KAJIAN PUSTAKA, PENELITIAN YANG RELEVAN, KERANGKA BERFIKIR, DAN HIPOTESIS
A. KAJIAN PUSTAKA 1. Strategi Pembelajaran
Dikaji dari sudut pandang teknologi pendidikan / pembelajaran dengan mengacu pada kerangka teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Yusufhadi Miarso (2004:244) masalah rendahnya kualitas pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai masalah yang bersumber dari kondisi pembelajaran (karakteristik siswa dan karakteristik materi) dan masalah yang bersumber dari metode pembelajaran.
Masalah yang bersumber dari karakteristik siswa misalnya kesulitan memahami konsep, sedang kesulitan yang bersumber dari karakteristik materi misalnya kesulitan memahami alur bekerjanya sintaks program yang tidak semudah dibandingkan dengan sintaks yang terangkai menjadi tulisan. Sedangkan masalah yang bersumber dari metode pembelajaran mencakup: penggunaan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik siswa, suasana pembelajaran yang kurang kondusif, dan strategi pembelajaran yang dipilih tidak sesuai materi pembelajaran (Kirkwood and Symington, 1966:339-343). Masalah yang bersumber dari metode pembelajaran dapat diupayakan diatasi dengan memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karaketristik materi pembelajaran dan karakteristik siswa. Seels and Richey (1994:31)
commit to user
mendefinisikan strategi pembelajaran sebagai rincian atau spesifikasi dari seleksi pengurutan peristiwa dan kegiatan dalam pelajaran. Sedangkan menurut Gagne, Briggs, and Wagner (1974:67) strategi pembelajaran adalah suatu perencanaan untuk membantu para siswa melalui berbagai usaha untuk mencapai tujuan. Dick and Carey (1990:62) menyatakan bahwa strategi pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu kumpulan materi pembelajaran dan prosedur yang akan digunakan bersama materi pembelajaran untuk menghasilkan hasil belajar tertentu. Brandon (2003:1), Rushall and Ford (1982:16-20), Sherman and Rushall (1993:106), Rushal (1996:638-656) mengkaji strategi pembelajaran backward chaining dan
forward chaining, yang dalam penelitian ini dipilih sebagai variabel yang diamati. Oleh karena itu kedua strategi pembelajaran tadi dijadikan upaya untuk meningkatkan hasil pembelajaran gambar teknik dasar dengan autocad.
a.. Strategi Pembelajaran Backward Chaining
Brandon (2003:2-3) mendefinisikan Backward Chaining sebagai strategi pembelajaran yang melakukan pekerjaan dalam urutan terbalik. Sistematika penggunaan Backward Chaining dalam desain pembelajaran akan memberikan hasil: (1) pembelajaran minimum, yang akan mereduksi permintaan penggunaan ingatan jangka pendek atau ingatan kerja, (2) memfasilitasi transfer informasi prosedural menuju ingatan jangka panjang, (3) menjaga siswa tetap terlibat dan tertantang, (4) memberi kesempatan siswa menyelesaikan tugas lebih cepat, (5) dapat digunakan sebagai media presentasi dalam berbagai media. Strategi pembelajaran Backward Chaining
commit to user
ideal diaplikasikan bila hasil akhir dari pembelajaran merupakan akumulasi langkah-langkah pembelajaran yang banyak, rumit, dan memerlukan penggunaan memori kerja yang berat..
Backward Chaining, adalah metode instruksional pada pembelajaran yang dimulai dengan sub tugas atau sub aktivitas terakhir dari urutan dan bergerak mundur sepanjang rantai subtugas yang telah dikuasai. Backward Chaining umumnya diawali dengan kesimpulan yang diminati, yang bukan merupakan fakta eksplisit.
b. Strategi Pembelajaran Forward Chaining
Forward Chaining adalah suatu strategi pembelajaran dengan instruksi dimulai dengan masuk pada rantai pertama, selanjutnya, penguasaan tiap langkah, sampai langkah terakhir dicapai. Cara ini bermanfaat bagi siswa yang berfungsi pada tingkat tinggi. Penggunaan forward chaining dilakukan saat siswa dapat melaksanakan masing-masing langkah secara individu dan diperlukan hanya untuk mengikat siswa melakukan tugas bersama, atau saat langkah-langkah pada awal rantai tampak lebih mudah bagi siswa.
Rushall and Ford (1982:16-20) menyatakan bahwa pembelajaran dengan urutan tradisional (sebagai lawan dari pembelajaran backwards) memiliki sejumlah kelemahan, yaitu: (1) pembelajaran menjadi lebih sulit untuk dikembangkan, (2) diperlukan mental kerja yang lebih besar bagi siswa, karena siswa tidak mampu memfokuskan perhatian pada hal baru
commit to user
yang akan diajarkan, (3) adanya gangguan dan pikiran yang akan mereduksi laju pembelajaran, sebab bagi pemula akan mengalami kesulitan untuk mengingat seluruh aspek yang berbeda, (4) adanya kontaminasi emosional yang akan memperlambat pencapaian hasil, yaitu terbentuknya mental
checklist, yang berusaha diikuti siswa yang dapat membentuk suatu kebiasaan.
2. Gaya Kognitif
Gaya kognitif berhubungan dengan cara siswa mengorganisasikan, menyaring, mentransformasi, dan memproses informasi. Gaya Kognitif seseorang ditentukan oleh cara seseorang melekatkan pada dirinya yang diambil dari lingkungannya. Hal ini dikomposisikan dari variabel-variabel yang berkaitan dengan bagaimana kita berpikir, merasakan, dan mengerti atau mendapatkannya. Gaya kognitif seseorang adalah pola strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah termasuk masalah belajar. Gaya kognitif dalam pengolahan informasi adalah kebiasaan pengolahan informasi yang mewakili gaya belajar yang secara khas merasakan, berpikir, memecahkan masalah, dan mengingat.
Gaya kognitif pada seseorang dapat dibedakan menjadi 2, yaitu field-dependent (FD) dan field-infield-dependent (FI). Perbedaan keduanya dapat dilihat berdasarkan ciri-cirinya (Woolfolk, 2004; Altun, 2006; Daniels, 1996). Seseorang yang memiliki gaya kognitif field-dependent cenderung menerima suatu pola informasi secara menyeluruh, tidak memisahkan satu bagian dengan bagian lainnya. Mereka memiliki kesulitan untuk fokus pada satu aspek situasi,
commit to user
mengambil hal-hal rinci yang penting, menganalisis suatu pola ke dalam bagian-bagian yang berbeda. Mereka memiliki kecenderungan bekerja dengan baik dalam kelompok, memiliki daya ingat yang baik untuk informasi sosial, dan lebih menyenangi bidang seperti bahasa dan sejarah. Ilmu-ilmu sosial merupakan bidang yang cocok untuk orang dengan gaya kognitif field-dependent ini.
Seseorang yang memiliki gaya kognitif field-independent lebih suka untuk mengamati pemrosesan informasinya sendiri. Mereka dapat menerima secara terpisah-pisah bagian-bagian dari suatu pola, dan dapat menganalisa suatu pola berdasarkan bagian-bagiannya. Mereka tidak terbiasa dengan hubungan sosial sebagaimana orang dengan gaya kognitif field-dependent. Kelompok field-independent ini dapat bekerja dengan baik dalam lingkup matematika dan ilmu pengetahuan alam, di mana kemampuan analisisnya diperlukan.
Berdasarkan karakteristik kedua macam gaya koginitif ini, dapat diperkirakan bahwa seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan dari kelompok ilmu alam dan matematika cenderung terbiasa dengan gaya kognitif field-independent, sedangkan seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan dari kelompok ilmu sosial cenderung terbiasa dengan gaya kognitif field-dependent. Dengan kecenderungan seperti itu, maka dapat diduga bahwa pola belajar orang dewasa kemungkinan besar akan tergantung dari latar belakang pendidikan formalnya, apakah dari kelompok ilmu MIPA atau dari kelompok ilmu Sosial. (Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd. : 2009)
commit to user
Setiap individu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, cara seseorang dalam bertingkah laku, menilai, dan berpikir akan berbeda pula. Labunan (2004) menyatakan: setiap individu memiliki cara-cara tersendiri yang dilakukan dalam menyusun dalam pikirannya, apa yang dilakukan, dilihat, diingat dan apa yang dipikirkan. Individu akan memiliki cara-cara yang berbeda atas pendekatan yang dilakukannya terhadap situasi belajar, dalam cara mereka menerima, mengorganisasikan, serta menghubungkan pengalaman-pengalamam mereka dalam cara mereka merespon terhadap metode pengajaran tertentu. Perbedaan ini bukanlah merupakan suatu tingkat kemampuan seseorang namun merupakan suatu bentuk kemampuan individu dalam memproses dan menyusun informasi serta cara individu untuk tanggap terhadap stimulus yang ada di lingkungannya. Perbedaan-perbedaan yang menetap pada setiap individu dalam cara mengolah informasi dan menyususnya dari pengalaman-pengalamannya lebih dikenal dengan gaya kognitif.
Jadi dapat dikatakan gaya kognitif adalah cara setiap individu dalam menerima, mengoraganisasikan, merespon, mengolah informasi dan menyusunnya berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dialaminya berdasarkan kajian psikologis menurut Nurdin (2005), ada perbedaan cara orang memproses dan mengorganisasikan kegiatannya, dengan demikian perbedaan tersebut akan mempengaruhi kuantitas serta kualitas dari kegiatan yang dilakukan, termasuk kegiatan yang dilakukan siswa di sekolah perbedaan inilah yang disebut dengan gaya kognitif (cognitif style).
commit to user
Lebih lanjut Nurdin (2005) menyatakan bahwa gaya kognitif mengacu pada cara orang memperoleh informasi dan memakai strategi untuk merespon suatu stimulus dari luar. Disebut sebagai gaya kognitif dan tidak sebagai kemampuan karena merujuk pada bagaimana sesorang memperoleh informasi serta memecahkan masalah. Dan bukannya mengacu pada bagaimana seseorang untuk memperoleh cara yang terbaik dalam memproses informasi dan memecahkan masalah.
Gaya kognitif merujuk pada cara seseorang memproses, menyimpan, maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menanggapi berbagai jenis situasi lingkungannya. Ada beberapa pengertian tentang cognitive styles/gaya kognitif yang dikemukakan oleh beberapa ahli, namun pada prinsipnya pengertian tersebut relatif sama. Coop (dalan Nurdin, 2005) mengemukakan bahwa istilah gaya kognitif mengacu pada kekonsistenan pemolaan (patterning) yang ditampilkan seseorang dalam menanggapi berbagai jenis situasi. Juga mengacu pada pendekatan intelektual dan atau strategi dalam menyelesaikan masalah. Thomas (1990) mengemukakan bahwa cognitive styles merujuk pada cara seseorang memproses informasi dan menggunakan strategi untuk menanggapi suatu tugas. Woolfolk (1993) mengemukakan bahwa cognitive styles adalah bagaimana seseorang menerima dan mengorganisasikan informasi dari dunia sekitarnya.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan cognitive styles adalah cara seseorang dalam memproses, menyimpan, maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas
commit to user
atau menanggapi berbagai jenis situasi lingkungannya. Salah satu dimensi gaya kognitif yang secara khusus perlu dipertimbangkan dalam pendidikan, adalah gaya kognitif yang dibedakan berdasarkan perbedaan psikologis yakni: gaya kognitif field-independent dan field-dependent. Gaya kognitif field-dependent dan field independent perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran mengingat adanya kesesuaian antara kedua gaya kognitif independent dan field-dependent.
Kesesuaian yang dimaksud yaitu hubungan antara gaya kognitif field-dependent dan orientasi sesama atau menonjolnya solidaritas (rasa kebersamaan, kooperatif). Kesesuaian gaya kognitif field-independent dalam hakikat hubungan antara manusia dan manusia, yaitu orientasi individual yang muncul secara dominan yakni orientasi yang pada dasarnya menghargai kemampuan individual dalam meraih prestasi.
Tiap orang akan memiliki gaya kognitif yang berbeda-beda dalam memecahkan masalah. Berbagai gaya kognitif tersebut merupakan suatu sifat kepribadian yang relatif menetap sehingga dapat dipakai untuk menjelaskan prilaku seseorang dalam menghadapi berbagai situasi. Menurut Abdurrahman (1999) menyatakan ada dua dimensi yang mendapat perhatian besar dalam pengkajian anak dalam berkesulitan belajar yaitu dimensi gaya kognitif keterikatan dan ketidakterikatan pada lingkungan (field dependent dan field independent). Cakan (2006) mengemukakan, gaya kognitif (cognitive style), memiliki arti yang berbeda dengan gaya belajar (learning style). Gaya belajar merupakan cara orang untuk memperoleh informasi, sedangkan gaya kognitif
commit to user
memiliki arti yang lebih luas yaitu mengacu pada cara orang memperoleh informasi dan memandang lingkungan sekitarnya sebagai stimulus dan berinteraksi didalamnnya.
Menurut Bull (2000:3) terdapat 20 macam gaya pembelajaran (Twenty Elements of Style), satu diantaranya dikotomi Field independence / dependence. (analytic Vs non-analytic).
Pengukuran gaya kognitif penelitian ini menggunakan GEFT ( Group Embedded Figure Test ). Yang pelaksanaan maupun pengadaan instrumennya dilakukan oleh para pakar dari Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta.
Garton, Dryer, and King (2000:48) mengkategorikan individu field dependent adalah yang memperoleh skor GEFT 0 sampai dengan10, individu
field neutral adalah yang memperoleh skor GEFT 11 sampai dengan 13, dan individu field independent adalah yang memperoleh skor GEFT 14 sampai dengan 18.
a. Gaya Kognitif Field independent
Dalam proses pembelajaran, karakteristik Field independent men-cakup: berfikir analitis, sekuensial, induktif, belajar langkah demi langkah, membangun konsep secara skuensial kumulatif, rancangan formal, memer-lukan penguatan visual, kebutuhan yang kuat untuk melengkapi tugas saat bekerja.
commit to user
Liu (1999:2) menya-takan bahwa individu Field independent lebih otonom pada pengembangan keterampilan merestruktur kognitif dan kurang otonom dalam pengembangan keterampilan inter-personal.
Salah satu gaya kognitif yang mempengaruhi karakteristik individu adalah gaya kognitif field independent. Witkin, dkk (dalam Candiasa, 2002) mengklarifikasikan beberapa karakteristik individu yang memiliki gaya kognitif field-independent, antara lain: (1) memiliki kemampuan menganalisis untuk memisahkan objek dari lingkungan sekitar, sehingga persepsinya tidak terpengaruh bila lingkungan mengalami perubahan; (2) mempunyai kemampuan mengorganisasikan objek-objek yang belum terorganisir dan mereorganisir objek-objek yang sudah terorganisir; (3) cenderung kurang sensitif, dingin, menjaga jarak dengan orang lain, dan individualistis; (4) memilih profesi yang bisa dilakukan secara individu dengan materi yang lebih abstrak atau memerlukan teori dan analisis; (5) cenderung mendefinisikan tujuan sendiri, dan (6) cenderung bekerja dengan mementingkan motivasi intrinsik dan lebih dipengaruhi oleh penguatan instrinsik.
Dari karakteristik tersebut dapat diketahui bahwa individu yang memiliki gaya kognitif field independent mempunyai kecenderungan dalam respon stimulus menggunakan persepsi yang dimilikinya sendiri dan lebih analitis.
Lebih lanjut Musser (dalam Sugiarthawan, 2007): menjelaskan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa yang memiliki gaya kognitif field independent belajar secara maksimal antara lain: (1) pembelajaran yang
commit to user
menyediakan lingkungan belajar secara individual; (2) disediakan lebih bayak kesempatan untuk belajar dan menemukan sendiri suatu konsep atau prinsip; (3) disediakan lebih banyak sumber dan materi belaja; (4) pembelajaran yang hanya sedikit memberikan petunjuk dan tujuan; (5) mengutamakan instruksi dan tujuan secara individual; (6) disediakan kesempatan untuk membuat ringkasan, pola, atau peta konsep berdasarkan pemikirannya.
b. Gaya Kognitif Field dependent
Dalam proses pembelajaran, karakteristik Field dependent mencakup: berfikir global, diawali dengan mempelajari konsep, dilanjutkan konsentrasi pada rincian, belajar dalam kelompok, merespon gambar lebih baik.
Individu dengan gaya kognitif Field dependent dalam proses pembelajaran memiliki ciri-ciri: berfikir global, memiliki motivasi eksternal dan penghargaan eksternal, penalaran analitis dinamis melalui penemuan dan intuisi, penerimaan melalui pendengaran dan penglihatan, menggunakan otak kanan dengan pemrosesan non linier, serial, sekuensial, penerimaan abstrak melalui analisis, dan memililki prosesor yang reflektif.
Perbedaan gaya kognitif tersebut dapat dilihat seperti dalam tabel berikut ini :
commit to user
Tabel. 1. Perbedaan gaya kognitif fielddependent dan field independent
Dimensi Type:Field Independent Type : Field Dependent
Pengaruh lingkungan
Kurang dipengaruhi oleh lingkungan dan
pendidikan masa lampau
Sangat dipengaruhi oleh lingkungan, bergantung pendidikan sewaktu kecil
Pendidikan
Dididik untuk berdiri sendiri dan mempunyai
otonomi atas
tindakannya
Dididik untuk selalu memperhatikan orang lain
Ingatan
Tidak peduli akan norma - norma
Mengingat hal – hal dalam konteks social / norma
Cara bicara
Berbicara cepat tanpa menghiraukan daya tangkap orang lain
Bicara lambat agar dapat dipahami orang lain
Hubungan Sosial
Kurang mementingkan hubungan sosial
Mempunyai hubungan social yang luas
Bidang psikologi
Lebih sesuai memilih psikologi eksperimental
Lebih cocok untuk memilih psikologi klinis
Pemilihan jurusan
Lebih cepat memilih bidang keahliannya sesuai dengan kemampuan yang
Lebih sukar mdan sering pindah jurusanemastikan bidang keahliannya
commit to user dimiliki
Pemberian petunjuk
Tidak memerlukan petunjuk yang terperinci
Memerlukan petunjuk yang lebih banyak untuk memahami sesuatu, bahan hendaknya tersusun langkah de4mi langkah
Sikap terhadap kritik
Dapat menerima kritik demi perbaikan
Lebih peka akan kritik dan perlu memnapat dorongan, kritik jangan bersifat pribadi
Sumber : S. Nasution, 2006. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar & Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara.
3. Pengertian Hasil belajar Menggambar Teknik Dasar dengan AutoCad
a. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran tertentu (Brigg’s,1977:56). Hasil belajar secara spesifik
mengacu pada capaian siswa yang didasarkan pada hasil belajar, yang bersandar pada bukti dari pembelajaran siswa dan meliputi penguasaan, pemahaman, dan sikap. Reigeluth (1985:18-20) mengklasifikasi-kan hasil belajar terdiri dari efektifitas, efisiensi, dan daya tarik. Efektivitas dari pembelajaran pada umumnya diukur dengan tingkat pencapaian siswa terhadap berbagai hal. Efisiensi pembelajaran pada umumnya diukur dengan keefektifan dibagi dengan waktu belajar siswa. Daya tarik dari pembelajaran pada umumnya diukur dengan tendensi siswa untuk melanjutkan belajar.
commit to user
Dalam penelitian ini hasil belajar ditekankan pada efektivitas, yaitu kemampuan memecahkan masalah/soal yang diberikan. Menurut Snelbecker (1974:11-21) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang ditandai oleh perilaku baru yang merupakan hasil belajar aktual, hasil belajar baru ini berlaku dalam waktu lama, hasil belajar baru ini diperoleh karena
pembelajaran. Berdasarkan taksonomi variabel pembelajaran Bloom’s seperti
dikutip Krathwohl (2001:138), hasil belajar dibagi dalam tiga ranah, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Taksonomi ranah kognitif ini oleh Anderson and Krathwohl direvisi menjadi dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Dimensi proses kognitif terdiri dari tingkatan :ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan kreasi. Dimensi pengetahuan terdiri dari tingkatan: pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif.
b. Menggambar Teknik Dasar dengan AutoCad.
AutoCad merupakan kependekan dari kata Automatic Computer Aided Desaign, yang berarti bahwa Autocad merupakan suatu program komputer sebagai alat bantu dalam proses desain atau perancangan, dalam hal ini merupakan salah satu sub kompetensi dari Gambar Teknik Dasar yang diberikan pada kelas X program studi Teknik Gambar Bangunan. Selanjutnya pengertian hasil belajar menggambat teknik dasar dengan komputer merupakan kompetensi siswa di bidang gambar dengan perangkat lunak (software). Sehingga kompetensi yang dicapai sesuai dengan rancangan pembelajaran yang tercantum dalam masing – masing jobsheet.
commit to user B. Penelitian yang relevan
Berikut ini adalah beberapa penelitian yang relevan yang telah dilakukan, khususnya dengan variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini.
1. C. A. Sherman dan B. S. Rushall (1993) http://www-rohan.sdu.edu/dept/coachsci/csa/vol31/tabel.htm). dalam penelitian tentang Per-kembangan Mengubah dan Penyempurnaan Teknik Berenang Menggunakan Pengajaran Terbalik dinyatakan bahwa dengan strategi
backward chaining terjadi penyempurnaan hasil yang signifikan, perubahan perilaku dan kinerja yang efektif, menghasilkan sedikit kesalahan, dan merupakan strategi pembelajaran yang efektif.
2. Muhhamad Ali Salmani (2002) dalam penelitian tentang Hubungan Terpengaruh lingkungan/dependent dan Kinerja Mahasiswa EFL orang Iran pada Tes Komunikasi dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kinerja peserta tes dengan gaya kognitif Terpengaruh lingkungan dan gaya kognitif Independent. (Nodoushan University of Tehran,2002)
http://www.geocities.com/nodoushan/articles/homepage.html.
3. Sakorn Boondao dan Glenn Rowley (1991) : Paper presented at AARE Annual Conference 1991 Suffers Paradise, Queensland 20 – 26, 1991) dalam penelitian tentang Pengaruh dari Penugasan bagi Maha-siswa Terpengaruh lingkungan - Terbebas lingkungan dalam Pembelajaran Matematik dengan Pendidikan Jarak Jauh dinyatakan bahwa terdapat pengaruh positif di antara mahasiswa dengan gaya kognitif Terpengaruh lingkungan dan
commit to user
di antara mahasiswa dengan gaya kognitif Terbebas lingkungan. Mahasiswa dengan dengan gaya kognitif Terbebas lingkungan ternyata memiliki kinerja lebih baik.
4. John W. Hansen (1995) yang melakukan penelitian pada mahasiswa teknik industri dan pendidikan kejuruan di Center California University menemukan bahwa pada mahasiswa jurusan teknik mesin skor GEFT dan skor S-V (Spatial-Visual) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Skor GEFT dan skor S-V yang tinggi menunjukkan Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi pula. ( Journal of Technology Education, volume 6 number 2, spring 1995), pp.4 -7
5. SheriClark, Elaine Set, dan Fred Weber (2000) dalam penelitiannya tentang kinerja mahasiswa teknik pada kelompok GEFT di Fakultas Teknik Universitas Tennessee pada 53 mahasiswa seni liberal, 157 mahasiswa jurusan teknik, menunjukkan bahwa skor GEFT rerata mahasiswa seni liberal 11,7, dan skor GEFT rerata mahasiswa jurusan teknik 14,6. Mahasiswa jurusan teknik yang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah secara superior adalah mereka yang memiliki nilai matematika dan sains yang tinggi, serta sedikit sekali mahasiswa dengan nilai GEFT yang rendah mendapatkan Indeks Prestasi kumulatif yang rendah. Sementara itu mahasiswa dengan skor GEFT yang rendah tidak ingin berlama-lama menjadi mahasiswa jurusan teknik.
commit to user
6. Steven R. Terrel (2002:4) dalam penelitiannya tentang penggunaan gaya kognitif sebagai prediktor dari keanggotaan dalam program sekolah menengah dan program sekolah tinggi bagi orang berbakat menggunakan GEFT menunjukkan bahwa pria lebih terbebas lingkungan dibanding wanita. (paper presented at the Annual Meeting).
7. Anwar Sukito Ardjo (2008) dalam penelitiannya (disertasi tidak dipublikasikan) tentang pengaruh strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap hasil belajar pemrograman otomasi gambar teknik pada mahasiswa program DIII Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta dengan GEFT: Jakarta UNJ, menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengikuti pembelajaran Otomasi Gambar Teknik dengan strategi backward chaining lebih tinggi dari pada yang mengikuti pembelajaran dengan strategi forward chaining. Pada bagian lain juga ditemukan bahwa terbukti hasil belajar pemrograman Otomasi Gambar Teknik mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent lebih tinggi dari pada mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependent. Temuan juga mengindikasikan ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap hasil belajar pemrograman Otomasi Gambar Teknik.
8. Aghniyani Zakiah (2008) dalam penelitiannya (tesis tidak dipublikasikan) tentang pengaruh penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) bermedia VCD dan LKS terhadap pencapaian kompetensi mata pelajaran sejarah ditinjau dari gaya kognitif siswa : Surakarta, UNS. Menunjukkan bahwa hasil pencapaian kompetensi mata pelajaran sejarah bagi siswa yang memiliki gaya kognitif
commit to user
field independen lebih tinggi dari pada siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent.
C. Kerangka Berfikir
1. Perbedaan pengaruh hasil belajar gambar teknik dasar dengan AutoCad berdasarkan strategi pembelajaran
Backward Chaining merupakan strategi pembelajaran yang aktivitasnya dilakukan dalam urutan terbalik, dari bagian akhir menuju langkah awal. Beberapa ciri dari strategi pembelajaran Backward Chaining yang menarik untuk diimplementasikan adalah upaya pembuktian bahwa strategi pembelajaran ini akan memberikan hasil : (1) pembelajaran minimum, yang akan mereduksi penggunaan ingatan jangka pendek atau ingatan kerja, (2) memfasilitasi transfer informasi prosedural menuju ingatan jangka panjang, (3) menjaga siswa tetap terlibat dan tertantang, (4) memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan tugas lebih