BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
komunitas pendidikan
c) Sarana untuk memperoleh ruang (space) untuk menampilkan profil sekolahnya sebagaisubdomain Rumah Belajar.
d) Sarana untuk mengikuti kelas maya melalui fitur telekolaborasi Rumah Belajar.
3) Sebagai wahana pengembangan profesionalisme guru
a) Wahana untuk mengembangkan rencana pembelajaran di template RPP.
b) Wahana untuk mengembangkan bahan ajar yang sesuai kurikulum dan media pembelajaran (gambar, foto, video, animasi, simulasi, audio, dan presentasi) yang mendukung pembelajaran melalui karya komunitas.
c) Wahana untuk memantau hasil belajar siswa melalui data keaktifan siswa di portal Rumah Belajar.
d) Wahana untuk memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait dan penerapan konsep‐konsep keilmuan dalam kehidupan sehari‐hari melalui peta materi dan pengetahuan popular.
e) Wahana untuk menjadikan Rumah Belajar sebagai tempat berkompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai pendidikan dan budaya nasional.
d. Tujuan Rumah Belajar
Portal Rumah Belajar dikembangkan untuk memfasilitasi berbagai hal dengan tujuan:52
1) Tersedianya sebuah portal layanan elektronik pembelajaran yang terintegrasi dengan pengembangan inovasi pembelajaran dan pembinaan profesionalitas pendidik.
2) Tersedianya berbagai pilihan sumber belajar baik bagi peserta didik, pendidik, maupun masyarakat umum.
3) Tersedianya wahana pengembangan kreativitas dan saling berbagi secara kolaboratif diantara para peserta didik, pendidik, maupun masyarakat umum.
4) Terintegrasinya layanan elektronik pembelajaran dan elektronik Administrasi dalam rangka mendorong pengembangan profesionalitas para pendidik.
e. Fasilitas Rumah Belajar
Fasilitas Rumah Belajar dirancang dan dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan pengguna. Hal ini disesuaikan dengan menu‐menu yang ada di portal Rumah Belajar. Menu pada halaman beranda dirancang untuk memudahkan pengguna dalam mendapatkan konten sesuai kebutuhan.Menu‐menu yang ada di halaman beranda portal Rumah Belajar terdiri atas:53
1) Menu vertikal merupakan menu yang berada pada bagian atas yang terdiri dari beranda dan satuan pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan PT. Setiap menu satuan
52
Ibid., h. 8.
53
pendidikan akan diturunkan menjadi kelas kemudian konten‐konten yang tersedia di Rumah Belajar.
Gambar 2.1 Menu bar
2) Logo Rumah Belajar dengan Motto “belajar untuk semua”
Gambar 2.2 Logo Rumah Belajar
3) Menu Satuan Pendidikan. Menu ini dibedakan dengan warna yang sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan dimana ketika salah satu jenjang diklik maka warna tampilan dasar akan menjadi warna latar setiap tampilan. Menu jenjang terdiri atas, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiya berwarna merah, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah berwarna biru, Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah berwarna abu‐abu dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan berwarna kuning.
Gambar 2.3 Menu satuan pendidikan
4) Menu fasilitas utama yang terdiri atas, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Bahan Pembelajaran Interaktif, Aktivitas Belajar, Bank Soal dan Katalog Media berada di bagian bawah. Ketika kursor diarahkan ke menu RPP, Bahan Pembelajaran Interaktif atau Bank Soal maka muncul pilihan jenjang satuan pendidikan, jika diklik maka akan masuk ke fasilitas yang disediakan sesuai jenjang.
Ketika kursor diarahkan ke menu Aktivitas Belajar maka penggunaakan diberi pilihan fasilitas Forum, Kelas Maya dan Bimbingan Belajar. Kemudian ketika kursor diarahkan ke menu Katalog Media maka pengguna akan diberi pilihan media Gambar, Animasi, Video, Audio, Buku, Presentasi dan Karya Komunitas.
Gambar 2.4 Menu fasilitas Rumah Belajar
5) Fasilitas Login dan Register. Pengguna dapat melakukan login dan pendaftaran di sini.
Gambar 2.5 Menu login dan pendaftaran
6) Cermin Kita. Cermin kita berisi informasi‐informasi fasilitas yang ada di portal Rumah Belajar.
Gambar 2.6 Menu Cermin Kita
7) Live Streaming. Pengguna dapat mengakses live streaming dari TV Edukasi Channel 1, TV Edukasi Channel 2, dan Radio Suara Edukasi. TV Edukasi Channel 1 merupakan siaran televisi untuk seluruh masyarakat sedangkan TV Edukasi Channel 2 merupakan siaran televisi khusus untuk guru.
Gambar 2.7Live streaming TV Edukasi
8) Data Statistik pengunjung portal Rumah Belajar. Data ini menunjukan jumlah pengunjung portal Rumah Belajar secara berkala berdasarkan harian, mingguan, bulanan dan jumlah keseluruhan.54
Gambar 2.8 Statistik Pengunjung Rumah Belajar
f. Solusi yang Ditawarkan Oleh Teknologi Rumah Belajar
Rumah belajar menawarkan solusi-solusi dalam perannya sebagai teknologi baru, diantaranya:55
1) Rumah Belajar menyediakan berbagai konten pembelajaran digital baik konten sesuai kurikulum ataupun pengayaan.
2) Rumah Belajar menyediakan fasilitas forum diskusi dan kolaborasi. 3) Rumah Belajar memiliki rekam jejak semua aktivitas user, sehingga data ini dapat dikembangkan sebagai bahan pembinaan dan peningkatan kompetensi guru.
4) Rumah Belajar menyediakan modul (bahan belajar mandiri) dan LMS (learning management system) yang dapat memfasilitasi siswa yang ingin belajar secara mandiri ataupun guru yang ingin membuka kelas online.
5) Rumah Belajar menyediakan Bank Soal.
6) Rumah Belajar menyediakan ruang bimbingan belajar yang diasuh oleh para guru yang kompeten.
54
Ibid.
55
5. Materi Sistem SarafManusia
Materi sistem sarafmanusia adalah salah satu sub materi dari sistem koordinasi yang diajarkan pada siswa kelas XI SMA semester genap. Materi ini tercakut dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, yang diharapkan siswa memahami konsep sistem saraf hingga tingkat penguasaan minimal menganalisis (C4). Materi ini juga dijelaskan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar56
Komponen Deskripsi
Standar Kompetensi 3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas.
Kompetensi Dasar 3.6 Menjalaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistrem koordinasi pada regulasi manusia (saraf).
Materi sistem sarafmanusia terdiri dari konsep-konsep yang cukup sulit untuk dipahami oleh siswa. Hal ini dikarenakan konsep sistem sarafmanusia terdiri dari identifikasi struktur mikroskopis beserta fungsinya, proses fisiologis tubuh yang berkaitan dengan struktur dan fungsinya, serta hubungan antar organ dalam kaitannya dengan sistem fisiologis tubuh. Karakteristik materi yang seperti ini dapat dengan mudah dijelaskan dengan metode konvensional yaitu ceramah, tetapi akan sulit untuk mencapai ketuntasan hasil belajar siswa. Materi ini tergolong sebagai konsep yang abstrak. Sehingga, siswa membutuhkan sebuah cara penyampaian materi yang mampu mengubah materi abstrak menjadi konkrit.57
56
BSNP, Standar Isi Untuk Satuan pendidikan dasar dan menengah: Standar kompetensi dan kompetensi dasar SMA/MA (Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006), h. 172.
57MeilyNurwulanHerdiany,. “UpayaPeningkatanHasilBelajardanMotivasiSsiwaKelas XI
Melalui E-learning Pada Sub KonsepSistemSaraf di SMA”(PenelitianTindakanKelas)”
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah model pembelajaran yang mampu mengkonkritkan materi sistem sarafmanusia. Maka, jenis materi seperti ini akan mudah dipahami oleh siswa dengan menggunakan model pembelajaran online atau e-learning yang terdiri dari uraian materi secara verbal disertai dengan gambar, video, dan animasi.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Berdasarkan dari beberapa penelitian memiliki relevansi dengan penelitian penulis antara lain adalah:
1. Isni Murdiyani dengan judul penelitian “Pembelajaran Biologi Menggunakan Metode E-Learning Berbasis Multiple Intelligences Pada Materi Sistem Gerak Manusia”. Penelitian ini menyatakan bahwa pembelajaran e-learning berbasis Multiple Intelligences lebih efektif dibandingkan pembelajaran e-learning yang tidak berbasis Multiple Intelligences.58
2. Ali Hidayatdan Septi Andryana dengan judul penelitian “Studi Pengaruh Penggunaan E-Learning Terhadap Motivasi Dan Efektivitas Pembelajaran Fisika Bagi Siswa SMA (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Depok)”. Penelitian ini menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan e-learning dalam proses pembelajaran dengan hasil belajar siswa yang menggunakan cara konvensional dalam proses pembelajaran.59
3. Muhammad Ali, dkk dengan judul penelitian “Studi Pemanfaatan E-Learning
Sebagai Media Pembelajaran Guru dan Siswa SMK di Yogyakarta”. Penelitian ini menyatakan bahwa kualitas pemanfaatan e-learning yang meliputi pengetahuan umum e-learning,frekuensi akses dan pemanfaatannya sebagai media pembelajaranbagi guru dan siswa SMK di Yogyakarta sudah cukup baik tetapi masih perluditingkatkan guna mencapai hasil yang
58Isni Murdiyani, “Pembelajaran Biologi Menggunakan Metode E-Learning Berbasis
Multiple Intelligences Pada Materi Sistem Gerak Manusia”, Innovative Journal of Curriculum and Educational Technology, 2012, h. 45-52.
59Ali Hidayat dan Septi Andryana, “Studi Pengaruh Penggunaan E-Learning Terhadap Motivasi Dan Efektivitas Pembelajaran Fisika Bagi Siswa Sma (Studi Kasus di SMA Negeri 1
optimal.Sedangkan pembelajaran e-learning memberikan pengaruh yang cukup signifikan padamotivasi belajar guru dan siswa, tetapi untuk hasil belajar dan waktumenyelesaikan pelajaran pengaruhnya belum signifikan.60 4. Mh. Rozahi Istambul dengan judul penelitian “Optimizing the Implementation
of e-Learning Strategies in Higher Education”. Penelitian ini menyatakan bahwa kebutuhan pada desain konten akan lebih mengoptimalkan pembelajaran pada saat akan menerapkannya pada sistem e-learning.61
5. Dr Noeline Wright dengan judul penelitian “E-Learning, outcomes and pedagogy”. Penelitian ini menyatakan bahwa pada kelas e-learning pada abad ke-21 adalah kelas yang kaya teknologi. Guru harus memfasilitasi proses belajar menggunakan proses pedagosis yang relevan dan e-learning merupakan dapat mendukung keterlibatan yang mendalam.Kelas e-learning muncul untuk memuaskan dan bermanfaat bagi guru dan siswa. Untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan perlu adanya tindakan berupa keterlibatan, kolaborasi, kerjasama dan konsentrasi secara bersama sama antara guru dan siswa untuk menghasilkan hasil belajar yang berhasil. 62 6. Rabeb Mbarekand Dr. Ferid Zaddem dengan judul penelitian “The
Examination of Factor Affecting E-Learning Affectiveness”. Penelitian ini menyatakan sebuah e-learning sangat penting untuk meningkatkan prestasi bagi siswa. Hasilnya menunjukkan pentingnya kehadiran sosial dalam meningkatkan interaksi. Dengan demikian, melalui penelitian ini saling hubungan antara interaksi dan kehadiran sosial yang dikonfirmasi.63
60Muhammad Ali, dkk, “Studi Pemanfaatan E-Learning Sebagai Media Pembelajaran
Guru dan Siswa SMK di Yogyakarta”. Jurnal Edukasi UniversitasNegeri Yogyakarta, 2008, h. 13-23.
61 Mh. Rozahi Istambul, “Optimizing the Implementation of e-Learning Strategies in
Higher Education”, International Journal of Education, Business, Management and e-Learning, Vol. 2, No.2, April 2012, pp 165-169.
62Dr Noeline Wright ,“E-Learning, outcomes and pedagogy”, Digital Civersity Conference, 2010, pp 1-7.
63Rabeb Mbarek and Dr. Ferid Zaddem, “The Examination of Factor Affecting E-Learning Affectiveness”, International Journal of Innovation and Applied Studie, Vol. 2 No. 4, 2013, pp 423-435.
C. Kerangka Berpikir
Proses belajar-mengajar saat ini masih dominan menggunakan metode ceramah (pendekatan konvensional). Guru menilai dengan metode ceramah siswa sudah mengalami proses belajar sehingga mereka paham terhadap suatu konsep tertentu yang dipelajari. Rendahnya hasil belajar biologi tersebut tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran yang dikembangkan.
Untuk mengatasi hal tersebut, model pengajaran yang meliputi pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural adalah model pengajaran langsung (Direct Instruction). Dalam menerapkan pengajaran langsung guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang dilatihkan pada siswa selangkah demi selangkah. Keterampilan dalam pembelajaran ni yang digunakan adalah pembelajaran e-learning sebagai suplemen dalam pembelajaran siswa.
Dengan menggunakan pembelajaran e-learning melalui situs Rumah Belajar, guru dituntut untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas pembelajaran yang telah disediakan oleh pemerintah.Agar siswa dapat lebih menguasai materi pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar berupa materi pokok, bahan pembelajaran, bank soal serta dapat melakukan interaksi dengan sharing di kolom yang sudah tersedia di situs Rumah Belajar.
Dalam situs Rumah belajar ini materi pokok tidak hanya dijelaskan dengan kalimat(tertulis) tetapi melalui media visual berupa gambar dan animasi bergerak yang dapat memudahkan siswa untuk memahami kerja saraf itu sendiri.
Dari materi pokok sistem saraf manusia yang terdapat pada situs Rumah Belajar diharapkan siswa memiliki hasil belajar sistem saraf manusia yang lebih baik dibandingkan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran konvensional media power point di kelas.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh pembelajaran direct instruction dengan suplemen rumah belajar (Situs E-Learning Kemdikbud) terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem sarafmanusia.
41 A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 yaitu pada bulan September sampai dengan Oktober 2013. Tempat pelaksanaan penelitian ini di MAN 11 Jakarta yang beralamat di Jalan H. Gandun No. 60 Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan.
B. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode penelitian
Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan sebab akibat, dengan cara menggunakan kelompok eksperimen satu atau lebih perlakuan kemudian membandingkan dengan kelompok kontrol. Metode kuasi eksperimen ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.1
Dalam penelitian ini sampel dibagi dua bagian yaitu kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan dengan pembelajaran direct instruction dengan suplemen e-learning melalui situs Rumah Belajar melalui jaringan grup facebook dan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran direct instruction dengan media power point dikelas.
2. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian berupa Pretest-posttest control group design. Dalam desain ini terdapat dua kelompok, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil pretest yang baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Pretest
1
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D,
dilakukan sebelum pelajaran dimulai dan posttest dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar pada materi sistem saraf manusia.
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Kelompok Pre test Perlakuan Posttest
Eksperimen T1 X1 T2
Kontrol T1 X2 T2
Keterangan:
T1 :Tes yang diberikan sebelum perlakuan, diberikan kepada kedua kelompok (kelompok eksperimen dan kontrol).
T2 :Tes yang diberikan setelah perlakuan, diberikan kepada kedua kelompok (kelompok eksperimen dan kontrol).
X1 :Pemberian perlakuan untuk kelompok eksperimen menggunakan pembelajaran direct instruction dengan suplemen Rumah Belajar (situs e-learning Kemdikbud).
X2 :Pemberian perlakuan untuk kelompok kontrol menggunakan pembelajaran direct instruction dengan media power point dikelas.
Desain penelitian tertera pada gambar berikut:
Gambar 3.1 Desain Penelitian Literasi ICT MAN
se-Jakarta Selatan
Mendapatkan Sample MAN di Jakarta Selatan
Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Kemampuan awal (Pre Test) Kemampuan awal (Pre Test)
Pembelajaran menggunakan media power point di kelas. Pembelajaran di kelas
menggunakan metode diskusi
Suplemen pembelajaran mengunakan e-learning melalui situs Rumah Belajar, dengan langkah sebagai berikut:
1. Membuat agreement (perjanjian)kontrak belajar dengan siswa kelas eksperimen untuk mengikuti pembelajaran on-line.
2. Menggunakan bantuan jaringan sosial facebook untukmembuat komunitas
grup yang dinamakan “Rumah Belajar”dengan beranggotakan siswa-siswa kelas eksperimen.
3. Merencanakan jadwal pembelajaran e-learning.
4. Melakukan absensi kehadiran siswa yang mengikuti pembelajaran ini melalui jejaring sosial facebook.
5. Memberikan pembelajaran kepada siswa melalui media e-learning Rumah Belajar menggunakan situs http://belajar.kemdikbud.go.id
6. Memberikan Lembar Evaluasi secara online melalui weblog wordpress.
Hasil Belajar (post test) Hasil Belajar (post test)
Skor Skor
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.2 Populasi MAN se-Jakarta Selatan yang menerapkan sistem SKS diantaranya MAN 4, MAN 7, MAN 11, MAN 13, dan MAN 19. Populasi target diperoleh dengan cara observasi dan penyebaran kuisioner pemanfaatan ICT. Desain observasi dapat dilihat pada gambar 3.2. Berdasarkan desain observasi terpilih populasi target yaitu siswa MAN 11 Jakarta Selatan.3 Sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh siswa kelas XI di MAN 11 Jakarta Selatan.
Gambar 3.2 Desain Observasi
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.4 Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 yang terdiri dari 36 siswa dan XI IPA 2 yang terdiri dai 36 siswa.
2
Ibid,. h. 117.
3
Lampiran 20 Hasil Observasi dan kuisioner pemanfaatan ICT h. 218.
4
Sugiyono, op.cit,h. 118.
Melakukan Observasi dan penyebaran angket pada MAN se- Jakarta Selatan
Melakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran biologi untuk literasi ICT siswa
Analisis data angket
Menentukan sekolah untuk dijadikan tempat penelitian, yaitu memiliki literasi
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada variabel penelitian ini adalah menggunakan Tes dan Non Tes. Tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada tingkat kognitif yaitu berupa soal pretest dan postest. Sedangkan Non Tes digunakan untuk melihat keberhasilan proses pembelajaran direct instruction dengan Rumah Belajar (situs e-learning Kemdikbud) selama berlangsung, yaitu berupa lembar angket.
1. Instrumen Pengumpulan Data a. Tes Tertulis
Instrumen hasil tes ini dalam bentuk objektif atau pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban yang terdiri dari 37 soal yang diambil dari 60 soal yang tervalidasi terlihat pada Tabel 3.2. Soal dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan awal siswa akan diberi pretest sedangkan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diberi perlakukan akan diberi posttest.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian dan Distribusi Soal Valid
Konsep (SubKonsep)
Indikator Aspek Kognitif Jumlah
Soal C1 C2 C3 C4 Pengantar Sistem saraf Menjelaskan pengertian sistem saraf 2,5,6 4 4
Struktur Neuron Mendeskripsikan struktur dan fungsi neuron 8 11 2 Macam-macam neuron Menjelaskan macam-macam neuron 17 16,20 15,18 5
Impuls Syaraf Mendeskripsikan impuls saraf 22,24 21,25, 26 23 6 Macam-macam gerak 1. Menjelaskan macam gerak 31 27,28 29 34 5
Sistem saraf Mendeskripsikan struktur dan fungsi otak
37,40 2
Mendeskripsikan struktur dan fungsi sumsum tulang belakang
41 47 49,50 4
Saraf Otonom Mendeskripsikan fungsi saraf otonom
51,54 56,58, 59,60
52,53 55 9
Jumlah Soal 8 15 7 7 37
b. Kisi-kisi kuisioner literasi ICT Se- MAN Jakarta Selatan
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau penyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.5 Kisi-kisi kuisioner dapat dilihat pada Tabel 3.3. Penyebaran kuisioner dilakukan selama penulisan skripsi berlangsung. Observasi dan penyebaran kuisioner literasi ICT akan dilakukan kepada 4 sekolah MAN di Jakarta Selatan diantaranya MAN 7 Jakarta, MAN 4 Jakarta, MAN 11 Jakarta, MAN 13 Jakarta dan MAN 19 Jakarta.
5
Tabel 3.3 Kisi-kisi kuisioner pemanfaatan literasi ICT Se- MAN Jakarta Selatan6
6
Diadaptasi dari kuisioner pemanfaatan ICT oleh YantiHerlanti.
NO. INDIKATOR INSTRUMEN NO.URUT
1. Pengalaman siswa menggunakan ICT
- Penggunaan perangkat komputer - Pilihan perangkat IT yang
digunakan
1 2 2. Akses ke sumber
daya komputer
- Sumber akses penggunaan internet - Pilihan operator seluler jika
menggunakan modem
- Ketersediaan wifi/hotspot area disekolah
- Frekuensi penggunaan fasilitas wifi di sekolah 3 4 5 6 4. Penggunaan berbagai aplikasi komputer
- Frekuensi penggunaan aplikasi desain editor di komputer
12 5. Frekuensi penyelusuran internet melalui perangkat komputer
- Frekuensi penelusuran internet untuk melengkapi tugas sekolah - Frekuensi melakukan Download
video/animasi biologi dr internet - Frekuensi berpartisipasi dalam
thread forum
- Frekuensi melakukan chatting dengan teman
- Frekuensi penggunaan jejaring social “facebook”
- Frekuensi melakukan “upload” teks, animasi,gambar ke penyimpanan online 7 8 9 10 11 13 5. Penggunaan Rumah Belajar sebagai media pembelajaran
- Pengalaman menelusuri situs rumah belajar
- Frekuensi menelusuri situs rumah belajar
- Frekuensi penelusuran bagian materi pokok pada situs rumah belajar
- Pengalaman manelusuri materi sistem saraf manusia pada situs rumah belajar
- Pemahaman siswa setelah mempelajari materi pokok sistem saraf manusia dari situs rumah belajar 14 15 16 17 18
c. Lembar Angket Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Situs Rumah Belajar
Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup karena kuesioner disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya memberi tanda pada jawaban yang dipilih.7 Angket yang digunakan terdiri dari 24 butir pernyataan yang disebarkan kepada 36 orang siswa.Kisi-kisi angket dan penyebaran soal dapat dilihat pada Tabel 3.4. Angket ini disebar kepada siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan memanfaatkan situs rumah belajar. Adapun kisi-kisi instrumen penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen Penelitian NO
.
INDIKAT OR
INSTRUMEN No. Urut
Soal Bentuk Soal Posit if Negat if 1. Antusias Siswa
- Antusiasme dan ketertarikan siswa untuk mengikuti pembelajaran
- Turut serta siswa dalam pembelajaran
- Kemudahan akses siswa terhadap media 1,2,3,8 4,5,6,7,9, 10 15,16 3 6 1 1 - 1 2. Ketertarikan siswa pada tampilan situs rumah belajar
- Kemenarikan gambar dan animasi bergerak pada situs rumah belajar
- Keserasian warna pada tampilan situs rumah belajar - Keterbacaan bahasa pada
situs rumah belajar
13,14,19, 20 11,12 17,18 2 1 1 2 1 1 3. Kemanfaata n materi - Kemudahansiswamemahami materi - Kejelasanmateri yang disajikan 21,22 23,24 1 1 1 1 7
Suharsimi Arikunto,Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 28.
2. Kaliberasi Instrumen a. Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu derajat ketepatan instrumen (alat ukur), yang berarti apakah instrumen yang digunkan betul-betul tepat untuk mengukur apa yang diukur.8 Instrumen dikatakan valid jika memiliki validitas yang tinggi, yaitu bila instrumen tersebut telah dapat mengukur apa yang diukur. Sedangkan pengujian validitas instrumen (validitas butir) menggunakan program ANATES. Berdasarkan hasil perhitungan validitas instrumen dengan mengunakan program ANATES pada tes hasil belajar biologi yang diujicobakan terdiri dari 60 soal, didapat 37 soal dengan validitas baik, yaitu nomor 2, 4, 5, 6, 8, 11, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 34, 37, 40,41, 47, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 58, 59, 60. Sedangkan soal yang tergolong validitas buruk terdapat 23 soal, yaitu nomor 1, 3, 7, 9, 10, 12, 13, 14, 19, 30, 32, 33, 35, 36, 38, 39, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 57.9
b. Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas bermakna keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, atau konsistensi; dapat diartikan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya dan konsisten.10 Pengujian reliabilitas menggunakan program ANATES.
Kriteria validitas dan reliabilitas adalah sebagai berikut: a). Antara 0,81 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi b). Antara 0,61 sampai dengan 0,80 : tinggi
c). Antara 0,41 sampai dengan 0,60 : cukup d). Antara 0,21 sampai dengan 0,40 : rendah e). Antara 0,00 sampai dengan 0,20 : sangat rendah
8
Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 245.
9
Lampiran 3 Hasil Anates Uji Validitas h. 117.
10
Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, dan Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 105.
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan program ANATES, didapat nilai reliabilitas sebesar 0,9311 sehingga terdapat 37 butir soal dari 60 butir soal yang diujicobakan yang dapat dinyatakan memiliki reliabilitas tinggi dan selanjutnya dapat dipergunakan dalam penelitian.
c. Tingkat Kesukaran