• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Dalam dokumen Kumpulan Jurnal Riset Akuntansi (Halaman 51-54)

Efficient Market Hypothesis

Secara formal pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan, semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut (Husnan, 2003). Informasi yang tersedia bisa meliputi semua informasi yang tersedia baik informasi di masa lalu, misalnya laba tahun lalu, maupun informasi saat ini misalnya: rencana kenaikan dividen tahun ini, serta informasi yang bersifat pendapat/opini rasional yang beredar di pasar yang bisa mempengaruhi perubahan harga, misalnya jika banyak investor di pasar

berpendapat bahwa harga saham akan naik, maka informasi tersebut nantinya akan tercermin pada perubahan harga saham yang cenderung naik (Tandelilin, 2001), sedangkan Beaver (dalam Hartono, 2005) mendefinisikan efisiensi pasar sebagai hubungan antara harga-harga sekuritas dan informasi.

Bentuk-bentuk efisiensi pasar modal secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu efisiensi pasar secara informasi dan efisiensi secara keputusan.

Efisiensi Pasar Secara Informasi

Efisensi pasar secara informasi, Fama (dalam Hartono, 2005), menyajikan tiga macam bentuk utama dari informasi pasar modal berdasarkan ketiga bentuk informasi, yaitu informasi masa lalu, informasi sekarang yang sedang dipublikasikan, dan informasi privat sebagai berikut:

1) Bentuk efisiensi yang lemah (weak form efficiency)

Pasar yang harga-harga dari sekuritasnya secara penuh mencerminkan (fully

reflect) informasi masa lalu. Oleh karena itu, informasi historis (seperti harga

dan volome perdagangan di masa lalu) tidak bisa lagi digunakan untuk memprediksi perubahan harga di masa yang akan datang, karena sudah tercermin pada harga saat ini.

2) Bentuk efisiensi yang setengah kuat (semi strong efficiency)

Pasar yang harga-harga sekuritasnya mencerminkan secara penuh (fully reflect) semua informasi yang dipublikasikan (all publicly avaiable information) termasuk informasi-informasi yang berada di laporan keuangan perusahaan emiten. Informasi yang dipublikasikan dapat berupa:

a) Informasi yang dipublikasikan yang hanya mempengaruhi harga sekuritas dari perusahaan yang mempublikasikan informasi tersebut.

b) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga sekuritas sejumlah perusahaan.

c) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga sekuritas semua perusahaan yang terdaftar di pasar saham.

3) Efisiensi dalam bentuk kuat (Strong Form)

Pasar yang harga-harga dari sekuritasnya secara penuh mencerminkan (fully

reflect) semua informasi termasuk informasi privat. Ini berarti bahwa semua

informasi baik yang terpublikasikan atau tidak terpublikasikan, sudah tercermin dalam harga sekuritas saat ini, sehingga tidak akan ada seorang investor pun yang bisa memperoleh abnormal return

Efisiensi Secara Keputusan

Efisiensi pasar secara keputusan terjadi jika semua informasi tersedia dan semua pelaku pasar dapat mengambil keputusan dengan canggih (sophistcated) (Hartono,2007). Efisiensi pasar secara keputusan mempertimbangkan dua faktor, yaitu ketersediaan informasi dan kecanggihan informasi pelaku pasar. Karena melibatkan banyak faktor dalam menentukan pasar yang efisiensi, suatu pasar yang efiensien secara keputusan merupakan efisiensi pasar bentuk setengah kuat yang lebih tinggi dibandingkan efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara informasi. Pasar yang efisien secara informasi belum tentu efisien secara keputusan.

Fama (dalam Hartono, 2005) membagi pengujian efisiensi pasar menjadi tiga kategori yang dihubungkan dengan bentuk-bentuk efisiensi pasar sebagai berikut: 1) Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk lemah merupakan pengujian-

pengujian terhadap return

2) Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat merupakan studi peristiwa (event study)

3) Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk kuat merupakan pengujian terhadap informasi privat

Pengujian efisiensi bentuk setengah kuat secara informasi menggunakan studi peristiwa (event study). Studi Peristiwa (Event Study) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Studi peristiwa dapat digunakan untuk mengujikan efisiensi bentuk pasar setengah kuat. Pasar dikatakan bentuk efisiensi setengah kuat jika tidak ada investor yang dapat memperoleh abnormal

return dari informasi yang diumumkan atau ada abnormal return tetapi pasar

bereaksi dengan cepat untuk menyerap abnormal return tersebut sehingga terbentuk harga keseimbangan yang baru.

Jika pengumuman mengandung informasi, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman diterima. Reaksi pasar ini dapat diukur menggunakan abnormal return. Jika digunakan abnormal return maka dapat dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mengandung kandungan informasi memberikan abnormal return kepada pasar. Apabila tidak mengandung informasi, tidak memberikan abnormal return pada pasar.

Return Saham

Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Adapun jenis-jenis return dalam Hartono (2008) adalah sebagai berikut:

1) Return Realisasi

Return realisasi merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung

berdasarkan data historis atau data masa.Return historis ini juga berguna sebagai dasar untuk menentukan expected return (Hartono,2007). Untuk menghitung return realisasi dari saham dipakai capital gain (loss). Capital gain

(loss) merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif (Pt) dengan harga

periode lalu (Pt-1) atau {( Pt- Pt-1)/ (Pt-1}. Jika harga investasi sekarang lebih tinggi dari harga investasi periode lalu, maka berarti terjadi keuntungan modal (capital gain) atau sebaliknya terjadi kerugian (capital loss).

2) Return Ekspektasi

Return Ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh oleh

investor di masa mendatang dan sifat dari return ekspektasi ini adalah belum terjadi. Adapun model yang dapat dipakai untuk mengestimasi return ekspektasi, yaitu model disesuaikan pasar (market adjusted model). Model ini beranggapan bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut.IHSG dapat digunakan sebagai indeks pasar karena IHSG merupakan data yang lazim digunakan sebagai indikator naik turunnya harga saham secara keseluruhan di pasar modal Indonesia. Dengan menggunakan model ini, maka return ekspektasi tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasi (Budiarto dan Baridwan, 1999).. Hal ini terjadi karena return sekuritas yang diestimasi sama dengan return indeks pasar. Return Ekspektasi dihitung per hari selama periode peristiwa setiap saham yang ada. Return ekspektasi saham perusahaan pada suatu hari dalam periode peristiwa adalah return dari market pada hari yang sama, yang dapat dirumuskan sebagai berikut (Hartono dalam Sudirman, 2008):

Rjt = Rmt ………...(1)

Keterangan :

Rjt = return ekspektasi saham perusahaan j pada periode t Rmt = return market pada periode t

Karena return sekuritas yang diestimasi sama dengan return indeks pasar, maka formulasi yang digunakan adalah sebagai berikut:

Rmt = IHSG t - IHSG t-1…………. (2) IHSG t-1

Keterangan :

Rmt = Return indeks pasar pada periode ke-t

IHSG t = Index harga saham gabungan pada periode ke-t

IHSG t-1 = Index harga saham gabungan periode ke t-1 3) Abnormal Return

Return tidak normal (abnormal return) merupakan kelebihan dari return yang

sesungguhnya terjadi (return realisasi) terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasi (return yang diharapkan investor). Dari pegertian tersebut bahwa return tidak normal (abnormal return) merupakan selisih antara

return yang sesungguhnya terjadi dengan return ekspektasi (Hartono,2007).

Formula untuk menghitung abnormal return adalah sebagai berikut:

RTNit = Rit - E(Rit) ……….(3)

Keterangan :

RTNit = return tidak normal sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t

Rit = return sesungguhnya yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada periode

peristiwa ke-t

E(Rit) = return ekspektasi sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t

Menurut Hartono, (2005) pengujian adanya abnormal return tidak dilakukan untuk setiap sekuritas, tetapi dilakukan secara agregat dengan menguji rata-rata

return tidak normal seluruh sekuritas secara cross-section untuk tiap-tiap hari

periode peristiwa Rata-rata return tidak normal untuk hari ke-t dapat dihitung berdasarkan formula sebagai berikut :

k

Dalam dokumen Kumpulan Jurnal Riset Akuntansi (Halaman 51-54)