• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECAMATAN SERPONG

B. Kampanye dan Kemenangan Pemilu

Kepopuleran pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah dilator belakangi oleh berbagai keinginan mewujudkan sebuah sistem Pemilihan Kepala Daerah yang lebih demokratis dan sensitif terhadap aspirasi rakyat di tingkat daerah. Alasan mendasar pertama diimplementasikannya sistem Pilkada adalah keinginan melakukan penguatan demokratisasi (deepening democracy) hingga ke tingkat lokal salah satunya melalui pelaksanaan pemilihan kepala daerah adalah Wacana untuk melakukan penguatan demokratisasi tersebut menjadi wacana

main stream di era desentralisasi pemerintahan. Demokrasi lokal menjadi terminologi yang populer sebab bentuk ini dianggap menjadi jalan keluar yang paling tepat untuk mengatasi persoalan-persoalan padatingkat daerah yang bersifat spesifik dan unik yang dipandang kurang tepatjika diselesaikan dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat. 40 Daerah dipandang menjadi entitas yang memiliki kapasitas serta pengetahuan yang paling lengkap dalam memahami dan mengatasi persoalanatau kebutuhan yang muncul ditingkat lokal. Sehingga usaha-usaha untuk „mendekatkan‟ pemerintah sedekat mungkin

dengan rakyatnya menjadi sebuah keharusan di era desentralisasi. Seperti salah

20

satu argument yang mengilustrasikan pentingnya demokrasi lokal dalam mewujudkan pemerintahan yang efektif.

Dengan kata lain, inti dari pelaksanaan demokrasi lokal adalah konsep pemerintahan yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan dan karakter khusus di tingkat lokal, serta menyelenggarakan administrasi dan pelayanan pemerintahan sedekat mungkin dengan masyarakat di tingkat daerah. Harapannya, fungsi-fungsi pemerintahan dapat diselenggarakan dengan lebih efektif dan efisien sebab jalur pemerintahan maupun birokrasi yang semula sangat panjang karena harus dilakukan berdasarkan kebijakan pemerintah pusat dapat disederhanakan dan dilaksanakan langsung oleh daerah. Prinsip lain yang penting dalam penguatan demokrasi di tingkat lokal adalah penduduk di daerah memiliki kesempatan, hak, dan tanggung jawab yang lebih besar untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan public yang berkaitan dengan isu-isu yang mempengaruhi kehidupan mereka secara langsung.

Pemilihan kepala daerah adalah Pemilu lokal yang diselenggarakanpada tingkat propinsi dan kabupaten/kota untuk memilih pejabat-pejabat eksekutif di wilayah yang bersangkutan berdasarkan ketentuan yang diamanatkan dalam pasal 18 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah oleh sebab itu penegasan dan pemantapan kembali mengenai fungsi Pemilu dalam sebuah pemerintahan yang demokratis. Tak perlu diragukan lagi, Pemilu

merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Ada banyak tulisan yang mengelaborasi mengenai hal ini.21

Namun yang patut dicermati adalah tidak semua Pemilu bisa menjadi pilar demokrasi.Untuk dapatmenjadi sebuah pilar demokrasi Pemilu-dalam kerangka tulisan ini adalah Pemilu kepaladaerah-harus memenuhi beberapa persyaratan. Agar pemilihan dapat disebut sebagai Pemilu yang demoktratis, sesuai dengan prinsip-prinsip Pemilu demokratis, Pemilu-Kada harus mampu menjadi sebuah saluran sirkulasi kekuasaan secara damai yang kompetitif. Beberapa kata kunci dalam kalimat ini adalah sirkulasi kekuasaan, damai, dan

kompetitif. Sirkulasi kekuasaan mengindikasikan terbukanya kesempatan untuk melakukan pergantian pejabat secara periodik, memberhentikan pejabat-pejabat yang dianggap tidak kapabel dan menggantikannya dengan kandidat-kandidat yang dipandang lebih mampu menggunakan priodesasi tertentu yang berjalan secara regular. Pemilu-Kada damai menunjukan terciptanya sebuah mekanisme yang memiliki aturan main tertentu yang ditaati oleh pihak-pihak yang terlibat sehingga menjadi saluran perebutan kekuasaan maupun penyelesaian konflik yang kekerasan dan dijalankan dengan cara-cara damai yang sistemik. Kompetitif mensyaratkan pelaksanaan Pemilu baik kandidat maupun rakyat pemilih mendapatkan kesempatan dan hak yang sama untuk terlibat dan berparisipasi dalam perebutan kekuasaan.

21

Prinsip ini menegaskan hak-hak istimewa yang dapat memarjinalkan kesempatan pihak lain mengikuti kompetisi perebutan jabatan secara fair, tidak dibenarkan. Sistem kompetitif mensyaratkan setiap orang memiliki kedudukan dan hak yang sama di depan hukum. Secara konsepsual, prinsip-prinsip ini diimplementasikan dalam seluruh proses Pemilu (Electoral Proccess) Pilkada sehingga didapatkan proses Pemilu yang berkualitas dan efisien yang menjadi batu pijakan terwujudnya pemerintahan yang efektif.

Melalui skema di atas terlihat bahwa desain awal sistem Pikada adalah melibatkan rakyat daerah dalam proses pemilihan kepala daerah melalui sebuah proses elektoral yang fair dan terbuka. Pelibatan rakyat daerah secara langsung ini sejalan dengan konsep pentingnya pelibatan masyarakat dalam usaha penguatan demokrasi di tingkat lokal serta untuk mewujudkan prinsip utama pelaksanaan demokrasi lokal, yaitu rakyat di daerahlah yang paling memahami jenis pemimpin seperti apa yang paling sesuai dengan karakter dan kebutuhan di daerahnya. Partisipasi masyarakat di daerah dapat diwujudkan dalam sebuah desain saluran sirkulasi kekuasaan yang sejalan dengan nilai-nilai demokrasi, yaitu sebuah desain proses elektoral yang berkualitas dan efisien. Secara teoritik, proses elektoral dapat diartikan sebagai keseluruhan tahapan yang harus dilewati atau dilaksanakan dalam sebuah pemilihan meliputi pencalonan, penyelenggaraan, dan pengawasan. Setiap unsurdalam proses elektoral tersebut memiliki fungsi krusial yang akan menentukan keberhasilannya secara keseluruhan sebagai sebuah proses elektoral yang berkualitas.

Sehingga secara garis besar skema di atas dapat dibaca sebagai berikut. Dengan didasari tujuan utama untuk mewujudkan penguatan demokrasi di tingkat lokal, dilaksanakanlah sebuah proses Pemilihan Kepala Daerah dalam bentuk Pilkada langsungyang melibatkan rakyat daerah sebagai pihak yang paling memahami karakter dan kebutuhan di daerahnya melalui sebuah elektoral proses yang demokratik dan efisien.

Keterlibatan rakyat daerah dalam Pemilihan Kepala Daerah, secara ideal akan memunculkan kepala daerah berkualitas hasil pilihan rakyatnya sendiri yang legitimate dan akuntabel yang akan menjadi batu pijakan awal bagi terciptanya effective government.22 Setelah memahami kerangka berpikir makro mengenai pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah, persoalaan Pembahasan berikutnya menganai apakah konsep proses electoral yang berkualitas yang dimaksudkan dalam kerangka berpikir makro di atas. Proses elektoral secara sederhana dibayangkan terdiri dari tiga unsur utama, yaitu pencalonan, penyelenggaraan, dan pengawasan. Pencalonan meliputi mekanisme yang digunakan untuk mendapatkan kandidat-kandidat yang akan bertarung dalam bursa pemilihan. Penyelenggaraan meliputi penentuan sistem pemilihan, pendaftaran pemilih, pelaksanaan pemilihan, penghitungan suara hingga aturan main yang digunakan untuk menentukan siapakah kandidat yang akhirnya menang dalam pemilihan tersebut. Sedangkan pengawasan merupakan

22

Nimatul Huda, Lembaga Negara dalam masa Transisi Demokrasi (Yogyakarta: UII Press, 2007) hal. 33.

mekanisme yang digunakan untuk memastikan bahwa proses Pemilu berjalan sesuai dengan aturan main dan peraturan yang telah disepakati sebelumnya, serta melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelanggaran-pelanggaran yang muncul selama proses pemilihan ini. Dalam Pemilu-Kada secara konsepsual keseluruhan proses Pemilu ini dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip demokratis sehingga secara keseluruhan menciptakan sebuah proses Pemilu yang berkualitas. Dalam sebuah proses elektoral yang berkualitas dan efisien, ketiga unsur tersebut harus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip dasar demokrasi. Untuk menjadi sebuah sistem pencalonan yang demokratis, maka setiap kandidat yang ingin maju kebursa pencalonan harus memiliki kesempatan dan hak yang sama, dengan kata lain harus ada prinsip partisipasi, keterbukaan, dan kompetisi di dalam tahap pencalonan.

Hal ini penting agar rakyat pemilih sebagai pihak yang paling berkepentingan dengan Pemilu-Kada mendapatkan calon-calon kepala daerah yang benar-benar berkualitas. Tahap penyelenggaraan juga merupakan fase yang tidak kalah pentingnya. Beberapa unsur yang krusial dalam bagian ini antara lain adalah kesiapan administrative dalam mendukung pelaksanaan Pemilu hingga ke pemilihan aturan main, termasuk pilihan sistem Pemilu yang digunakan. Untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi dalam tahapan penyelenggaraan ini, selain menyerahkan pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu pada lembaga independen yaitu Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), system Pemilu proporsional

daftar terbuka yang digunakan juga merupakan salah satu usaha untuk menciptakan sebuah proses Pemilu yang lebih berkualitas dan efisien.

Selain usaha-usaha tersebut, masih terdapat proses pengawasan yang dilakukan oleh sebuah badan pengawas Pemilu yang dimaksudkan untuk mengimplementasikan nilai akuntabilitas dan transparansi dalam proses pemilihan kepala daerah. Gabungan ketiga unsur ini diharapkan dapat menciptakan sebuah proses pemilihan yang berkalitas dan efisien seperti yang diharapkan pada kerangkan berpikir makro pelaksanaan Pilkda Langsung. Dengan argumen-argumen tersebutlah, Pilkada Langsung secara konsepsual diharapkan mampu menjadi wahana bagi ekspresi kedaulatan rakyat karena dirancang berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi.

Pemilihan kepala daerah mengalami perubahan evolusioner di sepanjang zaman. Pada awalnya penguasa lokal ditentukan dengan sistem dinasti (keluarga) secara turun-temurun. Sistem ini secara formal sudah lama ditinggalkan, tetapi di banyak daerah sisa-sisa keturunan “darah biru” masih sangat mewarnai

pemilihan kepala daerah.23 Orang-orang kuat masih bisa memaksakan jagonya berhasil menduduki penguasa lokal. Keturunan, kelas atau kasta sampai sekarang masih menjadi preferensi yang kuat untuk melihat social origin aktor-aktor politik dan sekaligus menentukan sosok kepala daerah.

Di Tempat Pemungutan Suara 9 Kelurahan Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, tempat pencoblos. Berdasarkan hasil rekapitulasi di tingkat TPS yang

23http://jptangsel.com/?p=323

dilakukan Sabtu (13/11), dari 373 kertas suara yang dicoblos, 333 suara mencoblos pasangan itu. Proses perhitungan suara di TPS ini berjalan lancar dan aman disaksikan oleh puluhan warga yang ada disekitar lokasi. Dalam ajang pemilihan kepala daerah Kota Tangerang Selatan Arsyid berpasangan dengan artis Andre Taulany dengan nomor urut 3.

Sementara di urutan kedua, ditempati oleh pasangan nomor urut 4, Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie dengan perolehan 33 suara. Kandidat pasangan lainnya yaitu Yayat Sudrajat-Norodom Sukarno (nomor urut 1) mendapat 4 suara dan Rodiyah Najibah-Sulaiman Yasin (nomor urut 2) memperoleh dua suara. Suara yang tidak sah 5. Tingkat partisipasi pemilih di TPS ini mencapai 73 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 03 Kelurahan Lengkong Wetan, Pemilih yang berjumlah 491. Hingga TPS ditutup pukul 13.00 WIB, pemilih yang telah menggunakan hak pilihnya mencapai 373 suara.

Menurut Ketua TPS 9, Kelurahan Pakulonan, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangsel, Endang Ahmad, jumlah DPT di TPS itu sebanyak 360 orang. Sedangkan yang menggunakan hak pilihnya hanya sebanyak 201 orang. Hasil akhir penghitungan suara di TPS itu menyebutkan pasangan nomor urut 4, Airin Rachmi Diany-Benjamin Davnie keluar sebagai pemenang. Airin memperoleh suara sebanyak 101 suara.

Sebagamana telah dimaklumi, hasil pemilihan suara Pilkada Tangsel 13 November 2010 batal. Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang Selatan Nomor

43/Kpts/KPU-Tangerang Selatan/XI/2010 tentang Penetapan dan Pengesahan Hasil Perolehan Suara Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Tangerang Selatan dalam Pemilukada Tangsel tahun 2010 dalam sidang yang diketuai Mahfud MD, Jumat 10 Desember 2010. MK menerima gugatan pasangan calon Yayat-Norodom dan Arsid-Andre. Dengan batalnya rekapitulasi suara yang dilakukan KPUD Tangsel, penetapan walikota dan wakil walikota terpilih pun, Airin-Benyamin, dianulir.

Sesuai aturan, tidak boleh ada lagi kegiatan kampanye. Hal menarik terjadi menjelang hari pemungutan suara ulang pada 27 Februari 2011 dengan munculnya kampanye negatif (black campaign) yang tidak jelas berasal dari

mana. Antara lain kertas suara „dadakan‟ yang ditempel di sejumlah pom

bensin. Paling keras adalah buku tipis setebal 16 halaman berjudul “Sebuah

Catatan Tangan-Tangan Kekuasaan Keluarga Atut”. Buku tersebut isinya sangat emosional dan profokatif.

Apakah kampanye itu mampu menggembosi suara Airin-Benyamin? Sampai naskah ini ditulis, pasangan ini terbukti unggul dan mengantungi suara 54.11%, meninggalkan pesaing utamanya Arsyid-Andre dengan suara 44,22%. Dibandingkan perolehan putaran pertama sebesar 46,43 %, Airin mengalami kenaikan tajam. Sementara suara Arsyid-Andre, salah satu pasangan yang menggugat hasil putaran pertama, malah merosot dari semula 46,15%.24

24http://www.tangselraya.com/component/content/article/47-home/1043

hasil hitungan suara tangsel html= di unduh pada 1maret 2011 pada pukul 16.45

Masyarakat melihat kampanye negatif itu, justru menaikkan simpati pada pasangan Airin-Benyamin. Serangan-serangan semacam itu menempatkan pasangan ini sebagai yang terdzalimi. Dan dalam etika komunikasi cara seperti itu tidaklah dibenarkan. Fenomena ini betapapun telah mewarnai Pilkada Tangsel yang pertama kali, sekaligus menjadi pelajaran berharga di kemudian hari.

Tidak dipungkiri bahwa Pilkada adalah suatu peristiwa politik, namun proses dan hasil Pilkada dapat pula dicapai melalui analisis mekanisme pasar dan pendekatan makro-mikro ekonomi. Mensukseskan Pilkada (KPUD) dan memenangkan Pilkada (kandidat Gubernur/Bupati/Walikota) membutuhkan analisis untung rugi dan kalkulasi ekonomi yang akurat yakni bagaimana mengurangi resiko-biaya sosio-ekonomi dan sosio-politik.

Efisiensi penting dalam berbagai bidang baik dalam pelaksanaan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) maupun cara memenangkan Pilkada (kandidat/ koalisi/non koalisi partai pendukung).25 Tim sukses kandidat Pilkada seharusnya berpikir strategik-efisien bagaimana mengurangi resiko dan meningkatkan keuntungan/manfaat (to minimize risks and to maximizize profits). Hal ini diperlukan agar Pilkada dapat dilaksanakan secara efisien bukan sekedar efektif dengan mengurangi beban (economic burdens) dibandingkan dengan manfaat politik (political benefits). Dua kerugian dan kemubaziran yang timbul pertama pelaksanaan Pilkada tidak dijalankan dengan efisien dan yang kedua biaya ekonomi dan ongkos politik dari kandidat Walikota Tangerang Selatan, seperti

25

anggaran yang dimiliki KPU Tangsel untuk pemungutan suara ulang Pilkada 27 Februari 2011, anggaran KPU Tangsel Rp 13 Miliar Rupiah. Jumlah pembengkakan biaya dan dana cetak yang berdampak pada anggaran pengadaan logistik.26

26

95

A. Kesimpulan

Pemilu maupun Pilkada sebagaimana dipahami dalam ranah Politik, jauh lebih luas dari itu. Suatu aktifitas yang melalui rentetan pemikiran konsep, strategi, program sampai implementasinya dalam rangka pengenalan identitas dan pencitraan kandidat guna membangun kesadaran publik mengenai perlunya memilih sang calon. Maka dari itu penulis menyimpulkan tentang pilkada kaitannya dengan kampanye negatif adalah :

1. Pilkada Tangsel sebagai suatu proses transaksi political trading dalam jangka panjang dapat dikategorikan sebagai political investment. Sehingga tidak terjadi kolaborasi kohesif-negatif antara pemilih dengan kandidat setelah kemenangan dicapai yang akan syarat dengan politik balas budi (rewarding politics) dan berpotensi KKN, dibutuhkan adanya accountable politics, yakni etika politik yang diinstitusionalisasikan dengan kekuatan hukum positif bersanksi (law enforcement). Jika tidak terbangun moral politik yang baik dan benar, sukses pilkada hanya dalam pelaksanaan pilkada (3 bulan) akan tetapi tidak menghasilkan pemimpin yang sukses membangung pasca pilkada (5 tahun). Jadi pilkada bukan ditujukan hanya mendukung kondusifnya iklim politik jangka pendek dengan melihat Pilkada berjalan dengan aman.

2. Pasca pilkada yang perlu dibangun adalah “memagari” wali kota Tangsel

terpilih dengan pagar hukum sehingga arah pembangunan sesuai dengan koridor hukum positif dan tujuan moral sosial. Kandidat terpilih diharapkan mampu membangun hubungan dengan konstituen dalam jangka panjang dengan jaringan berskala translokal. Sangat memungkinkan apabila sukses (memimpin dengan baik, dan mengelola administrasi dengan benar), akan mempermudah membangun political marketing.

B. Saran-saran

Paska Pilkada yang perlu dibangun adalah ”memagari” Walikota terpilih

dengan pagar hukum sehingga arah pembangunan sesuai dengan koridor hukum positif dan tujuan moral sosial. Kandidat terpilih diharapkan mampu membangun hubungan dengan konstituan dalam jangka panjang dengan jaringan berskala trans-lokal. Sangat memungkinkan apabila sukses menjadi Walikota atas dukungan masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk mengabdi di tugas-tugas lebih besar. Seorang Walikota/Bupati yang sukses (memimpin dengan baik, dan mengelola administrasi dengan benar) maka akan mempermudah membangun

political marketing untuk masuk ke bursa balon Gubernur bahkan menjadi Menteri.

Ada kesan kuat bahwa demokrasi hanya terfokus pada pemilihan kepala daerah, sebuah perayaanakbar yang sarat dengan pesta, kompetisi, sensasi, mobilisasi, money politics, intrik, caci maki,perdukunan, dan seterusnya.

Sekarang, perhatian publik habis terkuras untuk pemilihan umum kepala daerah, mulai dari kampanye, sampai dengan teka-teki walikota yang bakal dipilih lan. Ujung perhatian itu adalah siapa yang bakal tampil menjadi walikota. Dengan berbagai cara (polling, forum diskusi, analisis, spekulasi, dan lain-lain) publik menaruh perhatian secara serius terhadap calon-calon walikota yang tengah sibuk memoles wajahnya.

Kampanye Negatif adalah usaha memenangkan (pemilu) dengan mengedepankan aspek negatif dari lawan, bukan mengedepankan sisi positif dari dirinya sendiri. Dilihat secara lebih luas, ini bisa menyangkut kalimat kalimat retoris secara kontras, tapi juga termasuk usaha penghancuran karakter. Yang terpenting pada kampanye negatif adalah data dan fakta yang harus disampaikan haruslah akurat, bukan data-data fiktif. Black campaign adalah pernyataan yang tidak disertai bukti apapun untuk menjelaskan fakta yang dikemukakan, kalaupun ada, palsu dan direkayasa. Dalam karya ilmiah ini penulis menyampaikan kepada peneliti selanjutnya agar lebih baik lagi dalam mengkaji kajian kampanye negatif selanjutnya.

98

Abdillah, Masykuri, Demokrasi di Persimpangan Makna : Respon Intelektual Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi (1966-1993), Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya, 1999, Cet. I.

Adam Goodman, “Going Negative! Producing TV: A Survival Guide”, Campaigns

and Elections, Juli 1995.

Adnan Topan Husodo, Politisasi Korupsi dan Pemilihan Kepala Daerah, 2005. Almond, Gaabriel & G. Bingham Powell, Jr. Comparative politics: A Developmental

Approach, Boston: Little, Brown & Co., 1966

Amir, Fahrurrozi, Political Marketing Strategi Yogyakarta: FUSPAD, 2008 Arbi Sanit, Sistim Politik Indonesia Penghampiran dan Lingkungan, Jakarta 1980 Asshiddiqie, Jimly, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta: Konstitusi

Press, 2004. Adnan Topan Husodo, “Politisasi Korupsi dan Pemilihan Kepala Daerah”, Koran Tempo, 23 Februari 2005

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, Edisi revisi: Cet.1.

Budiarjo, Miriam, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta, PT GRAMEDIA,1985

Burhanudin, Transisi menuju Demokrasi atau Otoritarianisme Baru, Jakarta Serambi 2006.

Consuello G. Sevilla et. al. Pengantar Metodologi Penelitian Jakarta : UI Press, 1993).Lihat juga, Sri Sumantri (Ed.), Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES, 1990

Cooper, Terry, Negative Image, Campaigns and Elections, 1991.

Djafar Assegaf, Jurnalistik Masa Kini , Jakarta : Lembaga Studi pembangunan 1985 Fatah, Eef Saaefullah , Masalah dan Prospek Demokrasi Indonesia, Jakarta, Ghalia

Ferguson, Cleveland, The Politics of Etics and Election: Can negative Campaign Advertising Be Regulated in Florida?

Garromone, Gina M., “Voter Response to Negative Political Ads”, Journalism Quarterly, 1984

Huey, Bill, Where’s The Beef, Campaign and Elections, Juni, 1995.

Indrayana, Denny, Amandemen UUD 1945; Antara Mitos Dan Pembongkaran,

penerjemah: E. Setiyawati A Cet. 2, Jakarta: Mizan, 2007

MD, Mahfudz, Moh, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, 2000, Cet. 2.

Merritt, Sharyne, “Negative Political Advertising: Some Empirical Findings”, Journal

of Advertising.

Muhtadi, Saeful, Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktik, Jakarta: Logos 1999 Mujani, Syaiful, Muslim Demokrat; Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi

PolitikIndonesia Pasca Orde Baru Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007 Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004),

cet. Ke-9

Nimo, Dann, Model-model Kampanye, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000

Nusantara, Abdul Hakim Garuda, Politik Hukum Indonesia, Jakarta: YLBHI, 1988. Paul R. Baines, “Voter Segmentation and Candidate Positioning”,dalam Bruce I

Newman (eds), Handbook of Political Markerting,London, Sage Publications, 1999.

Sasono, Adi, et. Al, Demitologisasi Politik Indonesia Mengusung Elitisise Dalam Orde Baru, Jakarta: CIDES, 1998

Schweiger, Gunter dan Michaela Adami, “The Nonverbal Image of Politicians and Political Parties”, dalam Bruce I Newman (eds), Handbook of Political Markerting, London, Sage Publications.

Soekamto, Soerjono dan Sri Mujdi, “Penelitian Hukum Normatif ; Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : PT Raja Grafindo 2006

Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005).

Tanuwidjaja, Sunny, Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS; Kandidat Doktor Ilmu Politik di Northern Illinois University Sumber: Harian Suara Pembaruan, 8 Juli 2009 Camat Serpong, Memori Serah Terima Jabatan Camat Serpong Tahun 2008

Ubaidillah (et.al), Pendidikan Kewarganegaraan : Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani, Jakarta, IAIN Press, 2000, Cet. 1.

Kajian Bulanan Lingkaran Survei Indonesia, Kampanye Negatif Dalam Pilkada, Edisi 11 Maret 2008

Undang-undang

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Citra Umbara, Bandung

Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang Selatan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang Selatan Nomor 4 tahun 2011

Sumber Internet http://www.tangselraya.com/component/content/article/47-home/1043-isu-dinasti-banten-dinilai-tak-relevan.html http://www.tangerangnews.com http://jptangsel.com/?p=323=news&id=5183 http://www.tangselraya.com/component/content/article/47-home/1043

http://www.law.fsu.edu/journals/lawreview/ frames/ 242/fergfram.html http://www.marimenatatangsel.com/berita/tangerang-selatan.html?start=15

Dokumen terkait