• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kandungan oksigen terlarut (O 2)

Dalam dokumen STUDI BASELINE EKOLOGI BATAM (Halaman 64-143)

Kandungan oksigen terlarut (O2) dalam perairan turut menentukan kualitas perairan, karena oksigen

CRITC-COREMAP Jakarta 40

sangat dibutuhkan untuk pernapasan (respirasi) makhluk hidup dan proses oksidasi dalam perairan. Sebagai contoh ikan yang hidup dalam perairan yang kekurangan oksigen akan terganggu fungsi insangnya dan dapat menyebabkan insang ikan itu berlendir (anoxia) dan mati. Fungsi lain dari oksigen adalah sebagai oksidator senyawa–senyawa kimia di perairan. Sumbangan oksigen terbesar berasal dari adsorpsi udara bebas, sementara dari fitoplankton dan tumbuhan hijau lain yang berklorofil menyumbang oksigen sebagai produk fotosintesis.

Faktor yang bisa mempengaruhi kemampuan suatu perairan untuk mengadsorpsi oksigen adalah salinitas, suhu, kekeruhan air, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut (Raymont, 1963). Faktor kedalaman juga mempengaruhi kadar oksigen terlarut (Tijssen ,1990). Dalam kondisi yang normal, semakin dalam perairan itu maka semakin menurun kadar oksigennya. KLH merekomendasikan baku mutu air laut untuk kepentingan wisata bahari da n biota laut, kadar oksigen terlarutnya >5 ppm (3,5 ml/L) (Anonimous, 2004). Hasil pengukuran kadar oksigen di seluruh stasiun di Batam ditampilkan pada Lampiran 4.a.

Di perairan P. Abang yang meliputi P. Abang Besar dan P. Abang Kecil kadar oksigen terlarutnya berkisar antara 3,69–4,30 ml/L; di P. Petong berkisar antara 3,90–4,60 ml/L; dan di P. Pengelap berkisar antara 3,76–3,97 ml/L. Dengan membandingkan antara

CRITC-COREMAP Jakarta 41

permukaan dengan bagian dasarnya (Lampiran 4.b.), perbedaan rerata kadar oksigen terlarut di P. Abang Besar dan P. Abang Kecil, perbedaannya mencapai 4,24%. Perbedaan ini cukup signifikan sehingga bisa dikatakan bahwa kadar oksigen terlarut di P. Abang Besar dan P. Abang Kecil pada bagian permukaannya lebih tinggi dibandingkan dengan bagian dasarnya. Hal yang sama juga terjadi di P. Petong dimana perbedaannya dapat dikatakan signifikan yaitu sebesar 3,71%. Sedangkan untuk perairan di P. Pengelap, kadar oksigen terlarut pada bagian permukaan dan dasar perairan di P. Petong dan P. Pengelap bisa dikatakan homogen, karena perbedaannya tidak begitu signifikan yaitu sebesar 1,50 %. Nilai perbedaan tersebut dihitung terhadap nilai tertinggi diantara dua kedalaman tersebut pada masing-masing lokasi.

Berdasarkan kriteria yang dianjurkan KLH dimana nilai baku mutu air laut untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut memiliki kadar oksigen terlarut > 5 ppm (3,5 ml/L) (Anonimous, 2004), maka kondisi perairan di semua lokasi penelitian yang dilakukan di Batam dinilai dari kadar oksigen terlarutnya dapat dikatakan masih baik.

6. Fosfat

Fosfat merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan oleh mahluk hidup yang ada diperairan. Sumbangan fosfat terbesar berasal dari sedimentasi yang ada di dasar perairan. Oleh karena itu, semakin dalam perairan, semakin besar kandungan fosfatnya.

CRITC-COREMAP Jakarta 42

Kekecualian bisa terjadi, dimana kadar fosfat dipermukaan lebih tinggi dibandingkan kolom air yang lebih dalam bila di perairan tersebut banyak mendapatkan pengaruh dari darat berupa sumbangan “limbah penduduk”. Limbah penduduk yang banyak menyumbang kadar fosfat diantaranya detergen.

Di perairan Batam, kadar fosfat di P. Abang Besar dan Abang Kecil berkisar antara 0,14–6,82 µg A/L, di daerah P. Petong berkisar antara 0,95–5,04 µg A/L dan di daerah P. Pengelap berkisar antara 0,23– 5,41 µg A/L (Lampiran 4.a.). Dengan membandingkan bagian permukaan dengan bagian dasar (Lampiran 4.b.) terhadap nilai tertinggi diantara kedua bagian tersebut pada masing-masing lokasi, di P. Abang Besar dan P. Abang Kecil perbedaannya sangat signifikan dengan tingkat perbedaan mencapai 86,89%. Perbedaan yang signifikan juga terjadi di P. Petong (33,91%), dan di P. Pengelap (78,69%). Dengan demikian jelas terlihat bahwa kadar fosfat di bagian permukaan lebih tinggi dibandingkan bagian dasarnya. Tingginya kadar fosfat di permukaan diperkirakan sumbangan dari daratan.

KLH telah merekomendasikan baku mutu air laut untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut, kadar fosfat yang dianjurkan tidak melebihi 0,015 ppm (4,9 µg A/L) (Anonimous, 2004). Dengan berpedoman pada baku mutu air laut ini maka untuk stasiun-stasiun penelitian yang dilakukan di Batam, kadar fosfatnya masih berada di bawah nilai ambang batas yang dianjurkan.

CRITC-COREMAP Jakarta 43 7. Nitrat (NO3)

Nitrat sebagai mana halnya fosfat merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan oleh mahluk hidup yang ada dalam perairan. Fungsinya turut membantu pembentukan asam amino sebagai komponen dasar protein. Sumbangan terbesar nitrat berasal dari sedimentasi di dasar perairan.

Di Batam, kadar nitrat di perairan P. Abang yang meliputi P. Abang Besar dan P. Abang Kecil berkisar antara 0,55–0,86 µg A/L, di pera iran P. Petong berkisar antara 0,57–0,71 µg A/L, dan perairan P. Pengelap berkisar antara 0,57–0,75 µg A/L (Lampiran 4.a.). Dengan membandingkan rerata kadar nitrat di bagian permukaan dengan di bagian dasarnya terhadap nilai tertinggi diantara kedua bagian tersebut pada masing-masing lokasi (Lampiran 4.b.), perbedaannya tidak signifikan untuk semua lokasi penelitian. Di perairan P. Abang Besar dan P. Abang Kecil, perbedaannya sebesar 1,86% dimana kadar nitrat di permukaan relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan di dasar perairannya. Sebaliknya, di perairan P. Petong, dan P. Pengelap, walaupun tidak signifikan, rerata kadar nitrat pada bagian permukaannya relatif sedikit lebih rendah dibandingkan dengan dasarnya, dengan perbedaan sebesar 0,79% di P. Petong dan 0,72% di P. Pengelap. Dari hasil yang diperoleh, bisa dikatakan bahwa kadar nitrat perairan Batam relatif homogen untuk di permukaan maupun di dasar perairan.

CRITC-COREMAP Jakarta 44

Mengacu pada nilai baku mutu yang dikeluarkan KLH untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut dimana nilai ambang batas untuk nitrat=0,008 ppm (26,27 µg A/L) (Anonimous, 2004), maka dapat disimpulkan bahwa kadar nitrat pada semua perairan di Batam yang diteliti, kondisinya masih baik dan masih jauh dari nilai ambang batas yang ditetapkan.

8. Nitrit (NO2)

Nitrit merupakan senyawa kimia yang sangat reaktif karena struktur molekulnya tidak stabil. Karena reaktifnya ini, nitrit akan cepat bereaksi dengan logam berat misalnya, membentuk senyawa garam nitrat yang larut dalam air. Nitrit termasuk parameter yang dapat dijadikan indikator kualitas perairan. Suatu perairan yang baik, kadar nitritnya harus lebih kecil dari pada kadar nitrat. Semakin kecil kadar nitritnya, semakin baik kualitas perairannya.

Kadar nitrit di perairan P. Abang yang meliputi P. Abang Besar dan P. Abang Kecil berkisar antara 0,04–0,31 µg A/L, di perairan P. Petong berkisar antara 0,06–0,21 µg A/L, dan di perairan P. Pengelap berkisar antara 0,06–0,25 µg A/L (Lampiran 4.a.). Dengan membandingkan nilai rerata kadar nitrit di bagian permukaan dengan bagian dasar terhadap nilai tertinggi diantara kedua bagian tersebut pada masing-masing lokasi (Lampiran 4.b.), di semua perairan yang diteliti menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan tingkat perbedaan mencapai 17,20% di P. Abang Besar dan P. Abang Kecil; sebesar 5,38% di P. Petong dan 3,36% di

CRITC-COREMAP Jakarta 45

P. Pengelap, dimana kadar nitrit pada bagian permukaannya lebih tinggi dibandingkan dasarnya.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari semua stasiun yang diteliti di Batam, kadar nitritnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kadar nitrat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perairannya masih dalam kondisi baik.

9. Silikat (SiO3)

Silikat merupakan salah satu indikator untuk mengetahui kesuburan perairan, karena Silikat dibutuhkan untuk perkembangan hidup fitoplankton dilaut, seperti jenis silicoflagellata dan beberapa jenis diatom membutuhkan silikat untuk pembentukan kerangka dinding selnya. Kadar silikat di estuarin, selain dari perairan itu sendiri juga bisa berasal dari daratan seperti proses erosi dan hujan (Nybakken, 1988).

Di perairan P. Abang yang meliputi P. Abang Besar dan P. Abang Kecil kadar silikat berkisar antara 4,53 – 9,84 µg A/L, di P. Petong berkisar antara 5,41– 9,65 µg A/L, dan di P. Pengelap berkisar antara 5,32– 8,56 µg A/L (Lampiran 4.a.). Dengan membandingkan nilai rerata kadar silikat antara bagian permukaan perairan dengan bagian dasarnya terhadap nilai tertinggi diantara kedua bagian tersebut pada masing-masing lokasi (Lampiran 4.b), terdapat perbedaan yang cukup signifikan untuk semua lokasi penelitian, dimana kadar silikat pada bagian dasar perairan lebih tinggi

CRITC-COREMAP Jakarta 46

dibandingkan bagian permukaan. Pada daerah P. Abang besar dan P. Abang Kecil perbedaannya mencapai 14,61%, P. Petong perbedaannya mencapai 16,18% dan di P. Pengelap perbedaannya mencapai 13,08% (Tabel 5). Tingginya kadar silikat pada bagian dasar perairan dibandingkan dengan bagian permukaannya menunjukkan bahwa sumber utama silikat di perairan ini berasal dari sedimentasi dari dasar perairan.

C. M

A N G R O V E

Hasil pencuplikan data baik koleksi bebas maupun transek pada masing-masing lokasi di Batam diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Pulau Abang Besar

Ketebalan mangrove di P. Abang Besar bagian Barat mencapai 100 meter. Zona terdepan didominasi jenis Rhizophora stylosa dengan ketebalan 0,5 m. Bagian belakang dijumpai Rhizophora apiculata,

Xylocarpus granatum, Lumnitzera littorea, Bruguiera parviflora dan beberapa jenis lainnya, sehingga

didapatkan 13 jenis (Lampiran 5).

Di bagian utara pulau ini, pada bagian depannya didapatkan campuran Rhizophora stylosa dan

Rhizophora mucronata. Di tempat yang berdekatan

dengan muara bagian darat didominasi jenis

Rhizophora mucronata yang mempunyai hypocotil atau

buah yang panjangnya mencapai 105 cm. Bagian belakang hampir sama dengan P. Abang Besar bagian

CRITC-COREMAP Jakarta 47

Barat, sehingga di dapatkan mangrove sebanyak 14 jenis (Lampiran 5).

Kondisi mangrove di P. Abang Besar bagian Selatan di zone terdepan sebagian didominasi oleh

Rhizophora stylosa dan sebagian didominasi Rhizophora mucronata dengan ketinggian 4–5 m dan

ketebalan sampai 40 m. Bagian belakang ditemukan

Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, X. moluccensis, dan beberapa jenis lainnya sehingga

didapatkan 10 jenis (Lampiran 5).

Secara keseluruhan di Pulau Abang Besar di dapatkan 17 jenis mangrove (Lampiran 5).

b. Pulau Petong.

Di P. Petong bagian Barat terdapat mangrove yang didepannya terdapat mangrove yang di bagian depan didominasi oleh Rhizophora mucronata dengan ketinggian 4–6 m, walaupun didominasi jenis tersebut namun bagian luar muara masih ditemukan terumbu karang yang masih hidup. Bagian belakang dijumpai

Sonneratia alba, Lumnitzera littorea, Rhizophora apiculata, dan beberapa jenis lainnya seperti yang

terlihat pada Lampiran 5.

Di bagian Selatan bagian depan juga didominasi

Rhizophora mucronata dan bagian belakangnya

dijumpai Rhizophora apiculata dengan ketinggian 6–8 m. Ketebalan mangrove ditempat ini mencapai 75 m dan keseluruhan pulau ini didapatkan 11 jenis (Lampiran 5). Dari pencuplikan data transek

CRITC-COREMAP Jakarta 48

didapatkan 4 jenis anak pohon yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata dengan nilai penting 196,99% dan ketiga jenis lainnya mempunyai nilai penting kurang dari 50 %. (Tabel 1).

c. Pulau Pengelap

Bagian timur pulau ini terdapat mangrove yang bagian depannya didominasi Rhizophora stylosa dengan ketinggian 4–6 m. Di bagian belakang terdapat jenis

Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza sehingga hanya ditemukan 7 jenis

mangrove (Lampiran 5). Hasil pencuplikan data secara transek didapatkan 6 jenis anak pohon yang didominasi oleh Rhizophora stylosa dengan nilai penting 96,94 %.

Rhizophora apiculata merupakan codominan dengan

nilai penting 57,71%. Nilai penting untuk Rhizophora

mucronata yaitu 56,13%), sedang untuk jenis lain

mempunyai nilai penting kurang dari 50% (Tabel 1).

d. Pulau Dedap

Ketebalan mangrove di pulau ini sekitar 100 m, di bagian depan didominasi Rhizophora mucronata. Bagian belakang ditemukan Rhizophora apiculata,

Sonneratia alba, Lumnitzera littorea yang berdiameter

samapi 50 cm dan juga ditemukan jenis Avicennia alba sehingga didapatkan 8 jenis mangrove (Lampiran 5).

e. Pulau Abang Kecil.

Ketebalan mangrove di bagian Selatan pulau ini mempunyai ketebalan 25 m yang di zone depan

CRITC-COREMAP Jakarta 49

didominasi oleh Rhizophora stylosa. Bagian belakang dijumpai Lumnitzera littorea, Sonnertia alba dan lain-lain sehingga didapatkan 6 jenis mangrove (Lampiran 5). Dari pencuplikan data transek didapatkan 6 jenis anak pohon mangrove yang didominasi jenis

Rhizophora stylosa dengan nilai penting 74,52%

sedang Rhizophora apiculata dan Sonneratia alba sebagai codominan dengan nilai penting yang sama (NP 52,30 %) (Tabel 1).

Secara keseluruhan, dari 5 pulau yang diteliti di dalam wilayah Batam, berhasil didapatkan 19 jenis yang termasuk dalam 14 marga;12 suku (Lampiran 5).

Hasil pencuplikan data transek untuk kategori anak pohon (diameter batang 2 cm hingga kurang dari 10 cm) didapatkan 7 jenis mangrove yang didominasi Rhizophora

mucronata dengan nilai penting 85,61% dan Rhizophora stylosa merupakan codominan dengan nilai penting

73,30%. Untuk ke lima jenis lainnya, nilai pentingnya kurang dari 60% (Tabel 2). Kepadatan anak pohon mencapai 2733 batang per hektar dengan ketinggian rata-rata 6,48 meter dan basal area mencapai 8,15 m2 per hektar (Tabel 4).

Untuk kategori pohon (diameter batang >10 cm) didapatkan 4 jenis mangrove yang didominasi oleh jenis

Lumnitzera littorea dengan nilai penting 115,82 % dan Rhizophora apiculata sebagai codominan (NP. 77,89 %).

Sedang dua jenis lainnya mempunyai nilai penting kurang dari 60% (Tabel 3). Kepadatan pohon mencapai 133

CRITC-COREMAP Jakarta 50

batang per hektar dengan ketinggian rata-rata mencapai 13,75 meter dan basal area mencapai 5,95 m2 per hektar (Tabel 4).

T a b e l 1 . D a f t a r n i l a i p e n t i n g ( % ) j e n i s a n a k p o h o n d i b e b e r a p a

p u l a u d i B a t a m.

No. Jenis P. Abang Besar P. Petong P. Pengelap P. Abang Kecil 1. Rhizophora stylosa 83,29 - 96,94 74,52 2. R. mucronata 82,73 196,99 56,13 35,12 3. R. apiculata 57,07 31,89 57,71 52,30 4. Sonneratia alba 12,56 34,44 44,64 52,30 5. Lumnitzera littorea 28,46 36,68 18,55 42,88 6. Bruguiera gymnorrhiza 18,95 - 26,00 42,88 7. Xylocarpus granatum 16,94 - - - T a b e l 2 . D a f t a r n i l a i p e n t i n g ( % ) a n a k p o h o n ma n g r o v e d i B a t a m.

No. Jenis anak pohon Nilai Penting (%)

1. Rhizophora mucronata 85,61 2. R. stylosa 73,30 3. R. apiculata 52,21 4. Sonneratia alba 33,02 5. Lumnitzera littorea 29,60 6. Bruguiera gymnorrhiza 20,10 7. Xylocarpus granatum 6,16 T a b e l 3 . D a f t a r n i l a i p e n t i n g ( %) p o h o n ma n g r o v e d i B a t a m. No. Jenis pohon Nilai Penting (%)

1. Lumnitzera littorea 115,82 2. Sonneratia alba 54,85 3. Rhizophora apiculata 77,89 4. Tespesia populnea 51,44

CRITC-COREMAP Jakarta 51 T a b e l 4 . G a mb a r a n s t r u k t u r ma n g r o v e d i B a t a m.

Atribut vegetasi

Banyak jenis 19

Basal area (m2/Ha)

• Pohon 5,95 • Anak pohon 8,15 Kepadatan (batang/Ha) • Pohon 133 • Anak pohon 2733 Rata-rata tinggi (m) • Pohon 13,75 • Anak pohon 6,48 Rata-rata diameter (cm) • Pohon 21,32 • Anak pohon 6,13 Pohon • Dominan Lumnitzera littorea (115,80 %)

• Codominan Rhizophora apiculata (77,89 %)

Anak pohon

• Dominan Rhizophora mucronata (85,61 %)

• Codominan Rhizophora stylosa (73,30 %)

D. K

A R A N G

Penelitian karang dilakukan di beberapa pulau seperti P. Abang Besar dan P. Abang Kecil (selanjutnya hanya disebut P. Abang), P. Petong serta P. Dedap dan P. Pengelap (selanjutnya hanya disebut P. Pengelap). Gambaran umum di masing-masing pulau tersebut adalah sebagai berikut:

CRITC-COREMAP Jakarta 52 1. P. Abang (meliputi P. Abang Besar dan P. Abang

Kecil)

Pada bagian timur laut P. Abang Kecil, pantai ditumbuhi oleh vegetasi ma ngrove hingga ke arah timur pulau, yang kemudian dilanjutkan dengan pemukiman penduduk hingga ke bagian tenggara pulau dimana penduduk umumnya membangun rumah model panggungnya di pinggiran pantai. Sedangkan pada bagian barat P. Abang Kecil, pantainya berpasir dengan perkebunan kelapa rakyat hingga mencapai 200 m ke arah darat. Pantai berpasir juga dijumpai pada pulau-pulau kecil yang berada di bagian timur P. Abang Kecil.

Untuk P. Abang Besar, mangrove banyak dijumpai pada bagian selatan dan bagian lekukan yang berada di bagian utara pulau. Pada bagian barat, utara dan timur, kecuali pada bagian lekukan yang berada di bagian utara pulau, merupakan daerah yang terbuka dengan pantai berpasir dan tidak dijumpai mangrove.

Secara umum, P. Abang memiliki perairan yang agak keruh, terutama pada tempat-tempat dekat pemukiman penduduk yang umumnya membangun rumah model panggungnya ke arah pantai. Pada rataan terumbu banyak dijumpai makro algae seperti

Sargassum, terutama pada pulau-pulau kecil yang

berada di bagian timur P. Abang Kecil. Lamun dari marga Enhalus juga kadang dijumpai pada beberapa tempat. Lereng terumbu landai dengan sudut kemiringan sekitar 30o. Beberapa karang batu dengan

CRITC-COREMAP Jakarta 53

bentuk pertumbuhan masif seperti Porites lutea dan

Favia, serta Acropora dengan bentuk pertumbuhan

tabulate lebih umum dijumpai dibandingkan dengan karang batu jenis lainnya.

2. P. Petong

Pantai umumnya berpasir walaupun pada beberapa tempat dijumpai pantai yang berbatu-batu. Pada saat penelitian dilakukan, perairannya agak keruh. Alga Sargassum dan lamun Enhalus mudah dijumpai pada rataan terumbu. Seperti halnya di P. Abang Besar dan P. Abang kecil, lereng terumbu di P. Petong juga relatif landai dengan sudut kemiringan sekitar 30o. Selain karang batu dari marga Porites dan Montipora, karang batu dari marga Pavona juga tampak umum dijumpai di banyak stasiun penelitian yang dilakukan di P. Petong.

3. P. Pengelap [meliputi P. Dedap (Pengelap Barat) dan P. Pengelap (Pengelap Timur)]

Pada beberapa stasiun penelitian yang dilakukan di P. Pengelap, beberapa lokasi memiliki pantai yang berpasir dan beberapa lainnya memiliki pantai yang berbatu. Vegetasi ke arah darat berupa mangrove yang tidak begitu tebal, atau berupa tumbuhan kelapa yang ditanam oleh penduduk yang bermukim di pulau tersebut maupun di sekitarnya. Perairannya agak keruh, dimana pada beberapa tempat visibilitynya hanya mencapai sekitar 6 m. Pada bagian rataan terumbu, alga dari marga Sargassum dan lamun dari marga Thalassia

CRITC-COREMAP Jakarta 54

dijumpai di antara pasir maupun pecahan karang mati. Lereng terumbu landai berkisar antara 15o -30o dimana karang batu dari marga Porites tampak terlihat lebih dominan dibanding karang batu lainnya. Karang dari marga Montipora, Pavona dan beberapa karang batu lainnya juga terlihat umum dijumpai di lokasi ini.

Dari hasil RRI, LIT dan pengamatan bebas berhasil dijumpai 163 jenis karang batu yang termasuk dalam 17 suku (Lampiran 6).

Pengamatan terumbu karang dengan metode RRI yang dilakukan di 41 stasiun dijumpai persentase tutupan karang hidup antara 0,00%-55,86% (Lampiran 7) dengan rerata persentase tutupan karang hidup 20,30%. Pada Stasiun BTMR22, tidak dijumpai sama sekali karang hidup, dimana pasir (S) mendominasi daerah ini dengan persentase tutupan hingga 87,50 %, sedangkan sisanya sebesar 12,50% terdiri atas pecahan karang (Rubble=R).

Berdasarkan hasil yang diperoleh sebelumnya tentang luasan terumbu karang di Batam yang meliputi : P. Petong, P. Abang Besar, P. Abang Kecil, P. Dedap, P. Pengelap dan pulau-pulau kecil di sekitarnya yaitu seluas 18,3318 km2 (Lampiran 2), dan rerata persentase tutupan karang hidup berdasarkan hasil RRI sebesar 20,30%, maka diperoleh luasan untuk karang hidupnya sebesar 3,7214 km2.

Dari 41 stasiun RRI tersebut, tak ada satu stasiun pun yang dikategorikan sangat baik (tutupan karang hidup

CRITC-COREMAP Jakarta 55

75% -100%), 3 stasiun dikategorikan baik (tutupan karang hidup 50% -74%), 11 stasiun dalam kondisi cukup (tutupan karang hidup 25% - 49%), dan 27 stasiun dalam kondisi kurang (tutupan karang hidup <25 %) (Gambar 14). Tiga stasiun yang kondisi karangnya baik, semuanya berada di P. Petong tepatnya di sepanjang bagian timur hingga ke utara P. Petong. Persentase tutupan untuk masing kategori biota dan substratnya di masing-masing stasiun RRI dapat dilihat pada Lampiran 7. Berdasarkan hasil yang diperoleh dengan metode RRI tersebut, secara rata-rata P. Petong memiliki persentase tutupan karang hidup yang terbaik yaitu sebesar 40,17%, diikuti oleh P. Abang sebesar 18,58% dan terakhir P. Pengelap sebesar 8,37 % (Gambar 15).

Rerata persentase tutupan dari seluruh stasiun RRI di Batam untuk masing-masing kategori biota dan substrat (yaitu Acropora, Non Acropora, karang mati (dead scleractinia), karang mati yang ditumbuhi alga (dead scleractinia with algae), karang lunak (soft coral), sponge, fleshy seaweed, biota lain (other biota), pecahan karang (rubble), pasir (sand) dan lumpur (silt) ditampilkan seperti pada Gambar 16 (a). Sedangkan untuk P. Petong, P. Abang serta P. Pengelap ditampilkan pada Gambar 16 (b) ; 16 (c) dan 16 (d).

CRITC-COREMAP Jakarta 56

G a m b a r 1 4 . K o n d i s i t e r u mb u k a r a n g b e r d a s a r k a n p e r s e n t a s e t u t u p a n k a r a n g h i d u p d i

CRITC-COREMAP Jakarta 57 Karang Hidup 0 10 20 30 40 50

Batam P. Petong P. Abang P. Pengelap

Tutupan (%) G a m b a r 1 5 . R e r a t a p e r s e n t a s e t u t u p a n k a r a n g h i d u p d i B a t a m ( d a r i s e mu a s t a s i u n p e n e l i t i a n R R I ) , P . P e t o n g , P . A b a n g d a n P . P e n g e l a p . G a m b a r 1 6 . R e r a t a p e r s e n t a s e t u t u p a n u n t u k ma s i n g -ma s i n g k a t e g o r i b i o t a d a n s u b s t r a t d i B a t a m ( d a r i s e mu a s t a s i u n p e n e l i t i a n R R I ) , P . P e t o n g , P . A b a n g d a n P . P e n g e l a p .

CRITC-COREMAP Jakarta 58

Pengamatan terumbu karang dengan metode LIT di 12 stasiun transek permanen menunjukkan bahwa terumbu karang yang masuk dalam kategori sangat baik sebanyak 3 stasiun, kategori baik sebanyak 6 stasiun, kategori cukup sebanyak 3 stasiun, dan tak ada stasiun dengan kategori kurang. Persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substratnya di masing-masing stasiun transek permanen yang dilakukan dengan metode LIT ditampilkan pada Lampiran 8, Gambar 17 dan Gambar 18.

Batam

0% 25% 50% 75% 100% BTM L01 BTM L02 BTM L03 BTM L04 BTM L05 BTM L06 BTM L07 BTM L08 BTM L09 BTM L10 BTM L11 BTM L12 Rock (RK) Lumpur (SI) Pasir (S) Pecahan karang (R) Biota lain (OT ) Fleshy Seaweed (FS) Sponge (SP) Karang lunak (SC)

Karang mati dgn alga (DCA) Karang mati (DC)

Non Acropora (NA) Acropora (AC)

G a m b a r 1 7 . H i s t o g r a m p e r s e n t a s e t u t u p a n u n t u k ma s i n g - ma s i n g

k a t e g o r i b i o t a d a n s u b s t r a t n y a d i ma s i n g - ma s i n g s t a s i u n t r a n s e k p e r ma n e n d i B a t a m y a n g d i l a k u k a n d e n g a n me t o d e L I T .

CRITC-COREMAP Jakarta 59

G a m b a r 1 8 . P e r s e n t a s e t u t u p a n u n t u k ma s i n g ma s i n g k a t e g o r i b i o t a d a n s u b s t r a t n y a d i ma s i n g

CRITC-COREMAP Jakarta 60

Dari hasil LIT yang dilakukan di 12 stasiun transek permanen, pada umumnya stasiun-stasiun penelitian yang berada di P. Petong (BTML07, BTML08 dan BTML09) memiliki nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon dan nilai indeks kemerataan Pielou yang tinggi dibandingkan dengan stasiun penelitian lainnya (Tabel 5). Ini menunjukkan bahwa karang batu yang dijumpai di P. Petong selain relatif lebih beragam dibandingkan dengan di stasiun lainnya, juga penyebaran jenisnya lebih merata. Hal yang berbeda terjadi pada Stasiun BTML12 yang berada di bagian barat P. Pengelap, dimana pada stasiun ini diperoleh nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon dan nilai indeks kemerataan Pielou yang terendah. Hal ini disebabkan oleh tingginya dominasi karang batu dari jenis

Heliopora coerulea yang dijumpai di stasiun penelitian

ini.

Nilai kemiripan Bray-Curtis (Bray-Curtis Similarity) yang dihitung berdasarkan jumlah kehadiran (number of occurrence) dari masing-masing jenis karang batu (yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk akar pangkat dua) di setiap stasiun transek permanen ditampilkan pada Tabel 6. Kemudian dengan menggunakan metode rerata kelompok (group average), dilakukan analisa pengelompokan (cluster analysis) dengan bantuan program PRIMER diperoleh dendrogram seperti pada Gambar 19. Dengan memilih tingkat kemiripan 50 %, terlihat bahwa hanya stasiun BTML03 dan MTWL08 saja yang mengelompok dalam satu kelompok. Analisa MDS (Multi Dimensial Scaling) dengan nilai Stress=0,13 juga

CRITC-COREMAP Jakarta 61

menunjukkan bahwa stasiun BTML01 mengelompok dengan stasiun BTML08 (Gambar 20). Dari 37 jenis karang batu yang dijumpai di stasiun BTML01 dan 39 jenis karang batu yang dijumpai di stasiun BTML03, tercatat 19 jenis karang batu yang sama yang dijumpai pada kedua stasiun tersebut.

T a b e l 5 . J u ml a h j e n i s ( S ) , J u ml a h i n d i v i d u ( N ) , I n d e k s k e a n e k a r a g a ma n j e n i s S h a n n o n ( H ’ ) y a n g d i h i t u n g me n g g u n a k a n l n ( = l o g e ) , I n d e k s k e me r a t a a n P i e l o u ( J ’ ) d a n p e r s e n t a s e t u t u p a n ( % L C ) u n t u k k a r a n g b a t u d i ma s i n g - ma s i n g s t a s i u n t r a n s e k p e r ma n e n d e n g a n me t o d e L I T . S t a s i u n S N H ’ J ’ % L C BTML01 37 95 3,245 0,899 83,50 BTML02 40 93 3,320 0,900 66,93 BTML03 39 86 3,107 0,848 62,33 BTML04 31 83 2,980 0,868 69,33 BTML05 25 70 2,713 0,843 44,80 BTML06 31 68 3,165 0,922 48,73 BTML07 34 62 3,143 0,891 76,77 BTML08 40 87 3,466 0,940 56,30 BTML09 42 92 3,511 0,939 55,73 BTML10 29 65 2,886 0,857 41,60 BTML11 31 85 2,911 0,848 63,67 BTML12 18 70 1,997 0,691 83,17

CRITC-COREMAP Jakarta 62 T a b e l 6 . N i l a i k e mi r i p a n B r a y - C u r t i s b e r d a s a r k a n j u ml a h k eh a d i r a n ma s i n g - ma s i n g j e n i s k a r a n g b a t u ( y a n g t e l a h d i t r a n f o r ma s i k a n k e d a l a m b e n t u k a k a r k u a d r a t ) p a d a s t a s i u n t r a n s e k p e r ma n e n . Stasiun BTML01 BTML02 BTML03 BTML04 BTML05 BTML06 BTML07 BTML08 BTML09 BTML10 BTML11 BTML12 BTML01 - BTML02 43,088 - BTML03 46,791 32,291 - BTML04 39,775 28,447 29,702 - BTML05 25,734 41,348 21,562 30,831 - BTML06 22,351 25,464 19,315 36,603 34,738 - BTML07 43,492 42,085 25,812 30,995 25,586 26,832 - BTML08 41,088 41,191 52,393 40,895 22,559 34,166 32,882 - BTML09 40,182 34,674 47,095 36,625 21,751 24,490 34,706 48.847 - BTML10 30,512 28,060 22,945 38,749 24,915 35,242 29,222 28.777 33,123 - BTML11 28,972 33,645 19,410 27,300 29,120 29,800 30,614 22.051 25,446 34,893 - BTML12 15,413 15,849 12,387 13,433 23,456 36,905 16,815 11.789 21,051 23,951 34,073 -

CRITC-COREMAP Jakarta 63 BTML04 BTML10 BTML09 BTML03 BTML08 BTML02 BTML01 BTML07 BTML05 BTML11 BTML06 BTML12 100 80 60 40 20 Similarity G a m b a r 1 9 . D e n d r o g r a m a n a l i s a p e n g e l o mp o k a n s t a s i u n t r a n s e k p e r ma n e n d i B a t a m b e r d a s a r k a n j u ml a h k e h a d i r a n ma s i n g - ma s i n g j e n i s k a r a n g b a t u ( y a n g t e l a h d i t r a n f o r ma s i k a n k e d a l a m b e n t u k a k a r p a n g k a t d u a ) . BTML01 BTML02 BTML03 BTML04 BTML05 BTML06 BTML07 BTML08 BTML09 BTML10 BTML11 BTML12 Stress: 0.13 G a m b a r 2 0 . M D S u n t u k s t a s i u n t r a n s e k p e r ma n e n d i B a t a m b e r d a s a r k a n b e r d a s a r k a n j u ml a h k e h a d i r a n ma s i n g - ma s i n g j e n i s k a r a n g b a t u ( y a n g t e l a h d i t r a n f o r ma s i k a n k e d a l a m b e n t u k a k a r p a n g k a t d u a ) .

CRITC-COREMAP Jakarta 64

E. M

E G A

B

E N T H O S

Seperti yang diuraikan dalam metode penarikan sampel dan analisa data, metode Reef check (yang dimodifikasi) yang dilakukan pada lokasi transek permanen dalam penelitian ini mencatat hanya beberapa dari jenis mega benthos yang bernilai ekonomis penting ataupun yang bisa dijadikan indikator dalam menilai kondisi kesehatan terumbu karang.

Dari hasil Reef check tersebut diperoleh bahwa

Dalam dokumen STUDI BASELINE EKOLOGI BATAM (Halaman 64-143)

Dokumen terkait