• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.3 Struktur Rantai Pasokan

5.3.7 Kantor Pemasaran Bersama

Pelaku rantai selanjutnya adalah Kantor Pemasaran Bersama. PT. Perkebunan Nusantara III memasarkan hasil komoditas kelapa sawit dan karet ke pasar lokal dan

berkedudukan di Jakarta serta pemasaran CPO melalui perkebunan (termasuk CPO) hasil produksi PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Kantor Pemasaran Bersama (KPB) ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam kegiatan penjualan, promosi, dan pengangkutan. Keberadaan Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTPN diharapkan dapat menggabungkan kekuatan dari seluruh perkebunan besar negara yang ada sehingga memudahkan melakukan penetrasi pasar, memperluas pasar serta memperkuat posisi tawar produsen dalam negosiasi.

Total penjualan PTPN III pada tahun 2013 mencapai nilai Rp. 5,699 Miliar, sedangkan total penjualan pada tahun 2012 sebesar Rp. 5,941 Miliar. Dengan demikian, pada tahun 2013 nilai penjualan mengalami penurunan sebesar 242 Miliar atau sebesar 4,07%. Penurunan nilai penjualan pada tahun 2013 disebabkan antara lain oleh masih melemahnya permintaan pasar akibat gejolak politik dan moneter disejumlah negara tujuan ekspor serta harga minyak mentah di pasar dunia yang berfluktuasi. Bila ditinjau dari nilai penjualan ekspor pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar Rp. 147,2 Miliar dari Rp. 595 Miliar pada tahun 2012 menjadi Rp. 742 Milyar pada tahun 2013. Hal ini disebabkan antara lain karena harga jual CPO ekspor mengalami kenaikan akibat menguatnya nilai tukar US Dollar terhadap Rupiah.

Stakeholders (supporting actors) merupakan beberapa pihak atau organisasi selain pelaku anggota rantai pasok yang memiliki kepentingan dan berfungsi sebagai pihak yang mendukung keberlangsungan rantai pasokan. Pada sistem agribisnis,

stakeholders rantai pasokan dapat dikategorikan sebagai subsistem layanan pendukung dari suatu sistem yang terintegrasi. Layanan pendukung dalam sistem agribisnis tersebut dapat berupa lembaga keuangan, lembaga riset maupun lembaga pendidikan yang memberikan pembinaan terhadap anggota sistem agribisnis. Institusi yang menjadi layanan pendukung dalam rantai pasokan adalah Lembaga Pendidikan Perkebunan dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, serta institusi yang lain.

Institusi tersebut memiliki peranan dalam rantai pasokan tandan buah segar, yakni sebagai layanan pendukung berupa pembinaan atau penyuluhan kegiatan budidaya kelapa sawit .

5.4 Manajemen Rantai

Manajemen Rantai merupakan sebuah „proses payung‟ dimana produk

diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Dalam manajemen rantai, terdapat hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. Manajemen rantai terdiri dari struktur manajemen, pemilihan mitra, kesepakatan kontraktual, sistem transaksi, dukungan kebijakan.

Hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pemasoknya sering dirancang untuk meningkatkan kemampuan strategis dan operasional antar anggota rantai suplai. dengan perusahaan. Kerjasama strategis berusaha untuk saling membantu untuk mencapai manfaat yang signifikan dan berkelanjutan.

Jika perusahaan mengelola 'pemasok strategis, maka kinerja operasional, dalam hal kehandalan, fleksibilitas, biaya, dan kualitas, bisa meningkat. Seperti disebutkan sebelumnya, tujuan umum dari SCM adalah untuk menciptakan nilai pelanggan.

Li et al. (2004) menyatakan bahwa semua praktek untuk mengelola hubungan pelanggan dapat sumber keunggulan kompetitif. Mengelola keluhan pelanggan, membangun hubungan jangka panjang dan meningkatkan pelanggan kepuasan adalah beberapa contoh mereka metode untuk mengelola hubungan mitra.

Rungtusanatham et al. (2003) berpendapat bahwa perusahaan terlibat dalam hubungan jangka panjang dengan pelanggan dapat mengurangi ketidakpastian permintaan, meningkatkan layanan pelanggan, dan akhirnya menurunkan biaya untuk stocking dan manajemen gudang.

Selain itu, sementara lingkungan pasar semakin semakin dinamis dan bergejolak, kemampuan untuk mengembangkan dan mengelola hubungan dengan pelanggan yang muncul sebagai kemampuan kunci dan sebagai sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Batt et al., 2004).

Pemilihan mitra merupakan salah satu faktor yang mendukung kesuksesan kegiatan rantai pasokan. Pemilihan mitra dalam rantai pasokan TBS bertujuan untuk

menjamin terciptanya jalinan kerjasama yang saling menguntungkan. Pemilihan mitra dalam rantai pasokan berkaitan erat dengan kriteria pemilihan dan proses pengambilan keputusan berdasarkan informasi. Pihak yang dijadikan mitra dalam rantai pasokan setidaknya harus memenuhi prasyarat yang ditentukan oleh pihak lainnya. Tabel 5.1 menjelaskan ktriteria-kriteria yang dipertimbangkan dalam pemilihan mitra. Pemilihan mitra dalam rantai pasokan TBS antara lain meliputi pemilihan mitra petani, pemilihan pengangkutan TBS, pemilihan mitra distributor CPO dan inti sawit.

Tabel 5.1 Kriteria Pemilihan Mitra

Pemasok Kebun Rakyat PKS Rambutan

1. Memproduksi TBS sesuai dengan kualitas yang dipersyaratkan

2. Mengirim produk tepat waktu, TBS tidak menginap

3. Sanggup mensuplai secara kontinu 4. Mengirim sesuai jumlah yang

disepakati

5. TBS terbebas dari tindak pidana (TBS Pihak III) mempunyai asal muasal yang dapat dipertanggung-jawabkan

1. Melaksanakan proses produksi sesuai dengan kapasitas pabrik

2. Menjaga mutu selama proses pengolahan

3. Melaksanakan perawatan pabrik secara baik

4. Menerima mutu bahan baku sesuai persyaratan

5. Menolak TBS yang tidak sesuia dengan kriteria

Pengangkutan TBS Pengangkutan CPO/ Inti

1. Terdaftar dalam daftar rekanan tetap PTPN III

2. Mengirimkan TBS ke pabrik

3. Menyediakan moda angkutan yang memadai sedara kuantitas dan kualitas

4. Mengirim secara kontinu 5. Mempunyai reputasi baik

1. Memiliki reputasi yang baik

2. Terdaftar dalam daftar rekanan tetap tahunan

3. Mempunyai armada yang

mencukupi

4. Mempunyai performa perusahaan yang baik.

Aspek yang sangat berpengaruh dalam pemilihan petani sawit sebagai mitra adalah kemampuan dan pengetahuan petani dalam menghasilkan TBS dengan kualitas yang baik, kemampuan petani dalam menepati waktu pengiriman tandan buah segar yaitu maksimum 2 x 24 jam yang sesuai dengan kesepakatan. Setiap TBS yang dijual harus dilengkapi dengan Surat Pengantar Buah yang sah dengan mencantumkan asal TBS, tanggal dan hari panen, tahun tanam, jumlah tandan dan nomor polisi dari truk pengangkut yang ditandatangani pihak penjual dan dilengkapi identitas dari pihak penjual sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang melanggar hukum. Selain kemampuan tersebut, PTPN III juga menilai kelayakan petani yang dijadikan mitranya. Kelayakan yang dinilai oleh PTPN III terutama terkait dengan kepemilihan lahan yang harus benar, kemampuan produksi serta metode budidaya yang baik. Kemampuan dan penilaian kelayakan petani dinilai oleh PTPN III pada saat mereka hanya sebatas mitra jual-beli, karena seringnya berinteraksi antara petani dengan pihak PTPN III, maka pihak PTPN III mulai mengenal petani-petani yang menjadi mitra jual-belinya. sehingga PTPN III telah mengetahui kemampuan yang dimiliki petani tersebut. Maka petani dengan penilaian kemampuan dan kelayakan seperti itulah yang dijadikan ukuran oleh PTPN III dalam menentukan mitranya.

Bagi petani sawit, tidak terdapat kriteria khusus dalam memilih mitra untuk memasarkan hasil panennya. Sebagian besar dari petani mitra tersebut, merasa memiliki keuntungan dengan bermitra. Dengan bermitra, maka posisi tawar dari petani tersebut dapat meningkat dibandingkan dengan memasarkan sendiri produknya. Secara umum, petani menginginkan penyalur yaitu bersedia membeli

hasil panen sawitdengan harga tertinggi, bersedia berbagi informasi pasar yang akan dituju dan kesanggupan dalam menyediakan dana cepat pada saat transaksi. Dalam prakteknya, ditentukan berdasarkan penimbangan di jembatan timbang milik PKS Rambutan. Seluruh biaya yang pengangkutan dan biaya pembongkaran menjadi beban dan tanggung jawab pihak pemasok Pihak III.

Pihak PTPN III juga memiliki kriteria dalam memilih mitra distributor untuk mengirimkan CPO dari pabrik menuju ke konsumen. Pemilihan sebagai Pengangkutan CPO dan inti sawit dikarenakan atas beberapa pertimbangan. Pertimbangan dalam memilih perusahaan pengangkutan yaitu kredibilitas dari perusahaan tersebut dalam bidang distribusi produk agribisnis yang telah terpercaya, transparasi informasi, serta komitmen dalam kerjasama berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama.

Dokumen terkait