BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.2 Profil Informan
4.2.1 Profil Anak Jalanan
4.2.1.1 Hendra Syahputra Nauli Manik (17)
Hendra Syahputra Nauli Manik adalah seorang anak yang berasal dari Kabanjahe, Tanah Karo. Ia merupakan anak kedua dari dua orang bersaudara. Anak jalanan yang hanya menikmati pendidikan sekolah dasar kelas 5 SD ini, mempunyai seorang kakak yang telah menikah dan memiliki seorang anak. Anak kakaknya tinggal bersama ibunya di Kabanjahe sedang kakaknya tersebut bekerja di Aceh dan suami kakaknya tersebut bekerja di Pancur Batu.
Hendra dilahirkan dari orang tua yang berbeda agama. Ibunya beragama Kristen dan ayahnya beragama Islam. Ibunya bernama Diana Silalahi, bekerja sebagai petani, sedangkan ayahnya bernama Telbe bekerja sebagai supir pengangkut barang di daerah Tarutung. Hendra dan kakaknya beragama Islam. Hendra mengaku bahwa ayahnya telah meninggalkan ibunya sejak Hendra
masih di dalam kandungan. Ibunya juga telah pernah menikah untuk kedua kalinya namun kembali bercerai karena ayah tirinya pernah memukili ibunya. Di kabanjahe ia pernah bekerja sebagai tukang pembersih motor di door smeer, namun karena alas an gaji yang tidak jelas dan tidak dapat bebas membuat Hendra memutuskan untuk berhenti bekerja.
Hendra telah tinggal di jalanan sejak tahun 2005. Ia memilih tinggal di jalanan karena merasa bosan di rumah dan kesepian. Di jalanan, ia bekerja sebagai pengamen dan pembersih kaca mobil. Ia telah menghisap lem sejak tahun 2008. Biasanya ia menghirup lem 2 kaleng dalam satu hari.
4.2.1.2 Muhamad Faisal Kery Syahputra (12)
Muhammad Faisal Keri Syahputra (Faisal/Keri) berasal dari keluarga yang bermasalah. Ayah kandungnya berada di Penjara, ketika ibunya menikah lagi.Ibu kandung dan ayah tirinya tinggal di Pekan Baru. Ayah kandungnya masuk ke penjara akibat tindakan pencurian dan pemukulan. Keri merupakan anak kedua dari dua bersaudara kandung. Saudara pertamanya meninggal pada saat masih bayi karena sakit. Namun, Keri memiliki saudara tiri berjumlah empat orang.
Keri pernah sekolah hingga kelas 4 SD dan itu pun tidak sampai selesai karena ia memiliki sifat nakal. Sewaktu ia masih kecil, ia sering dititipkan di tempat keluarganya dalam batas waktu yang dia sudah tidak ingat lagi. Ia pernah di titipkan di rumah neneknya di Tebing Tinggi, lalu kembali lagi ke
Pekan Baru ke tempat orang tuanya dan ia mulai lari dari Pekan Baru ke Medan dengan menumpang bus. Beberapa lama tinggal di Medan, Keri pernah di pukuli orang dan diantar oleh polisi ke Tanjung Balai, di rumah bibinya. Namun, ia kembali tinggal di jalanan di Tanjung Balai dan mencoba menumpang kereta api untuk kembali di jalanan Kota Medan. Setelah lama tinggal di jalanan di kota Medan, kemudian ia mencoba pergi ke Tanjung Balai tempat bibi (adik tiri ibunya) kembali. Oleh karena ia tidak menemukan tempat tinggal bibinya karena bibinya sudah pindah, ia kembali lagi ke Medan dan tinggal sebagai anak jalanan di Kota Medan. Ia sendiri sudah tidak mengingat sejak kapan ia mulai melakukan ngelem karena sudah terlalu lama.
4.2.1.3 Lamhot Sirait (16)
Lamhot Sirait merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ia berasal dari Medan. Ia pernah sekolah sampai pada kelas 1 SMP. Namun, karena alasan cabut dan pernah di pukul oleh guru ia memilih untuk tidak lagi sekolah. Ibunya bekerja di Malaysia sebagai pelayan rumah makan sedangkan ayahnya sudah meninggal karena penyakit TBC.
Keluarganya tinggal di Jalan Seular Baru Gang Mandosi No.8. Tetapi, setelah di kunjungi ke lokasi, keluarganya sudah pindah ke daerah Brayan. Lamhot tidak tahu pasti keberadaan keluarganya, karena informasi pindahnya keluarganya diperoleh dari tetangga.
Pada tahun 2008, ia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan, namun dipecat karena temannya satu tim memecahkan piring di
restoran tersebut. Lamhot berada di jalanan sejak tahun 2009 dan ia makan dan tinggal di jalanan. Ia bekerja sebagai tukang ngamen dan membersihkan kaca mobil. Ia mengenal lem dari teman- teman sebaya yang juga berada di jalanan dan melihat berita di TV. Dalam satu hari ia bisa menghirup lem sebanyak 5 kaleng bahkan lebih.
4.2.1.4 Jefri Ali Syahputra Sitorus (13)
Jefri Ali Syahputra Sitorus merupakan anak yang pernah dititipkan kepada seorang nenek, yang dia tidak kenal siapa nenek tersebut. Ibunya menitipkannya pada nenek tersebut karena ibunya bekerja di Malaysia, sedangkan ayahnya telah meninggal karena peristiwa tabrakan. Ibunya tidak menitipkan Jefri pada keluarganya karena keluarganya mengalami perselisihan. Pada saat itu, usia Jefri masih 5 tahun.
Jefri yang hanya tamatan kelas 1 SD ini tinggal di jalanan sejak nenek yang merupakan orang yang dipercayakan ibunya tersebut, meninggal. Beberapa saat tinggal di jalanan, Jefri pernah di jemput oleh keluarganya (bukan ibunya) dan di asuh di tempat uaknya di daerah Puri. Namun, setelah 20 hari tinggal bersama pamannya, ia melarikan diri ke jalanan karena sering disuruh dan mendapat perintah untuk membantu keluarga pamannya. Ia pun di jemput oleh keluarganya kembali dan ia tinggal di rumah neneknya di daerah Tebing, Pagar Awan. Namun, tidak berapa lama tinggal di Tebing, Jefri memutuskan untuk melarikan diri kembali ke jalanan dengan alasan sudah terbiasa bebas. Keluarganya sudah mencoba berulang kali untuk menjemputnya pulang ke
Tebing, namun ia tetap memilih untuk tinggal di jalanan dan bekerja sebagai tukang pembersih mobil dan ngamen di jalanan. Dalam satu hari, Jefri bisa menghasilkan Rp 21.000,-. Dia biasanya menghirup lem sebanyak 2 kaleng dalam satu hari.
4.2.1.5 Perando Panjaitan (15 tahun)
Perando Panjaitan merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ibunya bekerja sebagai tukang botot dan ayahnya sebagai supir Fuso, truk pengangkut pasir. Ia berasal dari Medan. Orang tuanya tinggal di wilayah Simalingkar B kota Medan. Ia pernah sekolah kelas 6 SD, tetapi putus sekolah karena terpengaruh oleh teman yang tinggal di dekat lingkungan tempat tinggalnya yang merupakan anak jalanan. Oleh karena hal itu, Perando mulai tertarik untuk mencari uang di persimpangan jalan dan terbiasa tinggal di jalanan bersama teman-tamannya. Ia menjadi terbiasa dengan kehidupan di jalanan karena ia sering merasakan kesepian ketika berada di rumah.
Perando berada di jalanan sejak usianya 12 tahun dan ia tidak pernah lagi pulang ke rumah. Ia bekerja sebagai tukang ngamen dan pembersih kaca mobil. Ia melakukan perilaku ngelem karena terpengaruh oleh teman-temannya dan ingin mencoba. Perando biasanya menghirup lem sebanyak 3 kaleng dalam sehari. Pendapatan sehari-hari sekitar Rp. 20.000,- dari hasil mengelap kaca mobil di jalanan. Ia juga terkadang meminta lem dari teman sebayanya ketika teman-teman sebayanya menghirup aroma lem.
4.2.1.6 Agus Maulana Chaniago (16)
Agus Maulana Chaniago berasal dari Medan. Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Ibu dan ayahnya sudah lama bercerai, sejak ia masih kecil. Ibunya seorang ibu rumah tangga sedangkan ayahnya sudah menikah lagi dengan istri keduanya dan tinggal di daerah Binjai.
Agus berada di jalanan sejak usia 5 tahun, namun pada saat itu, ia masih tinggal bersama keluarganya dan masih menjalani sekolah hingga kelas 4 SD. Ia mulai cabut dan pada akhirnya putus sekolah karena ia merasa sudah bisa mecari uang dengan cara mengamen dan membersihkan kaca mobil di jalanan. Ia mulai menghirup lem sejak usia delapan tahun. Ia melakukannya karena terpengaruh oleh teman-temannya yang juga merupakan anak jalanan. Dalam satu hari, ia menghirup lem sebanyak 2 kaleng.
4.2.1.7 Pide (17)
Pide berasal dari Marindal, Medan Amplas. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Kedua orang adiknya juga tinggal di jalanan bersama dengannya. Ia dan kedua adiknya biasanya mencari uang berpindah-pindah tempat. Sedangkan adiknya yang paling kecil tinggal bersama ayahnya.
Pide pernah menikmati pendidikan sekolah hingga kelas 3 SD. Namun, karena kedua orang tuanya bercerai, ia menjadi putus sekolah. Ia tinggal di jalanan sejak tahun 2003 semenjak ayahnya sudah menikah dengan istri kedua dan mempunyai tiga orang anak tiri. Ibu kandung Pide sudah lama lari karena di pukuli oleh ayahnya ketika ayahnya mabuk minuman keras. Ia tidak mengetahui
dimana keberadaan ibu kandungnya saat ini. Ia berharap untuk dapat bisa pulang ke rumah ayahnya, tetapi, sering di usir dari rumah ayahnya karena alasan ibu tirinya tidak suka dengan mereka. Di jalanan ia bekerja sebagai tukang ngamen dan membersihkn kaca mobil. Ia menghirup lem sejak tahun 2004 karena di ajari oleh teman-teman sebayanya di jalanan.
4.2.1.8 Herdin (16)
Herdin merupakan anak yang sudah sering mengamen di jalanan sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia yang mengaku tamatan SMP ini, sudah tidak ingat lagi sejak usia berapa tahun ia hidup dan tinggal di jalanan. Namun, ia sering mengamen setelah ia pulang dari sekolah dasar hingga ia tamat SMP. Herdin merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ia mengatakan bahwa orang tuanya telah lanjut usia dan memiliki cucu. Ia memperkirakan usia ayahnyaekitar 60 tahun. Orangtuanya tinggal di Brayan Medan.
Herdin menghirup lem sejak tahun 2011. Anak jalanan yang bekerja sebagai tukang ngamen ini mengenal lem dari berita TV yang meliput anak- anak jalanan. ia mengaku bahwa sebelum menghirup aroma lem, ia pernah makan obat-obat yang ia sebut dengan istilah “destroy”. Ia tidak lagi suka memakai obat tersebut sejak ia tahu bahwa ada temannya yang meninggal akibat over dosis karena memakan obat jenis itu.
4.2.1.9 Rian Michael Handoko (17)
Rian merupakan anak yang tinggal di jalanan sejak usia 10 tahun. Ia memiliki seorang ibu dan ayah tiri yang tinggal di Helvetia karya 7 Medan. Rian memiliki saudara kandung 4 orang dan 9 orang saudara tiri. Ibunya menikah untuk kedua kalinya karena ayah kandungnya telah meninggal akibat over dosis karena mencoba bunuh diri akibat diketahui dan dimarahi oleh keluarga karena telah menikah dengan perempuan lain di Aceh. Pada saat itu, ayah Rian sedang bekerja di Aceh.
Semenjak Rian memiliki ayah tiri, ia merasa ibunya memiliki perilaku yang kejam. Ayah tiri Rian masih memiliki istri yang sah dengan 1 orang anak ketika menikah dengan ibu Rian. Ayah tiri Rian bekerja sebagai supir Angkot 135. Istri dari ayah tirinya tinggal di daerah Simalingkar B Medan. Orangtua Rian pernah bertengkar dengan istri pertama dari ayah tiri Rian karena tidak senang dengan ibu Rian. Rian merasa bahwa orangtuanya tidak menyayanginya dengan baik. Rian pernah mencoba bunuh diri dengan menyiram tubuhnya dengan minyak, namun karena diketahui oleh tetangga ia pun dicegah. Ia hanya merasakan kasih sayang dari kakeknya (orangtua dari ibunya) yang memberikan perhatian untuknya.
Rian mengenal lem di Jakarta. Ia pernah melihat orang ngelem di Jakarta dan ia pun mulai mencoba sendiri. Ia sampai di Jakarta secara diam-diam masuk ke bagasi Pesawat. Ia masuk melewati Perumnas Mandala dari jalur penerbangan. Ia sempat di ketahui oleh penjaga setelah sampai di Jakarta, namun ia tidak tertangkap karena melarikan diri. Ia kembali ke Medan karena
kakek (yang ia sebut opung) menghubungi keluarga Rian yang di Jakarta (yang ia sebut Uda) untuk mengantar Rian pulang ke Medan. Sesampainya di Medan, Rian memilih untuk hidup di jalanan, ia mulai mencari uang dengan mengamen dan terbiasa dengan rokok, ngelem dan minum minuman keras.
4.2.1.10 Harjono Situmorang (15)
Harjono Situmorang pernah sekolah sampai kelas 4 SD. Ia berasal dari wilayah Dolok Sanggul di jalan Matiti. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Dia sudah 8 tahun berada di jalanan. Dia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Ketiga abangnya tinggal di Sibolga, Jambi dan di Pekan Baru. Sedangkan adik-adiknya berada di Pekan Baru bersama abangnya. Dia tidak mau ikut dengan abangnya karena dia sendiri yang memilih hidup di jalanan.
Sebelum ia tinggal di jalanan, ia pernah bekerja membawa orang buta yang merupakan keluarga yang ia sebut sebagai “nantulang”. Orang buta ini tinggal di Simpang Limun Air Bersih Medan. Ia memilih tinggal di jalanan karena tidak menyukai pekerjaan yang disuruh oleh keluarganya tersebut. Dalam satu hari, Harjono dapat menghirup lem satu sampai dua kaleng.
4.2.2 Profil Keluarga Anak Jalanan