• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.3 Kajian Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan

Berdasarkan survei pustaka dan keterangan lain-lain, ternyata penelitian tentang ekologi bahasa Gayo (terkait dengan Lut Tawar),  khususnya mengenai leksikon belum pernah dilakukan. Padahal unsur leksikon merupakan salah satu aspek kebahasaan yang sangat penting untuk pembinaan dan pengembangan bahasa itu, di samping aspek-aspek yang lain. Kendatipun demikian artikel-artikel tentang penelitian ekolinguistik yang pernah diterbitkan berikut ini bermanfaat dalam penelitian ini.

Linguistic Erosion on the Chesapeke: Intergenerational Diachronic Shifts in Lexicalizations of the Bay oleh Anjali Pandey (2000). Artikel ini membahas pergeseran penggunaan istilah across the bay (di seberang teluk) yang berorientasi lingkungan ragawi menjadi across the bridge (di seberang jembatan) yang berorientasi infrastruktur untuk merujuk pada west of the Chesapeake Bay oleh tiga generasi dengan kelompok umur yang berbeda. Temuan penelitian menunjukkan bahwa generasi muda lebih memilih istilah across the bridge. Hal ini dipengaruhi oleh kurikulum sekolah yang kurang berorientasi pada lingkungan. Yang dijadikan acuan dari penelitian ini adalah pembagian informan yang diteliti atas tiga kelompok umur,

proses pengujian data dengan memberikan empat pilihan jawaban, dan metode analisis berdasarkan persentase.

Sacred Worldview in Tribal Memory: Sustaining Nature through Cultural Actions oleh Mahendra K. Mishra dalam Anna Vibeke dan Bundsgaard (2000). Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa mitos dan ritual berfungsi menyatukan pikiran dan tindakan penduduk asli suatu distrik di India; menghubungkan yang tidak bernyawa dengan yang bernyawa, dan masa lalu dengan sekarang. Setiap kata memiliki tujuan dan makna yang dinikmati, didistribusikan dan disosialisasikan. Akan tetapi, pembangunan jalan, pengenalan alat transportasi modern, dan ekploitasi lahan dan manusia memaksa komunitas lokal menerima budaya baru yang melupakan alam. Selain itu, masuknya bahasa asing mendesak bahkan memusnahkan tradisi oral yang sarat dengan kearifan lokal, mengakibatkan perubahan perilaku penduduk asli dalam memperlakukan alam dan sumber daya yang dimilikinya. Penelitian ini bermanfaat dalam penulisan subbab Saran dalam Bab Simpulan dan Saran, yaitu pentingnya upaya pelestarian budaya dan bahasa lokal untuk memelihara kelestarian lingkungan.

Penyusutan Fungsi Sosioekologis Bahasa Melayu Langkat pada Komunitas Remaja di Stabat, Langkat oleh Aron Meko Mbete dan Abdurahman Adisaputera (2009). Dari hasil tes penguasaan leksikon responden terungkap bahwa rata-rata pemahaman remaja tentang leksikon bahasa Melayu Langkat (BML) tergolong rendah. Perubahan itu dipicu oleh (1) kurangnya interaksi komunitas remaja dengan entitas yang bercirikan ekologi Melayu, (2) langka bahkan punahnya entitas sehingga

tidak terkonsep dalam alam pikiran penutur, dan (3) konsepsi leksikal penutur tentang entitas-entitas itu bukan dalam piranti BML, tetapi dalam bahasa lain. Yang dijadikan acuan dari penelitian ini adalah penyebab perubahan pemahaman leksikon sebagaimana disebutkan di atas, teknik pengumpulan/pemerolehan, dan analisis data. Dalam penelitian mereka, pemerolehan data dilakukan dengan mendokumentasi leksikon BML terkait dengan lingkungan alamiah komunitas Melayu di Stabat. Ada 150 leksikon yang diujikan kepada responden. Tujuan pengujian adalah melihat peringkat keterpahaman responden terhadap leksikon yang berhubungan dengan lingkungan alamiah mereka yang sebenarnya dalam bahasa mereka. Hasil pengujian dapat dijelaskan dengan memparafrasekan situasi penggunaan leksikon tersebut yang dikaitkan dengan kondisi sosioekologis remaja secara nyata. Setiap leksikon dideskripsikan sesuai dengan hasil survei lapangan tentang sosioekologis Melayu di Stabat.

Ekologi Bahasa dan Pengaruhnya dalam Dinamika Kehidupan Bahasa Melayu Loloan Bali oleh I Nyoman Suparwa, Fakultas Sastra Universitas Udayana.   

Kehidupan dan perkembangan bahasa Melayu (BM) Loloan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu hubungan penutur bahasa dengan lingkungan alamnya, hubungan sosial penutur dengan penutur lainnya, dan hubungan penutur dengan Sang Penciptanya. Berdasarkan faktor pertama, yaitu hubungan penutur bahasa dengan lingkungan alamnya, diketahui bahwa lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan penutur memengaruhi perkembangan BM Loloan. Lingkungan alam pesisir dan pinggir sungai serta profesi nelayan menyebabkan banyak penutur BM Loloan sangat akrab

dengan kata-kata tentang laut, nelayan, dan rumah panggung. Namun pengaruh faktor alam seperti penggundulan hutan, berkurangnya curah hujan, dan pendangkalan sungai, memengaruhi cara hidup dan menimbulkan pola pikir ekonomis generasi penutur bahasa Loloan berikutnya dalam menjalani kehidupan. Profesi nelayan ditinggalkan, diganti dengan profesi pedagang, buruh, tukang, dan rumah panggung digantikan dengan rumah biasa yang sedikit menggunakan kayu. Sejalan dengan perubahan profesi dan bentuk rumah, istilah-istilah baru bermunculan mengakibatkan istilah-istilah lama hampir tidak dikenal lagi. Terkait dengan penelitian leksikon nomina bahasa Gayo di lingkungan kedanauan Lut Tawar, faktor pertama di atas mengilhami peneliti dalam menulis subbab Saran dalam Bab Simpulan dan Saran.

Ungkapan-Ungkapan dalam bahasa Lio dan Fungsinya dalam Melestarikan Lingkungan oleh Aron Meko Mbete (2002:174-186). Penelitian ini menguak warisan budaya leluhur masyarakat etnik Lio, Flores, berupa ungkapan-ungkapan verbal yang memiliki fungsi untuk melestarikan lingkungan hidup. Ungkapan-ungkapan budaya verbal tersebut dirinci sebagai berikut. Pertama, ungkapan yang berfungsi memelihara keserasian hubungan dengan alam semesta, terutama dengan Sang Khalik, dan dengan leluhur pewaris lahan. Kedua, ungkapan yang berfungsi untuk melestarikan lahan dengan menggunakan teknik tradisional yang mendukung lingkungan. Ketiga, ungkapan yang mengamanatkan pemeliharaan hutan lindung dan sumber air. Keempat, ungkapan yang berfungsi untuk melestarikan pantai dan laut. Kelima, ungkapan yang berfungsi untuk melestarikan dan menjaga kebersamaan dan kesatuan sosial. Hasil penelitian tersebut menginspirasi peneliti untuk mengungkap

kandungan makna ungkapan-ungkapan terkait dengan pelestarian lingkungan alam kedanauan Lut Tawar yang populer di kalangan penutur Gayo. Selain itu, temuan dalam penelitian, yaitu merosotnya pemahaman nilai dan norma pelestarian lingkungan dikarenakan kesenjangan kebahasaan antargenerasi menjadi pembanding bagi peneliti dalam merumuskan kesimpulan penelitian leksikon nomina bahasa Gayo ini.

Kasus-Kasus Pergeseran Bahasa Daerah: Akibat Persaingan dengan Bahasa Indonesia oleh Asim Gunarwan (2006:95-113). Tulisan ini menyoroti beberapa kasus pergeseran bahasa daerah di Indonesia dan mencoba menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Penjelasan dicoba dengan mencari alasan-alasannya, yang mencakupi nosi vitalitas etnolinguistis, faktor-faktor yang ikut memicu pergeseran, termasuk kekalahan di dalam persaingan bahasa daerah dari bahasa Indonesia berdasarkan konsep geolinguistis. Tulisan ini dijadikan acuan dalam hal penyebab pemertahanan dan pergeseran bahasa. Tiga komponen penyebab bahasa mampu untuk bertahan hidup menurut Holmes (2001:65), yaitu 1) status bahasa yang bersangkutan seperti yang tercermin pada sikap masyarakat bahasa itu terhadapnya; 2) besarnya kelompok penutur bahasa itu serta persebarannya; dan 3) seberapa jauh bahasa itu mendapat dukungan institusional. Sedangkan pergeseran bahasa disebabkan faktor sosiolinguistis, psikologis, demografis, dan ekonomik.

Ungkapan Verbal Etnis Melayu dalam Pemeliharaan Lingkungan oleh Tengku Silvana Sinar (2010:70-83). Makalah ini membahas dampak degradasi lingkungan pada bahasa Melayu Serdang di wilayah komunitas pantai masyarakat Deli Serdang

dan Serdang Bedagai, yang ditandai dengan semakin langka dan kurang dikenalnya sejumlah leksikon tumbuhan yang terdapat dalam sastra lisan Melayu, yaitu pantun, pepatah, dan jargon. Selain itu, permasalahan yang mengemuka juga dikaitkan dengan perspektif linguistik sistemik fungsional, yaitu metafungsi bahasa. Latar belakang penulisan makalah ini, yaitu perlunya upaya penyelamatan bahasa daerah di Indonesia dikarenakan ancaman hegemoni dan dominasi beberapa bahasa internasional, regional dan nasional memperkuat subbab Teori Ekolinguistik dalam Bab Kajian Pustaka tesis ini. Di samping itu, pengungkapan kearifan lokal mengenai pelestarian lingkungan dalam sastra lisan pantun dan pepatah memengaruhi peneliti untuk lebih kritis dalam menganalisis makna ungkapan atau peribahasa yang dimiliki penutur Gayo terkait upaya pelestarian lingkungan alam kedanauan Lut Tawar yang dimuat dalam Bab VI.

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini melalui tiga tahap, yaitu tahap pralapangan, tahap kegiatan lapangan, dan tahap analisis.

3. 1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ekolinguistik bahasa Gayo ini dilakukan pada empat kecamatan yang mengelilingi Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, yaitu Kecamatan Bebesen, Kecamatan Kebayakan, Kecamatan Bintang, dan Kecamatan Lut Tawar.

Tahap pengerjaan lapangan tidak mengenal pembatasan waktu, namun diusahakan seefisien mungkin dengan memperhitungkan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang digunakan. Pengumpulan data leksikon dilakukan selama sepuluh hari (14-24 Maret 2010), sedangkan pengujian keterpahaman data leksikon pada masyarakat di empat kecamatan sekitar danau dilakukan selama tiga minggu (7-28 April 2010).

Dokumen terkait