• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

3. Kajian Teoritis E-Learning

a. Pengertian E-learning

Kata e-learning terdiri dari dua bagian, yaitu „e‟ yang merupakan singkatan dari „electronic’ dan ’learning’ yang berarti „pembelajaran‟. Jadi e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa bantuan perangkat elektronik, khususnya perangkat komputer. Maka e-learning sering disebut juga dengan ‘online course’.26

Huruf‘e’ pada e-learning bukan hanya singkatan dari electronic, tetapi juga dari singkatanexperience (pengalaman), extended (perpanjangan), dan expanded (perluasan). Sedangkan kata electronic sendirimemiliki makna dalam e-learningada penambahan unsur teknologipada proses belajar dalam hal ini internet, sehingga proses belajarnya melibatkan berbagai perangkat keras (laptop, komputer, smartphone, handphone), perangkat lunak (software e-learning, situs e-learning) dan proses elektronik.27Dalam berbagai literatur, e-learning didefinisikan sebagai berikut:

E-learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses.28

26

Soekartawi, “E-Learning Untuk Pendidikan Khususnya Pendidikan Jarak Jauh dan Aplikasinya di Indonesia dalam Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan (Jakarta: Kencana Penada Media Group, 2008), h. 198.

27

Sukmadinata, op.cit., h. 206.

28

Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero, Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and The Philippines, Journal of SoutheastAsian Education,

E-learning juga dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semua pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan sebagai pembelajaran berbasis web.

Jaya Kumar C. Koran mengatakane-learningadalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) yang berfungsi untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. E-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Dong mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.Rosenberg menyatakan e-learningdapat merujuk pada pemanfaatan teknologi internet yang mengirimkan serangkaian solusi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Sama halnya dengan Campbell Kamarga yang juga menekankan bahwa sesungguhnya penggunaan internet dalam pendidikan adalah hakekat e-learning.29

Selain itu, Victoria L. Tinoo menyatakan e-learningmeliputi pembelajaran pada semua tingkatan baik formal maupun non formal, dimanamenggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) sebagai pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi.30

Kata „e-learning‟ sendiri memiliki penjelasan filosofis yang luas menurut Cisco sehingga ia menjabarkan sebagai berikut.Pertama, e-learning

adalah penyampaian informasi dimana informasi tersebut berupa materi pelajaran, komunikasi yang dilakukan guru kepada siswa atau siswa kepada siswa yang lain bisa melalui grup diskusi, pendidikan dimana menjadi tujuan untuk e-learning ini dikembangkan, dan pelatihan secara on-line misalnya latihan soal-soal. Kedua, e-learning ini bukan berarti menggantikan

29

Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011), h. 346

30

Iif Khoiru Ahmadi, Sofan Amri dan Tatik Elisah. Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu

bahkan menghilangkan model belajar konvensional di dalam kelas yang didominasi oleh guru dan bukan berarti menghilangkan peran guru di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. Ketiga, kapasitas keaktifan siswa dapat bervariasi,tergantung pada bentuk e-learning yang digunakan dan cara penyampaian guru saat akan melaksanakan pembelajaran. Makin baik keselarasan antarkonten dan alat penyampaian dengan gaya belajar siswa, maka akan lebih baik kapasitas siswa untuk turut aktif dalam pembelajaran sehingga akan memberi hasil yang lebih baik.31

b. Karakteristik e-learning

E-learning memiliki karakteristik yang dapat dijabarkan untuk menggambarkan lebih spesifik pemanfaatan e-learning. Berikut ini adalah karakteristik e-learning yaitu:32

1) Memanfaatkan jasa elektronik, dimana guru dan siswa dapat berkomunikasi dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler;

2) Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks), misal menggunakan komputer yang terhubung dengan internet dapat juga memudahkan komunikasi dalam jarak jauh;

3) Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya, misalnya berupa software yang dapat diinstal pada perangkat PC/laptop sehingga memudahkan untuk dipelajari; dan

31

Rusman, op. cit., h. 347.

32

4) Memanfaatkan jadwal pembelajaran sehingga dapat diatur dengan menyesuaikan jadwal, kurikulum yang saat ini sedang gencar untuk anak belajar mandiri dan memanfaatkan teknologi, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer dengan jaringan komputer.

c. Model Pembelajaran E-learning

Perbedaan antara pembelajaran tradisional dengan e-learning, yaitupada kelas „tradisional‟ guru dianggap sebagai satu-satunyasumber belajar dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada siswa. Sedangkan dalam e-learning, suasana pembelajaran akan „memaksa‟ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya daripada guru. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha dan inisiatif sendiri.Guru tetap berperan hanya sebagai fasilitator siswa untuk menerangkan dan mengawasi pembelajaran e-learning.33

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan e-learning tidak dapat disamakan dengan pembelajaran di sekolah pada umumnya, dan berbeda juga dengan pembelajaran konvensional yang hanya menggunakan metode tatap muka. Proses pembelajaran e-learning adalah gabungan antara metode tatap muka (konvensional) dengan metode online (via internet dan berbagai pengembangan teknologi informasi lainnya).34

Pembelajaran menggunakan komputer dalam e-learningdapat dilakukan secara bervariasi, pembelajaran dapat dilakukan secara penuh melalui komputer, namun dapat pula dikombinasikan dengan tatap muka yang telah menjadi bagian dari proses pembelajaran. Untuk langkah awal kombinasi antara pemanfaatan komputer dengan tatap muka lebih fleksibel. Tugas-tugas dapat diberikan oleh pengajar dan dikerjakan oleh peserta didik melalui komputer, hal ini membuka kemungkinan bagi pengajar untuk

33

Rusman, op. cit., h. 347.

34

Ety Rochaety, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), h. 76.

memberikan penialian yang terbuka dan juga memberi kesempatan kepada peserta didik lain untuk memberikan masukan.35

Kegiatan pembelajaran secara online dapat diselenggarakan dalam berbagai cara, yaitu:36

1) Proses pembelajaran secara konvensional (lebih banyak face to face meeting) dengan tambahan pembelajaran melalui media interaktif komputer via internet atau menggunakan grafik interaktif komputer. Media komputer atau via internet hanya sebagai tambahan saja, bukan merupakan keseluruhan proses pembelajaran. Dalam hal ini biasa dilakukan pada sekolah yang belum memiliki fasilitas yang memadai dan masih kurangnya pemahaman siswa dalam pemanfaatan ICT.

2) Dengan metode campuran, yakni secara umum sebagian besar proses pembelajaran dilakukan melalui komputer, namun tetap juga memerlukan face to face meeting untuk kepentingan tutorial atau mendiskusikan bahan ajar. Pembelajaran ini dilakukan untuk mendukung anak agar dapat belajar mandiri, namun peran guru tetap berlangsung dengan semestinya.

3) Metode pembelajaran yang secara keseluruhan hanya dilakukan secara online, metode ini sama sekali tidak ditemukan face to face meeting.Dalam kasus ini biasa dilakukan pada lembaga yang memiliki kurikulum belajar di rumah atau belajar jarak jauh. Sehingga belajar dapat dilakukan dimanapun, kapanpun namun tetap dalam pengawasan lembaga pendidikan.

Mengingat baik belajar di sekolah maupun e-learning mempunyai keunggulan masing-masing, maka yang paling baik adalah memadukan keduanya. E-learning dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran dalam pendidikan di sekolah. Guru sebaiknya telah menyusun program

35

Hamzah B. Uno dan Nina Lamatenggo. Teknologi Komunikasi dan Informasi Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 139.

36

pembelajaran dengan memasukkan kegiatan e-learning, sebagai pelengkap, pengayaan atau program terpadu. E-learning dapat dimasukkan dalam program sekolah, apakah hanya untuk kelompok siswa tertentu sebagai program pengayaan, atau bagi semua siswa sebagai program penunjang, atau program terpadu dengan pembelajaran utama.37

Model pembelajaran yang dikembangkan melalui e-learning menekankan pada resoursce based learning, yang juga dikenal dengan learner-centered learning. Dengan model ini, peserta didik mampu mendapatkan bahan ajar dari PC di rumahnya masing-masing. Keuntungan model pembelajaran ini yaitu tingkat kemandirian peserta didikdapat lebih baik dan kemampuan komunikasi mereka juga sangat baik. Belajar dengan komputer via internet, siswa dapat mengemukakan pendapatnya dan berdiskusi dengan sesama teman dengan lebih baik jika dibandingkan berdiskusi di kelas. Dengan model ini, komunikasi siswa dengan guru atau dengan sesama teman dapat berlangsung secara bersamaan melalui dukungan jaringan komputer.38

Bukan pilihan yang bijaksana untuk menggantikan proses pembelajaran tradisional menjadi sepenuhnya berbasis e-learning. Karena bagaimanapun, peran guru dan kehidupan sosial mereka lebih dapat berkembang jika belajar dengan tatap muka. Sehingga gabungan dari keduanya yang nanti mampu menghasilkan sinergi yang produktif. Proses pembelajaran secara fisik di sekolah akan menjaga value dari interaksi manusia, sedangkan e-learning akan memberikan akses pada knowledge resources yang sangat kaya dari internet.39

37

Iif Khoiru Ahmadi dan Sofan Amri, Strategi Pembelajaran Sekolah Berstandar Internasional dan Nasional, (Jakarta: PT. Prestasi Pustaka, 2010), h. 209.

38

Rochaety, op.cit., h. 78.

39

d. Fungsi Pembelajaran E-Learning

Menurut Siahaan terdapat tiga fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas, yaitu sebagai berikut:40

1) Sebagai suplemen pembelajaran yang sifatnya pilihan/optional. E-Learning berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah siswa akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau menggunakan pembelajaran model konvensional. Tidak ada kewajiban/keharusan bagi siswa untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya operasional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetuan atau wawasan. Sehingga, siswa yang merasa perlu memanfaatkan materi pembelajaran elektronik akan lebih baik. Namun yang sulit menggunakannya cukup menggunakan model konvensional.

2) Sebagai pelengkap (komplemen) pembelajaran.

E-Learning berfungsi sebagai komplemen (pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi-materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas konvensional.

3) Sebagai pengganti (substitudi) pembelajaran.

E-Learningsebagai pengganti (substitusi) jika pembelajaran elektronik sepenuhnya digunakan dalam proses pembelajran. Dalam kondisi ini, siswa hanya belajar lewat pembelajaran elektronik saja tanpa menggunakan pembelajaran lainnya.

e. Manfaat Pembelajaran E-Learning

Manfaat E-Learning menurut A.W. Bates, dan K. Wulf terdiri atas 4 hal, yaitu:41

1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru (enhance interactivity). Kadar interaksi antara siswa dan guru

40

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h.212-213.

41

dapat terjadi ketika e-learning diluar jam sekolah dengan memanfaatkan group diskusi.

2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility). Karena e-learning ini berhubungan dengan jaringan internet sehingga pembelajaran dapat dilakukan dimana dan kapan saja selama memiliki perangkat PC/tablet/smartphone dan jaringan internet untuk mengakses sumber belajar via web.

3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Peserta didik tidak terbatas pada suatu wilayah tertentu saja. Peserta dapat terhubung dengan sesama anggota siswa di seluruh negeri bahkan dunia.

4) Mempermudah penyempurnaan dan penyampaian materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Dengan sistem teknologi yang cukup memadai memungkinkan pembelajaran dapat di update menyesuaikan perkembangan informasi.

f. Kelebihan dan Kekurangan E-learning

E-learning sebagai suatu pembelajaran yang baru dijumpai di dunia pendidikan. Tentu saja ada pendidik yang mulai tertarik dan masih menutup diri untuk mulai menerapkan e-learningsebagai metodebaru di kelasnya. Hal tersebut dapat dijelaskan karena e-learning memiliki kelebihan dan kekurangan jika digunakan dalam proses pembelajaran. Berikut beberapa hal gambaran dan kelebihan tentang sistem e-learning:42

1) Pembelajaran ini sangat cocok untuk kelas online dan sama baiknya dengan belajar tambahan yang langsung berhadapan dengan dosen/guru.

2) Sederhana, ringan, efisien dan menggunakan teknologi sederhana. Teknologi yang digunakan dapat berupa jaringan internet yang saat

42

ini sudah hampir semua masyarakat menggunakannya untuk memperoleh informasi. Sehingga tidak memerlukan teknologi yang sangat canggih untuk menggunakan e-learning.

3) Mudah di install pada banyak program yang bisa mendukung PHP. Hanya membutuhkan satu database saja. Aplikasi di komputer/laptop dan smartphone sekalipun dapat diunduh dan diinstal dengan mudah.

4) Menampilkan penjelasan dari pelajaran yang ada dan pelajaran tersebut dapat dibagi kedalam beberapa kategori. Hampir semua pelajaran terdapat pada situs rumah lengkap tampilan gambar, animasi bergerak, hingga soal-soal yang dapat membantu siswa.

Sedangkan menurut Simamora, kelebihan yang dimiliki dari pemanfaatan internet untuk e-learning adalah sebagai berikut:43

1) Kelas tidak membutuhkan bentuk fisik lagi, semuanya dapat dibangun dalam aplikasi internet. Untuk mendapatkan ilmu seseorang tidak harus duduk di dalam kelas, dengan e-learningsemua mungkin dilakukan di rumah bahkan di perjalanan sekalipun.

2) Melalui internet lembaga pendidikan akan dapat lebih fokus pada penyelenggaraan program pendidikan/pelatihan. Lembaga pendidikan dapat mengatur jadwal pendidikan dan pelatihan melalui jaringan internet.

3) Program e-learning dapat dilaksanakan dan di-update secara cepat. Perkembangan pembelajaran dapat disebarluaskan dengan mudah. 4) Dapat diciptakan interaksi yang bersifat real time(chatting,

audio/videomulticasting), maupun non-real-time (e-mail, bulleting board, mailinglist). Interaksi real time memerlukan waktu yang

43

Durri Andriani, dkk, Cakrawala Pendidikan: e-learning dalam Pendidikan, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002), h. 368-369.

bersamaan untuk berkomunikasi, sedangkan non real-time tidak memerlukannya.

5) Dapat mengakomodasi keseluruhan proses belajar, mulai dari registrasi, penyampaian materi, diskusi, evaluasi dan juga transaksi. Keseluruhan proses belajar dapat dipantau dengan mudah.

6) Dapat diakses dari lokasi mana saja dan bersifat global. Proses belajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.

7) Materi dapat dirancang secara multimedia dan dinamis. Dengan teknologi yang semakin maju, materi dapat dibuat menjadi gambar atau animasi yang menarik sehingga siswa dapat memahami dengan mudah.

8) Peserta belajar dapat terhubung ke berbagai perpustakaan maya di seluruh dunia dan menjadikannya sebagai media penelitian dalam meningkatkan pemahaman pada bahan ajar. Bahan ajar siswa tidak terpatok dari pemberian guru saja, tetapi siswa dapat menelusuri materi dari referensi terpercaya untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.

9) Guru/instruktur/dosen dapat secara cepat menambahkan referensi bahas ajar yang bersifat studi kasus, trend industri dan proyeksi teknologi kedepan melalui berbagai sumber untuk menambah wawasan peserta terhadap bahan ajarnya. Pendidik dapat dengan mudah memberikan referensi yang paling update dan berasal dari sumber terpercaya.

Dari semua kelebihan e-learning yang dipaparkan tersebut, pemanfaatan internet untuk pembelajaran e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Kekurangan e-learning disampaikan oleh Bullen dan Beam, antara lain disebutkan sebagai berikut:44

1) Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa atau bahkan antar-siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat

44

terbentuknya values dalam proses belajar mengajar. Hal ini terjadi pada sistem kelas yang keseluruhan pembelajaran dilakukan tanpa diikuti dengan tatap muka di kelas;

2) Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersil; 3) Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan

daripada pendidikan;

4) Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT. Guru diwajibkan menggunakan perangkat teknologi dan meninggalkan pembelajaran konvensional;

5) Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal, karena siswa diwajibkan sudah memiliki motivasi untuk belajar sehingga tidak mempermasalahkan apapun cara yang digunakan untuk memperoleh ilmu;

6) Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer). Kekurangan ini merupakan masalah utama yakni fasilitas yang mamadai dari pemerintah terutama di daerah terpencil. Sehingga e-learning belum dapat dilakukan di kota kecil yang belum lengkap fasilitas ICT-nya;

7) Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal Internet, keterampilan ICT guru dan siswa khususnya di daerah yang kurang fasilitas teknologi; dan

8) Kurangnya penguasaan bahasa komputer. Meskipun pengguna komputer telah berkembang, namun masih banyak sekolah yang siswa dan guru belum menguasai penggunaan komputer dan teknologi lainnya.

Untuk dapat mengatasi berbagai kendala yang mungkin ditemui ketika melakukan pembelajaran e-learning ini, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:45

1) Pemahaman yang utuh akan peran internet pada guru; internet akan dapat mengurangi peran seorang guru dalam proses e-learning ini dan hal ini mungkin dapat menjadi resistensi bagi beberapa orang. 2) Diperkirakan pengajar akan lebih banyak waktunya habis untuk

memfasilitasi diskusi, menjawab berbagai pertanyaan dan topik diskusi yang muncul.

3) Lingkungan belajar e-learning dapat bersifat personal dibandingkan dengan kelas konvensional.

4) Pengajar sebaiknya memiliki keterampilan HTML untuk dapat lebih mudah mengelola keseluruhan materi basis internet.

5) Pengajar sebaiknya banyak melalukan berbagai penelitian dan pencarian database terkait materi untuk melakukan updating terhadap bahan ajar.

6) Seacar konsisten dan rutin, pengajar sebaiknya melakukan review terhadap bahan ajar untuk menjamin berjalannya link HTML yang ditampilkan pada bahan ajar.

4. Kajian Teoritis Rumah Belajar

Dokumen terkait