• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam kajian pustaka dilakukan kajian penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang hendak dilakukan. Hal ini terkandung maksud untuk mengetahui dan maemperjelas kedudukan penelitian yang hendak dilakukan. Adapun penelitian-penelitian terdahulu yang memliki relevansi terkait demokrasi dapat dikemukakan sebagai berikut:

Desertasi Masykuri Abdillah, yang meneliti bagaimana respon intelektual Muslim Indonesia terhadap konsep demokrasi dengan judul

43

Muhammad, Tafsir Tematis al-Qur’an dan Masyarakat, Membangun Demokrasi dalam Peradaban Nusantara, 16.

44

M. Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam, terj. Abdul Hayyie al-Kattani dkk., (Jakarta: GIP, 2001), 312.

21

penelitian “Responses of Indonesian Muslim Intellectuals to the

Concept of Democracy (1966-1993)”, menemukan bahwa seluruh

intelektual Muslim Indonesia menerima sistem ini dan bahkan mendukungnya sebagai sistem yang harus dipraktikkan dalam masyarakat Islam. Menurutnya, mayoritas intelektual Muslim Indonesia tidak menerima begitu saja prinsip persamaan, kebebasan, dan pluralisme sebagaimana dalam konsep liberal. Pertama, di bidang kebebasan mayoritas dari mereka masih tetap mempertahankan beberapa ketentuan hukum Islam seperti persoalan tentang kedudukan dan status perempuan. Kedua, pendapat umum mengenai kebebasan adalah kebebasan dalam beragama, berpikir dan berpendapat, bukan kebebasan dalam masalah ibadah. Ketiga, di bidang pluralisme sebagian besar intelektual Muslim Indonesia berpendapat bahwa pluralisme itu hanya berlaku dalam persoalan sosiologis dan bukan teologis. Penelitian ini, sebagaimana diakui oleh Abdillah, lebih menampakkan pendapat-pendapat intelektual Muslim Indonesia yang cenderung perpikiran neo-modernis ketimbang revivalis. Berbeda dengan penulis yang akan menelusuri konsep demokrasi dalam pandangan Ibn ‘A>syu>r .

Tesis Hatamar yang berjudul “Islam dan Demokrasi: Studi

Perbandingan antara Nilai-nilai Universal Demokrasi Barat dengan Demokrasi Islam”(Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2006), memperjelas posisi Islam ketika dihadapkan dengan demokrasi. Menurutnya, demokrasi adalah suatu sistem yang mengandung nilai-nilai universal seperti suara mayoritas (syu>ra>),

22

kebebasan (al-h}urriyah), persamaan(al-musa>wah), keadilan (al-‘adl), nilai-nilai persaudaraan (al-ukhuwwah), dan hak asasi manusia (huqûq

al-insan al-asâsy). Dalam point inilah Islam memiliki kesamaan

pandangan dengan Barat, yang diwakili oleh demokrasi sekuler dan demokrasi sosial. Mengkutip pendapat al-Maududi, Hatamar menegaskan bahwa demokrasi Islam merupakan ekuilibrium antara individualisme dan kolektivisme. Perbedaan antara Islam dan demokrasi Barat yang sebelumnya telah diidentifikasi sebagai demokrasi liberal dan demokrasi sosial- adalah pada aspek kedaulatan. Jika demokrasi Barat menjadikan manusia sebagai pemegang kedaulatan, maka menurutnya dalam demokrasi Islam kedaulatan berada dalam kekuasaan Tuhan yang tercermin melalui hukum Islam (syari>’ah). Tesis Hatamar cukup membingungkan karena apa yang ditawarkan al-Maududi sebenarnya lebih condong sebagai sistem teokrasi, yang menempatkan hukum Tuhan di atas hukum manusia.

Tesis Badrun yang berjudul “Demokrasi Pendidikan Islam

dalam Pemikiran Abdul Munir Mulkhan”, UIN Sunan Kalijaga 2016.

Berangkat dari pengalamannya melihat pendidikan Islam yang mengekang daya kritis siswa, Mulkhan memandang inti pendidikan Islam adalah transfer pengalaman dan mendapatkan sebuah pengetahuan, maka perlu kemandirian untuk mencari kebenaran. Dengan metode analisi isi, tesis ini mengemukakan bahwa demokrasi pendidikan dapat memberi hak semua orang untuk mengambil keputusan dan memperlakukan manusia dengan posisi setara.

23

Demokrasi pendidikan Islam dapat diejawantahkan seperti dalam memahami al-Qur‟an sesuai kapasitas masing-masing.

Penelitian Yuyun Affandi, 2010, “Konsep Demokrasi dalam

Tafsir al-Azhar”. Di sini dijelaskan pandangan Hamka tentang

pentingnya membangun relasi fungsional anataraagama dan negara dan penolakannya kepada paham sekulerisme. Ada persamaan antara prinsip demokrasi dengan Islam yaitu dalam keadilan, persamaan, kebebasan, perlindungan hak asasi manusia, dan syu>ra>. Adapun mekanisme penyelenggaraan demokrasi disesuaikan situasi dan kondisi sebagaimana hadis “ kamu lebih tahu dengan urusan-urusan duniamu”. Penelitian ini mengemukakan pandangan mufasir Indonesia dan merelevansikan dengan kehidupan demokrasi di Indonesia dengan pendekatan sosiologis, intertekstualitas dan pemahaman hermeneutika, berbeda dengan penelitian yang akan penulis lakukan dengan mengangkat tokoh Ibn ‘A>syu>r dan memakai pendekatan historis tematis.

Skripsi “Demokrasi dalam Islam Studi atas Pemikiran Khaled

Abou el Fadl”, Ahmad Safruddin, 2008, UIN Sunan Kalijaga. Seorang

yang hidup di daerah puritan dan menginginkan penafsiran hukum Islam tetap kontekstual, tidak otoriter seakan dialah yang paling tahu maknanya. Demokrasi merupakan cara untuk mencegah otoritarianisme dan kesewenang-wenangan dalam hukum Islam. Demokrasi memiliki kesesuaian dengan Islam jika yang dimaksud adalah mengandung nilai-nilai seperti keadilan, musyawarah, dan persamaan. Bedanya dalam demokrasi otoritas tertinggi berada di

24

tangan mansia, sementara dalam Islam otoritas tertinggi berada di tangan Tuhan.

Tesis Misbahul Munir berjudul “Kebebasan Beragama

Perspektif Tafsir Maqasidi Ibn Asyur” 2015, program studi agama dan

filsafat konsentrasi study Qur‟an dan Hadis UIN Sunan kalijaga Yogyakarta ini mampu menjawab dua masalah, pertama bahwa Ibn A>syu>r mengantarkan masyarakat berfikir maju melalui pendidikan, dengan begitu ia mampu menyuarakan kebebasan yang menjadi fitrah manusia sejak lahir yakni kebebasan berkehendak, berpendapat, berfikir bahkan beragama. Kedua, dalam menafsirkan ayat kebebasan beragama dalam tinjauan maqa>s}id, Ibn A>syu>r memiliki prinsip memegang tujuan umum syariah (al-fit}rah), toleransi (al-sama>h}ah),

kesetaraan (al-musa>wah), dan kebebasan (al-h}urriyyah) sehingga ia

menegaskan bahwa kebebasan adalah pemberian Tuhan namun juga hak manusia, maka manusia di belahan dunia manapun harus menjunjung kesetaraan(al-musa>wah) tanpa memandang suku, budaya,

dan agama karna perbedaan adalah fitrah manusia.

Skripsi Abdul Halim, 2011, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, “Epistimologi Tafsir Ibn ‘A>syu>r dalam Kitab tafsir Tah}ri>r wa al-Tanwi>r” menjelaskan secara rinci konsep tafsir secara umum dalam

pandangan Ibn ‘A>syu>r misal mengenai sumber penafsiran, metode penafsiran, dan ia menyatakan bahwa tafsir ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya menurut teori filsafat ilmu (koherensi, korespondensi, dan pragmatisme). Ibn ‘A>syu>r sangat menjaga

25

konsistensi metodologinya dan melihat realitas empiris dan mengusahakan agar karya tafsirnya bermanfaat bagi kemaslahatan manusia. Sumbangan paling berharga Ibn ‘A>syu>r dalam karya tafsirnya adalah sikapnya yang kritis, objektif, dan menghargai karya-karya ulama-ulama pendahulunya.

Dari penelitian di atas, penulis menyimpulkan belum ada yang membahas demokrasi menurut dengan tokoh T}a>hir Ibn ‘A>syu>r dengan pendekatan historis tematis, sehingga penelitian ini menarik dilakukan.