BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.7 Ngelem Sebagai Perilaku Menyimpang
4.7.1 Kandungan Lem Mempengaruhi Emosional Anak Jalanan
Dalam lem terkandung zat Lysergic Acid Diethyilamide atau LSD. Zat tersebut sejenis zat hirup yang sangat mudah ditemui pada produk lem perekat. Pengaruh aroma lem tersebut sangat berbahaya karena ketika mengisap aromanya, zat kimia tersebut memengaruhi sistem saraf pemakainya. Zat yang dihirup dari lem menjadikan penggunanya merasakan kebahagiaan tersendiri hingga aktivitas pemakainya akhirnya berkurang karena halusinasi yang dialami. LSD sensitif terhadap udara, sinar matahari, dan klorine, terutama dalam bentuk cairan tanpa warna. Zat ini akan bertahan selama satu tahun jika dijauhkan dari cahaya dan dijaga suhunya tetap berada di bawah temperatur rendah. Penggunaan zat ini dalam jangka panjang dapat mengakibatkan sorot balik dan halusinasi yang dapat terjadi berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan. Efeknya hampir sama dengan penggunaan jenis narkoba, seperti hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, rasa pening, dan perasaan tak terkalahkan atau merasa diri paling hebat dari yang lain. (http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/382824/, diakses 19 Juni 2011, pukul 05.40 WIB).
Aroma lem yang dihirup lewat saluran pernapasan berpengaruh pada bagian pernapasan sebelum akhirnya sampai ke otak dan menyebabkan halusinasi. Didalamnya terdapat zat adiktif berbahaya yang terkandung dalam lem tersebut. Ngelem termasuk aktifitas napza, yaitu zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Cepat atau lambat zat tersebut akan berakibat buruk bagi organ dalam tubuh si pemakai. (Susi Adisti, 2007:34). Zat- zat kimia itu dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil wawancara dengan anak jalanan seperti berikut.
“Kalau ngelem, yang dirasakan ilusi, sengok. Kadang mau makan. Kadang gak mau makan. Aku ngelem biasanya 2 kaleng dalam satu hari.” (Agus Maulana,16)
Hal yang sama juga di sampaikan oleh anak jalanan lainnya, sepeerti berikut ini.
“Kalau ngelem, aku mabuk. Pohon kukira orang. Kalau jalan aku lepo-lepo. Oyong-oyong. Bisa aku tahan lapar. Kalau ga ngelem gak enak rasanya. Kalau ngelem, habis, beli lagi. Habis, beli lagi. Satu hari bisa lima kaleng. Bagi-bagi. Kalau gak di kasi. Di rampok lemnya. (Lamhot, 16)”
Pemakaian lem secara terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan fisik maupun psikologis. Selain itu, resiko yang pasti terjadi adalah kerusakan pada sistem saraf dan organ-organ penting lainnya, seperti jantung, paru-paru, dan hati. Kebiasaan ngelem juga dapat menyebabkan kematian mendadak. Kematian mendadak disebabkan spasme atau keram di otot
pernafasan. Uapnya bersifat iritan. Mengiriitasi mukosa saluran nafas hingga melukai saluran pernapasan sehingga terjadi keram di otot pernafasan. (http://itsmeriskaicha.blogspot.com/2011/04/budaya-menghirup-uap-aibon- dikalangan.htm, diakses 28 April 2011).
4.7.2 Prilaku Ngelem Anak Jalanan Berdampak Negatif Bagi Kehidupan Sosial
Halusinasi yang ditimbulkan dari perilaku ngelem anak-anak jalanan telah mengganggu susunan saraf pusat mereka sehingga mereka seringkali bertindak radikal terhadap orang lain. Hal ini mengakibatkan perilaku meyimpang tersebut menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Akibat efek ketergantungan terhadap lem (ketagihan lem), mereka dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat, seperti berkelahi dengan anak-anak jalanan yang merupakan teman-teman mereka dan bersikap kasar kepada masyarakat yang mereka anggap menggangu keinginan mereka untuk ngelem.
“Masyarakat di sekitar sini meremeh kali dia. “Akh ngamen-ngamen gitu aja nya cuman gada majunya”, padahal orangtu gada majunya juga, orang tu sibuk kali dia, kami juga sibuk jugalah. Bukan klen yang lahir kami. Kami apa diapai itu dilarang. Karna orang tu jahat kami jahat jugalah. Kami begadang ngelem yakan cari angin. Datang orang-orang ini, cabut klen cabut-cabut katanya. Tukang becak pun kami pukuli karena diganggunya kami.” (Hendra, 17)
Kebiasaan ngelem bukan hanya menimbulkan bahaya kesehatan diri anak tetapi juga masa depan anak jalanan. Mereka akan bertumbuh menjadi bagian dalam masyarakat yang memiliki sumber daya manusia yang rendah, sehingga menimbulkan kemiskinan di berbagai bidang, termasuk di dalamnya kemiskinan moral yang mengakibatkan tingginya tingkat kriminalitas dalam kehidupan sosial masyarakat. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kesejahteraan sosial secara keseluruhan. Berikut hasil wawancara dengan anak jalanan tentang perilaku masyarakat terhadap mereka.
“Kalau orang-orang kota ini kalau nengok kami ngelem langsung dipukulinya. Kami pernah dipukulinya gara-gara ngelem.” (Faisal, 12)
Perilaku masyarakat yang bersifat tidak menyenangkan, seperti memarahi, memukul hingga mencaci anak-anak jalanan dapat menimbulkan masalah sosial. Demikian pula sikap keras masyarakat terhadap perilaku ngelem anak jalanan tidak dapat menghentikan keinginan anak jalanan untuk menghirup lem. Justru sebaliknya, menimbulkan kebencian terhadap masyarakat karena anak jalanan menganggap masyarakat hanya memandang sebelah mata dan tidak peduli terhadap kebutuhan anak jalanan.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu: 1. Anak jalanan pada dasarnya adalah anak-anak marginal di perkotaan yang
mengalami proses dehumanisasi. Mereka bukan saja harus mampu bertahan hidup dalam suasana kehidupan kota yang tidak bersahabat dan tidak kondusif bagi proses tumbuh kembang anak, tetapi lebih dari itu, mereka juga cenderung dikucilkan masyarakat dan menjadi sasaran eksploitasi serta dicap sebagai penggangu ketertiban umum. Hal ini disebabkan karena anak-anak jalanan sangat identik dengan kehidupan yang dianggap keras secara sosial dan sering dianggap suka melakukan kejahatan karena kurang mendapatkan perhatian dari keluarga sebagai orang terdekatnya.
2. Pengaruh masalah keluarga memberikan kontribusi yang sangat besar yang mengakibatkan anak tinggal di jalanan dan mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku menyimpang seperti ngelem akibat lingkungan di sekitarnya. Permasalahan keluarga seperti broken home hingga permasalahan ekonomi yang mengakibatkan keluarga harus lebih banyak berada di luar rumah mengakibatkan anak kurang mendapat pendidikan dengan baik sehingga tidak sedikit dari anak harus putus sekolah karena kenakalan dari diri anak itu sendiri maupun karena faktor ekonomi keluarga.
3. Perilaku ngelem merupakan salah satu tindakan yang dijadikan anak jalanan sebagai pelarian untuk dapat menikmati hidup. Dengan cara melakukan hal tersebut, mereka dapat menikmati halusinasi yang membuat mereka dapat merasakan tidak adanya persoalan hidup meskipun hanya sesaat. Mereka biasanya melakukan prilaku ngelem secara bersama-sama dengan teman sebaya mereka, sesama anak jalanan. Hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri di kalangan anak jalanan karena mereka tidak merasa sendiri.
4. Tindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang merazia dan menangkapi anak-anak jalanan, khususnya menangkap anak-anak jalanan yang melakukan tindakan ngelem di jalanan tidak memberikan kontribusi yang baik terhadap permasalahan anak jalanan. Dikejar-kejar, ditangkap, dibawa ke truk secara paksa, kemudian diinterogasi juga tidak memberikan penyelesaian untuk mereka tidak lagi melakukan perilaku ngelem. Hal-hal semacam cenderung berpengaruh buruk bagi perkembangan mental anak jalanan sehingga timbulnya rasa benci kepada pemerintah.
5.2 Saran
Saran yang yang dapat disumbangkan dari penelitian ini yaitu:
1. Orangtua dan keluarga merupakan agen pertama yang menjadi pengaruh sangat besar dalam kehidupan seorang anak. Ketidakharmonisan dalam keluarga, baik antara ayah dan ibu, maupun antara orang tua dan anak dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan orang-orang yang menjadi anggota keluarga tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya
penyimpangan nilai dan fungsi keluarga, maka orang tua dan keluarga hendaknya melakukan tugasnya secara benar baik dalam hal asuh atau perhatian hingga dalam hal pemberian kasih sayang kepada anak. Proses sosialisasi yang berjalan dengan baik dalam sebuah keluarga akan menghidari terjadinya perilaku menyimpang, bukan hanya pada anak namun juga anggota keluarga terkait lainnya.
2. Anak hendaknya mendapat pendidikan baik di bidang agama, sosial maupun bidang lainnya. Demikian pula dengan lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar, haruslah juga sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing- masing. Setiap pihak yang terkait hendaknya tidak mencari keuntungan sendiri dalam menyelesaikan masalah, melainkan saling memperkuat relasi sosial di antara keluarga maupun lingkungan sekitar.
3. Dalam menangani permasalahan anak jalanan, termasuk perilaku menyimpang seperti ngelem, bukanlah hal yang mudah. Selama ini, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, baik oleh LSM, pemerintah, organisasi profesi dan sosial maupun orang per orang telah dilakukan untuk merubah kehidupan anak jalanan untuk menjadi lebih baik. Namun, karena semuanya dilakukan secara temporer, segmenter dan terpisah-pisah, maka hasilnya pun menjadi tidak maksimal. Sesuai pasal 20 Undang-undang perlindungan anak menyatakan bahwa negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Berangkat dari isi Undang-undang tersebut, maka semua pihak harus
memainkan peran dalam rangka perlindungan anak, khususnya mencegah mereka dari tindakan dan prilaku buruk yang bisa merusak masa depannya. 4. Dalam penanganan dan upaya perlindungan serta pemberdayaan anak-anak
jalanan secara serius, dibutuhkan kesediaan semua pihak untuk duduk bersama, berdiskusi untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi kehidupan anak-anak jalanan, dan kemudian merumuskan program intervensi yang tepat sasaran sekaligus melakukan pembagian kerja yang lebih terkoordinir.
5. Selama ini, upaya yang telah dilakukan untuk menangani anak-anak jalanan biasanya adalah dengan berusaha mengeluarkan mereka dari jalanan, memasukkannya ke berbagai rumah singgah, tempat-tempat pelatihan, maupun dengan cara menangkap mereka dan memenjarakan mereka. Namun, banyak bukti menunjukkan, model penanganan seperti ini, belum mampu menyelesaikan permasalahan anak-anak jalanan secara tuntas apalagi khususnya perilaku ngelem yang mereka dapat lakukan dimana saja. Untuk menangani permasalahan anak jalanan hingga ke akar-akarnya, yang dibutuhkan bukan program bantuan atau paket-paket program yang dijatuhkan dari pusat. Sikap memberikan santunan dan bantuan dengan cara memperlakukan anak-anak jalanan sebagai objek amal yang sifatna temporer, hanya akan melahirkan ketergantungan dari anak jalanan terhadap belas kasihan para penderma. Hal tersebut juga akan mengakibatkan hilangnya keberdayaan anak-anak jalanan. Sedangkan, pemberian paket-paket bantuan yang sifatnya top-down dalam bentuk program yang sifatnya masal dan tidak
kontekstual, tidak mustahil memancing timbulnya berbagai bias dan rawan penyimpangan.
6. Memberikan perlindungan sosial melalui advokasi, mencegah anak jalanan agar tidak menjadi korban eksploitasi dan ancaman kekerasan, melakukan upaya pemberdayaan yang digabungkan dengan usaha-usaha perbaikan peraturan atau hukum yang relevan, penyediaan pelayanan sesuai dengan kebutuhan anak jalanan, serta penciptaan kesempatan bagi anak-anak agar lebih leluasa memperoleh apa yang menjadi haknya adalah upaya-upaya yang seharusnya menjadi agenda bersama, antara pemerintah, LSM dan masyarakat umum untuk dilakukan dengan baik dan terarah. Memperlakukan anak hanya sebagai objek program dan kepentingan subjektif yang sifatnya ekonomis atau politis mengakibatkan nasib anak jalanan akan tetap merana di sepanjang hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Huraerah, Abu. 2006. Kekerasan Pada Anak. Bandung: Penerbit Nuansa Adisti, Susi. 2007. Belenggu Hitam Pergaulan. Jakarta: Restu Agung.
Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi. Bandung: Widya Padjadjaran.
O. Ihromi, T. 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Poloma, Margaret M. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Ritzer, George dan J. Goodman, Douglas. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Severe, Sal. 2001. Bagaimana Bersikap Pada Anak Agar Anak Bersikap Baik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Soetomo. 2008. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Su’adah. 2005. Sosiologi Keluarga. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah. Suyanto, Bagong dan Sanituti Hariadi, Sri. 2002. Krisis dan Child Abuse Kajian
Sosiologis Tentang Kasus Pelanggaran hak Anak dan Anak-anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus (Children in Need of Special Protection). Surabaya: Airlangga University Press.
Tanjung, Bahdin Nur dan Ardinal. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal, Skripsi dan Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sumber dari Internet:
---. 2010. Sosialisasi. Wikipedia Ensiklopedia Bebas, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi, diakses 30 November 2010, pukul 09:20 WIB).
---. 2010. Anak Jalanan. Wikipedia Ensiklopedia Bebas, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_jalanan, diakses 30 November 2010, pukul 09:30 WIB).
---. 2009. Penyimpangan Sosial dalam Masyarakat. Ilmu Pengetahuan Sosial, (Online), (http://ips-
mrwindu.blogspot.com/2009/04/penyimpangan-sosial-dalam-masyarakat.html, diakses 7 Januari 2011, pukul 12:56 WIB)
---. 2010. Medan Masih Dipenuhi Anak Jalanan. Waspada (Online), (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1 61088:medan-masih-dipenuhi-anak-jalanan&catid=14&Itemid=27, diakses 7 Januari 2011, pukul 16:24 WIB).
---. 2005. Ngelem Cara Gaul Ala Anak Jalanan. KKSP Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak, (Online), (http://www.kksp.or.id/id/cetak.php?id=16, diakses 7 Januari 2011, pukul 19:42 WIB).
---. 2011. Merusak Sistem Saraf Hingga Kematian. Harian Seputar Indonesia, (Online), (http://www.seputar-
indonesia.com/edisicetak/content/view/382824/, diakses 19 Juni 2011, pukul 05.40 WIB).
Anani, Masrifatin . 2010. Beberapa Faktor Eksternal dan Internal Kenakalan Remaja. Zhifa articl’z, (Online), (http://masrifatinanani.student.umm.ac.id/2010/07/30/beberapa-macam-
kenakalan-remaja/, diakses 19 Juni 2011, pukul 17:14 WIB).
Ma’ar. 2011. Ngelem. Kompasiana Prosa, (Online), (http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/02/02/ngelem/, diakes 19 Juni 2011, pukul 06.03 WIB)
Riska. 2011. Budaya Menghirup Uap Aibon Di Kalangan Anak Jalanan. Icha’s Zone, (Online), (http://itsmeriskaicha.blogspot.com/2011/04/budaya-menghirup-uap- aibon-dikalangan.htm, diakses 28 April 2011, pukul 16:39 WIB).
Paper :
Direktoral Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Departemen Dalam Negeri. Daftar Isian Profil Kelurahan Sempakata Tahun 2008.
Direktoral Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Departemen Dalam Negeri. Daftar Isian Profil Kelurahan Sempakata Tahun 2010.
LAMPIRAN
Pedoman Wawancara Anak Jalanan Pelaku Ngelem
I. Profil Informan 1. Nama : 2. Jenis Kelamin : 3. Umur : 4. Pekerjaan : 5. Tingkat Pendidikan : 6. Asal Daerah : 7. Tempat Tinggal : 8. Lama Tinggal : 9. Suku Bangsa : 10.Agama : 11.Alamat Keluarga : 12.Nama Orangtua :
II. Kehidupan Anak Jalanan Pelaku Ngelem
1. Apakah yang menyebabkan Anda berada di jalanan?
2. Apakah Anda tinggal di jalanan atau masih sering pulang ke rumah?
3. Siapa yang mengajak/menyuruh Anda berada di jalanan? Apakah kemauan sendiri?
4. Bagaimana kehidupan Anda sebelum berada di jalanan atau ketika Anda masih tinggal bersama keluarga?
5. Siapa orang yang dekat dan orang yang Anda banggakan saat ini? 6. Apakah Anda masih memiliki orangtua/keluarga?
7. Apakah yang Anda pikirkan tentang keluarga Anda?
8. Sejak kapan Anda mulai melakukan perilaku ngelem tersebut? 9. Apakah yang menyebabkan Anda ngelem?
10.Dari siapakah Anda memperoleh pengetahuan tentang ngelem? 11.Bagaimana Anda memperoleh lem tersebut?
12.Apakah yang Anda rasakan ketika Anda menghirup aroma lem? 13.Apakah yang Anda rasakah jika Anda tidak menghirup lem? 14.Apakah yang menjadi kebutuhan utama Anda saat ini? 15.Apakah harapan Anda untuk ke depannya?
III. Komunitas Anak Jalanan
1. Bagaimana hubungan Anda dengan teman sebaya di jalanan?
2. Bagaimana upaya Anda agar Anda dapat diterima oleh teman-teman sebaya Anda di jalanan?
3. Apakah Anda memiliki ikatan solidaritas dalam suatu perkumpulan atau jaringan anak jalanan?
4. Apakah manfaat perkumpulan atau jaringan tersebut bagi diri Anda?
5. Bagaimana solidaritas diantara komunitas anak jalanan yang saat ini Anda rasakan?
6. Apakah perilaku ngelem merupakan salah satu bentuk solidaritas di antara komunitas anak jalanan?
7. Bagaimana pandangan Anda terhadap anak jalanan yang melakukan aktifitas ngelem?
8. Apa yang Anda rasakan ketika Anda dapat melakukan perilaku ngelem bersama teman-teman sebaya Anda?
9. Apakah pengaruhnya terhadap hubungan Anda dengan teman-teman sebaya Anda, jika Anda tidak melakukan aktifitas ngelem?
Pedoman Wawancara
Keluarga Anak Jalanan Pelaku Ngelem I. Profil Informan 1. Nama : 2. Jenis Kelamin : 3. Umur : 4. Pekerjaan : 5. Pendidikan Terakhir : 6. Asal Daerah : 7. Tempat Tinggal : 8. Lama Tinggal : 9. Suku Bangsa : 10.Agama :
11.Status Hubungan dengan Anak Jalanan : II. Profil Sosial Ekonomi
1. Status Tempat Tinggal a. Rumah Sendiri b. Mengontrak c. Menumpang d. Lainnya
2. Bentuk Bangunan Rumah a. Rumah Tepas b. Papan c. Permanen 3. Pendapatan a. Perhari b. Perminggu c. Perbulan
4. Alokasi Pengeluaran a. Sandang Pangan b. Listrik c. Pendidikan Anak d. Menabung e. Modal Berusaha f. Kredit/Hutang g. Arisan h. Kesehatan i. Lainnya
III. Pola Asuh dan Pendidikan Anak
1. Bagaimana hubungan Anda dengan anak tersebut sebelum mereka berada di jalanan?
2. Bagaimana perilaku anak tersebut selama tinggal bersama Anda?
3. Apakah yang mengakibatkan anak tersebut berada di jalanan? Apakah kemauan sendiri, masalah keluarga atau pengaruh lingkungan?
4. Sejak kapan anak jalanan tersebut berada di jalanan?
5. Apakah anak tersebut masih sering pulang ke rumah/tinggal bersama Anda? 6. Bagaimana hubungan Anda terhadap anak tersebut setelah anak tersebut
berada di jalanan?
7. Bagaimana pandangan Anda terhadap anak tersebut? 8. Apakah Anda mengetahui kondisi anak tersebut di jalanan? 9. Apakah Anda menyuruh anak tersebut untuk sekolah?
10.Apakah anak tersebut mendapatkan pengajaran tentang pendidikan agama? 11.Apakah Anda mengetahui apa yang anak tersebut butuhkan saat ini? 12.Apakah harapan Anda terhadap anak jalanan tersebut?
LAMPIRAN FOTO
Gambar 1. Harjono ketika sedang menghirup lem.
Gambar 2. Pide (sebelah kanan ujung) sedang mabuk lem bersama teman-temannya.
Gambar 3. Herdin (kiri), Harjono (tengah) dan Rian (kanan belakang) ketika
berkumpul untuk makan .
Gambar 4. Herdin sedang makan semangkok nasi dan Jefri mencoba mengambil
sendok yang di pegang oleh Herdin untuk meminta sedikit nasi Herdin. Nasi itu dibeli dengan harga Rp. 4000,- per-mangkoknya dan mendapat sebotol air putih sebagai air minumnya. Mereka biasanya membeli nasi dan lem dari pemilik tempat tinggal mereka itu.
Gambar 5. Kedai, tempat para anak jalanan membeli lem, membeli nasi dan
menyewa gitar. Pemilik kedai tersebut juga merupakan pemilik tempat tinggal anak jalanan (pintu yang tertutup).
Gambar 6. Tempat tinggal anak jalanan yang berada di sebelah kede tempat mereka membeli lem. Tempat ini disewakan seharga Rp. 2000,- per orang dalam satu hari. Di tempat inilah mereka tidur.
Gambar 7. Hendra (sebelah kanan) sedang tidur pada siang hari. Di sampingnya terdapat lem, yang kemungkinan baru saja dihirupnya ketika ia mau tidur.
Gambar 8. Lamhot (tengah) dan Agus Maulana (kanan) sedang tidur pada siang
hari bersama teman-temannya karena pada malam hari mereka biasanya tidak banyak tidur akibat menghirup lem.
Gambar 9. Muhammad Faisal Keri Syahputra (sebelah kiri ujung), Jefri (tengah), dan Perando (kanan ujung) ketika diajak untuk di foto.
Gambar 11. Faisal sedang menggendong anak dari orang yang ia sebut bibi (wanita di sebelah kanan). Ia menganggap bahwa bibinya tersebut yang menjadi keluarga dekatnya. Foto ini diambil ketika Faisal diantar pulang ke Tanjung Balai (rumah bibinya)
Gambar 12. Hendra sesaat setelah bertemu ibu kandungnya di Kabanjahe.
RIWAYAT HIDUP
Mutiara Ginting lahir di Kota Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang tanggal 22 April 1989, putri kedua dari dua bersaudara dari pasangan Jaramin Ginting dan Hokni Br Barus dan merupakan adik dari Natal Nael Ginting. Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar Negeri 108384 (2001), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 (2004), Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir Negeri 1 (2007) di Lubuk Pakam, selanjutnya meneruskan pendidikan di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Sumatera Utara Medan dan telah menyelesaikan pendidikan tersebut pada Tahun 2011.
Semasa mahasiswa, pernah mendapat beberapa kali beasiswa berprestasi akademik. Penulis juga pernah mengikuti beberapa kali penelitian sebagai enumerator dalam membahas tentang masalah sosial seperti: persepsi masyarakat terhadap calon wakil walikota dan walikota Medan pada Tahun 2009 dan masalah migrasi penduduk di Kota Medan pada Tahun 2010.
Penulis aktif dalam organisasi mahasiswa diantaranya pelayanan mahasiswa kampus yakni UKM KMK USU UP PEMA FISIP dan pada Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2011 memiliki 2 kelompok adik rohani yang berjumlah 6 (enam) orang: Rebekka Purba, Rina Maria Hutagaol, Sarah Rogatianni Artati Gultom dari Departemen Komunikasi 2009, dan Sri Handayani Ginting, Irma Sinurat, Yolanda F. Sembiring dari Departemen Sosiologi 2010 di pelayanan tersebut. Selain itu, pernah menjabat sebagai pengurus di Bagian Pembinaan UKM KMK UP PEMA FISIP dalam dua periode sejak Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2011. Pada tahun 2009, penulis pernah terlibat dalam diskusi antar-agama di kota Yogyakarta.