA 1. Orang tua Dwika berprofesi sebagai buruh pabrik, bapak dwika yang bernama Yusuf, beliau bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ibu Dwika yang bernama chotijah, beliau juga bekerja sebagai buruh pabrik.